Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Melakukan penilaian merupakan salah satu tugas guru selain menyusun program pembelajaran dan mengimplementasikannya di dalam kelas. Guru juga harus dapat menetapkan apa yang dapat diperoleh atau dicapai dari proses pembelajaran yang telah diselenggarakan. Selanjutnya guru harus dapat menetapkan apakah program yang ia rencanakan dapat terlaksana sesuai harapan, dalam arti bahwa kompetensi yang dikembangkan pada diri siswa sesuai dengan harapan. Semua ini dapat diketahui dan terjawab, jika guru melakukan asesmen dan evaluasi dengan baik. Asesmen sangat berperan dalam menentukan arah pembelajaran dan kualitas pendidikan. Pelaksanaan kurikulum dari Kurikulum Berbasis Kompetensi, semuanya mengharuskan semua guru sebagai pendidik untuk mengembangkan silabus dan merubah pula sistem penilaian yang digunakan dengan menerapkan sistem penilaian berbasis kompetensi. Penilaian sistem tersebut lebih mengarah pada penilaian kelas, yaitu penilaian yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Penilaian ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif, tetapi juga mencakup ranah afektif dan psikomotorik. Namun pada kenyataannya, sistem penilaian yang digunakan para guru umumnya paper and penci test karena mereka menilai cukup praktis dalam arti tidak membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang banyak. Sebaliknya jika menggunakan asesmen autentik membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang lebih banyak, sehingga guru enggan menggunakannya. Pemikiran dan perilaku seperti inilah yang dapat menghambat tercapainya kualitas pembelajaran dan pendidikan. Guru umumnya merasa sudah aman dan selesai tugasnya jika telah melaksanakan semua kewajiban kurikuler meskipun murid-muridnya tidak memahami apa yang diajarkan. Dengan demikian pendidikan yang tidak menghasilkan lulusan yang bermutu bukanlah merupakan investasi SDM (sumber

2 daya manusia), melainkan pemborosan beaya, tenaga dan waktu. Oleh karena itu perlu dipikirkan metode yang tepat dalam melakukan evaluasi agar penilaian yang dilakukan pada siswa dapat memberikan informasi yang utuh tentang siswa. Kalau seorang siswa dikatakan berhasil dalam belajarnya, maka keberhasilan itu haruslah diukur dengan alat ukur yang sesuai dengan tujuan belajarnya atau kompetensi yang harus dicapainya. Dengan kata lain informasi yang diperoleh dari asesmen harus komprensif dan telah dilakukan pada saat-saat yang tepat selama dan setelah siswa belajar. Artinya pengukuran harus dilakukan di sepanjang proses belajar yang dijalani siswa. Dengan penjelasan-penjelasan tersebut, maka dibuatlah makalah yang berjudul Mengembangkan Asesmen/Penilaian yang Mendidik, Autentik, dan Berkelanjutan.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan antara pengukuran, penilaian/asesmen, dan evaluasi? 2. Apa yang dimaksud dengan asesmen tradisional dan asesmen autentik? 3. Bagaimana mengembangkan instrument asesmen tradisional dan asesmen autentik? 4. Bagaiamana penetapan skala penilaian dan rubric asesmen tradisional dan asesmen autentik?

C. Tujuan 1. Mengetahui hubungan antara pengukuran, penilaian/asesmen, dan evaluasi. 2. Mengetahui tentang asesmen tradisional dan asesmen autentik. 3. Mengetahui bagaimana mengembangkan instrument asesmen tradisional dan asesmen autentik. 4. Mengetahui bagaimana menetapkan skala penilaian dan rubric asesmen tradisional dan asesmen autentik.

BAB II PEMBAHASAN

A. Hubungan Antara Pengukuran, Penilaian/Asesmen dan Evaluasi Penilaian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan maupun kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada langkah awal pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran dan proses penilaian yang akan dilakukan. Menurut Davis dalam Anonim (1994:4) tujuan tidak hanya merupakan arah yang dapat membentuk atau mewarnai kurikulum dan memimpin kegiatan pengajaran, tetapi juga dapat menyediakan spesifikasi secara terperinci bagi penyusunan dan penggunaan teknik-teknik penilaian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara jelas dan spesifik akan menunjang proses penilaian yang tepat dan dapat membantu di dalam menetapkan kualitas dan efektivitas pengalaman belajar siswa. Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa (Depdikbud, 1994: 3). Menurut Linn dan Gronlund dalam Pantiwati (2013) penilaian adalah istilah umum yang melibatkan semua rangkaian prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang hasil belajar siswa atau peserta didik. Sedang menurut John (2003) penilaian sebagai suatu proses yang secara berkelanjutan dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pembelajaran siswa dengan menggunakan berbagai macam prosedur. Penjelasan tersebut mengandung makna bahwa penilaian tidak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu saja, melainkan menyeluruh dan mencakup aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Penilaian tidak sama dengan pengukuran, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, karena kedua kegiatan tersebut saling berhubungan erat. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu (Arikunto, 1991:1). Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu

