Anda di halaman 1dari 25

BLOK PANCAINDRA SKENARIO 3 BERCAK MERAH&GATAL DI SELANGKANGAN

KELOMPOK B- 09 Ketua Sekretaris Anggota : : : Randy Prayogo Raisa Desyta Adliza Yudha Ferriansyah Nadia Fitrisia Nadira Danata Rantri Zahra Kirana Wenny Artha Mulia Widya Amalia Swastika Vicianty Meista Sari (1102011221) (1102011220) (1102010299) (1102011187) (1102011188) (1102011222) (1102011289) (1102011290) (1102011288)

TAHUN AJARAN 2014/2015 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Skenario 3 Bercak Merah & gatal diselangkangan Seorang wanita berusia 28 tahun dating ke Poliklinik dengan keluhan bercak merah dan gatal terutama bila berkeringat diselangkangan sejak satu minggu yang lalu. Keluhan disertai dengan Beruntus dan kulit yang menebal bewarna gelap. Kelainan ini hilang timbul selama 6 bulan,hilang apabila diobati dan timbul saat menstruasi atau menggunakan celana berlapi. Riwayat keputihan disangkal. Kelainan ini dirasakan setelah berat badan penderita bertambah. Pada pemeriksaan generalis : dalam batas normal Pada pemeriksaan dermatologis : Regioner, bilateral pada ke-2 sisi medial paha atas tampak lesi multiple, berbatas tegas,bentuk beraturan, ukuran bervariasi dari diameter 0,03 cm sp 0,1cm,kering, permukaan halus dengan elfloresensi berupa plak eritem,sebagian likhenifikasi yang hiperpigmentasi, pada bagian tengan tampak central healing dengan ditutupi skuama halus Setelah mendapatkan terapi,penderita diminta untuk control rutin dan menjaga serta memelihara kesehatan kulit sesuai tuntunan ajaran islam

SASARAN BELAJAR LI 1. Memahami dan mengetahui tentang anatomi Mikroskopik Kulit LI 2. Memahami dan mengetahui tentang fisiologi Kulit LI 3. Memahami dan mengetahui tentang Dermatofitosis LO 3.1 Definisi LO 3.2 Etiologi LO 3.3 Klasifikasi LO 3.4 Patofisiologi LO 3.5 Manifestasi Klinis LO 3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding LO 3.7 Komplikasi LO 3.8 Penatalaksanaan LO 3.9 Komplikasi LO 3.10 Pencegahan LO 3.11 Prognosis LI 4. Memahami dan mengetahui tentang Menjaga dan memelihara kesehatan kulit menurut Islam

LI 1. Memahami dan mengetahui tentang anatomi Mikroskopik Kulit Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit juga merupakan organ esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit sangat kompleks dan sensitive, serta elastis. Ketebalan kulit bervariasi, kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebral bibir dan preputium, sedangkan kulit yang tebal terdapat pada telapak kaki dan tangan dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang lembut pada leher dan badan, yang berambut kasar pada kepala. Anatomi Kulit Secara Histopatologik Kulit terdiri dari 3 lapisan utama : 1. Lapisan epidermis / kutikel 2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin) 3. Lapisan subkutis (hypodermis / lemak) Lapisan Epidermis - Stratum korneum (lapisan tanduk) : lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin(zat tanduk). - Stratum lusidum : terdapat langsung dibawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki. - Stratum granulosum (keratohialin) : 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Terdiri atas keratohialin. Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki. - Stratum spinosum (malphigi) : disebut juga prickle cell layer atau lapisan akanta yang terdiri beberapa lapis sel berbentuk polygonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis, protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak ditengah. Makin dekat permukaan makin gepeng bentuknya. Diataranya terdapat jembatan antar sel (interselular bridges) yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Mengandung banyak glikogen. - Stratum basale : terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumner) yang tersusun vertical pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar. Merupakan lapisan epidermis paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif, terdiri 2 sel : a. Sel kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel b. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel berwarna muda, sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen (melanosomes).
4

Lapisan Dermis Adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut, dibagi 2 : 1. Pars papilare : bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah 2. Pars retikulare : bagian dibawahnya yang menonjol kearah subkutan, terdiri atas serabut penunjang misalnya kolagen, elastin, retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, terdapat pula fibroblast. a. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dan makin bertambah umur makin kurang larut sehingga makin stabil. b. Retikulin mirip kolagen muda c. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang serta lebih elastis. Lapisan Subkutis Merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak didalamnya. Sel lemak merupakan sel bulat, besar dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma kemak yang bertambah. Sel sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adipose, yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Dilapisan ini terdapat ujung ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening. Lapisan lemak juga merupakan bantalan tubuh. Vaskularisasi Kulit Diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak dibagian atas dermis (pleksus superfisial) yang akan mengadakan anastomosis, dibagian ini pembuluh darah terdapat saluran getah bening. Dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Adneksa Kulit Terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut, dan kuku. 1. Kelenjar kulit, yang terletak di lapisna dermis, terdiri : a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera) Terdiri dari kelenjar ekrin (kecil) terbentuk 28 minggu kehamilan dan baru berfungsi 40 minggu setelah kelahiran, terletak di dangkal dermis (diseluruh permukaan kulit) dengan secret encer dan sekresinya dipengaruhi oleh saraf kolonergik, panas, stress emosional, serta kelenjar apokrin (besar) terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental, sekresinya dipengaruhi oleh saraf adrenergic, terdapat di aksila, areola mamae, pubis, labia minora, saluran telinga luar. Fungsi kelenjar apokrin adalh untuk mengeluarkan secret. b. Kelenjar palit (glandula sebasea) terletak diseluruh permukaan kulit manusia kecuali telapak tangan dan kaki. Disebut juga kelenjar holokrin karena tidak berlumen. Terdapat di samping akar rambut dan muaranya pada lumen akar rambut. Sekresinya dipengaruhi oleh androgen, anak-anak sedikit. 2. Kuku Bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Tumbuh dari akar kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm per minggu. Kulit tipis yang menutupi kuku dibagian proksimal disebut eponikium, sedangkan kulit yang ditutupi bagian kuku bebas disebut hipokonium 3. Rambut
5

4. Terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit (akar rambut) dan bagian yang berada di luar kulit (batang rambut). Ada 2 macam tipe rambut : lanugo (rambut halus dan tidak berpigmen terdapat pada bayi), dan rambut terminal (lebih kasar dengan banyak pigmen punya medulla dan terdapat pada orang dewasa). Selain itu ada di bulu mata, rambut ketiak, kemaluan, kumis dll yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormone androgen. Rambut tumbuh secara siklik ,fase anagen (pertumbuhan) berlangsung 2-6 tahun, fase telogen (istirahat) beberapa bulan, diantara fase tersebut ada fase katagen (involusi temporer). Komposisi rambut : karbon 50,60%, hydrogen 6,36%, nitrogen 17,14%, sulfur 5% dan oksigen 20,80%. LI 2. Memahami dan mengetahui tentang fisiologi Kulit 1. Fungsi proteksi : Menjaga bagian dalam kulit dari gangguan mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan. Gangguan kimiawi : iritan. Gangguan bersifat panas : radiasi, sengatan UV, gangguan infeksi luar : infeksi bakteri/jamur. Akibat adanya jaringan lemak. Melanosit turut berperan dalam melingungi kulit terhadap pajanan sinar matahari dengan mengadakan tanning. Stratum korneum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia. Proses keratinisasi juga merupakan suatu proses barrier mekanis karena sel sel mati melepaskan diri secara teratur. 2. Fungsi absorpsi: Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tapi cairan yang mudah menguap mudah diserap, begitupun yang larut lemak. Dipengaruhi oleh tebal dan tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. 3. Fungsi eksresi :Kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna lagi atau sisa metabolism dlam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan ammonia. 4. Fungsi persepsi: Mengandung ujung saraf sensork didermis dan subkutis. Rasa panas (ruffini) didermis dan subkutis. Rasa dingin (badan Krause) yang terletak di dermis. (Badan taktil meissner) terletak di papilla dermis berperan terhadap rabaan. (badan merkel ranvier) terletak di epidermis untuk rabaan. (badan pacini) untuk tekanan yang ada di epidermis. 5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi): Dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah yang memungkinkan kulit mendapatkan nutrisi yang cukup baik. Tonus vascular dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin). 6. Fungsi pembentukan pigmen: Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak dilapisan basal dan berasal dari rigi saraf. Jumlah melanosit serta jumlah besarnya butiran pigmen (melanosomes) menentukan warna kulit ras maupun individu. 7. Fungsi keratinisasi: Berlangsung selama 14-21 hari, keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin keatas sel makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. 8. Fungsi pembentukan vit D: Mengubah 7-hidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tapi kebutuhan tubuh akan vit D tidak cukup hanya dari situ, sehingga pemberian vit D sistemik masih tetap diperlukan.

LI 3. Memahami dan mengetahui tentang Dermatofitosis LO 3.1 Definisi Dermatofitosis Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofit yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti stratum korneum kulit, rambut dan kuku pada manusia dan hewan. Dermatofit adalah sekelompok jamur yang memiliki kemampuan membentuk molekul yang berikatan dengan keratin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi untuk membentuk kolonisasi. LO 3.2 Etiologi Dermatofitosis Terdapat tiga genus penyebab dermatofitosis, yaitu Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton yang dikelompokkan dalam kelas Deuteromycetes. Dari 41 spesies yang telah dikenal, 17 spesies diisolasi dari infeksi jamur pada manusia, 5 spesies Microsporum menginfeksi kulit dan rambut, 11 spesies Trichophyton meninfeksi kulit, rambut dan kuku, 1 spesies Epidermophyton menginfeksi hanya pada kulit dan jarang pada kuku. Spesies terbanyak yang menjadi penyebab dermatofitosis di Indonesia adalah: Trichophyton rubrum (T. rubrum), berdasarkan penelitian di RS Dr. Cipto Mangun Kusumo Jakarta tahun 1980. Pada penelitian yang dilakukan di Surabaya pada 20062007 ditemukan spesies terbanyak yang berhasil dikultur adalah M. audiouinii (14,6%), T.rubrum (12,2%), T.mentagrophytes (7,3%). LO 3.3 Klasifikasi Dermatofitosis Berdasarkan lokalisasi, dermatofitosis terdiri dari : A. Tinea Kapitis (Scalp ring worm ;Tinea Tonsurans) pada kulit dan rambut kepala. Biasanya penyakit ini banyak menyerang anak-anak dan sering ditularkan melalui binatangbinatang peliharaan seperti kucing, anjing dan sebagainya. Berdasarkan bentuk yang khas Tinea Kapitis dibagi dalam 4 bentuk : a. Gray pacth ring worm Penyakit ini dimulai dengan papel merah kecil yang melebar ke sekitarnya dan membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut jadi abu-abu dan tidak mengkilat lagi, serta mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga menimbulkan alopesia setempat. Dengan pemeriksaan sinar wood tampak flourisensi kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melalui batas Grey pacth tersebut. Jenis ini biasanya disebabkan spesies mikrosporon dan trikofiton. b. Black dot ring worm

Terutama disebabkan oleh Trikofiton Tonsurans, T. violaseum, mentagrofites. infeksi jamur terjadi di dalam rambut (endotrik) atau luar rambut (ektotrik) yang menyebabkan rambut putus tepat pada permukaan kulit kepala. Ujung rambut tampak sebagai titik-titik hitam diatas permukaan ulit, yang berwarna kelabu sehingga tarnpak sebagai gambaran back dot. Biasanya bentuk ini terdapat pada orang dewasa dan lebih sering pada wanita. Rambut sekitar lesi juga jadi tidak bercahaya lagi disebabkan kemungkinan sudah terkena infeksi penyebab utama adalah Trikofiton tonsusurans dan T.violaseum. c. Kerion Bentuk ini adalah yang serius, karena disertai dengan radang yang hebat yang bersifat lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah ini putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini pecah akan meninggalkan suatu daerah yang botak permanen oleh karena terjadi sikatrik. Bentuk ini terutama disebabkan oleh Mikosporon kanis, M.gipseum , T.tonsurans dan T. Violaseum. d. Tinea favosa Kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta yang berbentuk cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus moussy odor. Rambut di atas skutula putus-putus dan mudah lepas dan tidak mengkilat lagi. Bila menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen. Penyebab utamanya adalah Trikofiton schoenleini, T. violasum dan T. gipsum. Oleh karena Tinea kapitis ini sering menyerupai penyakit-penyakit kulit yang menyerang daerah kepala, maka penyakit ini harus dibedakan dengan penyakitpenyakit bukan oleh jamur seperti: Psoriasis vulgaris dan Dermatitis seboroika. B. Tinea Korporis (Tinea circinata=Tinea glabrosa) Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang kurang mengerti kebersihan dan banyak bekerja ditempat panas, yang banyak berkeringat serta kelembaban kulit yang lebih tinggi. Predileksi biasanya terdapat dimuka, anggota gerak atas, dada, punggung dan anggota gerak bawah. Bentuk yang klasik dimulai dengan lesi-lesi yang bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif. Dengan perkembangan ke arah luar maka bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya dapat memberi gambaran yang polisiklis, arsiner, atau sinsiner. Pada bagian tepi tampak aktif dengan tanda-tanda eritema, adanya papel-papel dan vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Bila tinea korporis ini menahun tanda-tanda aktif jadi menghilang selanjutnya hanya meningggalkan daerah-daerah yang hiperpigmentasi saja. Kelainan-kelainan ini dapat teIjadi bersama-sama dengan Tinea kruris. Penyebab utamanya adalah : T.violaseum, T.rubrum, T.metagrofites. Mikrosporon gipseum, M.kanis, M.audolini. C. Tinea Kruris (Eczema marginatum) Penyakit ini memberikan keluhan perasaan gatal yang menahun, bertambah hebat bila disertai dengan keluarnya keringat. Kelainan yang timbul dapat bersifat akut atau menahun. Kelainan yang akut memberikan gambaran yang berupa makula yang eritematous dengan erosi dan kadang-kadang terjadi ekskoriasis. Pinggir kelainan kulit tampak tegas dan aktif. Apabila kelainan menjadi menahun maka efloresensi yang nampak hanya makula yang hiperpigmentasi disertai skuamasi dan likenifikasi. Gambaran yang khas adalah lokalisasi kelainan, yakni daerah
8

