Anda di halaman 1dari 33

Referat

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN, STATUS EKONOMI, DAN SOSIAL BUDAYA PADA KEHAMILAN REMAJA

Oleh : Imam Syahuri Gultom, S.Ked. NIM. I1A008065

Pembimbing dr. Samuel L Tobing, Sp.OG(K)

BAGIAN/SMF ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM/RSUD ULIN BANJARMASIN Januari, 2014

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul .... Daftar Isi . BAB I. PENDAHULUAN i ii 3 6 28

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA .. BAB IV. PENUTUP.. ..... DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN

Remaja adalah aset sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi di masa mendatang. Besarnya jumlah penduduk usia remaja ini adalah merupakan peluang dan bukan menjadi masalah bagi pemerintah. Masa remaja adalah merupakan masa peralihan baik secara fisik, psikis maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini adalah perpaduan antara perkembangan usia psikologis dan usia biologis sehingga sangat dipengaruhi multifaktor yang terjadi di berbagai bidang dalam masyarakat. Perubahan yang terjadi tersebut, baik karena faktor ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan terlebih lagi faktor perubahan sosial yang sangat mempengaruhi perilaku remaja.1 Masalah yang berkaitan dengan perilaku dan reproduksi remaja seperti bertambahnya kasus penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS, kematian ibu muda yang masih sangat tinggi, merebaknya praktek aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan dan kecenderungan remaja masa kini untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah.1 Di wilayah Asia Tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dikalangan remaja dilakukan setiap tahunnya, diantaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Risiko kematian aborsi tidak aman di wilayah Asia diperkirakan 1 dari 250, di negara maju hanya 1 dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia cukup serius.2 Angka kematian maternal juga masih tinggi di Indonesia. Data

hasil Survei Demografi Indonesia (SDKI) tahun 2003, Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 307/100.000 kelahiran hidup.3 Untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia, jika dibandingkan antara laporan UNAIDS tahun 2008 dengan 2010, mengalami peningkatan kasus, dari 270.000 pada tahun 2008 menjadi 310.000 kasus pada tahun 2010. Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di kawasan Asia meskipun secara nasional angka prevalensinya masih termasuk rendah. Angka kejadian kasus AIDS di Indonesia, setiap tahun hampir selalu mengalami peningkatan. 4,5 Penelitian-penelitian mengenai kaum remaja di Indonesia pada umumnya menyimpulkan bahwa nilai-nilai hidup kaum remaja sedang dalam proses perubahan. Remaja Indonesia dewasa ini nampak lebih bertoleransi terhadap gaya hidup seksual pranikah. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh berbagai institusi di Indonesia selama kurun waktu tahun 1993-2002, menemukan bahwa 510 % wanita dan 18-30 % pria muda berusia 16-24 tahun telah melakukan hubungan seksual pranikah dengan pasangan yang seusia mereka. Selanjutnya hasil dari penelitian mengenai kebutuhan akan layanan kesehatan reproduksi di 12 kota di Indonesia pada tahun 1993, menunjukkan bahwa pemahaman mereka akan seksualitas sangat terbatas. Temuan dari berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktifitas seksual dikalangan kaum remaja, tidak diiringi dengan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) dan alat-alat kontrasepsi.6 Masalah ini tidak dapat didekati hanya dari aspek klinis oleh para ahli kedokteran. Inti persoalan sesungguhnya terletak pada konteks sosial yang sangat

kompleks karena kesehatan reproduksi dipengaruhi dan mempengaruhi system politik, sosial dan ekonomi dan berhubungan erat dengan nilai, etika, agama dan kebudayaan. Untuk itu diperlukan upaya dari berbagai pihak untuk menghadapi masalah perilaku sesual remaja yang berisiko ini. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang tua dan Lembaga Swadaya Masyrakat untuk memanfaatkan potensi remaja tersebut.1 Upaya dalam mendidik para kaum muda menjadi sangat penting karena pada intinya, memberdayakan generasi muda untuk melindungi diri mereka adalah langkah pertama untuk mengendalikan masalah mereka. Rendahnya pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kurangnya informasi yang membahas khusus tentang kesehatan reproduksi remaja, status ekonomi dan sosial budaya menjadi masalah yang sampai saat ini mendukung tingginya angka kejadian penyakit ini.1 Tulisan ini mengulas tentang tinjauan hubungan antara tingkat pendidikan, status ekonomi, dan budaya pada kehamilan remaja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja 2.1.1 Pengertian remaja Menurut Sarwono (2007), remaja adalah suatu masa ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda sosial seksual sekundernya sampai saat mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri.7 Sedangkan menurut Soetjiningsih, (2004). Masa remaja adalah suatu tahap dengan perubahan yang cepat dan penuh tantangan yang sulit. Berbagai tantangan yang sulit. Berbagai tantangan ini kadang-kadang sulit diatasi sebab secara fisik sudah dewasa namun secara psikologis belum tentu. Kejadian serupa tidak jarang terjadi diberbagai Negara termasuk di Indonesia.8 2.1.2. Batasan Remaja Sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-20 tahun dan belum menikah untuk remaja indonesia dengan pertimbangan (Sarwono, 2007). Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan ada tiga tahap perkembangan remaja, meliputi :7