4 atribut atau karakteristik tertentu yang didasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas (Zainul, dalam Anonim, 1994). Penilaian dilakukan sebelum pengukuran karena pengukuran (measurement) merupakan pemberian angka pada objek atau peristiwa menurut aturan yang memberikan arti kuantitatif. Dari hasil pengukuran akan diperoleh skor yang menggambarkan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Grounlund dalam Pantiwati (2013) menyatakan bahwa pengukuran adalah proses untuk memperoleh deskripsi angka tentang derajat karakteristik tertentu yang dimiliki oleh individu. Pengumpulan informasi ini dilakukan selain menggunakan tes, juga dilakukan dengan mengobservasi siswa ketika sedang belajar, mewawancarai, atau memeriksa produk siswa. Guru diberi kebebasan untuk memilih teknik pengujiannya yang dirancang menyangkut penentuan jenis tagihan, bentuk instrumen, dan butir-butir instrumen yang akan dipakai untuk mengukur indikator yang telah dirumuskan. Hasil penilaian sangat diperlukan dalam melakukan evaluasi, hal ini terkait dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, seperti dinyatakan oleh John (2003) bahwa evaluasi adalah kegiatan melakukan keputusan berdasarkan informasi yang telah diperoleh dalam penilain tersebut. Keputusan diperoleh dari proses yang sistematis, mulai dari mengumpulkan data, menganalisis dan memberikan penilaian. Berdasarkan pendapat tersebut, maka evaluasi dapat diartikan sebagai kegiatan melakukan keputusan dengan mempertimbangkan data-data atau bukti yang telah diambil sebelumnya sehingga ada keterkaitan antara kegiatan penilaian dengan evaluasi. Grounlund dalam Pantiwati (2013) mengungkapkan bahwa penilaian dan evaluasi saling terkait karena hasil penilaian merupakan salah satu sumber informasi yang sangat penting dalam lingkungan belajar. Oleh karena itu hasil penilaian dapat dipakai sebagai dasar untuk mengevaluasi program pembelajaran sesuai dengan harapan, dalam arti mampu menunjang tercapainya kompetensi lulusan yang ditargetkan.Tercapainya kompetensi lulusan tidak hanya tergantung pada program pembelajaran, namun terkait langsung dengan penilaian/asesmen.

5 B. Asesmen Tradisional 1. Pengertian Asesmen Tradisional Asesmen tradisional adalah penilaian yang mengacu pada ukuran tes pilihan ganda (forced choice), tes melengkapi (fill-in-the-blanks), tes benar salah (truefalse), menjodohkan dan semacamnya. Siswa secara khas memilih suatu jawaban atau mengingat informasi untuk melengkapi penilaian (Baillie, Michael. 2011). Asesmen tradisional (Traditional Assessments), difokuskan pada nilai (grade) dan kedudukan (ranking), pengetahuan, kurikulum, dan ketrampilan, yang diimplementasikan melalui asesmen di kelas (test, kuis, tugas pekerjaan rumah), dan tes baku.

Menurut Mahardika, I Putu (2009) terdapat beberapa ciri-ciri asesmen tradisional diantaranya adalah : a. Asesmen tradisional mengukur hasil belajar siswa hanya dengan menggunakan satu jenis alat ukur yaitu tes tetulis b. Tes tertulis hanya mampu mengukur aspek kognitif dan keterampilan sederhana c. Penilaian dilakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar. d. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa. e. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa. f. Dapat diskor dengan reliabilitas tinggi. g. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor. 2. Manfaat Asesmen Tradisional Menurut Mahardika, I Putu (2009) Manfaat Asesmen Tradisional adalah: a. Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. b. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.

