Anda di halaman 1dari 18

Anatomi Saluran Pernapasan Bawah Saluran pernapasan bagian bawah (tracheobronchial tree) terdiri atas: 1) Saluran Udara Konduktif

a) Trakhea Trakhea merupakan perpanjangan dari laring pada ketinggian tulang vertebra torakal ke-7 yang bercabang menjadi 2 bronkhus. Ujung cabang trachea disebut carina. Trachea bersifat sangat fleksibel, berotot, dan memiliki panjang 12 cm dengan cicin kartilago berbentuk huruf C. pada cincin tersebut terdapat epitel bersilia tegak (pseudostratified ciliated columnar epithelium) yang mengandung banyak sel goblet yang mensekresikan lendir (mucus) (Irman Soemantri, 2008: 7). b) Bronkhus dan bronkhiolus Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan kelanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V. Bronkus itu berjalan kebawah dan kesamping kearah tampak paruparu. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 68 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 912 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabangcabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli tak terdapat cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru/gelembung hawa atau alveoli (Syaifuddin, 2006: 195). Bronkhus disusun oleh jaringan kartilago. sedangkan bronkhiolus, yang berakhir di alveoli, tidak mengandung kartilago. Tidak adanya kartilago menyebabkan bronkhiolus mampu menangkap udara, namun juga dapat mengalami kolaps. Agar tidak kolaps, alveoli dilengkapi dengan porus/ lubang kecil yang teletak antar alveoli yang berfungsi mencegah kolaps alveoli (Irman Soemantri, 2008: 7-8). 2) Saluran Respiratorius Terminal a) Alveoli Parenkim paruparu merupakan area yang aktif bekerja dari jaringan paruparu. perenkim itu mengandung berjutajuta unit alveolus. Alveoli merupakan kantong udara yang berukuran sangat kecil, dan merupakan akhir dari bronkhiolus respiratorius sehingga memungkinkan pertukaran O2 dan CO2. Seluruh dari unit alveoli (zona respirasi) terdiri atas bronkhiolus respiratorius, duktus alveolus, dan alveolar sacs (kantong alveolus). Fungsi utama dari unit alveolus adalah pertukaran O2 dan CO2 di antara kapiler pulmoner dan alveoli. Diperkirakan terdapat 24 juta alveoli pada bayi yang baru lahir. Seiring dengan pertumbuhan usia, jumlah alveoli pun bertambah dan akan mencapai jumlah yang sama dengan orang dewasa pada usia 8 tahun, yakni 300 juta alveoli. Setiap unit alveoli menyuplai 911 prepulmonari dan pulmonari kapiler (Irman Soemantri, 2008: 8). b) Sirkulasi Pulmonal

Suplai darah ke dalam paruparu merupakan sesuatu yang unik. Paruparu mempunyai dua sumber suplai darah yaitu arteri bronkhialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronkhial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru paru. Arteri bronkhialis berasal dari aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkhus. Vena bronkhialis akan mengalirkan darah menuju vena pulmonalis. Arteri pulmonalis berasal dari ventrikel kanan yang mengalirkan darah vena ke paruparu di mana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas. Jalinan kapiler paru-paru yang halus mengintari dan menutupi alveolus merupakan kontak yang diperlukan untuk pertukaran gas antara alveolus dan darah (Irman Soemantri, 2008: 10). c) Paruparu Paruparu merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa, alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri dari selsel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m. Pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paruparu kiri dan kanan). Paruparu di bagi dua : (1) Paruparu kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus inferior. (2) Paruparu kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferior. Diantara lobus satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh darah getah bening dan saraf, dalam tiaptiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Didalam lobulus, bronkiolus ini bercabangcabang banyak sekali, cabangcabang ini di sebut duktus alveolus. Letak paruparu di rongga dada datarannya menghadap ketengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paruparu atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paruparu di bungkus oleh selaput yang dinamakan pleura (Syaifuddin, 2006: 196)

Paru-paru dibungkus oleh pleura. Pleura ada yang menempel langsung ke paru, disebut sebagai pleura visceral. Sedangkan pleura parietal menempel pada dinding rongga dada dalam. Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan dengan dinding dada.

Rongga dada diperkuat oleh tulang-tulang yang membentuk rangka dada. Rangka dada ini terdiri dari costae (iga-iga), sternum (tulang dada) tempat sebagian iga-iga menempel di depan, dan vertebra torakal (tulang belakang) tempat menempelnya iga-iga di bagian belakang.

