Anda di halaman 1dari 21

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN EMBRIO IKAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Fitia Fatikka Rachman : B1J009079 : VII :2 : Toni Irawan Wibisono

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembuahan adalah proses bersatunya material genetik dari telur dan spermatozoa untuk menginisiasi pembentukan individu baru. Pembuahan atau fertilisasi atau inseminasi merupakan klimaks atau puncak reproduksi seksual. Ada tiga peristiwa fusi membran selama pembuahan (fertilisasi), yang pertama adalah fusi membran antara plasma membran spermatozoa dengan membran luar akrosom (outer akrosomal membran) selama proses reaksi akrosom, yang kedua adalah fusi antara membran telur (oolemma) dengan membran spermatozoa, yang ketiga adalah fusi plasma membran telur (oolemma) dangan membran cortikel granule dalam cortikel reaksi atau reaksi cortikel yang mengikuti masuknya sperma ke dalam telur. Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus (kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya gametgamet yang melebur adalah haploid. Bilamana keduanya motil maka fertilisasi itu disebut isogami, bilamana berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut anisogami, bila satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamakan oogami. Fertilisasi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik) terjadi karena gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Sedangkan fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat) terjadi

karena sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi pemasukan sperma lebih lanjut setelah pembuahan. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk mengaktivasi telur. Dalam praktikum kali ini Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) dipilih sebagai preparat karena ikan nilem adalah perwakilan dari kelas Pisces. Hal lain mengapa ikan Nilem digunakan sebagai preparat karena ikan nilem merupakan hewan yang proses pembuahannya mudah dipelajari karena pembuahan telurnya terjadi di luar tubuh betinanya, dapat dibedakan antara jantan dan betinanya, mudah diambil sperma maupun telur masaknya, telurnya bersifat transparan, mudah dilakukan induksi. Ikan Nilem juga memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil yaitu berat per ekor induk yang telah masak kelamin adalah 120 gram, dapat dipelihara di akuarium dan produk telur yang dihasilkan oleh setiap induk betina yang masak kelamin cukup banyak yaitu 20.000 butir. Pembelahan segmentasi pada Ikan Nilem pun memerlukan waktu yang relatif singkat. Praktikum kali ini mempelajari proses segmentasi, morulasi, blastulasi, gastrulasi, dan diferensiasi lanjut ektoderm, entoderm dan mesoderm telur (zigot) vertebrata khususnya ikan nilem. Awal tahap pembelahan segmentasi pada setiap classis adalah sama. Masing-masing classis mengalami diferensiasi sehingga dapat mencirikan suatu classis pada stadium tertentu. Tipe telur juga dapat membedakan pembelahan segmentasi suatu classis dengan classis yang lain. Percobaan fertilisasi dan perkembangan embrio pada Ikan Nilem dilakukan dengan perlakuan berbeda-beda diantaranya tingkat pengenceran dan jeda waktu pengamatan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi sperma yang sesuai agar dapat membuahi sel telur hingga terjadinya fertilisasi. Tingkat

pengenceran milt yang dilakukan juga bervariasi bertujuan untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan oleh spermatozoid menembus untuk dinding ovum. Perlakuan waktu yang dilakukan berbeda-beda bertujuan untuk mengetahui tahapan perkembangan yang terjadi dalam setiap waktunya.