lipat paha sebelah dalam, daerah perineum dan sekitar anus. Kadang-kadang dapat meluas sampai ke gluteus, perot bagian bawah dan bahkan dapat sampai ke aksila. D. Tinea Manum Dan Tinea Pedis Tinea pedis disebut juga Athletes foot atau Ring worm of the foot. Penyakit ini sering menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat basah seperti tukang cuci, pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap hari harus memakai sepatu yang tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada infeksi sekunder. Ada 3 bentuk Tinea pedis a. Bentuk intertriginosa Keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah jari terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-ceIah jari tersebut membuat jamurjamur hidup lebih subur. Bila menahun dapat terjadi fisura yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat menimbulkan selulitis atau erisipelas disertai gejala-gejala umum. b. Bentuk hyperkeratosis Disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat terjadi fisurafisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki. c. Bentuk vesikuler subakut Kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan bula yang terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat. Bila vesikelvesikel ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang disebut Collorette. Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat keadaan sehingga dapat terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada Tinea pedis, dapat terjadi pada Tinea manus, yaitu dermatofitosis yang menyerang tangan. Penyebab utamanya ialah : T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermofiton flokosum. E. Tinea Unguium (Onikomikosis = ring worm of the nails) Penyakit ini dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung jamur penyebab dan permulaan dari dekstruksi kuku. Subinguinal proksimal bila dimulai dari pangkal kuku, Subinguinal distal bila di mulai dari tepi ujung dan Leukonikia trikofita bila di mulai dari bawah kuku. Permukaan kuku tampak suram tidak mengkilat lagi, rapuh dan disertai oleh subungual hiperkeratosis. Dibawah kuku tampak adanya detritus yang banyak mengandung elemen jamur. Onikomikosis ini merupakan penyakit jamur yang kronik sekali, penderita minta pertolongan dokter setelah menderita penyakit ini setelah beberapa lama, karena penyakit ini tidak memberikan keluhan subjektif, tidak gatal, dan tidak sakit. Kadang-kadang penderita baru datang berobat setelah seluruh kukunya sudah terkena penyakit. Penyebab utama adalah : T.rubrum, T.metagrofites. F. Tinea Barbae
9

Penderita Tinea barbae ini biasanya mengeluh rasa gatal di daerah jenggot, jambang dan kumis, disertai rambut-rambut di daerah itu menjadi putus. Ada 2 bentuk yaitu superfisialis dan kerion. a. Superfisialis Kelainan-kelainan berupa gejala eritem, papel dan skuama yang mula-mula kecil selanjutnya meluas ke arab luar dan memberi gambaran polisiklik, dengan bagian tepi yang aktif. Biasanya gambaran seperti ini menyerupai tinea korporis (1). b. Kerion Bentuk ini membentuk lesi-lesi yang eritematous dengan ditutupi krusta atau abses kecil dengan permukaan membasah oleh karena erosi. G. Tinea Imbrikata Penyakit ini adalah bentuk yang khas dari Tinea korporis yang disebabkan oleh Trikofiton konsentrikum. Gambaran klinik berupa makula yang eritematous dengan skuama yang melingkar. Apabila diraba terasa jelas skuamanya menghadap ke dalam. Pada umumnya pada bagian tengah dari lesi tidak menunjukkan daerah yang lebih tenang, tetapi seluruh makula ditutupi oleh skuama yang melingkar.

LO3.4 Patofisiologi Dermatofitosis Salah satu fungsi kulit adalah melindungi tubuh. Fungsi ini akan menurun atau terganggu jika terjadi infeksi jamur pada kulit. Setelah menempel, jamur akan menyerang kulit dan menyebabkan peradangan. Gejala yang tampak jelas yaitu munculnya warna kemerahan atau kehitaman disertai sisik pada kulit yang terinfeksi. Pada tingkatan yang paling parah, infeksi jamur bisa terjadi di dalam jaringan darah sehingga menyebabkan munculnya benjolan-benjolan bernanah. Patogenesis dermatofita memiliki 3 step 1. Adherence/ pengikatan. Fungi selalu mempunyai hambatan dalam proses infeksinya, fungi harus resisten terhadap sinar UV, tahan terhadap berbagai temperature dan kelembaban, kompetisi dengan flora normal kulit, spingosine yang di hasilkan oleh keratinosit. Asam lemak yg di produksi oleh glandula sebasea bersifat fungistatik (menghambat pertumbuhan jamur). Mulainya di produksi asam lemak pada anak anak post-pubertas mungkin menerangkan menurunnya kejadian tinea kapitis secara drastis. 2. Penetration setelah fase adherence, spora akan tumbuh dan memasuki stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat dari waktu deskuamasi epidermis. Penetrasi juga di dukung dengan keluarnya ensim proteinase, lipase dan musinolitik yang juga membantu dalam pembuatan nutrisi fungi. Trauma dan maserasi merupakan faktor penting dalam memudahkan penetrasi fungi terutama pada kasus tinea pedis. Fungal mannans yang ada di dinding sel dermatofita juga dapat
10