1) Remaja awal 11-13 tahun (Early Adolescent) Remaja pada tahap ini mengalami kebingungan akan perubahan perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. 2) Remaja madya atau pertengahan 14-16 tahun (Middle Adolescent ) Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman. Ada kecenderungan narcistic, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu mereka masih mengalami kebingungan untuk menentukan pilihan. 3) Remaja akhir 17-20 tahun (Late Adolescent) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal: minat yang makin mantap terhadap fungsifungsi intelek, egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dalam pengalaman-pengalaman baru, terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain dan tumbuh dinding yang memisahkan diri dan pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

2.2. Kehamilan Remaja Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada usia remaja, dimana kehamilan terjadi pada usia ibu kurang dari 20 tahun (Depkes RI, 2007). Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/

emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi. Secara umum, seorang perempuan dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik.8 Kehamilan pada masa remaja menghentikan proses pembentukan identitas dan tugas perkembangan. Mencoba secara simultan memenuhi tugas

perkembangan pada masa hamil dan pada masa remaja normal dapat sangat menyulitkan. Risiko kehamilan timbul karena mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu, akibatnya, selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Kondisi psikis yang tidak sehat ini dapat membuat kontraksi selama proses persalinan tidak berjalan lancar sehingga kemungkinan proses persalinan akan menjadi beresiko. Beban psikologis dapat menyebabkan depresi (Bobak Lowdermik, Jensen, 2004) Kehamilan pada masa remaja dan menjadi orang tua pada usia remaja berhubungan secara bermakna dengan resiko medis dan psikososial baik terhadap ibu maupun bayinya. Usia wanita pada saat melahirkan anak pertama mempunyai konsekuensi penting, baik terhadap ciri demografis penduduknya maupun bagi jiwa para ibu itu sendiri.8 Di Indonesia, kehamilan remaja menduduki 11,38% dari seluruh ibu yang melahirkan di rumah-rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia. 73% kehamilan remaja di luar perkawinan. Berdasarkan hasil SDKI 2007, rata-rata usia kawin pertama dari perempuan umur 2529 tahun di Indonesia adalah 19,8 tahun. Data survei kesehatan ibu dan anak tahun 2000 menunjukkan median umur

kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun, sebanyak 46% perempuan mengalami kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun dan persalinan pertama wanita Indonesia adalah 20,4 tahun.8 Penelitian Faturochman dan Soetjipto di Bali (1989) menunjukkan bahwa presentase remaja laki-laki di desa dan di kota yang telah melakukan hubungan seks masing masing adalah 23,6% dan 33,5%, sedangkan penelitian Singarimbun (1994) menjumpai 1,8% untuk wanita remaja di pedesaan dan 3,6% di perkotaan. Demikian pula dari penelitian Hidayana dkk 1997 dan Saifudin dkk 1997 dikatakan bahwa perilaku seksual remaja di desa Pakis dan kota Medan juga perilaku seksual remaja di desa Mandiangin dan kota Banjarmasin nyaris tidak ada perbedaan signifikan. Pandangan bahwa masyarakat desa merupakan suatu komunitas yang tradisional, homogen, memegang teguh nilai/norma budaya dan agama, serta tidak mudah berubah, kurang sesuai lagi. Saat ini jumlah remaja di Indonesia yaitu mereka yang berusia 10-19 tahun adalah sekitar 30 % dari jumlah penduduk atau kurang lebih 65 juta jiwa. Besarnya proporsi penduduk yang berusia remaja menimbulkan beberapa masalah yang mengkhawatirkan apabila tidak diadakan pembinaan yang tepat dalam perjalanan hidupnya terutama kesehatannya.9 Sejumlah faktor yang dianggap dapat mempengaruhi/turut berperan dalam kehamilan remaja yaitu : 11 1. Faktor Individu

a. Faktor

somatik,

psikologis,

sosial

dan

seksual.