Terdapat otot-otot yang menempel pada rangka dada yang berfungsi penting sebagai otot pernafasan. Otot-otot yang berfungsi dalam bernafas adalah sebagai berikut :

1.

interkostalis eksterrnus (antar iga luar) yang mengangkat masing-masing iga. 2.

sternokleidomastoid yang mengangkat sternum (tulang dada). 3.

skalenus yang mengangkat 2 iga teratas. 4.

interkostalis internus (antar iga dalam) yang menurunkan iga-iga. 5.

otot perut yang menarik iga ke bawah sekaligus membuat isi perut mendorong diafragma ke atas. 6.

otot dalam diafragma yang dapat menurunkan diafragma.

Percabangan saluran nafas dimulai dari trakea yang bercabang menjadi bronkus kanan dan kiri. Masingmasing bronkus terus bercabang sampai dengan 20-25 kali sebelum sampai ke alveoli. Sampai dengan percabangan bronkus terakhir sebelum bronkiolus, bronkus dilapisi oleh cincin tulang rawan untuk menjaga agar saluran nafas tidak kolaps atau kempis sehingga aliran udara lancar. Bagian terakhir dari perjalanan udara adalah di alveoli. Di sini terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dari pembuluh darah kapiler dengan udara. Terdapat sekitar 300 juta alveoli di kedua paru dengan diameter masing-masing rata-rata 0,2 milime

1. Bonkus Terdapat beberapa divisi bronkus di dalam setiap lobus paru. Pertama adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri). Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus segmental (10 pada paru kanan dan 8 pada paru kiri), yang merupakan struktur yang dicari ketika memilih posisi drainase postural yang paling efektif untuk klien tertentu. Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsegmental. Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limpatik dan saraf. Bronkus segmental kemudian akan membentuk percabangan menjadi bronkhiolus, yang tidak mempunyai kartilago didalam dindingnya. Patensi elastik otot polos sekelilingnya dan pada tekanan alveolar. Bronkhiolus mengandung kelenjar sub mukosa, yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk laposan bagian dalam jalan nafas. Bronkus dan bronkhiolus juga dilapisi oleh sel-sel yang permukaanya dilapisi oleh rambut pendek yang disebut sillia. Silia ini menciptakan gerakan menyapu yang konstan yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing menjauhi paru menuju laring.

2. Bronkhiolus Bronkhiolus membentuk percabangan menjadi brokiolus terminalis, yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkhiolus terminalis ini kemudian menjadi bronkhiolus respiratori, yang dianggap menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas. Sampai titik ini, jalan udara konduksi mengandung sekitar 150 ml udara dalam percabangan trakeobronkial yang tidak ikut serta dalam pertukaran gas. Ini di kenal sebagai ruang rugi fisiologik. Bronkhiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar kemudian alveoli. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi dalam alveoli.

3. Alveolus Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam klaster antara 15-20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar, akan menutup area 70 meter persegi. Terdapat tiga jenis sel-sel alveolar. Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfaktan, suatu fosfolid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps. Sel alveoli tipe III adalah makrofag yang merupakan sel-sel Fagositis yang besar yang memakan benda asing (lendir, bakteri dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan yang penting).

PERSARAFAN BRONKUS Persarafan para simpatis disalurkan ke otot polos bronkus melalui saraf vagus dan menyebabkn kontraksi atau penyempitan jalan nafas,sehingga terjadi peningkatan resistensi dan pengurangan aliran udara. Persarafan simpatis oto polos bronkus terjadi melalui serat-serat saraf dari ganglion servikalis dan torakalis bagian atas dan menyebabkanrelaksasi atau dilatsi bronkus.Hal ini menurunkan resistensi dan meningkatkn aliran udara. KONTROL SARAF ATAS RESPIRASI Ventilasi dikontrol oleh pusat pernapasan dibatang otak bagian bawah didaerah medula dan pons.Dimedula,terdapat neuron-neuron inspirasi dan ekspirasi yang melepaskan muatan pada waktuwaktu yang berbeda dalam suatu pola kecepatan dan irama yang telah ditentukan sebelumnya.Neuronneuron respirasi menjalankan respirasi dengan merangsang neuron-neuron motorik yang mempersarafi diafragma dan otot-otot antar iga. NEURON MOTORIK YANG MENJALANKAN RESPIRASI Neuron motorik utama yang mengontrol otot pernapasan adalah saraf frenikus.Apabila diaktifkan oleh neuron-neuron inspirasi pusat,maka saraf frenikus menyebabkan dada mengembang dan udara mulai mengalir dari atmosfir ke dalam paru.Hal ini disebut inspirasi.Seiring dengan berlanjutnya inspirasi,maka pelepasan muatan neuron-neuon inspirasi sentral melambat dan pelepasan muatan

