Anda di halaman 1dari 55

I.

A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Perikanan budidaya air tawar telah mengalami perkembangan pesat hingga saat ini. Berbagai macam ikan air tawar telah berhasil dibudidayakan dan menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat. Salah satu ikan air tawar yang dibudidayakan adalah ikan nila merah atau Oreochromis sp. Nila merah merupakan salah satu jenis ikan yang banyak digemari oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Nila merah termasuk dalam sepuluh besar produk ekspor perikanan Indonesia. Hal tersebut menjadikan nila merah dibutuhkan dalam jumlah besar baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor (Anonim !""#$. %omoditas nila penting peranannya menjadi salah satu jenis ikan yang dapat memijah sepanjang tahun dan diketahui mulai memijah yaitu pada umur sekitar &'# bulan. Peningkatan permintaan konsumsi ikan nila merah harus disertai dengan peningkatan produksi baik kuantitas secara kualitas. Peningkatan produksi secara kuantitas dapat dilakukan dengan pengembangan teknik budidaya yang mengarah pada budidaya intensi( sedangkan secara kualitas dengan melakukan perbaikan kualitas induk. )ekunditas ikan nila merah betina dapat mencapai !"""'!*"" ekor lar+a setiap bertelur dengan selang waktu antara ,'& minggu. Hal ini jauh lebih baik dibandingkan dengan ikan betina lokal yang hanya menghasilkan anakan sekitar -"""'-*"" ekor lar+a setiap bertelur (.antau !""*$. %endala yang sering dihadapi untuk meningktakan produksi khususnya pada budidaya pembesaran adalah keterbatasan benih yang berkualitas dengan jumlah cukup dalam waktu yang relati( cepat. Penuruan kualitas benih dapat disebabkan perkawinan sekerabat inbreeding antara induk yang berasal dari jantan atau betina yang sama. Inbreeding meyebabkan penurunan kekeragaman genetik yang dapat dilihat melalui si(at' si(at (enotipik yang muncul yaitu pertumbuhan (ertilitas daya tahan tehadap penyakit dan perubahan lingkungan serta ketidaknormalan organ tubuh. Berdasarkan latar belakang tersebut penurunan pertumbuhan harus segera ditangani secara serius. Berbagai upaya terus dilakukan dalam meningkatkan produksi ikan nila -

salah satunya adalah dengan pemuliaan seperti perbaikan genetik. Perbaikan genetik melalui seleksi dan penyilangkan induk'induk nila merah yang memilki si(at'si(at unggul merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Persilangan dapat dilakukan antar strain yang sama maupun berbeda teknik persilangan dimaksudkan untuk menentukan kombinasi yang cocok antar populasi yang berbeda agar memperoleh hasil yang tebaik (/a+e -00*$. %eberhasilan persilangan dapat dilihat dari kecocokan perilaku memijah (breeding habit$ yang ditandai dengan jumlah lar+a yang banyak dan kemunculan lar+a yang tepat. Pemijahan dengan persilangan tidak selalu berhasil dengan baik. .etode lain yang dipakai yakni seleksi indi+idu adalah suatu metode yang bertujuan untuk menghasilkan populasi induk atau benih yang bagus sehingga diharapkan mempunyai si(at yang unggul dari induk asalnya (.askur et al. !"",$. Sejak tahun !"", telah dilakukan program seleksi untuk memperbaiki pertumbuhan nila. .etode Seleksi indi+idu telah digunakan oleh 1nit %erja Budidaya Air /awar (1%BA/$ 2angkringan menghasilkan benih nila merah dari induk generasi )3 yang diberi nama nila merah 2angkringan dengan si(at unggulnya akan diturunkan ke anakan yang dihasilkan. (Sudiyanto et al., !"-!$. Pembenihan ikan nila merah di dalam kolam maupun menggunakan jaring hapa dilakukan dengan menangkap lar+a yang masih dalam asuhan atau di luar induk betina. Benih dalam asuhan induk pada pemijahan nila hitam timbul di kolam !'3 minggu setelah penebaran induk (Popma dan 4reen -00"$. %arakter reproduksi yang baik akan meningkatkan produksi dan e(isiensi pembenihan sehingga produkti(itas ikan nila dapat ditingkatkan. 1paya pemanenan telur yang sudah dierami serta melihat telur yang sudah dibuahi merupakan usaha untuk panen telur lebih e(isien. 5alam penelitian ini bertujuan untuk menge+aluasi hasil seleksi nila merah cangkringan dibandingkan tetuanya sebagai cikal bakalnya belum pernah dilakukan pada nila merah (Oreochromis sp.$ dilihat dari karakter reproduksi sehingga diketahui perbedaan peningkatan per(orma reproduksi dari nila merah 2angkringan dan tetuanya. Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap nila 2angkringan sebagai induk generasi )3 memiliki per(orma karakter reproduksi yang lebih baik dari pada keturunan sebelumnya ()" )- )!$ sehingga perlu penge+aluasian yakni penelitian lanjutan membandingkan nila

2angkringan dengan tetuanya yaitu antara lain strain Singapura )ilipina Ni(i dan 2itralada. Penelitian ini akan memberikan in(ormasi mengenai karakter reproduksi antara pasangan kelima strain nila merah (Oreochromis sp.$ berdasarkan persiapan waktu pemijahan jumlah telur dan pasangan induk dalam memprediksi jumlah lar+a benih. B. Tujuan /ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 6 -. %ecepatan memijah nila merah strain 2angkringan dan tetuanya. !. 7umlah telur yang dierami nila merah 2angkringan dan tetuanya 3. )ertilitas dan daya tetas telur ikan nila merah 2angkringan dan tetuanya C. Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam bidang ilmu terutama pengembangan akuakultur dalam kontribusinya kegiatan pembenihan ikan serta untuk persiapan waktu pemijahan jumlah telur dan pasangan induk dalam memprediksi jumlah lar+a benih.

II.

TINJAUAN RUJUKAN

A. Ikan Nila Merah Oreochromis !".# Nila merah merupakan salah satu jenis ikan unggulan baik untuk komoditas ekspor maupun kebutuhan lokal untuk keamanan pangan (food security$ karena kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang luas. Indonesia sendiri sudah mengembangkan beberapa jenis baru hasil backcroos maupun crossbreeding (perkawinan silang$. Setidaknya sudah ada , strain baru nila hibrid di Indonesia yaitu nila Best (Bogor tahun !""#$ nila 8arasati (%laten tahun !""0$ Nirwana (Purwakarta !""&$ dan 4esit (Sukabumi !""&$. Nila merah (9reochromis sp.$ merupakan ikan hasil hibridisasi antara ikan O.mossambicus dan O.niloticus. /ergolong dalam ordo percomorphi sub ordo Percoidea (amily 2ichlidae dan genus Oreochromis (Stickney !""&$. Sebagai ikan yang tergolong euryhalin ikan nila merah dapt dibudidayakan di periran tawar payau maupun asin. %ondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah suhu berkisar !:' !0o2 oksigen larut 3'# * ppm pH :'# 3; alkalinitas 0"'-0" ppm kesadahan &!':0 mg29 3. Ikan tilapia digolongkan sebagai ikan herbi+ora dapat memakan jenis'jenios pakan tambahan seperti dedak halus tepung bungkil kelapa ampas kelapa dan sebagainya. 1ntuk budidaya ikan nila tumbuh lebih cepat dengan pakan yang mengandung protein <!"'!* =. Awal matang goand ikan nila pada ukuran !"'3" cm (-*" g$ (Stickney !""&$;<*" g (>l'ssayed et al. !""3$ tergantung jenis dan strain. Perkembangan gonad ikan dipengaruhi oleh beberapa (aktor seperti hormon makanan dan (aktor lingkungan. Stickney (!""&$ mengemukakan bahwa ikan nila pada kondisi budidaya (terkontrol$ lebih cepat matang gonad dibandingkan dengan ikan nila yang hidup diperairan alami. Secara alami ikan nila dapat memijah sepanjang tahun didaerah tropis. Pada umumnya pemijahan ikan nila terjadi &': kali?tahun. @asio betina6jantan untuk pemijahan adalah !6-. )ekunditas berkisar antara !,3'#,: butir?induk (.endoAa et al. !""*$ 3""' -*"" butir?induk (%usnadi dan Bani$ 3""'3""" butir?induk (Stickney !""&$. Nilai (ekunditas dipengaruhi oleh beberapa (aktor seperti pakan ukuran ikan diameter telur dan lingkungan. Beberapa ikan nila dapat memijah dua atau beberapa kali dalam setahun

(@ustidja !""*$. Pada pemijahan secara alami ikan yang telah matang gonad yang memijah dapat menghasilkan telur yang matang gonad dalam waktu yang singkat apabila kondisi lingkungnan baik. .enurut .usto(a et al.(!"-!$ nila merah memiliki karakteristik badan lebih panjang dan per(oma reproduksi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan nila hitam pada umumnya Beberapa strain nila merah yang dinilai unggul dan banyak dibudidayakan di Indonesia yaitu nila strain 2hitralada Ni(i )ilipina dan Singapura. %eempat strain ini merupakan cikal bakal terbentuknya nila strain 2angkringan. Hal tersebut dikarenakan keempat strain ini memiliki keunggulan yang berbeda'beda sehingga terbentuklah nila 2angkringan yang memiliki si(at unggul dari masing'masing induk. Strain nila merah di Indonesia ada beberapa strain yang dinilai unggul dan banyak antara lain Ni(i )ilipina 2itralada dan Singapura. %eempat strain tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya nila merah strain 2angkringan generasi ke'3 ()3$. A. $. Nila Merah %train Chitrala&a 2hitralada merupakan salah satu strain nila yang terdapat di 1%BA/ 2angkringan sejak !""!. Nila merah ini merupakan cinderamata dari @aja /hailand yang diberikan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono B ketika berkunjung ke /hailand. Ikan ini merupakan in+entaris dari @aja Cogyakarta untuk dikembangbiakkan dan disebarluaskan ke masyarakat. Ikan ini memiliki ciri tubuh lonjong dengan daging yang relati( tebal dan warna yang lebih cemerlang daripada nila merah )ilipina (Anonim !"-!$. Nila Bangkok atau 2hitralada merupakan persilangan dari 9. niloticus dan 9. mossambicus (4hu(ran dan %ordi !"-"$. Nila ini memiliki rasio panjang total terhadap panjang strandar berkisar antara - !- ' - 3-; rasio tinggi terhadap panjang standar berkisar antara " 3* ' " ,:; dan rasio tinggi terhadap panjang total berkisar antara " !# ' " 3# (Anonim !"-!$. A. '. Nila Merah %train Nifi Nila Red National Inland Fisheries Institute (NI)I$ merupakan nila hasil persilangan dari O. mossambicus betina dengan O. niloticus jantan yang didatangkan dari *

/hailand pada tahun -0#0 oleh BBI 1mbul .alang (4ustiano et al. !""#$. .enurut %hairuman dan %hairul (!"-"$ ikan ini memiliki warna kemerahan atau kuning agak putih pertumbuhannya lebih cepat bila dibandingkan dengan nila hitam ( O. niloticus$ dan keturunan yang dihasilkan dominan berkelamin jantan. Ikan ini juga memiliki tinggi badan lebih tinggi daripada strain lainnya (Anonim !"-!$. A. (. Nila Merah %train )ili"ina Ikan ini didatangkan dari )ilipina oleh BBA/ Sukabumi pada tahun -00, (4ustiano et al. !""#$. >ugia et al.(!"",$ menambahkan bahwa ikan ini merupakan hasil perkawinan ikan betina hasil persilangan antara O. mossambicus dan O. hornorum dengan O. niloticus jantan. Ikan ini memiliki rasio panjang total terhadap panjang standar berkisar antara - -# ' - !!; rasio tinggi terhadap panjang standar berkisar antara " 3, ' " ,"; dan rasio tinggi terhadap panjang total berkisar antara " !0 ' " 33 (Anonim !"-!$. A. *. Nila Merah %train %inga"ura Ikan ini didatangkan dari Singapura oleh ADua(arm. Ikan ini diperkirakan merupakan hasil persilangan O. hornorum dengan O. mossambicus albino. 2iri'ciri ikan ini yaitu tubuh lebih langsing dibandingkan dengan strain 2hitralada dan )ilipina dengan spot hitam pada tubuhnya. Ikan ini memiliki rasio panjang total terhadap panjang standar berkisar antara - !" ' - !,; rasio tinggi terhadap panjang standar berkisar antara " 3, ' " ,3; dan rasio tinggi terhadap panjang total berkisar antara " !,'" 3* (Anonim !"-!$. Amri dan %hairuman (!""!$ menambahkan bahwa nila Singapura memiliki tubuh yang memanjang daging yang tebal garis warna ke arah +ertikal pada badan ekor sirip ekor dan sirip anus dan memiliki tiga jenis warna (kemerah'merahan kekuning'kuningan dan keputih' putihan$. B. Pe+uliaan Alternalti( lain guna perbaikan mutu genetik untuk meningkatkan produksi dan produkti+itas pada ikan nila dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti mendatangkan beberapa strain unggul dari luar melakukan persilangan atau hibridisasi meman(aatkan &

