Anda di halaman 1dari 17

LEUKEMIA LIMFOSITIK KRONIK Hensky Stallone Sitepu 10.2009.

063 F-8 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11470 No. Telp (021)56942061 No. Fax (021)5631731 Email: library@ukrida.ac.id

ABSTRAK Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Sekitar 50% pasien mengalami limfadenopati dan atau hepatosplenomegali. Pembesaran limfonodi dapat terlokalisir atau merata dan bervariasi dalam ukuran. Splenomegali dan ,atau hepatomegali ditemukan pada 25-50% kasus. Limfositosis, trombositopenia dan anemia normositik normokrom terdapat pada stadium lanjut akibat infiltrasi sumsum tulang atau hipersplenisme. Tujuan terapi pada kebanyhakan pasien LLK adalah meredakan gejala dan memperpanjang kelangsungan hidup. Tetapi pada pasien lebih muda dengan faktor risiko buruk, pendekatan eksperimental dengan tujuan penyembuhan yang dipilih. Kemoterapi yang diberikan terlalu dini dapat memperpendek harapan hidup dan bukannya memperpanjang.

DEFINISI Defenisi Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Pada awalnya penambahan jumlah limfosit matang yang ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian menyebar ke hati dan limpa, dan keduanya mulai membesar.
1

Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah. Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang. Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal.1 ANAMNESA Keluhan utama Badan terasa letih dan lesu? Nyeri tulang dan sendi? Perut terasa penuh / perut terasa membesar? Nyeri pada daerah perut? Nafsu makan menurun, berat badan turun? Gusi berdarah ketika menyikat gigi? Bintik perdarahan pada kulit? Riwayat hidung berdarah? Kebiruan pada kulit ? BAB dan BAK? Warna? Riwayat bepergian keluar kota Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga

PEMERIKSAAN 1. FISIK 20-30% pasien tidak menunjukkan kelainan fisik. Kelainan fisik yang dijumpai adalah limfadenopati. Sekitar 50% pasien mengalami limfadenopati dan/atau

hepatosplenomegali. Pembesaran limfonodi dapat terlokalisir atau merata dan bervariasi dalam ukuran. Splenomegali dan/atau hepatomegali ditemukan pada 25-50% kasus. Infiltrasi pada kulit, kelopak mata, jantung, pleura, paru, dan saluran cerna umumnya jarang, dan timbul pada akhir perjalanan penyakit. Sejalan dengan perjalanan penyakit, limfadenopati massif dapat menimbulkan obstruksi lumen termasuk ikterus obstruktif, disfagia uropati obstruktif, edema ekstremitas bawah,
2

dan obtruksi usus parsial. Timbulnya efusi pleura atau asites berhubungan dengan prognosis yang buruk.2 Gambaran klinis: Mengenai orang berusia tua, dan jarang mengenai orang berusia kurang dari 40 tahun. Rasio pria terhadap wanita adalah 2:1. Banyak kasus (biasanya stadium 0) didiagnosis data dilakukan pemeriksaan darah rutin. Pembesaran simetris kelenjar getah bening permukaan adalah tanda klinis yang paling sering dijumpai. Kelenjar biasanya berbatas tegas dan tidak nyeri tekan. Salah satu pembesaran yang dijumpai dapat berupa pemebesaran tonsil. Gambaran anemia mungkin ada Splenomegali dan hepatomegali biasa ditemukan pada stadium lebih lanjut. Infeksi bakteri dan jamur sering ditemukan pada stadium lanjut karena defisiensi imun dan neutropenia (akibat infiltrasi sumsum tulang, kemoterapi, atau hipersplenisme) juga terdapat kaitan dengan herpes zoster. Penderita trombositopenia mungkin memperlihatkan adanya memar atau purpura.

2. LABORATORIUM

Limfositosis Penentuan imunotipe limfosit menunjukkan bahwa limfosit tersebut adalah sel B (CD 19 pemukaan positif), yang mengekspresikan
3

immunoglobulin

permukaan

(IgM

atau

IgD)

secara

lemah.

Immunoglobulin ini terbukti bersifat monoklonal . Anemia normositik normokrom terdapat pada stadium lanjut akibat infiltrasi sumsum tulang atau hipersplenisme.

Trombositopenia. Pada aspirasi sumsum tulang menunjukkan adanya penggantian elemen sumsum tulang oleh limfosit.

