Anda di halaman 1dari 47

BAB 1 AQIDAH

1.1 MAKNA SYAHADATAIN Syahadatain berarti dua kalimat syahadah. Dua syahadah yang dimaksud adalah syahadah uluhiyah dan syahadah risalah. Syahadah Uluhiyah Terdiri dari kalimat Laa Ilaaha Illallah. (QS 12:40; 47:19; 7:59; hadist 1; hadist 2) Laa berfungsi sebagai Kalimatun-Nafii (kata yang menolak) Ilaaha berfungsi sebagai Al-Munafii (yang ditolak) lla berfungsi sebagai Kalimatul-Itsbatu (kata yang ditolak) Allah berfungsi sebagai Al-Mutsbitu (yang dikukuhkan) Jadi, Syahadah Uluhiyah (Laa Ilaaha Illallah) merupakan penolakan terhadap seluruh bentuk Ilah yang diikuti dengan mengukuhkan Allah saja sebagai satu-satunya Ilah. (QS 14: 24-26; Lih. Fatwa Ibnu Taimiyah). Jika seseorang memulai dengan menegakkan Laa Ilaaha pada dirinya maka akan tumbuh Al-Baro. Al-Baro' berarti memusuhi, membenci dan menghancurkan setiap Bentuk Ilah selain Allah. Ilah adalah sesuatu yang ditakuti, diharapkan, dicintai, ditaati dan disembah. Dengan membatalkan semua bentuk Ilah di luar Allah dan mengacuahkannya hanya untuk Allah, akan tumbuh Al-Wala. Al-Wala' berarti loyalitas, siap memantau perintah Allah dengan penuh kecintaan dan ketaatan, mengabdi semata-mata kepada Allah dan tidak bersedia menjalankan perintah siapa pun, kapan pun, dimana pun juga, kecuali itu sesuai dengan perintah Allah. Jika seseorang telah memiliki prinsip bahwa tiada yang berhak untuk diabdi kecuali Allah (Laa ma'buda bihaqqin Illa Allah) barulah dapat dikatakan seorang mukhlisin (orang yang ikhlas) sejati. Orang-orang yang ikhlas inilah yang tidak akan pernah berhasil digoda oleh syaithan. (QS 38: 82-83) Syahadah Risalah Pengakuan 'persona garata' (orang yang dipercaya) terhadap Rasulullah sebagai duta Allah bagi alam semesta dan kesiapan untuk menjadikan beliau sebagai 'examplia gratia' (contoh/uswah) dalam setiap aspek kehidupan. (QS 21:1O7 ; 33:21 ; 68:4) . Jika seseorang muslim mengakui Nabi SAW sebagai persona garata dan siap menjadikannya sebagai exampliu gratia maka barulah dikatakan dia berwala' (loyal) kepada Rasulullah SAW. Berwala' kepada nabi berarti harus senantiasa ittiba' (mengikuti) kepada beliau dalam setiap aspek kehidupan. Karena Ittibaur Rasul merupakan bukti kecintaan dan ketaatan kepada nabi SAW. Syahadah Uluhiyah dan risalah adalah suatu kesatuan (unity) yang tak dapat dipisahkan. Seorang muslim tidak dapat menerima hanya satu saja dari kedua syahadah itu. Jika seseorang hanya menerima syahadah uluhiyah saja berarti dia menjadi ingkar sunnah. Bila seseorang hanya menerima syahadah risalah saja berarti dia menjadi seorang Mohammedian. Keduanya tidak diperbolehkan dan bukan bagian dari ummat Islam.

SYARAT DITERIMANYA SYAHADAT Kalimat laa ilaha Illallah merupakan pintu gerbang seseorang masuk ke dalam Islam. Memahaminya akan mengantarkan manusia kepada syurga. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. "Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tiada ilah selain Allah, maka ia masuk syurga." (HR Muslim). Tetapi kalimat ini tidak akan memberikan kebaikan kepada manusia hanya dengan mengulang-ulang pengucapannya atau menghafal lafaz-lafaznya. Wahab bin Munabbih pernah ditanya: "Bukankah laa ilaaha Illallah merupakan pintu syurga? Kemudian Wahab menjawab, "Benar", tetapi tidak ada kunci kecuali ia mempunyai gigigigi. Apabila engkau datang sambil membawa gigi-giginya, maka syurga akan dibukakan untukmu. Kalau tidak, maka syurga tidak akan dibukakan untukmu. Yang dimaksud gigi-gigi di sini adalah syarat-syarat diterimanya laa ilaaha Illallah. Syarat-syarat diterimanya Laa ilaaha Illallah Ada tujuh buah persyaratan yang harus dimiliki, yaitu: 'ilmu, alyaqin, al-qabuul, al-inqiyaad, as-shidqu, al-ikhlas, mahabbah. 1. 'Ilmu 'Ilmu di sini adalah mengetahui makna yang dimaksudkan, baik yang dinafikan (ilaah) maupun yang ditetapkan (Allah). Dengan 'ilmu (mengetahui) bisa menangkal kebodohan. Firman Allah, "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada ilaah kecuali Allah" [47:19]. Liha juga [43:86, 3:18]. 2. AL-Yaqin Maksudnya orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus yakin terhadap pengertian di dalamnya dengan keyakinan yang sepenuhnya. Sebab keimanan tidak dapat dilandasi oleh praduga dan prasangka [49:15]. Adanya keyakinan dapat menangka1 keraguan. Rasulullah SAW bersabda: Saya bersaaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Dengan dua kesaksian ini dan tidak ragu-ragu tentang keduanya, seorang hamba tidak akan bertemu Allah kecuali ia masuk surga (HR Muslim dari Abu Hurairah ra.) 3. Al-Qabuul Maksudnya, menerima apa yang dituntut oleh kalimat ini dari hati dan usannya secara bulat. Allah mengisahkan kabar masa lampau tentang keselamatan bagi orang yang menerima Laa ilaha Illallah dan siksaan bagi orang yang menolak [43:23-25, 10:103, 37:35-36]. Penerimaan dapat menangkal pembangkangan. 4. Al-Inqiyaad Maksudnya tunduk patuh dan berserah diri kepada apa yang ditunjukkan serta apa yang dinafikan atau terus mengikuti dan terikat rada kalimat ini [39:54, 4:125, 31:22]. Ketundukkan dapat menangkal penolakan. "Tidak beriman di antara kamu sehingga menjadikan kecenderungannya mengikuti apa yang kubawa." (Hadits hasan shahih al-arbain an-Nawawiyah, hadits no.41) 5. Ash-Shidqu Maksudnya ia harus mengucapkan kalimat tauhid itu dari sanubarinya dengan jujur dan benar. Adanya kejujuran dapat menafikan kedustaan dan kemunafikan. Apa yang diucapkan sudah harus dibenarkan dengan hatinya [2:8-10, 29:1-3]. "Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah

hamba dan rasulnya dengan sebenarnya dari hati, melainkan Allah mengharamkan neraka baginya." [HR Bukhari dari Muadz bin Jabal] 6. Al-Ikhlas Memurnikan amalan dengan niat yang baik dan benar. Keikhlasan dapat melepaskan atau menangkal dari berbagai bentuk syirik [39:3, 98:5]. "Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah secara mumi dari hatinya." [HR Bukhari] "Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha Illallah, yang dengan ucapannya itu ia hendak mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla." [HR Muslim] 7. Al-Mahabbah Ucapan laa ilaha Illallah tidak akan berarti bila tak disertai dengan segenap rasa cinta (mahabbah) dalam mengamalkannya. AL-Mahabbah merupakan unsur yang sangat penting, karena untuk menegakkan kalimat tauhid ini diperlukan pengorbanan lahir dan batin. Cinta dan pengorbanan merupakan dua ikatan yang tidak dapat dipisahkan [2:165, 5:54]. Kecintaan dapat menafikan kebencian. "Tiga perkara barang siapa yang berada di dalamnya, maka akan mendapatkan kenikmatan dan manisnya iman, atau menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dicintai daripada semua cintanya selain kepada keduanya, seseorang mencintai yang lain, ia tidak mencintainya melainkan karena, Allah; dan menolak kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekufuran itu sebagaimana ia menolak untuk dilemparkan ke dalam api neraka. [HR Bukhari] Catatan: 1. Hadist 1: "Siapa yang mati dan dia tahu (meyakini) Laa Ilaaha Illallaah? niscaya dia akan masuk surga" 2. Hadist 2: "Siapa yang mengatakan bahwa tiada Ilah selain Allah niscaya akan masuk surga sesuatu dengau amalnya" 3. Fatwa Ibnu Taimiyah: "Tiada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati kecuali dalam kecintaan kepaada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan takkan terjadi kecuali dengan berpaling dari kecintaan kepada selain-Nya. Inilah hakikat Laa Ilaaha Illallah. Inilah jalan Ibrahim dan semua nabi serta rasul." REFERENSI: Paket BP Nurul Fikri, Syahadahmu syahadahku Muh. Said Al-Qathtani, Muhammad bin Abd. Wahhab, Muh. Qutb, Memurnikan Laa Ilaaha Ilallah DR. Ibrahim Muhammad bin Al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam Muhammad bin Sa'id bin Saum AL-Qahthany, Loyalitas Muslim Terhadap Islam, Ramadhani. Muhammad bin Sa'id bin Saum AL-Qahthany, Muh. Bin Abdul Wahhab dan Muhammad Qutb, Memeurnikan La Ilaha Illallah, GIP Dr. Ibrahim Muhammad Abdullah al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam, Litbang Pusat Studi Islam al-Manar

1.2 MARIFATULLAH Makna Ma'rifatullah Ma'rifatullah berasal dari kala marifah dan Allah. Ma'rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tandatanda kebesaranNya (ayat-ayatNya). Pentingnya Mengenal Allah Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya (QS 51:56) dan tidak tertipu oleh dunia . Marifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus difahami manusia (QS 6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Marifatullah adalah ilmu yang tertinggi sebab jika difahami memberikan keyakinan mendalam. Memahami Marifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang [6:122] . Berilmu dengan marifatullah sangat penting karena: a) Berhubungan dengan obyeknya, yaitu Allah Sang Pencipta. b) Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan. Jalan untuk mengenal Allah 1. Lewat akal: Ayat Kauniyah / ayat Allah di alam ini: fenomena terjadinya alam (52:35) fenomena kehendak yang tinggi(67:3) fenomena kehidupan (24:45) fenomena petunjuk dan ilham (20:50) fenomena pengabulan doa (6:63) Ayat Qur'aniyah/ayat Allah di dalam Al-Quran: keindahan Al-Qur' an (2:23) pemberitahuan tentang umat yang lampau [9:70] pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (30:1-3, 8:7, 24:55) 2. Lewat memahami Asmaul Husna: Allah sebagai Al-Khaliq (40:62) Allah sebagai pemberi rizqi (35:3, 11:6) Allah sebagai pemilik (2:284) dll. (59:22-24) Hal-hal yang menghalangi marifatullah Kesombongan (QS 7:146; 25:21). Dzalim (QS 4:153) . Bersandar pada panca indera (QS 2:55) . Dusta (QS 7:176) . Membatalkan janji dengan Allah (QS 2:2&-27) . Berbuat kerusakan/Fasad . Lalai (QS 21:1-3) . Banyak berbuat masiyat .

Ragu-ragu (QS 6:109-110) Semua sifat diatas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka. (QS 2:6-7) MAHABBATULLAH Hakikat Cinta. 1) Cinta Yang Syari Dasarnya Iman. Cinta seorang mukmin itu lahir dari ketulusan imannya kepada Allah SWT, bukan semata-mata memenuhi runtunan nafsu Dalil : o Q.3:15, Katakanlah (wahai Muhammad) : Maukah supaya Aku kabarkan kepada kamu akan yang lebih baik daripada semuanya itu ? Yaitu bagi orang-orang yang bertakwa disediakan di sisi Tuhan mereka beberapa Surga, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Disediakan juga pasanganpasangan/isteri-isteri yang suci bersih, serta (beroleh pula) keridhaan dari Allah. Dan (ingatlah), Allah senantiasa Melihat akan hamba-hambaNya. o Q.52:21, Dan orang-orang yang beriman beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keadaan beriman, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam Syurga), dan Kami (dengan itu) tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka, tiap-tiap seorang manusia terikat dengan amal yang dikerjakannya. o Q.3:170, (Dan juga) mereka bersuka cita dengan kurniaan Allah (balasan mati syahid) yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira dengan berita baik mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang), yang masih tinggal di belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka, (yaitu) bahawa tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berduka cita. 2) Cinta Yang Tidak Syari Dasarnya Syahwat. Tanpa sandaran kepada iman dan kecintaan kepada Allah, manusia akan melakukan sesuatu berdasarkan tuntutan nafsu semata-mata. Oleh itu cinta tanpa iman adalah memenuhi tuntutan syahwat semata-mata. Ini bukanlah ciri-ciri peribadatan mukmin yang yakinkan pembalasan Hari Akhirat. Dalil : o Q.3:14, Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia, kesukaan kepada benda benda yang diingini nafsu, yaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak, harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak, kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih, dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (yaitu Syurga). o Q.80:34-37, Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya, dan ibu serta bapaknya, dan isterinya serta anak-anaknya, karena tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu ada perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk dengan hal dirinya saja.

