Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI

BENTANG ALAM KARST

DisusunOleh: Wesly Rambu Langit 21100113120054

LABORATORIUM GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI FOTO PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG APRIL 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud Maksud diadakannya Praktikum ini adalah: Mengetahui Kenampakan Bentang Alam Karst Melalui Peta Topografi Mengetahui Warna Deliniasi Satuan bentang Alam Karst Mengetahui Warna Deliniasi Satuan Struktural Menghitung Morfometri dari setiap satuan Deliniasi

1.2 Tujuan Tujuan Dari Praktikum ini terdiri dari: Untuk Mengetahui Kenampakan Bentang Alam Karst Melalui Peta Topografi Untuk Mengetahui Warna Deliniasi Satuan bentang Alam Karst Untuk Mengetahui Warna Deliniasi Satuan Struktural Dapat Menghitung Morfometri dari setiap satuan Deliniasi

1.3 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan Waktu dan tempat diadakannya praktikum ini adalah: Hari, Tanggal : Selasa, 01 april 2014 Pukul Tempat : 15.30 WIB : Ruang GS 301, Gedung Pertamina Sukowati, Teknik Geologi

BAB II DASAR TEORI

2.1 Pengertian Bentang Alam Karst Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan (solution topography) (Blomm,1979). Menurut Jenning (1971, dalam Blomm 197), topografi karst didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut (memiliki derajat kelarutan yang tinggi) pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. Flint dan Skinner (1977) mendefinisikan topography karst sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan (sink) dan gua yang berkombinasi membentukk topografi yang aneh (peculiar topography) dan dicirikan oleh adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. Berdasarkan kedua definisi diatas maka dapat ditetapkan suatu pengertian tentang topografi karst yaitu : Suatu topografi yang terbentuk pada d aerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief yang khas, penyaluran yang tidak teratur, aliran sungainya secara tiba-tiba masuk kedalam tanah dan meninggalkan lembah kering untuk kemudian keluar ditempat lain sebagai mata air yang besar. 2.2 . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bentang Alam Karst 1) Faktor Fisik Faktor fisik meliputi yang mempengaruhi pembentukan topografi karst batugamping, porositas dan permeabilitas

ketebalan

batugamping serta intensitas struktur (kekar) yang mengenai batuan tersebut.

Ketebalan Batugamping Menurut Von Engeln, batuan mudah larut (dalam hal ini batugamping) yang baik untuk perkembangan topografi karst harus tebal. Batugamping tersebut da[at masif atau terdiri dari beberapa lapisan yang membentuk satu unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum batuan tersebut habis terlarutkan dan tererosi. Ritter (1978) mengemukakan bahwa batugamping yang berlapis (meskipun membentuk satu unit yang tebal), tidak sebaik batugamping yang massif dan tebal dalam pembentukan topografi karst ini. Hal ini dikarenakan material sukar larut dan lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan akan mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menmbus seluruh lapisan. Sebaliknya pada batugamping yang massif, sirkulasi air akan berjalan lancer sehingga mempermudah terjadinya proses karstifikasi.

Porositas dan Permeabilitas Kedua hal ini berpengaruh terhadap sirkulasi air dalam batuan. Menurut Ritter (1978), porositas primer ditentukan oleh tekstur batuan dan berkurang oleh proses sementasi, rekristaslisasi dan penggantian mineral (missal dolomitisasi) sehingga porositas primer tidak begitu berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Sebaliknya dengan porositas sekunder yang biasanya terbentuk oleh adanya retakan atau pelarutan dalam batuan. Porositas (baik primer maupun sekunder) biasanya mempengaruhi permeabilitas yaitu kemampuan batuan batuan untuk melalukan air. Disamping itu permeabilitas juga dipengaruhi oleh adanya kekar yang saling berhubungan dalam batuan. Semakin besar permeabilitas suatu batuan maka sirkulasi air akan berjalan semakin lancer sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif.