neuron-neuron ekpirasi melambat,sehingga aktivitas neuron motorik berhenti dan terjadi relaksasi diafragma dan otot antar iga.Dada kembali mengempis dan udara mengalir keluar paru.Aliran udara keluar dari paru adalah ekspirasi. KEMORESEPTOR SENTRAL Kemoreseptor sentral di otak berespons terhadap perubahan-perubahan konsentrasi ion hidrogen didalam cairan cerebrospinalis.Peningkatan konsentrasi ion hidrogen meningkatkan kecepatan pelepasan muatan kemoreseptor.Sebaliknya,penurunan konsentrasi ion hidrogen menurunkan kecepatan pelepasan muatan kemoreseptor.Informasi dari kemoreseptor sentral disalurkan kepusat pernapasan diotak yang,sebagai responya,meningkatkan atau menurunkan kecepatan pernapasan.Konsentrasi ion hidrogen biasanya mencerminkan konsentrasi karbon dioksida.Dengan demikian,sewaktu kadar karbon dioksida meningkat,kadar ion hidrogen meningkat,dan kecepatan pelepasan muatan neuron-neuron inspirasi berkurang.

KEMORESEPTOR PERIFER Kemoreseptor perifer terdapat diarteri karotis dan aorta dan memantau konsentrasi oksigen didalam darah arteri.Reseptor-reseptor ini,yang disebut badankarotis dan aorta,mengirim impuls mereka kepusat pernapasan dimedula dan pons terutama untuk meningkatkan kecepatanventilasi sewaktu kadar oksigen rendah.Kemoreseptor ini kurang sensitiv daripada kemoreseptor sentral.

A. Definisi

Bronchogenic kista. Anteroposterior melihat pada konvensi ... Tampilan anteroposterior pada radiograf konvensional menunjukkan massa di paru-jendela aorto. Bronchogenic Cyst ( Kista Bronchogenic ) adalah lesi kongenital asal berasal dari foregut primitive dan kista umum utama sebagian besar mediastinum. Bronchogenic Kista adalah lesi kongenital diduga hasil dari tunas abnormal dari foregut ventral yang terjadi antara 26 dan 40 hari umur kehamilan. Tunas abnormal ini kemudian membedakan ke dalam kantong, berisi cairan buta-berakhir. Kebanyakan kista terletak di mediastinum, dekat carina trakea. kista Bronchogenic adalah hasil pembangunan anomali dari perut foregut, mereka biasanya tunggal tetapi mungkin banyak dan bisa diisi dengan cairan atau lendir. Mereka telah ditemukan sepanjang kursus trakeoesofagus, di situs perihilar atau intraparenchymal, dengan kesukaan untuk daerah di sekitar carina tersebut Paling sering unilocular, mereka berisi cairan bening atau, kurang umum, sekresi perdarahan atau udara. Mereka dibatasi oleh epitel silia kolumnar, dan dinding-dinding mereka sering mengandung tulang dan kelenjar mukosa bronkial. Hal ini tidak biasa bagi mereka untuk memiliki paten koneksi dengan saluran pernafasan, tapi ketika hadir, seperti komunikasi mungkin mempromosikan infeksi kista

dengan membiarkan masuk bakteri.

Menurut literatur, intrapulmonary kista lebih sering terjadi di lobus bawah. Tapi dalam seri kami, 4 dari 6 kista intrapulmonary berada di lobus atas. Mereka dapat terjadi pada lokasi atipikal banyak, mulai dari leher ke dura mater spinalis, di bawah diafragma. Bronchogenic kista muncul sebagai massa bulat atau oval dengan garis halus dan biasanya unilocular dan noncalcified.

Pada bayi dan anak-anak kecil, kista ini dapat mengancam kehidupan ketika mereka menekan struktur vital. Pada bayi, presentasi awal mungkin gangguan pernapasan. Lebih dari setengah pasien asimtomatik.

B.