keunggulan jenis kelamin jantan melakukan seleksi terhadap karakter penting serta 5NA recombinant (trans(er genetik$ (4ustiano et al. !""#$. .enurut yatim (-00&$ %inchaid (-0#!$ 2row dan %imura (-0:"$ inbreeding merupakan penyebab penurunan kualitas induk yang berakibat pada keturunan kualitas benih yang dihasilkan. Inbreeding merupakan perkawinan antara indi+idu'indi+idu yang sekerabat yaitu berasal dari jantan dan betina yang sama sedangkan outbreeding merupakan perkawinan antar indi+idu'indi+idu yang tidak sekerabat masih dalam satu varietas atau beda varietas. Inbreeding menghasilkan homoAigositas sedangkan outbreeding menimbulkan heteroAigositas. %ehomoAigoAitas ini akan melemahkan indi+idu'indi+idunya terhadap perubahan lingkungan outbreeding menguatkan indi+idu'indi+idunya terhadap lingkungan. Hibridisasi digunakan untuk memunculkan +ariasi genetik yang dominan. Hibridisasi atau persilangan dilakukan dengan cara memijahkan antar kelompok populasi organisme tertentu. Pemijahan antar kelompok organisme yang akan menghasilkan keturunan dengan kualitas berbeda berdasrkan si(at genetik yang dibawa (Suyanto -00#$ Ikan hibrid umumnya menunujukkan e(ek heterosis (Bardach et al. -0:!$. >(ek heterosis pada hibrid +igor adalah munculbnya si(at unggul pada hibrid (Catim -0#&$. %eunggulan ikan hibrid ditunjukkan dengan adanya kualitas yang lebih baik daripada parentalnya dan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya (8ing -0#"$. %eunggulan ikan dapat dilihat pada karakter (enotip seperti kecepatan pertumbuhan yang tercermin pada tinginya niali rasio A@N?AN5 mor(ometeri karakteristik dan komposisi daging. %arakter hibrid umunyaa menunjukkan komposisi intermediet tetapi lebih berat ke induk betina (%asama dan %obayasi -0##$. /a+e (-0#&$ menyatakan bahwa hasil percobaan untuk memanipulasi dan mengeksplorasi gen'gen paad ikan hanya dapat die+aluasi dan diukur melalui (enotipiknya sehingga keberhasilan dan atau kegagalan pemijahan dapat dilihat salah satunya mengeksploitasi gen'gen pada ikan melalui persilangan dan seleksi. Persilangan antar strain yang berbeda akan meningkatkan produkti(itas induk. Hal ini disebabkan setiap strain yang berbeda akan meningkatkan produkti+itas induk. Hal ini disebabkan setiap strain memilki daya (ertlitas yang berbeda'beda. Perbedaan daya (ertilitas dipengaruhi oleh karakterisasi yang berbeda untuk setiap strain. %arakteristik yang menjadi pembeda antar strain antara sedangkan

lain6 waktu awal kematangan gonad pada induk daya (ertilitas serta daya tahan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan. Hal ini yang sedang dikerjakan oleh 1%BA/ 2angkringan guna merilis +arietas baru hasil persilangan kombinasi induk'induk nila merah. Seleksi indi+idu digunakan dalam upaya peningkatan karakter reproduksi yang merupakan nilai (enotip penting. 5alam seleksi indi+idu semua ikan diukur dipilih dan disisihkan berdasarkan pada nilai kuantitati( (enotipnya. Nilai (enotip ikan yang sama atau lebih besar dari nilai cut-off (nilai pembanding$ yang akan dipilih sedangkan yang lebih kecil akan disisihkan. Nilai cut-off adalah ketentuan nilai (enotip yang telah ditentukan sebelumnya biasanya dinyatakan sebagai Etop -" =F dan E top * =F atau yang sesuai dengan yang diinginkan. Ikan yang dipilih akan menjadi induk pilihan (parent$ yang akan menghasilkan generasi pertama yang disebut Egenerasi )-F. %eturunan berikutnya disebut Egenerasi )!F dan seterusnya. Pemijahan indukan top telah mencapai tahap generasi )3 di 1%BA/ 2angkringan dan diberi nama nila merah strain 2angkringan (Anonim !"-!$. Proses pembentukannya berasal dari kombinasi persilangan antar empat strain antara lain Ni(i )ilipina 2itralada dan Singapura. %ombinasi persilangannya dapat dilihat pada /abel !.-. /abel !.- %ombinasi persilangan antar , train nila merah pembentuk nila merah )"
G H

CC 22 )2 N2 S2

)) 2) )) N) S)
NN 6 Ni(i SS 6 Singapura

NN 2N )N NN SN

%% 2S )S NS SS

CC )) NN %%
%eterangan 6 22 6 2itralada )) 6 )iliphina

5ari tabel di atas terlihat bahwa ada -& kombinasi perkawinan silang. %emudian untuk masing'masing kombinasi dilakukan ulangan sebanyak -!'-3 kali sehingga disiapkan sebanyak !"" hapa. Hasil anakan dari -& kombinasi pada !"" hapa kemudian diblending (dicampur$ menjadi populasi sintetik atau generasi )". Berikutnya dilakukan seleksi indi+idu dari populasi tersebut dan didapatkan nila jantan dan betina top melalui #

cutoff berat indi+idu sekitar *'-"=. Indukan top tersebut digunakan untuk calon indukan berikutnya. %emudian dilakukan blending kembali pada indukan top untuk menghasilkan generasi pertama ()-$ dan seterunya hingga didapatkan ikan Nila .erah generasi ketiga ()3$ (Sudiyanto !"-!$. 4enerasi )3 tesebut merupakan induk penjenis ? !arent "tock hasil perbanyakan reat rand !arent "tock (44PS$. Sedangkan dalam penelitian asal induk yang digunakan adalah reat !arent "tock (4PS$. 2alon induk pokok atau !arent "tock ini yang akan didistribusikan kepada BBI lokal maupun 1nit pembenihan @akyat (1P@$ untuk menghasilkan benih sebar. C. Karakter Re"r,&uk!i @eproduksi yang baik akan meningkatkan produksi dan e(isiensi budidaya sehingga produkti+itas ikan nila dapat ditingkatkan. 5alam induk yang unggul ditentukan diantaranya oleh potensi genetik dan koinerja reproduksi yang dimiliki ikan. Pengukuran parameter reproduksi akan menjadi usaha yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan kelamin kematangan alat kelamin dan beberapa besar potensi produksi dari ikan tersebut. 5engan parameter yang jelas dan terukur maka data yang didapatkan dari lapangan ataupun dari laboratorium bisa diolah atau dianalisis. Beberapa parameter yang biasa digunakan antara lain6 tingkat kematangan gonad diameter telur daya tetas telur dan total lar+a yang diproduksi. 5an parameter tersebut tergolong dalam (enotip yang terukur (dapat dihitung$. Seleksi ikan yang paling mudah dilakukan oleh para pembudidaya ikan adalah melakukan seleksi (enotip dibandingkan dengan seleksi genotipe. Seleksi (enotipe dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu seleksi (enotipe kualitati( dan seleksi (enotipe kuantitati(. )enotipe adalah bentuk luar atau bagaimana kenyataannya karakter yang dikandung oleh suatu indi+idu atau (enotipe adalah setiap karakteristik yang dapat diukur atau si(at nyata yang dipunyai oleh organisme. )enotipe merupakan hasil interaksi antara genotipe dan lingkungan serta interaksi antara genotipe dan lingkungan serta merupakan bentuk luar atau si(atsi(at yang tampak. .enurut Catim (-00&$ genotipe menentukan karakter sedangkan lingkungan menetukan sampai dimana tercapai potensi itu. )enotip tidak bisa melewati kemampuan atau potensi genotipe. Cang dimaksud dengan karakter itu adalah si(at (isik 0

dan psikis bagian'bagian tubuh atau jaringan. %arakter diatur oleh banyak macam gen atau satu gen saja. Berhubung dengan banyaknya gen yang menumbuhkan karakter maka dibuat dua kelompok karakter yaitu karakter kualitati( dan karakter kuantitati(. %arakter kualitati( adalah karakter yang dapat dilihat ada atau tidaknya suatu karakter. Sedangkan karakter kuantitati( adalah karakter yang dapat diukur nilai atau derajatnya. %arakter kuantitati( ditentukan oleh satu atau dua gen saja sedangkan karakter kuantitati( disebabkan oleh banyak gen (tiga atau lebih$. 5engan melakukan seleksi maka akan menghasilkan suatu karakter yang mempunyai nilai ekonomis penting dan karakter (enotipe yang terbaik sesuai dengan keinginan para pembudidaya. D. Pe+ijahan In&uk Seleksi induk merupakan tahap awal dalam kegiatan budidaya ikan yang sangat menentukan keberhasilan pemijahan. 5engan melakukan seleksi induk yang benar akan diperoleh induk yang sesuai dengan kebutuhan sehingga produkti+itas usaha budidaya ikan optimal. Seleksi induk ikan budidaya dapat dilakukan secara mudah dengan memperhatikan karakter (enotipenya atau dengan melakukan program breeding untuk meningkatkan nilai pemuliabiakan ikan budidaya. 9leh karena itu agar dapat memperoleh produkti+itas yang tinggi dalam budidaya ikan harus dilakukan seleksi terhadap ikan yang akan digunakan. Seleksi menurut /a+e (-00*$ adalah program breeding yang meman(aatkan phenotipic variance (keragaman (enotipe$ yang diteruskan dari tetua kepada keturunannya. Induk yang akan dipijahkan sebaiknya diambil dari kolam pemeliharaan induk yang telah disiapkan sebelumnya. Induk diseleksi ukuran tubuh jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad induk yang bertujuan untuk mengetahui apakah induk sudah siap untuk memijah. Salah satu ciri induk ikan nila yang unggul yaitu memilki umur sekitar ,'* bulan. Induk yang produkti( bobotnya antara *""'&"" gram per ekor (4hu((ran -00:$. /anda tanda induk jantan dan betina bermutu baik adalah sehat bentuk badan normal sisik besar dan tersusun rapi kepala relati( kecil dibanding badan badan tebal dan berwarna hitam keabu'abuan gerakan lincah (Arie !"",$..enurut 5ewi dkk. (!"-!$ kriteria dalam pemilihan indukan nila merah yaitu6

-"

Pemilihan Indukan 7antan o .emiliki ! lubang yaitu lubang urin dan genital o .inimal berusia & bulan dengan bobot minimal !*" gr o Perut datar reptoduksi kemerahan dan meruncing jila dilakukan stripping mengeluarkan cairan berwarna putih kental. Pemilihan indukan Betina o .emiliki 3 lubang yaitu lubang urin genital dan pengeluaran telur o .inimal berusia & bulan dengan bobot minimal !"" gr o .empunyai perut besar alat reproduksi kemerahan jika dilakukan stripping mengeluarkan sejumlah telur. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad. 5alam indi+idu telur terdapat proses yang dinamakan +itellogenesis yaitu terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap indi+idu'indi+idu telur. Hal ini menyebabkan perubahan'perubahan pada gonad. 1mumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar -"'!*= dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar *'-"=. 5alam biologi perikanan pencatatan perubahan atau tahap'tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan'ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang tidak. 5ari pengetahuan tahap kematangan gonad ini juga akan didapat keterangan bilamana ikan itu akan memijah baru memijah atau sudah selesai memijah. .engetahui ukuran ikan untuk pertama kali gonadnya menjadi masak ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan (aktor'(aktor lingkungan yang mempengaruhinya. Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara 6 pertama cara histologi dilakukan di laboratorium kedua cara pengamatan mor(ologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di lapangan. 5ari penelitian histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad tadi lebih jelas dan menditail. Sedangkan pengamatan secara mor(ologi tidak akan sedetail cara histologi namun cara mor(ologi ini banyak dilakukan --

para peneliti. 5asar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara mor(ologi ialah bentuk ukuran panjang dan berat warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. 4aris besar perkembangan o+arium ikan terbagi dua tahap pertama tahap perkembangan struktural yaitu pertumbuhan o+arium hingga hewan mencapai dewasa kelamin dan kedua tahap perkembangan (ungsional yaitu tahap pematangan telur. Sehubungan dengan tahap perkembangan telur perubahan'perubahan mor(ologi dapat dipakai sebagai tolak ukur tahap perkembangan oogenesis. .engetahui tingkat kematangan o+arium ikan secara makroskopik menurut Nikolsky (>((endie -00:$ dibagi menjadi : tingkat yaitu6

/ingkat ! 3 , * & :

%eadaan o+arium /idak masak .asa istirahat Hampir masak .asak @eproduksi %eadaan saline .asa istirahat

5iskripsi Indi+idu masih belum berthasrat mengadakan reproduksi. 1kuran o+arium kecil Produk seksual belum berkembang. 9+arium berukuran kecil. /elur tidak dapat dibedakan oleh mata /elur dapat dibedakan oleh mata /elah masak mencapai berat maksimum tetapi telur tersebut belum keluar bila terlur diberi sedikit tekanan Bila perut diberi tekanan akan mudah keluar dari lubang pelepoasan. Berat o+arium cepat menurun sejak permulaan berpijah kembali sampai pemijahan selesai. /elur telah dikeluarkan. 8ubang genital berwarna kemerahan. 9+arium mengempis dan berisi beberapa telur sisa. /elur telah dikeluarkan warna kemerah'merahan pada lubang genital telah pulih. 9+arium kecil dan telur belum terlihat oleh mata.

