Anda di halaman 1dari 15

Audiometry anak-anak :

Pemeriksaan Timpanometri :
Timpanometri adalah pemeriksaan telinga tengah, yang dilakukan dengan alat yang disebut Tympanometer untuk mendeteksi adanya masalah di telinga bagian tengah. Pemeriksaan dilakukan hanya dengan menempelkan sumbat ke liang telinga selama beberapa detik, dan alat akan secara otomatis mendeteksi keadaan telinga bagian tengah.

Pemeriksaan OAE :

OAE atau OtoAcoustic Emission adalah gelombang yang dihasilkan oleh sel rambut halus bagian luar dari rumah siput, setelah diberi stimulus. Munculnya gelombang ini sebagai indikasi bahwa rumah siput bekerja dengan baik, yang berhubungan langsung dengan fungsi pendengaran. Pemeriksaan OAE banyak dilakukan di rumah sakit pada bayi yang baru lahir, sebagai screening awal adanya gangguan pendengaran atau tidak. Di banyak negara maju, screening bayi sudah menjadi keharusan tanpa kecuali, dikenal dengan istilah Universal Newborn Screening. Pemeriksaan dilakukan dengan menempelkan sumbat kecil ke telinga bayi / anak selama beberapa detik (mirip dengan pemeriksaan Timpanometri). OAE screener dilengkapi dengan speaker dan mikrofon mini yang dibalut dengan sumbat dari bahan lembut (eartip) speaker akan menghantarkan stimuli ke dalam liang telinga akan di respons oleh cochlea, yang mana hantarannya akan dideteksi oleh mikrofon dan diukur oleh screener.

Pemeriksaan BERA/ABR :
Pemeriksaan BERA atau istilah lainnya ABR (Auditory Brainstem Response) adalah untuk mengetahui ambang batas pendengaran yang umumnya dilakukan pada anak-anak atau orang dewasa yang tidak dapat diandalkan hasil audiometrinya menggunakan Audiometer biasa. Pemeriksaan harus dilakukan dalam keadaan pasien tenang / tertidur, sehingga respons saraf pendengaran dapat terpetakan dengan akurat. Oleh karena itu sangat cocok untuk

anak-anak

yang

masih

kecil.

ASSR (Auditory Steady State Response) adalah metode pemeriksaan ABR yang dapat menghasilkan ambang batas pendengaran per frekuensi secara lebih spesifik.

DETEKSI dan INTERVENSI DINI KETULIAN PADA ANAK Oleh : TUTUT SRIWILUDJENG T. RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto
PENDAHULUAN Kesehatan Indera pendengaran merupakan syarat penting bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia karena sebagian besar infomasi diserap mulalui proses mendengar yang baik bagi anak fungsi pendengaran berpengaruh dalam perkembangan bicara dan berbahasa, sosialisasi dan perkembagan kognitifnya Gangguan pendengaran berbeda dengan cacat yang lainnya dimana pada bayi/anak yang mengalami gangguan pendengaran sering kali tidak terdeteksi atau tidak segera diketahui baik oleh orang tua sendiri, kelainan ini disebut juga sebagai the Invisible disability. Gejala awal sulit diketahui karena ketulian tidak terlihat. Biasanya orang tua baru menyadari adanya gangguan pendengaran pada anak bila tidak ada respons terhadap suara keras atau belum / terlambat berbicara. Oleh karena itu informasi dari orang tua sangat bermanfaat untuk mengetahui respons anak terhadap suara dilingkungan rumah, kemampuan vokalisasi dan cara mengucapkan kata. Pengenalan (deteksi) adanya ketulian yang dini kemudian ditangani (intervensi) yang dini akan meningkatkan kemampuan anak untuk berbahasa dan bebicara. Karena pada tahun-tahun pertama kehidupan (0 3 tahun), merupakan masa perkembangan bahasa dan bicara yang paling kritis. Penelitian membuktikan bahwa pada masa-masa tersebut kualitas stimulasi pendengaran berpengaruh pada perubahan-perubahan anatomis, fisiologis dan tingkah laku yang diakibatkan oleh perkembangan sistem pendengaran. Keterlambatan dalam diagnosisnya berarti pula terdapat keterlambatan untuk memulai intervensinya dan akan membawa dampak serius dalam perkembangan selanjutnya yang dikemudian hari akan menambah beban keluarga, masyarakat maupun Negara. Oleh karena itu deteksi dan intervensi sejak dini sangat penting untuk diperhatikan dan perlu segera dilakukan. Salah satu upaya untuk menemukan kasus bayi dengan gangguan pendengaran adalah dengan melakukan pemeriksaan pendengaran pada awal-awal usia bayi, terutama yang terdapat kecurigaan adanya gangguan pendengaran dan juga pada kelompok bayi dengan resiko tinggi. Kejadian kasus gangguan pendengaran yang sedang sampai berat rata-rata terdeteksi pada usia 20-24 bulan. Pada kasus gangguan pendengaran yang ringan ditemukan rata-rata usia 48 bulan. Bahkan pada kasus gangguan pendengaran yang unilateral baru dapat diidentifikasi pada usia sekolah. Banyak peneliti yang mengemukakan bahwa intervensi dini dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam kemampuan berbicara dan berbahasa. Penanganan kasus gangguan pendengaran yang lebih dini dilakukan terbaik dibawah usia 6 bulan.

