Anda di halaman 1dari 10

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelangsungan hidup manusia pasti tidak lepas dari berbagai macam kebutuhan.

Kebutuhan tersebut dapat tergolong dalam kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Kebutuhan akan berbagai macam produk pun salah satunya. Produk tersebut dapat berupa produk yang dapat dipakai sebagai pembersih, dipakai untuk perawatan badan, dikonsumsi, digunakan sekali pakai, dan lain-lain. Banyaknya produk tersebut pun berimplikasi pada banyaknya bahan baku yang digunakan. Bahan baku yang digunakan dapat berasal dari bahan non-pertanian, maupun bahan pertanian. Salah satu komoditas yang terkenal dapat digunakan untuk berbagai macam produk adalah kelapa sawit. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas pertanian yang paling diminati di Indonesia. Selain prospek pasarnya bagus, tanaman ini juga menjamin kontinuitas produksi setiap waktunya. Tanaman kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang saat ini banyak digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan produksi minyak kelapa sawit terus meningkat setiap tahunnya. Minyak tersebut dihasilkan dari dua bagian pada kelapa sawit, yaitu crude palm oil atau CPO dan palm kernel oil atau PKO. CPO adalah minyak yang berasal dari serabut (mesokarp) kelapa sawit, sedangkan PKO adalah minyak yang berasal dari inti (kernel) kelapa sawit. Bentuk inti sawit bulat padat atau agak gepeng berwarna coklat hitam. Inti sawit mengandung lemak, protein, serat dan air. Pada pemakaiannya lemak yang terkandung didalamnya disebut minyak inti sawit diekstraksi dan sisanya atau bungkilnya yang kaya protein dipakai sebagai bahan makanan ternak. Kadar minyak dalam inti kering adalah 4453%. Dari minyak sawit CPO dan PKO dapat digunakan sebagai bahan baku dari bahan makanan seperti mentega, minyak goreng atau minyak makan, berbagai jenis asam lemak nabati. Teknologi yang digunakan merubah minyak sawit menjadi bahan makanan adalah fractionating, hydrogenation, refining, bleaching dan deodozing. Selain sebagai bahan baku, minyak sawit juga digunakan sebagai bahan penolong (aditif) pembuatan cokelat, es krim, pakan ternak, vanaspati, berbagai jenis asam lemak dan makanan ringan lainnya. Selain itu, dari minyak kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, seperti industry obat, kosmetik, industry berat dan ringan. Untuk mendapatkan produk yang baik, maka kualitas bahan baku di awal proses pun harus baik juga. Hal ini menjadi sangat penting karena konsumen tidak akan

menerima produk yang tidak baik, sehingga perlu adanya standardisasi mutu dari inti buah kelapa sawit. Standar mutu tersebut dituangkan dalam naskah di bawah otoritas Badan Standarisasi Nasional. Oleh karena itu, ketika sebuah perusahaan atau individu mendapatkan buah kelapa sawit dan akan memanfaatkan inti kelapa sawit tersebut untuk produk lebih lanjut, maka perlu adanya pengujian mutu tersebut apakah udah sesuai dengan standar nasional yang telah diteetapkan. 1.2. Tujuan Praktikum mandiri ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menguji mutu suatu komoditi dan membandingkannya dengan SNI yang telah ditetapkan sehingga mahasiswa dapat memahami kondisi komoditi tersebut dan menentukan kondisi mutunya.

