Anda di halaman 1dari 20

RINITIS VASOMOTOR Fatin Aina Binti Mohamad Asri Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana l!Ar"una Utara no #!

akarta Barat $$%$& 'mail( )))!ukrida!ac!id ABSTRAK Rinitis vasomotor merupakan suatu kelainan neurovaskular pembuluh-pembuluh darah pada mukosa hidung, terutama melibatkan sistem saraf parasimpatis. Tidak dijumpai alergen terhadap antibodi spesifik seperti yang dijumpai pada rinitis alergi. Keadaan ini merupakan refleks hipersensitivitas mukosa hidung yang non spesifik. Serangan dapat muncul akibat pengaruh beberapa faktor pemicu. danya paparan terhadap suatu iritan yang memicu ketidakseimbangan sistem saraf otonom dalam mengontrol pembuluh darah dan kelenjar pada mukosa hidung menyebabkan vasodilatasi dan edema pembuluh darah mukosa hidung sehingga hidung tersumbat dan rinore. !ni disebut juga sebagai rinitis non-alergi " nonallergic rhinitis # yang merupakan respon non spesifik terhadap perubahan perubahan lingkungannya, berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan respon terhadap protein spesifik pada $at allergen nya. %amun tidak berhubungan dengan reaksi inflamasi yang diperantarai oleh !g& "!g&-mediated hypersensitivity#. *'N+A,U-UAN 'angguan vasomotor hidung adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah gangguan pada mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik. Kelainan ini merupakan keadaan yang non-infektif dan non-alergi. Rinitis vasomotor disebut juga dengan vasomotor catarrh, vasomotor rinorrhea, nasal vasomotor instability, non spesific allergic rhinitis, non - !g & mediated rhinitis atau intrinsic rhinitis. (,)-* (

Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi sehingga sulit untuk dibedakan. +ada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, ingus yang banyak dan encer serta bersin-bersin ,alaupun jarang. &tiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. -iagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis yang cermat, pemeriksaan telinga hidung tenggorok "T.T# serta beberapa pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan jenis rinitis lainnya.(,/ +enatalaksanaan rinitis vasomotor bergantung pada berat ringannya gejala dan dapat dibagi atas tindakan konservatif dan operatif. ANAMN'SIS -alam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.0 1iasanya penderita tidak mempunyai ri,ayat alergi dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia de,asa. 1eberapa pasien hanya mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan $at iritan tertentu tetapi tidak mempunyai keluhan apabila tidak terpapar. namnesis bisa dimulai dengan menanyakan hal-hal berikut2# 3enanyakan identitas pasien. 1# 3enanyakan keluhan utama pasien bertemu dokter. 4# 3enanyakan keluhan-keluhan berkaitan yang dialami pasien seperti2 Sekret (. pakah dari satu sisi atau keduanya5 0. 6amanya5 Terus menerus atau intermiten, dan bagaimana terjadinya5 7sia saat a,itan5 8. pakah encer atau kental5 +urulen atau berdarah5 9. pakah ada hubungannya dengan perubahan lingkungan atau musim5

,idun. tersum/at (. pakah satu sisi atau keduanya5 0. 6amanya5 Terus menerus atau intermitten, dan bagaimana terjadinya57sia saat a,itan5 8. dakah ri,ayat trauma5 9. dakah ri,ayat operasi hidung atau operasi T.T lainnya5 ). dakah ri,ayat gangguan alergi terutama yang berkaitan dengan perubahan musim5 1ila ya, maka diperlukan ri,ayat alergi yang lengkap. /. pakah pasien menggunakan semprotan hidung atau obat-obatan5 *erdarahan (. 1erapa lama5 :rekuensi5 Kapan serangan yang terakhir5 0. pakah perdarahan unilateral atau bilateral5 8. pakah perdarahan berasal dari nares anterior, posterior atau keduannya5 9. pakah pasien mempunyai kecenderungan berdarah5 ). dakah ri,ayat trauma5 /. pakah hanya terjadi pada musim dingin5 *. pakah pasien menggunakan sesuatu pengobatan5 ;. pakah ada hipertensi5 Kehilan.an atau 0eru/ahan dalam men.hidu 1Anosmia2 (. pakah berkaitan dengan trauma, infeksi saluran napas bagian atas, atau penyakit sistemik5 0. pakah kehilangan atau perubahan penghiduan sebagian atau sama sekali5 8. dakah ri,ayat penyakit hidung atau sinus5 9. pakah ada gejala sistemik lainnya5 *'M'RIKSAAN FISIK A2 Ins0eksi $ (. Kerangka dorsum nasi "batang hidung#.