o Q.43:67, Pada hari itu sahabat-sahabat karib setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa (iman dan amal soleh). Ciri-Ciri Cinta 1) Selalu Teringat-ingat Di antara ciri-ciri cinta adalah seseorang itu senantiasa mengingat orang yang dicintainya. Apa pun yang dilakukan pasti dipikirkan apakah bermanfaat kepada yang dicintai, apakah pandangan yang dicintai dan seterusnya sehingga apa sikap yang hendak diambil, mesti mengambil pertimbangan orang yang dicintai. Dalil : Q.8:2, Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah. 2) Mengagumi Mencintai sesuatu adalah karena ada aspek-aspek yang dikagumi pada orang yang dicintai. Begitulah dalam hubungan cinta dengan Allah, kita senantiasa mengkagumi kehebatan yang Allah miliki. Dalil : Q.1:1, Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihi. 3) Ridha/Rela. Ciri cinta juga ialah hati kecil kita meridhai kepada orang yang dicintai. Dalil : Q.9:61, Dan diantara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata :Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya ). Katakanlah : Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab siksa yang tidak terperi sakitnya. 4) Siap Berkorban. Dalil : Q.2:207, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keredhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hambahambanya. 5) Takut. Dalil : Q.21:90, Maka Kami perkenankan doanya, dan Kami kurniakan kepadanya (anaknya) Yahya dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul (untuk melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah karena)

sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan senantiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta takut dan mereka pula senantiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami. 6) Mengharap. Dalil : Q.21:90 7) Mentaati. Dalil : Q.4:80 Barang siapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang berpaling ingkar, maka (janganlah engkau berduka cita wahai Muhammad), karena Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka dari melakukan kesalahan). (Hal ini Didapati Pada Manusia Dalam Mencintai Allah atau Mencintai Selain Allah.) Tingkatan MAHABBAH a) Hubungan hati, hanya dengan benda-benda, utk memanfaatkan b) Rasa simpati, pada masyarakat umum, utk didakwahi c) Curahan hati, untuk kaum muslimin umumnya, demi persaudaraan Islam d) Rasa rindu, dgn mukminin (keluarga/saudara sesama muslim/jamaah), utk saling kasih berkasih sayang e) Mesra, dgn Rasulullah dan Islam, utk diikuti. f) Tatayyum (cinta menghamba), hanya dengan Allah, utk menyembah/mengabdi diri REFERENSI : Said Hawwa, Allah Jalla Jalaluhu Aqidah Seorang Muslim 1, Al-Ummah

1.3 MARIFATUL INSAN Pendahuluan Manusia adalah makhluq Allah yang terdiri dari ruh dan jasad yang dilengkapi dengan potensi dan kelebihan dibandingkan makhluq lainnya, yaitu hati, akal dan jasadnya. Dengan hati manusia dapat berazam, denga akal dapat berilmu dan dengan jasad manusia dapat beramal. Kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan oleh Allah untuk menjalankan amanah yaitu ibadah dan khilafah di muka bumi. Peranan dan tugas yang diamalkan ini akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hakikatul Insan Hakikat manusia - menurut Allah selaku Khaliq - adalah sebagai makhluq, dimuliakan, diberikan beban, bebas memilih dan bertanggung jawab. Manusia sebagai makhluq bersifat fitrah : lemah, bodoh dan faqir. Manusia diberikan kemuliaan karena mamiliki ruh, keistimewaan dan ditundukkannya alam baginya. Manusia juga dibebankan Allah swt untuk beribadah dan menjalankan peranan sebagai khalifah di bumi yang mengatur alam dan seisinya. Manusia pada hakikatnya diberikan kesempatan memilih antara beriman atau kafir, tidak seperti makhluq lainnya yang hanya ada satu pilihan saja yaitu hanya berislam. Manusia bertanggung jawab atas pelaksanaan bebanan yang diberikan baginya berupa : surga bagi yang beramal islami atau neraka bagi yang tidak beramal islami. Hakikat manusia : Yang diciptakan. Dalil : berada dalam fitrah (QS. 30 : 30), bodoh (QS. 33 : 72), lemah (QS. 4 : 28) dan fakir (QS. 35 : 15). Yang dimuliakan Dalil : ditiupkan ruh (QS. 32 : 9), memiliki keistimewaan (QS. 17 : 70), ditundukkannya alam baginya (QS. 45 : 12, 2 : 29, 67 : 15). Yang menanggung beban Dalil : ibadah (QS. 51 : 56), khilafah (QS. 2 : 30, 11 : 62). Yang bebas memilih Dalil : bebas memilih iman atau kufur (QS. 90 : 10, 76 : 3, 64 : 2, 18 : 29). Yang mendapat balasan Dalil : bertanggung jawab (QS. 17 : 36, 53 : 38-41, 102 : 8), berakibat syurga (QS. 32 : 19, 2 : 25, 22 : 14) atau neraka (QS. 32 : 20, 2 : 24) Tokoh Insan Potensi manusia yang terdiri dari pendengaran, penglihatan dan hati (akal) merupakan instrumen yang diberikan oleh Allah untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankanNya. Sebab dengan semuanya itu manusia dapat memperoleh kelebihan-kelebihan sehingga dapat menjalankan amanah : beribadah dan manjalankan fungsi kekhilafahan. Dengan kekhilafahan ini, manusia mendayagunakan potensinya tersebut untuk membimbing alam. Bagi mereka yang khianat terhadap segenap potensi yang diberikanNya tersebut, ia akan mendapat kerugian dan Allah swt

memberi julukan kepada mereka : bagaikan hewan ternak, seperti anjing, seperti monyet, seperti babi, seperti kayu, seperti batu, seperti laba-laba dan seperti keledai. Potensi manusia Berdasarkan alquran, manusia memiliki potensi: pendengaran, penglihatan dan hati (akal) Masuliyah Manusia dengan segenap potensi dan kelebihan-kelebihan harus bertanggung jawab dan menyadari perannya. Tugas/amanah yang dibebankan sebagai refleksi atas potensi dan kelebihan-kelebihan yang telah diterimanya itu adalah beribadah, tetapi tidak semua manusia bersedia menerima amanah ini dan sebagian menolaknya. Dalil : dengan ketiga potensi dan kelebihan-kelebihan lainnya manusia mendapat tugas beribadah (QS. 2 : 21, 51 : 56) Khilafah Bagi yang menyadari potensi-potensi yang telah diberikan dan beribadah kepada Allah (berislam) maka status khilafah disandangnya. Khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi ia hanya bertindak selaku pemelihara alam yang Allah telah ciptakan. Maka mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan kehendak Sang Pemilik Alam dan tidak menentangNya. Dalil : - "menjadikan kewajiban, bersikap amanah, memperoleh kedudukan khilafah (QS. 24 : 55, 48 : 29) - makna khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi hanya pemelihara (QS. 35 : 13, 40 : 24-25, 53) - mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan kehendak Sang Pemilik Alam (QS. 76 : 30, 26 : 68) - tidak menentang terhadap aturanNya (QS. 100 : 6-11) Lalai Mereka yang lalai tidak menyadari potensi yang telah diberikan kepadanya dan tidak bertanggung jawab, akan mendapatkan kerugianyang amat besar, bahkan dianggap setara dengan makhluq yang lebih rendah derajatnya; tidak bernilai di sisi Allah swt. Dalil : lalai dari kewajiban, bersikap khianat berarti - bagaikan hewan ternak (QS. 7 : 179, 45 : 2, 25 : 43-44) - seperti anjing (QS. 7 : 176) - seperti monyet (QS. 5 : 60) - seperti babi (QS. 63 : 4) - seperti kayu (QS. 2 : 74) - seperti batu (QS. 29 : 41) - seperti laba-laba (QS. 62 : 5) - seperti keledai REFERENSI : Forum Kajian Tazkiyatun Nafs Universitas Indonesia http://jakarta.paramartha.org

1.4 MARIFATUL RASUL Makna Risalah dan Rasul - Risalah : Sesuatu yang diwahyukan Allah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat. - Rasul: Seorang laki-laki (21:7) yang diberi wahyu oleh Allah SWT yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia. Pentingnya iman kepada Rasul o Iman kepada para rasul adalah salah satu Rukun Iman. Seseorang tidak dianggap muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa Allah mengutus para rasul yang menginterprestasikan hakekat yang sebenarnya dari agama Islam, yaitu Tauhidullah . o Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul, dan tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya. (Al-Asyqor:56) Tugas para rasul 1. Menyampaikan (tablig) [5:67, 33:39]. Yang disampaikan berupa: Ma'rifatullah [6:102] (Mengenal hakikat Allah) Tauhidullah [21:25] [Mengesakan Allah] . Basyir wa nadzir [6:48] (Memberi kabar gembira dan peringatan) 2. Mendidik dan Membimbing [62:2] Sifat-sifat para rosul Mereka adalah manusia (17:93-94,8:110] Ma'shum [terjaga dari kesalahan] [3:161, 53:1-4] Sebagai suri teladan [33:2l, 6:89-90] REFERENSI : Kelompok Studi Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim, hal. 60-71 Al-Asyqor, Dr. Limar Sulaiman, Para Rasul dan Risalahnya, Pustaka Mantiq

1.5 MARIFATUL ISLAM Islam secara etimologis memiliki makna : menundukkan wajah (QS. 4 : 125) berserah diri (QS. 3 : 83) suci, bersih (QS. 26 : 89) selamat, sejahtera (QS. 6 : 54) perdamaian (QS 47 :35) Dengan pengertian secara etimologis ini dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki sifat yang dibawanya yaitu berserah diri dan wujud perdamaian. Manakala kalimat Islam didalam Al Quran disebut disebut sebagai diin (QS. 3 : 19, 85) yang berarti suatu manhaj. Sistem dan aturan hidup yang menyeluruh dan lengkap. Dengan demikian, kalimat Islam adalah ketundukkan, wahyu ilahi (QS. 53 :4, 21 :7), diin keselamatan dunia-akhirat. Kesimpulan dari makna-makna tersebut : Islam adalah panduan hidup yang lengkap bagi manusia, dengan berserah diri dan tunduk maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dunia dan akhirat. Akhirnya, Rasulullah bersabda bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya. Islam itu tinggi dan akan dimenangkan ke atas semua agama, kepercayaan dan ideologi (QS. 48 : 28, 9 : 33). Ringkasan dalil : Makna Etimologis Islam menundukkan wajah (QS. 4 : 125) berserah diri (QS. 3 : 83) suci, bersih (QS. 26 : 89) selamat, sejahtera (QS. 6 : 54) perdamaian (QS 47 :35) Kalimat Islam sebagai Diin (QS. 3 : 19, 85) tunduk wahyu ilahi (QS. 53 :4, 21 :7) diin para nabi dan rasul (QS. 2 : 136, 3 : 84) hukum-hukum Allah (QS. 5 : 48-50) jalan yang lurus (QS. 6 : 153) keselamatan dunia akhirat (QS. 16 : 97, 2 : 200, 28 : 77) ISLAM WA SUNNATULLAH Allah swt sebagai khaliq memiliki kewajiban dan hak mutlak untuk menentukan aturan bagi kepentingan dan kebaikan manusia serta makhluq lainnya. Aturan yang Allah tentukan berupa Islam dan mendatangkan rasul sebagi uswah dan teladan yang diperuntukkan bagi manusia. Mereka yang mengikuti aturan tersebut disebut adalah Muslim dan yang tidak mengikutinya disebut kafir. Allah swt selain menciptakan manusia juga menciptakan alam semesta dan seisinya. Ketertiban, keteraturan dan keselamatan perjalanan kehidupan alam ini berlaku dengan sunnah kauniyah yang Allah berikan kepadanya. Seluruh alam semesta tunduk, bersujud, bertahmid dan berislam kepadaNya. Alam semesta tak ada yang

kafir, mereka semuanya muslim dan berserah diri kepada Allah dengan mengikuti segala aturannya. Islam merupakan sunnatullah dan ditetapkan kepada alam dan manusia. Sunnatullah kepada alam bersifat mutlak, langgeng dan kontinyu yang merupakan taqdir kauni dalam tunduk kepada Allah. Sedangkan sunnatullah kepada manusia berupa hidayah yang Allah berikan. Hidayah inipun bergantung kepada kehendak dan ikhtiar manusia serta merupakan taqdir syari. Kemudian sikap manusia terbagi menjadi dua : menerimanya (muslim) dan menolaknya (kafir). Ringkasan Dalil : - Allah pencipta (QS. 59 : 23) yang menciptakan alam (QS. 25 : 2) dan menentukan aturan (QS. 25 : 2, 54 : 59, 15 : 20). - Seluruh alam semesta sujud, tasbih, tahmid (QS. 13 : 15, 22 : 18, 6 : 50, 59 : 1, 64 : 1, 24 : 41, 17 : 44) - Al Khaliq menurunkan taqdir syarI (QS. 6 : 153, 45 : 18). - Islam sebagai Diin (3 : 19, 85) - Rasul sebagai contoh pelaksanaan diin kepada manusia (QS. 33 : 21) SYUMULIYATUL ISLAM 1 Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat, diridhai dan sesuai dengan fithrah. Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya dan penganutnya tenang, selamat dan bahagia. Muslim menjadi selamat karena Islam diciptakan sebagai diin yang sempurna. Ketenangan yang dirasakan seorang Muslim karena Allah memberikan segenap rasa nikmat kepada penganut Islam, lalu kepada mereka yang mengamalkan Islam karena sesuai dengan fithrahnya. Ringkasan Dalil : - Diinul Kamil (QS. 3 : 5), aqidah tetap (QS. 2 : 133, 21 : 7), syariat tetap dan fleksibel (QS. 2: 286, 5 : 3). - Diinul Nimat (QS. 3 : 5), akal(QS. 31 : 20), fithrah (QS. 30 : 30), tradisi (QS. 49 : 7) sehingga Islam merupakan kebutuhan. - Diinur Ridha (QS. 3 : 5) dalam memeluk (QS. 49 : 15) dan komitmen (QS. 48 : 50) sehingga diterima Allah dengan penuh keridhaan dan diridhai (QS. 89 : 27-28). - Diinul Fithrah (QS. 30 : 30) berjalan sesuai fithrah : menjaga (QS. 24 : 30, 33 : 59), memelihara(QS. 24 : 32), mengembangkan dan mengarahkan (QS. 4 : 1-2). - Diin yang kuat dan tak terkalahkan SYUMULIYATUL ISLAM 2 Islam merupakan agama yang syumul (sempurna) berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat). Islam sebagai syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa) dibuktikan dengan ciri risalah nabi Muhammad saw sebagai kesatuan risalah dan nabi pentutup. Islam yang dibawa nabi Muhammad saw dilaksanakan sepanjang masa hingga hari kiamat.

Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendir, misalnya jihad dan dawah (sebagai penyokong Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas Islam). Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai agama. Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan. Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan kepadaNya. Ringkasan Dalil : Syumuliatul islam (QS. 2 : 208) Syumuliyatuz zamaan (QS. 2 : 208): - risalah yang satu (QS. 29 : 90, 34 : 28, 21 : 107) - penutup para nabi (QS. 33 : 42) Syumuliyatul minhaj : - asas aqidah (syahadatain dan rukun iman) - bangunan Islam : ibadah, rukun islam (sholat, shiyam, zakat haji), akhlaq - penyokong/penguat : jihad (QS. 29 : 6,69, 47 : 31)atau amar maruf nahi munkar (QS. 3 : 104, 7 : 99, 9 : 112) dan dawah (QS. 16 : 125, 41 : 33) Syumuliyatul makan (QS. 22 : 40) - kesatuan pencipta (QS. 2 : 163-164) - kesatuan alam (QS. 2 : 29, 67 : 15) SYUMULIYATUL ISLAM 3 Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang digambarkan dalam Al Quran adalah mencakup konsep keyakinan (QS. 2 : 255), moral (QS. 7 : 99), tingkah laku (QS. 2 : 138), perasaan (QS. 30 : 30), pendidikan (QS. 2 : 151, 3 :162, 62 : 2), sosial (QS. 24 : 7), politik (QS. 3 : 85-86, 12 : 40), ekonomi (QS. 9 : 60, 103, 59 : 7), militer (QS. 8 : 60, 9 : 5-8), hukum/perundang-undangan (QS. 4 : 65). Ringkasan Dalil : Islam sebagai pedoman hidup : konsep keyakinan (QS. 2 : 255) moral (QS. 7 : 99) tingkah laku (QS. 2 : 138) perasaan (QS. 30 : 30) pendidikan (QS. 2 : 151, 3 :162, 62 : 2) sosial (QS. 24 : 7) politik (QS. 3 : 85-86, 12 : 40) ekonomi (QS. 9 : 60, 103, 59 : 7) militer (QS. 8 : 60, 9 : 5-8) hukum/perundang-undangan (QS. 4 : 65)

1.6 IMAN KEPADA QADA DAN QADAR Iman Qada dan Qadar merupakan rukun iman ke Rukun iman yang keenam, atau tingkatan kepercayaan yang paling akhir ialah qadha dan qadar. Ringkasan kepercayaan ini ialah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam 22bsolute atau terjadi pada diri kita manusia sendiri, buruk dan baik, naik dan jatuh, senang dan sakit, dan segala gerak-gerik hidup kita, semuanya tidaklah lepas pada taqdir atau ketentuan Illahi. Tidak lepas dari pada qadar artinya jangka yang telah tertentu, dan qadha artinya ketentuan. Pengertian Qada dan Qadar Secara bahasa Kata Qadar berasal dari bahasa Arab, yakni al-qadr ( ) yang berarti menetapkan. Pengertian Qadar ini disamakan dengan kata al-hukm ( ) artinya; penetapan Secara Istilah Qadha adalah ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk sejak zaman azali. Qadar yaitu perwujudan qadha Tuhan bagi manusia setelah berusaha (ikhtiar), dapat juga diartikan sebagai penentuan atau pembatasan ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya di lauhil mahfudz. Beriman kepada qadar yaitu membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi baik dan buruk itu adalah atas qadha dan qadar Allah. Berikut ini merupakan ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar. a. Selalu menyadari dan menerima kenyataan. Artinya : Katakanlah: Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. Al-Ahzab : 17) b. Senantiasa bersikap sabar. Dalil : (QS. Al-Ankabut : 2) : Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tid iarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya.Perhatikan firman Allah berikut : (QS. Al-Baqarah : 155) : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya 23bsolu berita gembira kepada orangorang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses. c. Rajin dalam berusaha dan tidak mudah menyerah. Dalil : (QS an-Najm : 39-42): Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di

perlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). d. Selalu bersikap optimis, tidak pesimis. (QS. Yusuf : 87): dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. e. Senantiasa menerapkan sikap tawakal. (QS. Hud : 56): Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Hubungan Qadha dan Qadar Manusia punya rencana, tetapi Allah SWT yang menentukan. Ungkapan ini merupakan salah satu bentuk cara memahami qadha dan qadar Allah SWT. Manusia memang diberi kemampuan untuk berbuat dan berpikir, namun kedudukan Allah SWT dan kekuasaan-Nya adalah di atas segala-galanya. Ketentuan Allah SWT ini merupakan hak mutlak (23bsolute), tanpa campur tangan siapapun dan dari manapun. Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan manusia terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinankemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah SWT semata. Rasulullah saw bersabda : Artinya : Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: baginda s.a.w bersabda: Allah SWT mengutus Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Setelah beberapa waktu Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Apabila Allah SwT membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatat ketika masih di dalam kandungan ibunya. (HR Bukhari dan Muslim) Qadar adalah ketentuan-ketentuan Allah SWT yang telah berlaku bagi setiap makhluk sesuai dengan ukuran dan ketentuan yang telah dipastikan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Oleh karena itulah, baik buruknya telah direncanakan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT : Artinya : Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (QS Ar Rodu: 8) Dari pengertian hadis dan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri manusia telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qadha dan qadar biasa disebut juga dengan takdir. Jadi, beriman kepada qadha dan qadar dapat dikatakan pula dengan beriman kepada takdir. Takdir baru dapat diketahui oleh manusia dengan kenyataan atau peristiwa yang yang telah terjadi, contoh :

1. Terjadinya musibah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004 yang merenggut ratusan ribu korban meninggal dunia. Sebelum kejadian tersebut tak ada seorangpun yang mengetahuinya. 2. Dalam suatu kejadian kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada seorang bayi yang selamat. Menurut ukuran akal, si bayi adalah makhluk yang sangat lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi malah dia yang selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha menyelamatkan diri malah meninggal dunia. Contoh-contoh di atas hanyalah merupakan bagian kecil ari peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan takdir Allah SWT. Masih banyak sekali peristiwa yang bisa kita pahami sebagai perwujudan dari qadha dan qadar dari Allah SWT. Namun dari berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan tetap berlaku kepada setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman harus meyakini dengan sepenuh hati akan adanya qadha dan qadar. Firman Allah SWT : Artinya : Dan matahari berjalan di tempat peredarann ya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Yasin : 38) Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman : Artinya : Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Hadid : 22) Contoh dan Macam-macam Takdir. Meskipun segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir muallaq : 1) Takdir Mubram Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa dari manusia. Contoh takdir mubram antara lain : Waktu ajal seseorang tiba, Usia seseorang, Jenis kelamin seseorang, Warna darah yang merah, Bumi mengelilingi matahari, Bulan mengelilingi bumi 2) Takdir Muallaq Dalam Bahasa Arab, muallaq artinya sesuatu yang digantungkan. Jadi, takdir muallaq berarti ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Dan hasilnya aakhirnya tentu saja menurut kehendak dan ijin dari Allah SWT. Allah SWT. Berfirman : Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Rad : 11) REFERENSI 1. Al Aqa`id Al Islamiyah karangan Sayyid Sabiq

BAB 2 FIQIH
2.1 FIQIH SHALAT Hukum shalat Secara bahasa shalat adalah doa. Sholat adalah kewajiban dari Allah kepada setiap orang mukmin yang sudah baligh, sebab Allah azza wa jalla memerintahkannya dengan banyak sekali firmanNya. Syarat wajib shalat, 1. Islam. 2. Berakal. 3. Baligh. 4. Sampai ajakan shalat kepadanya, artinya telah sampai kepadanya perintah Nabi untuk mengerjakan shalat. 5. Tidak sedang haidh dan nifas. 6. Panca inderanya normal. Syarat sahnya shalat Syarat-syarat yang menjadikan shalat tidak sah apabila meninggalkannya kecuali ada udzur syari, meliputi: 1. Mengetahui masuknya waktu shalat. (QS An Nisa103) 2. Suci dari hadast besar dan kecil. (QS Al Maidah6) 3. Suci badan, pakaian, dan tempat yang dipakai untuk shalat. (QS. Al Muddatstir4) 4. Menutup aurat.(QS Al Araf31) 5. Menghadap kiblat. Oleh karena itu, tidak sah shalat tanpa menghadap kiblat kecuali dalam 4 keadaan: Shalat di atas kendaraan dan sejenisnya Shalat yang dilakukan di bawah paksaan, seperti jika shalat dalam keadaan terikat dan lainnya Shalat orang sakit ketika tidak ada orang yang menghadapkannya ke arah kiblat Peperangan (keadaan mendesak) 6. Niat Rukun-rukun Shalat Rukun-rukun shalat, merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan berurutan ketika shalat, jika tidak maka perbuatan tersebut tidak diterima oleh syariat sebagai shalat. Rukun shalat meliputi: 1. Niat. 2. Takbiiratul ihram. (QS. Al Ala:15) 3. Berdiri jika mampu. (QS. Al Baqarah238) 4. Membaca Al Fatihah pada setiap rakaat. 5. Ruku. 6. Bangkit dari ruku dan itidal dalam keadaan berdiri dengan cara thumaniinah. 7. Sujud. 8. Duduk antara dua sujud dan thumaniinah di dalamnya.

9. Duduk terakhir seukuran tasyahhud. 10. Tasyahud akhir. 11. Bershalawat kepada Nabi. 12. Salam. 13. Tertib. Hal-hal yang membatalkan Sholat Selain berbicara, bergerak yang bukan gerakan sholat, makan, buang angin, sholat akan batal dengan sendirinya apabila pada waktu sholat ada perempuan haidh lewat di depan kita, keledai, dan anjing hitam bila di hadapannya tidak diletakkan sejenis pelana sebagai pembatas. Rasulullah bersabda: Shalat seseorang menjadi putus apabila dilewati perempuan (haidh), keledai, dan anjing hitam bila didepannya tidak diletakkan pembatas sejenis pelana.Kata Abu Dzar:Saya bertanya: Wahai Rasulullah, apa bedanya anjing hitam dengan anjing warna lain?Sabdanya:Anjing hitam adalah setan. HR. Muslim,Abu Dawud,dan Ibnu Khuzaimah. Shalat Dalam Berbagai Kondisi 1. Shalat bagi musafir Bagi seseorang yang sedang melakukan perjalanan panjang, maka diperbolehkan meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Hukumnya mengqashar shalat bagi seorang musafir adalah sunnah. Firman Allah dalam surat An Nisa ayat 101. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men qasharsembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. Berdasarkan firman Allah di atas terdapat syarat ketakutan, akan tetapi takut itu sendiri bukan merupakan syarat mutlak bagi orang yang mengqashar shalat. Sebagaimana tertera dalam riwayat: Dari Yala bin Umayyah, dia berkata:Aku pernah bertanya kepada Umar apakah kita tidak boleh mengqashar shalat ketika (dalam perjalanan) kita merasa aman? Dia menjawab: Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah, maka beliau menjawab:Benar, hal itu adalah anugerah dari Allah, maka terimalah anugerah itu. Syarat sahnya meringkas shalat, antara lain: a) Jarak tempuhnya harus lebih dari 16 farsakh sekali jalan. 1 farsyakh = 3 mil = 80,540 km b) Perjalanannya memang diniatkan. Syarat niat bagi musafir ada dua, yaitu: * Berniat sejak awal untuk menempuh perjalanan dengan sempurna. * Mempunyai hak untuk menentukan niatnya sendiri, artinya perjalanan tersebut dilakukan bukan hanya sekedar mengikuti seseorang saja tetapi si musafir memang mempunyai niatan untuk mengadakan perjalanan tersebut. c) Perjalanannya adalah perjalanan yang diperbolehkan. d) Melewati batas kota.

