Anda di halaman 1dari 8

BOOMING BATUBARA DALAM INDUSTRI TEKSTIL DI WILAYAH BANDUNG DAN MASALAH TRANSPORTASINYA

Batubara merupakan salah satu sumberdaya energi yang dimiliki oleh Indonesia selain minyak bumi dan gas alam. Batubara sudah sejak lama digunakan, terutama untuk kegiatan produksi pada industri semen dan pembangkit listrik. Batubara sebagai energi alternatif mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga dapat menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM) dalam kegiatan produksi untuk industri tersebut. Apalagi beberapa tahun terakhir ini harga BBM terus mengalami kenaikan dan hal ini sangat dirasakan dampaknya oleh pelaku ekonomi di Indonesia. Salah satu industri yang mengalami hal tersebut adalah industri tekstil di ropinsi !a"a Barat, karena industri ini sangat tergantung pada bahan bakar solar atau residu untuk kegiatan produksinya. #al ini mengakibatkan tingginya biaya produksi, sehingga mempengaruhi pula harga penjualan produk. Sebagian dari mereka mengalami kebangkrutan kerena tidak mampu menutupi tingginya biaya produksi dan kalaupun mampu bertahan, mereka harus bersaing dengan produk$ produk luar negeri, seperti %ina yang harganya jauh lebih murah. &alam dua tahun terakhir ini telah terjadi perubahan penggunaan energi yang begitu cepat, dimana batubara mulai dilirik oleh industri tekstil sebagai bahan bakar dalam proses produksinya. Beberapa perusahaan di antaranya telah mulai beralih menggunakan batubara sebagai bahan bakar dan hal ini ternyata sangat efektif dalam menekan biaya produksi. 'ntuk saat ini, pemasokan batubara ke beberapa industri tekstil ropinsi masih tampak lancar. Akan tetapi, apabila seluruh perusahaan tekstil di

!a"a Barat telah menggunakan batubara, maka kelancaran pemasokan kebutuhan harus tetap terjaga ketersediaannya. Selain jaminan pemasokan batubara, sarana

transportasi seperti jalan dan kendaraan sangat mempengaruhi kelancaran pengiriman batubara di masa mendatang sehingga harus diantisipasi sejak dini. otensi sumber daya batubara Indonesia diperkirakan mencapai (),*( miliar ton. !umlah tersebut terdiri dari +,,(- miliar ton dikategorikan sebagai yang terindikasi (indicated) dan .+,/) miliar ton termasuk kategori sumber daya yang terukur (measured). Sebanyak 0,1* miliar ton di antaranya termasuk ke dalam kategori cadangan (reserve) yang siap tambang (mineable). Sekitar (+,.(2 cadangan batubara Indonesia tersebar di 3alimantan, /),-(2 tersebar di Sumatera dan sisanya terdapat di !a"a, Sula"esi dan masih termasuk kategori sumber daya (terukur dan terindikasi). Industri Tekstil di Wila a! Bandun" &i 4ilayah Bandung terdapat lebih dari -,, perusahaan tekstil yang tersebar di tiga "ilayah, yaitu di 3abupaten Bandung, 3ota Bandung dan 3ota %imahi. &i 3abupaten Bandung industri tekstil terkonsentrasi di tiga "ilayah, yaitu "ilayah timur (sepanjang !alan %ileunyi5%icalengka), "ilayah tengah (sepanjang !alan Mohammad 6oha5 &ayeuhkolot5Majalaya), dan "ilayah barat (sekitar 7anjung dan adalarang). &i 3ota %imahi, lokasi industri tekstil terkonsentrasi di sekitar 8eu"igajah. 'ntuk "ilayah 3ota Bandung penyebaran industri tekstil berbeda dengan penyebaran dengan 3abupaten Bandung maupun 3ota %imahi. &i 3ota Bandung, penyebarannya cenderung tidak terkonsentrasi dalam satu sentra. Sebagian besar bahan bakar yang digunakan untuk boiler industri tekstil adalah bahan bakar minyak (solar atau residu) dan hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi ertekstilan Indonesia (A I) Bandung, pada tahun +,,2