/abel !.! /ingkat %ematangan 4onad (/%4$ Pemijahan ikan nila secara alami terjadi pada induk betina yang matang telur mendekati sarang dan terjadi proses percumbuan. Sarang dibangun dan dijaga oleh induk jantan (.cbay -0#-$. Pemijahan mulai setelah seluruh proses pra'pemijahan selesai. Betina yang telah siap memijah akan mengeluarkan telur anatar ,* menit sampai - jam.

-!

Setelah jantan membuahi telur'telur yang dilepaskan betina betina segera mengumpulkan telur'telur yang telah dibuahi di dalam mulut (maternal mouth brooders$ selama sekitar -* mnit sampai telur'telur menetas dan menjadi lar+a. Ikan nila dapat bertelur berkali'kali sepanjang tahun pada daerah tropis. .usim bertelur pada daerah yang meilki perbedaan musim tejadi selama temperatur yang tinggi dan lama penyinaran yang panjang (7alabert dan Ionar -0#!$. Siklus reproduksi rata'rata mencapai 3" hari ((.cInthosh dan 8ittle -00*$. 7umlah telur yang dihasilkan dari setiap kali bertelur merupakan suatu +ariabel dan dapat dipengaruhi oleh umur ukuran induk betina pakan dan (aktor lingkungan sedangkan .ires (-0#!$ berpendapat bahwa produksi telur dan lar+a nila merah tergantung pada ukuran induk (panjang dan berat$ tempat pemijahan pada tebaran jumlah dan kualitas pakan sedangkan jumlah lar+a tegantung pada ukuran dan umur induk pakan dan manejemen pakan dan (aktor lingkungan dan teknik budidaya. Selain itu jumlah lar+a yang dihasilkan juga tergantung pada strain ikan yang dipijahkan karena berkaitan dengan (ekunditas dan tingkat kematangan gonad induk (Bhujjel -000$. 1kuran induk nila merah yang baik untuk dipijahkan rat'rata -*"'!*" gram? ekor. Be+eridge (-0#,$ melaporkan bahwa dengan kualitas induk yang baik kepadatan induk ,'# ekor ? m! nisbah jantan dan betina -63'* serta pemberian pakan mengandung protein tinggi dpat menghasilkan benih anakan secara teratur. Induk nila nila merah yang meilki ukuran berat !""',"" gram mamou mengahsilkan lar+a sebanyak *""' -""" ekor (Hardjamulia dan Subagyo -000$. Pembuahan sel telur merupakan awal dari perkembangan embrio ikan. Adanya (ertilisasi tidak lepas dari o+ulasi yang dilepaskan oleh induk betina yang sudah matang gonad. Penetasan telur merupakan proses perkembangan embrio dari (ase telur hingga mencapai (ase lar+a sempurna. /eknik penetasan menggunakan inkubator dapat menghasilkan benih berumur sama. %euntungan yang lain adalah masa inkubasi dan pengasuhan lar+a oleh induk betina tidak ada maka waktunya dipakai untuk pematangan telur berikutnya sehingga (rekuensi pemijahannya lebih banyak. 5i samping itu karena telur ditetaskan dalam lingkungan terkontrol maka memungkinkan memanipulasi (altor'(aktor lingkungan yang berpengaruh pada penetasan telur maupun memanipulasi (ase telur untuk mendapatkan benih yang

-3

berkualitas unggul. Inkubator yang disebut sebagai #oug $ar adalah alat penetasan telur ikan yang telah alam digunakan untk hampir semua jenis ikan (Joynaro+ic dan Hor+ath -0#"$. Inkubator ini dibuat dari gelas yang kemudian mengalami perubahan terutama mengenai bahannya sedangkan prinsip operasionalnya tetap. Air dialirkan dari dasr alat yang berbentuk corong dan bergerak ke atas bagian inkubator. /ujuan penetasan telur meggunakan corong tetas adalah untuk meningkatkan daya tetas telur./ahap awal perkembangan telur telur sangat rentan terhadap gangguan khususnya gangguan secara mekanik. 4angguan secara mekanik umumnya terjadi pada saat membersihkan telur dari kotoran memasukkan telur ke corong penetasan dan gerakan telur akibat debit air yang terlalu besar. 9leh sebab itu penanganan telur harus dilakukan secara hati'hati. 5ebit air yang terlalu besar dapat menyebabkan telur membentur dinding atau telur lainnya dengan keras sehingga dapat mengakibatkan kematian. Pada saat panen sering terdapat perbedaan umur lar+a. Perbedaan ini karena pemijahan induk tidak serentak sehingga perkembangan embrio telur setiap induk pada kolam pemijahanyang sama sering berbeda. 5emikian juga ukuran telur setiap induk berbeda'beda.

E. Hi",te!i! -. !. 3. %ecepatan memijah induk nila merah strain 2angkringan pada pembenihan lebih cepat daripada tetuanya. 7umlah telur induk nila merah strain 2angkringan jauh lebih banyak daripada tetuanya. Persentase (ertilitas dan daya tetas telur induk nila merah strain 2angkringan pada pemebenihan lebih besar daripada tetuanya.

-,

III.
A. Alat &an Bahan A. $. Alat

MET-DE PENELITIAN

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 6 modi(ikasi hapa berukuran ! K - K - m sebanyak *" buah timbangan duduk dengan ketelitian " - kg dan kapasitas maksimum * kg timbangan analitik dengan ketelitian " "- g dan kapasitas maksimum ! kg ember +olume !" liter thermometer air raksa seser halus ukuran sedang baskom plastik +olume * liter waring hitam berukuran ukuran !L3 m!
modi(ikasi corong inkubasi +olume ! liter hand counter teko air plastik +olume ! liter bambu panjang 3 meter sebanyak &" batang penggaris besi panjang maksimum 3" cm gunting %ater &uality checker (JM2$ !!A /9A gelas ukur !"" ml erlenmeyer !*"

ml pipet tetes pipet ukur - ml dan * ml kempot botol oksigen *" ml dan tisu. A. '. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 6 induk nila merah strain 2angkringan generasi ketiga dan nila tetua (Singapura 2hitralada Ni(i )ilipina$ berumur & bulan dengan panjang !*'3* cm pupuk kandang kapur pertanian pelet /:#- pelet *#- pelet 59 obat merah kapas larutan indikator pp larutan -?,, Na9H larutan indikator .9 larutan -?*" H!S9, dan akuades. B. Ran.angan Per.,/aan Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pola percobaan rancangan acak lengkap (@A8$ yang terdiri dari - perlakuan sebanyak * strain dan masing'masing strain sebanyak -" ulangan. @ancangan penelitian ini dapat dilihat pada /abel 3.- dan /abel 3.!.

-*

/abel 3.- @ancangan penelitian pemijahan 1langan ! 3 , * & : # 0 -" 2angkringan 2AN42AN4! 2AN43 2AN4, 2AN4* 2AN4& 2AN4: 2AN4# 2AN40 2AN4-" Strain Singapura Ni(i SIN4NI)SIN4! SIN43 SIN4, SIN4* SIN4& SIN4: SIN4# SIN40 SIN4-" NI)! NI)3 NI), NI)* NI)& NI): NI)# NI)0 NI)-" 2itralada 2I/2I/! 2I/3 2I/, 2I/* 2I/& 2I/: 2I/# 2I/0 2I/-" )iliphina )I8)I8! )I83 )I8, )I8* )I8& )I8: )I8# )I80 )I8-"

/abel 3.! @ancangan penelitian penetasan telur pada corong inkubasi 1langan ! 3 2angkringan 2AN42AN4! 2AN43 Strain Singapura SIN4SIN4! SIN43 Ni(i NI)NI)! NI)3 2itralada 2I/2I/! 2I/3 )iliphina )I8)I8! )I83

%eterangan 6 2AN4 N 2angkringan SIN4 N Singapura NI) N Ni(i 2I/ N 2itralada )I8 N )iliphina

-&

C. Per!ia"an Penelitian C. $. L,ka!i &an 0aktu Penelitian Penelitian dilakukan di 1%BA/ 2angkringan Sleman 5aerah Istimewa Cogyakarta dan di 7urusan Perikanan )akultas Pertanian 1ni+ersitas 4adjah .ada. Jaktu penelitian adalah -"" hari terhitung dari & 9ktober !"-! ' # 7anuari !"-3. C. '. Per!ia"an 0a&ah /ahap persiapan wadah untuk pemijahan di jaring apung meliputi pencucian dan pengeringan hapa agar terbebas dari hama dan penyakit sisa budidaya sebelumnya. Hapa yang digunakan berukuran ! K - K - m.. 5engan pemijahan secara berpasangan tiap hapa dengan perbandingan -6- (jantan - dan betina -$. %olam pemijahan ikan nila merupakan kolam yang dibuat permanen dari beton kolam berbentuk persegi dengan ukuran -"""! m dengan kedalaman " : m. %olam dikeringkan dan diberi kapur dan pupuk sebelum digunakan. Pemberian kapur dilakukan dengan dosis " - kg?m ! dan pupuk dengan dosis " * kg?m!. Hapa dipasang pada patok bambu dan diberi pemberat kemudian dialiri air dan dibiarkan selama satu minggu sebelum induk di tebar. /iap pasangan perlakuan strain diletakan secara acak sebanyak ulangan perlakuan pada hapa yang tersedia. C. (. A!al In&uk Induk nila merah berasal dari 1%BA/ 2angkringan Sleman 5IC. Induk nila merah yang digunakan terdiri dari lima strain yaitu nila merah strain 2angkringan generasi ke'3 ()3$ dan nila merah strain Singapura 2hitralada Ni(i dan )ilipina sebagai strain tetua generasi ke'3 digunakan untuk pembanding.

-:

C. *. Pe+ilihan &an Pe+atangan 1,na& In&uk Indukan nila merah yang ditebar berumur enam bulan dengan berat minimal -!" gram. Indukan yang terpilih ditimbang bobot (g$ panjang dan tinggi (cm$ serta tebal (cm$. Pemilihan induk jantan yang terawakili diharuskan mempunyai bobot lebih besar dari bobot minimal induk betina dengan selisih berat -"" hingga -*" gram. Induk jantan yang telah matang gonad memiliki ciri'ciri6 yaitu alat kelamin berwarna kemerah'merahan dan bengkak alat kelamin jantan mengeluarkan cairan putih kental jika dilakukan pengurutan pada bagian perut sedangkan pada bagian perut terlihat membesar dan terasa lembek jika diraba lubang kelamin berwarna kemerah'merahan dan dan jika dilakukan pengurutan di bagian perut akan keluar telur berwarna kuning cerah. Induk jantan sebaiknya dipotong pada bagian depan mulutnya (pre-ma'illa$ untuk menghilangkan deretan gigi tajamnya agar tidak melukai induk betina saat pada proses pemijahan terjadi. Induk betina dan jantan yang terpilih dipelihara wadah terpisah yakni betina ditampung pada hapa pemijahan dan jantan pada kolam pemeliharaan. Induk diaklimatisasi terlebih dahulu selama satu minggu dengan pemberian pakan secukupnya. %etika setelah - minggu pemeliharaan jantan terpisah tidak ada kematian maka indukan jantan siap dicampur dengan induk betina.

D. Pelak!anaan Penelitian /ahap pelakasanaan dilakukan dengan memijahkan induk sesuai pasangan perlakuan strain mengambil dan menampung telur penetasan telur serta mengukur kualitas air. D. $. Pe+ijahan Induk betina yang matang gonad dimasukkan terlebih dahulu ke dalam hapa kemudian diadaptasikan selama : hari. Proses pemijahan dihitung sejak dimasukkannya induk jantan ke dalam hapa induk betina. 5an berakhir ketika didapatkan induk betina yang sedang mengerami telur.