Makin

cepat

perkembangannya aktivitas seksual sampai dengan perkawinan dan kehamilan. b. Tingkat Pendidikan. Makin rendah tingkat pendidikan makin mendorong cepatnya perkawinan dan kehamilan remaja. c. Sikap patuh dan taat terhadap orang tua serta tidak ingin mengecewakan atau justru oleh karena ingin cepat keluar dari lingkungan orang tua atau ingin melepaskan diri dari lingkungan rumah. d. Masalah sosial dan ekonomi. Sebagian jalan keluar masalah sosial ekonomi, untuk mengurangi beban hidup keluarga, untuk meningkatkan status ekonomi atau sebagai perkawinan tradisi budaya. Tidak jarang ditemukan perkawinan pada remaja yang masih sangat muda usia. 2. Faktor Keluarga Peranan orang tua di dalam menentukan perkawinan anak-anaknya. a. Sosial ekonomi keluarga. Oleh karena beban ekonomi, orang tua dapat mempunyai dorongan segera mengawinkan anak gadisnya. Terdapat dua keuntungan, pertama tanggung jawab ekonomi akan berkurang, kedua dengan perkawinan akan diperoleh tenaga kerja tambahan yaitu menantu. b. Tingkat pendidikan keluarga. Makin rendah pendidikan keluarga makin sering ditemukan perkawinan dan kehamilan remaja. Hal ini berkaitan dengan pemahaman berkeluarga yang masih bersifat sederhana.

10

c. Kepercayaan dan adat istiadat dalam keluarga. Untuk meningkatkan status social keluarga, mempererat hubungan antar keluarga dan untuk menjaga garis keturunan keluarga. d. Kemampuan keluarga menghadapi masalah remaja. Bila tidak ada alternatif lain, keluarga akan mengawinkan anak gadisnya lebih awal daripada terperosok ke dalam perbuatan maksiat yang mencoreng nama baik keluarga. 3. Faktor Lingkungan a. Adat Istiadat. Pada beberapa daerah di Indonesia mempunyai anggapan bila anak gadisnya yang telah dewasa belum berkeluarga dipandang sebagai aib keluarga. Akhirnya mendorong terjadinya perkawinan dan kehamilan remaja. b. Pandangan dan Kepercayaan. Pandangan dan atau kepercayaan yang salah yang menganggap bahwa kedewasaan seseorang dimulai dari status perkawinan dan juga kepercayaan agama tentang akil baliq yang disalahtafsirkan. c. Penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan. Pemuka daerah yang menyalahgunakan wewenang untuk mengawini anak gadis orang. d. Tingkat pendidikan masyarakat. e. Tingkat sosial ekonomi masyarakat. f. Tingkat kesehatan penduduk. Jika tingkat kesehatan belum memuaskan, sehingga angka kematian tinggi, maka sering dijumpai perkawinan usia remaja.

11

g. Perubahan Nilai. Perubahan nilai tradisional sehingga terjadi hubungan seksual darn kehamilan di luar nikah, mendorong terjadinya perkawinan usia muda. h. Peraturan perundang-undangan. Peranan peraturan perundang-undangan yang membenarkan perkawinan usia muda cukup besar. Juga aparat penyelenggaraannya apabila tidak patuh pada ketentuan, dapat mendorong makin tingginya perkawinan usia remaja.

2.3 Risiko kehamilan pada remaja Menurut Depkes RI (2005) resiko kehamilan pada usia dini adalah rahim dan panggul belum mencapai ukuran dewasa Ditinjau dari segi gizi kehamilan pada remaja merupakan hal yang beresiko. Gizi yang diperlukan oleh para remaja yang hamil ini berkonpetisi antara kebutuhan mereka terhadap pertumbuhan dan perkembangan dan perkembangan janin. beragam resiko terjadinya anemia, bayi prematur, bayi berat lahir rendah, kematian bayi dan penyakit menular seksual meningkat pada remaja yang hamil sebelum usia 16 tahun.12 Mathur Greene, dan Malhotra (2003) juga mengemukakan sejumlah resiko/konsekuensi negatif yang mengakibatkan remaja terutama remaja putri yang menjadi fokus penelitian serta lingkungan di sekitarnya.13 1. Akibatnya dengan kesehatan (Health and related outcomes) a. Belum matangnya organ reproduksi Selama pubertas tulang dan organ reproduksi mengalami perkembangan. rasio atau perbandingan organ kandungan wanita muda antara corpus ke isthmus dan cervix belumlah sempurna. Corpus uterus (kandungan) ibu

12

muda lebih kecil karena proses pertumbuhan uterus itu sendiri masih berlangsung dan belum sempurna, Rasio corpus dan cervix hanya 1:1, sedangkan pada wanita dewasa perbandingannya adalah 2:1. Organ reproduksi yang immature ini menjelaskan mengapa kehamilan muda memiliki resiko bagi kesehatan ibu dan bayinya, selain itu banyak para remaja putri terutama di Indonesia memiliki postur tubuh yang kecil, menyebabkan kesulitan saat persalinan, keadaan ini dikenal sebagai Cephalo pelvic disproporsi (Disproporsi kepala panggul) sangat mungkin terjadi.14 b. Abortus Wanita dalam usia dini dengan belum matangnya alat reproduksi, mengalami kejadian abortus. Dibuktikan dengan terjadinya abortus sering terjadi pada waita yang bemul matang secara emosional, dan sangat mengguatirkan resiko kehamilan. Dalam hal tersebut peranan dokter dalam menyelamatkan kehamilan sangat penting. Usaha-uasah dokter untuk mendapat kepercayaan pasien, dan menerang kan segala sesuatu sangat membantu.15 c. Hyperemesis gravidarum Ibu hamil yang mengalami muntahmuntah terus (hyperemisis

gravidarum), keadaan disebabkan oleh karena kurang mampunya tubuh beradaptasi akan kadar hormon yang meningkat karena adanya janin dalam kandungan, muntah yang terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan syok karena kurangnya cairan dalam tubuh ibu.14

