Anda di halaman 1dari 5

SEDIAAN NANOPARTIKEL

I.

TUJUAN Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengenal cara pembuatan serta evaluasi bentuk sediaan nanopartikel.

II.

TINJAUAN PUSTAKA Nanopartikel merupakan suatu partikel dengan ukuran nanometer, yaitu sekitar 1 100 nm (Hosokawa, 2007). Material atau struktur yang mempunyai ukuran nano akan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dari material realnya. Karakteristik spesifik dari nanopartikel tersebut bergantung pada ukuran, distribusi, morfologi, dan fasanya. (Willems, 2005). Nanopartikel dalam bidang farmasi mempunyai dua pengertian yaitu senyawa obat yang melalui suatu cara tertentu dibuat berukuran nanometer yang disebut dengan nanokristal dan senyawa obat

dienkapsulasi dalam suatu system pembawa tertentu berukuran nanometer yang disebut dengan nanocarrier (Rachmawati, 2007). Nanopartikel (NP) didefinisikan sebagai partikel dengan diameter lebih kecil dari 100 nm, semakin banyak digunakan dalam aplikasi yang berbeda, termasuk sistem pembawa obat dan untuk melewati hambatan organ seperti darah-otak penghalang. Karena sifat unik mereka nanocrystals (titik kuantum) dan nanopartikel lainnya (koloid emas, nanobars, dendrimers dan nanoshells) telah menerima banyak perhatian untuk menggunakan potensi dalam Therapeutics, Bioengineering dan penemuan obat terapi. Dalam ulasan ini potensi penggunaan nanocrystals ini dan Nanopartikel di berbagai bidang penting telah dibahas. Sifat khusus dari nanopartikel ini mungkin menawarkan kemajuan baru dalam penemuan obat (Abhilash, 2010). Dalam nanoteknologi, sebuah partikel didefinisikan sebagai benda kecil yang berperilaku sebagai satu kesatuan yang utuh dalam hal transportasi dan sifat-sifatnya. Hal ini lebih diklasifikasikan sesuai dengan ukuran: dalam hal diameter, partikel halus mencakup rentang antara 100

dan 2500 nanometer, sementara partikel ultrafine, di sisi lain, yang berukuran antara 1 dan 100 nanometer. Mirip dengan ultrafine partikel, nanopartikel yang berukuran antara 1 dan 100 nanometer. Nanopartikel mungkin atau mungkin tidak menunjukkan ukuran yang berhubungan dengan sifat-sifat yang berbeda secara signifikan dari yang diamati pada partikel halus atau bahan massal. Meskipun ukuran molekul yang paling akan cocok ke dalam garis besar di atas, molekul individu biasanya tidak disebut sebagai nanopartikel (Abhilash, 2010). Pada dasarnya, nanopartikel dapat dibagi menjadi dua yaitu nanokristal dan nanocarrier. Nanocarrier memiliki berbagai macam seperti nanotube, liposom, nanopartikel lipid padat (solid lipid nanopartikel/SLN), misel, dendrimer, nanopartikel polimerik dan lain-lain (Rawat et al, 2006). Tujuan utama dalam merancang nanopartikel sebagai sistem pengiriman untuk mengontrol ukuran partikel, permukaan properti dan pelepasan dari agen farmakologis aktif untuk mencapai tindakan spesifik obat pada tingkat terapi optimal dan rejimen dosis (Mohanraj & Chen, 2006). Keuntungan menggunakan nanopartikel sebagai pengiriman meliputi: 1. Ukuran partikel dan permukaan karakteristik nanopartikel dapat dengan mudah dimanipulasi untuk mencapai kedua obat penargetan pasif dan aktif setelah pemberian parenteral. 2. Mereka mengawasi dan mempertahankan pelepasan obat selama transportasi dan di lokasi lokalisasi, mengubah distribusi organ obat dan pembersihan berikutnya obat jadi untuk mencapai peningkatan terapi obat efikasi dan pengurangan efek samping. 3. Controlled release dan partikel degradasi karakteristik dapat segera diatur oleh pilihan konstituen matriks. Obat loading relatif tinggi dan obat-obatan dapat dimasukkan ke dalam sistem tanpa reaksi kimia; ini merupakan faktor penting untuk melestarikan aktivitas obat. obat sistem

4.