Intesitas Struktur Terhadap Batuan

Intersitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas batuan, zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif. Ritter (1978) mengemukakan bahwa kekar biasanya terbentuk dengan pola tertentu dan berpasangan (kekar gerus), tiap pasang membentuk sudut antara 70 sampai 90 dan mereka saling berhubungan. Hal inilah yang menyebabkan kekar dapat

mempertinggi porositas dan permeabilitas sekaligus sebagai zona lemah yang menyebabakan proses pelarutan dan erosi berjalan lebih intensif. Apabila intensitas pengkekaran sangat tinggi maka batuan menjadi mudah hancur atau tidak memiliki kekauatan yang cukup. Disamping itu permeabilitas mejadi sangat tingi sehingga waktu sentuh batuan dan air sangat cepat. Hal ini menghambat proses kartifikasi (Ritter, 1978). Adanya control struktur dalam pembentukan topografi karst ini diberikan contoh pada

pembentukan gua

Gambar 2.1 Sketsa Gua oleh Kekar

2) Faktor Kimia Faktor kimiawi yang berpengaruh dalam proses karstifikasi adalah kondisi kimia batuan dan kondisi kimia media pelarut. Kondisi Kimia Batuan Kondisi kimia batuan yang dimaksud adalah komposisi dan sifat kimia (kelarutannya).
5

Secara umum berdasarkan komposisinya batugamping dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, tetapi sesuai dengan namanya, batugamping sedikitnya mengnadung 50% mineral karbonat ynag umumnya berupa kalsit (CaCO3). Dua jenis mineral karbonat yang umum ada pada batugamping adalah kalsit dan dolomite (Sweeting, 1973 dalam Ritter, 1978). Menurut Leigton dan Pendextel (1962 dalam Ritter, 1978), bila batuan mengandung mineral dolomite lebih dari 50% maka batuannya disebut dolomite dan bila batuannya mengandung mineral kalsit lebih dari 50% maka batuannya disebut batugamping. Batugamping inilah yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk topografi karst. Kondisi Kimia Media Pelarut Media pelarut dalam proses karstifikasi adalah air alam (natural water) (Jehning, 1971 Vide Bloom, 1979). Kondisi kimiawi media pelarut ini sangat berpangaruh pada proses karstifikasi. Flint dan Skinner (1979) mengemukakan bahwa kalsit sangat sulit lartu dalam air murni, akan tetapi ia akan larut dalam air yang mengandung asam. Dialam, air hujan akan mengikat

karbondioksida (CO2) dari udara dan dari tanah disekitarnya membentuk air /larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3). Larutan inilah yang akan melarutkan batugamping. Dengan demikian bahwa sifat kimiawi media pelarut sangat dipengaruhi oleh banyaknya karbondioksida yang diikatnya. Disamping membentuk larutan asam, karbondioksida didalam air akan meningkatkan tekanan parsial CO2 dalam larutan tersebut. Tekanan parsial CO2 yang tinggi dalam larutan akan mempertinggi kemampuan larutan untuk melarutkan kalsit.bloom (1979) menyebutkan bahwa tekanan parsial CO2 pada air yang mengandung udara (aerated aqueous) hanya 30 pa dan CaCO3 yang dapat dilarutkannya kurang lebih hanya 63 mg/lt, tetapi pada kondisi tidak ada udara (anaerobic) tekanan parsial CO2 meningkat

sampai 30 Kpa dan CaCO3 yang dapat dilarutkannya mencapai 700 mg/lt. 2.3 Bentang Alam Hasil Proses Karstifikasi Nama Kars menurut Thornbury (1964) dipakai pertama kali untuk menamakan sebuah daerah di Italia yaitu Carso. Daerah Carso merupakan dareah seluas kurang lebih 38.500 km2 dengan ketinggian mencapai 2.500 m yang litologinya berupa batugamping dimana gejala topografi kars berkembang baik didaerah ini. Daerah kars yang dimaksud tepatnya berada disebelah timur laut Laut Adriatic. Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam kars dapat dibedakan menjadi dua macam (Srijono, 1984, dalam Widagdo, 1984), yaitu bentuk-bentuk konstruksional dan bentuk-bentuk sisa pelarutan.