-#

D. '. Penga+/ilan &an Perhitungan Telur Pemijahan dilakukan selama -, hari dan panen telur siap dilakukan setelah melihat gejala indukan betina mengerami telur dalam mulutnya. /anda induk yang sedang mengerami telurnya adalah selalu memisahkan diri dari kelompoknya gerakan lambat mulut selalu tertutup dan pada bagian bawah tutup insangnya menggembung (Arie !"",$. Panen telur dilakukan dengan cara menjaring induk betina satu per satu dibuka mulutnya secara perlahan'lahan menggunakan haring halus. .enurut Amri dan %hairuman (!""3$ pemanenan dilakukan dengan cara menangkap induk secara hati'hati setelah terlebih dahulu menyurutkan +olume air kolam pemijahan. Induk yang ditangkap dibuka mulutnya dengan jari tengah dan telunjuk sementara itu ibu jari dan kelingking membuka tutup insangnya dengan posisi kepala berada di bawah telur bisa dikeluarkan secara mudah bagian atas (tutup insang$ disiram air atau dicelupkan di dalam air. Setelah itu telur dikumpulkan dalam ember yang berisi air. 2ara pengambilan tersebut disebut sistem EbetokF. 1ntuk mengetahui daya pembuahan telur terbuahi dan jumlah telur dihitung dari pengambilan telur dan diambil dari induk yang sudah mengerami setiap perlakuan (pengamatan$. D. (. Penga+atan Fertilitas Pengamatan kematangan telur bisa melalui daya pembuahan telur. Setelah telur diambil maka dilakukan pengamatan secara +isual (kenampakan telur$ tiap telur yang dihasilkan oleh induk setiap perlakuan. 5alam perkembangan telur yang fertil (terbuahi$ nampak berwarna kuning kehijauan sedang yang tidak terbuahi berwarna kuning keputihan atau kuning pucat. /elur yang tidak menetas ini lebih disebabkan karena tingkat kesuburan yang berbeda pengaruh perlakuan strain. Setelah panen telur dan pengamatan +isual telur dilakukan maka telur terpilih (yang fertil$ dibawa kecorong penetasan (tempat inkubasi$ untuk dtetaskan.

-0

D. *. Peneta!an telur Setelah telur didapat dari masing'masing empat tetua dan nila cangkringan maka telur ditetaskan pada inkubator. Inkubator yang digunakan merupakan modi(ikasi dari alat minum ayam potong dengan posisi terbalik. 7adi teknis desainnya menyerupai corong penetasan kon+ensional namun corong ber+olume ! liter air ini dapat menampung sekitar !""" butir telur untuk ditetaskan. 5engan bantuan pipa pralon diameter 3?# inci untuk air masuk dan saluran outlet corong maka air terus terganti dan meminimalisir adanya telur yang mengendap dibawah corong. Perlakuan yang dilakukan menggunakan kempat strain tetua dan strain cangkringan dengan suhu air inkubasi diatur sama O!0'3" o2 dengan penebaran telur tiap corong perlakuan sebanyak -*" butir 8ar+a tersebut akan berenang ke permukaan air dan dengan sendirinya akan terbawa aliran air melalui lubang pengeluaran di corong penetasan dan masuk ke tempat penampungan lar+a (Amri dan %hairuman !""3$. E. Para+eter Penelitian Parameter yang diamati dalam penelitian meliputi kecepatan pemijahan presentase (ertilisas daya tetas jumlah telur serta kualitas air. Sampling induk betina dan jantan dilakukan sebelum aklimatisasi dan sebelum pemijahan. Pasangan induk ikan diukur panjang tingginya menggunakan penggaris kemudian untuk berat induk ditimbang dengan timbangan analitik dan pengukuran tebal induk menggunakan jangka sorong. Penimbangan dilkukan secara basah yaitu dengan menambahkan air sebanyak P bagian plastik. Pengukuran parameter kualitas air pada pemijahan dan penetasan telur penelitian ini dilakukan dengan alat (ater )uality *ontrol (JM2$ yang dilakukan ketika ! kali sehari pada tiga titik yang sudah ditentukan dikolam pemijhana dengan 3 kali ulangan selama ,3 hari. Jaktu pengukuran yaitu pagi (pukul "*.3" Q ":.""$ dan siang (--.3" Q -3.""$. Sedangkan pada corong penetasan dilakukan sehari sekali pada siang hari pada tiap'tiap corong perlakuan dengan 3 kali ulangan. Pengukuran dengan

!"

alat ini lebih praktis yaitu hanya tinggal mencelupkan sebagian alat ke dalam air dan menunggu hingga angka konstan. Alat (ater )uality *ontrol ini untuk mengukur suhu air 59 terlarut kekeruhan pH. Sedangkan untuk 29 ! dan alkalinitas yang dilakukan dengan titrasi. 5ata kecepatan pemijahan persentase (ertilisas daya tetas jumlah telur kualitas air dan akan diolah dengan rumus perhitungan sebagai berikut 6 E.$. Ke.e"atan +e+ijah 7umlah waktu memijah pada pasangan induk menunjukkan lamanya pemijahan induk. Pengamatan dilakukan setiap -! jam dengan melihat segala tingkah laku dari setiap pasangan indukan pada strain masing'masing. %emudian tiap !, jam sekali dilakukan penyerokan induk betina untuk mengetahui pasangan induk yang mulai melakukan perkawinan dan dilihat dari mulai mengerami telur induk betina yang terindikasi hal tersebut dengan diambil telurnya menggunakan seser dan dikeluarkan telur yang ada dalam mulutnya untuk dihitung jumlah telur yang dihasilkan tiap perlakuan pasangan induk. Proses pemijahan dihitung sejak dimasukkannya induk jantan ke dalam hapa induk betina. 7umlah waktu kecepatan memijah induk dihitung pada setiap perlakuan (pengamatan$ dalam satuan jam. Pengamatan pemijahan pasangan induk dikolam dilakukan dalam mkurun waktu -, hari. E.'. Ju+lah Telur 7umlah telur dalam penelitian ini adalah jumlah telur per pemijahan. 7umlah telur yang dihitung adalah jumlah telur masak yang dihasilkan oleh induk betina yang dipanen pada tiap perlakuan strain pasangan induk. Perhitungan jumlah telur dilakukan dengan cara menghitung jumlah telur yang sedang dierami dalam mulut induk ikan nila merah tiap perlakuan pasangan induk. 7umlah telur yang terhitung dalam satuan butir.

!-

E.(. Fertilitas )ertilisasi adalah awal dari perkembangan embrio ikan. )ertilisasi terjadi karena adanya telur matang gonad hasil o+ulasi induk betina dibuahi oleh sel sperma induk jantan (Nagahama -00"$. 1ntuk menghitung daya pembuahan digunakan rumus 6

Presentase )ertilisasi (=$ dianalisi menggunakan analisi +arian dengan tingkat keercayaan 0*= (4omeA dan 4omeA -0:&$ E.*. Da2a Teta! Hatching rate# Penetasan telur merupakan proses perkembangan dari (ase telur hingga (ase lar+a sempurna (Arie !"",$. 1ntuk menghitung daya tetas telur digunakan rumus6

5aya tetas telur (=$ dianalisi menggunakan analisi +arian dengan tingkat keercayaan 0*= (4omeA dan 4omeA -0:&$. E.3. Kualita! air Pengukuran parameter kualitas air seperti suhu air pH 59 dan turbiditas dilakukan dengan alat (ater )uality *hecker (JM2$. Pengukuran dengan alat ini menggunakan prinsip mencelupkan sebagian alat ini kedalam wadah air yang akan disampling dan menunggu hingga angka konstan. Sedangkan untuk pengukuran karbondioksida bebas dan alkalinitas masih dilakukan dengan metode alkalimetri dan metode titrasi. 1ntuk menghitung karbondioksida bebas menggunakan rumus6

%eterangan

6a )

N hasil titrasi -?,, N Na9H N (actor korelasi (-$

!!

Sedangkan untuk mengukur alkalinitas digunakan rumus6

%eterangan

6a b (

N hasil titrasi -?*" H!S9, setelah ditetesi pp N hasil titrasi -?*" H!S9, setelah ditetesi .9 N (aktor korelasi (-$

). Anali!i! Data 5ata kecepatan memijah jumlah telur (ertilitas dan daya tetas telur akan dianalisis secara statistik menggunakan analisis keragaan (+nalysis of ,arians$ untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan yang diberikan. 7ika hasilnya berbeda nyata maka pengujian dilanjutkan dengan uji BN/ (beda nyata terkecil$ dengan tingkat kepercayaan 0* = untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata (terbaik$. Analisis data dilakukan menggunkan program >Kcel !"":. 5ata analisis kualitas air dianalisis secara deskripti( dan dibandingkan dengan re(erensi yang ada.

!3

I4.
A. Ha!il

HA%IL DAN PEMBAHA%AN

A. -. Ke.e"atan +e+ijah %ecepatan memijah induk nila merah pada kelima strain pada setiap pengamtan memiliki jumlah nilai waktu yang beragam. Hasil rerata waktu (jam$ kecepatan memijah induk nila merah selama penelitian tersaji pada tabel ,.-. /abel ,.- @erata waktu (jam$ kecepatan memijah induk tiap strain selama penelitian No ! 3 , Strain 2angkringan Singapura NI)I 2itralada Jaktu (jam$ kecepatan memijah per induk pada ulangan ke' ! 3 , * & : # 0 !& !& !3* !& !& !& !& !& !& -0, !#" ' ' ' ' ' !& -!! -!! -!! -&" -&" !-# -!! -!! -!! -0, -0, !&& !& @ata'rata (jam$ --" ,O--0 *a --0 *O&* 00a -,* !O#, :,a -!# 0O#0 3" a

-!! -!! -&" -0, !-# !&&

* )iliphina -!! -!! -!! -!! -&" -0, -0, !-# !& -,! !O*: &!a %eterangan 6 angka dalam kolom yang diikuti dengan huru( yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata pada tara( *= tanda ('$ menunjukkan tidak terjadinya pemijahan pasangan induk Hasil pengamatan terhadap rerata waktu (jam$ kecepatan memijah induk ikan nila merah selama penelitian terpendek ialah nila 2angkringan sebesar --" ,O--0 *" jam diikuti Singapura sebesar --0 *O&* 00 jam 2itralada sebesar -!# 0O#0 3" jam )iliphina sebesar -,! !O*: &! jam dan waktu terlama adalah Ni(i yaitu sebesar -,* !O#, :, jam. Analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 0*= pada waktu (jam$ kecepatan memijah menunjukkan tidak beda nyata dengan ditunjukkan pada 8ampiran -.

!,

A.'. Ju+lah telur 7umlah telur induk ikan untuk kelima strain pada setiap pengamatan memiliki nilai yang beragam. 5ata rerata jumlah telur (butir$ induk ikan tersaji pada tabel ,.!. /abel ,.! @erata jumlah telur (butir$ induk tiap strain selama penelitian 7umlah telur (butir$ per induk pada ulangan ke' No Strain ! 3 , * & : # 3:: -0# !": !&- 2angkringan 3&' ' ' 3 : 0 , !"* 3!# -", ,"0 !,, ! Singapura &#3 3,0 0"* : ! " 3 * -#" -3-#, !&# !## 3 Ni(i 3"# #!* &3& 3 3 0 # ! -!0 !,3 -,- -0, !-- !*3 , 2itralada :-& &"# 3 " * 3 " # !*- !"* -*# !"* !,& 3-- -:! * )iliphina ,#: : 3 & : * : 0 %eterangan 6 angka dalam kolom yang diikuti dengan huru( yang berbeda adanya beda nyata pada tara( *= tanda ('$ menunjukkan tidak terjadinya pemijahan pasangan induk

0 ' ' !3# , -:& ! !00

@ata'rata (butir$ !-&!O-!3!a -#*&O-3,3a -&3!O0!3a -&,&O&03 a -#-!O0!*a

menunjukkan

Hasil pengamatan terhadap rerata jumlah telur induk ikan selama penelitian terbanyak ialah 2angkringan sebesar !-&! #O-!3! 0& butir telur diikuti Singapura sebesar -#*& #O-3,3 #0 butir telur )iliphna yaitu -#-! !O0!* -& butir telur Ni(i sebesar -&3!O0!3 -, butir telur dan jumlah paling sedikit adalah 2itralada yaitu sebesar -&,& -O&03 *" butir telur. Analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 0*= pada jumlah telur yang dihasilkan menunjukkan tidak ada beda nyata seperti ditunjukkan pada lampiran !. A.(. )ertilita! Telur

!*

5aya pembuahan ((ertilitas$ untuk kelima strain pada setiap pengamatan memiliki 5aya pembuahan telur (=$ per induk pada ulangan ke' No ! 3 , * Strain 2angkringan Singapura NI)I 2itralada )ilipina nilai yang 00 & 3 00 & & #* " & 0# 3 00 , # beragam. ! 3 , * & : ' 00 0 ! 0: # # ' 0 ' 0# #& O" ##a 00 0: 3 00 00 ' ! * ! 00 : 00 , 00 & -"" -"" ! 0# 0 00 , 00 3 0# 3 0# : * : 0 ! : 0# - 0& : 00 : 00 " 00 # # * # , &! # 0# : 0# # 0# 0 0# : 0 : & 3 5ata rerata daya pembuahan telur (=$ @ata'rata (=$

00 0 ' 00 :0 O" !!a : 0! 0 0# 3 0& *& O, :*a ! & 0: " 00 3 00 0# *0 O- -!a # : 0# * 00 * 0* 3 0, *& O-- 0,a * 3 ! induk ikan pada kelima strain

yang berbeda tersaji pada tabel ,.3.