13

d. Anemia Ditandai dengan pucat, lesu, lemah, pusing dan sering sakit, pemeriksaan Hb kurang dari 8 gram %. Anemia atau kurang darah merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Ibu hamil yang anemia tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh ibu dan janin akan nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah, sehingga pertumbuhan bayi terganggu. Wanita yang anemia saat melahirkan dapat mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan dapat menyebabkan kematian.14 e. Berat badan ibu tidak naik. Selama kehamilan, ibu hamil diharapkan mengalami pertumbuhan janin. Tidak adanya kenaikan berat badan yang diharapkan menunjukan kondisi malnutrisi ibu mengindikasikan pertumbuhan janin yang terhambat.14 f. Preeclampsia/eklampsia Dapat merupakan tanda adanya preeklamsi, yaitu meningkatnya tekanan darah pada kehamilan. Biasanya terjadi pada usia kehamilan 20 minggu (akhir semester 2 atau pada semester 3) walau dapat dijumpai lebih awal, preeklamsi merupakan penyumbang angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Preeklamsi dapat diikuti terjadinya eklamsia yaitu kejang dengan disertai peningkatan tekanan darah. Satu dari 50 wanita dan satu dari 14 bayi meninggal dunia yang disebabkan oleh eklamsi.14 g. Gerakan Janin berkurang atau tidak ada. Sejak usia kehamilan 5 bulan, ibu sebaiknya memantau gerakan janin. Gerakan janin diharapkan dirasakan olah ibu 3 kali setiap jam, jika ibu

14

merasa kurang dari itu, menunjukkan bayi tidak aktif, harus berkonsultasi dengan bidan atau dokter.14 h. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan. Ibu dengan sakit jantung beresiko hamil karena pada keadaan kehamilan jantung dituntut bekerja lebih keras untuk memompa darah. Ibu hamil dengan penyakit jantung juga beresiko melahirkan bayi dengan barat badan lahir rendah.14 i. Ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini mempermudah terjadinya infeksi pada kandungan yang membahayakan jiwa ibu.14 j. Kehamilan tidak maju. Dapat terjadi karena kontraksi yang tidak tepat, malposisi, cephalo pelvic disproportion . kehamilan yang terhambat ini dapat mengakibatkan infeksi postpartum yang berat dan meningkatkan resiko penyakit radang panggul, kemandulan dan lika neurologist. Wanita dengan kehamilan tidak maju segera dirujuk kerumah sakit.14 k. Pendarahan Pendarahan pada awal kehamilan dapat merupakan tanda keguguran, pendarahan pada usia kehamilan 4 sampai 9 bulan dapat menunjukan plasenta letak rendah dalam rahim dan dapat menutup jalan lahir. Pendarahan pada akhir kehamilan dapat merupakan tanda plasenta terlepas dari rahim, perdarahan yang hebat dan terus menerus setelah melahirkan dapat menyebabkan ibu kekurangan darah dan merupakan tanda bahaya

15

dimana ibu bersalin harus segera mendapat pertolongan yang tepat dari bidan atau dokter.14 l. Partus macet Karena adanya disproporsi kepala panggul maka pertolongan persalinan harus dilakukan dengan operasi ceasar, yang tentu saja harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap (namun ini menjadi masalah bagi mereka yang tinggal yang jauh dari fasilitas yang memiliki layanan operasio ceasar).14 m. Fistula Merupakan penyulit yang paling sering terjadi sebagai akibat dari partus macet yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Tekanan dari kepala bayi yang lama terhadap pelvis ibunya menguranggi aliran darah ke jaringan lunak di sekitar kantung kemih atau pencernaannya. yang mengakibatkan kemudian ibu merasakan nyeri secara fisik dan kesedihan secra emosional.14 n. Pendarahan pasca persalinan termasuk masalah akibat anemia. Selama kehamilannya ibu muda cenderung mengalami anemia

dibandingkan ibu lebih tua. Pendarahan merupakan penyebab tersering menyebabkan kematian ibu.16 o. BBLR Ibu muda searing mengalami pola makan yang buruk dan mengalami pertambahan berat badan selama hamil yang tidak ade kuat. Bayi yang lahir dari ibu muda 2 6 kali lebih sering berat badan lahir rendah