Kadar immunoglobulin serum menurun dan makin jelas dengan memburuknya penyakit. Terkadang ditemukan paraprotein.

Empat kelainan kromosom yang paling lazim dijumpai adalah delesi 13q14, trisomi 12, delesi pada 11q23, dan kelainan structural 17p yang melibatkan gen p53.

Gen VH sel B mengalami hipermutasi somatic di pusat-pusat germinal.3

DIAGNOSIS Tanda patognomonik LLK adalah peningkatan jumlah leukosit dengan limfositosis kecil sekitar 95%. Untuk menegakkan diagnosis, sebaiknya dilakuakan pemeriksaan gambaran darah tepi secara hati-hati dan cermat. Gambaran darah tepi tampak limfositosis dengan gambaran limfositosis kecil matur dan smudge cell yang dominan; imunofenotip khas limfosit (CD5+, CD19+, CD20+, CD23+, FMC7-/+, dan CD22-/+); dan infiltrasi limfosit ke sumsum tulang bervariasi dalam 4 gambaran yaitu interstisial (33%), nodular (10%), campuran intertisial dan nodular (25%) serta infiltrasi difus (25%). LLK dapat didiagnosis jikan ditemukan peningkatan absolute limfosit didalam darah (>5000/uL) dan morfologi dan imunofenotipnya menunjukkan gamabaran khas.1,3,4 Klasifikasi France-America-British (FAB), membagi tiga tipe morfologi berdasarkan perbandingan limfosit atipikal didalam darah, yaitu: LLK tipikal terdiri dari 90% limfosit kecil LLK tipe prolimfositik (sel prolimfositik 11-54%) LLK atipikal yang ditandai dengan morfologi sel limfosit yang heterogen tetapi proporsi prolimfosit kurang dari 10%
4

Stadium: Stadium LLK menurut RAI Stadium Gejala klinis danlaboratorium O I II III Mediansurvival(bulan)

Limfositosis darah tepid an sumsum tulang >150 Limfositosis + pembesaran limfonodi Limfositosis + splenomegali/hepatomegali Limfositosis + anemia (Hb<11gram/dl) Limfositosis dan trombositopenia 19 101 >71 19

IV

(trombosit < 100.000/uL)

Stadium LLK menurut Binet

Stadium

Gejala klinis dan laboratorium

Mediansurvival(bulan)

Limfositosis darah tepi dan sumsum tulang + A <3 daerah limfoid yang membesar >7

Limfositosis darah tepid an sumsum tulang + B 3 daerah limfoid yang membesar Stadium B + anemia (Hb < 11g/dl pada pria dan <10 g/dl pada perempuan atau C trombositopenia (<100.000/uL) <2 <5

Sumber: Buku Ajar IPD FKUI

DIAGNOSIS BANDING 1. LEUKIMIA GRANULOSITIK KRONIK Leukemia mielositik kronik atau sering disebut juga leukemia granulositik kronik adalah suatu penyakit klonal sel induk pluripoten yang digolongkan sebagai salah satu penyakit mieloproliferatif. Penyakit ini timbul pada tingkat sel induk pluripoten dan secara terus-menerus terkait dengan gen gabungan BCR-ABL. Penyakit proliferatif adalah penyakit yang ditandai oleh proliferasi dari seri granulosit tanpa gangguan diferensiasi, sehingga pada apusan darah tepi dapat terlihat tingkatan diferensiasi seri granulosit, mulai dari promielosit, sampai granulosit. Leukemia mielositik kronik yang paling umum adalah disertai dengan kromosom Philadelphia (Ph). Leukemia mielositik kronik sering terjadi pada usia pertengahan dewasa dan pada anak-anak. Penyakit ini menyerang 1-2 orang per 100.000 dan membuat 7-20% kasus leukemia. Leukemia mielositik kronik terjadi pada kedua jenis kelamin dengan rasio pria : wanita sebesar 1,4:1 dan paling sering terjadi pada usia antara 40-60 tahun. Kejadian leukemia mielositik kronik meningkat pada orang yang terpapar bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Leukemia mielositik kronik adalah salah satu dari kanker yang diketahui disebabkan oleh sebuah mutasi spesifik tunggal di lebih dari 90% kasus. Transformasi leukemia mielositik kronik disebabkan oleh sebuah translokasi respirokal dari gen BCR pada kromosom 22 dan gen ABL pada kromosom 9, menghasilkan gabungan gen BCR-ABL yang dijuluki kromosom Philadelphia. Protein yang dihasilkan dari gabungan gen tersebut, meningkatkan proliferasi dan menurunkan apoptosis dari sel ganas. Pada penyakit ini tidak mempunyai kromosom Ph dan translokasi BCR-ABL dengan prognosis yang tampaknya lebih buruk daripada leukemia mielositik kronik Ph positif. 5,6 1. Leukemia mielositik kronik juvenilis. Penyakit ini mengenai anak kecil dan gambaran klinis yang khas antara lain ruam kulit, limfadenopati, hepatospleenomegali, dan infeksi rekuren. Pada pemeriksaan apusan darah terlihat adanya monositosis. Kadar HbF tinggi, kadar fosfatase alkali netrofil normal, dan kromosom Philadelphia negative. Prognosis buruk dan SCT adalah pengobatan yang terpilih.
6