B. Tujuan

Tujuan praktikum fertilisasi ini adalah mengetahui tahap-tahap fertilisasi dan dapat menentukan rasio spermatozoa dan ovum pada fertilisasi ikan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Telur adalah satu-satunya sel hewan yang memiliki sifat totipotensi. Totipotensi yaitu memiliki potensi atau kemampuan berkembang menjadi individu baru dalam satuan hari atau minggu. Sifat totipotensi itu dimiliki sel telur setelah diaktivasi. Kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh hewan tingkat tinggi (Sistina, 2008). Menurut Sistina (2008), sperma merupakan sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur. Struktur sperma yang telah matang terdiri dari kepala, leher, dan ekor flagelata, beberapa sperma mempunyai middle piece sebagai pengubung antara kepala dan ekor yang berfungsi dalam metabolisme sperma. Sperma merupakan gamet jantan yang dihasilkan oleh organ reproduksi jantan yang disebut testis. Ikan yang menghasilkan gamet jantan maupun gamet betina adalah ikan yang sudah masak kelamin, ikan jantan memiliki ciri-ciri yang selain tubuhnya langsing dan di dalam air tampak lebih lincah, bila diurut didaerah perut mulai sedikit dibelakang operculum kearah anus, maka dari anus dari lubang urogenital akan keluar cairan berwarna putih susu yang dinamakan milt dan apabila diraba permukaan operculum anterior-posterior agak kasar (Soeminto, 2000). Sedangkan ciri morfologis ikan betina matang gonad yang siap untuk memijah adalah gerakannya lamban, perut menegmbang dan bila diraba terasa lunak, kulit terlihat memerah, lubang genital memerah dan menonjol, teradang telur telah

tampak di lubang genital. Ciri-ciri sel telur matang secara fisiologis adalah polar body I telah keluar, germinal vesicle (inti sel) telah menepi dan berada di depan micropile, warna telur transparan, ukuran telur mendekati 1 mm. Sejenak sebelum ovulasi germinal vesicle akan melebur sehingga disebut Germinal Vesicle Break Down. Urutan proses utama selama fertilisasi menurut Soeminto (2000), yaitu: 1. Kontak dan pengenalan sperma-telur untuk memastikan sperma-telur dari spesies yang sama. 2. Pengaturan masuknya sperma ke dalam telur untuk pencegahan polispermi. 3. Fusi materi genetik dari sperma dan telur. 4. Aktivasi metabolisme telur untuk mengawali perkembangan. Selain itu, tahapan dalam pengenalan sperma dan telur terdiri dari (Soeminto, 2000): 1. Telur mengeluarkan kemoatraktant pada spesies tertentu. 2. Eksositosis vesikula akrosom. 3. Ikatan antara sperma dengan bungkus ekstraseluler telur. 4. Sperma menembus bungkus telur. 5. Fusi membran sel telur dan membran sel sperma. Perkembangan embrio pada Ikan Nilem (Osteochillus hassselti) betina dimulai setelah telur dibuahi oleh inti spermatozoon yang semua haploid, menjadi inti zigot yang diploid. Zigot inilah yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pembelahan segmentasi melalui proses mitosis yang cepat. Zigot yang tersegmen segmen menjadi bagian yang kecil (cleavage), bermula dari satu sel kemudian membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, hingga 32 sel yang disebut fase morula (Djuhanda,1981).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam pratikum fertilisasi dan perkembangan embrio ikan adalah baskom inkubasi, piring plastik kecil, spuit injeksi tanpa jarum, cawan petri, saringan teh, mikroskop cahaya, aerator, sendok kecil, glass object, pipet plastik, pipet tetes, baki dan tabel pengamatan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pratikum fertilisasi dan perkembangan embrio ikan adalah ikan nilem jantan dan betina yang masak kelamin, ovaprim, larutan NBF, label, tissue, air dan larutan Ringer.

B. Metode 1. Ikan Nilem jantan (Osteochillus hasselti ) dan betina (Osteochillus hasselti ) distriping. 2. Miltnya diencerkan dengan menggunakan akuades, dengan pengenceran 100x. 3. Milt yang sudah diencerkan tadi diletakan dalam piring plastik. 4. Telur yang sudah diambil diletakan dalam saringan teh. 5. Fertilisasi : a. Milt dicampurkan pada pengenceran 100 x dan telur. b. Air disemprotkan untuk aktivatore sperma. c. Digoyang selama 1 menit. d. Dipindahkan ke baskom pemeliharaan. 6. Pengamatan Saat praktikum :

a. Dihitung persentase telur yang terbuahi. b. Dihitung jumlah telur pada setiap tahapan perkembangan dari 10 telur yang diamati dari setiap perlakuan. c. Setiap tahap perkembangan didokumentasikan. Saat pengamatan : a. Dihitung persentase larva. b. Diameter telur dan kepala sperma diukur. Rombongan VII Kelompok 1 = telur + sperma pengenceran 100x (selama 1 menit) Kelompok 2 = telur + sperma pengenceran 100x (selama 2 menit) Kelompok 3 = telur + sperma pengenceran 100x (selama 3 menit) Kelompok 4 = telur + sperma pengenceran 1000x (selama 5 menit)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Persentasi Telur Terbuahi Pada Jeda Waktu 1, 2 dan 3 Menit Dihitung dari Saat Pencampuran Telur dan Milt
Jeda Waktu 1 menit 2 menit 3 menit Persentase Telur Terbuahi 0% 3, 17 % 0%

