Anda di halaman 1dari 3

Gastroenteritis

Gastroenteritis adalah istilah umum untuk berbagai macam keadaan yang biasanya disebabkan oleh infeksi dan menimbulkan gejala-gejala berupa hilangnya nafsu makan, mual, muntah, diare ringan sampai berat dan rasa tidak enak diperut. Elektrolit, terutama natrium dan kalium ikut hilang bersama dengan hilangnya cairan tubuh. Terganggunya keseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi yang bisa berakibat fatal, apalagi dalam keadaan sakit yang berat, baik pada hewan dewasa maupun hewan muda. Secara umum, gastroenteritis merupakan kelainan klinik yang disebabkan inflamasi mucosa lambung, difus atau terbatas, dapat akut maupun kronik. Proses inflamasi ini biasanya terbatas pada mucosa, tidak meliputi seluruh tabal dinding lambung. Penyebab gastroenteritis pada anjing Hingga saat ini etiologi dan patogenesis gastroenteritis belum sepenuhnya diketahui dengan pasti, sehingga masalah banyak masalah dalam diagnosis dan penatalaksanaan kelainan ini. Konsep keseimbangan antara faktor agresif san faktor protektif dengan peranan asam lambung yang menonjol dianggap menjadi dasar terjadinya kerusakan mukoa lambung, tetapi salah satu peran utama asam lambung adalah kemampuan untuk membunuh bakteri dan mikroba lain, untuk menjaga kestabilan lingkungan intra gastrik.

Beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan penyebab gastroenteritis : Diet makanan yang tercemar/dekomposisi, alergi makanan, benda asing (plastik, karet dalam pakan, tulang), zat kimia yang mengiritir (Fenol, Arsen, Thalium) Infeksi oleh bakteri, virus maupun parait (cacing dan protozoa) Efek samping dari obat-obatan (obat antasida yang mengandung magnesium dalam jumlah yang besar, antibiotik, obat antikanker, obat pencahar, obat digitalis).

Gejala Klinis Penyakit Gastroenteritis Gejala yang tampak biasanya tergantung pada berat ringannya suatu penyakit. Rasa sakit ditandai dengan kegelisahan. Secara umum penyakit biasanya perakut dan berhubungan dengan shock hipovolemik, kebanyakan hewan terinfeksi tampak sehat tanpa perubahan tingkah laku. Gejala yang terjadi biasanya dimulai dengan muntah secara tiba-tiba, anoreksi, depresi yang kemudian diikuti dengan diare berdarah. Diare merupakan gejala yang selalu dijumpai dalam radang usus. Tinja yang cair dengan bau yang tajam mungkin bercampur dengan darah, lendir atau reruntuhan jaringan usus. Pada radang yang berlangsung kronik, terjadi kekurusan dan tinja jarang yang bersifat cair, berisi darah, lendir atau reruntuhan jaringan yang jumlahnya mencolok. Kurangnya cairan didalam usus akan dijumpai radang usus yang disertai dengan konstipasi, dan tinja bersifat kering. Radang usus akut selalu disertai dengan oligouria atau anuria, dan disertai dengan menurunnya nafsu makan, anoreksia total maupun parsial. Pada radang kronik biasanya nafsu makan tidak mengalami perubahan (Nugroho dan Whendrato , 1998). Gejala biasanya berlangsung secara cepat dan menjadi berbahaya dengan periode 8-12 jam dan menimbulkan shock hipovolemik dan hemokonsentrasi eritrosit.

Akibat kehilangan cairan yang berlebihan, penderita akan mengalami penurunan berat badan dalam waktu singkat dengan tanda dehidrasi yang mencolok. Dehidrasi yang mencapai lebih dari 10% dapat mengancam kehidupan penderita dalam waktu 1-2 hari dan dapat mengakibatkan kematian karena shock.Pasien biasanya mengalami depresi dan lemah dan CRT > 2 detik dan tekanan pulsus lemah (bradikardi). Turgor kulit turun yang merefleksikan dehidrasi, palpasi abdomen nyeri dan pembesaran bowel dapat di deteksi. Eksplorasi rectal dapat dijumpai tinja yang berdarah., kadang-kadang demam tapi sering kali suhu tubuh normal atau bahkan subnormal.