Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembelajaran anak usia dini berbeda dengan anak sekolah dasar. Yang diperlukan disini adalah pemberian stimulasi yang paling efektif. Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Belajar merupakan proses mental yang aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Berhubung dengan pembelajaran, Vygotsky dalam Naughton berpendapat bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak. Dalam bermain, anak selalu berprilaku diatas usia rata-ratanya, di atas prilaku sehari-hari, dalam bermain anak dianggap lebih dari dirinya sendiri.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana teori belajar dan pembelajaran anak usia dini? 2. Bagiamana teori-teori dalam pembelajaran anak usia dini? 3. Bagaimana makna belajar melalui bermain bagi anak? 4. Bagaimana program pembelajaran pada anak usia dini?

1.3 Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui teori belajar dan pembelajaran anak usia dini 2. Untuk mengetahui teori-teori dalam pembelajaran anak usia dini 3. Untuk mengetahui makna belajar bagi anak 4. Untuk mengetahui program pembelajaran pada anak usia dini

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Teori Belajar Dan Pembelajaran Anak Usia Dini Semua anak di dunia ini dari kalangan manapun mereka berasal, pasti gemar bermain. Berrmain merupakan sesuatuaktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti berkerja yang selalu dilakukan orang dewasa dalam rangka mencapai suatu hasi akhir. Pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran bagi anak usia dini bermanfaat tidak tidak saja bagi guru pada lembaga PAUD, tetapi juga bermanfaat bagi para orang tua dan orang dewasa lainnya yang memiliki tanggung jawab dalam membelajarkan anaknya dimanapun dan kapanpun. a. Menurut Montessori (1966) Menyatakan bahwa lingkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk menyenangi pembelajarannya. b. Menurut Mayke (1995) Menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberi keseempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep derta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. c. Teori Kognitif Belajar adalah proses diperolehnya pemahaman. Belajar merupakan proses mental yang aktif untuk memperoleh, mengingat, dan

menggunakan pengetahuan.

2.1.1 Teori Perkembangan Kognitif (Vygotsky dan Piaget) Perkembangan terjadi menurut urutan secara teratur. Anak adalah pribadi aktif dalam proses perkembangannya. Pengetahuan anak secara bertahap dikonstruksi (dibentuk) saat berlangsungnya pengalaman sehingga berkembang pemahaman informasi yang dialami. Pengetahuan berubah sepanjang waktu dengan mengolah informasi baru melalui asimilasi dan akomodasi tersebut ke

dalam struktur pengetahuan yang ada (skema). Perkembangan kognitif : tahap sensorikmotorik, praoperasional, operasi konkret, dan operasional formal.

2.2.2 Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky Budaya lingkungan anak membentuk perkembangan kognitif anak. Perkembangan kognitif anak bergantung pada orang-orang di sekiitar anak. Pengetahuan, gagasan, sikap, dan nilai anak berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Bagasa memegang peran dalam perkembangan anak. Private speech (pembicaraan pribadi) merupakan percakapan yang ditujukan kepada dirinya sendiri untuk mengarahkan perilaku dalam pikirannya. Private speech mengarahkan perkembangan kognitif anak. Penyelesaian masalah anak berada pada zone of proximal development (ZPD). Membandingkan Teori Belajar Kognitif (teori Piaget, L. Vygotsky dan teori Montessori, dan Mayke) Sama-sama dengan bermain seorang anak secara intelektual beradaptasi dan mengadaptasi lingkungan untuk dapat membangun pengetahuan.

2.3 Macam-macam Teori Pembelajaran Anak Usia Dini 1 Teori Behaviorisme Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya. Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila sutu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.

B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar. Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa toeri yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini. Aliran behaviorisme mengatakan bahwa semua ilmu dapat

disederhanakan menjadi hubungan stimulus-response. Hal tersebut tidaklah benar karena tidak semua perilaku berasal dari stimulus-response.

2 Teori Nativisme Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui peniruan. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah

dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya. Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat makanan sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33). Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.

3 Teori Kognitivisme Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah. Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah

dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

4 Teori Interaksionisme Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan input dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis. Sebenarnya, menurut hemat penulis, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa si anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk., 2006: 2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang memperngaruhi kemampuan berbahasa si anak. Banyak penemuan yang telah membuktikan hal ini.

2.4 Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini. Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasai dalam rangka pencapaian kopetensi yang harus dimiliki oleh anak (Sujiono dan

Sujiono,2007:206).

2.4.1 Hakikat Program Pembelajaran pada Anak Usia Dini Bennett, Finn dan Cribb (1999:91-100),menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah

pengalaman belajar melalui bermain yang dapat memperkaya pengalaman bermain anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir teentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumen untuk mencari berbagai alternatif. Mengutif pendapat Kitano dan Kirby (1989:127-167), pembelajaran haruslah terkait dengan pengembangan kurikulum yang merupakan rencana pendidikan yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi pembelajaran dalam rangka menghasilkan perubahan prilaku yang potensial. Kurikulum yang komprehensif seharusnya memiliki elemen utama dari setiap bidang

pengembangan yang disesuaikan dengan tingkat atau jenjang pendidikannya serta mengetengahkan target pencapaian perserta didik yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran dilembaga pendidikan. Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini adalah bermain. Allbrecht dan Miller (2000:216-218) berpendapat bahwa dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan program adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

2.4.2 Tujuan dan Fungsi Program Pembelajaran Catron dan Allen (1999:23) tujuan program pembelajaran yang utama adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadi komunikasi interaktif. Tujuan program pembelajaran adalah membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahap berikutnya. Untuk mencapai tujuan progran pembelajaran tersebut, maka diperlukan strategi pembelajaran bagi anak

usia dini yang berorientasi pada: (1) Tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia anak; (2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karekteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak (DAP=Developmentally Approriate Praciticce) ; (3) metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif dan kreatif serta menyenangkan; (4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi; (5) evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assesment melalui observasi parsitipan terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar dan diperbuat oleh anak (Bredekamp,1998:30-31).