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil [terlampir] 3.2. Pembahasan Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri,maupun bahan bakar (biodiesel).Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutandan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.Indonesia adalah penghasil minyakkelapa sawit terbesar di dunia.Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa,dan Sulawesi (Pardamean 2008). Klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Keluarga : Palmaceae Sub keluarga : Cocoideae Genus : Elaeis Spesies : Elaeis guineensis Jacq Habitat asli kelapa sawit adalah daerah semak belukar.Sawitdapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15 LU - 15 LS).Tanaman ini tumbuh sempurna diketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90 %.Sawit membutuhkan iklimdengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujandan tidak kekeringan saat kemarau.Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit (Sunarko 2007). Pembagian tipe kelapa sawit menurut Pardamean (2008) kelapa sawit yang dibudidayakanterdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali danterluas dibudidayakan orang.E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambahkeanekaragaman sumber daya genetik.Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari a) Dura,

b) Pisifera, dan c) Tenera.

gambar 1. tipe biji kelapa sawit sumber: infosawitrian.blogspot.com Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggapmemperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandunganminyak per tandannya berkisar 18 %.Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bungabetinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.Tenera adalah persilangan antara indukDura dan jantan Pisifera.Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masingmasinginduk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28% Menurut Pararibu (2004), secara garis besar buah kelapa sawit terdiri dariserabut buah (pericarp) dan inti (kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiridari tiga lapis yaitu lapisan luar atau kulit buah yang disebut pericarp,lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan palingdalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit terdiri dari lapisan kulit biji(testa), endosperm dan embrio. Mesocarp mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung minyak sebesar 44%, danendocarp tidak mengandung minyak. Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengankandungan minyak inti berkualitas tinggi. Di Indonesia sendiri, mutu inti minyak kelapa sawit diatur dalam SNI: 0l-0002-1987 tentang inti kelapa sawit, berikut standar mutunya

Tabel 1. Mutu Inti Minyak Kelapa Sawit. No Jenis Uji Satuan 1 Kadar Minyak % (b/b) kering 2 Kadar Asam Lemak % Bebas, (b/b) dihitung sbg Asam Laurat 3 Kadar Air, (b/b) % 4 Kadar Kotoran, (b/b) %

Persyartan Min. 46 Maks. 3

Maks. 8,0 Maks. 6

Kelapa sawit mulai berbuah pada umur 3-4 tahun. Kematangan buah yang optimum adalah pada umur 15-17 minggu setelah pembuahan. Untuk memperoleh kelapa sawit yang baik, panen kelapa sawit dilakukan pada saat kadar minyak mesokarpnya maksimum dan kandungan asam lemak bebasnya minimum, yaitu saat buah mencapai tingkat kematangan tertentu yang dilihat dari warna kulit buah dan jumlah buah yang rontok pada setiap tandan. Kadar minyak sawit dan minyak inti sawit yang tertinggi diperoleh dari buah sawit yang berumur 16 minggu (Ketaren 1986). Kriteria kematangan dapat dilihat dari warna kulit buah dan jumlah buah yang rontok pada tiap tandan. Kenaikan jumlah buah yang rontok 5-74% menunjukkan kenaikan kandungan minyak pada mesokarp sebesar 5% dan kadar asam lemak bebas meningkat dari 0.5% menjadi 2.9% (Ketaren 1986). Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan sifatnya, yaitu minyak sawit (Palm Oil, PO)dan minyak inti kelapat sawit (Palm Krenel Oil, PKO). Minyak sawit adalah minyak yang berasal dari serabut kelapa sawit, berkisar antara 72 - 80%. Sedangkan minyak inti kelapa sawit adalah minyak yang berasal dari inti kelapa sawit, berkisar antar 8 10%. Perbedaan antara minyak sawit dan minyak inti sawit adalah adanya pigmen karotenoid pada minyak sawit sehingga berwarna kuningmerah. Komposisi karotenoid yang terdeteksi pada minyak sawit terdiri dari -, -, -, karoten dan xantofil, sedangkan minyak inti sawit tidak mengandungkarotenoid (Tambun 2008) Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandunganasam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Minyak inti sawit diperoleh dari ampas pengempaan yang terdiri atas serat dan biji. Tahapan pengolahannya yaitu pemecahan ampas pengepresan, pemisahan

