Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT

UJI KUALITAS SPERMA

Di susun oleh : Nama NIM Kelompok : Aulia Rakhman : N 201 12 018 :1

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pembentukan sperma (spermatogenesis) dimulai dari pembelahan mitosis sel-sel induk sperma (spermatogonium) beberapa kali hingga dihasilkan lebih banyak spermatogonium. Setengah dari sel-sel spermatogonium tersebut terus melanjutkan pembelahan mitosis, sedangkan setengah yang lain membesar menjadi spermatosit primer. Karena pembentukan spermatosit primer melalui pembelahan mitosis, maka hasilnya memiliki kromosom diploid (2n) sama dengan spermatogoniumnya. Spermatosit primer berikutnya membelah secara meiosis (tahap I) menghasilkan spermatosit sekunder, dengan kondisi kromosom haploid (n). Spermatosit sekunder melanjutkan pembelahan meiosis (tahap II) menghasilkan dua sel yang juga haploid, yang disebut spermatid, sehingga diperoleh 4 spermatid. Sel-sel spermatid akan mengalami diferensiasi (perubahan bentuk) menjadi sel spermatozoa atau sperma. Perubahan itu meliputi pembentukan kepala, badan (bagian tengah), dan ekor (flagella). Peristiwa pembentukan sperma ini disebut dengan spermiogenesis. Denmark memperketat aturan donor sperma setelah ditemukan kondisi genetik langka. Sebanyak 43 bayi mengalami Neurofibromatosis tipe 1, diduga berasal dari lima pria yang menjadi donor sperma bagi ibu mereka. Neurofibromatosis tipe 1 (NF1) menghasilkan tumor yang mempengaruhi sistem saraf dan sperma yang tercemar diperkirakan telah digunakan di 10 negara. Bank sperma telah dikritik karena gagal mendeteksi kondisi tersebut. Denmark memiliki kebijakan liberal soal donor sperma, yang menarik bagi wanita yang ingin hamil menggunakan inseminasi buatan. Dengan aturan baru ini nantinya satu orang donor hanya akan diperbolehkan untuk menyumbangkan maksimal untuk 12 inseminasi.

Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakangi praktek ini adalah untuk mengetahui apakah kualitas sperma yang dihasilkan baik atau buruk dengan melihat 1.2 Tujuan Adapun tujuan sehingga dilaksanakan percobaan ini adalah : 1. Untuk mengetahui teknik Uji Kualitas Sperma. 2. Untuk mengetahui kualitas sperma yang diujikan. 2.3 Manfaat Adapun manfaat sehingga dilaksanakan percobaan ini yang dihubungkan dengan kesehatan yaitu untuk mengetahui kualitas sperma baik atau buruk yang nantinya kita bisa mensosialisasikan kepada masyarakat yang laki-laki, cara-cara menjaga kualitas sperma yang baik. struktur dan bentuk morfologi dari sperma yang terdapat kelainan-kelainan dari sperma tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Uji kualitas sperma adalah pemeriksaan untuk menilai ciri dan mutu spermatozoa dalam air mani, agar dapat dinilai apakah terdapat ketidaknormalan yang dapat mengganggu kesuburan dan menghambat terjadinya pembuahan (The Fertility Institute, 2009). Sperma yang kurang baik tidak akan mampu membuahi sel telur yang letaknya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kualitas dan kuantitas sperma (Praptomo, 2011). Analisis sperma meliputi volume, konsentrasi, motilitas, dan morfologi. Volume sperma yang normal pada sekali ejakulasi saja minimal adalah 2 ml. Jika kurang dari jumlah tersebut, maka disebut aspermia yang berarti tidak ada semen. Konsentrasi sperma pada ejakulat yang normal paling sedikit adalah 20 juta/ml. Bila kurang, disebut oligozoospermia. Atau jika sperma tidak ditemukan sama sekali pada cairan ejakulat, disebut azoospermia. Motilitas sel sperma yang normal, baik yang lemah dan yang cepat adalah lebih dari 50%, atau >25% sel sperma yang bergerak cepat, jika kurang, disebut asthenozoospermia. Pada morfologi yang normal tidak didapatkan kelainan bentuk. Namun jika bentuk normal dijumpai kurang dari 15%, maka termasuk teratozoospermia. Uji-uji lain selain analisis sperma adalah Uji MAR yaitu untuk menguji adanya penyakit autoimun dimana didapatkan antibodi antisperma. Uji lain adalah uji viabilitas sperma, penghitungan leukosit, kultur bakteri, uji Chlamidya PCR, dan interaksi sperma dengan lendir serviks (Praptomo, 2011). Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot

adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio (Ambercrombie, 1999). Pembentukan sel sperma terjadi di dalam testis atau buah zakar. Sperma atau spermatogonium yang bersifat diploid. Selanjutnya, spermatogonium membelah secara mitosis menghasilkan spermatozoid primer yang juga bersifat diploid. Selanjutnya, spermatozoid primer membelah reduksi (meiosis) menghasilkan spermatozoid sekunder yang haploid. Setelah itu spermatozoid sekunder membelah menghaslkan spermatid yaitu calon sperma yang belum mempunyai ekor. Sperma berkembang menjadi spermatozoa yang telah dilengkapi ekor. Setiap spermatozoa terdiri atas bagian ujung yang disebut dengan kepala. Pucuk kepala ini mengandung akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang berperan untuk menembus lapisan pelindung sel telur. Bagian tengahnya banyak mengandung (Setya, 2004). Sperma ada dua macam yaitu sperma tak berflagellum dan sperma. Sperma tak berflagellum jarang terdapat. Hanya pada beberapa avertebrata (Nematoda dan Crustacea). Sperma yang berflagellumlah umumnya terdapat pada hewan. Flagellum itu ada yang satu (umum) dan ada yang dua (Yatim, 1994). Sperma mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah. Kekurangan vitamin E menyebabkan sperma tak bertenaga melakukan penbuahan. Terlalu rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan membuahi. Pada mamalia skrotum memiliki suhu lebih rendah dari suhu tubuh. Jika testis tetap berada dalam rongga tubuh (abdomen) pada umumnya menyebabkan sperma rusak atau tidak dapat melakukan pembuahan. Suhu skrotum 1-8C lebih rendah dari suhu tubuh, namun ada juga mamalia yang testisnya bukan dalam skrotum khusus tapi dalam rongga terpisah dari rongga abdomen. Ini pun telah menurunkan sedikit suhu testis di bandingkan suhu tubuh (Ambercrombie, 1999). Ketika masih dalam tubulus seminiferus sperma tak bergerak. Secara berangsur dalam duktus epididimis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan sperma dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit, karena itu disebut bersama vas deferens. Duktus epididimis berfungsi sebagai daerah pematangan fisiologis sperma. Dalam duktus ini sperma disimpan berhari-hari sampai

berbulan-bulan. Sifat sperma menentukan juga kemandulan seseorang pria. Kalau gerakan terlalu lambat, lamban atau gerakan itu tidak menentukan arah, maka pembuahan sulit berlangsung. Ada batas waktu menunggu bagi ovum untuk dapat di buahi. Kalau terlambat sperma datang tak subur lagi (Yatim, 1994). Menurut Campbell (2006), tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu : 1. Spermatocytogenesis Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak yaitu spermatosit sekunder. 2. Tahapan Meiois Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II. Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesama lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap. 3. Tahapan Spermiogenesis Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita X. Apabila salah satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari:

a. Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang mengandung enzim hialuronidase yang mempermudah fertilisasi ovum. b. Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan. c. Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang dibutuhkan untuk motilitas. d. Ekor (cauda), berfungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke dalam vas defern dan ductus ejakulotorius. Seorang laki-laki umumnya mengejakulasi kurang lebih 2 sampai 5 mililiter semen dan tiap milliliter mengandung sekitar 50 sampai 130 juta sperma. Saat telah berada dalam saluran reproduksi wanita, prostaglandin dalam semen mengencerkan mucus pada pembukaan uterus dan merangsang kontraksi otot uterus yang membantu menggerakkan semen masuk ke dalam uterus. Semen berkoagulasi sehingga memudahkan kontraksi uterus untuk menggerakkannya. Antikoagulan mencairkan semen dan sperma mulai berenang melalui saluran wanita (Campbell, 2006). Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum. Sperma dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut spermatogonia. Spermatogonia yang bersifat diploid ini dapat membelah diri secara mitosis membentuk spermatogonia atau dapat berubah menjadi spermatosit. Meiosis dari setiap spermatosit menghasilkan empat sel haploid yaitu spermatid. Spermatid ini dalam proses tersebut, kemudian kehilangan banyak sitoplasma dan berkembang menjadi sperma (Kimball, 1994). Menurut Lutjen (2001) kelainan pada sperma dapat terbagi menjadi tiga yaitu: 1. Oligospermia : jumlah sperma lebih kecil dari normal, normalnya jumlah sperma adalah lebih dari 40 juta/ ejakulasi 2. Asthenozoospermia : motilitas sperma kurang dari normal, motilitas sperma yang normal menurut World Health Orgaization (WHO) adalah lebih dari 50% 3. Teratozoozpermia : sperma normal kurang dari 14% Pergerakan sperma atau sperm motility mempelajari jumlah sperma yang bergerak dan terlihat dalam spesimen ejakulat. Motilitas sperma adalah salah satu

