Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT

UJI KUALITAS MAKANAN

Di susun oleh : Nama NIM Kelompok : Aulia Rakhman : N 201 12 018 :1

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengolahan dan pengawetan bahan makanan memiliki interelasi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju maupun berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi. Seiring dengan kemajuan teknologi, manusia terus melakukan perubahan-perubahan dalam hal pengolahan bahan makanan. Hal ini wajar sebab dengan semakin berkembanganya teknologi kehidupan manusia semakin hari semakin sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan pengolahan bahan makanan yang hanya mengandalkan bahan mentah yang kemudian diolah didapur. Dalam keadaan demikian, makanan cepat saji (instan) yang telah diolah dipabrik atau telah diawetkan banyak manfaatnya bagi masyarakat itu sendiri. Permasalahan atau pertanyaan yang timbul kemudian adalah pakah proses pengawetan, bahan pengawet yang ditambahkan atau produk pangan yang dihasilkan aman dikonsumsi manusia. Banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi dimasyarakat saat ini mengindikasikan adanya kesalahan yang dilakukan masyarakat ataupun makanan dalam mengolah dan mengawetkan bahan makanan yang dikonsumsi. Problematika mendasar pengolahan makanan yang dilakukan masyarakat lebih disebabkan budaya pengolahan pangan yang kurang berorientasi terhadap nilai gizi, serta keterbatasan pengetahuan sekaligus desakan ekonomi sehingga masalah pemenuhan dan pengolahan bahan pangan terabaikan, industri makanan sebagai pelaku penyedia produk makanan seringkali melakukan tindakan yang tidak terpuji dan hanya berorientasi profit oriented dalam menyediakan berbagai produk di pasar.

Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakangi praktek ini adalah untuk mengetahui kualitas makanan dari berbagai tempat dan mendeteksi adanya bakteri gram positif dan bakteri gram negatif pada sampel makanan dari berbagai tempat. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dilaksanakan pratikum uji kualitas makanan ini adalah : 1. Untuk mengetahui teknik uji kualitas makanan. 2. Untuk mendeteksi adanya bakteri gram positif dan bakteri gram negatif pada sampel makanan dengan menggunakan metode MPN. 2.3 Manfaat Adapun manfaat sehingga dilaksanakan pratikum uji kualitas makanan ini yang dihubungkan dengan kesehatan yaitu dapat mengetahui kualitas makanan dari berbagai tempat yang nantinya agar lebih berhati-hati mengkonsumsi makanan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Makanan adalah hasil dari proses pengolahan suatu bahan pangan yang dapat diperoleh dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan adanya teknologi (Pakadang, 2010). Makanan dalam ilmu kesehatan adalah setiap substrat yang dapat dipergunakan untuk proses di dalam tubuh. Terutama untuk membangun dan memperoleh tenaga bagi kesehatan sel tubuh (Sukarto, 2007.). Kualitas pada makanan adalah sesuatu yang sangat relatif dan beragam antara orang yang satu dengan yang lain. Pada waktu tertentu, seseorang menilai sebuah makanan sangat kenyal namun pada saat yang lain, mungkin menilai makanan tersebut kurang atau tidak kenyal walaupun makanan tersebut terbuat dari bahan dan cara yang sama (Hartoko, 2007). Makanan adalah sesuatu yang dapat dimakan dan berguna bagi tubuh. Fungsi makanan antara lain sebagai sumber/penghasil energi, sebagai pembangun tubuh, sebagai pelindung, sebagai pertahanan tubuh, menjaga tubuh dari kondisi stress, meningkatkan intelegensi dan memelihara fungsi reproduksi. Makanan yang dikonsumsi terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Zat makanan dapat dibagi menjadi 2 yaitu zat makanan makro (makronutrien) dan zat makanan mikro (mikronutrien). Yang termasuk makronutrien yaitu karbohidrat, lemak, protein, sedang yang termasuk mikronutrien yaitu mineral dan vitamin. Air termasuk dalam proses metabolisme zat makanan, air selalu diperlukan sebagai bahan esensial pemrosesan makanan di dalam tubuh (Windy, 2009). Saat ini aneka jenis makanan yang berkembang semakin beragam, begitu juga dengan biskuit. Saat ini banyak biskuit yang beredar di pasaran dengan berbagai bentuk dan rasa yang bermacam-macam. Namun, tidak semua biskuit yang beredar

