Anda di halaman 1dari 3

Penyulingan Minyak Nilam, Omzet Per Bulan Ratusan Juta Rupiah

ndonesia memiliki segudang komoditas andalan untuk ekspor. Baik ekspor migas maupun non migas. Salah satunya adalah Minyak Nilam. Minyak Nilam merupakan salah satu favorit yang memberikan sumbangan besar untuk devisa negara. Ini karena, Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor terbesar untuk kebutuhan dunia. Hal inilah, yang menjadikan usaha penyulingan Minyak Nilam, menjadi salah satu alternatif dalam mengeruk rupiah. Usaha penyulingan Minyak Nilam, ke depannya masih berpeluang sangat bagus, terutama dari sisi bisnis, jelas sangat menguntungkan. Bahan baku utamanya adalah tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth). Bahan yang murah dan tersedia banyak, serta cara pengolahan yang tak begitu rumit, menjadikan usaha penyulingan Minyak Nilam ini kian diminati. Berapapun hasil minyak yang kita hasilkan, selalu habis terjual. Soal pemasaran, kami nggak perlu khawatir lagi. Ada pengepul besar yang siap menampung, begitu aku Hasyim (52), seorang pembuat Minyak Nilam asal Kelurahan/Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo, Jawa Tengah pada Trans Agro. Inilah yang menjadikan Hasim, terus menggeluti usahanya itu sejak 23 tahun silam. Dari usaha penyulingan Minyak Nilamnya itu, dia bisa menghidupi keluarganya. Bahkan dari awalnya yang cuma satu alat Destilator (penyulingan), kini sudah berkembang menjadi beberapa buah. Dari para pembuat Minyak Nilam seperti Hasyim ini, hasil produksi Minyak Nilam tadi ditampung seorang pengepul. Nah, dari pengepul inilah, Minyak Nilam tadi bisa diekspor ke luar negeri. Dan kian hari, kebutuhan akan Minyak Nilam ini terus meningkat. Itu ditandai dengan banyaknya permintaan dari pengepul tadi, sebagai kepanjangan tangan eksportir. Minyak Nilam banyak digunakan dalam industri parfum dunia, berfungsi sebagai pengikat aroma. Selain iu, digunakan juga dalam industri kosmetik dan farmasi, jelas Hasyim, yang juga salah satu perintis penyulingan Minyak Nilam di Wonosobo ini. Asal tahu saja. Minyak Nilam, merupakan salah satu bagian dari minyak atsiri, yakni minyak yang terdapat dan bisa dihasilkan oleh tanaman aromatik. Minyak atsiri ini mudah menguap. Yang bisa menghasilkan minyak atsiri, diantarnya daun cengkeh, nilam, serei, melati, serta masih banyak lagi. Paling tidak terdapat 150-200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Dari semua tanaman penghasil minyak atsiri tadi, nilamlah yang difavoritkan, karena selain kebutuhannya paling besar, juga harga jualnya yang paling tinggi dibanding lainnya. Tak heran, jika usaha penyulingan Minyak Nilam ini, berpeluang lebih menguntungkan dari sisi bisnis. Karena merupakan kebutuhan dunia, serta menjadi salah satu komoditas ekspor, menjadikan harga jual Minyak Nilam ini standarnya dolar. Jika dolar sedang naik, maka harga jual Minyak Nilam di tingkat produksi juga ikut-ikutan naik. Namun jika harga dolar turun, harga jual dalam negeri juga ikut-ikutan turun juga.