Terdapat 9 bentuk kerangka dorsum nasi "batang hidung# yang dapat ditemukan pada inspeksi hidung yaitu 2

6orgnet pada abses septum nasi. Saddle nose pada lues. 3iring pada fraktur. 6ebar pada polip nasi. Kulit pada ujung hidung yang terlihat mengkilap, menandakan adanya udem di tempat tersebut.

0. danya luka, ,arna, udem dan ulkus nasolabial. 8. 1ibir atas. danya maserasi pada bibir atas dapat ditemukan saat melakukan inspeksi hidung dan sinus paranalis. 3aserasi disebabkan oleh sekresi yang berasal dari sinusitis dan adenoiditis. B2 *al0asi $ Terdapat 9 struktur yang penting untuk diperhatikan saat melakukan palpasi hidung dan sinus paranasalis, yaitu 2 (. -orsum nasi "batang hidung# Krepitasi dan deformitas dorsum nasi "batang hidung# dapat ditemukan pada palpasi hidung. -eformitas dorsum nasi merupakan tanda terjadinya fraktur os nasalis. 0. la nasi. la nasi penderita terasa sangat sakit pada saat dilakukan palpasi. Tanda ini dapat ditemukan pada furunkel vestibulum nasi. 8. Regio frontalis sinus frontalis. Terdapat 0 cara dilakukan palpasi pada regio frontalis sinus frontalis, yaitu 2

6antai sinus frontalis ditekan ke arah mediosuperior dengan tenaga optimal dan simetris "besar tekanan sama antara sinus frontalis kiri dan kanan#. +alpasi akan bernilai bila kedua sinus frontalis tersebut memiliki reaksi yang berbeda. Sinus frontalis yang lebih sakit berarti sinus tersebut patologis.

-inding anterior sinus frontalis ditekan ke arah medial dengan tenaga optimal dan simetris. .indari menekan foramen supraorbitalis. :oramen supraorbitalis mengandung nervus supraorbitalis sehingga juga menimbulkan reaksi sakit pada penekanan. +enilaiannya sama dengan cara pertama diatas.

9. :ossa kanina. +alpasi fossa kanina diruntukkan buat interpretasi keadaan sinus maksilaris. Syarat dan penilaiannya sama seperti palpasi regio frontalis sinus frontalis. .indari menekan foramen infraorbitalis karena terdapat nervus infraorbitalis. 32 *erkusi $ +erkusi pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina dilakukan apabila palpasi pada keduanya menimbulkan reaksi hebat. Syarat-syarat perkusi sama dengan syaratsyarat palpasi. *'M'RIKSAAN *'NUN AN4 *emeriksaan -a/oratorium +emeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Test kulit " skin test # biasanya negatif, demikian pula test R ST, serta kadar !g & total dalam batas normal. Kadang- kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang sedikit. !nfeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam sekret.

Tabel (. +emeriksaan dan hasil laboratorium pada rinitis vasomotor.0 Pemeriksaan 1akteriologi Test alergi Hasil laboratorium Rinitis bakterial negatif !g & total %ormal +rick Test - %egatif atau positif lemah R ST - %egatif atau positif lemah *emeriksaan Radiolo.i 7ntuk melihat sinus maksilaris, diusulkan memakai posisi <ater pada =-photo rontgen. .asil foto = dengan sinus gelap menunjukkan patologis. +erhatikan batas sinus atau tulang, apakah masih utuh ataukah tidak. +emeriksaan radiologik sinus memperlihatkan mukosa yang edema dan mungkin tampak gambaran cairan dalam sinus apabila sinus telah terlibat. +ada kasus rhinitis vasomotor, biasanya digunakan >-ray atau 4T-scan, namun tidak dijumpai bukti kuat keterlibatan sinus dan umumnya dijumpai penebalan pada mukosa.0 *emeriksaan Rinosko0i Anterior +ada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka hipertrofi dan ber,arna merah gelap atau merah tua "karakteristik#, tetapi dapat juga dijumpai ber,arna pucat.0 +ermukaan konka dapat licin atau berbenjol "tidak rata#. +ada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. kan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan bersifat serosa dengan jumlah yang banyak. Terdapat ) alat yang biasa digunakan pada rinoskopi anterior, yaitu 2

4ermin rinoskopi posterior. +ipa penghisap. plikator. +inset "angulair# dan bayonet "lucae#.

Spekulum hidung .artmann. Spekulum hidung .artmann bentuknya unik. 4ara memakainya juga unik meliputi cara memegang, memasukkan dan mengeluarkan.