16

(BBLR) karena premature dan retardasi pertumbuhan selama dalam rahim. Bayi Dengan berat lahir rendah (BBLR) mungkin mengalami pertumbuhan organ yang tidak sempurna yang dapat menyebabkan masalah pada paruparu seperti respiratory distress syndrome atau masalah otak, dan masalah pencernaan atau retardasi mental. Kontrol terhadap suhu tubuh dan kadar gula sulit diatur yang mengakibatkan bayi berat lahir rendah (BBLR).
14

17

2. Akibatnya dengan kehidupan (Life outcomes)13 a. b. Berkurangnya kesempatan, keahlian dan dukungan social Berkurangnya kekuatan dalam kaitannya dengan hukum karena keahlian, sumber-sumber, pengetahuan, dukungan sosial yang terbatas. 3. Akibatnya dengan anak (Outcomes for children)13 Kesehatan bayi dan anak yang buruk memiliki kaitan yang cukup kuat dengan usia ibu yang terlalu muda, berkesinambungan dengan ketidakmampuan wanita muda secara fisik dan lemahnya pelayanan kesehatan reproduktif dan sosial terhadap mereka. Anak-anak yang lahir dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki resiko kematian yang cukup tinggi. 4. Akibatnya dengan perkembangan (development outcomes)13 Hal ini berkaitan dengan Millenium Develovement Goals (MDGs) seperti dukungan terhadap pendidikan dasar, dan pencegahan terhadap HIV/AIDS. Ketika dihubungkan dengan usia saat menikah, dengan jelas menunjukkan bahwa menikah di usia yang tepat akan dapat mencapai tujuan perkembangan, yang meliputi menyelesaikan pendidikan, bekerja, dan memperoleh keahlian serta informasi yang berhubungan dengan peran di masyarakat, anggota keluarga, dan konsumen sebagai bagian dari masa dewasa yang berhasil.

2.4 Hubungan tingkat pendidikan dengan kehamilan remaja Pendidikan dalam arti formal adalah suatu proses penyampaian bahan atau materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan (anak didik) guna
18

mencapai perubahan tingkah laku. Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia sehingga kualitas sumber daya manusia tergantung dari kualitas pendidikan. Pendidikan berhubungan dengan kemampuan baca tulis dan kesempatan seseorang menerima serta menyerap informasi sebanyak-banyaknya.17 Informasi yang diterima akan meningkatkan pengetahuan. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi dan pengetahuan seseorang. Menurut Notoadmodjo (2007), ada 7 faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu :18 1) Umur Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperoleh, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampun penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. 2) Intelegensi Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahauan.

19

3) Lingkungan Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang dimana seseorang dapat mempelajari hal- hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang. 4) Sosial Budaya Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungan dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan. 5) Pendidikan Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya. 6) Informasi Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi bila ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahauan seseorang. 7) Pengalaman
20

Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahauan, atau pengetahuan itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahauan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memeahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. Dengan pendidikan tinggi seseorang akan lebih mudah menerima atau memilih suatu perubahan yang lebih baik.17 Tingkat pendidikan menggambarkan tingkat kematangan kepribadian seseorang dalam merespon lingkungan yang dapat mempengaruhi wawasan berpikir atau merespon pengetahuan yang ada di sekitarnya. Pendidikan yang rendah akan berakibat terputusnya informasi yang diperoleh pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Menurut Grogger dan Bronars (1993), tingkat pendidikan berkaitan dengan usia kawin yang pertama.19 Semakin dini seseorang melakukan perkawinan semakin rendah tingkat pendidikannya. Pengetahuan seksual pranikah dapat mempengaruhi sikap individu tersebut terhadap kehamilan remaja (Adikusuma, 2005).20 Remaja yang mendapat informasi yang benar tentang seksual pranikah maka mereka akan cenderung mempunyai sikap negatif. Sebaliknya remaja yang kurang pengetahuannya tentang seksual pranikah cenderung mempunyai sikap positif/sikap menerima adanya perilaku seksual pranikah sebagai kenyataan sosiologis (Bungin, 2001).21

21

Hal senada juga dikemukakan Rahman and Kabir (2005) factor yang menyebabkan perkawinan dan kehamilan usia dini di Bangladesh adalah pendidikan.22 Menurut Hanum (1997), yang melakukan penelitian di Bengkulu Utara salah satu faktor yang berkaitan tinggi rendahnya usia kawin pertama adalah rendahnya akses kepada pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan disebabkan oleh ekonomi keluarga yang kurang. Kekurangan biaya menjadi kendala bagi kelanjutan pendidikan.23 Choe et al. (2004) mengemukakan tingkat pendidikan seseorang berhubungan dengan pernikahan dan kehamilan usia dini.24 Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berhubungan dengan menurunnya kemungkinan menikah di usia dini. Laki-laki dan perempuan di Nepal tidak menikah selama masa pendidikan. Demikian juga penelitian yang dilakukan Chariroh (2004) di Kabupaten Pasuruan didapatkankan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan perkawinan dan kehamilan di usia muda adalah pendidikan.25