dipasaran memenuhi standar SNI yang ditetapkan sehingga berbahaya bagi kesehatan konsumen. Hal ini dapat terjadi karena biskuit telah terkontaminasi oleh cemaran fisik, kimia, maupun mikroba (Hartoko, 2007). Hampir semua bahan makanan tercemar oleh berbagai mikroorganisme dari lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis mikroba yang terdapat pada bahan makanan adalah Salmonella, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, kapang, khamir serta mikroba pathogen lainnya. Mikroba mempunyai batasan tertentu dalam bahan makanan yang berpengaruh terhadap ketahanan bahan makanan. Kondisi lingkungan juga mempengaruhi mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat (Sukarto, 2008). Makanan juga dapat menyebabkan penularan penyakit yang ringan dan berat, bahkan berakibat kematian diantaranya diakibatkan oleh belum baiknya penerapan higiene makanan dan sanitasi lingkungan. Besarnya dampak terhadap kesehatan belum diketahui karena hanya sebagian kecil dari kasus-kasus yang akhirnya dilaporkan ke pelayanan kesehatan dan jauh lebih sedikit lagi yang diselidiki (Sukarto, 2008). Bahan makanan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk tumbuhnya mikroorganisme yang bersifat pathogenik terhadap manusia. Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tipes, kolera, disentri, TBC, poliomilitis dengan mudah disebarkan melalui bahan makanan. Akhir-akhir ini terjadi peningkatan gangguan saluran pencernaan akibat keracunan bahan makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogenik yang termakan bersama bahan makanan yang tercemar (Hartoko, 2007). Pengujian mutu suatu bahan makanan diperlukan berbagai uji yang mencakup uji fisik, uji kimia, uji mikrobiologi, dan uji organoleptik. Uji mikrobiologi merupakan salah satu uji yang penting, karena selain dapat menduga daya tahan simpan suatu makanan, juga dapat digunakan sebagai indikator sanitasi makanan atau indikator keamanan makanan. Pengujian mikrobiologi diantaranya meliputi uji kualitatif untuk menetukan mutu dan daya tahan suatu makanan, uji kuantitatif bakteri pathogen untuk menentukan tingkat keamanannya, dan uji bakteri indikator untuk mengetahui tingkat sanitasi makanan tersebut (Fardiaz, 1993). Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan makanan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan,

uji kualitatif bakteri pathogen untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap bahan makanan tidak sama tergantung berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan makanan, cara pengepakan dan penyimpanan serta komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya (Dirjen POM, 1979). Mikroba yang terkandung dalam makanan bisa menyebabkan terjadinya kerusakan mikrobiologis pada makanan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bahan makanan untuk dikonsumsi oleh masyarakat, perlu dilakukan pengujian mikroba yang terkandung dalam makanan tersebut, salah satu cara tersebut adalah dengan analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan makanan (Buckle, 1987). Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber-sumber pencemar mikroba, seperti tanah, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia atau hewan. Dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut. Akan tetapi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat maka bahan pangan akan rusak karenanya (Dwidjoseputro, 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah zat makanan, pH, air, oksigen, dan senyawa penghambat pertumbuhan (Fardiaz, 1992). Selain zat makanan, suhu, pH dan aktifitas air, pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh waktu, potensial reduksi oksidiasi (redoks), struktur biologi dan faktor pengolahan (Buckle, 1987). Komponen kimiawi dan bahan makanan dapat ikut menentukan jenis mikroorganisme yang dominan di dalam bahan makanan tersebut. Komponen kimiawi tersebut sangat menentukan jumlah zat-zat gizi yang paling penting untuk perkembangan mikroorganisme (Buckle, 1987). Suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dengan dua cara yang berlawanan yaitu yang pertama apabila suhu mengalami kenaikan sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat sedangkan bila