menurunkan poliferasi sel keratinosit. Pertahanan terbaru pada lapisan epidermis yang lebih dapat tercapai diantaranya berkompetisi dengan besi dan juga penghambatan pertumbuhan jamur oleh progesteron. 3. Development a host response/ respon host. Proses inflamasi yang terjadi sangat tergantung dari sistem imun host dan juga oleh jenis organisme. Beberapa fungi dapat menghasilkan faktor kemotaktik dengan berat melekul rendah seperti yang dihasilkan bakteri. Antibodi tidak terlihat pada infeksi dermatofita, tetapi hanya menggunakan jalur reaksi hipersensitivitas tipe IV. Infeksi yang sangat ringan sering hanya menimbulkan inflamasi yang ringan juga, pertama muncul berupa eritema dan scale / skuama yang menandakan terjadinya peningkatan pergantian keratinosite (keratinocyte turnover). Antigen dermatofit di proses oleh sel langerhans epidermis dan di presentasikan di nodus limpa lokal menuju ke limfosit T. Kemudian limfosit T mengalami poliferasi dan bermigrasi ke lokasi untuk membunuh jamur dan pada waktu ini lesi menjadi mendadak inflamasi. Oleh sebab ini barier epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan migrasi sel.

LO 3.5 Manifestasi Klinis Dermatofitosis Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercakbercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang (Boel, 2003). Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal ini digaruk maka papel-papel atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum) , tetapi kadang-kadang hanya berupa makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai gejala-gejala pioderma (impetigenisasi) (Boel, 2003).

E.

TINEA KRURIS

Penyakit ini memberikan keluhan perasaan gatal yang menahun, bertambah hebat bila disertai dengan keluarnya keringat. Kelainan yang timbul dapat bersifat akut atau menahun. Kelainan yang akut memberikan gambaran yang berupa makula yang eritematous dengan erosi dan kadang-kadang terjadi ekskoriasis. Pinggir kelainan kulit tampak tegas dan aktif (Boel, 2003). Apabila kelainan menjadi menahun maka efloresensi yang nampak hanya makula yang hiperpigmentasi disertai skuamasi dan likenifikasi. Gambaran yang khas adalah lokalisasi kelainan, yakni daerah lipat paha sebelah dalam, daerah perineum dan sekitar anus. Kadangkadang dapat meluas sampai ke gluteus, perot bagian bawah dan bahkan dapat sampai ke aksila (Boel, 2003). Epidemiologi:
11

Tinea cruris lebih sering mengenai pria dewasa dengan riwayat obesitas dan diabetes mellitus daripada perempuan dan jarang pada anak-anak. Hal tersebut dipengaruhi oleh frekuensi keringat yang berlebihan, dan tingkat pengetahuan masing-masing individu tentang kebersihan sehingga hal itu juga sangat membantu dalam pengobatan. Tinea cruris sering dialami oleh penduduk di daerah dengan iklim tropis. (Nadalo dan Montoya, 2006; Wiederkehr dan Schwartz, 2009). Penyebab utama adalah Epidermophyiton floccosum, Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentografites. Terapi: Tinea cruris lebih baik diobati secara topikal dengan menggunakan antijamur allylamine (naftifine dan terbinafine) atau antijamur azole (clotrimazole, econazole, miconazole, ketokonazole, oxiconazole, dan sulconazole). Allylamine memiliki durasi terapi yang lebih pendek, tingkat kekambuhan yang lebih rendah dan bekerja independen pada sistem sitokrom P450. Allylamine tersedia dalam bentuk emulsi-gel, krim, dan semprot. Anti jamur ini diberikan satu kali sehari selama satu minggu (Nadalo dan Montoya, 2006). Menurut Bahroelim Bahri dan R. Setyabudi (2005), golongan imidazol yang efektif dalam pengobatan tinea cruris yaitu pada clotrimazol. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat sintesis ergosterol yang mengakibatkan permeabilitas membran sel jamur meningkat dan menyebabkan terjadinya gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menimbulkan kerusakan sehingga obat dapat menembus ke dalam lapisan tanduk kulit dan akan menetap di sana selama empat hari. Clotrimazol tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1% untuk dioleskan selama satu hari sekali. Pada pemakaina topikal dapat terjadi rasa terbakar, eritema, edema, gatal, dan urtikaria. Pencegahan: 1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika faktorfaktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari dan lipatan sesudah mandi harus dikeringkan dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur. 2. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai pakaian dari bahan katun yang menyerap keringat dan jangan memakai pakaian yang ketat. 3. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air panas. Diferensial Diagnosa : 1. Kandidiasis intertriginosa 2. Eritrasma 3. Psoriasis vulgaris 4. Pitiriasis rosea KANDIDOSIS INTERTRIGINOSA

12

Penyebab tersering adalah Candida albicans. Lesi terdapat di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari-jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilicus. Gejala dan tanda: (Kuswadji, 2007) 1. Berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa.

2. Lesi dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer disebut hens and chickens.

ERITRASMA Eritrasma adalah salah satu penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum ditandai dengan adanya lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Lesi kulit dapat berukuran sebesar miliar sampai plakat. Lesi eritroskuamosa, berskuamosa halus kadang-kadang dapat berupa dapat terlihat merak kecoklatan (Budimulja, 2008). Gejala dan tanda: (Soepardiman, 2007) 1. Lesi kulit dapat berukuran sebesar miliar sampai plakat 2. Lesi eritroskuamosa berskuama halus kadang-kadang dapat terlihat merah kecoklatan, tergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. 3. Tempat predileksi di daerah ketiak dan lipat paha. Kadang-kadang berlokasi di daerah intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. 4. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginosa. Lesi tidak menimbul dan tidak terliha vesikulasi. Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. 5. Eritrasma tidak menimbulkan keluhan subjektif kecuali bila terjadi eksematisasi oleh karena penderita berkeringat banyak atau terjadi maserasi pada kulit