e) Shalatnya tidak bermakmum pada orang yang tinggal tetap di wilayah tersebut atau pada musafir yang mengerjakan shalat dengan sempurna. f) Dalam setiap shalatnya meniatkan untuk mengqashar shalat. 2. Shalat di atas kendaraan Shalat boleh dikerjakan di atas kendaraan dengan menghadap ke arah dimana kendaraan tersebut menghadap.Jika tidak memungkinkan baginya melakukan gerakan ruku dan sujud, maka shalat bisa dilakukan dengan isyarat. 3. Menjama shalat Seseorang diperbolehkan menjama atau menggabung shalat antara zhuhur, ashar, maghrib, maupun isya, baik jama taqdim (menggabungkan dua shalat dan mengerjakannya pada waktu shalat yang awal) maupun takhir (mengerjakannya pada waktu shalat yang terakhir).Adapun shalat subuh, maka wajib dikerjakan pada waktunya. Diperbolehkan menjama shalat apabila berada pada keadaan berikut ini: Menjamanya ketika sedang berada di Arafah dan Mudzdalifah dengan jama taqdim Menjamanya ketika dalam perjalanan, dengan syarat: o Perjalanannya adalah perjalanan yang memenuhi syarat untuk diperbolehkan mengqashar shalat. o Keduanya dikerjakan berturut-turut. Tertib diantara dua shalat, yaitu memulai dengan shalat yang awal terlebih dahulu sebelum melanjutkan kepada shalat yang berikutnya. Niat menjama shalat pada shalat yang pertama. Perjalanannya terus-menerus. Menjama shalat ketika sedang hujan deras, turun salju, dan cuaca sangat dingin. Menjama karena sedang sakit atau udzur. REFERENSI : Abu Bakar Jabir Al Jazairi .2003, Ensiklopedi Muslim; Minhajul Muslim hal 259290, Jakarta : Darul Falah H. Sulaiman Rasjid, Fikih Islam, Bandung: Sinar Baru Algensido Taqrib Dalil Fiqh Sunnah Jilid 1 Bab Sholat, Sayyid Sabiq

2.2 Thaharah Pengertian thaharah Thaharah secara bahasa berarti bersih dan membebaskan diri dari kotoran dan najis. Sedangkan pengertian thaharah secara istilah (syara) adalah menghilangkan hukum hadats untuk menunaikan shalat atau (ibadah) yang selainnya yang disyaratkan di dalamnya untuk bersuci dengan air atau pengganti air, yaitu tayammum. Jadi, pengertian thaharah atau bersuci adalah mengangkat kotoran dan najis yang dapat mencegah sahnya shalat, baik najis atau kotoran yang menempel di badan, maupun yang ada pada pakaian, atau tempat ibadah seorang muslim. Thaharah itu terbagi menjadi dua : 1. Thaharah manawiyah atau thaharah qalbu (hati), yaitu bersuci dari syirik dan maksiat dengan cara bertauhid dan beramal sholeh, dan thaharah ini lebih penting dan lebih utama daripada thaharah badan. Karena thaharah badan tidak mungkin akan terlaksana apabila terdapat syirik. Dalilnya adalah sebagai berikut : Dalil : (QS. At-Taubah : 28) (QS. Al-Maaidah: 41) 2. Thaharah hissiyah atau thaharah badan, yaitu mensucikan diri dari hadats dan najis, dan ini adalah bagian dari iman yang kedua. Allah mensyariatkan thaharah badan ini dengan wudhu dan mandi, atau pengganti keduanya yaitu tayammum (bersuci dengan debu). Penghilangan najis dan kotoran ini meliputi pembersihan pakaian, badan, dan juga tempat shalat. Dalilnya adalah : Sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari iman Sedangkan menurut Imam Ibnu Rusyd, thaharah itu terbagi menjadi dua, yaitu : * Thaharah dari hadats, yaitu membersihkan diri dari hadats kecil (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan- wudhu) dan dari hadats besar (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan mandi). * Thaharah dari khubts atau najis, yaitu membersihkan diri, pakaian, dan tempat ibadah dari sesuatu yang najis dengan air. Urgensi Kebersihan dan Perhatian Islam Atasnya 1. Islam Adalah Agama Kebersihan Perhatian Islam atas dua jenis kesucian itu hakiki dan maknawi- merupakan bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kesucian dan kebersihan 2. Islam Memperhatian Pencegahan Penyakit Termasuk juga bentuk perhatian serius atas masalah kesehatan baik yang bersifat umum atau khusus. Serta pembentukan pisik dengan bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. Perhatian ini juga merupakan isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit, kemalasan dan keengganan. Sebab wudhu' dan mandi itu secara pisik terbukti bisa menyegarkan tubuh, mengembalikan fitalitas dan membersihkan diri dari segala kuman penyakit yang setiap saat bisa menyerang tubuh. Secara ilmu kedokteran modern terbukti bahwa upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan menjaga kebersihan. Dan seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati. 3. Orang Yang Menjaga Kebersihan Dipuji Allah

Dalil : (QS. Al-Baqarah : 222), (QS. An-Taubah : 108) Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada jamaah dari shahabatnya : Kalian akan mendatangi saudaramu, maka perbaguslah kedatanganmu dan perbaguslah penampilanmu.Sehingga sosokmu bisa seperti tahilalat di tengah manusia (menjadi pemanis). Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji. (HR. Ahmad) 4. Kesucian Itu Sebagian Dari Iman Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa urusan kesucian itu sangat terkait dengan nilai dan derajat keimanan seseorang. Bila urusan kesucian ini bagus, maka imannya pun bagus. Dan sebaliknya, bila masalah kesucian ini tidak diperhatikan, maka kualitas imannya sangat dipertaruhkan. 5. Kesucian Adalah Syarat Ibadah Rasulullah SAW bersabda : Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kunci shalat itu adalah kesucian, yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam`.(HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah). Air dan pembagiannya Air tersebut diatas itu dapat terbagi menjadi 4 (empat) : 1. Air suci dan mensucikan, artinya dapat sah dapat digunakan untuk bersuci dan tidak makruh, air semacam itu ialah air mutlak (muthlag). Artinya : Air yang sewajarnya, bukan air yang telah bersyarat. air kelapa dan air kopi bukan air mutlak lagi, karena telah bersyarat, keduanya itu suci dan dapat diminum, tetapi tidak dapat sah dipergunakan untuk bersuci seumpama berwudlu atau mandi. Contoh air mutlak adalah air hujan, salju, embun, air laut, air sumur mata air, air sungai 2. Air yang suci tetapi tidak dapat dipergunakan untuk bersuci seumpama wudlu, mandi dan menghilangkan najis. Air yang semacam itu : Air sedikit yang sudah bekas dipakai (musta'mal) dari berwudlu atau mandi Air yang bercampur dengan campuran air suci, umpamanya air kopi, air teh dan sebagainya. 3. Air yang suci dan dapat mensucikan, tetapi makruh memakainya, yaitu air yang terjemur(musyammas). 4. Air bernajis (mutannajis) Air yang bernajis itu ada 2 (dua) macam : Jika air itu sedikit, kemudian kemasukan najis, maka ia tidak sah dipakai untuk bersuci, dan ia tetap najis hukumnya, baik berubah sifatnya atau tidak. jika air itu banyak, (artinya lebih dari 216 liter) maka apabila kemasukan najis yang terlalu sedikit yang tidak merubah sifatnya, maka hukumnya tetap suci.

2.3 Marhaban yaa Ramadahan Pengertian Shiyam Pengertian Secara Bahasa : (Menahan) Pengertian Secara Istilah /Syar'I Ibadah kepada Allah dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dimulai sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Ket: Terbit fajar (fajar shodiq) adalah mulai masuknya waktu shubuh - Terbenam matahari adalah pertanda masuknya waktu shalat maghrib. Hukum Melakukan Shiyam Ramadhan Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan sangat jelas di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Hukumnya wajib bagi muslim yang telah baligh, berakal, muqim, dan mampu berpuasa (tidak ada penghalang syar'i seperti sakit dsb). Shiyam Ramadhan Diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah. Allah Ta'ala Berfirman (artinya): "Wahai orang-orang beriman, kuwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah kuwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa" (Qs.Al-Baqarah:183) Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khathab berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda: Islam dibangun diatas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada i lah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah dan shaum ramadhan.(Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 8) dan muslim (no.16)) Adapun orang yang meninggalkan shiyam Ramadhan tanpa udzur syar'I maka dia telah melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian mengatakan kafirnya orang yang meninggalkan shiyam Ramadhan tanpa udzur dan sebagian berpendapat tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pendapat kedua ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Fadhilah Shiyam Ramadhan Bulan penuh Rahmat dan ampunan dimana Allah Ta'ala mengampuni dosa-dosa yang telah lewat. Dibuka pintu surga-ditutup pintu neraka dan syetan-syetan dibelenggu. Terdapat malam lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan. Disediakan "Bab Ar-Royyan" yaitu pintu surga bagi ahlus Shiyam ,dsb. Kapan dimulainya shiyam Ramadhan? Diriwayatkan dari Ibnu Umar berkata: "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Jika kalian telah melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal) maka berlebaranlah. Namun apabila cuaca mendung maka genapkanlah harinya (30 hari)."(Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim tercantum: "Jika cuaca mendung maka Sempurnakanlah hingga hari ke tiga puluh." Fikih Shiyam

Riwayat Al-Bukhari tertera: "Genapkan menjadi tiga puluh hari." Dan masih riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah : "Genapkan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari." Permulaan Ramadhan dimulai dengan: a. Terlihatnya Hilal b. Jika hilal tidak terlihat maka dengan menggenapkan Sya'ban 30 hari. Rukun Shiyam 1. Niat(pada malam hari/ sebelum masuk waktu shubuh) Diriwayatkan dari Hafshah Ummul Mukminin xbahwa Nabi n bersabda: "Barangsiapa tidak memasang niat pada malam hari sebelum terbit fajar maka puasanya tidak sah.".(Hadits diriwayatkan oleh imam yang lima. Namun At-Tirmidzi dan An-Nasa'i lebih merajihkan bahwa hadits ini mauquf. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbaan merajihkan sebagai hadits marfu'). Dalam riwayat Ad-Daaruquthni tercantum: "Tidak sah puasa orang yang tidak meniatkannya sejak malam hari." "Barangsiapa yang tidak mengutkan (niat) sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya" (Shahih abu Dawud: 2454) Adapun shiyam sunnah dibolehkan untuk berniat di siang harisebagaimana yang disebutkan dalah hadits-hadits yang menerangkan masalah ini. Adapun tatacara niat yang benar adalah bahwasannya niat itu di dalam hati, boleh menggunakan bahasa apapun dan tidak ada lafadz khusus dalam masalah niat, yang penting seseorang meniatkan dalam hatinya bahwa besok dia akan berpuasa karena Allah Ta'ala. Ket: Sebagian ulama membolehkan niat sekali di awalbulan Ramadhan cukup dengan syarat tidak memutuskan niat tersebut. 2. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. (lihat Qs Al baqarah: 187). Pembatal Shiyam: Pembatal yang disepakati para ulama: a) Makan dan Minum dengan sengaja (lihat Qs. AlBaqarah: 187) b) 2-Segala yang bermakna makan atau minum(seperti infus) c) 3-Berhubungan suami istri(Berjima') d) 4-Mengeluarkan mani dengan sengaja dan dalam keadaan sadar(bercumbu, bersentuhan, onani, dsb) e) 5-Haid dan Nifas bagi wanita. f) Aisyah r.a berkata: "Dahulu salah seorang wanita kami haid di masa Rasulullah , maka kami disuruh untuk mengqodho puasa dan tidak disuruh mengqodho sholat" g) Pembatal yang diperselisihkan h) 6-Muntah dengan sengaja REFERENSI : Panduan Menuju Kemenangan Bulan Ramadhan

2.4 ZAKAT Zakat adalah bagian tertentu dari kekayaah yang Allah perintahkan untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak (mustahiq). Disebut pula shadaqah seperti dalam firman Allah : QS. 9/At Taubah: 60, yang dimaksudkan shadaqah dalam ayat itu adalah zakat wajib, bukan shadaqah sunnah. Al Mawardi berkata: Shadaqah adalah zakat, dan zakat adalah shadaqah, beda nama tapi satu makana. Kewajiban zakat menjadi kewajiban utuh di Madinah, ditentukan nishabnya, ukurannya, jenis kekayaannya, dan distribusinya, serta Negara telah mengatur dan menatanya, dengan mengirimkan para petugas pemungut dan pendistribusiannya. Perlu ditegaskan bahwa prinsip zakat sudah diwajibkan sejak fase Makkah, dengan banyaknya ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat orang beriman dan menyertakan MEMBAYAR ZAKAT di antara sifat-sifatnya. Seperti yang yang menjadi dalil kewajiban zakat tanaman, yaitu firman Allah: .makanlah dari buahnya ketika berbuah, dan berikan haknya pada hari panennya, dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan. QS. 6/Al Anam:141. Ayat ini adalah ayat Makkiyah Antara Zakat dan Riba Kewajiban zakat sudah ditetapkan sejak fase Makkiyah, kemudian dikukuhkan dengan aturan praktisnya di Madinah. Demikian juga hokum riba telah ditetapkan sejak di Makkah kemudian secara praktis di tetapkan di Madinah, firman Allah: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).QS 30/Ar Rum Dari ayat di atas jelaslah bahwa riba yang secara zahir adalah penambahan harta, sesungguhnya ia adalah pengurangan menurut Allah. Sedangkan zakat yang secara zahir pengurangan harta pada hakekatnya adalah penambahan di sisi Allah. Hukum Zakat Zakat adalah kewajiban: satu dari rukun Islam yang lima, seperti dalam hadits Rasulullah saw: Islam didirikan di atas lima hal yaitu: bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke Baitullah jika mampu Muttafaq alaih. Dalam hadits Ibnu Abbas diterangkan bahwa Rasulullah saw ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman berpesan kepadanya: Sesungguhnya kamu akan menemui kaum ahli kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwasannya tiada Tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya Aku utusan Allah. Jika mereka sudah menerima hal ini, maka ajarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lila waktu sehari semalam. Jika mereka menerimanya maka ajarkan kepada mereka bahwasannya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat hartanya, diambil dari yang lebih kaya dan dibagikan kepada yang fakir di antaranya. Jika mereka menerima hal inim maka hati-hati dengan harta merek yang bagus. Dan waspadailah doanya orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada sekat antara dia dengan Allah. Hadits riwayat Al Jamaah.