6 c. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remidial. d. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan. e. Untuk memberikan pilihan alternatif penilaian guru. f. Untuk memberikan informasi kepada orangtua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan. 3. Tujuan Asesmen Tradisional Menurut Mahardika, I Putu (2009) tujuan dari Asesment Tradisional diantaranya adalah: a. Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar, b. Memonitor kemajuan siswa, c. Menentukan jenjang kemampuan siswa, d. Menentukan efektivitas pembelajaran, e. Mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran, f. Mengevaluasi kinerja guru kelas, g. Mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru 4. Penerapan Asesmen Tradisional a. Soal pilihan ganda Soal bentuk pilihan ganda adalah soal yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban adalah jawaban yang benar atau jawaban yang paling benar. Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang untuk terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahan/materi pelajaran dengan baik (Baillie, Michael. 2011). Keunggulan dari soal pilihan ganda adalah Mengukur berbagai jenjang kognitif (dari ingatan sampai evaluasi), Penskoran mudah, cepat, objektif, dan dapat mencakup ruang lingkup bahan yang luas dalam suatu tes untuk suatu jenjang pendidikan, Tepat untuk ujian yang pesertanya sangat banyak atau sifatnya massal, sedangkan hasilnya harus segera diumumkan. Sedangkan

7 kelemahan dari soal pilihan ganda adalah Memerlukan waktu yang relative lama untuk menulis soalnya, Sulit membuat pengecoh yang homogeny dan berfungsi, Terdapat peluang untuk menebak kunci jawabannya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun soial pilihan ganda. Hal tersebut mencakup materi, konstruksi dan bahasa dari soal. 1) Materi Soal harus sesuai dengan indicator. Artinya, soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indicator. Pilihan jawaban harus homogeny dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. Artinya, satu soal hanya memiliki satu kunci jawaban. Jika terdapat beberapa pilihan jawaban yang benar, maka kunci jawabannya adalah pilihan jawaban yang paling benar. 2) Konstruksi Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya

kemampuan/materi yang hendak diukur harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh penulis, dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor. Bahasa yang digunakan haruslah komunikatif, sehingga mudah dimengerti oleh siswa. Apabila tanpa melihat pilihan jawaban terlebih dahulu, siswa sudah mengerti apa yang ditanyakan atau dipersoalkan, maka dapat disimpulkan pokok soal tersebut sudah jelas. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya, apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja. Pokok soal jangan memberikan petunjuk kearah jawaban yang benar. Pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, frase atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk kea rah jawaban yang benar.

8 Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda. Artinya, pada pokok soal sebaiknya tidak terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negative. Penggunaan kata negatif ganda dapat mempersulit siswa dalam memahami maksud soal, oleh karena itu penggunaannya patut dihindari. Namun untuk ketrampilan bahasa, penggunaan kata negative berganda diperbolehkan kalau yang ingin diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri. Panjang rumusan pilihan jawaban harus lah relative sama. Hal ini perlu diperhatikan karena ada kecenderungan dari siswa untuk memilih pilihan jawaban yang paling panjang. Seringkali pilihan jawaban yang paling panjang merupakan jawaban yang paling lengkap dan merupakan kunci jawaban dari soal itu. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan semua pilihan jawaban di atas salah atau semua pilihan jawaban di atas benar. Artinya, dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka segi materi pilihan jawaban berkurang satu, karena pernyataan itu hanya merujuk kepada materi dan jawaban sebelumnya. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka tersebut, dan pilihan jawaban yang berbentuk waktu harus disusun secara kronologis. Pengurutasn angka disusun dari kecil ke besar atau sebaliknya. Pengurutasn tersebut dimaksudkan untuk

mempermudah siswa dalam melihat dan memahami pilihan jawaban. Gambar, grafik, table, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfunsi. Apa saja yang yang menyertai suatu soal yang dipertanyakan harus jelas, terbaca dan dapat dimengerti oleh siswa. Apabila soal itu bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik atau diagram yang disediakan, maka gambar, grafik diagaram amaupun table tersebut tidak berfungsi dengan baik. Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak menjawab dengan benar soal sebelumnya tidak akan dapat menjawab dengan benar soal berikutnya.