Tabel 2. Persentase Telur Setiap Tahap Perkembangan Selama Waktu Pengamatan Pada Jeda Waktu 1 Menit Waktu Tahap % Telur Pada Setiap Tahap Perlakuan Pengamatan Perkembangan Perkembangan 5 pertama 0% 5 kedua 0% 10 0% Jeda Waktu 10 0% 1 Menit 10 0% 10 0% 10 0%

Tabel 3. Persentase Telur Pada Setiap Tahap Perkembangan Selama Waktu Pengamatan Pada Masing-masing Perlakuan % Telur pada setiap tahap perkembangan

Perlakuan

Waktu

Tahap

pengamatan perkembangan

5 pertama 5 kedua 10

Terbuahi

50%

Jeda Waktu 2 menit

Hylock Hylock

20% 20%

Terbuahi 10 Terbuahi

10% 50%

10 10 10

Terbuahi

50%

Terbuahi Terbuahi

10% 20%

Tabel 4. Persentase Telur Setiap Tahap Perkembangan Selama Waktu Pengamatan Pada Jeda Waktu 3 Menit Waktu Tahap % Telur Pada Setiap Tahap Perlakuan Pengamatan Perkembangan Perkembangan 5 pertama 5 kedua 10 10 10 10 10 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

Jeda Waktu 3 Menit

Tabel 5. Persentase Telur Setiap Tahap Perkembangan Selama Waktu Pengamatan Pada Perlakuan Tingkat Pengenceran 1000 kali Perlakuan Waktu pengamatan 5 pertama 5 kedua 10 Tingkat pengenceran 1000 kali 10 10 10 10 Tahap Perkembangan Hylock Rusak Rusak Rusak Belum ada perkembangan Rusak Belum ada perkembangan Rusak Belum ada perkembangan Perkembangan 1 sel Rusak Rusak Belum ada perkembangan % Telur Pada Setiap Tahap Perkembangan 10% 10% 70% 50% 50% 40% 60% 60% 30% 10% 100% 20% 80%

Tabel 6. Persentase Telur Setiap Tahap Perkembangan Selama Waktu Pengamatan Pada Perlakuan Tingkat Pengenceran 10000 kali Waktu % Telur Pada Setiap Perlakuan Tahap Perkembangan pengamatan Tahap Perkembangan 60% Hylock 5 pertama 40% Belum ada perkembangan 20% Hylock 5 kedua 80% Belum ada perkembangan 10% Perkembangan 1 sel 10 50% Belum ada perkembangan 40% Hylock 20% Perkembangan 1 sel 50% Hylock 10 20% Perkembangan 2 sel Tingkat 10% Rusak pengenceran 10% Perkembangan 1 sel 10000 kali 20% Belum ada perkembangan 10 30% Hylock 40% Rusak 30% Rusak 10 40% Hylock 30% Perkembangan 1 sel 60% Rusak 20% Perkembangan 1 sel 10 10% Perkembangan 2 sel 10% Perkembangan 4 sel

Tabel 7. Konsentrasi Spermatozoa per ml Pada Berbagai Pengenceran Tingkat pengenceran 100 x 1000 x 10000 x Jumlah spermatozoa/ml 7,625 X 1010 7,625 X 109 7,625 X 108

Tabel 8. Persentasi Telur Terbuahi Dari Setiap Konsentrasi Spermatozoa/ ml Milt


Konsentrasi Spermatozoa/ ml milt 1000 x 10000 x % Telur Terbuahi 70% 60%

Tabel 9. Persentase Larva yang Menetas dari Masing-Masing Perlakuan Perlakuan Jeda Waktu Tingkat Pengenceran % Larva 0% 0%