Angka kejadian gangguan pendengaran berkisar antara 1 sampai 3 kejadian setiap 1000 kelahiran hidup. Angka tersebut dapat meningkat 10 sampai 50 kali lipat bila dilakukan survey pada kelompok dengan resiko tinggi.

PENGERTIAN GANGGUAN PENDENGARAN dan KETULIAN


Menurut WHO pengertian gangguan pendengaran dan ketulian dibedakan beasarkan ketentuan sebagai berikut. GANGGUAN PENDENGARAN (hearing impaired): berkurangnya kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya, pada salah satu atau kedua telinga, baik derajat ringan atau lebih berat dengan ambang pendengaran rata lebih dari 26 dB pada frekuensi 500, 1000, 2000 atau 4000 Hz. KETULIAN (deaf): hilangnya kemampuan mendengar pada salah satu atau kedua sisi telinga, merupakan gangguan pendengaran sangat berat dengan ambang pendengaran rata-rata lebih dari 81 dB pada frekuensi 500, 1000, 2000 atau 4000 Hz. WHO juga membagi derajat gangguan pendengaran menjadi 4 kelompok seperti pada tabel berikut : Tabel 1: pembagian derajat gangguan pendengaran

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4. 5.

Menurut WHO masalah gangguan pendengaran dan ketulian perlu ditangani lebih serius mengingat besarnya kerugian yang ditimbulkan. Dampak negatif tersebut antara lain berupa: Gangguan atau hambatan perkembangan bicara, berbahasa dan kognitif pada anak, terutama bila terjadi sejak lahir atau pada bayi. Kesulitan mengikuti pelajaran disekolah sehingga mengakibatkan rendahnya prestasi akademik. Kesulitan memperoleh lapangan kerja atau mengganggu tugas dalam bekerja. Terisolir dari kehidupan sosial Efek yang merugikan baik secara sosial maupun ekonomi didalam lingkungan masyarakat dan Negara. Metode klasifikasi gangguan pendengaran yang lebih adalah dibedakan dari sisi onset, sisi genetika, progresifitas penyakit. Dalam mengklasifikasikan gangguan pendengaran perlu diperhatikan : Jenis gangguan : tipe koduktif, sensorineural, campuran. Waktu berlangsung : menetap, sementara, memberat. Derajat gangguan pendengaran : rigan, sedang, berat, sangat berat. Onset gangguan pendengaran : congenital, periode prelingual, atau postlingual, lanjut usia (presbiakusis) Faktor penyebab : ototoksis, akibat bising (GPAB). Fungsi pendengaran pada neonatus sama dengan anak atau dewasa. Secara fisiologi proses pendengaran dibagi dalam 3 urutan peristiwa, yaitu pemindahan energi fisik yang berupa