suhu turun sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme akan menurun dan pertumbuhan juga diperlambat. Setiap penurunan suhu 8C akan membuat kecepatan reaksi berkurang menjadi setengahnya. Kedua bila suhu naik hingga diatas suhu maksimal atau turun dibawah suhu minimal, maka pertumbuhan mungkin akan terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan sel-sel mengalami kematian (Winarno, 2002). Jumlah air yang terkandung didalam bahan makanan atau larutan disebut sebagai aktivitas air (water activity). Jenis mikroorganisme yang berbeda membutuhkan jumlah air yang berbeda pula untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya memerlukan media yang memiliki nilai aw tinggi (0,91), khamir membutuhkan nilai 0,87-0,91 sedangkan kapang membutuhkan nilai yang lebih rendah lagi, yaitu 0,80-0,87 (Dwidjoseputro, 2000). Masing-masing organisme membutuhkan jumlah oksigen yang berbeda untuk metabolismenya. Ada organisme yang tidak membutuhkan oksigen sama sekali untuk pertumbuhannya (anaerob), ada yang membutuhkan sedikit oksigen (mikroaerofil) dan ada yang dapat tumbuh dan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang cukup oksigen maupun tidak ada oksigen sama sekali (anaerob fakultatif) (Widodo, 2004). Pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh senyawa-senyawa dalam bahan makanan yang bersifat antimikroba yang secara ilmiah ada didalam bahan makanan tersebut maupun yang sengaja ditambahkan seperti asam benzoat dan asam sorbet (Dwidjoseputro, 2005). Perbedaan dalam sifat-sifat sel suatu organisme dan mekanisme pertumbuhannya menyebabkan perbedaan dalam kecepatan pertumbuhan. Umumnya semakin komplek dalam sifat-sifat sel suatu organisme, maka waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk membelah semakin lama. Bakteri membelah lebih cepat dari pada khamir, sedangkan khamir lebih cepat dari pada kapang. Bakteri membelah secara cepat dan tumbuh maksiimal dalam waktu 45 menit, khamir baru membelah dengan cepat dalam waktu 90 menit, kemudian kapang membelah dalam waktu 180 menit (Fardiaz, 1992). Struktur biologi seperti kulit dan kulit pada telur, kulit kacang-kacangan dan kulit buah berperan mencegah masuknya mikroba ke dalam bahan pangan tersebut. Mikroba spesifik yang terdapat di dalam bahan pangan dapat dikurangi jumlahnya oleh berbagai jenis metode pengolahan atau pengawetan pangan. Jenis-jenis pengolahan atau

pengawetan pangan yang berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, antara lain suhu tinggi, suhu rendah, penambahan bahan pengawet dan irradiasi (Harmita dkk., 2006). Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan pangan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan, uji kualitatif bakteri pathogen untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap bahan pangan tidak sama tergantung berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan pangan, cara pengepakan dan penyimpanan serta komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya (Harmita dkk., 2010). Mikroba yang terkandung dalam makanan bisa menyebabkan terjadinya kerusakan mikrobiologis pada makanan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bahan makanan untuk dikonsumsi oleh masyarakat, perlu dilakukan pengujian mikroba yang terkandung dalam makanan tersebut, salah satu cara tersebut adalah dengan analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan (Frank, 1991).

BAB III METODOLOGI


2 3 3.1 Waktu dan tempat Adapun waktu dan tempat dilaksanakan pratikum uji kualitas makanan ini yaitu : Hari/Tanggal Waktu Tempat 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada pratikum uji kualitas makanan ini yaitu : 3.2.1 Alat 1. Bunsen 2. Cawan petri 3. Pinset 4. Inkubator : Sabtu, 11 Mei 2013. : 10.00 WITA Selesai. : Laboratorium Terpadu FKIK UNTAD.

