Anda di halaman 1dari 2

SPERMATOGENESIS

Spermatogeneis berarti proses pemebentukan sperma. Proses ini sebenarnya sudah berlangsung sejak embrio dan dilanjutkan kembali saat pria sudah mulai memasuki pubertas, sekitar usia 12-14 tahun hingga seumur hidupnya, dengan lama setiap siklus spermatogenesis selama 74 hari. Proses-proses tersebut meliputi: a. Saat masa embrio, sel germinal prmordial bermigrasi menuju testis dan menjadi sel germinal imatur (bakal spermatogonia) saat sudah berada di tubulus seminiferus. b. Setelah memasuki masa pubertas, hormon gonadotropin disekresi oleh hipofisis anterior untuk merangsang terjadinya spermatogenesis lanjutan dan menyebabkan spermatogonia memasuki sel sertoli sehingga menjadi lebih besar dan telah berdiferensiasi, kemudian membelah secara mitosis menjadi 2 spermatogonia, tetapi 1 spermatogonia saja yang akhirnya berkembang menjadi spermatosit primer dan lainnya mengalami regresi. Fase ini memerlukan wakti 25 hari. c. Setelah mengalami diferensiasi dan perkembangan dalam sel sertoli, spermatogonia keluar dari sel sertoli dan menjadi spermatosis primer, kemudian mengalami meiosis 1 dan membelah menjadi 2 buah spermatosit sekunder yang sudah mulai bersifat haploid (n). Fase ini membutuhkan waktu 9 hari. d. Setelah berkembang menjadi spermatosit sekunder, proses berikutnya adalah meiosis 2 yang menyebabkan terbelahnya tiap spermatosit sekunder menjadi 2 spermatid, sehingga dihasilkan total 4 spermatid. Selama proses ini, kromosom kelamin laki-laki (XY) juga ikut membelah dan menjadikan spermatid tersebut menjadi 2 jenis, yaitu spertid jantan (dengan kromosom Y) dan spermatid betina (dengan kromosom X). Fase ini berlangsung selma 19 hari. e. Setelah menjadi spermatid, akan terjadi perubahan dari early spermatid (bentuk bulat) menjadi late spertmatid (bentuk bulat dengan ekor) dan terjadi diferensiasi lanjutan menjadi sperma. Fase ini membutuhkan waktu selama 21 hari. f. Sperma yang telah terbentuk belum sepenuhnya matur dan perlu menjalani maturasi di epididimis sehingga sperma kembali bermigrasi selama beberapa hari hingga mencapai epidididmis. Saat berada di epididimis selama 18-24 jam, sperma tersebut berkembang dari awalnya tidak motil menjadi sperma motil, tetapi sampai sperma ini dikeluarkan saat ejakulasi, sperma ini dicegah motilitasnya oleh inhibitor protein yang disekresi oleh epididimis.

g.

Dari epididimis, sperma mengalami migrasi lagi untuk disimpan di vas deferens. Dari keselurhan 120 juta sperma yang diahsilkan kedua testis per harinya, hanya sedikit yang disimpan dalam epididimis dan sebagian besar disimpan di vas derfens. Sperma ini dapat disimpan selama 1 bulan, tetapi pada pria dengan aktivitas seksual yang tinggi menyebabkan waktu penyimpanan sperma ini menurun hingga selama beberapa hari saja.

h.

Saat ejakulasi sperma keluar bersama beberapa cairan dan bahan-bahan lain yang membantunya untuk menjadi benar-benar matur dan mampu bertahan di lingkungan vagina yang asam selama 1-2 hari dan campuran sperma dan cairan tersebutlah yang disebut semen. Cairan tersebut berasal dari 2 tempat, yang pertama adalah dari vesikula seminalis. Cairan yang disekresikan berupa mukus yang mengandung fruktosa, asam sitrat, dan nutrisi, serta prostaglandin, dan fibrinogen yang dikuluarkan saat terjadi emisi dan ejakulasi ke dalam duktus ejakulatoris, sehingga kan keluar berasama sperma. Yang kedua berasal dari kelenjar prostat dan berupa sekresi cairan encer seperti susu yang mengandung kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan, dan profibrinolisin yang berperan sebagai pembuat suasana basa saat semen berada dalam vagna yang bersifat asam. Selain sekresi tersebut, sperma juga mendapatkan testosteron, esterogen, ezimenzim, dan nutrisi lain dari sel sertoli dan epididimis yang juga mebantu sperma matang dan bertahan dalam vagina, serta melakukan pembuahan.

Spermatogenis tidak dapat terjadi sendiri tanpa bantuan berbagai hormon dan suasana yang kondusif untuk membuat sperma. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya spermatogenesis adalah sebagai berikut. a. Testosteron yang disekresi sel leydig dan berfungsi untuk pertumbuhan dan pembelahan sel germinal testis menjadi spermatogonia. b. Hormon LH (leutinizing) yang disekresi oleh hipofsis anterior untuk merangsang terjadinya spermatogenesis dan menyebabkan sekresi pada sel sertoli yang dapat mengubah spermatid menjadi sperma. c. Hormon esterogen yang disekresi sel sertoli dari testosteron yang sedikit banyak membantu dalam proses spermatogenesis. d. Hormon pertumbuhan (growth) yang mengatur metabolisme testis dan meningkatkan laju terjadinya pembelahan spermatogonia hingga menjadi spermatid. e. Suhu 1-2C lebih rendah dari suhu tubuh yang dibujtuhkan untuk terjadinya spermatogenesis.