Gambar 2.2 Daerah Topografi Karst

1. Bentuk-bentuk Konstruksional Bentuk konstruksional adalah bentuk topogrfi yang dibentuk oleh proses pelarutan batugamping atau pengendapan material karbonat yang dibawa oleh air. Berdasarkan ukurannya, topografi konstruksional dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu bentuk-bentuk minor dan bentuk-bentuk mayor. Menurut Bloom (1979), yang dimaksud dengan bentang alam kars minor adalah bentang alam yang tak dapat diamati pada foto udara atau peta topografi, sedang bentang alam kars mayo adalah bentang alam yang dapat diamati baik didalam foto udara atau peta topografi.

Bentuk-bentuk topografi kars minor adalah : Lapies, Merupakan bentuk tak rata pada permukaan batugamping akibat adanya proses pelarutan, penggerusan atau karena proses lain. Kars Split, Adalah celah pelarutan yang terbentuk dipermukaan. Kars split sebenarnya merupakan perkembangan dari kars-runnel (solution runnel). Bila jumlah kars runnel banyak dan saling berpotongan maka akan membentuk kars split. Parit Karst, Adalah alur pada permukaan yang memanjang membentuk parit. Srijono (1984), mengemukakan bahwa parit kars ini merupakan kars split yang memajang sehingga membentuk parit kars. Palung Karst, Adalah alur pada permukaan batuan yang besar dan lebar, dibentuk oleh proses pelarutan. Kedalamannya dapat mencapai lebih dari 50 cm. biasanya terbentuk pada permukaan batuan yang datar atau miring rendah dan dikontrol oleh struktur yang memanjang. Speleothem, Adalah hiasan yang terdapat didalam gua yang dihasilkan oleh endapan berwarna putih, bentuknya seperti tetesan air, mengkilat dan menonjol. Hiasan ini merupakan endapan CaCO3 yang mengalami presipitasi pada saat air tanah yang membawanya masuk kedalam gua.

Gambar 2.3 Stalaktit dan stalakmit

Bentuk-bentuk topografi kars mayor adalah :

Surupan, Yaitu depresi tertutup hasil pelarutan denagn diameter mulai dari beberapa meter sampai beberapa kilometer,

kedalamannya mencapai ratusan meter dan bentuknya dapat bundar atau lonjong (oval),

Gambar 2.4 Surupan Gambar 2.4 UVala

Uvala, Adalah depresi tertutup yang besar, terdiri dari gabungan beberapa doline, lantai dasarnya tidak rata. Polje, Depresi tertutup yang besar dengan lantai dasar dan dinding yang curam, bentuknya tidak teratur dan biasanya memanjang searah jurus perlapisan atau zona lemah structural.

Pembentukannya dikontrol oleh litologi dan struktur dan mengalami pelebaran oleh proses korosi lateral pada saat ia terisi air. Jendela Karst, Adalah lubang pada atap gua yang menghubungkan antara ruang dalam gua dengan udara diluar yang terbentuk karena atap gua tersebut runtuh, (Twidale, 1976). Disamping itu jendela kars dapat pula terbentuk pada atap sungai bawah tanah. Lembah Karst, Adalah lembah atau alur yang besar yang terdapat pada lahan kars. Lembah ini terbentuk oleh aliran air permukaan yang mengerosi batuan yang dilaluinya. Gua (Cave), yaitu serambi tau ruangan bawah tanah yang dapat dicapai dari permukaan dan cukup besar bila dimasuki oleh manusia (Sanders, 1981). Gua seringkali teridir dari rangkaian ruangan sehingga kedalamannya dapat mencapai ratusan meter.
9

Terowongan dan Jembatan Alam, yaitu lorong bawah tanah yang terbentuk oleh pelarutan dan penggerusan air tanah atau oleh aliran bawah tanah (Von Engeln, 1942). Terowongan alam memiliki ukuran yang bervariasi artinya dapat berukuran besar atau kecil. Sebagai contoh, terowongan di Virginia dapat berukuran mencapai 275 meter, tingginya 23 meter dan lebarnya 40 meter.

2. Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan Yang dimaksud dengan bentuk morfologi sisa pelarutan adalah morfologi yang terbentuk karena pelarutan dan erosi sudah berjalan sangatlanjut sehingga meninggalkan sisa yang khas untuk lahan kars. Morfologi sisa dapat berkembang baik terutama pada daerah yang beriklim tropis basah (Bloom, 1979). Macam-macam bentuk morfologi sisa yaitu : Kerucut Kars, yaitu bukit kars yang berbentuk kerucut, berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi yang biasanya disebut sebagai bintang (Ritter, 1978). Kerucut kars sering disebut sebagai kegelkars (bahasa Jerman). Pada kenyataannya kerucut kars sering kali lebih mirip setengah bola dibanding dengan bentuk kerucut.

Gambar 2.5 Kerucut Karst

Menara Kars, adalah bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yng lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial (Ritter, 1978). Menurut Jenning (1971) dalam Ritter (1978) menara kars dan kerucut

10

kars dibedakan dalam hal keterjalan lereng dan adanya rawa / dataran alluvial yang mengelilinginya.

Gambar 2.6 Menara karst

Mogote, adalah bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (flat). Bentuknya kadang-kadang tidak simetri antara sisi yang mengarah kearah datangnya angin dengan sisi sebaliknya.

Gambar 2.6 Mogote

11

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini terdiri atas : 3.2 Bahan Peta Topografi Kertas Kalkir Pensil Warna Kertas HVS Alat tulis Penggaris

3.2 Diagram Alir 1. Pembuatan Deliniasi Mulai

Pengamatan pada peta topograf Pewarnaan Bentang Alam karst dan satuan struktural

Pewarnaan pola jalan dan pola pengaliran

Pembuatan 5 sayatan untuk satuan Karst, dan 5 sayatan pada satuan struktural

Pembuatan sayatan pada peta topografi


12

Pembuatan Profil dari sayatan

2. Perhitungan Morfometri

Penghitungan Indeks Kontur

Penghitungan Beda Tinggi sayatan

Penghitungan Jarak Atau Panjang Sayatan

Pengitungan Persen Lereng

Pengitungan Rata-rata Persen Kelerengan Penetuan Morfologi atau Jenis Reief Yang Terbentuk

Pembuatan Poster

Penyusunan Laporan

Selesai

13

BAB IV PERHITUMGAN MORFOMETRI

3.1 Perhitungan Morfometri Satuan Bentang Alam Karst

Panjang Sayatan Persen Kelerengan Rata- Rata Lereng = Beda Tinggi Titik Tertinggi Titik Terendah = 623 263 = 360 m Menurut Klasifikasi Van Zuidam (1983), Daerah ini memiliki Morfologi Pegunungan terjal sampai Pegunungan sangat terjal

14

3.2 Perhitungan Morfometri sayatan Struktural Panjang Sayatan : Sayatan 1 = 0,5 Sayatan 2 = 0,4 Sayatan 3 = 0,3 Sayatan 4 = 0,6 Sayatan 5 = 0,3 Persen Kelerengan : Beda Tinggi Titik Tertinggi Titik Terendah = 609 292 = 317 m Menurut Klasifikasi Van Zuidam (1983), Daerah ini memilki Morfologi Berbukit Terjal sampai Pegunungan Sangat Terjal.