2. Leukemia netrofilik kronik. Penyakit ini sangat jarang dijumpai dengan terdapat proliferasi sel matur yang relative murni, disamping itu didapatkan spleenomegali dan secara umum prognosisnya baik. 3. Leukemia eosinofilik. Penyakit ini sangat jarang dijumpai dengan terdapat proliferasi sel matur yang relative murni, disamping itu didapatkan spleenomegali dan secara umum prognosisnya baik.

Gambaran klinis secara umum antara lain : Gejala-gejala yang berhubungan dengan hipermetabolisme, misalnya penurunan berat badan, kelelahan, anoreksia, keringat malam. Spleenomegali hampir selalu ada dan seringkali bersifat masif. Pada beberapa pasien, perbesaran limpa disertai dengan rasa tidak nyaman, nyeri atau gangguan pencernaan. Gambaran anemia meliputi pucat, dispnea, dan takikardia. Memar, epistaksis, menorhagia, atau pendarahan dari tempat-tempat lain akibat fungsi trombosit yang abnormal. Gout atau gangguan ginjal yang disebabkan oleh hiperurikemia akibat pemecahan purin yang berlebihan dapat menimbulkan masalah. Gejala yang jarang dijumpai meliputi gangguan penglihatan dan priapismus.

Perjalanan penyakit leukemia mielositik kronik terdiri atas 3 fase yaitu : 1. Fase kronik Fase ini ditandai dengan ekspansi yang tinggi dari hemopoietik pool dengan peningkatan sel darah matur dengan sedikit gangguan fungsional. Pada sumsum tulang, hepar, lien,
7

dan darah perifer dijumpai sel neoplasma yang sedikit. Lama fase kronik 3 tahun. Gejala klinis akibat hipermetabolik seperti panas, keringat malam, lemah, perut kembung, gangguan penglihatan, penurunan berat badan, gangguan penglihatan, dan anorexia. Pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan anemia normokromik normositer, dengan kadar leukosit meningkat antara 80.000-800.000/mmk. Pada pemeriksaan apusan darah dapat dilihat seluruh stadium diferensiasi sel. Kadar eosinofil dan basofil juga meningkat. 2. Fase Akselerasi Setelah kurang lebih 3 tahun, leukemia mielositik kronik akan masuk ke fase akselerasi yang lebih sulit dikendalikan daripada fase kronik dan fase ini dapat berlangsung selama beberapa bulan.

Gejala fase akselerasi :


Panas tanpa penyebab yang jelas. Spleenomegali progresif. Trombositosis. Basofilia (>20%), Eosinofilia, Myeloblast (>5%). Gambaran myelodisplasia seperti hipogranulasi neutrofil, mikro megakariosit mononuclear yang besar. atau

Fibrosis kolagen pada sumsum tulang. Terdapat kromosom baru yang abnormal seperti kromosom Philadelphia.