Motifasi Zakat Allah swt mendorong kaum muslimin untuk membayar zakat dengan menjelaskan manfaat zakat bagi kebersihan jiwanya. Firman Allah: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, .QS. 9:103 Membayar zakat adalah salah satu sifat orang bertaqwa. Firman Allah: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian. QS. 51/Adz Dzariyat:19 Rasulullah saw bersabda: Ada tiga hal yang aku bersumpah maka hafalkanlah: 1. Tidak akan berkrang harta karena bersedekah, 2. Tidak ada seorang hambapun yang dizahlimi kemudian ia bersabar, pasti Allah akan menambahkan kemuliaan, 3. Tidak ada seorang hambapun yang membuka pintu meminta-minat kecuali Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran. HR At Tirmidziy. Ancaman Menolak Zakat Allah swt memperingatkan orang yang menolak membayar zakat dengan berfirman: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.QS. 9: 34-35 Rasulullah saw bersabda: Tidak seorangpun yang memiliki simpanan, kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, pasti akan dipanaskan simpanannya itu di atas jahannam, dijadikan caiaran panas yang diguyurkan di lambung dan dahinya, sehingga Allah berikan keputusan di antara para hamba-Nya di hari yang lama seharinya sekitar lima puluh ribu tahun, sampai diketahui ke mana perjalanannya, ke 38atak atau neraka. HR Asy Syaikhani Menolak zakat hukumnya Kafir Para ulama bersepakat bahwa orang yang menolak/mengingkari kewajiban zakat adalah kafir, dan keluar dari Islam. Imam An Nawawi berkata tentang seorang muslim yang mengetahui kewajiban zakat kemudian mengingkarinya, maka dengan pengingkarannya itu ia menjadi kafir, berlaku atasnya hokum orang murtad, berupa diusuruh taubat dan diperangi. Karena kewajiban zakat adalah sesuatu yang secara aksiomatik diketahui kewajibannya dalam agama. Orang yang mengingkari zakat dipandang sangat hina. Bahkan dikatakan: Sudah tidak zamannya lagi ada orang yang menolak zakat. Hukuman orang yang menolak zakat Orang yang menolak membayar zakat diganjar dengan tiga jenis hukuman, yaitu: * Hukuman akhirat, seperti yang disebutkan dalam hadits terdahulu. * Hukuman duniawi yang telah Allah tetapkan, seperti dalam hadits Nabi: Tidak ada suatu kaum yang menolaj zakat, pasti Allah akan uji mereka dengan paceklik (kelaparan dan kekeringan). HR Al Hakim, Al Baihaqi, dan At Thabraniy. Dalam hadits

yang lain: dan mereka tidak menolak zakat hartanya kecuali para malaikat akan mencegah hujan dari langit, dan jika tidak karena hewan ternak mereka tidak akan diberi hujan. HR Al Hakim dan mensahihkannya, Ibnu Majah, Al Bazzar dan Al Baihaqi * Hukuman duniawi yang diberikan oleh pemerintahan muslim. Rasulullah saw bersabda tentang zakat: Barang siapa yang memberikannya untuk memperoleh pahala dari Allah, maka ia akan memperoleh pahala. Dan barang siapa yang menolaknya maka kami akan mengambil separo hartanya, dengan kesungguhan sebagaimana kesungguhan Rabb kami. Tidak halal bagi keluarga Muhammad sedikitpun darinya. HR Ahmad, An Nasaiy, Abu Daud dan Al Baihaqi Sedangkan jika penolakan dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin, maka Islam wajib memeranginya, dan mengambil zakatnya dengan paksa. Inilah yang dilakukan Abu Bakar ra, ketika ada kabbilah-kabilah yang menolak membayar zakat. Kata Abu Bakar: Demi Allah, aku akan memerangi orang yang membedakan antara shalat adan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak harta kekayaan. Demi Allah jika mereka menolak memberikan seekor hewan kepadaku, yang pernah mereka berikan kepada Rasulullah saw pasti akan aku perangi karena penolakannya itu. HR. AL Jamaah kecuali Ibnu Majah. TUJUAN DAN PENGARUH ZAKAT Pertama kali ia merupakan ibadah seorang muslim yang dilakukan untuk menggapai ridha Allah, dengan niat yang ikhlas agar diterima. Dengan itu maka terealisirlah tujuan utama keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu; beribadah kepada Allah. Firman: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. QS. 51/Adz Dzariyat: 56. Dan akan terelisir pula tujuan-tujuan berikutnya, yaitu: Berkaitan dengan Muzakki Zakat membersihkan muzakki dari penyakit pelit, dan membebaskannya dari penyembahan harta. Keduanya adalah penyakit jiwa yang sangat berbahaya, yang membuat manusia jatuh dan celaka. Dari itulah Allah berfirman: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS. 59/Al Hasyr: 9. Rasulullah saw bersabda: Celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian dagangan HR Al Bukhariy Zakat adalah latihan berinfaq fi sabilillah. Dan Allah swt menyebutkan infaq fi sabilillah sebagai sefai wajib orang muttaqin dalam lapang maupun sempit. Dan menyertakannya sebagai sifat terpenting. Menyertakannya dengan iman kepada yang ghaib, istighfar di waktu fajar, sabar, benar, taat. Seseorang tidak akan pernah berinfak secara luas di jalan Allah kecuali setelah terbiasa membayar zakat, yang merupakan batas wajib minimal yang harus diinfakkan. Zakat adalah aktualisasi mensyukuri nikmat Allah, terapi hati dan membersihkannya dari cinta dunia. Firman Allah: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, . QS. 9:103 sebagaimana zakat membersihkan dan memperbanyak harta itu sendiri. Firman Allah: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan 39atakan Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. QS. Saba: 39

Berkaitan dengan Penerima Zakat akan membebaskan penerimanya dari tekanan kebutuhan, baik materi seperti makan, pakaian, dan papan, ataua kebutuhan psikis seperti pernikahan, atau kebutuhan manawiyah fikriyah seperti buku-buku ilmiah. Karena zakat didistribusikan dalam semua kebutuhan di atas. Dengan itu maka seorang fakir akan dapat mengikuti kewajiban sosialnya, ia akan merasa sebagai anggota masyarakat yang utuh, karena tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk berusaha memperoleh sesuap makanan penyambung hidup. Zakat membersihkan jiwa penerimanya dari penyakit hasad (iri) dan benci. Karena orang miskin yang sangat membutuhkan itu ketika melihat orang di sekitarnya hidup dengan mewah dan berlebih, tetapi tidak mengulurkan bantuannya akan membuatnya sakit hati (iri, dendam dan benci) kepada orang kaya dan bahkan kepada masyarakat pada umumnya. Hal ini akan memutuskan tali persaudaraan, dan menghilangkan rasa cinta, serta mencabik-cabik kesatuan social. Sesungguhnya iri dan benci adalah penyakit yang melukai jiwa dan fisik, dan menyebabkan banyak penyakit seperti infeksi usus besar, dan tekanan darah. Sebagaimana penyakit ini akn menggerogoti eksistensi masyarakat secara keseluruhan. Dari itulah Rasulullah saw memperingatkan dengan sabdanya: Telah menjalar di tengah -tengah kalian penyakit umat sebelum kalian, yaitu: iri dan benci. Kebencian adalah pisau penyukur, aku tidak mengatakan penyukur rambut, tetapi pencukur agama. HR. Al Bazzar dengan sanad jayyid dan Al Baihaqi. Pengaruh zakat bagi Masyarakat Di antara kelebihan zakat dalam Islam adalah ibadah fardiyah (individual) dan tatanan social sekaligus. Sebagai sebuah system ia membutuhkan karyawan yang mengambilnya dari para aghniya dan membagikannya kepada yang berhak. Mereka ini akan bekerja dan memperoleh imbalan dari pekerjaannya. Zakat sebagai sebuah tatanan social dalam Islam memiliki manfaat yang banyak sekali, secara ringkas dapat di jelaskan berikut ini: o Zakat adalah hukum pertama yang menjamin hak sasial secara utuh dan menyeluruh. Imam Az Zuhriy menulis tentang zakat kepada Umar bin Abdul Aziz: Bahwa di sana terdapat bagian bagi orang-orang yang terkena bencana, sakit, orangorang miskin yang tidak mampu berusaha di muka bumi, orang-orang miskin yang meminta-minta, bagi muslim yang dipenjara sedang mereka tidak punya keluarga, bagian bagi orang miskin yang datang ke masjid tidak memiliki gaji dan pendapatan, tidak meminta-minta, ada bagian bagi orang yang mengalami kefakiran dan berhutang, bagian untuk para musafir yang tidak memiliki tempat menginap dan keluarga yang menampungny o Zakat berperan penting dalam menggerakkan ekonomi. Karena seorang muslim yang menyimpan harta ia berkewajiban mengeluarkan zakatnya minimal 2,5% setiap tahun, yang mendorongnya untuk bersemangat mengusahakannya agar zakat itu bisa dikeluarkan dari labanya. Inilah yang membuat uang itu keluar dari simpanan dan berpuatar dalam sector riil. Ekonomi bergerak dan masyarakat akan memperoleh keuntangan dari putaran itu.

o Zakat memperkecil kesenjangan. Islam mengakui adanya perbedaan rizki, sebagai akibat dari perbedaan kemampuan, keahlian, dan potensi. Pada saat bersamaan Islam menolak klas social yang berjauhan, satu sisi hidup penuh kenikmatan dan sisi lain dalam kemelaratan. Islam menghendaki orang-orang miskin juga berkesempatan menikmati kesenangannya orang kaya, memberinya apa yang dapat menutup hajatnya. Dan zakat adalah satu dari banyak sarana yang dipergunakan Islam untuk menggapai tujuan di atas. o Zakat berperan besar dalam menghapus peminta-minta, dan mendoroang perbaikan antara 41ataka. Maka ketika untuk membangun hubungan baik itu memerlukan dana, maka zakat dapat menjadi salah satu sumbernya. o Zakat dapat menjadi alternative asuransi, yang sedikit mengambil dari orang kaya kemudian memberikan lebih banyak lagi kepada orang kaya itu. Sedang zakat mengambil dari orang kaya untuk diberikan kepada fuqara yang terkena musibah. o Zakat memberanikan para pemuda untuk menikah, lewat bantuan biaya pernikahannya. Para ulama menetapkan bahwa orang yang tidak mampu menikah karena kemiskinannya diberikan dari zakat yang membuatnya berani menikah. Syarat Wajib Zakat A. Pada Orang , yaitu syarat Islam 1. Para ulama telah bersepakat tentang kewajiban zakat itu atas setiap muslim yang sudah baligh dan berakal. Ia tidak wajib atas non muslim, karena zakat merupakan salah satu rukun Islam, juga berdasar pada pesan kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman: beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari para para aghniyanya dan dibagikan kepada para fuqaranya Muttafaq alaih. Artinya zakat adalah kewajiban yang tidak diwajibkan kepada seseorang sebelum masuk Islam. Meskipun zakat itu adalah kewajiban social yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat, tetap saja ia merupkan ibadah dalam Islam, dan makna ibadah inilah yang lebih dominann, sehingga tidak diwajibkan atas non muslim. 2. para ulama telah pula bersepakat bahwa zakat diwajibkan pula pada harta orang kaya, orang gila yang muslim. Walinya yang mengeluarkan zakat itu. Hal ini berdasar kepada: ayat Al Quran dan hadits Nabi yang memerintahkan zakat mencakup seluruh orang kaya, tanpa mengecualikan anak-anak dan orang gila. 3. Hadits Rasulullah : Dagangkanlah harta anak yatim, sehingga hartanya tidak dimakan zakat. Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur, yang saling menguatkan. 4. Mayoritas para sahabat berpendapat demikian, di antaranya Umar dan anaknya (Abdullah ibnu Umar) Ali, Aisyah, dan Jabir ra. 5. Zakat adalah haqqul mal, seperti kata Abu Bakar ra dalam penegasannya memerangi orang murtad. Dan haqqul mal diambil dari anak kecil dan orang gila. Karena zakat berkaitan dengan harta bukan dengan personalnya. 6. Demikianlah madzhab SyafiI, Malikiy dan Hanbali. B. Pada Harta Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, adalah harta yang telah memenuhi beberapa syarat berikut ini, yaitu: 1. Kepemilikan Penuh.