15

BAB IV PEMBAHASAN
Dalam praktikum Geomorfologi acara Bentang Alam Karst ini, yang dilakukan pertama kali adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti peta topografi, Kertas kalkir, pensil, pensil warna dan peralatan lainnya. Setelah itu membuat deliniasi pada satuan struktural dan bentang alam alam karst. Kemudian setelah itu, membuat sayatan masing-masing 5 sayatan pada setiap satuan deliniasi. Kemudian dibuat pola aliran sungai dan jalan pada kalkir yang berbeda. Selanjutnya dibuat sayatan sepanjang 30cm yang melewati kedua satuan deliniasi tersebut, yang kemudian dibuat profil eksagrasi pada milimeter block. Dan langkah yang terakhir adalah melakukan perhitungan morfometri terhadap masing-masing sayatan baik deliniasi karst maupun deliniasi struktural. Selanjutnya menentukan morfologi atau relief berdasarkan pada klasifikasi van Zuidam (1983). 4.1 Satuan deliniasi Karst Satuan Bentang Alam karst dideliniasikan dengan menggunakan warna orange. Beberapa daerah yang termasuk kedalam satuan deliniasi Bentang Alam karst meliputi daerah Putjung, Kangkung, G. Wadang, G. Ingas, G. Banjeng, Tambakromo, G. Bandjaran, dan Sawahan. Berdasarkan perhitungan terhadap deliniasi bentang alam karst, di dapatkan bahwa daerah ini memiliki persen kelerengan sebesar 64% dengan beda tinggi sebesar 360 m. Hal ini menunjukkan bahwa daerah ini memiliki morfologi Berbukit Terjal hingga pegunungan sangat terjal, berdasarkan pada klasifikasi relief Van Zuidam (1983). Berdasarkan kenampakan pada Peta Topografi, daerah ini termaksud kedalam Bentang Alam Karst oleh karena diperkirakan pada daerah ini terdapat kenampakan Topografi Mayor hasil dari proses Karstifikasi seperti kenampakan Polje, Uvala, Jendela Karst, gua dan Jembatan Alam. Sedangkan topografi sisa atau topografi minor yang diperkirakan terdapat pada daerah ini berupa menara Karst, Kerucut Karst

16

ataupun Mogote yang terbentuk sebagai hasil pelarutan batugamping oleh air hujan ataupun pelarut lainnya. Pola aliran yang kemungkinan terbentuk pada daerah karst merupakan Pola aliran Multi-Basinal yang merupakan pola aliran yang khas dari Bentang Alam Karst. Pola Aliran Multi-Basinal atau biasa disebut Sinkhole adalah pola aliran yang sewaktu-waktu bisa hilang dan kemudian akan muncul lagi di tempat yang berbeda. Oleh karena alirannya berada di bawah tanah, maka pola aliran ini juga biasa disebut sungai bawah tanah. Hal ini disebabkan oleh karena litologi pembentukan karst merupakan litologi yang sifatnya mudah larut sehingga menyebabkan air mudah masuk oleh karena porositas dan permeabilitasnya yang tinggi. Oleh karena litologi penyusun daerah karst berupa Batugamping yang mudah larut dan bersifat karbonatan, maka diperkirakan bahwa daerah karst dahulunya merupakan daerah laut dangkal yang oleh karena adanya gaya tektonik menyebabkan terjadinya uplift atau pengangkatansehingga terbentuk daratan dengan litologi batugamping. Daerah Karst banyak dipengaruhi oleh struktur Geologi. Struktur dominan yang mendukung terbentuknya bentang alam karst adalah struktur kekar yang mempengaruhi terhadap jalannya prosess karstifikasi. Dengan adanya kekar maka akan terbentuk zona lemah berupa retakan-retakan yang akan memperbesar permeabilitas batuan sehingga air mudah masuk dan kemudian melarutkan dan mengerosi batuan. Daerah Karst sendiri mempunyai potensi positif berupa daerah pertambangan batugamping, daerah pengelolaan, dan wisata. Sedangkan potensi negatifnya yaitu kemungkinan terjadinya longsor. Tata Guna Lahan daerah karst sendiri juga digunakan sebagai daerah tambang dan objek studi geologi. 4.2 Satuan Deliniasi Struktural Daerah dengan satuan struktural dalam deliniasi di berikan pewarnaan ungu. Dalam peta topografi ini daerah yang termaksud dalam deliniasi

