Anda di halaman 1dari 5

Percobaan D-1 D-2 Sifat-sifat koligatif I. Tujuan Percobaan 1.

Menentukan keaktifan pelarut dan zat terlarut dengan menggunakan data penurunan titik beku (D-1). 2. Menentukan berat molekul zat terlarut dengan menggunakan data kenaikan titik didih (D-2). II. Teori Dasar Secara termodinamika, pembekuan dan penguapan merupakan kesetimbangan antara dua buah fasa, seperti padat dengan cair atau cair dengan uap (gas). Bila terjadi kesetimbangan fasa, syarat yang harus dipenuhi ialah kesamaan potensial kimia di kedua fasa, yaitu: Untuk pembekuan : 1 = s Untuk penguapan : 1 = v Secara umum berlaku 1() = 1() = 1() = ... untuk kesetimbangan multifasa dan multi komponen. Bila ke dalam suatu cairan dilarutkan zat lain maka potensial kimia pelarut dalam larutan ideal: 1l = 1l + RT ln X1 untuk larutan nyata, 1l = 1l + RT ln a1 Untuk titik beku dapat dicari hubungan antara perbedaan titik beku dengan kemolaran larutan sebagai berikut. Pada pembekuan, Untuk pelarut dalam larutan : 1s(T1) = 1 . s(T2) Untuk pelarut dalam larutan : 1l(T1) = 1 . l(T2) Penggabungan kedua persamaan tersebut menghasilkan 1s(T2) - 1l(T1) = 1 . s(T2) - 1 . l(T1) III. Data Pengamatan Massa wadah + sikloheksana = 103,86 gram Massa wadah kosong = 72,47 gram Massa sikloheksana = 31,39 gram Temperatur konstan sikloheksana = 3,88C Temperatur konstan sikloheksana + naftalen 0,2 g = 4,23C Temperatur konstan sikloheksana + naftalen 0,4 g = 4,30C Massa wadah + benzena = 90,73 gram Massa wadah kosong = 60,53 gram

Massa benzena = 30,20 gram Temperatur konstan benzena = 2,08C Temperatur konstan benzena + naftalen 0,2 g = 2,35C Temperatur konstan benzena + naftalen 0,4 g = 3,08C IV. Pengolahan Data A. Penurunan titik beku 1. Nilai Tf Nilai Tf1= 2,35C- 2,08C = 0,27C Nilai Tf2= 3,08C- 2,08C = 1,00C 2. Keaktifan zat pelarut (ap) ln ap= -6,68 x 10-3 Tf 2,6 x 10-5 x (Tf)2 ln a1 = -6,68 x 10-3 x 0,27 2,6 x 10-5 x (0,27)2 = -1,8036 x 10-3 1,8954 x 10-6 = -1,8055 x 10-3 a1 = 0,9982 ln a2 = -6,68 x 10-3 x 1,00 2,6 x 10-5 x (1,00)2 = -6,68 x 10-3 2,6 x 10-5 = -6,706 x 10-3 a2 = 0,9933

3. Molal naftalen

m2 = 2 x m1 = 0,1035 mol/kg

4. Koefisien osmosis

5. Koefisien kereaktifan () ( )

( (

) )

( )

6. Keaktifan zat pelarut (at) at = x m at = 1,8458 x 0,0776 at = 0,1432 molal B. Kenaikan titik didih 1. Nilai Tb Tb1 = 4,23C 3,88C = 0,35C Tb2 = 4,30C 3,88C = 0,42C 2. Mr naftalen

V.

Pembahasan Pada percobaan ini dilakukan pengukuran perbedaan titik beku dan titik didih dengan pelarut murni dan penambahan zat terlarut di dalamnya. Dari perubahan titik leleh ini, maka dapat dihitung keaktifan zat pelarut dan juga Mr zat terlarut yang ada. Pada tahap awal, alat dibersihkan dan dikeringkan agar pengukuran semakin akurat, pada tahap ini harus sangat berhati-hati karena termometer Beckman tidak boleh mendapat perlakuan yang salah. Termometer Beckman tidak boleh ditaruh terlalu miring, karena raksa yang ada mungkin naik mengalir dan tidak dapat kembali lagi, dan juga termometer Beckman rentan sekali pecah dengan ukuran dan bahannya. Lalu pada percobaan penurunan titik beku, dipasang peralatan dengan tabung reaksi sedang berisi pelarut dalam tabung besar yang berisi es. Pada percobaan ini dibuat sistem tertutup agar perpindahan kalor tidak terlalu besar, dan es tetap cukup dingin untuk mendinginkan pelarut dalam tabung sedang. Setelah peralatan dipasang, raksa ditunggu sampai 1 di atas atau di bawah sumbat baru dilakukan pengukuran setiap 30 detik sekali hingga suhu konstan 3-5x yang menandakan bahwa pada suhu tersebutlah titik bekunya. Suhu dapat konstan dalam 1,5-2,5 menit karena pada waktu tersebut larutan yang dalam bentuk cair akan sedikit demi sedikit berubah menjadi es, namun ketika semua sudah menjadi es, maka suhu akan kembali turun. Pada percobaan ini larutan diaduk terus menerus agar tetap homogen dan menghindari pembekuan dari larutan. Larutan yang membeku akan merusak termometer Beckman.