3. Fase Krisis Blas Fase ini ditandai dengan ditemukannya lebih dari 30% sel blas pada sumsum tulang. Sel blas kebanyakan adalah myeloid, tetapi dapat juga dijumpai eritroid, megakariositik, dan limfoblas. Jika sel blas mencapai >100.000/mmk, maka penderita memiliki resiko terkena sindrom hiperleukositosis 2. LIMFOMA HODGKIN Limfoma Hodgkin adalah kanker jaringan limfoid, biasanya kelenjar limfe dan limfa. Penyakit ini adalah salah satu kanker yang tersering dijumpai pada orang dewasa muda, terutama
8

pria muda. Terdapat empat klasifikasi penyakit Hodgkin, berdasarkan sel yang terlibat dan apakah bentuk neoplasmanya nodular atau tidak. Dari penentuan stadium penyakit Hodgkin sangat perlu dilakukan, karena dapat memberi petunjuk mengenai pengobatan dan sangat mempengaruhi hasil akhir. Stadium-stadium awal penyakit Hodgkin, stadium I dan II, biasanya dapat disembuhkan. Angka kesembuhan untuk stadium III dan IV cenderung masing-masing adalah 75% dan 60%. Penyakit Hodgkin adalah suatu penyakit klonal, yang berasal dari suatu sel yang abnormal. Populasi sel abnormal tidak diketahui tetapi tampaknya berasal dari sel B atau T, atau suatu monosit. Sel-sel neoplastik pada penyakit Hodgkin disebut sel Reed-Steinberg. Sel-sel ini terselip diantara jaringan limfoid normal yang terdapat di organ-organ limfoid. Penyakit Hodgkin (Limfoma Hodgkin) adalah suatu jenis limfoma yang dibedakan berdasarkan jenis sel kanker tertentu yang disebut sel Reed-Steinberg, yang memiliki tampilan yang khas dibawah mikroskop. Sel Reed-Steinberg memiliki limfositosis besar yang ganas yang lebih besar dari satu inti sel. Sel-sel tersebut dapat dilihat pada biopsi yang diambil dari jaringan kelenjar getah bening, yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop Penyebab limfoma tidak diketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko terkait timbulnya penyakit limfoma, yaitu : Orang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau yang mendapat terapi imunosupresan memiliki risiko tinggi untuk timbulnya limfoma. Orang yang sering kontak dengan herbisida atau pestisida, misalnya petani. Infeksi virus Epstein-Barr atau human T-cell lymphocytotropic virus (HTLV). HTLV menyebabkan limfoma sel T (T-cell lymphoma). Ada keluarga yang menderita penyakit ini Jenis kelamin laki-laki.

Penyakit Hodgkin diklasifikasikan ke dalam empat kelompok berdasarkan karakteristik dasar jaringan yang terlihat dibawah mikroskop.

Jenis Limfosit Predominan Sklerosis Noduler Selularitas Campuran Deplesi Limfosit

Gambaran Mikroskopik Sel Reed-Stenberg sangat sedikit tapi ada banyak limfosit Sejumlah kecil sel Reed-Stenberg dan campuran sel darah putih lainnya; daerah jaringan ikat fibrosa Sel Reed-Stenberg dalam jumlah yang sedang dan campuran sel darah putih lainnya Banyak sel Reed-Stenberg dan sedikit limfosit jaringan ikat fibrosa yang berlebihan

Kejadian 3% dari kasus 67% dari kasus 25% dari kasus 5% dari kasus

Perjalanan Penyakit Lambat

Sedang

Agak Cepat

Cepat

Limfoma Hodgkin lebih bersifat lokal, berekspansi dekat, cenderung intra nodal, hanya di mediastinum, dan jarang metastasis ke sumsum tulang. ia juga dapat terjadi metastasis melalui darah.

Stadium dan Prognosis Penyakit Hodgkin


Kemungkin untuk sembuh (angka harapan hidup selama 15 tahun tanpa penyakit lebih lanjut)

Stadium

Penyebaran penyakit

Terbatas ke kelenjar getah bening dari satu bagian tubuh Lebih dari 95% (misalnya leher bagian kanan) Mengenai kelenjar getah bening dari 2 atau lebih daerah pada sisi yang sama dari diafragma, diatas atau dibawahnya 90% (misalnya pembesaran kelenjar getah bening di leher dan ketiak) Mengenai kelenjar getah bening diatas & dibawah diafragma (misalnya pembesaran kelenjar 80% getah bening di leher dan selangkangan) Mengenai kelenjar getah bening dan bagian tubuh lainnya 60 - 70% (misalnya sumsum tulang, paru-paru atau hati