/abel ,.3 @erata (ertilitas (=$ telur nila merah 2angkringan dan antar tetua %eterangan 6 angka dalam kolom yang diikuti dengan huru( yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata pada tara( *= tanda ('$ menunjukkan tidak terjadinya pemijahan pasangan induk Hasil pengamatan terhadap rerata (ertilitas telur (=$ induk ikan selama penelitian terbesar ialah Singapura sebesar 00 :0O" !! = diikuti 2angkringan sebesar 0# #&O" ## = 2itralada sebesar 0# *0O- -! = Ni(i yaitu sebesar 0& *&O, :* = dan jumlah paling sedikit adalah )iliphna yaitu sebesar 0, *&O-- 0, =. Analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 0*= pada daya pembuahan ((ertlititas$ terhadap telur induk ikan nila merah menunjukkan tidak ada beda nyata seperti ditunjukkan pada lampiran 3. A.*. Da2a Teta! Telur

!&

5aya tetas untuk kelima strain pada setiap pengamatan memiliki nilai yang 5aya tetas telur (=$ per induk pada ulangan ke' @ata'rata (=$ ! 3 2angkringan #- -#! ,, :: ,, #" 33O- #*a ! Singapura #" ,, &0 -:: :# :* :#O3 0-ab 3 NI)I 0" ,, #, #0 :! #0 #! :,O& ::a , 2itralada :- :# && ,, :" #0 &0 :"O- ::b * )iliphina :* :: :! &: #" &: :& 3:O! :*ab beragam. Hasil pengamatan daya tetas telur (=$ pada kelima strain yang berbeda dapat No Strain dilihat pada tabel ,.,.

/abel ,., @erata daya tetas telur (=$ nila merah 2angkringan dan antar tetua %eterangan6 angka dalam kolom yang diikuti dengan huru( yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata pada tara( *=. Pada pengamatan selama penelitian terhadap rerata daya tetas telur (=$ induk ikan nila tertinggi ialah Ni(i sebesar #! :,O& :: = diikuti 2angkringan sebesar #" 33O- #* = )iliphina sebesar :& 3:O! :* = Singapura sebesar :* :#O3 0- = dan nilai terendah adalah 2itralada yaitu hanya sebesar &0 :"O- :: =. Analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 0*= menunjukkan beda nyata ditunjukkan pada 8ampiran ,. 1ji lanjutan menggunakan BN/ untuk mengetahui beda nyata dari kelima strain tersebut. Hasil uji BN/ daya tetas telur induk ikan nila strain 2angkringan berbeda nyata dengan 2itralada. Strain 2angkringan juga berbeda nyata dengan Singapura dan )ilipina tetapi tidak berbeda nyata dengan Ni(i. Selain itu data pendukung berupa waktu inkubasi telur untuk kelima strain pada setiap pengamatan memiliki nilai yang beragam. Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel ,.*. /abel ,.* Jaktu (jam$ inkubasi telur pada setiap perlakuan strain

!:

.asa inkubasi (jam$ per induk pada ulangan ke' @ata'rata (jam$ ! 3 2angkringan !" -# 0 !0" 33O*3 !"a Singapura !-! -3 !*! &:O-# *#a Ni(i !" !-& !*:O!# &#a 2itralada 0 -, -" !3#O*a )iliphina -3 -" -! !,& &:O3* 3:a %eterangan6 angka dalam kolom yang diikuti dengan huru( yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata pada tara( *=. %isaran waktu masa inkubasi (jam$ kelima strain berkisar !3#'!0" jam. Baik masa Strain penetasan telur maupun masa kuning telur lar+a habis terpendek pada perlakuan strain waktu inkubasi tercepat adalah strain 2itralada yaitu !*#O* jam diikuti )iliphina sebesar !,&O3* 3: jam Singapura !*! &:O-# *# jam Ni(i !*:O!# &# jam dan terlama !0" 33O*3 !" jam. Analisis sidik ragam dengan tingkat kepercayaan 0*= pada waktu (jam$ inkubasi terhadap telur induk ikan nila menunjukkan tidak ada beda nyata seperti ditunjukkan pada 8ampiran *. A. 3. Kualita! air %ualitas air media pembenihan ikan akan berpengaruh terhadap tidak dan sukses terjadinya pemijahan dan kehidupan induk ikan. %ualitas air untuk kelima induk strain pada setiap pengamatan memiliki nilai yang beragam. Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel ,.* dan hasil terperinci dapat dilihat pada 8ampiran &.

!#

/abel. ,.* %isaran kualitas air nila merah selama pemijahan

%eterangan6 (a$ Biwas et al., (!""!$ (b$ Huet (-0:-$ cit 2her+inski (-0#!$ (c$ 2her+inski (-0#!$ (d$ Boyd dan 8ichtkoppler (-0:0$ (e$ >llis (-03:$ dalam Boyd (-0:0$ Suhu air merupakan salah satu (aktor yang menentukan kehidupan dan kesehatan ikan. Suhu pada waktu penelitian berkisar antara !: &'3- !R2. Suhu tertinggi terjadi waktu pagi hari pada pemijahan strain 2angkringan Ni(i serta )ilipina sebesar 3- ! R2 dan terendah waktu siang hari dalam hapa strain Singapura dan 2itralada !# R2. %isaran pH optimal untuk pertumbuhan pada kisaran antara pH : sampai dengan #. 5erajat keasaman (pH$ tertinggi terjadi dalam hapa strain Ni(i serta )iliphina sedangkan terendah pada waktu Perlakuan hapa per strain No Parameter 2angkringan Singapura !: &' 3!# &'3- : #'#.&! !: &'33" !'*& : !0'# ,0 Ni(i !: &'3- ! 2itralada !: &' 3)iliphina !: &'3- ! %isaran optimal kualitas air !*'!#
(a$

! 3 ,

Suhu air (o2$ %ondukti+itas %adar pH

!- !'*, : !# &'3- - !- !'*, : : :&' # :: #'#.&! : :&' # :-

' :'# ( b$

59 terlarut ! !'* 33 ! ",', :3 ! "#'* 3* ! !'*.33 ! "#'* 3* <3 " (c$ (mg?8$ %ekeruhan -&'*& 0',* -&'*& !*',"" * !:',! !:',! (d$ (7/1$ & 29! (mg?8$ "',* "'#" - &'-& "',* - &'-& S&" (e$ Alkalinitas !"'-*" : 0- ,'-"" 0,'-"& 0,'-"" 0- ,'-"" 0,'-"" (d$ (mg?8$ pagi hari pada hapa pemijahan strain Singapura dan 2itralada sebesar : !0. %andungan oksigen terlarut (59$ selama penelitian memiliki kisaran antara ! ",'* 3* mg?l. %onsentrasi oksigen terlarut dalam air selama penelitian berkisar antara ! ",'* 3* mg?l ini

!0

berarti oksigen terlarut media penelitian masih dalam kisaran yang baik bagi proses pembenihan dan kehidupan induk nila merah. %andungan karbondioksida bebas selama pemijahan memiliki kisaran "'#" mg?l. %adar 29! yang tinggi dalam hapa pembenihan strain Singapura dan 2itralada yang telah melebihi batas akan mematikan bagi kehidupan induk sementara pada kadar !" mg?l sudah merupakan racun bagi ikan. %adar alkalinitas selama pemijahan berkisar 0- ,'-"& mg?l. Nilai alkalinitas terbesar terjadi pada strain Singapura dan 2itralada waktu siang hari dan terendah pada strain 2angkringan sebesar 0- , mg?l waktu pagi hari. Ini berarti kadar alkalinitas media pembenihan masih kisaran baik bagi proses pemijahan dan kehidupan induk. %ekeruhan air yang optimal berkisar !*' ,"" 7/1. %ekeruhan air tertinggi pada strain 2angkringan sebesar *& 7/1 waktu pagi hari dan terendah pada strain Singapura dan 2itralada waktu siang hari. 5ata kualitas air inkubasi telur untuk kelima telur induk strain pada setiap pengamatan memiliki nilai yang beragam tersaji pada tabel ,.& dan hasil lebih terperinci terlihat pada lampiran :.

/abel. ,.& %isaran kualitas air corong inkubasi telur nila merah selama penetasan %isaran Perlakuan penetasan indukan nila merah berdasarkan strain kualitas %ualitas air air 2angkringan Singapura NI)I 2itralada )iliphina optimal !* 0' !*'!# Suhu air (o2$ !& &'3" !* 0'3" & !* 0'3" * !* 0'3" * (a$ 3" * %ondukti+ita -& -' ' !" #'!, , -: *'!* 0 -& -'!, * -& -'!, * s !, * : *,' & *'0 (b$ %adar Ph : 3'# : 3:': #3 : *,': :# : *,': :# : :# 59 terlarut - :3' <3 " (c $ - *'3 : - &', ,, - :3', &# - :3', &# (mg?l$ , &# <&" (d$ 29! (mg?l$ * #'-* *'-# , ,'# # , ,'# # , ,'# # Alkalinitas !"'-*" 0, :'--3 0!'-!* 0,'--* 0,'--* 0,'--* (e$ (mg?l$ %eterangan6 (a$ Biwas et al., (!""!$ (b$ Boyd (-0:0$ 3"

(c$ 2her+inski (-0#!$ (d$ >llis (-03:$ dalam Boyd (-0:0$ (e$ Boyd dan 8ichtkoppler (-0:0$

Pengamatan kualitas air pada proses inkubasi telur dilakukan setiap hari ketika penebaran telur hingga menetas menjadi lar+a baru. Suhu air inkubator terendah sebesar !* 0 o2 dan tertinggi sebesar 3" & o2. Hampir semua perlakuan strain suhu air hampir masing'masing sama di antara perlakuan. Sebab selama penetasan suhu inkubator berkisar !* 0'3" & o2. Nilai kadar pH tertinggi pada perlakuan strain 2angkringan yaitu pH # - dan terendah pada strain Singapura yaitu pH : 3:. %adar 9ksigen terlarut tertinggi pada perlakuan strain Ni(i 2itralada dan )iliphina yaitu sebesar , &# mg?l lalu nilai kadar 59 terlarut terendah pada strain 2angkringan yaitu sebesar - * mg?l. %andungan karbondioksida pada inkubator tercatat tertinggi pada strain Singapura sebesar # mg?l dan terendah pada strain Singapura Ni(i dan )ilipina yaitu , , mg?l. Nilai alkalinitas tertinggi pada strain 2itralada Ni(i dan )iliphina yaitu sebesar --* mg?l dan terendah strain Singapura sebesar 0! mg?l.