Saat ini, harga per kilo Minyak Nilam produki kami mencapai Rp 230 ribu rupiah. Itu di tingkat pengepul. Kalau harga pasaran dunia, jelas lebih tinggi dari itu, jelas ayah tiga anak ini. Hasyim merupakan pembuat Minyak Nilam kawakan. Fluktuasi harga rendah dan tinggi sudah sering dia alami. Menurut penuturannya, harga Minyak Nilam tertinggi pernah mencapai satu juta rupiah perkilonya. Hal itu terjadi, ketika nilai tukar dolar terhadap rupiah juga tinggi. Sementara pembuatan atau pengolahan Minyak Nilam ini sebenarnya relatif mudah. Siapa saja, bisa melakukannya, asal memiliki beberapa peralatan, diantarnya Destilator, atau alat penyulingan. Prosesnya sama seperti kita memasak nasi (dikukus). Bedanya, uap yang keluar kita salurkan lewat pipa-pipa yang dilewatkan ke kolam pendingin. Tak begitu sulit, papar Hasyim menjelaskan. Jumlah Minyak Nilam yang dihasilkan, tergantung seberapa besar alat Destilatornya, atau Hasyim menyebutnya ketel besar. Untuk alat yang dimiliki Hasyim, memiliki diameter 1,8 m, serta tinggi 2,4 m. Mesin sebesar itu, mampu menampung atau mengolah 3 kwintal daun nilam kering, dimana nantinya jika sudah melalui proses penyulingan tadi, akan menghasilkan Minyak Nilam 6 kg. Dalam sehari, satu alat penyulingan tadi bisa berproduksi 3 kali. Sekali produksi, memerlukan waktu hingga selesai, 8 jam. Jika dalam sehari mampu menghasikan 18 kg, maka dalam sebulan bisa menghasilkan rata-rata 504 kg Minyak Nilam. Jika satu kilonya saat ini harganya 230 ribu, maka omset Hasyim perbulan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Itu baru dari satu mesin. Sementara Hasyim mempunyai 3 alat penyulingan. Hasyim menambahkan, yang menjadi kendala kadang masalah bahan baku. Jika saat produksi bahan kurang dari kapasitas, maka hasilnya juga berkurang. Itu tentu saja mempengaruhi omsetnya juga. Alat penyulingan ini bisa beroperasi selama 24 jam. Kita mempunyai 2 karyawan tiap mesinnya, yang bekerja secara bergantian. Asal ada bahan bakunya, kita bisa beroperasi tiap hari, lanjut Hasyim menjelaskan. Sementara sebagai bahan bakunya, yakni daun nilam kering, dibeli Hasyim dari petani sekitarnya seharga 3 ribu perkilonya. Diakui Hasyim, mesin penyulingan nilamnya itu efektif berproduksi mulai bulan Februari hingga Juli. Pada bulan-bulan ini, stok daun nilam melimpah, karena sedang panen. Menurut Hasyim, tanaman nilam mulai ditanam ketika memasuki musim penghujan. 5-6 bulan kemudian, bisa mulai dipanen. Satu rumpun tanaman nilam, bisa dipanen hingga 3 kali. Itulah kenapa, kita harus pintar-pintar menyiasatinya. Caranya, ketika panen raya, kita stok sebanyak-banyaknya. Makanya alat kita bisa beroperasi selama 24 jam terus menerus. Tapi jika sedang tidak ada bahan baku, ya kita produksi seadanya bahan baku, atau produksi minyak cengkeh, terang suami dari Sadiyah ini.

Sebagai sarana penunjang utama dalam berproduski adalah bahan bakar kayu, serta tenaga. Sekali berproduksi, mampu menghabiskan kayu bakar sebanyak 2 kubik. Harga sekubik kayu bakar mencapai 75 ribu. Sementara untuk tenaga, sekali produksi dibayar 50 ribu (untuk 2 orang). Investasi terbesar adalah alat destilator. Harga sebuah alat ini, menurut Hasyim bisa mencapai 18 juta untuk alat yang terbuat dari besi. Sementara untuk alat berbahan stainless steel, bisa mencapai 35 juta perbuahnya. Tata cara pengolahannya juga relatif gampang. Tahap awalnya, pada bagian bawah ketel, diberi air dengan ketinggian 70 cm. Diatas air ini, ada semacam saringan. Nah, diatas saringan ini, tempat bahan baku utama, yakni daun nilam kering. Selanjutnya lakukan pembakaran di tungku bawah ketel. Setelah api membesar, air akan mendidih. Nah, itu akan menghasilkan uap. Uap-uap itu, akan meresap ke daun-daun nilam tadi. Karena sudah ada kandungan minyaknya, kadar minyak tadi akan keluar bersamaan dengan keluarnya uap. Uap-uap tadi di salurka lewat pipa-pipa. Kita harus hati-hati, karena suhunya panas sekali. Nah, pipa-pia tadi, disalurkan melewati kolam pendingin. Panjang pipa idealnya mencapai 42 m. Jadi bisa memutari kolam, terang Hasyim menjelaskan. Barulah, dari pipa-pipa tadi, setelah melalui proses pendinginan secara sederhana, akan keluar minyaknya, yang ditampung dalam penampung. Dalam penampung ini. Minyak akan tercampur dengan air sewaktu proses penguapan tadi. Tinggal mengambil minyaknya saja, karena meski tercampur, minyak akan berada terpisah diatas air. Jadi gampang mengambilnya. Hasyim mengingatkan, dalam proses pembakaran ini, api tidak boleh padam. Maka harus rajin-rajin mengontrolnya. Dan setiap 4 jam sekali, maka air pada bagian bawah ketel (dibawah saringan setinggi 70 cm) harus diganti, agar prsosesnya bisa maksimal. Ada keuntungan juga, menurut Hasyim. Limbah dari sisa-sisa proses penyulingan tadi, masih bisa digunakan untuk bahan bakar. Jadi nggak ada yang terbuang percuma. Yang pasti, usaha penyulingan Minyak Nilam ini sangat menguntungkan.. Saya sampai kewalahan memenuhinya, Pungkas Hasyim, yang didampingi anaknya, Abas . Ditulis : Sujono