PSORIASIS VULGARIS Psoriasis vulgaris adalah kulit yang disebabkan oleh respon autoimun tipe 1. Psoriasis vulgaris adalah penyakit inflamasi pada kulit yang menyebabkan perubahan seluler termasuk hiperplasia epidermis, perubahan diferensiasi keratinosit, angiogenesis dan inflamasi pada kulit (Chamlan, dkk, 2004). Psoriasis adalah keadaan kulit yang tidak normal dimana kulit penderita menebal lebih cepat dari kulit yang normal. Psoriasis biasanya mengenai pada kulit kepala, lutut, dan siku, dapat juga mengenai bagian tubuh lain termasuk kuku dan tulang (Azman, 2006). Gejala dan tanda : (Dharmawan, 2010) 1. Gatal 2. UKK: Plak, eritema, skuama tebal, berlapis-lapis keperakan seperti mika, berbatas tegas, ukuran lentikular 3. Auspitz Sign: Jika skuama dikerok, muncul bintik perdarahan yang disebut papilomatosis
13

4. Koebner phen: Muncul lesi baru yang isomorfik pada tempat yang terkena trauma 7-14 hari setelah trauma 5. Fenomena tetesan lilin PITIRIASSI ROSEA Pitiriasis rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai dengan sebuah lesi inisial berbentuk eritema dan skuama halus kemudian disusul oleh lesi-lesi yang lebih kecil di badan, lengan, paha atas yang tersusun sesuai dengan lipatan kulit dan biasantyaa sembuh sendiri dalam waktu 3-8 minggu. Tetapi ada hipotesis yang mengemukakan bahwa penyebabnya virus, karena penyakit ini merupakan penyakit swasima (self limiting disease) (Djuanda, 2007). Gejala dan Tanda: (Dharmawan, 2010; Vijayabhaskar, 2008) 1. Gejala Prodormal (+) 2. Gatal ringan 3. Diawali lesi inisial (herald patch / medalion): plak eritem 2-5 cm dengan skuama halus di bagian pinggirnya oval, berbatas tegas, lokasi pada badan, leher, atau ekstrimitas proksimal. 4. Erupsi sekunder muncul 2 minggu setelah lesi inisial: berlangsung beberapa hari sampai 10 hari, lokasi di badan, punggung yang disebut christmast tree pattern. 5. Pitriasis rosea atipikal: lesi terdapat di wajah dan di leher, lesi primer mungkin muncul satu-satu / (-) / multiple

LO 3.6 Diagnosis Dermatofitosis Pemeriksaan penunjang pada TINEA: 1.Pemeriksaan Lampu Wood Prinsip: Sinar Wood diarahkan ke lesi akan dipantulkan berdasarkan perbedaan berat molekul metabolit organisme penyebab, sehingga menimbulkan indeks bias berbeda, dan menghasilkan pendaran warna tertentu. Alat : Lampu Wood dan ruangan kedap cahaya Cara : 1. 2. 3. Kulit dan rambut yang akan diperiksa harus dalam keadaan sealamiah mungkin. Obat topikal, bahan kosmetik, lemak, eksudat harus dibersihkan terlebih dahulu karena dapat memberikan hasil positif palsu. Pemeriksaan harus dilakukan di dalam ruangan kedap cahaya agar perbedaan warna lebih kontras.
14

4.Jarak lampu Wood dengan lesi yang akan diperiksa 10-15 cm 5.Lampu Wood diarahkan ke bagian lesi dengan pendaran paling besar/jelas. Interpretasi : Tinea kapitis (M canis, M. audouinii, M.rivalieri, M. distortum, M. ferrugineum dan M. gypseum) : hijau terang. Pitiriasis versikolor : putih kekuningan, orange tembaga, kuning keemasan, atau putih kebiruan (metabolit koproporfirin). Tinea favosa (Trichophyton schoenleinii ) : biru suram / hijau suram (akibat metabolit pteridin) Eritrasma (Corynebacterium minutissimum) : merah koral (metabolit porfirin). Infeksi pseudomonas : hijau (metabolit pioverdin atau fluoresein). Hasil positif palsu : o salep dan krim di kulit atau eksudat : biru - jingga o tetrasiklin, asam salisilat dan petrolatum : kuning. c. Pemeriksaan KOH Cara pengambilan spesimen : a) Kulit tidak berambut : Dari bagian tepi kulit yang mengalami lesi dikerok ke bagian tengah dengan pisau tumpul steril Menggunakan larutan KOH 10%

b) Kulit yang berambut : c) Kuku Potongan bagian belakang kuku terinfeksi atau kerokan daerah hiperkeratotik dan penebalan dasar kuku di bagian proksimal kutikula atau lipatan kuku proksimal Gunakan larutan KOH 40%
15

Rambut yang ada pada daerah lesi dicabut dengan pinset Kulit di daerah lesi dikerok untuk dikumpulkan sisik kulitnya Gunakan KOH 20% untuk rambut, KOH 10% untuk kulit

Teknik pemeriksaan preparat KOH : Interpretasi Dermatofitosis : hifa panjang bersepta, bercabang-cabang dan artrospora Pada spesimen rambut terinfeksi dermatofita : Jamur di sekeliling batang rambut (ektotriks) Jamur di dalam batang rambut (endotriks) Pada pemeriksaan, elemen jamur tampak seperti garis dan memiliki indeks bias berbeda dengan sekitarnya, pada jarak tertentu dipisahkan oleh sekat dan dijumpai butir butir bersambung seperti rantai (artrospora). Pitiriasis versikolor : spora bulat berdinding tebal, berkelompok dengan miselium kasar dan terputus-putus/ pendek-pendek (sphaghetti and meatballs) Kandidosis : tampak sel ragi berbentuk lonjong atau bulat, blastospora (sel ragi bertunas) dan pseudohifa. Teteskan setetes larutan KOH 10-30 % di atas kaca obyek bersih. Tambahkan sejumlah spesimen yang akan diperiksa. Tutup dengan kaca penutup. Panaskan hati-hati dengan melewatkan di atas api bunsen beberapa kali, tetapi jangan sampai mendidih (biasanya 2-4 kali). Tekan kaca penutup perlahan-lahan agar sediaan yang sudah lisis menipis dan rata. Periksa dibawah mikroskop cahaya menggunakan pembesaran 10 kali lalu dikonfirmasi dengan pembesaran 40 kali. Jika diperlukan (preparat belum jernih), dapat dipanaskan kembali sehingga visualisasi menjadi lebih baik

LO3.7 Diagnosis banding Dermatofitosis Dermatitis, biasanya batasnya tidak tegas dan bagian tepi tidak lebih aktif daripada bagian tengah. Adanya vesikel-vesikel steril pada jari-jari dan tangan dapat merupakan reaksi id, yaitu akibat setempat hasil reaksi antigen dengan zat anti pada temapt tersebut.