apua, itupun

di "ilayah Bandung tercatat ada sebanyak .* perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan kebutuhan sebesar +)/..0- ton. #ingga tahun +,,/, bertambah sebanyak +, perusahaan tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk boilernya. yaitu emakaian batubara hingga bulan !uni tahun +,,/ tercatat sebesar 6. anasia :ilamen Inti, 6. Ayoe 6aihote9, 6. Bintang Agung, +/(.-0/ ton. 6ercatat ) perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara 6. 3ahate9, 6. %entral ;eorgete 7usantara, &e"asuterate9 dan 6. 6risulate9. Pe#as$kan %atu%ara dan kendalan a Batubara yang dikirim dari 3alimantan sebagian ditampung di tempat penyimpanan di sekitar pelabuhan %irebon dan di seklitar jalan raya 8osari dengan kapasitas yang ber<ariasi antara -.,,,5(.,,, ton. 8okasi ini berdekatan dengan gerbang tol 3anci sehingga mempermudah pengiriman batubara ke luar daerah. ada saat ini, pasokan batubara ke pelabuhan %irebon tercatat sebesar .(,.,,, ton per bulan. Sebagian besar perusahaan tekstil membeli batubara secara langsung ke agen$agen penyedia batubara di "ilayah %irebon, harganya berkisar antara =p.-,,.,,,5 =p./,,.,,, per ton sampai di tempat tujuan. Batubara itu sendiri sebagian besar di produksi oleh 6. Arutmin, 6. Adaro dan 3operasi 'nit &esa, di 3alimantan Selatan dengan kualitas yang diterima di lokasi pemakai berkisar antara (/,,$00,, kkal>kg. 'ntuk menjaga kelangsungan produksi tekstil, biasanya setiap perusahaan menyediakan batubara antara /,$(,, ton untuk +$.+ hari jika musim penghujan tiba. Musim hujan tersebut berpengaruh langsung terhadap tingkat produksi batubara, baik dalam operasi penggalian maupun pengangkutannya di daerah tambang, sehingga pasokan dari tambang ke %irebon sering mengalami keterlambatan. Selain itu juga seringa terjadi gangguan pada jalur pengangkutan batubara dari %irebon ke pemasok, hingga ke konsumen (industri tekstil).
3

adatnya jalur lalulintas %irebon$Bandung merupakan faktor tambahan bagi keterlambatan pasokan. ?leh karena itu, untuk mengantisipasi resiko gangguan pasokan dapat dilakukan melalui peningkatan cadangan dan pembangunan stockyard di "ilayah Bandung dan sekitarnya. Stockyard tersebut harus mampu memasok semua konsumennya di "ilayah Bandung dan sekitarnya. 3eterlambatan pasokan dari lokasi tambang ke pelabuhan %irebon pada musim hujan sekitar + minggu. &engan demikian, cadangan di stockyard Bandung harus mampu menopang operasi boiler minimal selama + minggu. !umlah minimal cadangan batubara di stockyard tersebut adalah .1.+,* ton, untuk mengangkut batubara adalah truk dengan kapasitas +($-, ton. ada umumnya industri tekstil yang telah memanfaatkan batubara tidak terlepas dari kekha"atiran mengenai pemasokan batubara dan masalah lingkungan. !ika di masa mendatang semua industri tekstil di Bandung menggunakan batubara maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan permasalahan dalam pemasokan batubara dan juga transportasinya. Berkaitan dengan masalah lingkungan adalah abu dasar (bottom ash) dari hasil pembakaran batubara. tempat pembuangan. Reka asa &alur Trans'$rtasi Batu%ara &engan semakin padatnya jalur transportasi %irebon, Sumedang, Bandung menyebabkan truk pengangkut batubara mengalami kesulitan dalam pengirimannya. ?leh karena itu, dicari beberapa jalur alternatif untuk menentukan jalur yang paling sesuai untuk dilalui @
.)

erusahaan mengalami kesulitan

untuk membuang abu batubara tersebut mengingat tidak tersedianya lokasi$lokasi

&alur (ire%$n)Su#edan")&alan (a"ak)Bandun"