2.4.3 Model Pembelajaran Anak Usia Dini Model pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model pembelajaran yang berpusat pada Guru dan pembelajaran berpusat pada Anak. pembelajaran yang berpusat pada Guru diprakasai oleh Povdov, Skinner, dan tokoh-tokoh behavioris lainnya. Adapun pembelajaran berpusat pada Anak diprakasai oleh Piaget, Erikson dan Isaacs. Teori Behavioris, berdasarkan penelitian pavlov dalam mengamati prilaku hewan, bahwa jika hewan diberikan stimulasi tertentu, maka menimbulkan respon yang tertentu sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh prilaku manusia dapat dijelaskan atau diamati sebagai respon yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterima dari lingkungannya. Teori Perkembangan, para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak memiliki motivasi diri yang dimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu. Motivasi berkemampuan inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli

psikologi sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berepusat pada anak, dengan mengharrgai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan berkembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masing-masing anak, dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang.

Para ahli psikologi telah menemukan pola dan tahapan dalam perkembangan yang berasal dari pengendalian yang muncul dari dalam diri anak, seperti kognitif, sosial-emosional, dan perkembangan fisik. Melalui pengetahuan ini dapat diciptakan lingkungan bekajar yang berbasis bermain untuk anak sehingga dapat mendukung perkembangan anak.

2.5 Penerapan Pembelajaran Pada Anak Usia Dini Metode pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk menggunakan pikirannya, mereka menggunakan pikirannya sendiri dan mengidentifikasi kegiatannya. Segala sesuatu yang munculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang terpenting dalam metode yang berdassarkan permainan adalah kebebasan anak dalam bermain. Kebaikan dari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai. Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istilah, pengajaran langsung, dimana guru atau instruktur memberikan petunjuk atau instruksi langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak. Secara khusus proses pembelajaran pada anak usia dini haruslah didasarkan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, berikut ini : (1) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus didasarkan prinsip belajar melalui bermain, (2) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inofatif baik didalam ruangan ataupun diluar ruangan, (3) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini dilaksanakan pendektan tematik dan terpadu, (4) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluru dan terpadu.

BAB III KESIMPULAN

Pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran bagi anak usia dini bermanfaat tidak tidak saja bagi guru pada lembaga PAUD, tetapi juga bermanfaat bagi para orang tua dan orang dewasa lainnya yang memiliki tanggung jawab dalam membelajarkan anaknya dimanapun dan kapanpun. Menurut Montessori teori pembelajaran adalah lingkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk menyenangi pembelajarannya. Dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan program adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas. Adapun teori-teori pembelajaran anak usia dini diantaranya 1. Teori Behaviorisme, Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). 2. Teori Nativisme, Chomsky merupakan penganut nativisme.

Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia 3. Teori Kognitivisme, menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. 4. Teori Interaksionisme, teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa.

10

DAFTAR PUSTAKA

http://melyloelhabox.blogspot.com/2013/01/teori-belajar-dan-pembelajarananak.html http://richank-meister.blogspot.com/2012/09/teori-belajar-anak-usia-dini.html http://paud-uny.blogspot.com/2011/12/macam-macam-teori-dalampembelajaran.html belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/

11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan tepat waktunya. Terimakasih dari kami kepada dosen pembina yang telah membimbing kami, terimakasih juga kepada rekan-rekan seperjuangan yang ikut membantu dalam penulisan makalah ini baik secara langsung dan tak langsung. Makalah ini kami susun secara sistematis sehingga memudahkan pembaca untuk mengetahui seputar penjelasan bagaimana pengetahuan mengenai teori-teori dalam pembelajaran anak usia dini, kami mengakui masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh sebab itu, kami akan bersifat terbuka dan sangat berterima kasih kepada pembaca yang ingin memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca sesuai dengan harapan kami.

i 12

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................i DAFTAR ISI ............................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .......................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................1 1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Teori Belajar Dan Pembelajaran Anak Usia Dini ..................................2 2.1.1 Teori Perkembangan Kognitif (Vygotsky dan Piaget) ...............2 2.2.2 Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky .....................................3 2.3 Macam-macam Teori Pembelajaran Anak Usia Dini ............................3 2.4 Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini. ..................................6 2.4.1 Hakikat Program Pembelajaran pada Anak Usia Dini.................7 2.4.2 Tujuan dan Fungsi Program Pembelajaran .................................7 2.4.3 Model Pembelajaran Anak Usia Dini .........................................8 2.5 Penerapan Pembelajaran Pada Anak Usia Dini .....................................9 BAB III KESIMPULAN ..........................................................................................10 DAFTAR PUSTAKA

ii 13

MAKALAH
MACAM-MACAM TEORI DALAM PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran

Dosen Pengampu : Dillah Fadilah, M.Pd

Oleh Kelompok 1 Ahyati Nurlia Nengsih Rika Mulyasari Mima Lestari Sanacih Lia

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SETIA BUDHI RANGKASBITUNG 2014

14