Yaitu penguasaan seseorang terhadap harta kekayaan, sehingga bisa menggunakannya secara khusus. Karena Allah swt mewajibkan zakat, ketika harta itu sudah dinisbatkan kepada pemiliknya, yaitu firman Allah: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, .QS. 9:103 Dari itulah zakat tidak diambil dari harta yang tidak ada pemiliknya. Seperti al faI (harta yang diperoleh tanpa perang), ghanimah, asset Negara, dan kepemilikan umum, waqaf khairiy, sedang waqaf pada orang tertentu maka tetap wajib zakat, menurut pendapat yang 42atak (kuat) . Tidak wajib zakat pada harta haram, yaitu harta yang diperoleh manusia dengan cara haram, seperti ghasab (ambil alih semena-mena), mencuri, pemalsuan, suap, riba, ihtikar (menimbun untuk memainkan harga), menipu. Cara-cara ini tidak membuat seseorang menjadi pemilik harta. Ia wajib mengembalikan kepada pemiliknya yang sah. Jika tidak ditemukan pemiliknya maka ia wajib bersedekah dengan keseluruhannya. Sedangkan hutang, yang masih ada harapan kembali, maka pemilik harta harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun. Namun jika tidak ada harapan kembali, maka pemilik hanya berkewajiban zakat pada saat hutang itu dikembalikan dan hanya zakt untuk satu tahun (inilah madzhab Al Hasan Al Bashriy dan Umar bin Abdul Aziz) atau dari tahun-tahun sebelumnya (madzhab Ali dan Ibnu Abbas). 2. Berkembang. Artinya harta yang wajib dikeluarkan zakatnya harus harta yang berkembang aktif, atau siap berkembang, yaitu harta yang lazimnya 42atak keuntungan kepada pemilik. Rasulullah saw bersabda: Seorang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat dari kuda dan budaknya. HR Muslim. Dari hadits ini beberapa ulama berpendapat bahwa rumah tempat tinggal dan perabotannya, serta kendaraan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Karena harta itu disiapkan untuk kepentingan konsumsi pribadi, bukan untuk dikembangkan. Dari ini pula rumah yang disewakan dikenakan zakat, karena dikategorikan sebagai harta berkembang, jika telah memenuhi syarta-syarat lainnya. 3. Mencapai nishab, yaitu batas minimal yang jika harta sudah melebihi batas itu ia wajib zakat, jika kurang dari itu tidak wajib zakat. Jika seseorang memiliki kurang dari lima ekor onta atau kurang dari empat puluh ekor kambing, atau kurang dari duaratus dirham perak, maka ia tidak wajib zakat. Syarat mencapai nishab adalah syarat yang disepakati oleh jumhurul ulama. Hikmahnya adalah bahwa orang yang memiliki kurang dari nishab ia tidak termasuk oran kaya, sedang zakat hanya diwajibkan atas orang kaya, untuk menyenangkan orang miskin. Hadits Nabi: Tidak wajib zakat, kecuali dari orang kaya HR. AL Bukhariy, dan Ahmad Nishab itu sudah lebih dari kebutuhan dasar pemiliknya sehingga ia terbukti kaya. Kebutuhan minimal itu ialah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi ia akan mati. Seperti makan, minum, pakaian, tempat tingal, alat kerja, alat perang dan bayar hutang. Jika ia memiliki harta dan dibutuhkan untuk keperluan ini, maka ia tidak zakat. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah: `at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. QS. 2/Al Baqarah: 219, al afwu adalah yang lebih dari kebutuhan keluarga, seperti yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir.

Demikian juga yang Rasulullah 43atakana: Tidak wajib zakat, kecuali dari orang kaya HR. AL Bukhariy, dan Ahmad. Kebutuhan dasara itu mencakup kebutuhan pribadi dan yang menjadi tanggung jwabnya seperti: isteri, anak, orang tua, kerabat yang dibiayai. Pemilik lebih dari nishab itu tidak berhutang yang menggugurkan atau mengurangi nishabnya. Karena membayr hutang lebih didahulukan waktunya daripada hak orang miskin, juga karena kepemilikan orang berhutang itu lemah dan kurang. Orang yang berhutang adalah orang yang diperbolehkan meneriman zakat, termasuk dalam kelompok gharimin, dan zakat hanya wajib atas orang kaya. Hutang dapat menggugurkan atau mengurangi kewajiban zakat berlaku pada harta yang zhahir, seperti hewan ternak, dan tanaman pangan, juga pada harta yang tak terlihat seperti uang. Syarat hutang yang menggugurkan atau mengurangi zakat itu adalah a) hutang yang menghabiskan atau mengurangi nishab dan tidak ada yang dapat dugunakan membayarnya kecuali harta nishab itu. b) hutang yang tidak bisa ditunda lagi, sebab jika hutang yang masih bisa ditunda tidak menghalangi kewajiban zakat. c) Syarat terakhir, hutang itu merupakan hutang adamiy (antar manusia) sebab hutang dengan Allah seperti nadzar, kifarat tidak menghalangi kewajiban zakat. Telah melewati masa satu tahun. Harta yang sudah mencapai satu nishab pada pemiliknya itu telah melewati masa satu tahun qamariyah penuh. Syarat ini disepakati untuk harta seperti hewan ternak, uang, perdagangan. Sedangkan pertanian, buahbuahan, madu, tambang, dan penemuan purbakala maka tidak berlaku syarat satu tahun ini. Harta ini wajib dikeluarkan zakatnya begitu mendapatkannya. Dalil waktu satu tahun untuk ternak, uang dan perdagangan adalah amal khulafaurrasyidin yang empat, dan penerimaan para sahabat, juga hadits Ibnu Umar dari Nabi: Tidak wajib zakat pada harta sehingga ia telah melewati masa satu tahun. HR Ad Daru Quthniy dan Al Baihaqiy. REFERENSI : 1. Fiqh sunnah karya Sayyid Sabiq 2. Al-Fiqh Al-Muyassar karya Ahmad Isa Asyur 3. Ihya Ulumuddin, qism al-ibadat karya Abu Hamid Al-Ghozali 4. Mukhtasor Minhaj al-qosidin, qism al-ibadat 5. Tahdzib mausuah al-muminin, qism al-ibadat

BAB 3 AKHLAK
3.1 ADAB MENUNTUT ILMU Pentingnya menuntut ilmu Dalil : 1. QS. Aali Imran ( Ali Imran) <3> : ayat 7 2. QS. Aali Imran ( Ali Imran) <3> : ayat 18 3. QS. An.Nisaa (An-Nisa) <4> : ayat 83 4. QS. Huud (Hud) <11> : ayat 24 Pentingnya menuntut ilmu syari 1. Kesaksian Allah Taala kepada ornag orang yang berilmu Dalil : QS Ali Imron : 18 2. Orang berilmu akan Allah angkat derajatnya. Dalil : QS Al Mujaadilah : 11 3. Orang yang berilmu adalah orang orang yang takut kepada Allah Dalil : QS Faatir : 28 4. Ilmu adalah nikmah yang paling agung. Dalil : An Nisaa : 113 5. Faham dalam masalah agama termasuk tanda tanda kebaikan Dalam ash-Shahiihain dari hadits Muawiyah bin Abi Sufyan (wafat th. 78 H) radhiyallaahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya. [12] 6. Orang Yang Berilmu Dikecualikan Dari Laknat Allah Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H) radhi-yallaahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu. 7. Menuntut Ilmu Dan Mengajarkannya Lebih Utama Daripada Ibadah Sunnah Dan Wajib Kifayah Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al-wara (ketakwaan). [1] Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) Radhiyallaahu anhu berkata, Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah. [2] Abu Hurairah Radhiyallaahu anhu berkata, Sunggu h, aku mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih aku sukai daripada tujuh puluh kali melakukan jihad di jalan Allah. [3] Aku (Ibnul Qayyim) katakan, Ini -jika shahih- maknanya adalah: lebih aku sukai daripada jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu kerusakannya lebih banyak daripada baiknya.

8. Ilmu adalah kebaikan di dunia Adab dalam menuntut ilmu Ilmu, kata Sayidina Ali bin Abi Thalib, lebih utama daripada harta. "Ilmu menjagamu, sedang engkaulah yang harus menjaga harta. Harta berkurang jika dibelanjakan, sedang ilmu malah tumbuh subur jika dibelanjakan - yakni diajarkan kepada orang lain". Dari abu Darda RA, dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga. Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan apa yang diperbuatnya. Bahwasannya penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun kepada orang yang alim. Keutamaan orang alim dari abid (orang yang ahli ibadah, tapi tidak alim) bagaikan keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama adalah para pewaris nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi para nabi telah mewariskan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa mengambil (menuntut) ilmu, ia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). [1] Berikut ini adalah adab-adab menuntut ilmu menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul Ilmi, 1. Mengikhlaskan niat Hendaknya niat utama menuntut ilmu syari hanyalah untuk mengharap ridho Allah dan pahala di akhirat bukan karena yang lainnya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya mengharap wajah Allah, tetapi tidak mempelajarinya kecuali agar mendapat bagian dari kehidupan dunia maka ia tidak mendapatkan baunya surga di hari kiamat [2]. 2. Menghilangkan kebodohan dalam diri sendiri dan orang lain Hal ini karena pada asalnya manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, dengan belajarlah ia akan memiliki ilmu. Allah taala berfirman, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An Nahl: 78) 3. Berniat untuk membela syariah Karena orang yang berilmulah yang mampu membantah ahlul bidah dan orang orang yang menyimpang. Adapun sekedar kitab yang bertumpuk di perpustakaan (dan sumber ilmu yang lainnya) dia tidak bisa membela agama ini tanpa ada orang yang memperlajari dan menggunakannya sebagai hujah untuk membela agama. Sebagaiamana sebuah senjata, ia tidak berguna kecuali jika ada yang memakainya. 4. Berlapang dada dalam masalah khilafiyah Hendaknya hati selalu lapang dada dalam masalah-masalah yang khilafiyah (yang dibenarkan adanya perbedaan pendapat padanya). Adapun dalam masalah yang jelas/pasti (qathi) maka tidak dibenarkan satu orang pun menyelisihinya. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang

menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Anfaal: 46) 5. Mengamalkan ilmu Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Dan buah dari ilmu adalah amal. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya maka bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Rasulullah bersabda, Al Quran adalah hujah bagimu dan atas kamu. [3] 6. Berdakwah di jalan Allah Setelah memiliki ilmu hendaknya ia menjadi dai yang menyeru dijalan Allah, kapan dan dimanapun kondisi yang memungkinkan untuk berdakwah. Sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah, sejak diutus menjadi Nabi dan Rasul beliau senantiasa berdakwah dimanapun beliau berada. 7. Hikmah Hendaknya seorang yang berilmu menghiasi dirinya dengan sifat hikmah, khususnya dalam berdakwah di jalan Allah. Beruntunglah orang-orang yang Allah karuniai dirinya sifat ini. Dalil : QS Al Baqarah: 269 Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentan g Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Sebaik-baik teladan dalam hikmah adalah Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Diantara yang menunjukkan betapa hikmahnya Rasulullah adalah kisah yang masyhur tentang arab badui yang kencing di masjid [4], kisah sahabat Muawwiyah bin Hakam as Sulami yang bicara dalam sholat [5] dan lainnya. 8. Sabar diatas ilmu QS Al Hud: 49 Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. 9. Mengormati ulama dan kedudukannya Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa menghormati para ulama dan kedudukan mereka dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat diantara mereka. Patut disayangkan sebagian orang sibuk mencari kesalahan orang lain, menghibahi dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya, bahkan pada para ulama. Sungguh ini adalah kesalahan yang amat besar dan buruk akibatnya. Berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah. Karena keduanya adalah sumber utama ilmu syari. Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu semangat untuk membaca, menghafal dan mempelajari keduanya. 10. Tatsabut dan tsabat

Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu berhati-hati dan berusaha memastikan dalam mengambil berita atau memahami sebuah hukum. Hendaknya pula ia kokoh dalam memperlajari sesuatu, jangan selalu berpindah dari pelajaran/kitab yang satu dan yang lainnya sehingga hasil yang didapat pun tidak maksimal. 11. Semangat memahami maksud dari Allah dan RasulNya Sebagian orang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki pemahaman atasnya atau bahkan pemahamannya salah atas ilmu yang dimiliki. Perlu diketahui, kandangkala kesalahan dalam memahami sesuatu lebih fatal daripada kesalahan karena tidak mengetahuinya. REFERENSI : Abu Zakariya Sutrisno Artikel: www.ukhuwahislamiah.com Notes: 1) Imam nawawi, Riyadhush shalihin, Al-maktab Al-islami, hal 321 2) HR Ahmad (2/337), Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dalam Mustadrak (1/160), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonif (8/543). Berkata Hakim hadits shahih, sanadnya tsiqah 3) HR Muslim dalam kitab wudhu 4) HR Bukhari dan Muslim 5) HR Muslim Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga Panduan Menuntut Ilmu, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 Bogor 16001 Jawa Barat Indonesia, Cetakan Pertama Rabiuts Tsani 1428H/April 2007M]