Perhitungan :

Kalibrasi = 2,5 (perbesaran 40X) Diameter kepala sperma = 1 x 2,5 = 2,5 m

Kalibrasi = 26 (perbesaran 4X) Diameter sel telur = 53 x 26 = 1378 m Jari-jari sel telur (r) = diameter telur 2 = 1378 2 = 698 m Rasio ovum : spermatozoa = 1 : luas permukaan telur d. kepala sperma = 1 : 4 (3,14) (689)2 2,5 = 1 : 5962495,8 2,5 = 1 : 2384998,3 sel

Gambar-Gambar Tahap Perkembangan Zigot Kelompok 2 Rombongan VII

Hylock

Sel yang terbuahi

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, setelah mengalami fertilisasi pada jeda waktu 2 menit, sebanyak 3,17 % telur terbuahi, sedangkan jeda waktu 1 menit telur tidak mengalami perkembangan apapun dan tidak ada telur yang terbuahi. Hal ini juga terjadi pada kelompok dengan jeda waktu 3 menit. Tahap perkembangan selama waktu pengamatan pada jeda waktu 2 menit adalah sebagai berikut, pada 5 menit pertama 50% terbuahi, 5 menit kedua muncul Hylock pada 20% telur, 10 menit pertama muncul Hylock pada 20% telur dan 10% telur terbuahi, 10 menit kedua, 10 menit ketiga dan 10 menit keempat 50% telur terbuahi, akhir pengamatan pada 10 menit kelima 20% telur terbuahi.

Berikut ini adalah grafik antara jeda waktu dengan telur yang terbuahi :
3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 1 0 2 Jeda Waktu (menit) 3 0 3.17

Gambar 1. Grafik Hubungan Antara Persentase Jumlah Telur Yang Terbuahi Dengan Jeda Waktu Berdasarkan grafik di atas maka pola yang didapat adalah pola acak karena grafik mengalami kenaikan secara drastis dan juga penurunan secara drastis. Persentase telur yang terbuahi pada kelompok dengan jeda waktu 1 menit dihitung dari pencampuran telur dan milt adalah 0%. Persentase telur terbuahi mengalami kenaikan menjadi 3,17% pada kelompok dengan jeda waktu 2 menit kemudian mengalami penurnan menjadi 0% telur terbuahi pada kelompok dengan jeda waktu 3 menit. Pengamatan sebelumnya berdasarkan jeda waktu, menggunakan pengenceran 100 kali dan pengamatan selanjutnya adalah mengamati perkembangan telur dalam pengenceran 1000 kali dan 10000 kali. Tahap perkembangan dengan pengenceran 1000 kali pada waktu 5 menit pertama muncul Hylock pada 10% telur dan 10% telur rusak. Telur mengalami kerusakan pada 5 menit kedua sebanyak 70%, kemudian pada 10 menit pertama 50% telur rusak dan 50% telur belum memperlihatkan perkembangan. Pada 10 menit kedua jumlah telur rusak 40% dan 60% belum tampak perkembangan. Pengamatan selanjutnya pada 10 menit ketiga, 60% telur rusak, 30% telur rusak dan 10% telur mengalami perkembangan 1 sel, sementara pada 10 menit

Persentase Telur Terbuahi (%)