5. Tabung reaksi 6. Rak tabung 6..22 Bahan 1. Larutan NaCl Fisiologis 2. Media McConcey 3. Alkohol 70% 4. Sampel makanan : a. Makanan sekitar kampus b. Makanan sekitar pasar X c. Makanan bandara mutiara ratu 5. Spritus 6. Label 7. Korek api 8. Kertas 9. Kapas 10. Lidi kapas steril 10.3 Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja pada saat melakukan pratikum uji kualitas makanan ini adalah: 3.3.1 Pengujian Menggunakan Medium NaCl Fisiologis 1. Menyalakan bunsen menggunakan korek api. 2. Menfiksasi ujung pinset dengan menggunakan api bunsen.

3. Mengambil sedikit dari setiap sampel makanan yang telah disediakan dengan menggunakan pinset. 4. Menfiksasi mulut tabung medium NaCl fisiologis dan memasukkan sampel makanan kedalam medium NaCl fisiologis dengan menggunakan pinset. 5. Menfiksasi kembali mulut medium NaCl dengan menggunakan api bunsen dan menutup mulut tabung dengan menggunakan kapas. 6. Memberikan label ke semua tabung. 7. Menginkubasi seluruh tabung tersebut pada suhu 31,4 oC selama 24 jam. 8. Mengamati adanya gelembung udara di dalam tabung dan mencatat kode tabung yang positif mengeluarkan gas. 3.3.2 Pengujian Menggunakan Medium McConcey 1. 2. Mengambil sampel dari medium NaCl fisiologis yang memiliki hasil positif dengan menggunakan lidi kapas steril. Membuka tutup cawan petri yang berisi medium McConcey dan memasukkan sampel kedalam medium dengan menggunakan metode quadran. 3. Menutup sampel dengan menggunakan kertas sampai tertutup seluruhnya bagian dari cawan petri. 4. 5. Menginkubasi medium McConcey pada suhu 31,4 oC selama 24 jam. Mengamati apa yang terjadi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


1. 2. 3. 4. 4.1. Hasil Pengamatan 4.1.1. Tabel pengamatan uji pendugaan menggunakan larutan NaCl Fisiologi N o 1 Kelompok I dan II Sampel Makanan Bandara Hasil Negatif Keterangan Terdapat gelembung, berubah warna dan lanjut kemedia McConcey -

III dan IV

Makanan sekitar pasar X

Positif

V dan VI

Makanan sekitar kampus

Negatif

4.1.2. Tabel pengamatan hasil penegasan menggunakan media McConcey No Sampel Gambar Keterangan

Makanan sekitar pasar X

4.2 Pembahasan Uji kualitas makanan adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah didalam sampel makanan yang diujikan mengandung bakteri, baik itu bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif. Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Sumber makanan yang dikonsumsi biasanya dari tumbuhan dan hewani, meskipun bersumber dari sumber dari sumber yang berbeda, tapi makanan yang harus dikonsumsi manusia itu setidaknya sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh. Makanan yang dikonsumsi manusia biasanya mengandung nutrisi yang diperlukan antara lain untuk pertumbuhan tubuh, memelihara jaringan tubuh yang rusak, berkembang biak, untuk proses yang terjadi di dalam tubuh menghasilkan energi untuk dapat melakukan aktivitas. Dalam praktikum kali ini akan dilakukan uji kualitas makanan dari beberapa sampel makanan. Adapun medium yang digunakan yaitu medium NaCl fisiologis dan medium McConcey. Fungsi dari larutan NaCl fisiologis yaitu dapat mempercepat proses metabolisme serta pertumbuhan fisiologis dari bakteri yang