B. Pe+/aha!an
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan memijah pada pasangan induk nila strain 2angkringan memilki waktu tercepat yaitu sebesar --" ,O--0 * jam dan terlama strain Ni(i yaitu sebesar -,* !O#, :, jam. Nila merah strain 2itralada yang mempunyai karakter cepat matang gonad dan jumlah telur per berat badan lebih banyak daripada strain nila merah tetua lain mempunyai kecepatan memijahnya yaitu sekitar !,, jam setelah dipasangkan (Anonim !""#$. .engacu pada pernyataan tersebut jika dibandingkan dengan strain 2angkringan menunjukkan matang gonad dan kecepatan memijahnya lebih baik dibandingkan Singapura Ni(i maupun 2hitralada. %isaran waktu memijah nila merah pada pemijahan sudah sesuai karena kecepatan memijah pada pemijahan ikan nila merah memerlukan waktu terpendek !,, jam (Anonim !""#$. Hal ini menunjukkan bahwa strain 3-

2angkringan lebih cepat matang gonad dan beradaptasi antar induk pasangannya daripada strain tetua lainnya. /urunnya rerata waktu memijah terutama nila strain Ni(i disebabkan rendahnya kematangan gonad dan daya adaptasi lingkungan tetapi masih berada dalam kisaran waktu pemijahan nila merah Beberapa (aktor penentu terjadinya pemijahan pasangan induk menurut @ustadi (-00&$ tingkat kematangan telur berbeda baik dalam satu induk dan juga induk yang berbeda saat pemijahan berlangsung telur yang belum matang tidak dapat terbuahi oleh sperma. %isaran waktu memijah pasangan induk nila merah 2angkringan Singapura 2itralada dan Ni(i selama penelitian --"'-,* jam atau selama * sampai dengan & hari lamanya. Hal ini mengacu pada pernyataan oleh @ustadi (-00&$ telur yang diambil pada hari ke tujuh sebagian besar sudah hampir menetas sehingga untuk mendapatkan telur (ase awal harus diambil pada hari 3'* dari sejak pemijahan dilakukan. Strain 2angkringan memiliki jumlah waktu memijah paling tinggi karena (aktor keturunan. Sementara kecepatan memijah pada pemijahan strain 2itralada (!,, jam$ < Singapura (!** jam$< )iliphina (!&* jam$< Ni(i (!:" jam$ (Sudiyanto dkk. !"-!$. Peningkatan kecepatan memijah menunjukkan bahwa kegiatan pemuliaan melalui hasil seleksi dapat dikatakan berhasil. Program seleksi yang telah dilakukan dapat memperbaiki mutu genetik nila untuk waktu awal kematangan gonad daya (ertilitas (/a+e -00#$. %eberhasilan terjadinya proses pemijahan pasangan induk tidak lepas dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad induk ikan. /ingkat kematangan gonad ikan dapat dideteksi dengan melihat tanda'tanda mor(ologi dan (isiologi sel telur atau sel sperma. Salah satu strategi yang diambil yaitu deteksi secara (isiologis dengan melihat kematangan telur induk betina. 5iketahui ketika dengan melihat telur sudah terbuahi akan berwarna kuning kehijauan sedang yang tidak terbuahi berwarna kuning keputihan (Peters -0#3 @ana -0&#$. Proses pemijahan dipengaruhi juga o+ulasi telur betina yang sudah matang gonad akan terjadi (ertilisasi pada telur oleh sperma induk nila jantan. .engenai jumlah banyaknya telur masak yang dihasilkan melalui proses pemijahan merupakan salah satu aspek karakter suatu per(orma reproduksi ikan. 7umlah telur selama proses pemijahan induk nila strain 2angkringan terbanyak yaitu !-&! #O-!3- 0& butir telur dan terendah strain Ni(i

3!

-&3!O03! -, butir telur. 7umlah telur hasil penelitian sangat baik karena menurut SNI (!""0$ jumlah telur masak per pemijahan ikan nila hitam ialah < -""" butir diperkuat oleh Siraj dkk.(-0#3$ produksi telur pada induk nila yang mempunyai nilai rata'rata berat -3" gram dapat menghasilkan sekitar 00! butir telur maka cukup baik dan sebanding dengan hasil telur nila O.niloticus pada berat induk yang sama. .engacu pada pernyataan Siraj dkk.(-0#3$ hasil tersebut sudah cukup baik maka pada penelitian ini dengan menggunakan lima strain berat induk berkisar !"" gram telah diperoleh rata'rata sekitar -*!& -* butir telur dan hasil tersebut diatas standar rata'rata yang diperoleh pada pemijahan O.niloticus sedangkan hasil terendah selama penelitian yaitu strain Ni(i sebesar -&3!O03! -, butir. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan induk kelima strain memilki kesuburan telur yang tinggi. %eberhasilan suatu pemijahan tergantung dari kematangan gonad yang berkembang hingga berbentuk telur siap dio+ulasikan untuk dibuahi sperma oleh induk jantan. Seperti umumnya ikan nila merah proses pembuahan?(ertilisasi terjadi di luar tubuh. Berdasarkan telur yang dikeluarkan oleh induk betina yang baru memijah mengadung telur yang terbuahi (fertil$ dari kelima induk nila merah strain 2angkringan Singapura Ni(i 2itralada dan )iliphina selama penelitian (ertilisasinya berkisar 0*'00 =. 5aya pembuahan ? (ertilitas terbaik yaitu nila strain Singapura 00 :0O" !! = kemudian 2angkringan 2itralada Ni(i dan )iliphina. %eberhasilan pembuahan pada telur ikan dipengaruhi oleh kualitas telur spermato-oa dan medianya (Syen dan Tan Turen -0#:$ Pembentukan 4PS? reat !arent "tock )3 2angkringan menyebutkan setidaknya mempunyai kisaran daya pembuahan?fertilitas telur mencapai 0- :3O- :# = dikatakan induk betina tersebut telah memilki kesuburan telur yang cukup tinggi (Sudiyanto et al. !"-!$. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa persentase (ertilitas telur induk betina pada strain 2angkringan walaupun hanya sebesar 0# #&O" ## = dan masih di bawah strain Singapura tetapi masih dalam batasan dan melebihi nilai persentase (ertilitas telur yang lebih baik dari penelitian pada tahun !"", oleh 1nit %erja Budidaya Air /awar (1%BA/$ 2angkringan sebelumnya. %esuburan reproduksi yang baik dapat menggambarkan kelangsungan hidup yang baik pula dari indi+idu ikan tersebut. %ualitas telur yang baik dapat dilihat dari derajat tetas telur. %isaran daya tetas dari strain Ni(i menunjukkan nilai lebih baik dibandingkan dengan

33

ke empat strain lainnya yaitu sebesar #! :,O& :: = strain 2angkringan sebesar #" 33O- #* = Singapura :* :#O3 0- = )iliphina sebesar :& 3:O! :* = dan terendah strain 2itralada yaitu &0 :"O- :: =. %elima strain ini memiliki derajat tetas telur di atas kisaran presentase daya tetas telur ikan nila hitam (O.niloticus$ yaitu sekitar antara "'&" = (Shaw dan Aronson -0*, dalam @ana -0##$. Penelitian @othbard dan Pruginia (-0:*$ in Bromage dan @obert (-00*$ melaporkan bahwa daya tetas telur tidak terprediksi pada ikan nila dan berkisar antara "'&" =. .engacu pada pernyataan tersebut hasil yang diperoleh dalam penelitian yang dilakukan daya tetas telur kelima strain nila merah masih dalam kisaran yang ditolerir dan lebih baik dari penetasan pada nila hitam (O.niloticus$. Penelitian yang dilakukan oleh @othbard dan Pruginia (-0:*$ derajat penetasan yang diperoleh berkisar antara ! :'33 3 =. Penyebab rendahnya derajat penetasan pada penelitian yang dilakukan @othbard dan Pruginia (-0:*$ in Bromage dan @obert (-00*$ diduga karena (aktor eksternal yang berkaitan dengan in(eksi jamur dan protoAoa pada media pemeliharaan.. Nila strain 2angkringan memiliki derajat tetas telur cukup tinggi karena (aktor keturunan. %eturunan )3 2angkringan mempunyai derajat tetas telur hampir sama baiknya dari penelitian lanjutan. .atching Rate )3 dari penelitian tahun !"-" oleh 1nit %erja Budidaya Air /awar (1%BA/$ 2angkringan sebelumnya penetasan sebesar #- **O- :" = sedangkan )3 pada penelitian ini hampir mendekati yaitu sebesar #" 33O- #* =. Hal ini menunjukkan bahwa dari per(orma reproduksi dari pengujian penetasan generasi )3 menunjukkan per(orma masih baik. Hasil penelitian @ustadi (-00&$ menunjukkan bahwa tingkat kematangan telur nila merah berbeda'beda baik dalam satu indi+idu maupun induk berbeda. .enurut 7uni dan Sulmartiwi (!"--$ menambahkan bahwa strain berbeda juga dimungkinkan berpengaruh terhadap waktu tetas dan daya tetas telur karena per(orma reproduksi ikan sangat dipengaruhi oleh genetik yang dimilikinya selain lingkungan. .engacu pada standar kriteria kuantitati( si(at reproduksi induk ikan nila (SNI -000$ pada pengamatan diameter telur yang dihasilkan induk ikan nila sebesar ! *"'3 - mm. 5iameter telur induk betina ikan nila strain 2angkringan pada penelitian ini berada diatas standar. Induk betina nila merah pada strain 2angkringan sendiri cenderung lebih besar dibandingkan kempat strain lainnya juga. Pada awalnya tiap indi+idu telur dalam setiap strain berukuran relati( seragam dan berbentuk elips dengan ukuran diameter panjang dan

3,

pendek telur induk kelima strain nila merah berkisar - *'3 3 mm untuk panjang telur dan pendek telur sendiri berkisar - !'! 0 mm. 5alam perkembangan selanjutnya telur yang fertil secara +isual tampak berwarna kuning keputihan atau kuning pucat. %isaran diameter telur induk )3 nila merah strain 2angkringan lebih baik dari keempat strain lainnya yakni panjang telur senilai - :'3 3 mm dan pendek telur - ,'! 0 mm strain )iliphina sebesar - *' 3 -O- 3'! , Ni(i - *'3 -O- !'! 0 mm strain 2itralada - &'3 -O- !'! : mm dan Singapura sebesar - *'3 -O- !'! : mm (hasil penelitian terperinci tersaji pada 8ampiran #$. Sebagai pembanding telur nila hitam yang telah dibuahi berbentuk elips berukuran - &*L! "" mm sampai ! &"L3 -* dan berwarna kuning tanah (Peters cit. Rana -0##$. .enurut Bagenal (-0&0$ mengatakan ukuran telur ini akan berperan dalam kelangsungan hidup ikan hal ini terjadi karena kandungan kuning telur yang berukuran lebih besar lebih banyak sehingga lar+a yang dihasilkan mempunyai persediaan makanan yang cukup untuk membuat daya tahan tubuuh yang lebih tinggi hingga menetas dibandingkan telur'telur yang berukuran kecil. Hubungan antara umur induk betina dengan ukuran telur adalah induk betina muda yang memijah pertama kali memproduksi telur'telur berukuran kecil induk betina yang berumur sedang menghasilkan telur'telur berukuran besar dan induk betina yang sudah tua kembali menghasilkan telur berukuran kecil diameter telur dan bobotnya dapat dipengaruhi (aktor genetis terutama ketersediaan makanan bagi induk ikan (Anonim !"-!$. )aktor pendukung lainnya dalam proses penetasan telur adalah lama waktu inkubasi (ase telur menjadi lar+a. .asa inkubasi merupakan penjumlahan masa (waktu$ penetasan telur dan masa terserapnya kantong kuning telur lar+a. %isaran waktu masa inkubasi (jam$ kelima strain berkisar !3#'!0" jam. Baik masa penetasan telur maupun masa kuning telur lar+a habis terpendek pada perlakuan strain tercepat adalah strain 2itralada yaitu !*#O* jam diikuti )iliphina sebesar !,& &:O3* 3: jam Singapura !*! &:O-# *# jam Ni(i !*:O!# &# jam dan terlama !0" 33O*3 !" jam. 8iteratur @ana (-0##$ menjelaskan toleransi telur nila hitam (O.niloticus$ semakin rendah nilai daya tetas dengan semakin cepat (ase perkembanganya. Hal ini karena pada media suhu memegang peranan penting yaitu pada suhu 30 * o2 telur rusak sedangkan pada suhu -: o2 terjadi penghambatan perpindahan sitoplasma pada kutub initi akhirnya terjadi kematian. .aka perlu

3*

mempertahankan suhu optimum untuk penetasan telur yakni berkisar !:'33 o2 (@ustadi !""!$. .eskipun waktu total inkubasi strain 2angkringan pada penelitian membutuhkan waktu terlama namun dalam hasil daya tetasnya lebih baik dibanding ketiga strain walaupun masih dibawah strain Ni(i. 7umlah lar+a pada masing'masing perlakuan strain beragam (hasil lebih terperinci dapat dilihat pada 8ampiran #$. 7umlah lar+a yang menetas terbanyak dihasilkan oleh strain Ni(i sejumlah -0 ekor lar+a baru diikuti 2angkringan sebanyak -& ekor lar+a baru Singapura sebanyak -* ekor lar+a baru )iliphina -! ekor lar+a baru dan terendah 2itralada sebesar -- ekor lar+a baru. Hasil ini semakin jelas erat hubungannya antara lama inkubasi dengan jumlah kerentanan telur transisi lar+a pada pemaparan oleh @ana (-0##$ bahwa pada percobaan menggunakan telur nila hitam (O.niloticus$ semakin rendah nilai daya tetas dengan semakin cepat (ase perkembanganya Secara umum kualitas perairan pada lokasi perkembangbiakan dan penetasan telur induk ikan nila merah strain 2angkringan Singapura Ni(i 2itralada dan )iliphina selama penelitian kondisi aman untuk pemijahan dan penetasan telur. .eskipun demikian ada beberapa parameter yang perlu dicermati berupa /isolved O'ygen (59$ yang di bawah optimum dan kadar 29! bebas yan melebihi batas optimum. Suhu air merupakan salah satu (aktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan. Suhu air dalam hapa pada setiap strain pemijahan adalah !: &'3- !
o