Hiperhidrosis, terlihat kulit yang mengelupas (maserasi). Bila hanya terlihat vesikelvesikel, biasanya terletak sangat dalam dan terbatas pada telapak kaki dan tangan. Kelainan tidak meluas sampai di sela-sela jari kaki.
16

Akrodermatitis kontinua dan Morbus Andrew, dapat menyerupai tinea pedis dan manum sangat sulit dibedakan dengan dermatofitosis bila berdasarkan pemeriksaan fisik saja dan memerlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Kandidosis, kadang-kadang sangatlah sulit membedakan kandidosis dengan tinea pedis murni. Kandidosis pada daerah lipat paha mempunyai konfigurasi hen and chicken (korimbiformis). Kelainan ini biasanya basah dan berkrusta. Pada wanita, ada atau tidaknya fluor albus dapat membantu pengarahan diagnosis. Pada penderita diabetes mellitus, kandidosis merupakan penyakit yang sering dijumpai. Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH dan pembiakan dapat menolong. Infeksi sekunder dengan spesies Candida atau bakteri lain sering menyertai tinea pedis, sehingga pada kasus-kasus demikian diperlukan interpretasi yang bijaksana terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboratorium. Sifilis stadium II, pada penyakit ini lesi dapat berupa kelainan kulit di telapak tangan dan kaki. Lesi yang merah dan basah dapat merupakan petunjuk. Dalam hal ini tanda-tanda lain sifilis akan terdapat, misalnya kondiloma lata, pembesaran kelenjar getah bening yang menyeluruh, anamnesis tentang afek primer, dan pemeriksaan serologi serta lapangan gelap dapat menolong. Psoriasis, psoriasis yang menyerang kuku pun dapat berakhir dengan kelainan yang sama. Lekukan-lekukan pada kuku (nail pits), yang terlihat pada psoriasis tidak didapati pada tinea unguium. Lesi-lesi psoriasis pada bagian lain badan dapat menolong membedakan dengan tinea unguium. Psoriasis, tempat predileksinya antara lain daerah ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung. Adanya lekukan pada kuku

LO3.8 Penatalaksanaan Dermatofitosis Tujuan pengobatan meliputi: a. Menyembuhkan penyakit, yaitu hilangnya gejala klinis dan pemeriksaan mikologi negatif b. Mencegah perkembangan penyakit menjadi kronis c. Mencegah kekambuhan Strategi pengobatan meliputi: a. Diagnosis yang tepat b. Menghilangkan atau mencegah faktor-faktor predisposisi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kelembaban karena keringat atau lingkungan yang panas, iritasi oleh baju, orang sakit yang berbaring lama, friksi lipatan kulit pada orang gemuk, imunitas rendah, baik karena penyakit (misalnya diabetes melitus) maupun akibat pengobatan misalnya kortikosteroid, sitostatik. c. Penentuan obat dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, daerah yang terkena yakni lokasi dan luas lesi, stadium penyakit (akut, subakut, atau kronis),
17

jamur penyebab, karena adanya perbedaan kepekaan terhadap obat, serta harga sehingga dapat ditentukan apakah akan diberikan obat oral, topikal, atau kombinasi. d. Menghilangkan sumber penularan baik dari manusia, hewan, tanah maupun benda di sekeliling yang mengandung elemen jamur. Spora dermatofit dapat bertahan hidup dalam skuama untuk waktu yang lama. e. Mengoptimalkan kepatuhan pasien,dengan menerangkan perjalanan penyakitnya, pemilihan obat yang tepat yang dapat diterima oleh pasien, dan bila dianggap perlu diterangkan juga tentang biaya pengobatan. f. Mengefektiikan cara penggunaan obat. 1. Bersihkan lesi kulit dengan air dan sabun lunak terutama di daerah berkrusta dan berskuama. Kemudian keringkan. 2. Oleskan obat satu lapis tipis menutupi lesi dan lebih kurang 1 inci ke arah luar lesi. 3. Oleskan obat 2 kali sehari, pagi dan malam hari, kecuali pada beberapajenis obat cukup diberikan sekali sehari.

Obat-obat sistemik dan topikal yang dapat digunakan antara lain: 1. Sistemik 1. Griseofulvin bersifat fungistatik dan bekerja hanya terhadap dermatofit. Dosis 0,5-1 gram untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 gram untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg,i kgBB, dosis tunggal atau terbagi dan absorpsi meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Sediaan microsize 500 mg setara dengan sediaan ultramicrosize 333 mg. Lama pengobatan bergantung pada lokasi, penyebab, dan keadaan imunitas. Obat diberikan sampai gejala klinis membaik, biasanya lebih kurang satu bulan. Efek samping biasanya ringan, misalnya sakit kepala, mual atau diare, dan reaksi fotosensitivitas pada kulit. Kontraindikasi penggunaan griseofulvin adalah kehamilan, hipersensitifterhadap griseofulvin, porfiria, dan kegagalan hepatoselular. Hati-hati bila dimakan bersamaan dengan warfarin dan fenobarbital. 2. Golongan azol Ketokonazol efektif untuk dermatofitosis. Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin, obat tersebut dapat diberikan 200 mg per hari seiama 3-4 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk pasien kelainan hati.

Itrakonazol merupakan derivat triazol yang berspektrum aktivitas in vitro luas dan bersifat fungistatik. Dosis 100 mg per hari selama dua minggu atau 200 mg per hari selama 1 minggu memberi hasil baik pada tinea glabrosa. Hepatotoksisitas jarang terjadi dibandingkan

18

ketokonazol. Itrakonazol digunakan untuk terapi denyut (pulse dose) pada tinea unguium, dengan dosis 400 mg per hari selama seminggu tiap bulan dalam 2-3 bulan. 1. Derivat alilamin Terbinafin digunakan per oral, efektif untuk dermatofitosis, dan bersifat fungisidal tetapi tidak efektif untuk kandida. Dosis dewasa umumnya 250 mgJhari dengan lama pengobatan tergantung padajenis kelainan. Obat ini relatif tidak hepatotoksik, efek samping umumnya berupa gangguan gastrointestinal.