9 3) Bahasa Setiap soal harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan di daerah lain atau secara nasional. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut pada pokok soal. Contoh dari soal pilihan ganda: Berikut ini adalah hewan yang tidak termasuk kelas insecta, kecuali a. Tikus b. Ular c. Capung d. Elang

Jika kita lihat dengan baik, soal tersebut menggunakan pernyataan yang bersifat negative ganda, yaitu tidak dan kecuali. Hal ini akan menyebabkan siswa bingung dalam memahami pokok permasalahan yang ditanyakan.

b. Soal Isian Singkat Soal isian singkat adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban yang singkat, berupa akata, frase, angka, atau symbol (Baillie, Michael. 2011). Keunggulan dari bentuk soal ini adalah dapat mencakup materi yang luas dan banyak serta dapat diskor dengan mudah, cepat, obyektif, serta mudah dalam menyusunnya. Akan tetapi, model soal ini cenderung hanya mengukur kemampuan mengingat saja. Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menyusun soal isian singkat, diantaranya: Soal harus sesuai dengan indicator Soal harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta kalimat yang singkat dan jelas, sehingga peserta tes dapat memahaminya dengan muda Jawaban yang dituntut dalam soal haruslah singkat dan pasti, yaitu berupa kata, frase, angka, symbol, tempat atau waktu Soal tidak merupakan kalimat yang dikutip langsung dari buku Soal tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam rasio butir soal, dan paling banyak dua bagian, supaya tidak membingungkan siswa.

10 c. Soal betul-salah Bentuk soal ini menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan jawaban. Bentuk kemungkianan jawaban yang sering digunakan adalah benarsalah atau ya-tidak (Baillie, Michael. 2011). Keunggulan dari soal model ini adalah mampu mengukur berbagai jenjang kemampuan kognitif, dapat mencakup materi yang luas, serta dapat diskor dengan mudah, cepat dan obyektif. Sedangkan kelemahan dari soal betul-salah adalah sebagai berikut: Probabilitas untuk menebak dengan benar sangat besar, yaitu 50%. Ini disebabkan karena pilihan jawaban yang tersedia hanya dua. Bentuk soal ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pemahaman siswa secara utuh, karena peserta tes hanya dituntut untuk menjawab benar atau salah. Apabila jumlah butir soalnya sedikit, indeks daya pembeda butir soal cenderung rendah. Apabila ragu atau kurang memahami pernyataan soal, peserta tes cenderung untuk memilih pilihan benar. Penulisan bentuk soal ini perlu memperhatikan beberapa kaidah berikut: Hindari penggunaan kata terpenting, selalu, tidak pernah, hanya, sebagian besar, dan kata-kata lain yang sejenis, karena dapat membingungkan peserta tes dalam menjawab. Rumusan butir soal haruslahjelas, dan pasti benar atau pasti salah Hindari pernyataan berbentuk kalimat negative Hindari penggunaan kata yang dapat menimbulkan penafsiran ganda Jumlah rumusan butir soal yang jawabannya benar dan salah hendaknya seimbang Panjang rumusan pernyataan butir soal hendaknya relative sama Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah hendaknya disusun secara random, untuk menghindari peserta tes menjawab dengan mengikuti pola tertentu Hindari pengambilan kalimat secara langsung dari buku teks, karena akan membuat siswa untuk cenderung menghafal buku teks, bukan memahaminya

11 d. Soal menjodohkan

e. da

5. ds

C. Asesmen Autentik 1. Pengertian Asesmen Autentik Akuntabilitas merupakan salah satu prinsip pelaksanaan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya. Oleh karena itu, penilaian dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip keilmuan dalam penilaian sehingga keputusan yang diambil memiliki dasar yang objektif. Penilaian secara autentik dalam pembelajaran dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan dan memutuskan hasil belajar secara akurat. Hart (1994) dalam Pantiwati (2013) menyatakan asesmen autentik merupakan suatu penilaian yang dilakukan melalui penyajian atau penampilan oleh siswa dalam bentuk pengerjaan tugas-tugas atau berbagai aktivitas tertentu yang langsung mempunyai makna pendidikan. Menurut Corebima (2004) berbicara tentang asesmen autentik, sebenarnya juga berbicara prosedur, seperti tes formal, inventori, checklist, asesmen diri, portofolio, proyek dan kegiatan lainnya tentang asesmen non-autentik. Perbandingan antara asesmen tradisional dan asesmen autentik secara rinci perbedaannyua disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Perbandingan Asesmen Autentik dan Asesmen Tradisional Asesmen Tradisional Asesmen Autentik Periode waktu tertentu Waktu ditentukan guru dan siswa Mengukur kecakapan tingkat rendah Mengukur kecakapan tingkat tinggi Menetapkan drill dan latihan Menerapkan strategi kritis dan kreatif Memiliki perspektif sempit Memiliki perspektif yang menyeluruh Menggungkapkan fakta Mengungkap konsep Menggunakan standar kelompok Menggunakan standar individu Bertumpu pada ingatan Bertumpu paa internalisasi Hanya satu solusi yang benar Solusi yang benar banyak Mengungkap kecakapan Mengungkap proses Mengajar untuk ujian Mengajar demi kebutuhan (Sumber: Fraze dan Rudnitski, 1995 dalam Corebima, 2004:9)