2 sedangkan dalam corong penetasan selama inkubasi telur berkisar !* 0'3" & o2. Suhu

air yang optimum untuk perkembangbiakan dan pertumbuhan nila adalah !*'3" o2 (Biwas et al. !""!$. %isaran suhu air tersebut juga optimum untuk perkembangan telurnya (@ana -0##$. Ini menunjukkan bahwa suhu lingkungan penelitian berada pada kisaran suhu optimum dan cenderung aman untuk pemijahan maupun penetasan telur. Selain suhu air parameter lainnya yang langsung berpengaruh terhadap pemijahan dan penetasan telur adalah oksigen terlarut. .enurut 2her+inski (-0#!$ kandungan oksigen terlarut (59$ optimum diatas 3 mg?l. %onsentrasi oksigen terlarut dalam air selama penelitian berkisar antara ! ",'* 3* mg?l ini berarti oksigen terlarut media penelitian kadang 59 berada di optimum dan kadang dibawah 59 optimum. %ebutuhan oksigen terlarut selama proses pemijahan cukup tinggi karena pada umumnya sebelum

3&

memijah ikan nila akan berkejar'kejaran telebih dahulu. >nergi gerak yang dihasilkan memerlukan kosentrasi oksigen terlarut yang relati( tinggi. Selain itu saat pengeraman telur juga memerlukan nilai kisaran oksigen terlarut tertentu. %andungan 9 ! terlarut yang rendah (kurang dari " * mg?l$ menghambat perkembangan dan pelepasan telur menurunkan (ekunditas dan tetas telur (Jedemeyer dkk. -00"$. %andungan karbondioksida bebas alkalinitas dan pH air adalah parameter saling berkait. Semakin tinggi pH semakin tinggi pula nilai alkainitasnya dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. %andungan 29! bebas yang baik untuk pemijahan adalah kurang dari &" ppm (>llis -0:3 cit Boyd -0:0$. %andungan 29 ! bebas tertinggi selama pemijahan #" mg?l dan penetasan -# mg?l. /inggi kadar 29! bebas pada pagi hari. Berarti kadar karbondioksida lingkungan penelitian berada diatas kadar optimum. Hal ini bisa disebabkan belum adanaya akti(itas produkti(itas primer untuk merobak bahan organik dan proses (otosintesis. 5engan meningkatnya 29! maka 9! dalam air juga ikut menurun sehingga pada le+el tertentu akan berbahaya bagi kehidupan binatang air. %adar 29 ! yang bebas di dalam air tidak boleh mencapai batas yang mematikan (lethal$ pada kadar !" ppm sudah merupakan racun bagi ikan dan mematikan ikan jika kelarutan oksigen didalam air kurang dari * ppm (* mg?l$ (4usrina !""#$. Ikan nila dapat berkembangbiak dan tumbuh dengan baik pada pH berkisar anatar & *'0 (Boyd dan 8icthkoppler -0:0$. Pengukuran pH pada media pemeliharaan dan inkubasi masih layak untuk kehidupan induk dan perkembangan telur induk nila. %isaran pH selama penelitian pada pemijahan : !0'# :- sedangkan pada corong inkubasi pH berkisar : 3'# -. Pengukuran pH pada media penelitian masih layak untuk induk ikan dan penetasan telur hal ini sesuai (Boyd -0:0$ kisaran pH optimum untuk pemijahan pada kisaran antara & * sampai dengan 0. Berarti ini menunjukkan pH masih dalam kisaran optimum Alkalinitas total selama pemijahan dan penetasan 0- ,'-!* ppm. 5isebutkan dalam Boyd dan 8icthkoppler (-0:0$ bahwa air dengan alkalinitas total berkisar !"'-*" ppm cukup baik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan. %ekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel'partikel suspensi. Air selama pemijahan cukup jernih dengan kekeruhan berkisar 0'*& 7/1. %ekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan

3:

terganggunya sistem osmoregulasi serta dapat menghambat penetrasi cayaha ke dalam air dan menghambat derajat penetasan telur ikan.

4. KE%IMPULAN DAN %ARAN

A. Ke!i+"ulan -. Nila merah 2angkringan mempunyai waktu memijah lebih cepat dibandingkan keempat strain baik strain Singapura Ni(i 2itralada dan )iliphina yaitu sebesar --" ,U--0 * jam. !. Nila merah 2angkringan mempunyai jumlah telur lebih banyak dibandingkan dari keempat strain baik strain Singapura Ni(i 2itralada dan )iliphina dengan jumlah dihasilkan yaitu sebesar !-&! #O-!3! 0& butir.

3#

3. Nila merah 2angkringan mempunyai persentase telur fertil lebih rendah dari strain Singapura tetapi lebih tinggi dari ketiga strain baik strain 2itralada dan Ni(i serta )iliphina yaitu (ertilitasnya sebesar 0# #&U" ## =. ,. Nila merah 2angkringan mempunyai derajat tetas telur lebih kecil dari Ni(i tetapi realti( lebih tinggi dari Singapura dan 2itralada serta )iliphina yaitu sebesar #" 33U- #* =.

B. %aran Sebaiknya perlu dilakukan uji penetasan buatan dan alami nila merah 2angkringan keturunan ke tiga.

DA)TAR PU%TAKA

Anonim !""#. 8aporan Perkembangan Nila .erah Strain 2hitralada di daerah Istimewa Cogyakarta. Balai Perekayasaan /eknologi %elautan dan Perikanan 5inas %elautan dan Periakanan 5.I.Cogyakarta Anonim. !"-!. Strain Ikan Nila .erah Hasil Pemuliaan. 1nit %erja Budidaya Air /awar 2angkringan. 5inas %elautan dan Perikanan Pro+insi 5aerah Istimewa Cogyakarta. Ariyanto 5. !""!. Analisis %eragaman Bentuk /ubuh Ikan Nila Strain 4i(t pada /ingkatan 1mur yang Berbeda. 7urnal Perikanan , (-$ 6 -" Q !&.

30

Biwas A.% and /oshio /. !""!. Part II6 >((ect o( 5i((erent Photoperiod 2ycles on .etabolic @ate and >nergy 8oss o( )ed an( 1n(ed Adult /ilapia (9reochromis niloticus$. )isheries Science &#6 *,3'**3. BlaKter 7.H.S. -0&0. 5e+elopment6 >ggs and 8ar+a. In6 J.S.Hoar and 5.7. @andal (eds$. )ish Physiology6 @eproduction and 4rowth. Academic Press New Cork :6 -:#' !*!. Boyd 2.>.-0#!. Jater Muality .anagement (or Pond )ish 2ulture. >lse+ier Science Pub. 2o. Inc. New Cork Boyd 2.>. and 8icthkoopler ). -0:0. Jater Muality .anagement in Pond )ish 2ulture. Auburn 1ni+ersity Auburn Alabarna p6 3". Bromage N.@ and @.7 @obert. -00*. Nile /ilapia ( Oreochromis niloticus$. In6 Bromage N.@ and @.7 @obert (>ds$. 0roodstock 1anagement and 2gg and level &uality. Blackwell Science 8td 1SA. p6 !::'3!". 2her+inski 7. -0#!. >n+ironmental Physiology o( /ilapias. In 6 @.S.T. Pullin and @.H.8owe'.c 2onell (eds$. /he Biology and 2ulture o( /ilapia. Internatonal 2enter o( 8i+ing ADuatic @esources .anagement .anila. Philippines p6 --0' -!#. 5ewi S. P. S. P. Setiawan N. 8istiowati A. @obisalmi dan @. )ebriyanti. !"-!. Petunjuk /eknis Budidaya Ikan Nila srikandi.Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI$ Sukamandi. Sukamandi >((endi ..I. -0:#. Biologi Perikanan Bagian II. )akultas Pertanian IPB. Bogor. hml6 -"*. >((endie ..I. -00:. Biologi Perikanan. Cayasan Pustaka Nusatama. 7ogjakarta 4urisna. !""#. Buku Budidaya Ikan 7ilid - untuk S.A. 5irektorat Pembinaan Sekolah .enengah %ejuruan. 7akarta 4omeA %. A. dan A. A. 4omeA.-00*.Prossedur Satistik untuk Penelitian Pertanian. >disi %edua. Penerjemah6 >. Sjamsuddin dan 7.S. baharsjah. Penerbit 1ni+ersitas Indonesia.7akarta. hml6 &#0. 4hu((ran ..H.%.%. -00:. Budiadaya Ikan Nila. >(har dan 5ahara PriAe. Semarang 7angkaru I. -000. .emacu Pertumbuhan 4urame. Penebar Swadaya. Cogyakarta. hml6 :!. %irpichniko+ T. S. -0#-. 4enetics Bases o( )ish Selection. Springer'Terlag. Berlin. .askur S. Hani( A. Sucipto 5. I. Handayani dan /. Cuniarti. !"",. Standar Prosedur 9perasional Pemuliaan (4enetic Impro+ement$ Ikan Nila. Pusat Pengembangan Budidaya Air /awar Sukabumi. 5irektorat 7endral Perikanan Budidaya 5epartemen %elautan dan Perikanan. .cBay 84. -0&-. /he Biology o( 3ilapia nilotica 8. @epr. -*th ed. )rom Proceeding Annual 2on(. South p6 !""'!-#. .usto(a B. P. S Suargono. dan 9. Iskandar. !"-!. Pengaruh Salinitas /inggi terhadap Pertumbuhan dan @eproduksi Ikan Nila @ed Ni(i ( Oreochromis niloticus$. Buletin /eknik 8itkayasa Akuakultur -" (-$ 6 !3 Q !&. Noor @. @. !"",. 4enetika /ernak. Penebar Swadaya. 7akarta. hlm 6 -00 @ana %. -0#*. In(luence o( >gg SiAe on the 4rowth 9nset )eeding. Point o('no'@eturn and Sur+i+al o( 1n(ed Oreochromis mossambicus )ry. ADuaculture ,&6--0'-3-.

,"

@ana %. -0##. @eproducti+e Biology and the Hatchery @earing o( /ilapia >ggs and )ry. In @ecent Ad+ances in ADuaculture ed. By 7.). .uir and @.7. @obert. ADuaculture 363,3',"&. @ustadi. -00&. Pengambilan /elur dari Induk Ikan Nila .erah ( Oreochromis sp.$ Pengaruhnya terhadap 5aya /etas dan %ecepatan Induk Betina Berpijah %embali. 7urnal Perikanan 3 (!$6 -'3-. @ustadi. !""!. Pengaruh Suhu Air terhadap 5aya /etas /elur dan Perkembangan 8ar+a Ikan Nila .erah (Oreochromis sp.$. 7urnal Perikanan , (!$6 !!'!0. @othbard S and 4. Hulata -0#". 2losed Incubator (or 2ichild >ggs. Progr. )ish'2ult. ,!6!"3'!", @ottman dan Shireman -0##. Hatching 7ar /hat is IneKpensi+e and Simple to Assemble. Progr. )ish'2ult. ,"6 *:'*# SNI "-'&-3#'-000. Induk Ikan Nila ( Oreochromis niloticus 0leeker$ kelas induk pokok (!arent "tock$. Badan Standarisasi Nasional. 7akarta Styen 4.7. and 7.H.7. Tan Turen.-0#:. /he (ertiliAing capacity o( cryopreser+ed sharptooth cat(ish (*larias gariephinus$ sperm. ADuaculture &36-#:'-03 Subagyo Sularto 7. Subagja dan 8. 5arma. -00!. Penguian seks re+ersal pada benih 4inogenetik Ikan mas (*yprinus carpio$. Buletin Perikanan 5arat ! (!$ 6 :,'#". Sudiyanto 5wijo P. @ustadi. !"-!. Strain ikan nila merah hasil pemuliaan. 1nit %erja Budidaya air tawar 2angkringan. 5inas %elautan dan Perikanan.Pro+insi 5aerah Istimewa Cogyakarta Siraj S.S. Smitherman @.9. 2astillo 4. S. and 5unham @.A. -0#3. @eproducti+e traits (or three year classes o( 3ilapia nilotica and maternal e((ects o( their progeny. International Symposium on /ilapia in ADuaculture Proceeding. /el A+i+ 1ni+ersity. p 6 !-"'!-#. Sulmartiwi 8. dan 7. /riastuti. !"--. Jaktu /etas dan 5aya /etas /elur Ikan Nila (Oreochromis niloticus 8.$ pada Salinitas yang Berbeda6 %ajian Pendahuluan Peningkatan Potensi Ikan Nila pada /ambak Idle. Penerbit Hayati. , 6 ,3',*. Sumantadinata %. !""*. .ateri narasumber 5iklat 4uru perikanan se'Indonesia. 5epartemen Pendidikan Nasional. Suyanto S.@. --0#. Nila. Pernebar Swadaya.7akarta. hml 6 -"*. /a+e 5. -00*. Selecti+e breeding programmes (or medium'siAed (ish (arms.)A9 (isheries technical paper. @oma 3*! 6 -!!. Jeatherley A.H.-0:!. 4rowth and >cology o( )ish Population. Academic Press Inc.!03 p. Jedemeyer 4.A. A.B. Barton 5.7. .c.8eay -00". Stress and AcclimatiAation. In 6 Shreck 2.B. and P.B. .oyle (eds.$ .ethods (or )ish Biology. American )isheries Society. Bethesda .5. 1SA p6 ,*-',#0. Joynaro+ich >. And 8. Ho+arth -0#". /he Arti(ical Propagation o( Jarmwater )in(ish. )A9 )ish /ech. Pap. !"-6 -#3.