4ara menggunakan spekulum hidung .artmann2 a# 4ara memegang spekulum hidung .artmann sebaiknya menggunakan tangan kiri dalam posisi horisontal. Tangkainya yang dipegang berada di lateral sedangkan mulutnya di medial. 3ulut spekulum inilah yang dimasukkan ke dalam kavum nasi "lubang hidung# pasien. b# 4ara memasukkan spekulum hidung .artmann yaitu mulutnya yang tertutup dimasukkan ke dalam kavum nasi "lubang hidung# pasien. Setelah itu spekulum dibuka pelan-pelan di dalam kavum nasi "lubang hidung# pasien. c# 4ara mengeluarkan spekulum hidung .artmann yaitu masih dalam kavum nasi "lubang hidung#, mulut spekulum ditutup kira-kira ?@A. Bangan menutup mulut spekulum (@@A karena bulu hidung pasien dapat terjepit dan tercabut keluar. Terdapat 9 tahapan pemeriksaan hidung pada rinoskopia anterior, yaitu 2 (. +emeriksaan vestibulum nasi. Spekulum hidung digunakan pada pemeriksaan vestibulum nasi berguna untuk melihat keadaan sisi medial, lateral, superior dan inferior vestibulum nasi. Sisi medial vestibulum nasi dapat diperiksa dengan cara mendorong spekulum ke arah medial. 7ntuk melihat sisi lateral vestibulum nasi, speculum didorong ke arah lateral. Sisi superior vestibulum nasi dapat terlihat lebih baik setelah spekulum didorong ke arah superior. Spekulum didorong ke arah inferior untuk melihat lebih jelas sisi inferior vestibulum nasi. Saat melakukan pemeriksaan vestibulum nasi menggunakan spekulum hidung, perhatikan ada tidaknya sekret, krusta, bisul-bisul, atau raghaden. 0. +emeriksaan kavum nasi bagian ba,ah. 4ara memeriksa kavum nasi "lubang hidung# bagian ba,ah ialah dengan mengarahkan cahaya lampu kepala ke dalam kavum nasi "lubang hidung# yang searah

dengan konka nasi media.Terdapat 9 hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan kavum nasi "lubang hidung# bagian ba,ah, yaitu 2

<arna mukosa dan konka nasi inferior. 4ontohnya, pada rhinitis vasomotor, akan tampak gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka hipertrofi dan ber,arna merah gelap atau merah tua "karakteristik #, tetapi dapat juga dijumpai ber,arna pucat.

1esar lumen lubang hidung. 6antai lubang hidung. -eviasi septi yang berbentuk krista dan spina.

8. :enomena palatum mole. 4ara memeriksa ada tidaknya fenomena palatum mole yaitu dengan mengarahkan cahaya lampu kepala ke dalam dinding belakang nasofaring secara tegak lurus. %ormalnya akan terlihat cahaya lampu yang terang benderang. Kemudian pasien diminta untuk mengucapkan CiiiD. Selain perubahan dinding belakang nasofaring menjadi lebih gelap akibat gerakan palatum mole, bayangan gelap dapat juga disebabkan cahaya lampu kepala tidak tegak lurus masuk ke dalam dinding belakang nasofaring. Setelah pasien mengucapkan CiiiD, palatum mole akan kembali bergerak ke ba,ah sehingga benda gelap akan menghilang dan dinding belakang nasofaring akan terang kembali. :enomena palatum mole positif bilamana palatum mole bergerak saat pasien mengucapkan CiiiD dimana akan tampak adanya benda gelap yang bergerak ke atas dan dinding belakang nasofaring berubah menjadi lebih gelap. Sebaliknya, fenomena palatum mole negatif apabila palatum mole tidak bergerak sehingga tidak tampak adanya benda gelap yang bergerak ke atas dan dinding belakang nasofaring tetap terang benderang. :enomena palatum mole negatif dapat ditemukan pada 9 kelainan, yaitu 2

+aralisis palatum mole pada post difteri. Spasme palatum mole pada abses peritonsil. ;

hipertrofi adenoid Tumor nasofaring 2 karsinoma nasofaring, abses retrofaring, dan adenoid.

9. +emeriksaan Septum %asi Kelainan yang dapat ditemukan ialah septum nadi berbentuk krista, spina dan huruf S. *emeriksaan Rinosko0i *osterior +ada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal drip.0 +rinsip dalam melakukan rinoskopia posterior adalah menyinari koane dan dinding nasofaring dengan cahaya yang dipantulkan oleh cermin yang telah ditempatkan dalam nasofaring. da 9 alat dan bahan yang digunakan pada rinoskopia posterior, yaitu 2 4ermin kecil. Spatula. 6ampu spritus. Solusio tetrakain "- efedrin (A#.

