Anda di halaman 1dari 4

3.2 Level Pencegahan Penyakit (Primordial, Primer, Sekunder, Tersier) A.

Tingkat Pencegahan Pengetahuan tentang perjalanan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi berguna untuk menemukan strategi pencegahan penyakit yang efektif. Pencegahan penyakit adalah tindakan yang ditujukan untuk mencegah, menunda, mengurangi, membasmi, mengeliminasi penyakit dan kecacatan, dengan menerapkan sebuah atau sejumlah intervensi yang telah dibuktikan efektif. (Kleinbaum et al., 19 !" #ast, !$$1%. #evel pencegahan penyakit itu ada &, yaitu ' 1. Pencegahan primordial yaitu untuk menghindari terbentuknya pola hidup

sosial ekonomi dan kultural yang diketahui mempunyai kontribusi untuk meningkatkan risiko penyakit, pencegahan primordial yang efektif memerlukan adanya peraturan yang ketat dari pemerintah. (argetnya yaitu pada populasi)kelompok terseleksi. !. Pencegahan primer adalah upaya memodifikasi faktor risiko atau

mencegah berkembangnya faktor risiko, sebelum dimulainya perubahan patologis, dilakukan pada tahap suseptibel dan induksi penyakit, dengan tujuan mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit (*+* (ask ,orce, 199 %. (ujuannya yaitu mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya. -paya yang dilakukan adalah untuk memutus mata rantai infeksi .agent / host / environment0. (argetnya yaitu pada total populasi, kelompok terseleksi, dan pada individu sehat. 1. Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan pada fase

penyakit asimtomatis, tepatnya pada tahap preklinis, terhadap timbulnya gejala-gejala penyakit secara klinis melalui deteksi dini (early detection%. 2ika deteksi tidak dilakukan dini dan terapi tidak diberikan segera maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan. 3eteksi dini penyakit sering disebut .skrining0. 4krining adalah identifikasi yang menduga adanya

penyakit atau kecacatan yang belum diketahui dengan menerapkan suatu tes, pemeriksaan, atau prosedur lainnya, yang dapat dilakukan dengan cepat. (es skrining memilah orang-orang yang tampaknya mengalami penyakit dari orangorang yang tampaknya tidak mengalami penyakit. (es skrining tidak dimaksudkan sebagai diagnostik. 5rang-orang yang ditemukan positif atau mencurigakan dirujuk ke dokter untuk penentuan diagnosis dan pemberian pengobatan yang diperlukan (#ast, !$$1%. (ujuan dari pencegahan sekunder ialah untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi. (argetnya yaitu pasien. &. Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan

arah berbagai

memperbaiki kualitas hidup pasien. Pencegahan tersier biasanya dilakukan oleh para dokter dan sejumlah profesi kesehatan lainnya (misalnya, fisioterapis%. Pencegahan tersier dibedakan dengan pengobatan (cure%, meskipun batas perbedaan itu tidak selalu jelas. 2enis intervensi yang dilakukan sebagai pencegahan tersier bisa saja merupakan pengobatan. (etapi dalam pencegahan tersier, target yang ingin dicapai lebih kepada mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan dan organ, mengurangi sekulae, disfungsi, dan keparahan akibat penyakit, mengurangi komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang penyakit, dan memperpanjang hidup. 4edang target pengobatan adalah menyembuhkan pasien dari gejala dan tanda klinis yang telah terjadi. (ujuan pencegahan tersier menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. (argetnya adalah pasien. B. !aya Pencegahan Pada Sistiserkosis

1. Pencegahan Primordial a. 6empertahankan gaya hidup yang sudah ada dan benar dalam masyarakat.

b. Peningkatan kinerja penga7asan daging yang dijual, agar bebas larva cacing (sistiserkus%. Penga7asan yang dilakukan pada negara endemis biasanya adalah inspeksi yang dilakukan di rumah potong sehingga daging yang mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas Peternakan%. !. Pencegahan Primer a. Promosi kesehatan masyarakat, misalnya dapat dilakukan pemberian pendidikan mengenai kesehatan. 6eningkatkan pendidikan komunitas dalam kesehatan (kebersihan, mempersiapkan makanan, dan sebagainya% b. Pencegahan khusus, yaitu pencegahan keterpaparan dan pemberian kemopreventif. Pada babi, dapat dilakukan pemberian o8fenda9ole oral (1$ mg)kg ::%. :ila perlu, vaksinasi dengan (45#1 , setelah dilakukan eliminasi parasit dengan kemoterapi. c. 6emasak daging sampai di atas ;$ derajat < selama 1$ menit, untuk membunuh kista cacing, membekukan daging (4oedarto, !$$ %. 3aging yang mengandung kista tidak boleh dimakan. 6asyarakat diberi gambaran tentang bentuk kista tersebut dalam daging, hal ini penting dalam daerah yang banyak memotong babi untuk upacara-upacara adat seperti di 4umatera -tara, :ali dan =rian jaya dan menghilanglkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah. d. Pemakaian jamban keluarga, tidak membuang tinja di sembarang tempat sehingga tinja manusia tidak dimakan oleh babi dan tidak mencemari tanah atau rumput dan untuk menjaga kebersihan lingkungan. e. Pada daerah endemik, sebaiknya tidak memakan buah dan sayur yang tidak dimasak yang tidak dapat dikupas.

f. +anya meminum air yang telah dikemas dalam botol, air yang disaring, atau air yang dididihkan selama 1 menit. 1. Pencegahan 4ekunder a. 6engobati penderita, untuk mengurangi sumber infeksi, dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing. b. Pemelihara sapi atau babi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan sehingga tidak dapat berkeliaran. &. Pencegahan (ersier -saha untuk penanggulangan penyakit agar tidak menular. 5rang yang terinfeksi harus dilindungi sehingga mereka tidak dapat berkontribusi pada siklus penularan.