Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT

PEMERIKSAAN SPUTUM

Di susun oleh : Nama NIM Kelompok : Aulia Rakhman : N 201 12 018 :1

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Bakteri yang memiliki ciri-ciri berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel disebut bakteri tahan asam (BTA). Bakteri ini ada 41 spesies yang telah diakui oleh ICSB (International Committee on Systematic Bacteriology) yang sebagaian besar sudah saprofit dan sebagaian kecil lainnya patogen untuk manusia diantaranya Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leper ae dan lain-lainnya yang dapat menyebabkan infeksi kronik. Golongan saprofit dikenal juga dengan nama atipik. Bakteri ini membutuhkan bahan tambahan makanan seperti darah egg yolk, serum dan sel yang tebal yang terdiri dari asam lemak mivolet untuk pertumbuhannya. Mycobacterium tuberculose merupakan bakteri gram positif (+), batang sedikit bengkok, panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat 2 - 8 minggu, suhu optimal 37 - 38oC. Mycobacterium tahan terhadap asam dan alkali dibanding dengan kuman lain sehingga apabila bahan spesimen mengandung kuman lain dapat dibunuh dengan mudah sehingga spesimen menjadi lebih murni. Tuberculosis merupakan penyakit sistemik yang dapat mengenai hampir semua organ tubuh yaitu organ pernafasan ataupun diluar organ pernafasan. Kuman tuberculosis dapat hidup lama tanpa aktivitas dalam tubuh (dormant) sampai pada saatnya dapat aktif kembali. Beberapa Negara maju melaporkan penurunan angka kejadian tuberculosis disertai peningkatan presentase kejadian tuberculosis. Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakangi praktek ini adalah untuk memeriksa Mycobakterium Tuberculosis pada sputum penderita Tuberkulosis dan juga pentingnya pemeriksaan sputum khusus bagi mahasiswa

kesehatan masyarakat yaitu mencegah dan mengetahui penyebaran penyakit TBC yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dilaksanakan percobaan ini adalah : 1. Untuk mengetahui teknik perwarnaan Bakteri Tahan Asam (BTA) 2. Untuk mengamati Mycobacterium (jika ada) dan mengetahui tingkat infeksi dari sputum. 2.3 Manfaat Adapun manfaat sehingga dilaksanakan percobaan ini yang dihubungkan dengan kesehatan yaitu untuk mengetahui Mycobacterium dari sputum agar dapat memelihara dan mempertahankan tubuh dan mencegah terjadinya penyakit TBC yang disebabkan Mycobacterium Tuberculosis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Mikroorganisme terdapat di mana-mana. Interaksinya dengan sesama mikroorganisme ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan (Pratiwi,2008). Mikroorganisme di dunia ini ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan. Mikroorganisme yang menguntungkan dapat kita manfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi, banyak juga mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu dengan menyebabkan terjadinya penyakit pada tubuh manusia. Salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan atau menginfeksi manusia adalam Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit tuberculosis pada manusia. Tuberculosis merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan berbahaya di dunia (Dwidjoseputro, 1989). Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang langsing, lurus atau berbentuk filament. Bakteri ini bersifat aerobik, tidak membentuk spora, non motil, tahan asam, dan merupakan bakteri gram positif. Namun, sekali mycobacteria diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut sebagai Basil Tahan Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme lain yang juga memiliki sifat tahan asam, yaitu spesies Nocardia, Rhodococcus, Legionella micdadei, dan protozoa Isospora dan Cryptosporidium. Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. permeabilitas dinding sel, sehingga Struktur ini menurunkan dari antibiotik. mengurangi efektivitas

Lipoarabinomannan adalah suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga (Thomas, 1999).