4

anjang jalur ini .(0 3m melalui daerah pegunungan sehingga jalan yang dilalui berkelok$kelok, penuh tanjakan dan turunan. Meskipun demikian, jalur dari %irebon sampai !alan %agak dapat dilalui oleh truk tronton pengangkut batubara dengan mudah. Masalah terbesar adalah jalur !alan %agak sampai Bandung, karena jalur ini harus melalui tanjakan Amen, yaitu tanjakan terpanjang dan tertinggi yang membentang dari %iater sampai simpang tiga ke arah 6angkuban erahu. 6ruk tronton dengan muatan penuh +( ton batubara tidak akan mampu melalui tanjakan ini. ?leh karena itu, jalur alternatif ini tidak dapat dipilih untuk menggantikan jalur yang telah ada. *+ &alur (ire%$n)Indra#a u)Pa#anukan)Su%an")Bandun" anjang jalur ini +,) 3m, jauh lebih panjang dari jalur alternatif sebelumya. !alur dari %irebon5Indramayu5 amanukan merupakan bagian dari jalur pantura, sehingga jalannya relatif datar dan luas. &emikian pula jalur dari amanukan5Subang relatif datar sehingga tronton dengan mudah melaluinya. 7amun karena jalur yang tersisa yaitu Subang5Bandung harus melalui tanjakan Amen, maka tronton bermuatan penuh batubara tidak akan mampu mele"atinya. &engan demikian, jalur alternatif ini tidak layak untuk dipilih untuk menggantikan jalur yang telah ada. ,+ &alur (ire%$n)(ika#'ek)Bandun" !alur ini jauh lebih panjang dari jalur yang telah ada, yaitu +-. 3m. ada jalur ini

pengangkutan batubara tidak menggunakan truk tronton, namun menggunakan kereta api. Alternatif ini dimunculkan, karena selama ini telah tersedia jaringan rel kereta api antara %irebon5%ikampek5Bandung. Bila jalur ini dapat digunakan, maka pengangkutan batubara akan menjadi lebih mudah. engangkutan batubara dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut @ batubara dari tongkang dibongkar ke atas truk, selanjutnya truk bergerak menuju stasiun kereta api di pelabuhan. Batubara dari
5

atas truk dipindahkan ke atas gerbong, selanjutnya diangkut ke Bandung melalui %ikampek. Stasiun batubara yang dipilih di Bandung adalah stasiun ;edebage. Biaya pengiriman batubara dengan menggunakan kereta api melalui %ikampek sebesar =p. ((.,,,,,, per ton. -+ &alur (ire%$n)(ika.an")Ka/ali)(ia#is)Malan"%$n" !alur ini merupakan jalur transportasi terpanjang dengan menggunakan truk, yaitu +-, 3m melalui jalur selatan. !alur yang dilalui adalah dari %irebon menuju %ikijing (3ab. 3uningan), terus ke arah 3a"ali (3ab. %iamis) dan menuju ke 3ota %iamis sehingga menembus jalur selatan !a"a. menuju ke Bandung. Selain panjang, jalur ini juga mele"ati daerah pebukitan dengan banyak kelokan dan tanjakan, terutama di daerah ana"angan (3ab. %iamis), Malangbong (3ab. ;arut), dan 7agreg (3ab. Bandung). ?leh karena itu "aktu yang diperlukan menjadi lebih besar dari jalur Cirebon-Sumedang-Bandung yang panjangnya sekitar .+* 3m dengan "aktu tempuh 0 jam. 6ranportasi le"at jalur selatan akan memerlukan "aktu tempuh antara .,5.+ jam, sehingga konsekuensi penggunaan jalur ini adalah meningkatnya "aktu tempuh antara /$0 jam dan biaya transportasi. #arga batubara melalui jalur Selatan ini menjadi berkisar antara =p. -,,.,,, $ =p /(,.,,, per ton, namun demikian harga ini masih tetap lebih ekonomis daripada harga BBM untuk operasi boiler tekstil. 0+ &alur (ire%$n)(i#alaka)Su#edan")Bandun" Analisis pada jalur ini didasarkan pada asumsi bah"a rencana pembangunan jalan tol %ileunyi5%imalaka dapat segera di"ujudkan. ?leh karena itu dengan melalui jalur ini, truk pengangkut batubara dapat memperkecil jarak angkut dari .+* 3m menjadi
6