fraksi ringan dan fraksi berat, fermentasi biji, pemecahan bii, pemisahan biji dengan tempurung, dan pengeringan int (Naibaho 1996) Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika,industri baja dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragamperuntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanantinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyaidaya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik(Sunarko 2007). Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buahmenghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan bakuminyak goreng danberbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendahkolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin (Sastrosayono 2003). Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga danbuahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak.Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang (Sastrosayono 2003). Uji yang dilakukan pada praktikum SNI inti kelapa sawit ini terdapat empat macam uji, yaitu kadar kotoran, kadar air, kadar minyak (ekstraksi) dan kadar asam lemak bebas (free fatty acid)/ FFA. Data yang didapatkan adalah 3% kadar kotoran, 16,005% kadar kadar air, 22,95% kadar minyak dan 22,99% FFA. Sementara itu, dari SNI didapatkan standar inti kelapa sawit adalah kadar kotoran maksimum 6%, kadar air maksimum 8%, kadar minyak minimum 46% dan kadar FFA maksimum 3%. Kadar kotoran telah mmenuhi standar SNI. Hal ini menunjukkan bahwa untuk parameter kotoran, inti kelapa sawit yang diuji tidak terkontaminasi cemaran fisik dan di proses secara baik mulai dari pengupasan buah, pengeringan dan pemisahan cangkang. Jika proses untuk mendapatkan inti kelapa sawit tidak dilakukan dengan benar maka akan terdapat banyak pengotor yang tercampur. Hal ini akan menurunkan kualitan minyak yang didapatkan. Kadar air inti kelapa sawit masih belum memenuhi standar SNI. Kadar air yang didapat terlalu besar dari batas maksimum. Hal ini menunjukkan masih banyakknya air yang terkandung didalam inti kelapa sawit. kadar air yang terlalu

besar akan menurunkan mutu minyak karena kadar minyak yang diekstrak akan menurun. Besarnya kadar air yang didapat disebabkan oleh pengeringan/ drying yang dilakukan tidak berjalan efektif. Masih ada sisa air yang belum teruapkan dari inti kelapa sawit. proses drying harus dapat menguapkan semua air yang terikat secara fisika dalam inti kelpa sawit. habisnya air yang terikat secara fisika ditandai dengan penurunan massa pengeringan kurang dari 1 mg tiap 2 jam pengamatan. Pada praktikum ini, pengeringan belum mencapai penurunan yang didinginkan sehingga kadar air yang didapat belum sepenuhnya valid. Kadar minyak atau ekstrak juga belum memenuhi standar. Hal ini merupakan akibat dari kurang baiknya proses pengeringan. Kadar air yang terlalu tinggi pada sampel menghambat proses ekstraksi minyak yang dilakukan. Minyak yang terkandung masih banyak yang berikatan dengan air yang terkandung. Persen bobot minyak yang didapat akan mengecil karena bobot sampel masih bercampur dengan bobot air yang terkandung. Sifat dari bahan yang hidroskopis atau menyukai air menyebabkan sulitnya proses pengeringan. Setelah bahan dikeringkan, bahan akan dengan cepat menyerap air dari udara sehingga bobotnya kembali seperti semula. Sifat inilah yang juga menyebabkan kurang validnya kadar air yang didapat. Jadi pengukuran kadar aiar dan kadar minyak mempunyai hubungan kausatif. Jika proses pengeringan berlangsung dengan baik maka kadar air yang didapat akan lebih akurat. Jika kadar air bahan sesuai maka proses ekstraksi akan berjalan dengan baik dan ekstrak yang didapat akan lebih banyak. Kadar FFA yang didapat juga belum memenuhi standar SNI. Nilai FFA di hitung dari minyak hasil ekstraksi pada uji sebelumnya. Nilai yang didapatkan lebih dari FFA minimum yang tercantum. Kelebihan nilai FFA disebabkan oleh banyaknya minyak hasil ekstraksi yang teroksidasi oleh udara bebas. Kadar FFA akan meningkat seiring banyaknya proses oksidasi lemak yang terjadi. Lemak tidak jenuh yang mengalami kontak dengan udara akan teroksidasi menjadi lemak jenuh. Banyaknya lemak jenuh akan meningkatkan nilai FFA. Minyak hasil ekstraksi yang diuji,terlalu banyak mengalami kontak dengan udara bebaskarena tidak terdapat penutup pada labu penampungan minyak. Meskipun minyak disimpan dalam desikator, minyak masih mengalami oksidasi berlebih karena sifat bahan yang hidroskopis. Seharusnya labu minyak ditutup dengan alufo atau penutup lain sehingga dapat meminimasi proses oksidasi.