Mikobakteria dapat tumbuh lebih cepat pada pH 6 dan 8 dengan pH optimum sekitar 6.5 - 6.8 untuk tipe pathogen. Bakteri ini mempunyai susunan dinding yang melindungi bakteri jika hidup di luar inangnya. Dinding sel mikobakteria menyebabkan penundaan hipersensitivitas dan beberapa diantaranya resisten terhadap infeksi. Sel mikrobakteria dapat menunda reaksi hipersensitifitas pada hewan yang sebelumnya sensitif. Sel mikobakteria terdiri dari tiga lapisan penting yaitu lipid, protein, dan polisakarida (Mudihardi, 2005). Percobaan tentang transmisi penyakit TBC pertama kali dilakukan oleh Klencke pada tahun 1843. Klencke memproduksi TBC di dalam tubuh kelinci dengan inokulasi jaringan TBC secara intravena. Infeksi oleh kuman TBC juga dibuktikan oleh Villemin pada tahun 1865 dengan cara memproduksi penyakit ini pada kelinci dengan inokulasi jaringan TBC tipe human dan bovine. Dia yang pertama kali mendemonstrasikan perbedaan resistensi kelinci terhadap organisme tipe human dan bovine. Villemin menyimpulkan bahwa TBC adalah penyakit spesifik, TBC disebabkan oleh agen inocilable, penyakit ini dapat menular dari manusia ke kelinci, TBC adalah penyakit yang mematikan. Robert Koch merupakan penemu Mycobacterium tuberculosis pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP). Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA) (Pelczar dan Chan, 1988). Tuberkulosis (TBC) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru dan juga memberikan efek terhadap susunan saraf pusat, sistem limfatik, sistem sirkulasi, sistem urogenital, tulang, tulang sendi, dan kulit. Penyakit ini diketahui dapat menyerang semua bangsa burung, mamalia, primata, termasuk manusia. Selain Mycobacterium tuberculosis (tipe human), dikenal juga spesies Mycobacterium bovis, dan Mycobacterium avium. Mycobacterium bovis dan Mycobacterium avium jarang terjadi pada orangutan. Hanya terdapat sekitar 10% laporan kasus TBC pada primata yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis. TBC tipe Human yang paling banyak ditemukan pada primata dan manusia (Sari 2004).

Bakteri tahan asam merupakan bakteri yang kandungan lemaknya sangat tebal sehingga tidak bisa diwarnai dengan reaksi pewarnaan biasa, tetapi harus dengan pewarnaan tahan asam. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA) karena dapat mempertahankan zat warna pertama sewaktu dicuci dengan larutan pemucat. Golongan bakteri ini biasanya bersifat patogen pada manusia contohnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat diisolasi dari sputum penderita TBC. Reaksi hasil pewarnaannya jika positif terdapat bakteri TBC berwarna merah. Selain menyerang manusia juga menyerang hewan seperti marmut, dan kera. Penularannya dapat melalui udara yang masuk ke saluran pernafasan (Pelczar dan Chan, 1988). Bakteri tahan asam adalah bakteri yang mempertahankan zat warna karbol-fuchsin (fuchsin basayang dilarutkan dalam suatu campuran phenol-alkohol-air) meskipun dicuci dengan asam klorida dalam alkohol. Bakteri tahan asam (BTA) merupakan bakteri yang memiliki ciri-ciri yaitu berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel. Bakteri yang termasuk BTA antara lain Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium bovis, Mycobacterium leprae, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae. Mycobacterium tuberculose adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit tuberculose, dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai bakteri tahan asam (BTA). Penularan Mycobacterium tuberculose terjadi melalui jalan pernafasan (Syahrurachman, 1994). Pewarnaan Ziehl Neelson atau pewarnaan tahan asam memilahkan kelompok Mycobacterium dan Nocandia dengan bakteri lainnya. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam karena dapat mempertahankan zat warna pertama (carbol fuchsin) sewaktu dicuci dengan larutan pemucat (alkohol asam). Larutan asam terlihat berwarna merah, sebaliknya pada bakteri yang tidak tahan asam karena larutan pemucat (alkohol asam) akan melakukan reaksi dengan carbol fuchsin dengan cepat, sehingga sel bakteri tidak berwarna (Lay, 1994).