Teknik-teknik yang digunakan pada rinoskopia posterior, yaitu 2 4ermin kecil dipegang dengan tangan kanan. Sebelum memasukkan dan menempatkannya ke dalam nasofaring pasien, punggung cermin terlebih dahulu dipanaskan pada lampu spritus yang telah dinyalakan. 3inta pasien membuka mulutnya lebar-lebar. 6idahnya ditarik ke dalam mulut, jangan digerakkan dan dikeraskan. 1ernapas melalui hidung. Spatula dipegang dengan tangan kiri. 7jung spatula ditempatkan pada punggung lidah pasien di depan uvula. +unggung lidah ditekan ke ba,ah di paramedian kanan lidah sehingga terbuka ruangan yang cukup luas untuk menempatkan cermin kecil dalam nasofaring pasien. 3asukkan cermin kedalam faring dan cermin ditempatkan antara faring dan palatum mole kanan pasien. 4ermin lalu disinari dengan menggunakan cahaya lampu kepala. Khusus pasien yang sensitif, sebelum dimasukkan spatula, tetrakain (A 8-9 kali diberikan terlebih dahulu dan tunggu E ) menit.

Terdapat 9 tahap pemeriksaan yang akan dilalui saat melakukan rinoskopia posterior, yaitu 2 Tahap ( 2 pemeriksaan tuba kanan. Tahap 0 2 pemeriksaan tuba kiri. Tahap 8 2 pemeriksaan atap nasofaring. Tahap 9 2 pemeriksaan kauda konka nasi inferior.

Terdapat 0 kelainan yang penting diperhatikan pada rinoskopia posterior, yaitu 2 -+eradangan. 3isalnya pus pada meatus nasi medius F meatus nasi superior, adenoiditis, dan ulkus pada dinding nasofaring "tanda T14#. -Tumor. 3isalnya poliposis dan karsinoma. WORKIN4 +IA4NOSIS Rinitis Vasomotor Rinitis vasomotor merupakan suatu bentuk rinitis yang tidak berhubungan dengan reaksi alergi "rinitis non alergi# tetapi memiliki gejala yang mirip dengan rinitis alergi./ +ada penderita dengan rinitis vasomotor akan dikeluhkan adanya sumbatan pada hidung yang dapat terjadi secara berulang disertai dengan pengeluaran sekret yang encer dan bersin-bersin. -iagnosis penyakit ini ditegakkan berdasarkan anamnesa yang lengkap dan pemeriksaan status lokalis telinga hidung tenggorok "T.T#. -ari anamnesa dicari faktor pencetusnya dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi. -ari pemeriksaaan T.T, sering didapatkan hipertrofi konka inferior. 'ejala khas yang membantu menegakkan diagnosis2 (. .idung tersumbat pada salah satu sisi dan bergantian tergantung pada posisi penderita "gejala ini yang paling dominan#.0,),/ 0. Rinore yang bersifat serus atau mukus, kadang-kadang jumlahnya agak banyak.0 8. 1ersin-bersin lebih jarang dibandingkan rinitis alergika.

(@

9. 'ejala rinitis vasomotor ini dapat memburuk pada pagi hari saat bangun tidur karena adanya perubahan suhu yang ekstrem, udara yang lembab, dan karena adanya asap rokok.0 +IFF'R'NTIA- +IA4NOSIS Rinitis aler.i Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut. 3enurut <.G R! " llergic Rhinitis and its !mpact on sthma# tahun 0@@( adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelahmukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh !g&. Tabel 0. +erbandingan antara rinitis alergi dan rinitis vasomotor.8,9 +enyakit 3ulai serangan Ri,ayat paparan allergen &tiologi Rinitis alergi 1elasan tahun +ositif Reaksi g - b terhadap rangsangan spesifik Rinitis vasomotor -ekade ke 8 9 %egatif Reaksi neurovaskuler terhadap beberapa rangsangan mekanis atau kimia, juga faktor psikologis Tidak menonjol Tidak dijumpai %egatif &osinofil tidak meningkat %ormal

