Anda di halaman 1dari 3

Ada perbedaan antara berfikir sistematik dengan berfikir serba sistem. Perbedaan di antara konsep tersebut, yaitu: 1.

Berpikir sistematik, artinya memikirkan segala sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu, ada urutan dan proses pengambilan keputusan. Di sini diperlukan ketaatan dan kedisiplinan terhadap proses dan metoda yang hendak dipakai. Metoda berpikir yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, namun semuanya dapat dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan proses yang diakui luas. 2. Berpikir serba-sistem[1] adalah menyadari bahwa segala sesuatu berinteraksi dengan perkara lain di sekelilingnya, meskipun secara formal-prosedural mungkin tidak terkait langsung atau secara spasial berada di luar lingkungan tertentu (Iman, 2007) Secara sederhana Bartlett (2001) menunjukkan perbedaan ketiga konsep tersebut dalam sebuah tabel berikut ini: Perbedaan dalam Berpikir Systematic Thinking System Thinking Thinking about how Systemic Thinking A Simple technique for

things interact finding Thinking methodicaly Sumber: with one another systemic focus

Bartlett, 2001, Systemic Thinking: A Simple Thinking Technique for Gaining

Systemic Focus, The International Conference on ThinkingBreakthroughs 2001, p 2 Pada bagian lain Bartlett mengungkapkan: The basic idea in systemic thinking is to list as many different elements as you can think of, then look for similarities between them. Conventional analytical thinking is different. The basic idea in analytical thinking techniques is to list a handful of elements, compare them, rank them and then select the best one, discarding the rest. This is all very well, unless the rest secure benefits that the selected option doesnt. (Bartlett, 2001:5) Dalam perkembangannya ada banyak metode dalam pendekatan berpikir sistemik[2], seperti:

1. General System Theory atau Open System Theory, dikembangkan oleh Karl Ludwig von Bertalanffy (September 19, 1901, Atzgersdorf near Vienna, Austria June 12, 1972, Buffalo, New York, USA) dalam bukunya General Systems Theory (1968). 2. Systems Dynamics[3], dikembangkan oleh Jay Wright Forrester (born July 14, 1918, Anselmo, Nebraska). Sistem dinamis melihat dunia sebagai suatu sistem menekankan pada pemahaman struktur dan proses dalam sistem. Sistem dinamis mengasumsikan bahwa analisis situasi dapat dilakukan dari sudut pandang eksternal objektif dan bahwa struktur dan proses-proses dinamis dari real world dapat dibuat kembali dalam kedua sistem diagram (kasual loop) dan model matematika. 3. Soft Systems Model[4]. Model ini dikembangkan untuk menutupi keterbatasan Hard Systems Model. Dalam hard system approach masalah-masalah atau sasaran-sasaran yang ingin dicapai harus terdefinisi dan terstruktur dengan baik (well-defined and structured). Dengan demikian, maka sistem yang tengah dievaluasi haruslah dibuatkan modelnya dan dicari solusi optimalnya secara kuantitatif. Hal inilah yang menjadikan keterbatasan hard approach dalam aplikasinya. Tiga systems thinking methodology yang masuk dalam kategori Soft Systems Model, yaitu (Gunawan, 2009)[5]: (a) Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST)[6]. Model ini dikembangkan oleh Richard Mason, Ian Mitroff, and Jim Emshoff, tahun 1981. SAST adalah model yang dinyatakan dengan asumsi-asumsi yang mendasari suatu kebijakan atau rencana dengan menciptakan peta (map) untuk memudahkan penjelajahannya. (b) Interactive Planning (IP). Interactive Planning[7] dikembangkan oleh Russell Lincoln Ackoff (12 February 1919 29 October 2009). Tidak seperti jenis perencanaan lain (reaktif perencanaan, perencanaan tidak aktif, dan preactive perencanaan), Interactive Planning difokuskan dalam sistem pemikiran dan didasarkan pada keyakinan bahwa masa depan sebuah organisasi sangat tergantung setidaknya sama banyak pada apa yang dilakukan antara sekarang dan kemudian (Wikipedia.) (c) Checklands Soft Systems Methodology(SSM). SSM dikembangkan oleh Peter Checkland dari universitas Lancaster, Inggris[8], tahun 1981 untuk masalah-masalah yang poorlydefined dan unstructured, meskipun dapat juga dipakai untuk memecahkan persoalan yang terdefinisi dengan baik (well-defined). 4. Viable System Model. Stafford Bear memberikan makna pada viable systems model (VSM)[9], sebagai jantung dalam menganalisis sistem suatu organisasi. Viable System Model (VSM) adalah suatu model dimana suatu organisasi yang ideal pada setiap sistem yang dapat bertahan digambarkan.

5. Cybernetics[10]. Model ini didasari oleh teori informasi dan pemikiran theory of Mind[11] yang dikembangkan oleh Gregory Bateson. Beberapa elemen kunci model ini Adapun keunggulannya berfikir serba sistem adalah bagaimana menciptakan dan membawa perubahan sistemik ke arah yang diinginkan dengan hukum-hukum yang universal. Dengan kata lain, apa tindakan/kebijakan teruji absah yang mendorong perubahan sistemik untuk menuju ke keadaan yang lebih baik pada masa datang. Selain itu, penerapan sistem dinamis telah meluas untuk menganalisis masalah ekonomi, manajemen, organisasi, politik, budaya, kependudukan, lingkungan hidup, kewilayahan, biologi, kedokteran, dan sudah tentu dalam ilmu administrasi (Sunaryono, 2006)[12].Untuk membantu analisis sistemik tersebut, banyak sofware yang berkembang, seperti sofware Dynamo, IThink/Stella,PowerSim, Vensim, AnyLogic, Berkely Madonna, Expos, MyStrategy, TRUE.

Anda mungkin juga menyukai