Tujuan pemberian carbol fuchsin 0,3% adalah untuk mewarnai seluruh sel bakteri. Tujuan pemberian alkohol asam 3% adalah meluruhkan warna dari carbol fuchsin, tetapi pada golongan BTA tidak terpengaruh pemberian alkohol asam 0,3% karena memiliki lapisan lipid yang sangat tebal sehingga alkohol sukar menembus dinding sel bakteri tersebut dan warna merah akibat pemberian carbol fuchsin tidak hilang. Tujuan pemberian methylen blue adalah memberi warna background (Pelczar dan Chan, 1986). Mewarnai bakteri yang tahan terhadap asam digunakan cara pewarnaan Ziehl Neelson. Pewarnaan Ziehl Neelson terdapat beberapa perlakuan dan zat kimia yang diberikan. Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri tetapi tidak mengubah struktur sel bakteri. Perlakuan pencucian dengan menggunakan aquades mengalir bertujuan untuk menutup kembali lemaknya (Pelczar dan Chan, 1986). Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman tahan asam penyebab kematian hamper 3 juta manusia, dan terdapat 8-12 juta kasus baru setiap tahunnya (Reviglione et al.,1995). Penyakit yang berlangsung secara menahun (kronik) tersebut oleh World Health Organization (WHO) diperkirakan telah menyerang sepertiga penduduk dunia, dan mempunyai potensi berkembang ke arah penyakit reaktif (Dolin, 1994). Bakteri tahan asam dapat diamati dengan teknik pewarnaan Ziehl Neelson, Kinyoun Gabber, dan Fluorochrom. Pengambilan sputum (sekret paru-paru atau ludah) untuk analisis tuberculosis dapat dilakukan setiap saat dikenal ada 3 jenis sputum: a. Sputum pagi b. Spot sputum : sputum yang dikeluarkan oleh penderita pada saat bangun pagi. : yang dikeluarkan pada saat itu. c. Collection sputum : sputum yang keluar dan ditampung selama 24 jam (Kurniawati, 2005). Sputum adalah cairan yang diproduksi dalam alveoli dan bronkioli. Sputum yang memenuhi syarat pemeriksaan harus betul-betul dari trakea dan bronki bukan berupa air ludah. Sputum dapat dibedakan dengan ludah antara lain : ludah biasa akan

membentuk gelembung-gelembung jernih di bagian atas permukaan cairan,sedang pada sputum hal ini jarang terjadi. Secara mikroskopis ludah akan menunjukan gambaran sel-sel gepeng sedang pada sputum hal ini tidak ditemukan . (Widman, 1994) Sputum paling baik untuk pemeriksaan adalah sputum pagi hari, karena sputum pagi paling banyak mengandung kuman. Sputum pagi di kumpulkan sebelum menggosok gigi, tetapi sudah berkumur dengan air untuk membersihkan sisa makanan dalam mulut yang tertinggal (B. sandjaja, 1992). Induksi dahak merupakan salah satu cara alternatif yang sederhana, aman, tidak invasif, dan lebih dapat diterima oleh penderita anak guna memperoleh spesimen dahak yang layak untuk pemeriksaan bakteriologis pada penderita-penderita yang sulit mengeluarkan dahak secara spontan (Fireman, 2003). Induksi dahak dapat dilakukan dengan cara nebulisasi aerosol air suling yang dihangatkan atau larutan salin isotonik (0,9%) atau hipertonik. Beberapa penelitian mendapatkan hasil positif yang tinggi dari pemeriksaan dahak induksi yaitu berkisar antara 70 90%, dan sebanding dengan hasil pemeriksaan yang menggunakan bronkoskopi (Garay, 2004). Hasil kultur yang negatif dari spesimen yang mengandung kuman M. tuberculosis dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pada penderita yang mendapat terapi OAT, kuman M. tuberculosis dapat kehilangan kemampuan untuk tumbuh pada media kultur atau kuman telah mati. Beberapa penelitian melaporkan bahwa penderita yang telah mendapat terapi OAT dengan regimen yang mengandung rifampicin, seringkali hasil kultur menjadi negatif setelah pengobatan 3 minggu tetapi pemeriksaan hapusan dahak masih positif, ini berarti basil tuberkulosis telah mati (Toman, 2004). Hasil kultur yang negatif juga dapat disebabkan oleh kurang tepatnya penanganan sampel dahak dan atau prosedur pembuatan kultur. Penanganan sampel dahak kurang tepat bila sampel dahak terpapar dengan sinar matahari atau temperatur yang tinggi, disimpan terlalu lama, mengering, atau terkontaminasi. Prosedur dekontaminasi yang berlebihan sebelum dilakukan inokulasi, pemanasan yang

berlebihan selama sentrifugasi, media kultur yang tidak adekuat, dan kurangnya masa inkubasi merupakan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan hasil kultur negatif (Toman, 2004).