,-

,!

8A.PI@AN

8ampiran -. %ecepatan memijah induk nila tiap strain

,3

No !

Strain 2angkringan Singapura

7umlah telur (butir$ per induk pada ulangan ke' 3:: 3 !"* : ! 3&&#3 3 -0# : 3!# ! -33 &"# ,#: , !": 0 3,0 #!* !,3 " -*# & * !&, -", " -#, 0 -,* !"* : & : # 0

7umlah -"#-,

-#" 3 Ni(i 3"# 3 , 2itralada -!0 :-& 3 )% &0"3:*.&!* * )iliphina !*- !"* : 3 7% /otal !,-*03.3:* 7% Perlakuan &-&#.-:* 7% kesesatan?galat !3*,!*.! Sumber %eragaman Perlakuan Sesatan /otal 5erajat Bebas *'-N , 30',N 3* ,"'-N 30

,"0 3 !&# # -0, 3 !,& *

!,, * !## ! !-" 3-:

0"* &3& !*3 # -:! 0 !3# , -:& ! !00

-,#*, -,&## -,#-* -&3-"

7umlah kuadrat &-&#.-:*" !3*,!*.!""" !,-*03.3:*"

%uadrat /engah -*,!.",3# &:!&.,3,3

) hit ".!!0

) tabel " "* !.&,-

%et TBN

8ampiran ! 7umlah telur (butir$ ikan tiap strain

,,

)% 7% /otal 7% Perlakuan 7% %esesatan Sumber %eragaman Perlakuan Sesatan /otal

-!::3#33, 3:3#"0:". 0 --,*&,&.! 3 3&!3*3!,. : 5erajat Bebas *'-N , 30',N 3* ,"'-N 30 7umlah kuadrat --,*&,&.!3 3&!3*3!,.:, 3:3#"0:".0# %uadrat /engah !#&,--.*& -"3*!0,.00 ) hit ".!:: ) tabel " "* !.&,%et TBN

8ampiran 3. )ertilitas (=$ telur induk tiap perlakuan Strain 2angkringan Singapura NI)I 00 & 3 00 & & #* " 5erajat pembuahan telur (=$ per induk pada ulangan ke' ! 3 , * & : # 0 00 0: 3 00 00 ! * ! 00 : 00 , 00 & 00 0 00 0 -"" -"" ! ! : 0# 0 00 , 00 3 0# 3 0# : 0: # 0! 0 0# 3 7umlah ,*#."0 :0#.!0 #&0."*

,*

2itralada )ilipina

& 0# 3 00 , #

* 0# # &! # 0

: 0& : 0# : :

0 00 : * 0# # &

! 00 " # 0# 0 3

: 00 # , 0# :

00 0# * *

! 0: " # 00 * 3

& 00 3 : 0* 3 !

##:.3! ##:.!&

)% 7% /otal 7% Perlakuan 7% Sesatan?4alat

3#"!*- 0* -,#! 3-&!0# -,: &-:*!33 -33, &0#::,

Sumber %eragaman Perlakuan Sesatan /otal

5erajat Bebas *'-N , 30',N 3* ,"'-N 30

7umlah kuadrat -,: &-:*!3 -33, &0#::, -,#! 3-&!0#

%uadrat /engah 3& 0",3#3# -3,!*-

) hit " 0&#

) tabel " "* ! &,-

%et TBN

@erata jumlah telur fertil (=$ dan telur 4nfertil (=$

,&

%eterangan6 tanda ('$ menunjukkan tidak terjadinya pemijahan pasangan induk. 1langan ! 3 , * & : # 0 -" 2angkringan Ferti 4nferti l l 00 &3 " 3: 00 -! " ## 00 " 00: 3* ! &* 00 ! " :3 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' Singapura Ferti 4nferti l l 00 && " 3, 00 :" !0 00 , " *# -"" " 00 & " 3# -"" " 00 0! " "# 00 0: 3! ' ' ' ' Perlakuan strain Ni(i Ferti 4nferti l l #* "& -, 0 0# 0* - "* 00 * " *3 00 30 "& 0# 3 - &# 0# # - !3 0: #! -0 0! 0! : "# 0# , - &, ' ' 2itralada Ferti 4nferti l l 0#. -: 0# -# - #! 0& : 3 !0 00 :* " !* 00 " 0! 00 # " -* 00 0: "# ! 0! 00 , " &! ' ' )iliphina Ferti 4nferti l l 00 ,# " *! &! #0 3: 0# # - !3 0# #& - -3 0# 0 - ": 0# : -3 0# ** - ,, 00 *3 " ,& 0* 3 , &# ' '

8ampiran ,. 5aya tetas (=$ telur induk tiap strain

,:

Strain 2angkringan Singapura NI)I 2itralada )ilipina )% 7% total 7% Perlakuan 7% sesatan Sumber %eragaman Perlakuan Sesatan /otal %esimpulan

5aya tetas telur (=$ per induk pada ulangan ke' ! 3 #- -#! ,, :: ,, #" ,, &0 -:: :# 0" ,, #, #0 :! #0 :- :# && ,, :" #0 :* :: :! &: #" &: ###0# ",3#, *0" 0:!-& !0: *-""!&: !03 ,&!-333 7umlah kuadrat !0: *-" !03 ,&! *0".0:! %uadrat /engah :, 3:# !0 3,&

7umlah !,".00 !!:.33 !,#.!! !"0.-!!0.--

5erajat Bebas *'-N , -,',N -" -*'-N -,

) hit ! *3,

) tabel " "* 3 ,:# (TBN$

Perbedaan strain dapat mempengaruhi daya tetas telur induk ikan Perbedaan strain dapat mempengaruhi daya tetas telur induk ikan walaupun tidak terjadi perbedaan yang nyata maka diperlukan uji lanjutan

,#

Post Hoc 1ji lanjutan BN/ terhadap daya tetas

t" "*(-"$
BN/" "* Perlakuan strain 2angkringan Singapura Ni(i 2itralada )iliphina BN/" "*

N 0 #**3
N ! !3 5aya tetas #" 33 :* :# #! :, &0 :" :& 3: ! !3 Notasi B AB B A AB

%esimpulan 6 Pengujian lanjutan pada perlakuan strain menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata strain Ni(i memberikan pengaruh terhadap daya tetas tertinggi.

,0

8ampiran *. .asa inkubasi (jam$ telur induk tiap strain Strain 2angkringan Singapura Ni(i 2itralada )iliphina .asa inkubasi (jam$ per induk pada ulangan ke' ! 3 !" -# 0 !-! -3 !" !-& 0 -, -" -3 -" -! 7umlah ,: ,& *: 33 3*

)% 77% /otal 7% Perlakuan 7% %esesatan Sumber %eragaman Perlakuan Sesatan /otal

3-&# !&: !:: :333 -!: :333 -*" 5erajat Bebas *'-N , -,',N -" -*'-N -, 7umlah kuadrat -!: :3 -*" "" !:: :3 %uadrat /engah 3- 03 -3 &, ) hit !3 ) tabel " "* 3 !", %et TBN

*"

8ampiran &. %ualitas air kolam selama pemijahan

*-

8ampiran :. Parameter 59 /itik Jaktu Suhu No Perlakuan %adar terlaru %ekeruhan sampling sampling air %ondukti+itas pH t (7/1$ (o2$ (mg?l$ !: & : #' ! !' Pagi ' !# #'33"'*& # &! * 33 3- ! 2angkringan !# ! ! &&' Siang !# &'3- #'# * -&'!! '3, 0: !: & : !0' ! ",' Pagi 3" :'*& -"',* '3: #: , :3 ! Singapura !#' : *#' ! :#' Siang 3" !'30 # 0'-# 3" , # ,0 3 &!: & : :&' ! "#' Pagi ' !- !'*, : !:',! #* * 3* dalam 3- ! 3 hapa tiap Ni(i !# perlakuan : #' ! &&' Siang ' !0 -'!0 ! -#'!! # :, !* 3- !: & : #' ! !' Pagi ' !# #'33"'*& # &! * 33 3- ! , 2itralada !# ! ! &&' Siang !# &'3- #'# * -&'!! '3, 0: !: & : !0' ! ",' Pagi 3" :'*& -"',* '3: #: , :3 * )iliphina !#' : *#' ! :#' Siang 3" !'30 # 0'-# 3" , # ,0 3 &!: & : !0' ! ",' Pagi 3" :'*& -"',* '3: #: , :3 & Inlet !#' : *#' ! :#' Siang 3" !'30 # 0'-# 3" , # ,0 3 &!: & : :&' ! "#' Pagi ' !- !'*, : !:',! #* * 3* 3- ! : pada /engah !# kolam : #' ! &&' Siang ' !0 -'!0 ! -#'!! # :, !* 3- !: & : #' ! !' Pagi ' !# #'33"'*& # &! * 33 # 9utlet 3- ! !# ! ! &&' *! Siang !# &'3#'# * -&'!! '3, 0: !*' %isaran optimum :'# <3 !*',"" !# 29! (mg?l $ "',* 3V& "'#" 3 ,' *- &' -& 0' -3 , "',* 3V& "'#" 3 ,' *"'#" 3 ,' *- &' -& 0' -3 , "',* 3V& S&"

Alkalinitas (mg?l$ 0- ,'-"" 0!'-"" 0,'-"" 0,'-"& 0,'-"" 0,'00 0- ,'-"" 0!'-"" 0,'-"" 0,'-"& 0,'-"" 0,'-"& 0,'-"" 0,'00 0- ,'-"" 0!'-"" !"'-*"

%ualitas air corong inkubasi nila merah 2angkringan dan antar tetua %ualitas air 2angkringan Suhu air (o2$ %ondukti+itas %adar pH 59 terlarut (mg?l$ 29! (mg?l$ Alkalinitas (mg?l$ !& &'3" - *'3 : : 3'# !" #'!, , * #'-* 0, :'--3 Penetasan telur induk nila merah tiap strain Singapura !* 0'3" & -: *'!* 0 : 3:': #3 - &', ,, *'-# 0!'-!* NI)I !* 0'3" * -& -'!, * : *,': :# - :3', &# , ,'# # 0,'--* 2itralada !* 0'3" * -& -'!, * : *,': :# - :3', &# , ,'# # 0,'--* )iliphina !* 0'3" * -& -'!, * : *,': :# - :3', &# , ,'# # 0,'--*

*3

8ampiran #. 1kuran telur dan hasil penetasan pada setiap perlakuan strain
Perlakuan Strain 1langan Induk ! 2angkringan 3 @ata'rata ! Singapura 3 @ata'rata ! Ni(i 3 @ata'rata ! 2itralada 3 @ata'rata ! )iliphina 3 @ata'rata -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" -*" 7umlah telur (butir$ -*" -*" -*" /elur 5imensi Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek Panjang Pendek 5iameter (mm$ - :'! # - &'! 3 - *'! : - ,'! , ! !'3 3 - :'! 0 - *'3 3 - ,'! 0 - &'3 - *'! : - :'3 - !'! : - :'3 - !'! : - &'3 - !'! : - :'3 - !'! : - *'! # - 3'! , !'3 - &'! 0 - *'3 - !'! 0 - &'! : - 3'! - :'3 - !'! : - :'3 - !'! : - &'3 - !'! : - ,'! : - ,'! ! - *'! : - 3'! , - *'! # - 3'! , - ,'! # - 3'! , 8ar+a baru 7umlah Panjang (ekor$ (cm$ " &'" # !" -# 0 -& !-! -3 -* !" !-& -0 0 -, -" --3 -" -! -! " &'" : " &'" &! " &'" # " :'" # " &'" : " &'" : " &'" : " :'" # " &'" : " :'" # " &'" # " &'" &! " &'" :" &'" : " &'" :" *'" : " &'" : " *'" : " *'" :

*,

**