2. Topikal 1. Obat-obat klasik yang telah digunakan sebelum tahun 60-an bersifat keratolitik dan antimikotik lemah, misalnya salap Whitfield, asam salisilat 2-4%, asam benzoat 612%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%, dan zat warna (hijau brilian 1 % dalam cat Castellani), tolnaftat 2%, tolsiklat 1 %, kliokuinol 1 %, dan haloprogin 1 %. Penggunaan obat ini umumnya 2-3 kali per hari selama 5 minggu. 2. Golongan azol Obat golongan ini bersifat fungistatik dan mempunyai spektrum antijamur luas tidak hanya terhadap dermatoflt. Termasuk golongan ini antara lain klotrimazol, mikonazol, oksikonazol, ekonazol, sulkonazol, isokonazol, tiokonazol, bifonazol, dan ketokonazol. 1. Siklopiroksolamin Obat ini merupakan derivat piridon yang mempunyai spektrum antijamur luas. 2. Alilamin Derivat alilamin bersifat fungisidal dengan aktivitas tinggi terhadap dermatofit, tetapi kurang kuat pada kandida. Derivat alilamin yang pertama, naftifin digunakan secara topikal sekali tiap hari. Naftifin ternyata mempunyai efek antiinflamasi selain anti jamur. Derivat berikutnya adalah terbinafin yang mempunyai efek fungisidal lebih besar daripada naftifin sehingga cukup digunakan selama 1 minggu pada tinea glabrosa, tetapi ia tidak mempunyai efek antiinflamasi. Terakhir adalah butenafin suatu derivat benzilamin dengan struktur kimia dan cara kerja seperti golongan alilamin dan efek fungisidal serupa terbinafin. 3. Dianjurkan pula tindakan pemotongan rambut pada tinea kapitis.

Infeksi

Rekomendasi

Alternatif

19

Tinea unguium Terbinafine 250 mg/hr (Onychomycosis) 6 minggu untuk kuku jari tangan, 12 minggu untuk kuku jari kaki

Itraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan atau 400 mg/hr seminggu per bulan selama 3-4 bulan berturut-turut. Fluconazole 150-300 mg/ mgg s.d sembuh (612 bln) Griseofulvin 500-1000 mg/hr s.d sembuh (12-18 bulan)

Tinea capitis

Griseofulvin Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg 500mg/day Itraconazole 100 mg/hr/4mgg ( 10mg/kgBB/hari) Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg sampai sembuh (6-8 minggu) Griseofulvin 500 mg/hr sampai sembuh (4-6 minggu), sering dikombinasikan dengan imidazol. Terbinafine 250 mg/hrselama 2-4 mingguItraconazole 100 mg/hrselama 15 hratau 200mg/hrselama 1 mgg. Fluconazole 150-300 mg/mggu selama 4 mgg.

Tinea corporis

Tinea cruris

Griseofulvin 500 Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg mg/hr sampai sembuh Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200 mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300 (4-6 minggu) mg/hr selama 4 mgg. Griseofulvin Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg 500mg/hr sampai Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau sembuh (4-6 minggu) 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150300 mg/mgg selama 4 mgg. 250 Itraconazole 200 mg/hrselama 4-6 mgg. 4-6 Griseofulvin 500-1000 mg/hr sampai sembuh (3-6 bulan).

Tinea pedis

Chronic and/or Terbinafine widespread mg/hrselama non-responsive minggu tinea.

Tabel 2.3 Pilihan terapi oral untuk infeksi jamur pada kulit

LO3.9 Komplikasi Dermatofitosis 1. Selulitis.

Infeksi tinea pedis, terutama tipe interdigital dapat mengakibatkan selulitis. Selulitis dapat terjadi pada daerah ektermitas bawah. Selulitis merupakan infeksi bakteri pada daerah subkutaneus pada kulit sebagai akibat dari infeksi sekunder pada luka. Faktor predisposisi selulitis adalah trauma, ulserasi dan penyakit pembuluh darah perifer. Dalam keadaan lembab, kulit akan mudah terjadi maserasi dan fissura, akibatnya pertahanan kulit menjadi menurun dan menjadi tempat masuknya bakteri pathogen seperti -hemolytic streptococci (group A, B C, F, and G), Staphylcoccus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan basil gram negatif. Apabila telah terjadi selulitis maka
20

diindikasikan pemberian antibiotik. Jika terjadi gejala yang sifatnya sistemik seperti demam dan menggigil, maka digunakan antibiotik secara intravena. Antibiotik yang dapat digunakan berupa ampisillin, golongan beta laktam ataupun golongan kuinolon. 2. Tinea Ungium. Tinea ungium merupakan infeksi jamur yang menyerang kuku dan biasanya dihubungkan dengan tinea pedis. Seperti infeksi pada tinea pedis, T. rubrum merupakan jamur penyebab tinea ungium. Kuku biasanya tampak menebal, pecah-pecah, dan tidak berwarna yang merupakan dampak dari infeksi jamur tersebut. 3. Dermatofid. Dermatofid juga dikenal sebagai reaksi id, merupakan suatu penyakit imunologik sekunder tinea pedis dan juga penyakit tinea lainnya. Hal ini dapat menyebabkan vesikel atau erupsi pustular di daerah infeksi sekitar palmaris dan jari-jari tangan. Reaksi dermatofid bisa saja timbul asimptomatis dari infeksi tinea pedis. Reaksi ini akan berkurang setelah penggunaan terapi antifungal. Komplikasi ini biasanya terkena pada pasien dengan edema kronik, imunosupresi, hemiplegia dan paraplegia, dan juga diabetes. Tanpa perawatan profilaksis penyakit ini dapat kambuh kembali.

LO 3.10 Prognosis Dermatofitosis umumnya memiliki prognosis yang baik. Beberapa minggu setelah pengobatan dapat menyembuhkan baik akut maupun kronik. Kasus yang lebih berat dapat diobati dengan pengobatan oral. Walaupun dengan pengobatan yang baik, tetapi bila tidak dilakukan pencegahan maka pasien dapat terkena reinfeksi.

LO 3.11 Pencegahan Dermatofitosis Pencegahan yang dapat dilakukan adalah sanitasi kesehatan, lingkungan maupun hewannya. Terdapat kelompok macam obat dengan berbagai cara dapat dipakai untuk menghilangkan dermatofit, yaitu: 1. Iritan, dilakukan untuk membuat reaksi radang sehingga tidak terjadi infeksi dermatofit 2. Keratolitik, digunakan untuk menghilangkan dermatofit yang hidup pada stratum korneum 3. Fungisidal, secara langsung merusak dan membunuh dermatofit 4. Perubah. Merubah dari stadium aktif menjadi tidak aktif pada rambut. Salah satu cara yang efektif untuk penanggulangan adalah mencegah penyebaran sehingga tidak terjadi endemik, peningkatkan masalah kebersihan, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan.
21

Hewan kesayangan harus terawat dengan cara memandikan secara teratur, pemberian makanan yang sehat dan bergizi sangat diperlukan untuk anjing dan kucing. Vaksinasi adalah pencegahan yang baik. Di Indonesia pemakaian vaksin dermatofit belum dilaksanakan. Pengobatan dapat dilakukan secara sistemik dan topikal. Secara sistemik dengan preparat Griseofulvin, Natamycin, dan azole peroral maupun intravena dengan cara topikal menggunakan fungisida topikal dengan berulang kali, setelah itu kulit hewan penderita tersebut disikat sampai keraknya bersih; setelah itu dioles atau digosok pada tempat yang terinfeksi. Selain itu, dapat pula dengan obat tradisional seperti daun ketepeng (Cassia alata), Euphorbia prostate dan E. thyophylia (Ahmad., R.Z. 2009).