BAB III METODOLOGI


2 3 3.1 Waktu dan tempat Adapun waktu dan tempat dilaksanakan percobaan ini yaitu : Hari/Tanggal Waktu Tempat 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu : 3.2.1 Alat 1. Mikroskop 2. Pipet tetes 3. Kaca objek 4. Bunsen 5. Hand sprayer 6. Batang penyangga 7. Wadah 8. Stopwatch Sputum 8..22 1. Bahan : Sabtu, 13 April 2013. : 10.00 WITA selesai. : Laboratorium Terpadu FKIK UNTAD.

2. Alkoholasam 3% 3. Karbolfuchsin 0,3% 4. Aquadest steril 5. Methylen blue 6. Korek api 7. Lidi 8. Masker 9. Handskun 10. Tissue 11. Lap halus 12. Spritus 13. Penjepit tabung 14. Spidol 15. Alkokhol 70% (Antiseptik)

15.3

Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja pada saat melakukan percobaan ini adalah: 1. Memfiksasi preparat secara langsung, yaitu dengan membersihkan kotoran dengan alkohol pada objek glass lalu meletakkan sputum di atasnya dengan lidi setipis mungkin kemudian melakukan pengeringan, setelah kering kemudian memfiksasi di atas api Bunsen. 2. Menetesi karbolfuchsin 0,3% pada objek glass yang telah kering dan memanaskan selama 5 menit tetapi tidak sampai mendidih. 3. Mencuci dengan aquades mengalir dan mengeringkan objek glass. 4. Menetesi dengan alkohol asam 3% lalu mencuci dengan aquades mengalir dan mengeringkan. 5. Menetesi dengan methylen blue, mendiamkan selama 20-30 detik kemudian mencuci dengan menggunakan aquades mengalir, mengeringkan dan mengamati dibawah mikroskop.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


1. 2. 3. 4. 4.1. Hasil Pengamatan Adapun hasil Pengamatan yang diperoleh pada saat melakukan percobaan ini yaitu : N O Kelompok Sampel Gambar Literatur KET

Negatif

II

Positif

III

Positif

IV

Negatif

Positif

VI

Posiitif

4.2 Pembahasan Bakteri tahan asam (BTA) merupakan bakteri yang memiliki ciri-ciri yaitu berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel. Bakteri yang termasuk BTA antara lain Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium bovis, Mycobacterium lepr ae, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae. Mycobacterium tuberculose adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit tuberculose, dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai bakteri tahan asam (BTA). Penularan Mycobacterium tuberculose terjadi melalui jalan pernafasan.