2.5 Hubungan status ekonomi dengan kehamilan remaja Masalah kemiskinan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kehamilan usia dini. Pada beberapa wilayah, ketika kemiskinan benar-benar menjadi permasalahan yang sangat mendesak, perempuan muda sering dikatakan sebagai beban ekonomi keluarga. Oleh karenanya perkawinan usia dini dianggap sebagai suatu solusi untuk mendapatkan mas kawin dari pihak laki-laki untuk menganti seluruh biaya hidup yang telah dikeluarkan oleh orangtuanya.21 Secara sosial ekonomi, pernikahan usia dini menjadi salah satu gejala yang menunjukkan rendahnya status wanita. Pada beberapa kasus, pernikahan usia dini berkaitan dengan terputusnya kelanjutan sekolah wanita yang berakibat pada
22

tingkat pendidikan wanita menjadi rendah. Pendidikan yang rendah akan merugikan posisi ekonomi wanita dan rendahnya tingkat partisipasi kerja wanita. Menurut Hanum (1997), faktor ekonomi yang berkenaan dengan lapangan pekerjaan dan kemiskinan penduduk memberikan andil bagi berlangsungnya perkawinan usia dini. Taraf ekonomi penduduk yang rendah, tidak cukup untuk menjamin kelanjutan pendidikan anak. Jika seorang anak perempuan telah menamatkan pendidikan dasar dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia hanya tinggal di rumah. Karena keterbatasan lapangan pekerjaan, mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan.21 Penelitian yang

dilakukan Chariroh (2004) di Kabupaten Pasuruan didapatkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kehamilan di usia muda adalah ekonomi.23

2.5 Hubungan sosial budaya dengan kehamilan remaja Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. 24 Kebudayaan sangat mempengaruhi kehidupan seorang individu. Apalagi nilai kebudayaan pada saat ini banyak terpengaruh oleh budaya luar atau budaya asing yang masuk ke lingkungan kehidupan masyarakat. Banyak orang-orang yang terpengaruh oleh nilai budaya asing baik itu nilai budaya yang baik ataupun yang tidak baik. Apalagi terhadap anak remaja yang sedang berada dalam masa transisi atau masa peralihan.24

23

Remaja sering mengikuti perubahan-perubahan nilai budaya yang masuk ke lingkungan mereka. Apalagi pengaruh informasi global (paparan media audiovisual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran.24 Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.24 Beberapa faktor seperti budaya memberikan konstribusi terhadap dengan keputusan wanita untuk hamil di usia muda. Dalam budaya patriarki, anak lakilaki sejak awal dipersiapkan memainkan peran pada sektor publik, sedangkan anak perempuan ditekankan memainkan peran domestik, seputar dapur, kasur, dan sumur. Domestifikasi peran perempuan membuat orangtua lebih memilih menikahkan anak perempuannya, begitu beranjak remaja. Pernikahan dini yang terjadi di masyarakat biasanya terjadi karena tingkat ekonomi yang rendah. Hal tersebut merupakan bentuk solusi pembagian tanggung jawab dari keluarga. Dengan menikahkan anaknya, orangtua berharap beban hidup mereka akan berkurang. Remaja dimungkinkan untuk menikah pada usia dibawah 20

24

tahun sesuai dengan Undang undang perkawinan No.I tahun 1979 bahwa usia minimal menikah bagi perempuanadalah 16 tahun dan bagi laki laki 18 tahun.8 Di banyak daerah di Indonesia ada semacam anggapan jika anak gadis yang telah dewasa belum berkeluarga dipandang merupakan aib keluarga. Untuk mencegah aib tersebut, para orangtua berupaya secepat mungkin menikahkan anak gadis yang dimilikinya, yang pada akhirnya mendorong terjadinya pernikahan dini.8 Desa Pantai Utara Pulau Jawa, suatu daerah yang penduduknya biasa menikahkan anak gadisnya di usia muda, biarpun tak lama kemudian bercerai. Di daerah tersebut perempuan yang berumur 17 tahun apabila belum kawin dianggap perawan tua yang tidak laku. Tak jauh beda di Kabupaten Bantul, perempuan usia dibawah 20-an tak menikah maka dianggap perempuan tak laku. 8 Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki. Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini.8 Hanum (1997), nilai budaya lama yang menganggap bahwa menstruasi merupakan tanda telah dewasanya seorang anak gadis masih dipercaya oleh warga masyarakat, tidak hanya di kalangan orang tua saja melainkan juga di kalangan
25