BAB IV. PENUTUP 4.1. Simpulan Pada parameter kadar kotoran telah mmenuhi standar SNI. Hal ini menunjukkan bahwa untuk parameter kotoran, inti kelapa sawit yang diuji tidak terkontaminasi cemaran fisik dan di proses secara baik mulai dari pengupasan buah, pengeringan dan pemisahan cangkang. Pada parameter kadar air inti kelapa sawit masih belum memenuhi standar SNI. Besarnya kadar air yang didapat disebabkan oleh pengeringan/ drying yang dilakukan tidak berjalan efektif sehingga masih ada sisa air yang belum teruapkan dari inti kelapa sawit. Pada parameter kadar minyak atau ekstrak juga belum memenuhi standar. Hal ini merupakan akibat dari kurang baiknya proses pengeringan. Kadar air yang terlalu tinggi pada sampel menghambat proses ekstraksi minyak yang dilakukan. Sifat dari bahan yang hidroskopis atau menyukai air menyebabkan sulitnya proses pengeringan. Kadar FFA yang didapat juga belum memenuhi standar SNI. Kelebihan nilai FFA disebabkan oleh banyaknya minyak hasil ekstraksi yang teroksidasi oleh udara bebas. Kadar FFA akan meningkat seiring banyaknya proses oksidasi lemak yang terjadi. Lemak tidak jenuh yang mengalami kontak dengan udara akan teroksidasi menjadi lemak jenuh. Banyaknya lemak jenuh akan meningkatkan nilai FFA. 4.2. Saran Sebaiknya praktikan lebih hati-hati dalam pelaksanaan praktikum. Selain itu, dibutuhkan keseriusan dan ketelitian dalam melaksanakan praktikum sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

Daftar pustaka Ketaren. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta : UI Press. Naibaho, P.M. 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit Pasaribu, Nurhida. 2004.Minyak Buah Kelapa Sawit. Medan: USU Press Pardamean, M. 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta: Agro Media Pustaka Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit.Jakarta: Agromedia Pustaka Tambun H. 2008. Analisis Pengaruh Temperatur Reaksi dan Konsentrasi Katalis KOH dalam Media Etanol terhadap Perubahan Karakteristik Fisika Biodiesel Minyak Kelapa [Tesis]. Medan: USU Repositiry.

LAMPIRAN
1. Kadar kotoran

M0 : bobot contoh uji (gram) = 50 gram M1 : bobot kaca arloji kosong (gram) = 4,52 gram M2 : bobot kaca arloji+kotoran (gram) = 4,67 2. Kadar air - Simplo

M0 : bobot contoh uji (gram) = 5,5231 gram M1 : bobot contoh uji sebelum pengeringan (gram) = 5,5231 gram M2 : bobot contoh uji setelah pengeringan (gram)= 4,4148 gram Duplo

M0 : bobot contoh uji (gram) = 8, 1453 gram M1 : bobot contoh uji sebelum pengeringan (gram) = 8, 1453 gram M2 : bobot contoh uji setelah pengeringan (gram)= 7,1716 gram 3. Kadar minyak

M0 : bobot contoh uji (gram) = 8, 5983 gram M1 : bobot minyak setelah pengeringan (gram) = 4. Kadar asam lemak bebas gram

V : Volume/banyaknya larutan NaOH 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi (ml) = 1,5 ml M : bobot minyak (gram) = 14,4818 gram