Selanjutnya mengikuti jalur selatan ini

..- 3m. Selain menghemat "aktu dan jarak angkut, jalur ini tidak mele"ati dua titik ra"an longsor di Sumedang, yaitu %adas angeran dan 7yalindung. &i samping itu, juga tidak dijumpai tanjakan$tanjakan yang panjang dan tinggi, seperti Malangbong dan Amen, sehingga biaya transportasi batubara le"at jalur ini menjadi sekitar =p /,.,,,,$>ton. &ari ke lima jalur alternatif tersebut, ternyata hanya ada - jalur yang layak sebagai jalur transportasi pengiriman batubara, yaitu !alur %irebon$%ikampek$Bandung, jalur %irebon$%ikajang$ka"ali$%iamis$Malangbong dan jalur %irebon$%imalaka$Sumedang$ Bandung. Per#asala!an Lain roses penyediaan dan pemanfaatan batubara untuk boiler dalam industri tekstil di ropinsi !a"a Barat, bukanlah suatu hal yang mudah dan sederhana, sehingga memerlukan penanganan yang khusus mengingat berbagai hal yang dapat menimbulkan permasalahan. Berdasarkan hasil analisis di lapangan, terdapat beberapa permasalahan yang mungkin timbul mulai dari pemesanan hingga pengirimannya, antara lain @ 3edatangan batubara di elabuhan %irebon, akan menyebabkan terjadinya pembongkaran batubara. !ika telah banyak batubara yang dibutuhkan, maka bukan tidak mungkin kapal pengangkut batubara (tongkang) akan semakin banyak jumlahnya merapat di pelabuhan ini. Akibat dari peristi"a ini akan menyebabkan antrian dari tongkang$tongkang yang akan melakukan pembongkaran. 'ntuk menanggulangi kemungkinan tersebut, maka sebaiknya instansi yang terkait meningkatkan kapasitas bongkar dan meningkatkan kapasitas sandar pelabuhan.
7

6erbatasnya

jalur

transportasi

pengiriman

batubara

menyebabkan enanganannya

kemacetan>tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi.

adalah dengan menyediakan jalur$jalur alternatif yang dapat memperlancar pengiriman batubara. 3onsekuensi yang dihadapi adalah bertambahnya biaya pengangkutan. 3eterbatasan lahan penyediaan batubara di setiap perusahaan tekstil menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan dalam penyimpanannya. Salah satu alternatif penanggulannya adalah dengan membuat atau mendirikan sentra$ sentra penyediaan batubara yang berdekatan dengan lokasi penyebaran industri tekstil. Meningkatnya permintaan batubara akan adalah menyebabkan dengan kesulitan dalam lahan penyimpanannya. enanggulannya menentukan

penyimpanan yang sesuai dengan lokasi penyebaran industri tekstil berdasarkan luas, lokasi serta memperhatikan masalah$masalah lingkungan. 3ualitas batubara sangat berpengaruh terhadap daya tahan ( life time) peralatan (boiler) yang digunakan. 3onsekuensinya adalah kerusakan pada boiler dan penurunan kapasitas. enanganannya adalah dengan memilih>membeli batubara sesuai dengan spesifikasinya. roses pembakaran menjadi penyebab tingkat pencemaran udara (gas, debu dan abu). 3onsekuensinya adalah melampaui kadar abu yang diijinkan (masalah lingkungan). ananganannya dengan melakukan penga"asan yang ketat terjadap kegiatan industri tekstil oleh badan yang ber"enang. Triswan Suseno, Sujarwo dan Jafril Penulis adalah Peneliti dan Perekayasa di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung. Triswan@tekMI !.esdm.go.id
8