'atal F bersin 'atal d imata Test kulit Sekret hidung &osinofil darah

3enonjol Sering dijumpai +ositif +eningkatan eosinofil 3eningkat

((

'TIO-O4I &tiologi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat gangguan keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh $at-$at tertentu. 1eberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor),/ 2(. Gbat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis seperti ergotamin, chlorproma$in, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.0 4ontoh2 %arkotik antihypertensive, bahan sekat sympathetic, mungkin dapat menyebabkan hidung mengeluarkan tetesan bukan akibat desakan symptomatik dan semprotan nasal. +enggunaan jangka panjang obat-obatan seperti ini mungkin dapat menyebabkan suatu hypertrophic rhinitis. 0. :aktor fisik seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang. 4ontoh2 Suhu udara yang dingin menyebabkan vasokonstriksi dan suhu udara yang hangat menyebabkan vasodilatasi. Sedangkan perubahan lingkungan suhu secara tiba-tiba mungkin merangsang penyempitan nasal atau rhinorrhea. 8. :aktor endokrin seperti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.0 4ontoh2 .ormon estrogen merangsang penyempitan pembuluh darah membran nasal. Selama kehamilan, hormon estrogen meningkat dan gejala-gejala penyempitan nasal biasanya mulai pada ,aktu kehamilan telah mencapai usia empat bulan dan meningkat pada saat usia lima bulan seiring dengan proses produksi estrogen yang meningkat. 'ejala akan hilang dengan spontan pada kebanyakan pasien. 9. :aktor psikis seperti stress, ansietas dan fatigue.0 '*I+'MIO-O4I 3ygind, seperti yang dikutip oleh Sunaryo, memperkirakan sebanyak 8@ /@ A dari kasus rinitis sepanjang tahun merupakan kasus rinitis vasomotor dan lebih banyak dijumpai pada usia de,asa terutama pada ,anita. (0

<alaupun demikian insidens pastinya tidak diketahui. 1iasanya timbul pada dekade ke 8 9.8 Secara umum prevalensi rinitis vasomotor bervariasi antara *0(A. -alam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bessen dan Ban$on dijumpai sebanyak 0(A menderita keluhan hidung non alergi dan hanya )A dengan keluhan hidung yang berhubungan dengan alergi. +revalensi tertinggi dari kelompok non alergi dijumpai pada dekade ke 8. Sibbald dan Rink di 6ondon menjumpai sebanyak (8A dari pasien, menderita rinitis perenial dimana setengah diantaranya menderita rinitis vasomotor. Sunaryo, pada penelitiannya terhadap 08;8 kasus rinitis selama ( tahun di RS Sardjito Hogyakarta menjumpai kasus rinitis vasomotor sebanyak 88 kasus " (,8; A # sedangkan pasien dengan diagnosis banding rinitis vasomotor sebanyak 09@ kasus " (@,@* A #. :aktor resiko yang dapat memicu rinitis vasomotor adalah seperti berikut2- alkohol atau obat-obatan seperti anti hipertensi, kontrasepsi oral - perubahan temperatur I kelembapan suhu - makanan yang panas dan pedas - bau bauan yang menyengat " strong odor # - asap rokok atau polusi udara lainnya - faktor faktor psikis seperti stress dan ansietas - penyakit penyakit endokrin *ATOFISIO-O4I da beberapa mekanisme yang berinteraksi dengan hidung yang menyebabkan terjadinya rinitis vasomotor pada berbagai kondisi lingkungan. Sistem saraf otonom mengontrol suplai darah ke dalam mukosa nasal dan sekresi mukus. -iameter dari arteri hidung diatur oleh saraf simpatis sedangkan saraf parasimpatis mengontrol sekresi glandula dan mengurangi tingkat kekentalannya, serta menekan efek dari pembuluh darah kapasitan "kapiler#. &fek dari hipoaktivitas saraf simpatis atau hiperaktivitas saraf parasimpatis bisa berpengaruh pada pembuluh darah tersebut yaitu menyebabkan terjadinya peningkatan edema interstisial dan akhirnya terjadi kongesti yang bermanifestasi klinis sebagai hidung tersumbat. ),/ ktivasi dari saraf