II

III

IV

10

Gejala dari penyakit Hodgkin biasanya mengalami pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening, paling sering di leher, tapi kadang-kadang di ketiak dan pangkal paha. Pada limfoma Hodgkin, 80% terdapat pada kelenjar getah bening leher, kelenjar ini tidak lahir multiple, bebas atas konglomerasi satu sama lain. Walaupun biasanya tidak nyeri, pembesaran tersebut bisa menimbulkan nyeri dalam beberapa jam setelah penderita meminum alkohol dalam jumlah yang banyak (intake alkohol 15-20%). Kadang pembesaran kelenjar getah bening berada jauh di dalam dada atau perut, yang biasanya tidak nyeri dan ditemukan secara tidak terduga pada pemeriksaan rontgen dada atau CT scan untuk keperluan lain. Gejala lainnya adalah demam tipe pel-Ebstein dimana suhu tubuh meninggi selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau di bawah normal selama beberapa hari atau beberapa minggu, berkeringat di malam hari, gatal-gatal, nafsu makan menurun, daya kerja menurun, berat badan menurun lebih dari 10% tanpa diketahui penyebabnya, terkadang disertai sesak nafas, dan pola perluasan limfoma Hodgkin sistematis secara sentripetal dan relatif lebih lambat.8 Gejala dari Penyakit Hodgkin:
Gejala Berkurangnya jumlah sel darah merah (menyebabkan anemia, sel darah putih dan trombosit, kemungkinan nyeri tulang) Hilangnya kekuatan otot suara serak Penyebab Limfoma sedang menyebar ke sumsum tulang Pembesaran kelenjar getah bening menekan saraf di tulang belakang atau saraf pita suara Limfoma menyumbat aliran empedu dari hati Pembesaran kelenjar getah bening menyumbat aliran darah dari kepala ke jantung Limfoma menyumbat aliran getah bening dari tungkai Limfoma menyebar ke paru-paru 11

Sakit kuning (jaundice)

Pembengkakan wajah, leher & alat gerak atas (sindroma vena kava superior)

Pembengkakan tungkai dan kaki

Keadaan yang menyerupai pneumonia

Berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi dan meningkatnya kecenderungan mengalami infeksi karena jamur dan virus

Penyakit sedang menyebar

ETIOLOGI Penyebab leukemia limfositik kronik belum diketahui. Kemungkinan yang berperan adalah abnormalitas kromosom, onkogen, dan retrovirus (RNA tumour virus). Penelitian awal menunjukkan keterlibatan gen bcl-1 dan bcl-2 pada 5-15% pasien, sedangkan gen bcl-3 hanya kadang-kadang terlibat. Protoonkogen lcr dan c-fgr, yang menkode protein kinase tirosin diekspresikan pada limfosit yang terkena LLK tetapi tidak pada sel B murni yang normal. Saat ini pada pasien leukemia limfositik kronik didapatkan delesi homozigot dan region genom telomerik gen retinoblastoma tipe-1 d13s25. Hal ini menunjukkan bahwa adanya gen suppressor tumor baru terlibat dalam leukemia limfositik kronik.1,3,4

EPIDEMIOLOGI Usia rerata pasien saat didiagnosis berusia 65 tahun, hanya 10-15% kurang dari 50 tahun. Angka kejadian di negara barat 3/100.000. Pada populasi geriatri, insiden di atas usia 70 tahun sekitar 50/100.000. Risiko terjadinya leukemia limfositik kronik meningkat seiring usia. Perbandingan risiko relatif pada pria tua adalah 2,8:1 perempuan tua. Kebanyakan pasien memiliki ras kaukasia dan berpendapatan menengah.1,3

GEJALA KLINIS Pada awal diagnosis, kebanyakan pasien leukemia limfositik kronik tidak menimbulkan gejala,. Pada pasien dengan gejala, paling sering ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan berat badan dan kelelahan. Gejala lain meliputi hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan/ olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi jarang terjadi pada awalnya, tetapi smakin mencolok sejalan dengan perjalanan penyakitnya. Akibat penumpukan sel B neoplastik, pasien yang asimptomatik
12

pada saat diagnosis pada akhirnya akan mengalami limfadenopati, splenomegali, dan hepatomegali.