17

struktural terdiri atas Kedawung, Tawang, Sidowajah, G. Mabul, Ngandong, Tempuran, Pasehan, dan Mlaran. Dari hasil perhitungan morfometri, daerah dengan satuan deliniasi struktural memiliki persen kelerengan rata-rata 64,2% dengan beda tinggi 317 m. Dari hasil perhitungan tersebut, berdasarkan pada klasifikasi Van Zuidam (1983) maka daerah ini memiliki morfologi berupa Berbukit Terjal hingga pegunungan sangat terjal Daerah struktural dipengaruhi oleh proses geomorfik yang berasal dari luar bumi (eksogen) berupa erosi, transportasi dan pelapukan. Selain itu juga dipengaruhi oleh tenaga endogen yang berasal dari dalam bumi yang menghasilkan terjadinya perubahan struktur geologi berupa pengangkatan, kekar, lipatan dan patahan atau sesar yang mempengaruhi bentukan topografi. Daerah struktural tersusun atas litologi yang cukup resisten sehingga dapat membentuk daerah berkontur rapat. Litologi daerah ini umumnya akan tersusun oleh batuan beku dan kemungkinan sedikit sedimen sebagai hasil dari prosess fluvial. Selain itu pola pengaliran di daerah dengan satuan struktural berupa pola pengaliran dendritik. Pola pengaliran dendritik yaitu pola pengaliran berbentuk seperti pohon dan cabang-cabangnya yang berarah tidak beraturan. Pola ini berkembang pada daerah dengan batuan yang resistensinya seragam, lapisan sedimen mendatar. Daerah dengan satuan struktural memiliki potensi positif berupa daerah pemukiman, dan daerah industri. Sedangkan potensi negatif yang

kemungkinan bisa terjadi pada daerah ini dapat berupa tanah longsor. Tata Guna Lahan daerah ini dapat berupa daerah perkebunan dan pemukiman. Daerah satuan karst dan satuan struktural memiliki pola pengaliran yang berbeda. pada satuan karst pola pengalirannya cendenrung tidak meyebar oleh karena air permukaan pada daerah karst akan lebih mudah diserap oleh litologi penyusunnya hingga menyebabkan air masuk kedalam tanah dan tidak nampak secara Topografi. Sedangka pada daerah struktural memiliki pola pengaliran yang menyebar dikarenakan litologi penyusun satuan tersebut yang lebih resisten. Arah alirannya cenderung mengikuti topografi struktural.

18

Pada daerah Satuan Struktural dan Karst memiliki pola jalan yang sama, dimana pola jalan tersebut memiliki kontur garis yang tegas dan lebih tebal kemudian di deliniasi dengan warna merah.

19

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan Daerah dengan Satuan Bentang Alam Karst, dideliniasi dengan warna Orange sesuai batuan penyusunnya yang berupa batugamping. Daerah ini memilki persen kelrengan sebesar 64% sehingga di klasifikasikan memilki morfologi berupa Pegunungan sangat terjal (Van Zuidam, 1983) Daerah dengan satuan Struktural dideliniasi dengan warna Ungu. Daerah ini memiliki persentase kelerengan sebesar 64,2%. Dengan morfologi berupa Pegunungan sangat terjal (Van Zuidam, 1983) 6.2 Saran Daerah bentang alam Karst bisa dijadikan daerah wisata berupa gua, dan sebagainya Pemukiman di daerah karst bisa kekurangan air, ataupun

mengakibatkan batu ginjal oleh karena kandungan CaCO3 tinggi.

20

DAFTAR PUSTAKA
Tim assisten Praktikum Geologi Dasar.2013.Buku Panduan Praktikum Geologi Dasar.Teknik Geologi, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah http://www.academia.edu/1748967/Bentang_Alam_Karst_Karst_Landscape_ (diakses pada hari sabtu, 5 april 2014, pukul 21:17 Wib)

21