seluruh telur rusak. Akhir pengamatan yaitu pada 10 menit kelima, 20% telur rusak dan 80% telur belum ada perkembangan. Pada pengenceran 10000 kali tahap perkembangan telur sedikit meningkat dibandingkan pengenceran 100 kali dan 10000 kali. Ditandai adanya perkembangan 2 sel pada 10 menit kedua dan 10 menit kelima. Perkembangan 1 sel muncul lebih dulu pada 10 menit pertama sementara pada kelompok dengan pengenceran 100 kali perkembangan ini belum ada dan pada kelompok dengan pengenceran 1000 kali perkembangan 1 sel baru muncul di 10 menit ketiga. Tahap perkembangan telur pada pengenceran 10000 kali, di 5 menit pertama Hylock sudah muncul pada 60% telur dan 40% telur belum mengalami perkembangan. Tahap selanjutnya pada 5 menit kedua, Hylock sudah muncul pada 20% telur dan sisanya telur belum terlihat perkembangannya. Perkembangan 1 sel pada 10% telur terlihat di 10 menit pertama, selain itu muncul Hylock pada 40% telur dan 50% telur belum memperlihatkan perkembangan. Selanjutnya pada 10 menit kedua tampak perkembangan 1 sel pada 20% telur, perkembangan 2 sel juga pada 20% telur, muncul Hylock pada 50% telur, dan 10% telur rusak. Perkembangan 1 sel pun ada pada 10 menit ketiga yaitu pada 10% telur, selain itu di 10 menit ketiga ini muncul Hylock pada 30% telur, sel telur rusak 40% dan belum ada perkembangan sejumlah 20%. Tahap pengamatan di 10 menit keempat, muncul Hylock pada 40% telur, 30% telur rusak, dan perkembangan 1 sel pada 30% telur. Pengamatan akhir pada 10 menit kelima, 60% telur rusak, perkembangan 1 sel pada 20% telur, perkembangan 2 sel pada 10% telur, dan perkembangan 4 sel telur pada 10% telur. Grafik berikut adalah grafik antara tingkat pengenceran dengan jumlah sel terbuahi :

72 70 68 66 64 62 60 58 56 54

Jumlah tlur Terbuahi (%)

70

60

1000 Tingkat Pengenceran (kali)

10000

Gambar 2. Grafik Hubungan Antara Tingkat penegenceran Dengan Jumlah Sel Telur Terbuahi Berdasarkan grafik diatas pola grafiknya adalah pola korelasi negatif dengan adanya penurunan jumlah telur terbuahi. Jumlah telur yang terbuahi pada pengenceran 1000 kali sebesar 70% dan mengalami penurunan menjadi 60% telur terbuahi pada pengenceran 10000 kali. Telur yang terbuahi pada jeda waktu 2 menit dihitung dari pencampuran sperma dan milt menggunakan pengenceran 100 kali adalah 3,17%. Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang menggunakan pengenceran 1000 kali dan 10000 kali.

Gambar 3. Fertilisasi dan cleavage Ikan Nilem

Jumlah sperma pada perlakuan tingkat pengenceran tidak memenuhi rasio spermatozoa dengan hasil 2384998,3 sel. Menurut Gratiana et al., (1998), waktu kumulatif yang diperlukan untuk perkembangan embrio ikan nilem pada temperatur 23 - 24C adalah sebagai berikut: Stadium perkembangan Lama waktu kumulatif (jam, menit) Jam 2 sel 4 sel 8 sel 16 sel 32 sel Morula Blastula Gastrula Neurula Head tail Menetas 0 0 1 1 1 2 2 3 9 12 48 Menit 43 50 0 10 20 18 58 55 15 10 0

Pemijahan adalah pertemuan induk jantan dan induk betina yang bertujuan untuk pembuahan telur. Pemijahan terdiri dari tiga cara yaitu pemijahan secara alami, semi buatan dan buatan. Pemijahan secara alami adalah pemijahan yang tidak dilakukan penanganan khusus, pada pemijahan secara alami, pembuahan telur oleh sperma terjadi di kolam pemijahan. Pemijahan secara semi buatan adalah dimana induk ikan tersebut sebelum dipijahkan terlebih dahulu disuntik hormon, selanjutnya kedua induk ikan tersebut memijah di kolam. Pemijahan secara buatan adalah pemijahan yang terlebih dahulu menyuntikkan hormon ke dalam tubuh induk ikan, demikian juga halnya dengan ovulasi telur dan sperma dilakukan dengan cara stripping atau pengurutan.