PATOFISIOLOGI Sel B darah tepi normal adalah subpopulasi limfosit B CD5+ matur (sama dengan sel B1a) yang terdapat pada zona mantel limfonodi dan dalam jumlah kecil di darah. Sel B LLK mengekpresikan immunoglobulin membrane permukaan yang umumnya rendah kadarnya, kebanyakan IgM, IgD dibandingkan sel B darah tepi normal, dan single light chain (kappa dan lambda). Juga mengekspresi antigen T CD5, antigen HLA-DR dan antigen B (CD19 dan CD20) mempunyai reseptor untuk sel darah tikus, dan menghasilkan autoantibodi polireaktif. Ekpresi gen VH dan VL terbatas pada sel-sel tersebut. Berdasarkan karakteristik tersebut, LLK kemungkinan merupakan suatu proses bertahap, dimulai dengan ekspansi poliklonal yang ditimbulkan oleh antigen terhadap limfosit B CD5+ yang dibawah pengaruh agen mutasi pada akhirnya ditransformasi menjadi proliferasi monoklonal. Limfosit B CD5+ neoplastik mengumpul akibat hambatan apoptosis (kematian sel terprogram). Meskipun gen bcl-2 jarang mengalami translokasi , tetapi terus menerus diekspresikan secara berlebihan, yang mengakibatkan bertambah panjangnya kelangsungan hidup sel LLK. Selain itu sitokin terlibat dalam pengaturan pertumbuhan dan sel-sel tersebut. Pada LLK, TNF alfa dan IL-10 berperan sebagai growth factor. Dalam perjalanan penyakit, ekspresi berlebihan CD38, onko gen c-myc, delesi gen RB-1, dan mutasi gen supresor tumor p53 juga terjadi. Sekitar 55% pasien LLK mempunyai abnormalitas sitogenik, khususnya trisomi 12, kelainan kromosom 13 pada lajur q14 (lokasi gen supresor RB-1), 14q+, delesi kromosom 6 dan kromosom 11. Hal ini baik dideteksi melalui fluoresensi in situ, hibridisasi dibandingkan analisis sitogenik konvensional. Belum jelas makna kelainan tersebut pada tingkat molekuler. Kelainan kariotipik bertambah pada LLK stadium lanjut dan menunjukkan abnormalitas yang didapat. Evolusi kariotipik umumnya berhubungan dengan perjalanan penyakit, terjadi pada 15-40% pasien LLK.7
13

PENATALAKSANAAN Diagnosis leukemia limfositik kronik tidak menandakan perlunya pengobatan. Saat ini tidak terdapat terapi kuratif LLK. Tujuan terapi pada kebanyhakan pasien LLK adalah meredakan gejala dan memperpanjang kelangsungan hidup. Tetapi pada pasien lebih muda dengan faktor risiko buruk, pendekatan eksperimental dengan tujuan penyembuhan yang dipilih. Kemoterapi yang diberikan terlalu dini dapat memperpendek harapan hidup dan bukannya memperpanjang. Pengobatan diberikan bila terdapat organomegali yang bermasalah; episode hemolitik, dan supresi sumsum tulang. Pasien dalam stadium Binet C akan memerlukan pengobatan, seperti juga beberapa pasien dalam stadium B.9

Kemoterapi

Klorambusil Pengobatan tradisional untuk LLK adalah dengan zat pengalkil oral klorambusil. Efektif mengurangi beratnya penyakit pada sebagian besar kasus. Dapat timbul resistensi.

Analog purin Efektif untuk pengobatan LLK dan limfoma. Oabt yang paling efektif tampaknya fludarabin.

Kortikosteroid Pasien dengan kegagalan sumsum tulang harus diobati sejak awal dengan prednisolon saja, sampai terdapat pemulihan jumlah trombosit, neutrofil, dan hemoglobin yang bermakana.

Juga diindikasikan pada anemia hemolitik autoimun atau trombositopenia

Pengobatan bentuk lain Radioterapi Kemoterapi kombinasi: siklofosfamid, hidroksidaunorubisin, oncovin, dan prednisone.
14

Siklosporin pada aplasia eritrosit. Antibodi monoklonal Campath IH (anti CD52) dan Rituximab (antiCD20) Splenektomi pada pasien dengan sitopenia imun yang tidak berespon terhadap steroid jangka pendek atau pasien dengan pembesaran limpa yang besar dan nyeri. Penggantian immunoglobulin pada pasien dengan hipogamaglobulinemia dan infeksi rekuren. Stem Cell Transplantation merupakan suatu pendekatan eksperimental pad pasien dengan usia muda. SCT alogenik mungkin bersifat kuratif tetapi mempunyai tingkat mortilitas yang tinggi. SCT autolog dilakukan setelah sebelumnya menjalani terapi dengan fliudarabin.