Etiology

Penyebab masih belum diketaghui secara jelas. Namun ada factor-faktor pendukung yang menyebabkan munculnya cysta bronkogenik antara lain sebagai berikut : Akibat benturan pada darah thorak

Pengosumsian bahan-bahan kimia yang memicu terbentuknya kanker (kista dapat didefinisikan sebagai awal mula terbentuknya kanker), missal : asbes, nikotin dll Infeksi dari penyakit lain terutama pada system pernafasan

C. Patofisiology

Infeksi dari penyakit saluran pernafasan

Terpapar zat karsinogenik

Tumbuh jaringan abnormal pada bronkus

kompresi pd sal. Cerna

kompresi pd sal. Nafas

kompresi pd jantung

obstruksi sal. Cerna

obstruksi sal. nafas

curah jantung

disfagia

pola nafas inadekuat

G. pertukaran gas

G. perfusi jaringan

nafsu makan G3 Nutrisi

kelemahan

G. mobilitas

D. Manifestasi Klinis

Kista bronchogenic tidak menunjukkan gejala dan temuan insidental pada radiografi, kista kebanyakan gejala-dan komplikasi lebih sering terjadi pada pasien simtomatik. Yang paling sering adalah gejala batuk, demam, sakit, dan dyspnea. Kompresi Tracheobronchial dan infeksi paru dapat terjadi pada anakanak karena tracheobronchial pohon lunak relatif. Pada seri kami, 81% dari pasien menunjukkan gejala. kista bronchogenic biasanya bermanifestasi sebagai massa bola baik air atau jaringan lunak redaman.

E. *

Pemeriksaan Penunjang Radiografi Dada : Untuk mengetahui udara atau cairan yang ada di dalamnya.

* CT Scan : Kista muncul sebagai lesi dengan batas-batas halus dan dinding tipis dan mungkin berisi sekret, nanah, atau darah. * * * * Computed tomography : Untuk menunjukan ukuran dan posisi Bronchogenic Cyst. Biobsi Jaringan Ultrasonograpic MRI

* Esophagography: barium A menelan membantu untuk menentukan massa dan efeknya pada struktur berdekatan.

F.

Penatalaksanaan

Pengobatan Perawatan Bedah Kista Bronkogenik : Bedah spesimen kista bronchogenic dipotong mengungkapkan lesi kistik dilapisi oleh epitel pernafasan. * Bedah reseksi dari semua gejala kista bronchogenic dianjurkan.

* Pada bayi yang baru lahir dengan kista bronchogenic asimtomatik, intervensi bedah dianjurkan pada usia 3-6 bulan, yang memungkinkan untuk pertumbuhan paru-paru kompensasi. * Reseksi Thoracoscopic memiliki keunggulan utama yang termasuk rasa sakit kurang, cosmesis lebih baik, dan penurunan risiko peleburan tulang rusuk. * Konsultasi pra operasi anestesi dianjurkan, terutama pada bayi, karena perhatian dengan kompromi

jalan napas dan pemantauan. G. Komplikasi * Efek massa

o Kompresi pada saluran pencernaan bisa menyebabkan disfagia. o Kompresi jalan nafas, terutama jika kista hanya di bawah carina, dapat mengakibatkan gangguan pernapasan yang mengancam jiwa. o Kompresi jantung dan pembuluh darah besar dapat menyebabkan disritmia dan penyumbatan v. kava. * Kista yang berhubungan dengan komplikasi: Infeksi, pecah, perdarahan, dan kompresi yang umum. Sebuah risiko degenerasi ganas juga dicatat. * Lain: komplikasi melaporkan lainnya termasuk saluran napas-kista fistula, ulkus, dan perdarahan.

H. Asuhan Keperawatan * Diagnosa Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan 1

3 4

Pola nafas tidak adekuat berhubungan dengan obstruksi jalan nafas

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplay oksigen kurang dari kebutuhan Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung Gangguan mobilitas berhubungan dengan kelemahan pasien akibat tidak terpenuhinya nutrisi dan oksigen jaringan

Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obstruksi saluran cerna.

* 1.

Asuhan Keperawatan Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplay oksigen kurang dari kebutuhan

Tujuan : : Pertukaran gas efektif. Kriteria hasil : Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab Intervensi

Rasional 1. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. 2. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. 3. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

4. 5.

Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. Pemberian antibiotika. Pemeriksaan sputum dan kultur sputum. Konsul photo toraks.

1. Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit 2. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. 3. Untuk dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. 4. 5. Untuk dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Untuk kolaborasi mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya

2. Gangguan mobilitas berhubungan dengan kelemahan pasien akibat tidak terpenuhinya nutrisi dan oksigen jaringan

Tujuan

: Pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari optimal.

Kriteria Hasil : Kebutuhan personal terpenuhi Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh. Intervensi

Rasional 1. 2. 3. Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan. Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.

1. 2. 3.

untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi. Agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest. Untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.

3. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obstruksi saluran cerna. Tujuan ; Kebutuhan nutrisi adekuat Status nutrisi baik Kriteria hasil : Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori Menu makanan yang disajikan habis. BB normal Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema

Intervensi

Rasional 1. Kaji nutrisi Px. 2. Anjurkan Px makan sedikit tapi sering.