stimulus bunyi keorgan pendengaran, konversi atau transduksi yaitu pengubahan energi fisik stimulasi tersebut ke organ penerima dan penghantaran impuls saraf ke kortek pendengaran. TULI KONGENITAL Tuli kongenital merupakan ketulian yang terjadi pada seorang bayi disebabkan faktorfaktor yang mempengaruhi kehamilan maupun pada saat lahir. Ketulian ini dapat berupa tuli sebagian (hearing impaired) atau tuli total (deaf). Tuli sebagia adalah keadaan fungsi pendengaran berkurang namun masih dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan atau tanpa bantuan alat dengar, sedangkan tuli total adalah keadaan fungsi pendengaran yang sedemikian terganggunya sehingga tidak dapat berkomunikasi sekalipun menapat perkerasan bunyi (amplifikasi). Tuli kengenital kita bagi menjadi genetic herediter (adafaktor keturunan) dan non genetik. Jenis ketulian yang terjadi biasanya merupakan tuli syaraf (sensorineural) derajat berat sampai sangat berat pada kedua telinga (bilateral) Mengingat tuli kongenital mempunyai dampak yang cukup luas maka sejak awal sebaiknya sudah ada sosialisasi / penyuluhan kepada masyarakat dan petugas kesehatan yang bekerja dilapangan untuk melakukan deteksi dini. Angka Kejadian Jumlah bayi yang menderita tuli kongenital adalah 1 anak pada setiap 1000 kelahiran hidup, sedangkan bayi yang dirawat dalam rungan intensif (Natonal Intensive Care Unit) jumlahnya adalah 1 diantara 50 bayi. Kemudian pada usia balita masih bertambah 2 anak lagi pada setiap 1000 anak. Angka kelahiran kasar (CBR) di Jawa Timur 22,0 sampai 24,9 per 1000 penduduk. Apabila jumlah penduduk Jawa Timur 37 juta, maka angka kelahiran kurang lebih 750.000, berarti kurang lebih terdapat 750 bayi yang lahir tuli setiap tahun. Prevalensi tuli kongenital di Indonesia di perkirakan 0,1 %. Ini akan bertambah 4710 orang setiap tahun dengan melihat angka kelahiran sebesar 2,2 % pada penduduk yang berjumlah 214.100.000 orang. Ini akan terus bertambah mengingat faktor resiko yang mengakibatkan tuli kongenital pada masa kehamilan dan kelahiran masih tinggi. Di Negara maju angka tuli kongenital berkisar antara 0,1 0,3 % kelahiran hidup.. sedangkan di Indonesiaberdasarkan survey yang dilakukan Dep. Kes di 7 Provinsi pada tahun 1994 1996 yaitu sebesar 0,1 %. Tuli kongenital di Indonesia diperkirakan sebanyak 214.100 orang bila jumlah penduduk sebesar 214.100.000 juta (Profil Kesetahan 2005). Jumlah ini akan bertambah setiap tahun dengan adanya pertambahan penduduk akibat tingginya angka kelahiran sebesar 0,22 %. Hal ini tentu saja berdampak pada penyediaan sarana pendidikan dan lapangan pekerjaan di masa mendatang. WHO memperkirakan setiap tahun terdapat 38.000 anak tuli lahir di Asia Tenggara. Pertemuan WHO di Colombo pada tahun 2000 mentapkan tuli kongenital sebagai salah satu penyebab ketulian yang harus diturunkan prevalensinya. Ini tentu saja memerlukan kerjasama dengan disiplin ilmu lain dan masyarakat selain tenga kesehatan. 2. Penyebab Tuli kongenital dapat terjadi pada : Masa kehamilan (PARENTAL)