3.2 MAHALNYA KEJUJURAN Kejujuran merupakan sifat yang mulia dan mahal harganya, sebab belum tentu semua orang dapat memiliki sifat jujur. Namun sifat ini bisa kita dapatkan pada oangorang yang mempunyai keteguhan hati dan kesungguhan, tentunya dalam tuntuan AlQuran dan As-Sunnah, sehingga Allah memberikan anugerah baginya berupa akhlak mulia tersebut. Maka, perlulah manusia untuk memiliki sifat ini dan menerapkannya dalam segala aktivitas kesehariaanya, sehingga manusia tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi dirinya sendiri ataupun orang-orang disekitarnya. Namun kini kita dapati banyak sekali kasus-kasus yang mencerminkan tidak diterapkannya sifat jujur ini, yang bahkan para pemimpin negeri yang semestinya memberikan contoh dan menerapkan sifat ini pun, banyak yang melakukan tindakan sebaliknya. Adapun tindakan tersebut, seperti tindakan korupsi yang sudah tak asing kita dengar dan dapat kita simak dalam berita-berita televisi. Fenomena ini menjadi pukulan bagi negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, dan bahkan menjadi negara yang memiliki jumlah penduduk beragama islam terbanyak di dunia. Tentunya ini mesti menjadi renungan bagi kita semua dan menjadi hal yang perlu dikoreksi, dievalusi, dan kita perlu mengaplikasikan pemecahan masalahnya. Adapun penjelasan yang akan diapaparkan berikutnya merupakan suatu kajian yang diharapkan dapat menjadi masukan dan pemahaman dalam menerapakan perilaku jujur dan menjauhi perilaku korupsi yang kini telah marak terjadi. Adapun pembahasan diawali dengan pengertian jujur dan diakhiri dengan pembahasan cara menghindari korupsi Pengertian As- Shiddiq (jujur) As-shiddiq, merupakan salah satu akhlak mulia dari Rasulullah Saw. As Shiddiq dapat diartikan jujur, sedangkan jujur dapat diartikan sebagai: Lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya) Tidak curang (missal dalam permainan, mengikuti aturan yang berlaku) Tulus; ikhlas Shiddiq juga dapat diartikan benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar . Siddiq merupakan salah satu akhlak Nabi yang harus diyakini oleh setiap muslim, dimana akhlak ini juda diperintahkan untuk ditiru oleh umat Islam. Aplikasi kejujuran dalam kehidupan Rasulullah Saw Sifat jujur tentunya menjadi akhlak bagi para Nabi, adapun Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi yang memegang sangat kuat akhlak tersebut. Beliau tidak pernah berbohong dalam menuturkan perkataan, bahkan dari percandaan atau bersenda gurau pun beliau sangat memegang prinsip kejujuran sebgaimana perkara ini telah disampaikan beliau dalam sabdanya: Abu Hurairah ra. menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw: Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami? Rasulullah Saw menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. Adapun salah satu contoh gurau beliau adalah sebagai berikut: Dikisahkan ada seorang nenek-nenek yang datang dan bertanya kepada Rasulullah Saw, nenek tersebut bertanya; Ya Rasulullah, apakah aku bisa masuk

syurga? Nabi Saw menjawab: Tidak ada perempuan tua yang masuk syurga, lalu nenek itu menangis. Kemudian beliau shallallaahu alaihi wasallam membac a ayat: Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan (Al-Waaqiah: 35-36). Kisah demikian menggambarkan kejujuran beliau baik dalam bergurau sekalipun. Dalam kisah dengan seorang nenek-nenek tersebut beliau bergurau bahwa di surga tidak ada nenek-nenek. Hal demikian dimaksudkan bahwa di surga seorang nenek-nenek pun diubah menjadi gadis muda yang cantik sehingga tidak ada lagi nenek-nenek yang tetap menjadi nenek-nenek ketika di surga. Tauladan tentang perilaku kejujuran yang beliau ajarkan juga sampai diterapkan dalam melakukan perdagangan dan jual beli. Dimana rasulullah Saw semasa mudanya ketika menjual dagangannya berkata jujur dengan memberi tahu besar modal dagangan beliau kepada yang hendak membeli. Sehingga jika ada yang hendak membeli dagangan Rasulullah Saw, maka beliau mempersilahkan hendak membeli dengan harga lebih ataukah tidak. Masya ALLAH, siapakah hari ini yang mempunyai akhlak sedemikian rupa? Bahkan dalam menjual barang pun beliau sedemikian jujurnya. Beliau pun juga menjelaskan aib pada dagangan beliau, jika memang dagangan beliau terdapat kecacatan atau kerusakan. Dalam sebuah wasiat, beliau bersabda: Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mem punyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya (HR Al-Quzwani) Beliau sungguh pantas menjadi tauladan manusia, seorang utusan yang membawa kesempurnaan akhlak, pelita dalam kehidupan, Ialah Nabi Muhammad Saw. Kejujuran dalam perspektif tokoh Islam Muhammad Abduh dalam buku Tafsirnya "Al Manar" membagi tingkatan amanah (jujur) menjadi tiga, yaitu: Pertama, jujur kepada Allah yaitu menepati janji untuk menaati semua perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Larangan Allah yang berkaitan kejujuran ialah sifat munafik yaitu kalau berbicara ia berbohong, kalau berjanji ia menyalahi janji, dan jika dipercaya ia berkhianat. Kedua, jujur terhadap sesama manusia, yaitu menjaga sesuatu yang diterima dan menyampaikannya kepada yang berhak menerima. Jujur semacam ini menurut Imam Ar-Razi, mencakup kejujuran para penguasa dan ulama dalam membimbing masyarakat. Ketiga, jujur kepada diri sendiri. Allah telah membekali manusia dengan akal untuk membedakan yang hak dan batil. Pada tataran ini, banyak manusia yang mengkhianati dirinya dengan mengambil harta bukan miliknya. Inilah yang disebut sekarang korupsi Sedangkan Dari Abdullah Bin Masud Ra, beliau pernah mendengar bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda: Lazimilah kejujuran, sebab kejujuran itu akan menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu akan menunjukkan kepada surga. Tindakan Korupsi Vs Kejujuran Pengertian Korupsi

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri. Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau partainya/ kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan pribadi dengan masyarakat. Mental Korupsi pada Mahasiswa Tindakan Korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dan berlawanan dengan prinsip-prinsip kejujuran dan ketidak jujuran merupakan prinsip-prinsip yang tidak seseuai dengan ajaran Islam. Disamping itu, tindakan korupsi juga menandakan ketidak amanahan, keserakahan, lemahnya iman seseorang, dan sifat-sifat tercela lainnya. Tindakan korupsi semestinya dijauhi dan tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila ada sebuah pepatah yang mengatakan Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit, dimana pepatah ini mengandung makna yang begitu dalam menandakan bahwa suatu yang besar itu dimulai dari yang kecil, atau suatu yang banyak itu dimulai dari hal yang sedikit. Pepatah diatas biasanya dikaitkan dengan pola hidup menabung, namun kita juga dapat mengambil pelajaran dari pepatah tersebut bahwasanya tindakan korupsi yang besar pun juga sebelumnya dapat dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang cenderung dapat mengarahkan kepada tindakan korupsi. Maka, dengan demikian layaknya kita perlu melindungi dan menjaga diri dari tindakan sedemikian rupa sejak dini agar kedepannya kita dapat terhindar jauh dari tindakan korupsi. Adapun sebagai mahasiswa dan pelajar setidaknya ada beberapa hal yang dapat mengindikasikan perbuatan yang kecenderungannya akan ke arah korupsi, sebagai berikut: 1) Melakukan tindakan yang terdapat unsur kebohongan dan penipuan dengan disengaja

Dalam melakukan kegiatan studi semestinya pelajar dapat menghindari perbuatan yang mengandung unsur penipuan atau kebohongan dengan disengaja. Perbuatan sedemikian misal seperti: (mencotek teman waktu ujian, berbohong dalam aktivitas perkuliahan, dan lain-lain). 2) Pola hidup hedonisme Hedonisme dijelaskan dalam kamus Collins Gem (1993) sebagai doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau menurut (Echols, 2003), hedonisme adalah faham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Hedonisme juga diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan demikian maka apabila disimpulkan pola hidup hedonisme merupakan pola hidup yang mengutamakan kesenangan dunia. Dalam ajaran Islam kesenangan dunia tentunya boleh didapatkan oleh manusia, sebab memang manusia mempunyai hak-hak kesenangan tersebut, seperti makan, berumah tangga, dan lain-lainya sesuai yang telah diatur dalam nash (Al-Quran dan As-Sunnah). Namun ajaran islam memposisikan kehidupan dunia ini adalah tempat yang dapat kita gunakan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Sehingga akhirat menjadi sasaran ketika manusia menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan demikian bukan berarti bahwasanya kehidupan dunia mesti tidak dipedulikan dan diabaikan, hanya saja kehidupan dunia ini perlu diposisikan dengan bijak. Misal (orang boleh kaya, hanya saja dalam memperoleh kekayaan tersebut seseorang mesti mengikuti aturan agama Islam yang telah ada, dan hasil kekayaannya tersebut digunakan untuk upaya meraih kebahagiaan akhirat.). Namun apabila seseorang hanya memikirkan kesenangan dunia saja maka ia dapat terjebak dalam tindakan korupsi, sebab ia tidak mempertimbangkan dampak apa yang akan ia peroleh ketika di akhirat kelak. Maka, pola hidup hedonisme ini semestinya dihindari. Sebab pola hidup hedonism cukup besar pengaruhnya dalam menghasilkan tindakan-tindakan korupsi. 3) Jauh dari agama atau menghindarinya Sikap ini apabila terjadi pada aktivitas studi, maka seseorang dapat terjauh dalam ajaran kebaikan. Sebab dengan menjauhi agama, seseorang akan menjauhi pembelajaran yang jarang terkandung dalam mata kuliah universitas-universitas non islamic study, sehingga yang terkandung dalam mata kuliah terkadang tidak megandung ajaran moralitas. Padahal dalam agama Islam telah terdapat kesempurnaan pembelajaran bagi manusia, baik dari segi moralitas, kehidupan di dunia dan sehari-hari, atau bahkan dalam ranah intelektualitas. Maka, ketika seseorang dalam aktivitas studinya jauh dari ajaran Islam maka ia telah menjauhi nilai-nilai baik dari segi moralitas dan lain-lainnya serta ia telah manjauhi pula dari petunjuk-petunjuk dalam menjalani hidup yang telah diterangkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sehingga orang tersebut mudah terjerumus pada kegiatan negative atau maksiat sebab tidak ada atau lemahnya suatu aturan, keyakinan, dan orang-orang yang menguatkan dirinya untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Kegiatan ini apabila berangsur-angsur dilakukan dan tidak dihilangkan, maka kedepannya pun akan dapat menimbulkan efecet buruk bagi orang tersebut. Sehingga kasus-kasus semacam korupsi pun kecenderungannya dapat terjadi ketika seseorang sudah membiasakan

sejak dini melakukan tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan tindakan korupsi tersebut seperti yang telah dijelaskan di atas.

Bahaya Korupsi Korupsi memiliki banyak bahaya yang dapat ditimbulkan. Setidaknya seseorang yang telah melakukan tindakan korupsi telah dzolim dan melepaskan kewajiban yang semestinya dijalankan, sehingga ia tidak bertanggung jawab pada: 1. Tanggung Jawab Kepada Diri Sendiri Seseorang yang korupsi telah melakukan hal yang dapat merugikan diri sendiri. Kerugian ini bisa diperolehnya ketika di dunia ataupun di akhirat. Kerugian di dunia seperti ia mendapat hukuman, dipenjara, dipotong tangannya, ataupun lainnya. Adapun di akhirat kelak ia akan mendapatkan hukuman dari ALLAH SWT. 2. Tanggung Jawab Kepada keluarga, orang lain, dan masyarakat Tindakan korupsi juga berakibat pada keluarga, orang lain, ataupun masyarakat. Tindakan korupsi dapat membuat malu keluarga, keluarga mendapatkan nafkah yang haram. Adapun kerugian bagi orang lain ataupun masyarakat ialah orang lain tersebut terampas hak-haknya, sehingga korupsi juga dapat menimbulkan kelaparan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial di masyarakat. 3. Tanggung Jawab kepada ALLAH Seorang yang korupsi tentunya telah melanggar larangan ALLAH dan tidak menjalankan perintah-NYA Sehingga seorang yang korupsi kelak akan dimintai pertanggungjawabanya kepada ALLAH di akhirat. Cara menghindari korupsi Setidaknya terdapat beberapa cara untuk menghindari tindakan korupsi, sebagai berikut: a. Membiasakan diri untuk selalu memegang prinsip kejujuran dalam menjalankan aktivitas sehari-hari b. Meninggalkan pola hidup hedonisme c. Belajar agama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari Kesimpulan Kejujuran adalah kebaikan, Korupsi adalah keburukan. REFERENSI : Malahayati. 2010. Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah. Yogyakarta: Jogja Great. Itani, Muhammad K. Wasiat Rasul Saw Buat Lelaki. Kartasura: Aqwam. Software Kamus Besar Bahasa Indonesi v1.1 http://agusnizami.wordpress.com/2011/10/24/4-sifat-nabi-shiddiq-amanahfathonah-dan-tabligh/ http://news.detik.com/read/2012/02/06/192343/1835714/103/bangsa-ini-saatnyameneladani-kejujuran-nabi-muhammad-saw http://asrihandayani.wordpress.com/2010/03/31/pengertian-korupsikolusidannepotisme/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf http://www.pengertiandefinisi.com/2011/08/pengertian-hedonisme.html

BAB 4 Love Letter AL-QURAN


4.1 KALAMULLAH Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Quran Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah SWT. Karena dalam Al-Quran terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan dalam jiwa manusia dan berbagai lautan-lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita. Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Quran sepenuh hati, dapat merasakan getaran keagungan yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayyid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qurannya mengungkapkan: Hidup di bawah naungan Al-Quram merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya. Dan Al-Hamdulillah Allah telah memberikan kenikmatan pada diriku untuk hidup di bawah naungan Al-Quran beberapa saat dalam perputaran zaman. Di situ aku dapat merasakan sebuah kenikmatan yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku. Secara bahasa Al Quran berasal dari kata Qa -ra-a yang berarti bacaan. Allah menjelaskan dalam Al Quran sendiri tentang makna dari kata Al Quran, Allah berfirman, Sesungguhnya Kami mengumpulkan Al Quran (di dalam dadamu) dan menetapkan bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu) jika Kami telah membacanya, hendaklah kamu ikuti bacaannya. (Al Qiyamah 17-18) Secara terminologi (definisi) Al Quran berarti : kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan atau diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan secara mutawattir (terjamin keshahihannya, tidak ada keraguan di dalamnya) dan membacanya merupakan ibadah. Tidak semua kalam Allah adalah Alquran, hanya yang diwahyukan kepada Rasulullah dan diriwayatkan secara mutawattir saja yang Al Quran. Juga tidak semua wahyu Allah kepada Rasulullah adalah Al Quran. Karena ada hadits Qudsi yang redaksinya berasal dari Rasulullah. Al Quran terjaga dari penyimpangan, hingga akhir zaman dan membacanya merupakan ibadah. Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah ini maka baginya satu pahala, dan kebaikan yang sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif-lam-mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (H.R. Turmudzi) >> Bukti-bukti Kebenaran Al-Quran Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda -tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa AlQuran itu adalah benar. (QS Fushshilat 53) 1. Terjaga orisinalitasnya (Al-Hijr : 9) 2. Tak tertandingi, meski Allah sudah menantang. - tantangan pertama : buatlah yang serupa Al Quran (Al-Isra : 88)