(8

parasimpatis juga meningkatkan sekresi mukus yang menyebabkan terjadinya rinorea yang eksesif. Sistem saraf otonom mengontrol aliran darah ke mukosa hidung dan sekresi dari kelenjar. -iameter resistensi pembuluh darah di hidung diatur oleh sistem saraf simpatis sedangkan parasimpatis mengontrol sekresi kelenjar. +ada rinitis vasomotor terjadi disfungsi sistem saraf otonom yang menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis yang disertai penurunan kerja saraf simpatis. 1aik sistem simpatis yang hipoaktif maupun sistem parasimpatis yang hiperaktif, keduanya dapat menimbulkan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas kapiler, yang akhirnya akan menyebabkan transudasi cairan, edema dan kongesti. Teori lain mengatakan bah,a terjadi peningkatan peptide vasoaktif dari selsel seperti sel mast. Termasuk diantara peptide ini adalah histamin, leukotrin, prostaglandin, polipeptide intestinal vasoaktif dan kinin. &lemen-elemen ini tidak hanya mengontrol diameter pembuluh darah yang menyebabkan kongesti, tetapi juga meningkatkan efek asetilkolin dari sistem saraf parasimpatis terhadap sekresi hidung, yang menyebabkan rinore. +elepasan peptide-peptide ini tidak diperantarai oleh !g-& "non-!g & mediated# seperti pada rinitis alergi. danya reseptor $at iritan yang berlebihan juga berperan pada rinitis vasomotor. 1anyak kasus yang dihubungkan dengan $at-$at atau kondisi yang spesifik. 1eberapa diantaranya adalah perubahan temperatur atau tekanan udara, perfume, asap rokok, polusi udara dan stress " emosional atau fisikal #. -engan demikian, patofisiologi dapat memandu penatalaksanaan rinitis vasomotor yaitu 2(. meningkatkan perangsangan terhadap sistem saraf simpatis 0. mengurangi perangsangan terhadap sistem saraf parasimpatis 8. mengurangi peptide vasoaktif 9. mencari dan menghindari $at-$at iritan.0 3ekanisme terjadinya rinitis vasomotor oleh karena aroma dan emosi secara langsung melibatkan kerja dari hipotalamus. roma yang kuat akan merangsang sel sel olfaktorius terdapat pada mukosa olfaktorii. Kemudian berjalan melalui traktus

(9

olfaktorius dan berakhir secara primer maupun sesudah merelay neuron pada dua daerah utama otak, yaitu daerah olfaktoris medial dan olfaktoris lateral. -aerah olfaktoris medial terletak pada bagian anterior hipotalamus. Bika bagian anterior hipotalamus teraktivasi misalnya oleh aroma yang kuat serta emosi, maka akan menimbulkan reaksi parasimpatetik di perifer sehingga terjadi dominasi fungsi syaraf parasimpatis di perifer, termasuk di hidung yang dapat menimbulkan manifestasi klinis berupa rhinitis vasomotor.) -ari penelitian binatang telah diketahui bah,a vaskularisasi hidung dipersarafi sistem adrenergik maupun oleh kolinergik. Sistem saraf otonom ini yang mengontrol vaskularisasi pada umumnya dan sinusoid vena pada khususnya, memungkinan kita memahami mekanisme bendungan koana. Stimulasi kolinergik menimbulkan vasodilatasi sehingga koana membengkak atau terbendung, hasilnya terjadi obstruksi saluran hidung. Stimulasi simpatis servikalis menimbulkan vasokonstriksi hidung. -ianggap bah,a sistem saraf otonom, karena pengaruh dan kontrolnya atas mekanisme hidung, dapat menimbulkan gejala yang mirip rinitis alergika. Rinopati vasomotor disebabkan oleh gangguan sistem saraf autonom dan dikenal sebagai disfungsi vasomotor. Reaksi reaksi vasomotor ini terutama akibat stimulasi parasimpatis "atau inhibisi simpatis# yang menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular disertai udema dan peningkatan sekresi kelenjar. ) 1ila dibandingkan mekanisme kerja pada rinitis alergika dengan rinitis vasomotor, maka reaksi alergi merupakan akibat interaksi antigen antibodi dengan pelepasan mediator yang menyebabkan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas yang menimbulkan gejala obstruksi saluran pernafasan hidung serta gejala bersin dan rasa gatal. +elepasan mediator juga meningkatan aktivitas kelenjar dan meningkatkan sekresi, sehingga mengakibatkan gejala rinorea. +ada reaksi vasomotor yang khas, terdapat disfungsi sistem saraf autonom yang menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis "penurunan kerja simpatis# yang akhirnya menimbulkan peningkatan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas, yang menyebabkan transudasi cairan dan edema.) .al ini menimbulkan gejala obstruksi saluran pernafasan hidung serta gejala bersin dan gatal./ +eningkatan aktivitas parasimpatis meningkatkan aktivitas kelenjar dan menimbulkan peningkatan ()