12 Suatu penilaian dikatakan autentik bila melibatkan siswa dalam penugasan yang bersifat menyeluruh, signifikan dan bermakna seperti penugasan yang melibatkan aktivitas siswa, tetapi bukan tes. Serangkaian kegiatan siswa yang melibatkan pengetahuan dan keterampilan berpikir serta mampu mengkomunikasikan siswa terhadap pekerjaan-pekerjayaan yang akan dinilai. Dalam hal ini penilaian autentik lebih merupakan standard-setting daripada sekedar alat penilaian (Hard, dalam Hendarni dan Poerwono, 2006). Lebih jelas lagi jika penilaian autentik dengan cara guru menguji secara langsung performa siswa dengan tugas-tugas yang melibatkan kemampuan intelektualnya. Menurut Rustaman (tanpa tahun), dalam buku-buku lain, kecuali Wiggins, penilaian autentik disamakan saja dengan nama penilaian alternatif, atau penilaian kinerja. Penilaian autentik disamakan dengan penilaian alternative karena menilai perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk (Herman, et al, 1992). Sedangkan penilaian autentik disamakan dengan penilaian kinerja karena siswa diminta untuk menampilkan tugas-tugas yang bermakna. 2. Prinsip Asesmen Autentik Prinsip dalam penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan harus dapat memberikan gambaran asli dari kemampuan siswa. Menurut Majid (2006) dalam Hendarni dan Poerwono (2006:7), penilaian autentik memiliki prinsip sebagai berikut: a. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran; b. Penilaian garus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan masalah dunia sekolah; c. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; d. Penilaian harus bersifat utuh, mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotor).

13

Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa saat proses pembelajaran, seperti berdiskusi dalam kelompok, atau berdiskusi kelas. Banyak guru yang merasa penilaian autentiknya dianggap berhasil jika siswa dapat menjawab sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru. Oleh karena itu, guru harus mempertegas standar yang ditetapkan, agar penilaian lebih valid, misalnya dengan memberikan rubrik untuk suatu penilaian. Asesmen autentik mendorong siswa untuk menggunakan pengetahuan ilmiah pada konteks riil bukan membuat/menyusun sesuatu yang baru dan tidak dikenal siswa. Sedangkan asesmen tradisional bersifat hafalan bukan membangun dan mengaplikasikan konsep yang telah dimiliki siswa. Hart (1994) dalam Pantiwati (2013) menjelaskan bahwa asesmen autentik memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas-tugas autentik yang menarik, bermanfaat, dan relevan dengan kehidupan siswa. Tugas ini dapat menjadikan siswa inovatif dan kreatif karena memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri,

menumbuhkan sikap yang lebih positif terhadap sekolah, kegiatan belajar dan dirinya sendiri. Sikap positif akan mempengaruhi pada pola berpikir siswa, sehingga dapat meningkatkan prestasi yang positif. Hal ini sesuai pendapat Marzano et. al (1993) bahwa penilaian autentik mengandung tiga unsur inovasi dalam bidang penilaian. Pertama, tidak mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang tradisional, tetapi lebih menekankan pada kemampuan nyata subyek belajar. Kedua, bersifat menyeluruh, mengembangkan seluruh

kemampuan subyek belajar melalui kegiatan pembelajaran menurut paham konstruktivisme. Ketiga, tidak menggunakan sistem tes tradisional tetapi menggunakan berbagai cara. 3. Tujuan Asesmen Autentik