Percobaan dilakukan 2x lagi dengan penambahan zat terlarut naftalen. Penambahan dilakukan 2x agar bisa didapat 2 persamaan sehingga dapat dihitung keaktifan pelarutnya. Dari perhitungan didapat keaktifan zat pelarut benzena adalah 0,1432 molal. Perubahan titik beku 1 dan 2 menunjukan data yang janggal, karena secara teori seharusnya perubahan titik beku 2 seharusnya 2 kali lipat perubahan titik beku 1. Hal ini disebabkan oleh pengukuran yang belum selesai, seharusnya pengukuran belum dihentikan, sehingga perubahan titik beku 1 kurang besar. Pada percobaan 2 peralatan pun dipasang sesuai dengan petunjuk asisten, lalu dimasukkan batu didih 3-5 buah untuk menjaga sirkulasi panas di dalam larutan agar tidak terjadi bumping. Sirkulasi ini didapatkan karena batu didih menghasilkan gelembung-gelembung udara. Setelah itu percobaan dilakukan, raksa ditunggu hingga mencapai titik 0, baru dicatat datanya setiap 30 detik sampai suhu konstan selama 1,5-2,5 menit. Setelah didapatkan data, dihitung Mr dari zat terlarut, menghasilkan angka yang jauh lebih rendah dari literatur. Pada percobaan penambahan 0,2 gram naftalen, nilai Mr yang didapat sangat jauh, diduga bahwa perubahan titik didihnya terlalu besar, sehingga menghasilkan Mr yang terlalu kecil. Ada titik konstan sebelumnya yang tidak disadari saat pengukuran, sedangkan perubahan titik didih 2 lebih baik tetapi pun masih terlalu besar sehingga Mr yang didapatpun terlalu kecil. Perubahan titik didih 2 jauh dari 2x lipat perubahan titik didih 1 karena rumus perubahan titik didih adalah : Kb x m x i, dengan i = 1 + (n-1). Semakin pekat sebuah larutan, maka nya akan semakin kecil, maka i akan semakin kecil, yang berarti perubahan titik didih pun akan semakin kecil. Dari kedua percobaan ini dapat diamati pengaruh sifat koligatif terhadap titik beku dan titik didih. Penambahan zat terlarut dalam sebuah larutan akan membuat titik beku dan titik didih sebuah larutan berubah, dan semakin banyak jumlah zat terlarut, perubahan tsb. akan semakin besar juga. VI. Kesimpulan Keaktifan zat pelarut (benzena) bernilai sebesar 0,1432 molal. Massa molekul relatif zat terlarut (naftalen) bernilai sebesar 71,815 g/mol.

VII. Daftar Pustaka P. Atkins, J. De Paula. Physical Chenmistry. 8th ed. W.H. Freeman adn Company, New York, 2006. Hlm 173 Pinarbasi, T., Sozbilir, M. Campolat, N. Prospective Chemistry teachers misconceptions about colligative properties :boiling point elevation and freezing point depression Chem. Educ. Res. Pract. 2009,10. 273-280

LAMPIRAN Pertanyaan 1. Bagaimana definisi larutan ideal? Besaran-besaran apa yang digunakan untuk menggambarkan penyimpangan-penyimpangan dari keadaan ideal tersebut? 2. Tunjukkan bagaimana pengaruh ketidak idealan larutan terhadap sifat koligatif! 3. Bagaimana kurva yang didapatkan bila larutan mengalami keadaan lewat beku "super cooled"? 4. Bagaimana pengaruh tekanan udara atas percobaan ini? 5. Bagaimana hasil yang akan diperoleh bila zat terlarut mengalami disosiasi atau pelarut mengalami asosiasi? Jawaban Pertanyaan 1. Larutan ideal merupakan keadaan larutan dimana interaksi antarmolekul dari komponen-komponen larutan sama besar dengan interaksi antarmolekul komponenkomponen tersebut pada keadaan murni, larutan ini mematuhi hukum Raoult (tekanan uap pelarut cair berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut dalam campuran. Besaran yang dipakai untuk penyimpangan adalah tekanan dan fraksi mol. 2. Ketidak idealan akan menyebabkan entalpi campuran dan volume campuran yang berubah. Aspek yang berkaitan dengan sifat koligatif adalah perubahan volum campuran, perubahan volum campuran akan menghasilkan perhitungan yang berbeda pada sifat-sifat koligatif. 3. Kurva larutan akan membentuk patahan dan tidak akan bersinggungan dengan kurva padatan, hal ini dimungkinkan dengan menurunkan potensial kimia dari larutan sebelum kurva larutan bersinggungan dengan kurva padatan (sebelum titik beku). 4. Pengaruh tekanan udara akan sama dengan pengaruh zat terlarut terhadap sifat koligatif pelarut. Tekanan udara yang diubah menjadi bukan 1 atm dapat menggeser titik didih larutan dan titik beku larutan. Pada percobaan ini tekanan udara dianggap 1 atm. Maka ada kesalahan dalam hasil perhitungan, karena seharusnya diberi faktor koreksi untuk mendapatkan perhitungan yang lebih akurat. Tetapi tekanan udara pada percobaan mendekati 1 atm, maka pengaruh tekanan udara pada saat percobaan dapat diabaikan. 5. Zat terlarut akan memiliki nilai faktor Van't Hoff (i), besar nilai itu bergantung pada nilai disosiasi dari zat terlarut. Semakin besar nilai disosiasi dari zat terlarut, maka nilai i semakin besar, maka perubahan titik beku dan didih akan semakin besar pula.