KOMPLIKASI Infeksi Hipogamaglobulinemia Transformasi menjadi keganasan limfoid yang agresif Komplikasi akibat penyakit autoimun Keganasan sekunder

PENCEGAHAN a. Pencegahan Primer Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Pengendalian Terhadap Pemaparan Sinar Radioaktif Pencegahan ini ditujukan kepada petugas radiologi dan pasien yang penatalaksanaan medisnya menggunakan radiasi. Untuk petugas radiologi dapat dilakukan dengan menggunakan baju khusus anti radiasi, mengurangi paparan terhadap radiasi, dan pergantian atau rotasi kerja. Untuk pasien dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan diagnostik radiologi serendah mungkin sesuai kebutuhan klinis. Pengendalian Terhadap Pemaparan Lingkungan Kimia Pencegahan ini dilakukan pada pekerja yang sering terpapar dengan benzene dan zat aditif serta senyawa lainnya. Dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan atau
15

informasi mengenai bahan-bahan karsinogen agar pekerja dapat bekerja dengan hatihati. Hindari paparan langsung terhadap zat-zat kimia tersebut. Mengurangi frekuensi merokok Pencegahan ini ditujukan kepada kelompok perokok berat agar dapat berhenti atau mengurangi merokok. Satu dari empat kasus LMA disebabkan oleh merokok.45 Dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok yang bisa menyebabkan kanker termasuk leukemia (LMA). Pemeriksaan Kesehatan Pranikah Pencegahan ini lebih ditujukan pada pasangan yang akan menikah. Pemeriksaan ini memastikan status kesehatan masing-masing calon mempelai. Apabila masingmasing pasangan atau salah satu dari pasangan tersebut mempunyai riwayat keluarga yang menderita sindrom Down atau kelainan gen lainnya, dianjurkan untuk konsultasi dengan ahli hematologi. Jadi pasangan tersebut dapat memutuskan untuk tetap menikah atau tidak. b. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan perkembangan penyakit atau cedera menuju suatu perkembangan ke arah kerusakan atau ketidakmampuan. Dapat dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat. PROGNOSIS Prognosa tergantung dari area yang terpengaruh serta hasil pemeriksaan sel darah merah dan trombosit. Stadium A, merupakan stadium awal tidak memperlihatkan gejala, nil terapi. Stadium B dan C membutuhkan terapi. Sepertiga dari LLK tidak membutuhkan terapi dan dapat hidup lebih dari 10 tahun, sedangkan sepertiga lagi berproses ke stadium berikutnya dan membutuhkan terapi, sisanya agresif dan membutuhkan terapi setelah didiagnosa. Tidak ada terapi dapat menyembuhkan LLK. Tujuan utama adalah mengkontrol simptom dan kemungkinan memperpanjang usia. Berkisar 5% Penderita LLK berkembang menjadi Large Cell Lymphoma yang sangat agresif. Prognosa pada pasien ini buruk dan hanya 5 bulan survival.

16

DAFTAR PUSTAKA 1. Mehta, A, Hoffbrand, V. At a Glance Hematologi. Edisi II. Jakarta: EMS.2008. 2. Gleadle, Jonathan. At a Glance: Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: EMS. 2007. 3. Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Kapita selekta: hematologi. Edisi IV. Jakarta: EGC. 2005. 4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta: FKUI. 2007. 5. Besa, E., C. Chronic Myelogenous Leukemia, Emedicine;2010. 6. Dugdale, D., C. Chronic Myelogenous Leukemia, MedLine;2010 7. Price, S., A., Wilson, L., M. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (6th ed), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta;2006. 8. Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia. Buku ajar ilmu penyakit dalam : LNH; Penyakit Hodgkin. Hal 727-33; 735-44. Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam fakultas kedokteran universitas Indonesia. Jakarta;2006. 9. Nafrialdi, Gan, S., R. Farmakologi dan Terapi (5th ed),Balai Penerbit FKUI, Jakarta;2007.

17