Penargetan-situs tertentu dapat dicapai dengan melampirkan ligan menargetkan permukaan partikel atau penggunaan bimbingan magnetik.

5.

Sistem ini dapat digunakan untuk berbagai rute dari administrasi termasuk oral, nasal, parenteral, dll intra-okular

(Mohanraj & Chen, 2006). Sifat fisikokimia dari partikel sangat mempengaruhi tingkat absorbsi dalam saluran cerna. Sifat tersebut dipengaruhi oleh metode pembuatan nanopartikel polimerik. Pemilihan metode pembuatan

nanopartikel bergantung pada sifat obat dan polimer. Secara konvensional, secara umum nanopartikel dibuat dengan dua metode yaitu polimerisasi monomer sintesis dan disperse polimer sintesis atau makromolekul alam. Beberapa metode telah dikembangkan dalam pembuatan nanopartikel dengan menggunakan polimer PLA, PLG, PLGA dengan metode disperse polimer seperti metode penguapan pelarut, metode emulsifikasi spontan, metode spray-drying, nanopartikel menggunakan teknologi cairan superkritis (Soppimath et al, 2001). Nanoemulsi adalah sistem emulsi yang transparent, tembus cahaya dan merupakan dispersi minyak air yang distabilkan oleh lapisan film dari surfaktan atau molekul surfaktan, yang memiliki ukuran droplet 50 nm 500 nm. Ukuran droplet nanoemulsi yang kecil membuat nanoemulsi stabil secara kinetik sehingga mencegah terjadinya sedimentasi dan kriming selama. Nanoemulsi telah diterapkan dalam berbagai industri farmasi, diantaranya untuk sistem penghantar transdermal, bahan atau unsur yang potensial dalam beberapa produk perawatan tubuh, dan pembawa yang baik pada obat sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitas obat dalam tubuh (Ben dkk, 2013). Nanoemulsi memiliki keutungan sebagai berikut (Tadros, 2005): 1. Ukuran tetesan sangat kecil menyebabkan penurunan pada gaya gravitasi dan gerak brown yang mungkin cukup untuk mengatasi gravitasi. Hal ini berarti tidak terjadi creaming atau sedimentasi selama penyimpanan.

2. Ukuran tetesan yang kecil mencegah terjadinya flokulasi dan memungkinkan system untuk tetap tersebar tanpa adanya pemisahan, serta dapat mencegah koalesens. 3. Nanoemulsi cocok untuk penghantaran bahan aktif melewati kulit. Luas permukaan yang besar dari system emulsi memungkinkan penetrasi yang cepat dari bahan aktif. 4. Karena sifatnya yang transparan dan fluiditasnya (pada konsentrasi minyak yang sesuai) dapat memberikan estetika yang menarik dan menyenangkan saat digunakan. 5. Karena ukuran yang kecil, nanoemulsi dapat melewati permukaan kulit yang kasar dan dapat meningkatkan penetrasi obat. 6. Ukuran tetesan yang kecil memudahakan penyebarannya dan penetrasi mungkin dapat ditingkatkan karena tegangan permukaan dan tegangan antarmuka yang rendah.

DAFTAR PUSTAKA Abhilash, M. 2010. Potential applications of Nanoparticles. International Journal of Pharma and Bio Sciences V1(1). Ben, E.S, M. Suardi, T. Chazraj & T. Yulianto. 2013. Optimasi Nanoemulsi Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil) menggunakan Sukrosa Monoester. Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik III. ISSN: 2339-2592. Hosokawa, M. 2007. Nanoparticle Technology Handbook 1st Edition. Elsevier Linacre House. UK. Mohanraj, V.J. & Y. Chen. 2006. Nanoparticles : A Review. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 5:1 Rawat, M., D. Singh, & S. Saraf. 2006. Nanocarriers: Promising Vehicle for bioactive drugs. Biological and Pharmaceutical Bulletin. Vol. 29. Soppimath, K.S., Aminabhavi, Kulkarni & Rudzinski. 2001. Biodegradable polymeric nanoparticles as drug delivery devices. Journal of Controlled Release. Tadros, T.F. 2005. Applied Surfactan: Surfactan in nanoemulsi. Wiley-VHC Verlag. New York.