- tantangan kedua : buatlah sepuluh surat saja (Al-Hud : 13-14) - tantangan ketiga : buatlah satu surat saja (Al-Baqarah : 23) - tantangan keempaT : kalau tak bisa (Al-Baqarah : 24) 3. Tak ada paradoks (pertentangan) di dalamnya (An-Nisa : 82) 4. Diturunkan pada Nabi yang ummi (Al-Ankabut : 48) 5. Terbanyak dicetak sepanjang zaman. 6. Mujizat ilmiah Al-Quran. 7. Mujizat angka dalam Al-Quran. 8. Keseimbangan dalam Al-Quran Perkataan atau maksud dan bilangan yag disebut dalam Al-Quran. a. Al-dunya (dunia) 115, al akhirah (akhirat) 115 b. Al-malaikat (malaikat) 88, al-syayeteen (syaitan) 88 c. Al-hayah (kehidupan) 145, al-maut (kematian) 145 d. Al-raju (laki-laki) 24,al marah (perempuan) 24 e. Al-sharu (bulan) 12 f. Al-yauum (hari) 365 g. Al-bahar (lautan) 32, al-barr (daratan) 13 Lautan 32/45 x 100% = 71.1111111% Daratan 13/45 x 100% = 28.888888% >> Fungsi Al-Quran 1. Kitab berita dan kabar (An-Naba : 1-2) 2. Kitab hukum dan perundang-undangan (Al-Maidah : 49-50) 3. Kitab jihad (Al-Ankabut : 69) 4. Kitab tarbiyah (Ali-Imran : 79) 5. Kitab pedoman hidup (Al-Qashash : 50) 6. Kitab ilmu pengetahuan (Al-Alaq : 1-5) Adab bersama Al Quran : Membacanya di tempat yang bersih dan suci. Bertawudz sebelum membacanya (Q.S An Nahl : 98) Membaca basmalah di setiap awal surah, kecuali surat At Taubah. Khusyu dan merenungi ayat-ayat Alquran yang dibaca (Q.S Muhammad : 24, Shad : 29) Membacanya dengan tartil atau sesuai dengan hokum tajwid (Q.S Al Muzammil : 4) At Taghanni (melagukan) dan membaguskan suara ketika membacanya. Rasulullah SAW bersabda, Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Alquran (HR. Bukhari) Tidak terburu-buru ketika membacanya (HR. Bukhari) Hendaknya membaca Al Quran dengan tarassul (lambat dan memanjangkan bacaan) (HR. Bukhari) Berdoa ketika membaca ayat-ayat rahmat dan ayat-ayat azab (Muttafaqun Alaih, Shohih Bukhari dan Muslim ) Meresapi ayat-ayat Al Quran (Al Maidah : 83, Al Isra : 107-109)

Melakukan sujud tilawah ketika bertemu dengan ayat sajadah (HR. Bukhari) Tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan ketika membacanya (Al Isra : 110, HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Nasai) Tidak tertawa, ribut atau sambil ngobrol ketika membaca Al Quran (Al Araf : 204) Memperbanyak membaca Al Quran dan mengkhatamkannya (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaidah menghafal Al Quran: a. Ikhlas. b. Membenarkan pengucapan dan bacaan. c. Membuat target hafalan setiap hari. d. Jangan beralih pada hafalan baru sebelum sempurna benar hafalan lama. e. Gunakan satu mushaf saja. f. Memahami ayat yang dihafalkan. g. Jangan lewati satu surat sebelum lancar. h. Selalu tekun mendengarkan. i. Menjaga terus. j. Memperhatikan yang serupa. k. Memanfaatkan batas usia yang baik untuk menghafal. Adab menyimak : a. Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang (Al-Araaf : 204) b. Memperhatikan, merasakan pengaruh dan menyatu dengan Al-Quran (aL-Anfal : 2 dan Al-Furqan : 73) REFERENSI : Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Quran. Pustaka Al-Kautsar

4.2 TAHSIN 1. Makhorijul Huruf (Tempat keluarnya huruf) a. Rongga mulut, (al-jauf), yaitu huruf-huruf mad (alif, wau, ya) : pengucapannya denga membuka mulut, missal haa : pengucapannya dengan majukan dua bibir, missal nuu : pengucapannya dengan menurunkan bibir bagian bawah, missal hii b. Tenggorokan (al-halku) ( a, ha) : Keluar dari tenggorokan bawah (aqshol halki) ( ha,a) : keluar dari tenggorokan tengah (wasathu halki) ( kha, gha) : keluar dari tenggorokan atas (adnal halki) c. Lidah (al-lisan) ( qof) :keluar dari pangkal lidah (dekat tenggorokan) dengan mengangkatnya ke langitlangit. ( kaf) :separti huruf qof tapi pangkal lidah diturunkan , , ( jim, syin, ya) :keluar dari tengah lidah bertemu dengan langit-langit ( dhodh) :keluar dari dua sisi lidah atau salah satunya bertemu dengan gigi geraham ( lam) :keluarnya dengan menggerakkan semua lidah dan bertemu dengan ujung langit-langit ( nun) :keluarnya dari ujung lidah dibawah makhrroj lam ( ro) :keluarna dari ujung lidah hampir sama seperti nun dengna memasukkan pungggung lidah , , ( tho, dal, ta) :keluar dari ujung lidah yang bertemu denan gusi bagian atas. , , ( shod, sin, za) :keluar dari ujung lidah yang hampir bertemu gigi depan bagian bawah , , ( dzho, dza, tsa) :ujung lidah keluar sediki bertemu dengan ujung gigi depan bagian atas. d. Dua bibir (asy-syafatani), adalah fa, wau, ba, mim . ( fa) : keluar dari bagian dalam yang bertemu dengan ujung gigi atas , , ( wau, ba, mim) : keluar dari dua bibir e. Rongga hidung (al-khoisum), hanya satu yaitu ghunah (dengung) 2. Huruf Qalqalah Yang dimaksud huruf qalqalah yaitu : Apabila uruf qalqalah itu ,mati atau bacaan berhenti pada huruf tersebut, maka huruf itu diucapkan seraya menambahkan semacam pantulan bunyi dari huruf itu sendiri di akhir pengucapan. Kasus Qalqalah ada dua Qalqalah Sugra : huruf alqalah berupa huruf mati (sukun) Qalqalah Qubraa : huruf qalqalah itu menjadi mati karena bacaan berhanti pada bacaan itu. Pemantuan bunyi dilahirkan lebih jelas.

3. Tafkhiim dan Tarqiiq

Ada huruf-huruf atau keadaan-keadaan yang di situ suatu huruf diucapkan tafkhiim (tebal/berat) atau tarqiiq (tipis) 1. Huruf Istilaa (diucapkan tebal) : , , , , , , , 2. Huruf lam ( )pada kata Allah (lam jalalah) Ada dua cara mengucapkan lam pada kata Allah (lam jalalaah). Huruf lam dibaca tebal jika diawali denga vocal a (fathah) atau u (dhomah). Diucapkan tipis jika didahului oleh vocal i (kasroh) 3. Huruf Raa () Dalam beberapa keadaan, Dibaca tebal, jika - Dikenai fathah atau dhomah. - Mati sesudah bnyi vocal a (fathah) atau u (dhomah), termasuk mati arena bacaan berhenti (qalqalah). - Sesudah bunyi voal I asli atau berikutnya bertemu istila berharakat fathah atau dhoman (sebagaian ahli tajwid juga memasukkan harakat kasro). - Mati seseudah vocal i tidak asli, yaitu terdapat pada hamzah ( )pada kata erintah hamzah ( )washal karena, hamzah ( )diabaikan pada saat membaca tidak berhenti melainkan diteruskan Dibaca tipis jika, - Dikenai kasrah. - Mati sesudah bunyi vocal i asli, dan berikutnya tida bertemu dengan huruf istila. - Membaca berhenti pada satu kata sehingga huruf raa pada akhir kata itu dimatikan atau memang mati dan sebelumnya berhenti atau bunyi vocal i. Kata kuci : huruf raa dibaca tipis jika berurusan dengan kasroh. 4. Hukum Nun mati dan Tanwin 1. Idhar, artinya jelas atau tampak. Sedang menurut istilah yaitu menyatakan bacaan nun mati dan tanwin dengan jelas ( suara N nya ), adapun hukum idhar terjadi apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf : 2. Idghom, artinya memasukan, yakni memasukan/meleburkan/ menyatukan bunyi nun mati atau tanwin kedalam salah satu huruf idghom, sehingga apabila keduannya dibaca seperti satu huruf yang bertasydid. Idghom Bigunah (berdengung pada hidung): jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf huruf : Idghom bilaaghunnah (tidak dengung) : jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf : 3. Ikhfa, artinya menyamarkan, yakni menyamarkan suara nun mati atau tanwin (antara suara N dan NG) sehingga menimbulkan suara berdengung di hidung bila bertemu salahsatu huruf dari huruf-huruf ikhfa : 4. Iklab, artinya mengganti/menukar, yakni mengganti/menukar bacaaan nun mati atau tanwin menjadi suara M dengan berdengung ketika bertemu dengan huruf 5. Hukum Mim Mati (Mim Sakinah) Ada 3 macam

Ikhfa Safawi : apabila mim mati beremu dengna ba (). Cara pengucapannya mim Nampak samar disertai ghunah Idghom mitslain (Idghom mimi) : apabila mim mati bertemu denagn mim ( ). Cara pengucapannya harus disertai dengan ghunah. Idzhar syafawi, apabila mim mati bertemu dengan selain huruf ba dan mim. Cara pengucapannya adalah ghunnah, terutama ketika bertemu dengan huruf fa dan wau, sedikit mim tidak boleh terpengaruh oleh makhroj fa dan wau walau mahrojnya sama/berdekatan.

6. Hukum Mad Arti mad adalah memanjangkan suara suatu bacaan, Huruf mad ada tiga Wau sukun ( )yang sebelumnya terdapat huruf berharokat dhomah Ya sukun ( )yang sebelumnya terdapat huruf berharokat kasroh Alif ( )yang sebelumnya terdapat huruf berharaat fathah 7. Pembagian Mad a) Mad ashli/ atau Thobii, terjadi apabila Huruf berbaris fathah bertemu dengan alif ( ) Huruf berbaris kaeroh bertemu dengan ya mati ( ) Huruf berbaris dhoamh bertemu dengan wawu mati () Panjangnya bacaan ini adalah 1 alif atau dua harokat. b) Mad farI Adapun jenis-jenis mad farI, diantaranya adalah : 1. Mad wajib Muttashil, Yaitu setiap mad thobiI bertemu dengan hamzah ( )dalam satu kata, panjangnya adalah 5 harokat 2. Mad jaiz munfashil, Yaitu setiap mad thobii bertemu dengan hamzah( )dalam kata yang berbeda,, panjangnya adalah 2,4,atau 6 harokat 3. Mad aridh Lisukuun Yaitu setiap mad thobiI bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat dan dibaca waqof ( berhenti ), panjangnya adalah 2,4,atau 6 harokat. Apabila tidak dibaca waqof maka hukumnya kembali seperti mad thobii. 4. Mad badal, Yaitu mad pengganti huruf hamzah ( )diawal kata, lambang mad badal biasanya berupa tanda baris atau kasroh tegak. Panjangnya 2 harokat 5. Mad Iwadh, Yaitu mada yang terjadi apabila pada akhir kalimat terdapat huruf yangberbaris fathataen dan dibaca waqof. Panjangnya 2 harokat

6. Mad Liin (mad layyin) Apabila berhenti pada suatu huruf sebelumnya wau sukun ( )atau ya sukun () yang didahului oleh huruf berharokat fathah. Panjangnya 2-6 harokat 7. Mad Tamkiin Apabila terdapat ya bertasydid ( )bertemu dengan ya sukun ( )panjangnya 2 harakat 8. Mad Lazim mutsaqqol kilmi Apabila terdapat huruf yang bertasydid jatuh sesudah huruf mad. Panjangnya 6 harakat 9. Mad Lazim mukhoffaf kilmi Apabila terdapat huruf sukun jatuh sesudah mad bidal. Panjangnya 6 harakat, mad ini hanya terdapat dala 3 surat, yaitu Al-Anam 143-44. Yunus : 59, dan An-Naml : 59 10. Mad Lazim harfi mutsaqqol Huruf-huruf di awal surat yang pembacaannya diidzhghomkan. Panjangnay 6 harakat. 11. Mad Lazim harfi mukhoffaf Separti mad sebelumnya akan tetapi tidak diiddzhghomkan. 8. Waqaf dan Ibtida Waqaf adalah melakukan penghentian dalam membaca Al-QUran seraya mengambil nafas dengan niat untuk setelahnya membaca kembali. Ibtida adalah memulai membaca atau memulai meneruskan membaca Al-Quran. Tanda-tanda waqaf inI untuk memudahkan bagi ynag tidak bisa menggunakan bahasa arab, oleh kArena itu penggunaannya tidak mutlak (khususnya bagi yang telah menguasaai bahasa arab) , : sangat baik waqaf , : lebih baik waqaf : hadir sepasang, waqaf pada salah satu : boleh waaf atau washal : ada sebagaian ulama yang membolehkan waqaf : tidak waqaf , , : lebih baik washal REFERENSI : PDQ