kaum muda. Ukuran perkawinan di masyarakat seperti itu adalah kematangan fisik, (haid, bentuk tubuh yang sudah menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder), atau bahkan hal-hal yang sama sekali tidak ada kaitnya dengan calon pengantin. Hal ini akan membentuk sikap positif masyarakat dan kaum muda terhadap perkawinan usia dini. Faktor keterbatasan ekonomi dan terputusnya pendidikan merupakan faktor yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi masyarakat untuk tidak mempunyai visi ke masa depan sehingga sikap positif terhadap pernikahan usia dini terus terpupuk.21 Peran orangtua dalam mencarikan dan menentukan pasangan hidup anak perempuannya (terutama pada perkawinan pertama) umum ditemukan di kalangan masyarakat Jawa, terlebih lagi di daerah pedesaan. Menurut Kusujiarti (1995), di kalangan masyarakat Jawa, dikenal tiga macam tipe perkawinan yang dilihat dari sudut perjodohan pihak wanita sebagai berikut :27 1. Arranged marriage, yaitu perjodohan oleh orang tua. Ada dua tipe yaitu : a) Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua, tanpa disertai persetujuan sebelumnya oleh pengantin perempuan maupun laki-laki b) orangtua pengantin wanita dengan calon pengantin laki-laki

merencanakan perkawinan, tanpa persetujuan si gadis terlebih dahulu. 2. Mixed marriage, yaitu anak gadis yang hendak kawin mencari sendiri jodohnya,tetapi keputusan untuk terlaksananya perkawinan diserahkan kepada orangtua. 3. Voluntary marriage, yaitu anak yang hendak kawin mencari sendiri jodohnya, orangtua tinggal merestui saja. Sikap hidup orangtua suku Jawa
26

untuk mencarikan jodoh bagi anak perempuannya ini berlangsung karena didorong oleh falsafah hidup kejawen tentang kewajiban orangtua untuk mendewasakan anak. Dalam budaya Jawa, perkawinan merupakan simbol berakhirnya kewajiban orangtua dalam melindungi anak di bawah tanggung jawab rumah tangganya serta simbol peralihan seseorang dari periode anakanak menjadi dewasa dengan status perkawinannya. Akibat perjodohan yang dilakukan orangtua, pengantin wanita tidak mengetahui betul tentang karakteristik calon suami mereka. Ketidakpahaman wanita akan karakteristik suami ini banyak menimbulkan rasa cemas, stress, takut, malu, segan dan marah pada diri pengantin wanita.

2.5 Strategi untuk mengurangi kehamilan remaja Adapun beberapa strategi yang dapat mengurangi kehamilan remaja antara lain :28 a. Mengurangi kemiskinan Angka kehamilan remaja paling tinggi terdapat di daerah-daerah yang keadaan sosial ekonominya kurang. Strategi yang menurunkan kemiskinan dan memperbaiki prospek sosial ekonomi keluarga muda ini besar kemungkinannya akan menurunkan angka kehamilan remaja b. Mengincar kelompok beresiko tinggi Kelompok-kelompok tertentu kaum muda lebih besar kemungkinannya hamil pada usia remaja, sehingga mereka dapat dipilih untuk menjadi sasaran. Kelompok ini mungkin mencakup remaja yang diasuh oleh negara, remaja yang tidak memiliki rumah, remaja yang tinggal dilingkungan yang sosial
27

ekonominya lemah, dan remaja yang mereka sendiri adalah anak dari orangtua remaja c. Meningkatkan pendidikan Pendidikan seks di sekolah berperan penting dalam menurunkan kehamilan remaja. Program pendidikan seks lebih besar kemungkinannya berhasil apabila terdapat pendekatan terpadu antara sekolah dan layanann kesehatan. d. Pembinaan bagi remaja Bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, disamping menangani masalah yang ada. Pembekalan pengatahuan yang diperlukan remaja meliputi : 1) Perkembangan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual remaja Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secara fisik, kejiwaan dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Informasi tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan, serta tentang kontrasepsi perlu diperoleh setiap remaja. 2) Proses reproduksi yang bertanggung jawab Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual. Remaja perlu mengendalikan naluri seksualnya dan menyalurkannya menjadi kegiatan yang positif, seperti olahraga, dan mengembangkan hobi yang membangun. 3) Pergaulan yang sehat

28

Remaja

memerlukan

pembekalan

tentang

kiat-kiat

untuk

mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual dan penggunaan NAPZA. 4) Persiapan Pra nikah Diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan keluarga. 5) Kehamilan dan persalinan Diberikan pembekalan mengenai hal-hal yang menyangkut kehamilan termasuk asupan gizi Ibu dan dampak-dampak dari kehamilan serta pembekalan dalan menghadapi persalinan yang akan terjadi.