14 Menurut Stiggin dalam Hendarni dan Poerwono (2006:12), tujuan penilaian autentik adalah sebagai berikut: 1. Mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuannya dalam merespon daripada hanya memilih dari jawaban yang telah tersedia; 2. Meningkatkan kemampuan berpikir lebih tinggi untuk menambah kemampuan ketrampilan dasar; 3. Menilai secara langsung terhadap proyek yang bersifat holistic; 4. Mampu mensintesis pengajaran di kelas; 5. Menggunakan contoh pekerjaan siswa yang terkumpul dalm jangka waktu yang cukup panjang; 6. Penentuan kriteria yang jelas diketahui oleh siswa; 7. Memperkenankan berbagai cara untuk menilai kemampuan seseorang; 8. Menjadikan penilaian lebih relevan dan dekat dengan pembelajaran kelas; 9. Mengajarkan siswa untuk mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri. Dengan demikian asesmen autentik mengubah peran siswa dalam proses asesmen, dari sifat pasif menjadi partisipan aktif, siswa aktif berkolaborasi untuk bekerjasama dan dapat berpartisipasi dalam mengevaluasi kemajuannya. Asesmen autentik dapat mengaktifkan pembelajaran melalui banyak cara sementara tes terstandar bersifat ekskusif dan sempit. Siswa yang terampil melakukan asesmen terhadap diri sendiri sadar akan kemampuannya, bertindak lebih strategis dan lebih baik dibanding mereka yang tidak terampil. Asesmen autentik dapat mempertajam keterampilan berpikir tingkat tinggi pada saat mereka menganalisis, mensisntesis, mengidentifikasi masalah, menciptakan pemecahan, dan mengikuti keterkaitan sebab akibat (Johnson, 2002). Adapun bentuk tugas-tugas yang terdapat pada asesmen autentik diantaranya meliputi: 1) portofolio, 2) pembuatan jurnal/paper, 3) simulasi, 4) membuat desain dan presentasi, 5) observasi kritis, 6) mengerjakan proyek individu dan kelompok, 7) melaporkan hasil studi lapangan, 8) melakukan kegiatan pemecahan masalah, 9) membuat peta konsep, dan sebagainya. Selanjutnya strategi-strategi asesmen yang digunakan dalam melakukan asesmen berkelanjutan adalah sebagai berikut: observasi (Observation), penggunaan pertanyaan (Questioning), Presentasi (Presentation), diskusi (Discusions),

15 Eksperimen/ demonstrasi (Experiments/demonstration), Projek/Pameran

(Projects/Exhibition), Bercerita (Story or text retelling), Investigasi/penyelidikan (Investigation), Portofolio (Portofolio), Jurnal (Journal), Wawancara (Interview), Konferensi, Evaluasi diri oleh siswa (Self Evaluation) (O'Malley and Pierce dalam Pantiwati, 2013:9). Berbagai cara atau metode dalam melakukan penilaian autentik antara lain dengan observasi, simulasi, tugas, praktek, self report dan sebagainya (Wick dalam Pantiwati, 2013). Untuk menilai aspek keterampilan dapat juga digunakan penilaian yang berupa penyelesaian tugas ilmiah atau berupa tes praktek dengan komponen penilaian terdiri dari lembar tugas, format jawaban, dan sistem penyekoran. Berdasarkan paparan diatas maka model penilaian otentik yang dimaksudkan untuk menilai proses sains siswa dapat dikembangkan melalui pola penyelesaian tugas ilmiah dengan perangkat penilaian berupa lembar tugas, format jawaban atau penyelesaian tugas, dan sistim penyekoran (rubrik). Penilaian autentik memuat instrumen yang mengharuskan siswa untuk mempertunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Dalam pembelajaran sains lebih berhubungan dengan dimensi proses atau kerja ilmiah. 4. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru harus bertanya pada diri sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya, berkaitan dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan; dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai, seperti penalaran, memori, atau proses. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. a. Penilaian kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja

16 peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
1) Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya

unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
2) Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara

guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.
3) Skala penilaian (rating scale). Biasanya digunakan dengan menggunakan

skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
4) Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara

mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus.

Pertama, langkah-langkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat, fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial yang akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek keterampilan berbicara, misalnya, guru dapat mengobservasinya pada konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat

17 menggunakan alat atau instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, atau pertanyaan pribadi. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Penjelasannya sebagai berikut. Penilaian ranah pengetahuan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian ranah keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua, peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga, mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik berperilaku jujur. Keempat, menumbuhkan semangat untuk maju secara personal.

b. Penilaian proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lainlain. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh

18 kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru, yaitu:
1) Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan

data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2) Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap,

keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.


3) Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau

dihasilkan oleh peserta didik. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan

analitik. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. c. Penilaian portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.

19 Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan oleh guru, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
a. b.

Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.

c.

Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.

d.

Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.

e. f.

Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.

g.

Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

5. Menyiapkan Asesmen Autentik a. Mengidentifikasi standar

20 Seperti tujuan umum, standar merupakan pernyataan yang harus diketahui dan dapat dilakukan siswa, tetapi ruang lingkupnya sempit dan lebih mudah dicapai daripada tujuan umum. Biasanya standar merupakan satu pernyataan singkat yang harus diketahui atau mampu dilakukan siswa pada poin tertentu. Agar operasional, rumusan standar hendaknya dapat diobservasi dan dapat diukur. Contohnya, siswa mampu menjelaskan proses fotosintesis, mengidentifikasi sebab dan akibat perang mikroba. Jadi, standar harus ditulis dengan jelas, operasional, tidak ambigu dan tidak rancu, tidak terlalu luas atau terlalu sempit, mengarahkan pembelajaran dan melakukan penilaian. b. Memilih tugas otentik Dalam memilih tugas autentik, perlu dikaji standar yang dibuat, dan mengkaji kenyataan sesungguhnya. Misalnya, daripada meminta siswa untuk menyelesaikan soal tentang pencemaran lingkunga, lebih baik disiapkan tugas untuk mengolah limbah limbah tangga. c. Mengidentifikasi kriteria untuk tugas Kriteria adalah indicator-indikator dari kinerja yang baik pada suatu tugas. Apabila terdapat sejumlah indikator, sebaiknya diperhatikan apakah indicator tersebut membutuhkan urutan atau tidak. Contohnya, kriteria pengamatan menggunakan mikroskop yang harus ada urutannya. d. Menciptakan standar kriteria atau rubrik Dalam rubrik tidak selalu diperlukan deskripsi. Deskripsi merupakan karakteristik perilaku yang terkait dengan level-level tertentu, seperti observasi mendalam, prediksi beralasan, kesimpulannya berdasarkan hasil observasi. Dalam suatu rubric holistic, dilakukan pertimbangan seberapa baik seseorang telah menampilkan tugasnya dengan mempertimbangkan kriteria secara keseluruhan. Contohnya rubric untuk penilaian presentasi seperti berikut.

21

Untuk keperluan pengecekan rublir yang telah dibuat, sebaiknya meminta rekan kerja untuk mereviunya, atau meminta siswa mengenai kejelasannya. Masukan dari rekan kerja ataupun dari siswa dapat digunakan untuk memperbaiki standar yang telah disiapkan.

22

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu. Hasil penilaian sangat diperlukan dalam melakukan evaluasi, hal ini terkait dengan kebutuhan untuk membuat keputusan. 2.

B. Saran

DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta: PT Bumi Aksara. Pantiwati, Y. 2013. Hakekat Asesmen Autentik dan Penerapannya dalam Pembelajaran Biologi. Vol 1 (1) JEMS. (online) http://www.ikip pgrimadiun.ac.id/ejournal/sites/default/files/Yuni%20Pantiwati_0.pdf, diakses tanggal 20 Februari 2014. Corebima, A. D. 2004. Pemahaman tentang Asesmen Autentik. Makalah disajikan pada pelatihan PBMP pada pembelajaran bagi para guru sains biologi dalam rangka RUKK VA, 9-10 Juli 2004. Hendarni dan Poerwono. 2006. Penilaian Otentik pada Pembelajaran Tematiki. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan Penataran Guru IPS dan PMP Malang. Johnson, D.W. 2002.Meaningful Assessment A Manageable and Cooperatve Process. USA: Allyn and Bacon. Rustaman, N. Y. Tanpa Tahun. Penilaian Otentik (Authentic Assessment) dan Penerapannya dalam Pendidikan Sains. (online) http://file.upi.edu/

23 Direktori/SPS/NURYANI_RUSTAMAN/PENILAIAN_OTENTIK_Sg r%2706.pdf, diakses tanggal 20 Februari 2014. Marzano, R. J. (1993). Designing a New Taxonomy of Educational Objectives. Thousand Oaks, CA: Corwin Press. John, M. 2003. What is Authentic Assessment?. (online) http://jonathan.mueller. faculty.noctrl.edu/toolbox/wahisit.htm, diakses tanggal 22 Februari 2014. Anonim. 1994. Penilaian dan Asesmen dalam Pembelajaran Sains. (online) http://docs.docstoc.com/orig/674690/4a3214dc-33f3-4384-9d1f-64e0fe 7d54af.pdf, diakses tanggal 20 Februari 2014.