LI 4. Memahami dan mengetahui tentang Menjaga dan memelihara kesehatan kulit menurut Islam Kulit merupakan sesuatu yang penting baik bagi wanita dan pria dalam penampilan. Islam memberikan cara yang mudah dalam merawat kulit dan wajah agar tetap bersih, berseri dan indah dipandang. Kulit terdiri dari beberapa lapisan yang kalau dilihat dalam potongan melintang terdiri dari pembuluh darah, syaraf. Kulit juga menerima rangsangan berupa nyeri, panas, debu, dan banyak paparan. Setiap hari kita tidak mungkin menghindari paparan tersebut biarpun dalam ruangan steril. Karena kuman, polusi, debu dan bakteri, virus terus berterbangan kemana-mana. Nabi Muhammad selalu dalam keadaan suci karena selalu berwudhu. Berwudhu dapat menjaga kulit kita, rongga hidung, mata, telinga, tangan, rambut, kaki yang terbuka dan sering terkena paparan dapat dibersihkan dengan air yang merupakan pembersih dan juga dapat menjaga kulit tetap bersih dan bisa menghindari dari penyakit kulit, sakit mata, sakit telinga, ketombe, jerawat karena paparan jika mengenai kulit akan langsung dibersihkan dengan air wudhu. Jika demikian jika anda ingin tetap kulit anda tetap lembut, bersih, dan jauh dari penyakit-penyakit kulit dan lainnya, banyaklah berwudhu. Karena selain anda mendapatkan kesucian anda juga mendapatkan kesehatan.

ASAS AURAT

Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita. Aurat asas pada lelaki adalah menutup antara pusat dan lutut. Sedangakan aurat wanita adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Aurat lelaki bila sedang bersama siapa saja batas auratnya tetap sama yaitu antara pusat dan lutut. Tetapi bagi wanita terdapat perbedaan dalam beberapa keadaan diantaranya: 1. Aurat Ketika Sembahyang Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. 2. Aurat Ketika Sendirian Aurat wanita ketika mereka sendirian adalah bagian anggota pusat dan lutut. Yang artinya bagian tubuh yang tidak boleh dilihat adalah antara pusat dan lutut.
22

3. Aurat Ketika Bersama Mahram Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah antara pusat dan lutut. Walau begitu wanita dituntut agar tetap menutup auratnya agar terhindar dari syahwat lelaki walaupun mahramnya sendiri. Syarat seorang mahram bagi seorang perempuan yaitu: 1. Suami 2. Ayah, termasuk kakek dari pihak ibu maupun ayah. 3. Ayah mertua 4. Anak-anak lelaki termasuk cucu aki-laki atau perempuan. 5. Anak-anak suami 6. 7. 8. 9. Saudara laki-laki kandung atau seibu atau seayah Anak saudara lelaki kerana mereka ini tidak boleh dinikahi selama-lamanya Anak saudara dari saudara perempuan Sesama wanita sama ada kaitan keturunan atau seagama

10. Hamba sahaya 11. Pelayan yang tidak ada nafsu syahwat 12. Anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap wanita. Walaupun begitu, bagi kanak-kanak yang telah mempunyai syahwat tetapi belum baligh, wanita dilarang menampakkan aurat terhadap mereka.

23

DAFTAR PUSTAKA

Azman. 2006.Psoriasis Dewasa. www.infosihat.gov.my/penyakit/Pemakanan/Psoriasis.pdf. Tanggal diakses: 12 November 2010 Bahri, bahroelim, dan R. Setyabudi. 2005. Obat Jamur dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta: FK UI. Boel, trelia, Drg., M.Kes. 2003. Mikosis Superfisial. http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkgtrelia1.pdf Tanggal diakses: 12 November 2010 Brooks, Geo F. ; Janet S. Butel dan Stephen A. Morse. 2004. Mikobiologi Kedokteran Jawetz, melnick, & Adelberg, Ed.23. Jakarta :EGC Budimulja, Unandar. 2008. Eritrasma dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FK UI. 2007. Morfologi dan Cara Membuat Diagnosis.Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI. Chamlan, Francesca, Michael A.Lowes, dkk. 2004. Alefacept Reduces infiltrating T cells, activated dendritic cells, and inflammatory genes in psoriasis vulgaris. New York: Rokefeller University Dharmawan, Nugrohoaji. 2010. Dermatosis Eritroskuamosa. Slide Kuliah Blok Kulit. Surakarta: FK UNS Djuanda, Adhi. 2007. Dermatosis Eritroskuamosa dalam Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin. Jakarta: FK UI. Djuanda, Adhi. dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 5th ed. Jakarta: FK UI Dorland W. A. Newman.2006.Kamus Kedokteran Dorland.Edisi XXIX.Jakarta:EGC Gandahusada, Srisasi; Herry D. Illahude, dan Wita Pribadi. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta :Balai Penerbit FK UI Junqueira L.C. dan Carneiro J. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas 10th ed. Jakarta: EGC Kuswadji. 2007. Kandidosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin. Jakarta: FK UI Murphy, George F; editor, Vinay Kumar, Ramzi S. Cotran, Stanley L Robbins; alih bahasa, Brahm U. Pendit. 2007. Kulit. Dalam Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7. Jakarta: EGC. Nadalo, dana dan Cathy monthoya. 2006. What is the Best Way to Treat Tinea cruris?. Http://web.ebscohost.com. Tanggal diakses: 12 November 2010 Price S.A. dan Wilson L.M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit 6th ed. Jakarta: EGC Soepardiman, Lily. 2007. Pitiriasis Alba dalam Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin. Jakarta: FK UI
24

Vijayabhaskar, C. 2008. Pityriasis Rosea dalam e-Journal of the Indian Society of Teledermatology. India: Channey Wiederkehr, Michael dan Robert Schwartz. 2009. Tinea Cruris. Http://emedicine.medscape.com. Tanggal diakses: 12 November 2010

25