fungsi sperma yang tergantung pada suhu, sehingga setiap perlakuan yang dilakukan dalam analisis kualitas sperma sangat penting untuk diperhatikan. Sehingga sangat disarankan untuk melakukan analisis sesegera mungkin setelah sperma dikeluarkan atau proses pengeluaran dilakukan di dalam laboratorium dimana dapat diatur kondisinya. Sperma diketahui tidak akan dapat hidup dalam jangka waktu yang lama dalam semen, dan di luar semen, sperma akan secara cepat meninggalkan semen untuk memasuki mukus serviks. Motilitas normal sperma yaitu sebesar 60% atau lebih. Namun ada pula yang menganggap bahwa nilai motilitas sperma sebesar 40% masih dianggap normal (Lutjen, 2001). Beberapa kelainan yang berkaitan dengan motilitas sperma antara lain asthenozoospermia dan necrozoospermia. Asthenozoospermia adalah penurunan motilitas sperma. Jika ditemukan, maka dapat diakibatkan oleh adanya kondisi laboratorium yang tidak mendukung, adanya abnormalitas spermatogenesis, masalah dalam maturasi sperma dalam epididimis, abnormalitas transport, dan adanya varicocele., sedangkan necrozoospermia adalah tidak adanya gerakan sperma sama sekali. Namun, pada dasarnya sperma yang mengalami necrozoospermia termasuk sperma yang normal dalam hal materi genetiknya (Lutjen, 2001).

BAB III METODOLOGI


2 3 3.1 Waktu dan tempat Adapun waktu dan tempat pada saat melakukan percobaan ini yaitu : Hari/Tanggal Waktu Tempat 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu : 3.2.1 Alat 1. Mikroskop 2. Cawan Petri 3. Gelas Ukur 4. Tabung Reaksi 5. Rak Tabung Reaksi 6. Objek Glass 7. Deck Glass 8. Pipet Tetes 9. Mistar 10. Handsprayer : Sabtu, 1 Juni 2013. : 10.00 WITA selesai. :Laboratorium Terpadu FKIK UNTAD.

10..22 Bahan 1. Sampel Sperma 2. Larutan NaCl Fisiologis 3. Aqua Gelas Bekas 4. Lidi Steril 5. Tissu 6. Alkohol 70% 7. Masker 7.3 Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja pada saat melakukan percobaan ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Memakai handskun dan masker Mensterilkan alat dan tangan dengan menggunakan alkohol 70 % Mengambil sampel sperma dan memasukkannya ke dalam gelas ukur untuk mengukur volume sperma tersebut. Meratakan sperma dengan lidi steril Mengangkat sperma dengan menggunakan lidi steril dan mengukur viskositasnya menggunakan mistar. Mengamati warna dan bau sperma Meletakkan sperma ke dalam Objek Glass menggunakan pipet tetes dan meneteskan dengan larutan NaCl fisiologi secukupnya Menutupnya dengan Deck Glass. Mengamati di bawah mikroskop.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


1. 2. 3. 4. 4.1. Hasil Pengamatan Adapun hasil Pengamatan yang diperoleh pada saat melakukan percobaan ini yaitu : No Sampel Gambar Volume Warna Bau

2 mL

Khas (putih kekuningan)