sekresi hidung yang menyebabkan gejala rinorea. +ada pokoknya, reaksi alergi dan disfungsi vasomotor menghasilkan gejala yang sama melalui mekanisme yang berbeda. +ada reaksi alergi, ia disebabkan interaksi antigen antibodi, sedangkan pada reaksi vasomotor ia disebabkan oleh disfungsi sistem saraf autonom. 4e"ala Klinis 'ejala yang dijumpai pada rinitis vasomotor kadang-kadang sulit dibedakan dengan rinitis alergi seperti hidung tersumbat dan rinore. Rinore yang hebat dan bersifat mukus atau serous sering dijumpai. 'ejala hidung tersumbat sangat bervariasi yang dapat bergantian dari satu sisi ke sisi yang lain, terutama se,aktu perubahan posisi. 0,/ Keluhan bersin-bersin tidak begitu nyata bila dibandingkan dengan rinitis alergi dan tidak terdapat rasa gatal di hidung dan mata.'ejala dapat memburuk pada pagi hari ,aktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, dan juga oleh karena asap rokok dan sebagainya. Selain itu juga dapat dijumpai keluhan adanya ingus yang jatuh ke tenggorok " post nasal drip #. 1erdasarkan gejala yang menonjol, rinitis vasomotor dibedakan dalam dua golongan, yaitu golongan obstruksi " blockers# dan golongan rinore "runners I snee$ers#.0 +rognosis pengobatan golongan obstruksi lebih baik daripada golongan rinore. Gleh karena golongan rinore sangat mirip dengan rinitis alergi, perlu anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya. *'NATA-AKSANAAN +engobatan rinitis vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam 2 $! Men.hindari 0en5e/a/ 6 0encetus 1Avoidance thera0520,* - Bika agen iritan diketahui, terapi terbaik adalah dengan pencegahan dan menghindari. Bika tidak diketahui, pembersihan mukosa nasal secar periodik mungkin bisa membantu. 1isa dilakukan dengan menggunakan semprotan larutan saline atau alat irigator seperti 'rossan irigator. (/

7! *en.o/atan medika mentosa 1Farmakotera0i 2 - -ekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat.0 4ontohnya 2 +seudoephedrine dan +henylpropanolamine " oral # serta +henylephrine dan G>ymeta$oline "semprot hidung #. - nti histamin 2 paling baik untuk golongan rinore.* - Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan bersinbersin dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh mediator vasoaktif. 1iasanya digunakan paling sedikit selama ( atau 0 minggu sebelum dicapai hasil yang memuaskan. 4ontoh steroid topikal 2 1udesonide, :luticasone, :lunisolide atau 1eclomethasone. - nti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya. 4ontoh 2 !pratropium bromide " nasal spray #. 8! Tera0i o0erati9 1dilakukan /ila 0en.o/atan medika mentosa .a.al2 ),/ - Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan g%G8 0)A atau triklorasetat pekat " chemical cautery # maupun secara elektrik " electrical cautery #. - -iatermi submukosa konka inferior "submucosal diathermy of the inferior turbinate# - 1edah beku konka inferior0 " cryosurgery # - Reseksi konka parsial atau total "partial or total turbinate resection# - Turbinektomi dengan laser " laser turbinectomy # - %eurektomi n. Jidianus0 " vidian neurectomy #, yaitu dengan melakukan pemotongan pada n. vidianus, bila dengan cara diatas tidak memberikan hasil. Gperasi sebaiknya dilakukan pada pasien dengan keluhan rinore yang hebat. Terapi ini sulit dilakukan, dengan angka kekambuhan yang cukup tinggi dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Table 8. Simptom, jenis terapi dan prosedur bagi rhinitis vasomotor./ Simptom Gbstruksi hidung Jenis terapi Reduksi konka Reseksi konka Rinore Jidian neurectomy Prosedur - Kauterisasi konka "chemical, electrical# - -iatermi sub mukosa - 1edah beku " cryosurgery # - Turbinektomi parsial atau total - Turbinektomi dengan laser - &ksisi nervus vidianus - -iatermi nervus vidianus