Percobaan kali ini menggunakan sputum (dahak), tujuan dari percobaan ini ialah untuk mengetahui teknik pewarnaan Bakteri Tahan Asam (BTA) dan untuk mengamati Mycobacterium tuberculosis serta mengetahui tingkat infeksi dari sputum. Sputum adalah cairan yang diproduksi dalam alveoli dan bronkioli. Sputum yang memenuhi syarat pemeriksaan harus betul-betul dari trakea dan bronki bukan berupa air ludah. Pada percobaan yang telah dilakukan, untuk pemeriksaan sputum, dengan memfiksasi preparat secara langsung, yaitu dengan membersihkan kotoran dengan alkohol pada objek glass lalu meletakkan sputum di atasnya dengan lidi setipis mungkin kemudian melakukan pengeringan. Memfiksasi berfungsi untuk mematikan bakteri tetapi tidak mengubah struktur sel bakteri dan fungsi alkohol yaitu mensterilkan kaca objek dari mikroorganisme sebelum di letakkan sputum. Setelah kering kemudian memfiksasi di atas api Bunsen. Menetesi karbolfuchsin 0,3% pada objek glass yang telah kering dan memanaskan selama 5 menit tetapi tidak sampai mendidih, karena bila sampai mendidih bakterinya akan terbuka dinding selnya atau lisis. Karbolfuchsin berfungsi untuk mewarnai seluruh bakteri. Mencuci dengan aquades mengalir dan mengeringkan objek glass. Fungsi aquadest yaitu untuk merapatkan lemak atau lapisan lilin yang terbuka agar tertutup kembali. Menetesi dengan alkohol asam 3% lalu mencuci dengan aquades mengalir dan mengeringkan. Alkohol asam berfungsi sebagai larutan yang dapat meluruhkan warna dari semua bakteri terkecuali mycobakteria. Menetesi dengan methylen blue, mendiamkan selama 20-30 detik kemudian mencuci dengan menggunakan aquades mengalir, mengeringkan dan mengamati dibawah mikroskop. Fungsi methylen blue pada pratikum kali ini hanya untuk larutan yang memberikan background atau warna biru pada pewarnaan BTA. Berdasarkan hasil pengamatan, maka sampel yang diperoleh adalah pada kelompok 1 negatif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum. Didapatkan hasil negatif karena pada saat pembersihan menggunakan aquadest, semua bakteri hilang oleh aquadest. Dan dibandingkan pada literatur terdapat bintik-bintik berwarna biru sehingga orang tersebut tidak mengidap penyakit TBC.

Sampel kelompok 2 positif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum. Hasilnya positif karena pada saat pencucian karbolfuchsin 0,3% dengan alkohol asam 3 % bakteri tetap ada, karena bakteri Mycobacterium tuberculose adalah bakteri tahan asam. Dan dibandingkan pada literatur terdapat basil berwarna merah sehingga orang tersebut mengidap penyakit TBC. Sanpel kelompok 3 positif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum. Didapatkan hasil positif karena setelah dicuci dengan alkohol asam bakterinya tetap ada, karena bakteri Mycobacterium tuberculose adalah bakteri tahan asam. Dan dibandingkan pada literatur terdapat basil berwarna merah sehingga orang tersebut mengidap penyakit TBC. Sampel kelompok 4 negatif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum. Hasilnya negatif karena bakterinya terbawa oleh aquadest pada saat pencucian, dan yang terlihat pada mikroskop hanya warna background atau warna biru. Dan dibandingkan pada literatur terdapat bintik-bintik berwarna biru sehingga orang tersebut tidak mengidap penyakit TBC. Sampel kelompok 5 positif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum, hasilnya positif karena setelah karbolfuchsin dicuci dengan alcohol asam bakterinya tidak hilang, karena alkohol asam hanya menghilangkan warna pada bakteri atau hanya mengluruhkan karbolfuchsin. Dan dibandingkan pada literatur terdapat basil berwarna merah sehingga orang tersebut mengidap penyakit TBC. Sampel kelompok 6 positif adanya Mycobacterium tuberculosis pada sampel sputum. Hasilnya positif karena bakteri Mycobacterium tuberculose tetap ada karena meskipun dicuci dengan alkohol asam bakteri tetap ada, karena bakteri Mycobacterium tuberculose adalah bakteri tahan asam. Dan dibandingkan pada literatur terdapat basil berwarna merah, sehingga orang tersebut mengidap penyakit TBC. Percobaan yang dilakukan menunjukkan hasil pada sampel 1 dan 4 hanya terdapat warna biru yang menunjukkan tidak adanya bakteri, sedangkan pada sampel 2, 3, 5 dan 6 terdapat beberapa bentuk bakteri yang ditandai warna merah

yang tidak hilang ketika dicuci dengan alkohol asam. Hal ini sesuai dengan literatur yaitu sesuai pewarnaan Ziehl-Neelsen akan menampakkan bakteri tahan asam yang berwarna merah dengan latar berwarna biru. Bakteri tahan asam akan mempertahankan warna pertama yang diberikan. Hasil yang didapat adalah terdapatnya bakteri tahan asam. Cara pencegahan penyakit TBC yaitu konsumsi makanan bergizi, dengan asupan makanan bergizi, daya tahan tubuh akan meningkat. Produksi leukosit pun tidak akan mengalami gangguan, hingga siap melawan bakteri TBC yang kemungkinan terhirup. Bisa juga dangan Vaksinasi, dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah putih menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri TBC.