Tidak Menyengat

II

3 mL

Bening

Tidak Menyengat

III

3 mL

Khas (putih kekuningan)

Menyengat

IV

1,4 mL

Khas (putih kekuningan)

Tidak Menyengat

1,6 mL

Khas (putih kekuningan)

Menyengat

No 1

Sampel I

Viskositas 4 cm

Motilitas Bergerak cepat dan

Bentuk Normal

Ket Normal

lurus Tidak ada 2 II 0 cm ditemukan sperma Gerak sperma 3 III 3 cm lambat dan tidak lurus Terdapat sedikit sperma, 4 IV 0 cm sperma mati, kurang dari 2 ml sekali ejakulasi Banyak sperma yang 5 V 0 cm mati, kurang dari 2 ml sekali ejakulasi Abnormal 1. Aspermia 2. Dyspermia 3. Necrospermia Abnormal 1. Oligoterato zoospermia 2. Necrospermia 3. Aspermia Normal Dyspermia Abnormal Azoospermia

3.2 Pembahasan Uji kualitas sperma adalah pemeriksaan untuk menilai ciri dan mutu spermatozoa dalam air mani, agar dapat dinilai apakah terdapat ketidaknormalan yang dapat mengganggu kesuburan dan menghambat terjadinya pembuahan. Percobaan yang telah dilakukan pada uji kualitas sperma ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah pertama menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, lalu mengambil sperma dan memasukkannya ke dalam gelas aqua bekas yang telah dibersihkan, lalu memasukkan sampel ke dalam cawan petri, mengukur viskositasnya dengan mengangkat sampel menggunakan lidi streril,

mengukur viskositasnya dengan menggunakan mistar, kemudian memasukkan sampel secukupnya ke Objek Glass dengan menggunakan pipet tetes, meneteskan NaCl fisiologis secukupnya ke dalam sampel, lalu menutupnya dengan menggunakan Deck Glass. NaCl fisiologis berfungsi sebagai penambah energi bagi sperma agar tidak cepat mati dan mengamati hasilnya di bawah mikroskop. Berdasarkan hasil pengamatan, pada sampel I kualitas spermanya normal dan baik karena volumenya 2 ml, warnanya khas (putih kekuningan), baunya tidak menyengat, viskositasnya 4 cm, moltilitasnya bergerak cepat dan lurus, bentuknya normal. Jadi dari ciri-ciri diatas, sampel sperma tersebut normal. Pada sampel II kualitas spermanya tidak normal atau kurang baik karena volumenya 3 ml, warnanya bening, baunya tidak menyengat, viskositasnya tidak ada karena sperma cair, dan bentuknya abnormal. Jadi dari ciri-ciri diatas, sampel sperma mengalami kelainan Azoospermia. Azoospermia adalah keadaan dimana setiap ejakulasi tidak terdapat sperma. Pada sampel III kualitas spermanya tidak normal atau kurang baik karena volumenya 3 ml, warnanya khas (putih kekuningan), baunya menyengat, viskositasnya 3 cm, dan bentuknya normal. Jadi dari ciri-ciri diatas, sampel sperma mengalami kelainan Dyspermia. Dyspermia adalah keadaan dimana motilitas atau pergerakan spermanya tidak normal. Pada sampel IV kualitas spermanya tidak normal atau kurang baik karena volumenya 1,4 ml, warnanya khas (putih kekuningan), baunya tidak menyengat, viskositasnya tidak ada karena sperma cair, dan bentuknya abnormal. Jadi dari ciri-ciri diatas, sampel sperma mengalami kelainan Oligoteratozoospermia, Nicrospermia dan Aspermia. Oligoteratozoospermia adalah keadaan dimana sperma yang dihasilkan sedikit (kurang dari 10.000.000 sel sperma). Nicrospermia adalah keadaan dimana banyak sperma yang mati. Aspermia adalah keadaan dimana sperma yang dihasilkan kurang dari 2 ml pada sekali ejakulasi. Pada sampel V kualitas spermanya tidak normal atau kurang baik karena volumenya 1,6 ml, warnanya khas (putih kekuningan), baunya menyengat, viskositasnya tidak ada karena sperma cair, dan bentuknya abnormal. Jadi dari