3. Timbang BB tiap 2 hari

4. Ciptakan lingkungan dan suasana yang nyaman. 5. Kolaborasi dalam pemberian Vitamin

1. Untuk mengetahui intake dan output nutrisi Px. 2. Untuk mempertahankan intake nutrisi px dan mengurangi mual. 3. Untuk mengetahui penambahan dan pengurangan BB pasien. 4. Lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan nafsu makan Px. 5. Vitamin Untuk menambah nafsu makan pasien

Trakea Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pita seperti huruf C yang di bentuk oleh tulangtulang rawan yang di sempurnakan oleh selaput. Trakea terletak di antara vertebrata servikalis ke-6 sampai ke tepi bawah kartilago.Trakea mempunyai dinding fibroelastis yang panjang nya sekitar 13 cm, berdiameter 2,5 cm dan dilapisi oleh otot polos. Diameter trakea tidak sama pada seluruh bagian, pada daerah servikal agak sempit, bagian pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil lagi dekat percabangan bronkus. Bagian dalam trakea terdapat sel-sel bersilia untuk mengeluarkan benda asing yang masuk. Bagian dalam trakea terdapat septum yang disebut karina yang terletak agak ke kiri dari bidang median.

1.2 Bronkus Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan trakea yang terdapat ketinggian vertebrata torakalis ke-4 dan ke-5. Bronkus memiliki struktur yang sama dengan trakea, yang dilapisi oleh sejenis sel yang sama dengan trakea yang berjalan ke bawah menuju tampuk paru-paru. Bronkus terbagi menjadi dua cabang :

a. Bronkus prinsipalis dekstra. Panjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru-paru kanan dan mempercabangkan bronkus lobularis superior. Pada masuk ke hilus, bronkus prinsipalis dekstra bercabang tiga menjadi bronkus lobularis medius, bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior.

b. Bronkus prinsipalis sinistra.

Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal disbanding bronkus kanan, panjangnya sekitar 5 cm berjalan ke bawah aorta dan di depan esophagus, masuk ke hilus pulmonalis kiri dan bercabang menjadi dua, yaitu bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior. Dari tiap-tiap bronkiolus masuk ke dalam lobus dan bercabang lebih banyakdengan diameter kira-kira 0,5 mm. bronkus yang terakhir membangkitkan pernapasan dan melepaskan udara ke permukaan pernapasan di paru-paru. Pernapasan bronkiolus membuka dengan cara memperluas ruangan pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran udara antara oksigen dengan karbondioksida.

1.3 Paru-paru Paru-paru adalah salah satu organ system pernapasan yang berada di dalam kantong yang di bentuk oleh pleura parietalis dan viseralis. Kedua paru sangat lunak, elastic dan berada dalam rongga torak, sifatnya ringan dan terapung di air. Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok ke atas mencapai bagian atas iga pertama. Paru-paru kiri : Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura obliges. Fisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi dua lobus, yaitu : a. lobus superior, bagian yang terletak di atas dan di depan fisura. b. lobus inferior, bagian paru-paru yang terletak di belakang dan di bawah fisura. Paru-paru kanan : Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura, yaitu : fisura oblique (interlobularis primer) dan fisura transversal (interlobularis sekunder). Kedua fisura ini membagi paru-paru kanan menjadi tiga lobus, lobius atas, lobus tengah dan lobus bawah.

1.4 Pleura Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus membentuk suatu kantong tempat paru-paru berada yang jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan. Pleura mempunyai dua lapisan, parietalis dan viseralis. a). lapisan permukaan disebut permukaan parietalis, lapisan ini langsung berhubungan dengan paruparu serta memasuki fisura dan memisahkan lobus-lobus dari paru-paru.

b). lapisan dalam disebut pleura viseralis, lapisan ini berhubungan denganfasia endotorakika dan merupakan permukaan dalam dari dinding toraks. Sinus pleura : Tidak seluruh kantong yang dibentuk oleh lapisan pleura diisi secara sempurna oleh paru-paru, baik kearah bawah maupun ke arah depan. Kavum pleura dibentuk oleh lapisan pleura parietalis saja, rongga ini disebut sinus pleura. Pada waktu inspirasi, bagian paru-paru memasuki sinus dan pada waktu ekspirasi ditarik kembali dari rongga tersebut.

2 Fungsi respirasi Proses fisiologi pernapasan dimana O2 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan dan CO2 dikeluarkan ke udara ekspirasi, dapat terbagi menjadi 3 stadium. 1. Ventilasi 2. Difusi 3. Transportasi