terdapat pada sampel. Kandungan NaCL fisiologis adalah Natrium Klorida 9,0 gram dengan osmolalitas mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl 154 mEq/l. Medium McConcey berfungsi untuk menentukan bahwa bakteri yang ada pada sampel makanan merupakan bakteri gram negatif. Kandungan medium McConcey adalah 17 gram/L Pancreatic Digest of Gelatin, 10/L Lactose, 13,5/L Agar, 1,5/L Pancreatic Digest of Casein, 1/L Crystal Violet, 1,5/L Peptic Digest of Animal Tissue, 5/L Sodium Chloride, 30 mg/L Neutral Red, 1,5/L Bile Salt Mixture. Medium Blood Agar berfungsi menentukan bakteri yang ada pada sampel makanan merupakan bakteri gram positif. Kandungan medium Blood Agar yaitu media basal seperti TSA diperkaya dengan 5% darah domba defibrinated dan darah kuda. Dalam pratikum ini, tidak menggunakan medium Blood Agar karena sudah terkontaminasi dengan bakteri. Dalam praktikum kali ini dilakukan dua langkah, yang pertama adalah uji pada medium NaCl fisiologis dan kemudian dilanjutkan dengan uji pada medium McConcey. Langkah pertama yang dilakukan adalah uji pada medium NaCl fisiologis. Hal pertama yang dilakukan dalam uji pada medium NaCl fisiologis yaitu membersihkan tangan menggunakan alkohol 70%, hal ini bertujuan untuk membebaskan tangan dari bakteri dan mikroorganisme yang ada pada tangan sebelumnya. Kemudian mengambil sampel dari setiap makanan yang akan di uji antara lain yaitu makanan dari bandara, makanan sekitar pasar X, dan makanan sekitar kampus dengan menggunakan pinset. Sebelum mengambil sampel makanan, ujung pinset difiksasi terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mensterilkan ujung pinset dari mikroorganisme. Setelah mengambil sampel, kemudian setiap sampel dimasukkan kedalam larutan NaCl fisiologis dengan menggunakan pinset. Sebelum memasukkan sampel mulut tabung dari larutan NaCl fisiologis terlebih dahulu difiksasi, hal ini bertujuan untuk mencegah mikroorganisme dari luar masuk kedalam medium. Setelah menfiksasi mulut tabung barulah dimasukkan sampel makanan yang akan diuji kualitasnya. Setelah memasukkan sampel makanan mulut tabung dari larutan NaCl fisiologis difiksasi

kembali. Setelah memasukkan sampel makanan kedalam larutan NaCl fisiologis, kemudian semua sampel diinkubasi selama 24 jam dengan suhu tetap 31,4 oC. Setelah melakukan uji pada medium NaCl fisiologis kemudian dilanjutkan dengan uji pada medium McConcey. Uji pada medium McConcey dilakukan dengan memindahkan bakteri pada sampel makanan yang memiliki hasil positif kedalam medium McConcey untuk memastikan apakah bakteri yang ada pada makanan tersebut merupakan bakteri gram positif atau bakteri gram negatif. Langkah pertama yang dilakukan sebelum memindahkan sampel yaitu mengambil sampel bakteri dengan menggunakan lidi kapas steril yang dicelupkan pada medium NaCl fisiologis, kemudian memasukkan sampel bakteri kedalam medium McConcey dengan menggunakan metode kuadran. Menggunakan metode kuadran bertujuan untuk mendapatkan hasil biakan murni dari bakteri yang berasal dari sampel makanan yang sebelumnya memiliki hasil positif terdapatnya bakteri pada medium NaCl fisiologis. Setelah memasukkan sampel bakteri, kemudian menginkubasi sampel bakteri selama 24 jam pada suhu tetap 31,4 oC. Pada hasil pengamatan uji dengan menggunakan larutan NaCl fisiologis didapatkan hasil pada sampel makanan bandara hasilnya negatif dengan ditunjukan tidak terdapat adanya bakteri pada sampel makanan tersebut atau gelembung-gelembung pada tabung. Pada sampel makanan sekitar pasar X hasilnya positif dengan ditunjukan adanya gelembung-gelembung yang merupakan sisa respirasi dari bakteri yang terdapat pada sampel makanan tersebut. Pada sampel makanan sekitar kampus hasilnya negatif dtandai dengan tidak adanya gelembung-gelembung atau bakteri ditabung pada sampel makanan tersebut. Pada hasil pengamatan uji dengan medium McConcey sampel bakteri yang berasal dari sampel makanan sekitar pasar X telah dideteksi mengandung bakteri gram negatif. Hal ini ditandai dengan banyaknya koloni bakteri yang tumbuh pada medium McConcey dimana medium ini memiliki fungsi sebagai media