1.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kehamilan trimester I merupakan periode penting karena infeksi bakteri maupun virus akan mempunyai akibat terjadinya ketulian. Infeksi yang sering mempengaruhi pendengaran antara lain adalah infeksi TORCHS (Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes dan Sifilis), selain campak dan parotitis (gondong). Beberapa jenis obat ototoksik dan teratogenik seperti salisilat, kina, gentamisin, streptomycin dll mempunyai pontensi menyebabkan tyerjadinya gangguan proses pembentukan organ dan sel rambut pada rumah siput (koklea). Gangguan struktur anatomi telinga juga dapat menyebabkan terjadinya ketulian antar lain aplasia koklea ( rumah siput tidak terbentuk) dan atresia liang telinga. Saat lahir (PERINATAL) Penyebab ketulian pada saat lahir antara lain : lahir prematur, berat badan lahir rendah (< 1500 gram), tindakan dengan alat pada proses kelahiran (ekstraksi vakum, forcep), hiperbilirubinemia (bayi kuning), asfiksia (lahir tidak langsung menangis), dan hipoksia otak (nilai Apgar < 5 pada 5 menit pertama). Menurut Academy American Joint Committee on Infant Hearing Statement (1994) pada bayi usia 0-28 hari bila ditemukan beberapa faktor berikut ini harus dicurigai karena merupakan kemungkinan penyebab terjadinya gangguan pendengaran. Riwayat keluarga dengan tuli sejak lahir Infeksi prenatal; TORSCH Kelainan anatomi pada kepala dan leher Sindrom yang berhubungan dengan tuli kongenital Berat badan lahir rendah (BBLR < 1500 gram) Meningitis Bakterialis Hiperbillirubinemia (bayi kuning) yang memerlukan transfusi tukar Asfisia berat Pemberian obat ototoksik

10. Menggunakan alat bantu pernafasan / ventilasi mekanik lebih dari 5 hari (ICU) Genetic Hearing Loss Kebanyakan kasus dari genetik Hearing Loss adalah Nonsindromik. Telah dapat diidentifikasikan lebih 110 loci kromosom dan 65 gen (dapat diakses pada http://webhost.ua.ac.be/hhh). Lebih dari 300 macam sindroma yang berhubungan dengan gangguan pendengaran, antara lain yang sering sindroma Pendreds, Ushers dan Teacher Collins yang bersifat autosomal resesif, Waardenburgs (AD atau AR), Malformasi Mondini, vestibularaqueduct enlargement. Studi kasus mendapatkan sebanyak 20,8 % dari 810 anak dengan SNHL (Sensori Neural Hearing Loss). Gejala biasanya tampak setelah lahir dan rata-rata usia dirujuk sekitar 5,8 tahun. Cara yang terbaik untuk mendeteksi kasus gangguan pendengaran prelingual yang tak tampak saat lahiratau sub klinis yaitu dengan melakukan pemeriksaan genetik molekuler dari sampel darah pada bayi. Jenis pemeriksaan yang saat ini telah tersedia adalah tes ketulian GJB2 dan mutasi kondria A1555G. Penemuan kasus pada bayi dengan kecurigaan mendapat gangguan pendengaran penyebab genetik telah dimungkinkan di masa kini melalui teknik DNA sequencing. Diperkirkan