Perlakuan yang dilakukan dengan tingkat pengenceran dan jeda waktu yang berbeda-beda diperoleh rata-rata banyaknya telur yang terbuahi oleh sperma tidak dapat menetas menjadi larva ikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi telur tersebut tidak dapat menetas karena kualitas sel telur dan sperma kurang baik, kurangnya viabilitas, lingkungan tidak alami sehingga sel-sel tersebut belum beradaptasi, dan dalam melakukan pengenceran kurang optimal. Menurut Balinsky (1960), hal ini disebabkan karena: 1. Ikan dalam keadaan stress akibat faktor lingkungan yang kurang mendukung, misalnya media dan tempat pemijahan yang kurang bersih, suasana yang kurang tenang, kandungan O2 yang rendah atau faktor cahaya. 2. Ikan yang digunakan belum matang kelamin, sehingga meskipun sudah di hipfisasi dengan hormon ovaprin tetap tidak akan memijah karena kandungan hormon gonadotropin dalam kelenjar hipofisisnya sedikit. 3. Penyuntikan ikan resipen yang tidak hati-hati sehingga kemungkinan terjadi kerusakan pada sisik ikan, maka ikan tidak akan memijah walaupun sudah diinduksi hormon ovaprin. 4. Lemahnya sperma, sifat pergerakan sperma menentukan kemampuan untuk melakukan pembuahan. Gerakan yang terlalu lembut dan arahnya tidak menentu akan mempersulit proses pembuahan. 5. Sperma mudah sekali tergantung oleh suasana lingkungan, suhu medium yang terlalu tinggi atau sebaliknya dan perubahan pH akan merusak pertumbuhan kemampuan untuk membuahi. Kualitas telur dan kualitas air media inkubasi sangat menentukan keberhasilan proses penetasan telur. Kualitas telur yang baik dan didukung oleh kualitas air media yang memadai dapat membantu kelancaran pembelahan sel dan

perkembangan telur untuk mencapai tahap akhir terbentuknya embrio ikan (Mukti, 2005). Salah satu permasalahan fertilisasi pada budidaya ikan air tawar adalah rendahnya tingkat fertilisasi dari spermatozoa di dalam air. Permasalahan lain adalah kurangnya ketersediaan cairan spermatozoa pada waktu pembuhan buatan. Rendahnya pembuahan spermatozoa dalam fertilisasi buatan ini juga disebabkan oleh aktivitas spermatozoa yang relatif singkat (Hidayaturrahmah, 2007). Fertilisasi memiliki beberapa fungsi antara lain transmisi gen dari paternal dan maternal kepada keturunannya, merangsang sel telur untuk berkembang lebih lanjut, menghasilkan terjadinya peleburan sifat genetis paternal dan maternal, mempertahankan kondisi diploiditas suatu spesies tertentu dari jenisnya serta penentuan jenis kelamin secara genetis.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Tahapan-tahapan proses pembuahan (fertilisasi) dimulai dari kontak dan pengenalan sperma-telur untuk memastikan sperma-telur dari spesies yang sama; pengaturan masuknya sperma ke dalam telur untuk pencegahan polispermi; fusi materi genetik dari sperma dan telur dan aktivasi metabolisme telur untuk mengawali perkembangan. 2. Perkembangan embrio pada Ikan Nilem (Osteochillus hassselti) betina dimulai setelah telur dibuahi oleh inti spermatozoon yang semua haploid, menjadi inti zigot yang diploid. Zigot yang tersegmen segmen menjadi bagian yang kecil (cleavage), bermula dari satu sel kemudian membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, hingga 32 sel yang disebut fase morula kemudian blastula, gastrula, neurula, head tail hingga akhirnya menetas menjadi larva. 3. Rasio spermatozoa dan ovum yang diperoleh dari pembelahan (fertilisasi) pada Ikan Nilem adalah 1 : 2384998,3 sel.

B. Saran

Striping sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena hal ini dapat mempengaruhi kualitas sperma yang dikeluarkan oleh ikan tersebut.

DAFTAR REFERENSI

Balinsky. 1960. Embryology. Saunders Company, London. Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico, Bandung. Gratiana, E. W., P. Susatyo, dan Sugiharto. 1998. Perkembangan Awal Ikan Nilem Sampai Larva. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto. Hidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas Dan Viabilitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio) Pada Beberapa Konsentrasi Larutan Fruktosa. Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan:vol 4, halaman 9-18. Mukti, A. T., 2005. Perbedaan Keberhasilan Tingkat Poliploidasi IkanMas (Cyprinus carpio Linn.) Melalui Kejutan Panas. Vol. 10. Hal: 133-138. Sistina, Yulia. 2008. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto. Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Unsoed, Purwokerto.