pertumbuhan bakteri gram negatif. Hal ini menandakan bahwa sampel makanan sekitar pasar X tersebut kurang higienis dan mengandung sejumlah bakteri. Sesuai dengan hasil pengamatan, bahwa sampel makanan dari bandara dan sekitar kampus hasilnya negatif atau terbebas dari bakteri, yang dihubungkan dengan kesehatan masyarakat berarti kedua sampel makanan tersebut cukup higenis dan layak untuk dikonsumsi. Tetapi tidak untuk sampel makanan dari pasar X, karena hasilnya positif yang berarti makanan tersebut sudah terkontaminasi dengan jenis bakteri gram negatif dan tidak layak dikonsumsi.

BAB V PENUTUP
5 6 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada teknik uji kualitas makanan menggunakan pengujian medium NaCl fisiologis untuk mendeteksi adanya bakteri pada sampel makanan, pengujian pada medium McConcey untuk mendeteksi bakteri gram negatif pada sampel makanan dan medium Blood Agar untuk mendeteksi bakteri gram positif pada sampel makanan. 2. Berdasarkan hasil pengamatan, sampel makanan dari bandara dan sekitar kampus tidak terdapat bakteri sedangkan pada sampel makanan sekitar pasar, terdapat bakteri yaitu bakteri gram negatif. 2.2 Saran Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek.

DAFTAR PUSTAKA
Buckle. 1987. Fecal bacteria in the rivers of the Seine drainage network (France). Sources, fate and modeling. Universit Libre de Bruxelles. Bruxelles. Di kutip oleh Sasnita Sahabuddin. Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang di Kabupaten Manokwari. 2010. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua. Manokwari. Dirjen POM. 1979. Uji Kualitatif Bakteri Pathogen Untuk Menenetukan Tingkat Keamanan Makanan. Jakarta. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.30 WITA.

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.00 WITA. Fardiaz. 1998. Microbiology,2nd Edition. McGraw-Hill Book. New York. Diakses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.23 WITA. Frank. 1981. Food is an essential factor that determines the quality of human resources. E&F Spon Ltd. London. Di kutip oleh Kamila Hetami. Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan Rekayasa Ggenetika Sebagai Wujud Asas Keterbukaan Informasi. 2009. Program Magister Ilmu Hukum Kajian Hukum Ekonomi dan Teknologi Universitas Diponegoro Semarang. Semarang. Friedheim. 2001. Bacteriological Analytical Manual. John Wiley & Sons Inc. New York. Dikutip oleh Hariyono purbowarsito. Analisi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) Dalam Mengatasi Masalah Gizi Buruk. 2011. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Surabaya. Hartoko. 1996. Analaisis Mikrobiologi Pangan. PT Radja Grafindo Persada. Jakarta. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.00 WITA. Harmita dkk, Juli Soemirat. 2004. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.25 WITA. Pakadang. 2010. Buku Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Depkes Makassar. Makassar. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.11 WITA. Sukarto, 1989. Mikrobiologi Pangan. Dikutip oleh Delima Hasri Azhari. Membangun Kemandirian Pangan Untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional. 2010. Universitas Airlangga. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Airlangga. Surabaya. Widodo. 2004. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Universitas Hasanuddin, Makassar. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.50 WITA. Windy. 2009. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Erlangga. Jakarta. Diakses pada tanggal 13 Mei 2013. Pukul 20.32 WITA. Winarno. 2002. Mikrobiologi Dasar Jilid 1, Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta. Di akses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.20 WITA.

LEMBAR ASISTENSI

Nama

: Aulia Rakhman

NIM Kelompok Kelas

: N 201 12 018 : 1 (Satu) :B

Asisten: Sherlina No . Hari/tanggal Koreksi paraf