ciri-ciri diatas, sampel sperma mengalami kelainan Aspermia, Dyspermia dan Nicrospermia. Azoospermia adalaha keadaan dimana setiap ejakulasi tidak terdapat sperma. Aspermia adalah keadaan dimana sperma yang dihasilkan kurang dari 2 ml pada sekali ejakulasi. Dyspermia adalah keadaan dimana motilitas atau pergerakan spermanya tidak normal. Nicrospermia adalah keadaan dimana banyak sperma yang mati. Dari keterangan dan sampel-sampel sperma yang diujikan, ada sperma yang berkualitas baik dan ada sperma yang berkualitas buruk. Sperma yang berkualitas buruk mengalami kelainan Azoospermia, Dyspermia, Oligoteratozoospermia, Nicrospermia dan Aspermia. Cara-cara pencegahan supaya kualitas sperma tetap baik dengan menghindari mengkonsumsi obat-obatan terlarang seperti narkotika dan sabu-sabu, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan minuman keras, menghindari olahraga terlalu berlebihan, harus dan sering mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C, tidak merokok, makan-makanan bergizi, menghindari penggunaan celana yang ketat seperti jelana jeans yang terlalu ketat, mengurangi, mengurangi mandi air panas, menghindari penggunaan hp dikantong celana dan menhindari penggunaan laptop di dekat testis penghasil sperma.

BAB V PENUTUP

4 5 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: 1. Teknik uji kualitas sperma dapat dilakukan dengan cara memasukkan sperma ke object glass dan memasukkan juga NaCl fisiologis secukupnya kemudian menutupnya dengan menggunakan deck glass, lalu mengamatinya di bawah mikroskop. 2. Sampel sperma I hasilnya berkualitas baik, sampel sperma II hasilnya berkualitas buruk karena mengalami kelainan Azoospermia, sampel sperma III hasilnya berkualitas buruk karena mengalami kelainan Dyspermia, sampel sperma IV hasilnya berkualitas buruk karena mengalami kelainan oligoteratozoospermia, nicrospermia dan aspermia, dan sampel sperma V hasilnya berkualitas buruk karena mengalami kelainan Aspermia, Dyspermia dan Nicrospermia. 2.2 Saran Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek.

DAFTAR PUSTAKA

Ambercrombie, M. 1999. Kamus lengkap Biologi. Erlangga. Jakarta. Dikutip oleh Dwi Arinto Adi. 2000. Pengaruh Prostaglandin F2 Terhadap Fertilitas Tikus (Rattus norvegicus) Wistar Jantan. Jurusan Biologi FKIP UNHAS. Makasar. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013. Campbell, A. 2006. Biologi. Erlangga. Jakarta. Kimball, W. 1994. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Lutjen. 2001. Biologi. Erlangga. Jakarta. Praptomo. 2011. Sains Biologi. Erlangga. Jakarta. Dikutip oleh Muhammad Anwar Djaelani. 2010. Peran Kuning Telur pada Medium Simpan Beku Semen TES-Tris Yolk Citrat terhadap Motilitas dan Vitalitas Spermatozoa Manusia Post Freezing. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Diponegoro. Semarang. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013. Setya, W. 2004. Biologi Reproduksi. Trimurti. Bandung. Dikutip oleh Tetri Widianti. 2003. Pengaruh Vitamin C terhadap Perbaikan Spermatogenesis dan Kualitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Tembakau (Nicotiana tabacum). Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013. The Fertility Institute. 2009. Analisis Kehamilan. ITB. Bandung. Dikutip oleh Arsetyo Rahardhianto. 2012. Pengaruh Konsentrasi Larutan Madu dalam NaCl Fisiologis terhadap Viabilitas dan Motilitas Spermatozoa Ikan Patin (pangasius pangasius) selama Masa Penyimpanan. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013. Yatim, W. 1994. Biologi Modern Histologi. Tarsuto. Bandung. Dikutip oleh Yulianti Adipu. 2011. Ratio Pengenceran Sperma Terhadap Motilitas Spermatozoa, Fertilitas dan Daya Tetas Ikan Lele. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT. Manado. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013.

LEMBAR ASISTENSI

Nama NIM Kelompok Kelas

: Aulia Rakhman : N 201 12 018 : 1 (Satu) :B

Asisten: Muh. Fahmi No . Hari/tanggal Koreksi paraf