(*

KOM*-IKASI $! Sinusitis Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak ditemukan pada penderita Khay feverL yang mana pada penderita ini terjadi pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung. Sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.; !ngus yang dapat dikeluarkan le,at tenggorokan dalam istilah medis dikenal dengan post nasal drip. Tanda ini khas pada penderita sinusitis. Sinusitis adalah radang sinus paranasal "rongga-rongga di ,ajah yang bermuara di lubang hidung#. 1erdasarkan perjalanan penyakitnya, sinusitis dibedakan atas2 (# Sinusitis akut, bila infeksi timbul beberapa hari sampai beberapa minggu; 0# Sinusitis subakut, bila infeksi timbul beberapa minggu sampai beberapa bulan 8# Sinusitis kronik, bila infeksi timbul beberapa bulan sampai beberapa tahun. 'ejala yang dirasakan antara lain demam, rasa lesu, hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke kerongkongan "post nasal drip#, halitosis "bau mulut#, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, dan nyeri di daerah sinus yang terkena. Bika sinusitis telah berlangsung kronik, gejala yang timbul bervariasi dari ringan sampai berat, seperti2 - 'ejala hidung dan kerongkongan, berupa sekret di hidung dan keronkongan. Sekret di kerongkongan secara terus-menerus akan menyebabkan batuk kronik. - 'ejala kerongkongan, berupa rasa tidak nyaman di kerongkongan - 'ejala telinga, berupa gangguan pendengaran akibat sumbatan saluran yang menghubungkan rongga mulut dan telinga - %yeri kepala, biasanya pada pagi hari dan berkurang di siang hari. 3ungkin akibat penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus. - 'ejala mata, akibat penjalaran infeksi melalui saluran air mata "saluran yang (;

menghubungkan mata dan lubang hidung# - 'ejala saluran napas, berupa batuk dan kadang komplikasi di paru "misalnya paruparu basah#. - 'ejala saluran cerna, dapat terjadi radang pada saluran cerna akibat sekret bercampur bakteri yang tertelan. 7! 'ritema 0ada hidun. se/elah luar 8! *em/en.kakan )a"ah *RO4NOSIS +rognosisnya baik. +rognosis dari rinitis vasomotor bervariasi. +enyakit kadangkadang dapat membaik dengan tiba tiba, tetapi bisa juga resisten terhadap pengobatan yang diberikan. K'SIM*U-AN (. Rinitis vasomotor merupakan suatu gangguan fisiologik neurovaskular mukosa hidung dengan gejala hidung tersumbat, rinore yang hebat dan kadang kadang dijumpai adanya bersin bersin. 0. +enyebab pastinya tidak diketahui. -iduga akibat gangguan keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh faktor-faktor tertentu. 8. 1iasanya dijumpai setelah de,asa " dekade ke 8 dan 9 #. 9. Rinitis vasomotor sering tidak terdiagnosis karena gejala klinisnya yang mirip dengan rinitis alergi, oleh sebab itu sangat diperlukan pemeriksaan pemeriksaan yang teliti untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis lainnya terutama rinitis alergi dan mencari faktor pencetus yang memicu terjadinya gangguan vasomotor. ). +enatalaksanaan dapat dilakukan secara konservatif dan apabila gagal dapat dilakukan tindakan operatif. +AFTAR *USTAKA (. 1urnside-3c'lynn, +enyakit peradangan hidung, dams -iagnosis :isik &disi ke-(*, +enerbit 1uku Kedokteran &'4 0@@02 (8@. (?

0. &lise Kasakeyan, Rinitis vasomotor, 1uku jar !lmu Kesehatan Teling .idung Tenggorok &disi ke-9, 1alai +enerbit :K7! Bakarta 0@@(2 (@*-?. 8. +. Jan den 1rock, 6. :eenstra, Rinitis alergi, 1uku Saku !lmu Kesehatan Telinga .idung Tenggorok &disi ke-(0, +enerbit 1uku Kedokteran &'4 0@(@2 (@*-;. 9. dr. .. &fiaty rsyad Soepardi, +rof. dr. .. %urbaiti !skandar, Rinitis alergi, 1uku jar !lmu Kesehatan Teling .idung Tenggorok &disi ke-9, 1alai +enerbit :K7! Bakarta 0@@(2 (@0-/. ). &li$abeth B. 4or,in, Rinitis, 1uku Saku +atofisiologi, +enerbit 1uku Kedokteran &'4 0@@02 08@-). /. -avid 4. Sabiston, +enyakit peradangan hidung rhinitis, 1uku jar 1edah 1agian 0, +enerbitan 1uku Kedokteran &'4 0@(@2 0?). *. dr. .. :achri .adjat, dr. .. &fiaty rsyad Soepardi, +rof. dr. .. %urbaiti !skandar, Rinitis vasomotor, +enatalaksanaan +enyakit F Kelainan Telinga .idung Tenggorok, 1alai +enerbit :K7! Bakarta 0@@?2 8;-?. ;. &ndang 3angunkusumo, %usjir,an Rifki, Sinusitis, 1uku jar !lmu Kesehatan Telinga, .idung, Tenggorok, Kepala F 6eher. &d. ke-), 1alai +enerbit :akultas Kedokteran 7niversitas !ndonesia Bakarta 0@@/2 (((-(8.

0@