pemeriksaan tersebut akan menjadi trend atau stadart masa depan. Kemajuan ini merupakan langkah penting dalam memberikan kontribusi terhadap penanganan kasus ketulian, sejak lahir dengan lebih baik lagi. Bayi dengan tuli kongenital yang Late-Onset Prelingual Hearing Loss depat segera di identifikasi sejak lahir, baik dengan penyebab genetik ataupun lingkungan. PERKEMBANGAN FUNGSI PENDENGARAN DAN KEMAMPUAN BERBICARA Sesuai dengan usia anak, perkembangannya uditorik sebagai berikut : Usia 0-4 bulan : kemampuan respons auditorik masih terbatas dan bersifat refleks. Dapat dinyatakan bayi keget mendengar suara keras atau terbangun ketika sedang tidur. Respons berupa refleks auropalpebral maupun refleks Moro. Usia 4-7 bulan : respons memutar kepala kearah bunyi yang terletak dibidang horizontal, walaupun belum konsisten. Pada usia 7 bulan otot leher cukup kuat sehingga kepala dapat diputar dengan cepat kearah sumber suara. Usia 7-9 bulan : dapat mengidentifikasi dengan tepat asal sumber bunyi dan bayi dapat memutar kepalanya dengan tegas dan cepat. Usia 9-13 bulan : bayi sudah mempunyai keinginan yang besar untuk mencari sumber bunyi dari segala arah dengan cepat. Usia 2 tahun : pemerika harus lebih teliti karena anak tidak akan memberi reaksi setelah beberapa kali mendapat stimulus yang sama. Hal ini disebabkan karena anak sudah mampu pemperkirakn sumber suara. Perkembangan bicara erat kaitanya dengan tahap perkembangan mendengar pada abayi, sehingga adanya gangguan pendengaran perlu dicurigai apabila : Usia 12 bulan : belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru bunyi Usia 18 bulan : tidak dapat menyebut 1 kata yang mempunyai arti Usia 24 bulan : perbendaharaan kata kurang dari 10 kata Usia 30 bulan : belum dapat merangkai 2 kata Untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran maka diagnosis dini perlu dilakukan. Cara mudah untuk melakukan pemeriksaan pendengaran apabila tidak ada sarana yaitu dengan memberikan bunyi-bunyian pada jarak 1 m di belakang anak : 1. Bunyi pss pss untuk mengambarkan suara frekwensi tinggi 2. 3. 4. 5. 6. Bunyi uh uh untuk mengambarkan frekwensi rendah Suara menggesek dengan sendok pada tepi cangkir (frekwensi 4 KHz) Suara mengetuk dasar cangkir dengan sendok (frekwensi 900 KHz) Suara meremas kertas (frekwensi 6000 KHz) Suara bel (frekwensi 2000 KHz) PEMERIKSAAN PENDENGARAN Deteksi dini gangguan pendengarn bisa dilakukan dengan cara pemeriksaan Subyektif dan Obyektif. Pemeriksaan Subyektif antara lain dengan menggunakan rangsangan akustik (bunyi-bunyian) yang mempunyai intensitas tertentu dan nilai responnya, yaitu dengan gerakan reflek auropalpebral. Pemeriksaan Obyektif dilakukan dengan alat tes elektrofisiologik yaitu Auditory Brainstem Evoked Reponses (ABR) dan Otoacoustic Emission (OAE) maupun pemeriksaan timpanometri. Hal yang penting untuk diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan ini adalah liang telinga harus bersih dan tidak ada kelainan pada telinga tengah.

Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah BOA (Behavioral Observation Audiometry), yaitu dengan melihat perilaku anak terhadap stimulus suara yang diberikan. Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan ini antara lain usia, kondisi mental, kemauan melakukan tes, rasa takut, kondisi neurologik yang berhubungan dengan perkembangan motorik dan persepsi . Penggunaan BOA dan VRA (Visual Reinforcement Audiometry) pada bayi dan anak mempunyai keterbatasan untuk menentukan ambang batas pendengaran yang sahih.