BAB V PENUTUP
5 6 6.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:

1. Pewarnaan BTA dapat dilakukan dengan cara pewarna Ziehl-Neelson yaitu dengan menggunakan larutan karbolfuchsin 0,3%, alkohol asam 3% , dan methylen blue. 2. Hasil yang diperoleh saat pratikum yaitu sampel 2, 3, 5 dan 6 positif Mycobacterium Mycobacterium 2.2 Saran Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek. tuberculosis tuberculosis. sedangkan Dengan sampel 1 dan 4 negatif diuji demikian sputum yang

merupakan sputum orang yang terkena TBC.

DAFTAR PUSTAKA
B. sandjaja. 1992. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Dolin, J.P., 1994. Global Tuberculosis Incidence and Mortality During 1990-2000. Bulletin of World Health Organization. 72(2): 213-220 Dwidjoseputro. 1989. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan, Malang. Fireman E (2003). Induced sputum as a diagnostic tactic in pulmonary diseases. IMAJ;5:524-7. Garay SM (2004). Pulmonary tuberculosis. In: Rom WN, Garay SM eds. Tuberculosis, 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia:345-94. (http://www.fabcats.org/info-veterinary.htmt). diakses pada tanggal 14 april

2013 pukul 16.00 Kurniawati, et al., 2005. Perbandingan Tan Thiam Hok, Ziehl Neelsen, dan fluorokrom sebagai Metode Pewarnaan Basil Tahan Asam untuk Pemeriksaan Mikroskopis Sputum. Makara Kesehatan. Vol 9, June 2005 : 2933. (http://qi206 .wordpress.Com/2008/10/17/mikroba/pewarnaan). Diakses pada tanggal 14 april 2013 pukul 15.50 Lay, B. W. (1994). Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga Grafindo Persada. Mudihardi. 2005. Analisis Praktikum Mikrobiologi Umum untuk Perguruan Tinggi. UGM Press, Yogyakarta. Pelczar, M. J., E. C. S. Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. UI Press, Jakarta. Pelczar, M. J. And E. C. S. Chan. 1986. Elements of Mycrobiology. New York : Mc grow-Hill Book Company. Pratiwi. 2008. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan Yang Sederajat. Citra Aditya Bakti, Bandung. Reviglione, M. C., Snider Jr., D. E. and Kochi, A., 1995. Global Epidemiology og Tuberculosis: Morbidity and Mortality of a Worldwide Epidemixc. (http://www.who.int/gtb/publication/index.html). diakses tanggal 20 Juli 2011 pukul 18.00. Sari, Y.S. 2004. Penyakit Infeksius yang menular Melalui Udara pada Orangutan (Pongo pygmaeus). Karya Tulis. FKH-IPB. Bogor. Syahrurachman. 1994. Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM. Thomas, Dormandy. 1999. The White Death: A History of Tuberculosis. (http://qi206 .wordpress.Com/2008/10/17/mikroba/pewarnaan). Diakses pada tanggal 25 oktober 2012 pukul 22.00 Toman K. 2004. Tomans Tuberculosis Case detection, treatment, and monitoring questions and answers World Health Organization. (http://www.uic.edu/pharmacy/courses/pmpr342/kanyok/t.htm). diakses pada tanggal 2 april 2003 pukul 13.00 Widman, 1994. Mikrobiologi Pangan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

LEMBAR ASISTENSI

Nama NIM Kelompok Kelas

: Aulia Rakhman : N 201 12 018 : 1 (Satu) :B

Asisten: Ahmad Tarmisi No . Hari/tanggal Koreksi paraf

Anda mungkin juga menyukai