Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTUKTUR STRUKTUR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN I

Oleh :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013 1. PENDAHULUAN

Anatomi tumbuhan dapat digunakan sebagai alat untuk membantu pemecahan masalah sistematika tumbuhan yang kompleks, baik dari tingkat suku,

marga maupun spesies, karenanya dapat membantu ke akuratan penamaan tumbuhan.Keakuratan ini penting bagi pemuliaan tanaman, ahli ekologi maupun ahli konservasi (Cutler, 1978). Kesamaanan anatomi pada daun dapat dijadikan sebagai dasardalam masalah sistematika tumbuhan. Secara klasik, tumbuhan terdiri dari tiga organ dasar yaitu : akar, batang, dan daun. Organ-organ lain dapat digolongkan sebagai organ sekunder karena terbentuk dari modifikasi organ dasar. Daun berkembang dari primordial daun yang dibentuk pada meristem apeks. Setiap primordia daun terbentuk pada bagian panggul meristem apeks pucuk. Primordial daun pada tumbuhan dikotil terbentuk pada sebagian kecil dari diameter meristem apeks pucuk. Sementara itu, pada monokotil, primordial daun terbentuk dan berkembang pada sekeliling meristem apeks pucuk. Primordial daun akan terus berkembang ukurannya secara bertahap sampai mencapai ukuran dan bentuk tertentu (Aryulina, 2004). Struktur anatomi daun terdiri dari jaringan dermal, jaringan dasar dan jaringanpengangkut. Jaringan dermal berupa epidermis dan derivatnya. Jaringan dasar berupa parenkim dan mesofil dan jaringan pengangkut berupa xylem dan floem (Aryulina, 2004). Morfologi dan anatomi daun sangat bervariasi pada kelompok tumbuhan yang berbeda. Aktivitas diferensial pada meristem daun menyebabkan perbedaan bentuk daun pada tumbuhan. Selain itu, kematian sel, pembelahan serta pembesaran sel juga menentukan bentuk daun. Sekalipun bentuk dan ukurannya bervariasi, pada dasarnya daun terdiri dari pelepah, tangkai daun dan helaian daun (Heddy, 1987). Jurnal kali ini mempelajari tentang anatomi daun pada Ammannia baccifera sub species baccifera, Ammannia baccifera sub species aegyptiaca,

Ammannia multiflora, dan Ammannia desertora. Beberapa daun dari tumbuhan tersebut adalah daun dorsiventral dan isobilateral, sel-sel epidermisnya dibagi menjadi beberapa bentuk, sel-sel penghasil getah hadir diantara sel-sel epidermis dan juga Kristal Ca-oksalat sebagai karakteristik dari Ammannia L.(Lythraceae) (Kshirsagar, 2012).

2.

PEMBAHASAN

Genus Ammannia merupakan tumbuhan dikotil yang dikelompokkan ke dalam tumbuhan berbunga (Angiospermae). Tumbuhan ini tersebar luas di India dan dikenal sebagai tanaman obat. Daunnya terutama dapat digunakan untuk mengobati infeksi kulit. Tinhggi maksimum yang dapat dicapai oleh pertumbuhannya adalah 50 cm dengan warna bunga kehijau-hijauan dan keunguunguan. Bentuk daun Ammannia ada yang melonjong (oblongus) dan ada yang membulat (lanceolatus) (Vijayakumar et al.,2012). Analisis karakter anatomi daun dari keempat spesies, yaitu Ammannia baccifera, Ammannia baccifera sub spesies aegyptica, Ammannia multiflora dan Ammannia desertora dilakukan dengan mengamati irisan melintang daun. Irisan melintang dilakukan dengan menggunakan mikrotom. Mikrotom adalah mesin untuk mengiris objek menjadi bagian yang sangat tipis sehingga mudah untuk diamati (Kshirsagar, 2012). Tipe daun Ammannia berdasarkan keberadaan stomata bervariasi, ada yang amfistomatik dan ada yang hipostomatik. Amfistomatik adalah keberadaan stomata pada kedua permukaan daun, sedangkan pada tumbuhan hipostomatik, stomatanya hanya terdapat di epidermis bawah. Sel-sel epidermis atas memiliki dinding yang tebal dan berukuran lebih besar dibanding sel-sel epidermis bawah. Permukaan epidermis atas maupun epidermis bawah dilapisi oleh kutikula. Jaringan dasar Ammannia terdiri dari jaringan palisade dan jaringan spons. Sel-sel spons tersusun jarang-jarang dengan ruang antar sel. Berkas pengangkut memiliki tipe bikolateral, satu bagian xilem di tengah serta satu bagian floem di luar dan satu bagian di sebelah dalam. Jaringan dasar tersusun atas jaringan palisade dan

jaringan spons. Sel-sel spons tersusun jarang-jarang dengan ruang antar sel (Mulyani, 2006). Perbedaan dari keempat spesies daun Ammannia yang diamati adalah keberadaan stomata, di mana ketiga spesies kecuali Ammannia desertora memiliki stomata pada kedua permukaan epidermis. Kutikula yang melapisi epidermis pada Ammannia multiflora memiliki corak bergaris-garis. Sel-sel penghasil getah dapat ditemukan pada Ammannia baccifera dan Ammannia baccifera sub spesies aegyptica yang terdapat di epidermis atas dan epidermis bawah. Sel penjaga pada stomata daun Ammannia baccifera dan Ammannia baccifera sub spesies aegyptica menonjol keluar. Jaringan dasar pada Ammannia baccifera dan Ammannia aegyptica terdiri dari jaringan palisade yang terdapat di kedua permukaan (isobilateral) dan jaringan spons. Perbedaan pada kedua spesies tersebut terletak pada palisade Ammannia baccifera yang hanya memiliki satu lapis jaringan palisade di setiap permukaannya. Sel-sel spons pada Ammannia aegyptica memiliki sedikit klorofil. Pada daun juga terdapat hypodermis (kolenkim) dan parenkim korteks. Hipodermis pada Ammannia aegyptica terdiri dari kolenkim satu lapis Perkembangan hipodermis dapat disebabkan oleh adaptasi ekologi. Jaringan pengangkut pada Ammannia multiflora berbentuk sabit dan terletak dekat epidermis atas. Sel-sel parenkim pada tanaman Ammannia memiliki tumpukan kristal Ca-oksalat (Turki, 2007). Kristal Ca-oksalat pada tumbuhan memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah sebagai pengatur kalsium dalam jaringan, perlindungan dari hewan herbifora, dan sebagai detoksifikasi logam (Nakata, 2003). Bahan pangan yang mengandung Ca-oksalat dapat menimbulkan rasa gatal

dan iritasi pada bibir, mulut dan kerongkongan. Menurut Bradbury dan Nixon (1998), rasa gatal yang merangsang rongga mulut dan kulit disebabkan oleh adanya kristal kecil berbentuk jarum halus yang tersusun dari kalsium oksalat yang disebut raphide.