Gambar 1. Uji pendengaran dengan BOA dan respon yang diberikan oleh bayi dan neonatus. Dikutip dari: Nothem 1994 Skrining gangguan pendengaran pada neonatus adalah suatu proses untuk melakukan test yang sederhana dan singkat, untuk mengidentifikasi populasi dengan probabilitas tinggi terjadinya gangguan pendengaran. Terdapat permasalahan yang cukup serius dampaknya dan terdapat prevalensi tinggi di masyarakat. Terdapat bukti kuat bahwa skrining mendapat manfaat yang lebih besar dibandingkan bila kasus terlambat ditemukan secara dini dan segera dilakukan intervensinya dibandingkan bila kasus terlambat ditemukan dan baru disadari kemudian. Pengobatan secara dini harus menunjukkan manfaat yang lebih besar dan dapat mengubah prognosis penyakit. Metode skrining telah dievaluasi, dinyatakan tepat dan dapat digunakan pada sasaran yang dituju. Metode cukup sensitif dan spesifik, prosedurnya dapat diaplikasikan pada 100% dari target populasi, mudah ditoleransi dan bebas dari resiko, dapat terjangkau secara luas, biaya murah, sasaran mudah, pemeriksaan cepat dalam populasi besar. Adanya ketersediaan fasilitas diagnostik dan fasilitas yang cukup untuk implementasi program intervensi dengan tujuan mengoreksi kondisi yang terdeteksi saat skrining dilakukan. Untuk program deteksi dan intervensi dini seharusnya dapat diterapkan pada semua bayi (target populasi) tidak hanya pada yang memiliki resiko tinggi. Penelitian telah dilakukan bila skrining hanya diterapkan pada kelompok resiko tinggi hanya akan mendeteksi 50% dari jumlah bayi dengan gangguan pendengaran. Tidak diragukan lagi bahwa deteksi dan intervensi dini adalah penting untuk semua bayi (Universal New Bom Hearing Screening). Anjuran Skrining pendengaran dilakuakn sejak berbulan-bulan pertama

kelahiran, kemudian di follow up dan diagnosis ditegakkan sampai usia 3 bulan dan selanjutnya masuk dalam program intervensi dalam usia 6 bulan. Dengan kemajuan teknologi masa kini memungkinkan untuk mendeteksi gangguan pendengaran sejak lahir dengan hasil yang dapat dipercaya. Saat ini OAE (Otoacoustic Emission) dan AABR (Automated Auditory Brainstem Evoked Response) merupakan tehnik pemeriksaan baku emas (gold standard) dengan prinsip pemeriksaan cepat, mudah, tidak invasif dengan sensitifitas mendekati 100%. Yang menjadi kendala adalah bahwa sarana ini tidak dimiliki oleh semua rumah sakit provinsi. Auditory Brainstem Evoked Response (ABR) mencatat respon araf auditorius di area sepanjang jalur pendengaran terhadap stimulus akustik. Pemeriksaan ABR merupakan pengukuran elektrofisiologis yang menilai fungsi saraf pendengaran dan area sepanjang jalur pendengaran sampai batang otak. Gelombanggelombang yang dihasilkan pada perekaman ABR ada 7 gelombang, sebagai berikut : Gelombang I : eighth nerve Gelombang II Gelombang III Gelombang IV Gelombang V Gelombang VI Gelombang VII : cochlear nucleus (CN) : superior olivary complex (SOC) : nucleus of the lateral lemnicus (LL) : inferior colliculus (IC) : medial geniculate (MG) : auditory cortex (AC)

Alat pemeriksaan ABR berdasarkan penggunaan klinis digolongkan menjadi 2 tipe yaitu : a) Automated Auditory Brainstem Evoked Response (AABR) Penggunaan AABR pada umumnya dilakukan dengan meletakkan elektroda permukaan pada dahi bagian atas, mastoid dan belakang leher. Stimulus klik (biasanya diatur pada 35dBHL) dikirim kedalam telinga bayimelalui ear phone. Kebanyakan sistem AABR membandingkan bentuk gelombang bunyi dengan cetakan yang dibentuk dari data bayi ABR normative. Berdasarkan perbandingan ini, ditentukan apakah bayi tersebut memberikan respon lulus atau gagal. Apakah sistem komersial yang tersedia, dapat dipakai sebagai suatu alat skrining efektif untuk bayi yang lebih muda dari 6 bulan. AABR memberi hasil lulus / gagal tanpa memerlukan interpretasi, namun cara ini kurang memberi informasi frekwensi yang spesifik. b) Manual Auditory Brainstem Evoked Response Manual ABR pada umumnya dikenal sebagai Automated Auditory Brainstem Evoked Response (ABR) saja, tidak seperti AABR yang menimbulkan respon terhadap suatu klik yang diatur pada 35 dBHL, intensitas stimulus ABR divariasikan untuk menetukan tingkat rendah yang diperlukan untuk menimbulkan respon yang jelas. Hasilnya selain dapat menetukan beratnya ketulian juga dapat menentukan apakah ketulian bersifat sensorineural atau konduktif. Bila menggunakan suatu klik untuk menimbulkan ABR, informasi mengenai sensitifitas pendengaran