29

BAB III PENUTUP

Kehamilan pada masa remaja dan menjadi orang tua pada usia remaja berhubungan secara bermakna dengan resiko medis dan psikososial baik terhadap ibu maupun bayinya. Kehamilan usia remaja berisiko terhadap kematian ibu karena ketidaksiapan calon ibu remaja dalam mengandung dan melahirkan bayinya. Banyak faktor yang menyebabkan kehamilan remaja usia antara lain faktor pendidikan, status ekonomi, dan sosial budaya. Semakin dini seseorang melakukan perkawinan semakin rendah tingkat pendidikannya dan berisiko untuk hamil di usia dini. Pendidikan yang rendah akan merugikan posisi ekonomi wanita. Faktor ekonomi yang berkenaan dengan lapangan pekerjaan dan

kemiskinan penduduk memberikan andil bagi berlangsungnya perkawinan dan kehamilan di usia dini. Beberapa faktor seperti budaya juga memberikan konstribusi terhadap dengan keputusan wanita untuk hamil di usia muda. Kebudayaan sangat mempengaruhi kehidupan seorang individu apalagi terhadap anak remaja yang sedang berada dalam masa transisi atau masa peralihan.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Arma AJA. Pengaruh perubahan sosial terhadap perilaku seks remaja dan pengetahuan KESPRO sebagai altenatif penangkalnya. Departemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. Medan, 2007. 2. Zalbawi S. Masalah aborsi dikalangan remaja. Media Litbang Kesehatan Volume XII Nomer 3 Tahun. Jakarta, 2002. 3. Manuaba IBG. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri & ginekologi, edisi 2. Jakarta: EGC, 2004; 34-8. 4. UNAIDS. Global report UNAIDS report on the global AIDS epidemic 2010. Geneva, 2010. 5. Ditjen P2PL. Statistik Kasus HIV/AIDS Di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI, 2012 6. Tanjung A, Utamadi G, Sahanaja J, Tafal Z, Kebutuhan akan pelayanan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, United Nations Population Fund, Badan Koordinasi Keluarga berencana Nasional, Jakarta, 2003 7. Sarwono, S.W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal. 24-25, 52-58, 142-165. 8. Fiatin EP, Mauliyah I, Priyoto. Gambaran pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kehamilan resiko tinggi pada ibu hamil usia muda di wilayah kerja puskesmas kerek kecamatan kerek kabupaten tuban. Surya 2011:1(3):11-17. 9. Soetjiningsih, 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalannya. Jakarta: Sagung Seto. Hal. 20-30. 10. Ginting F, Wantania J. Pengetahuan, sikap dan perilaku remaja yang hamil tentang kehamilan remaja di Manado. Manado: Buletin IDI Manado, 2011. 11. Sampoerno D, Azwar A. Ringkasan Perkawinan mdan Kehamilan pada Wanita Muda Usia di Indenesia. Dalam: Sampoerno D, Azwar A, ed. Perkawinan dan Kehamilan pada Wanita Muda Usia. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta, 1987. 12. Depkes RI. Kesehatan Reproduksi, Jakarta: Depkes RI, 2005
31

13. Mathur S, Greene M, Malhotra A. Too young to wed, the live, rights of young married girl. ICWS, 2003. 14. Ami. Pembawa pesan edisi Desember. Jakarta, 2007. 15. Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YPS-SP, 2005 16. Ferdian. Gizi pada kehamilan muda. Jakarta: Renika Cipta, 2007. 17. Suprapto,A., Pradono, J. dan Hapsari, D. (2004) Determinan sosial ekonomi pada pertolongan persalinan di Indonesia. Majalah Kedokteran Perkotaan.Vol 2, no. 2, pp.18-29. 18. Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta. 19. Grogger, Jeff and Stephen Bronars (1993) The Socioeconomics Consequences of Teenage Childbearing: Findings from a Natural Experiment. Family Planning Perspective, 25(4): 156- 161 & 174. 20. Adikusumo, I. 2005. Sikap Remaja Terhadap Seks Bebas di Kota Negara: Perspektif kajian Budaya. Ejournal. Unud. Ac. Idabstrake_journal_rasmen.pdf. Diakses pada tanggal 23 Januari 2014 21. Bungin, B. 2001. Erotika Media Massa. Surakarta : Muhammadiyah University Press. 22. Rahman MM, Kabir M. Do adolescents support early marriage in Bangladesh? Evidence from study. JNMA J Nepal Med Assoc. 2005 JulSep;44(159):73-8. 23. Hanum S.H. (1997) Perkawinan Usia Belia, kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada dengan Ford Foundation Yogyakarta Universitas Gadjah Mada. 24. Choe, M.K., Shyam,T. and Vinod, M.. (2004) Early Marriage and Early Motherhood in Nepal, J Bios Science. : pp:1-20. 25. Chariroh (2004). Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Perkawinan dan Perceraian Suami Isteri Usia Muda di Pasuruan. Universitas Muhammadiyah Malang. 26. Syafrudin, SKM, M.Kes dan Mariam N, SKM. (2010). Sosial Budaya Dasar. Jakarta: CV. Trans Info Media.
32

27. Kusujiarti S. (1995). Hidden power in gender relations among Indonesians: case study in Javanese village, Indonesia. Lexington, Kentucky: University of Kentucky. 28. Himawari E. 2011. Kehamilan Remaja. Available at http://ewyhimawary.blogspot.com/2011/03/kehamilan-remaja.html Diakses pada 23 Januari 2013.

33