dibatasi pada batasan 1000-4000 Hz. Bila perlu, suatu ABR dapat menggunakan tambahan tonus frekwensi rendah (750 Hz) untuk menentukan konfigurasi gangguan pendengaran. Dengan menilai bentuk gelombang dan waktu yang diperlukan mulai saat stimulus diberikan sampai timbul gelombang, dapat memberikan arti klinis mengenai keadaan di jalur saraf pendengaran atau area disekitarnya yang mempengaruhi saraf pendengaran.

Gambar 2. Gambar gelombang ABR

Rekaman ABR yang normal harus ada gelombang I, III dan V dengan puncak yang jelas pada kedua telinga. Gelombang IV pada umumnya menyatu dengan gelombang V. Keterbatasan dengan mendeteksi gangguan pendengaran sejak bayi antara lain disebabkan timbulnya atau manifestasi gangguan pendengaran baru terjadi diusia yang lebih besar, sehingga early-onset hearing loss tidak Nampak. Dalam hal ini The Joint Committee on Hearing telah mengidentifikasi 10 resiko sebagai indicator untuk dilakukan monitoring status pendengaranya, walaupun dalam pemeriksaan sebelumnya dinyatakan normal. Untuk itu JCIH menetapkan faktor resiko untuk kelompok resiko tinggi dengan batas usia 29 hari samapi 2 tahun. Idikator resiko untuk perlunya monitoring progresif-delayed Sensorineural Hearing Loss pada bayi usia 29 hari sampai 2 tahun adalah : 1. Perhatian orang tua yang berupa kecurigaan gangguan pendengaran, gangguan berbicara, berbahasa dandevelopmental delay Riwayat keluarga dengan ketulian masa kanak Stigmata atau sindrome yang diketahui mempunyai hubungan dengan tuli sensorineural atau tuli konduksi Infeksi pasca kelahiran seperti meningitis Infeksi intra uterine eg TORCH dan Sifilis Indikator neonatal seperti hiperbilirubinemia. PPH (presisten pulmonary hypertension), gangguan ventilasi mekanik. Sindrom yang terkait dengan tuli progresif seperti Neurofibromatosis, Osteopetrosis, Ushers Sindrom.

2. 3.

4. 5. 6.

7.

8.

Gangguan neurodegeneratif seperti sindrom Hunter atau gangguan neuropati sensorimotorik atau Ataxia Friedrichs dan Charcot-Marie Tooth sindrom. Trauma kepala.

9.

10. Otitis media yang rekuren atau presisten selama paling tidak 3 bulan.

STRATEGI dan PENCEGAHAN GANGGUAN PENDENGARAN KETULIAN untuk tujuan Sound Hearing 2030 ( Depkes RI )

RENSTRANAS

PGP

WHO SEARO (South Asia Regional Office) pada tahun 2005 telah membentuk suatu organisasi : SOUND HEARING 2030 untuk mengkoordinasikan kegiatan pencegahan gangguan pendengaran di kawasan WHO SEARO. Sound Hearing 2030 (SH 2030) mempunyai misi untuk menurunkan gangguan pendengaran yang dapat dicegah pada tahun 2030 melalui pengembangan sistem pemeliharaan kesehatan yang berkelanjutan. Selain itu Sound Hearing 2030 (SH 2030) juga bertujuan mengurangi gangguan pendengaran yang dapat dicegah sebesar 50% pada tahun 2015 dan 90% pada tahun 2030. Dengan melaksanakan kegiatan SH 2030 diharapkan agar setiap penduduk Indonesia mempunyai hak untuk memiliki derajat kesehatan telinga dan pendengaran yang optimal pada tahun 2030.untuk mewujudkan hal tersebut diatas, pengelolaan program kesehatan indra pendengaran diarahkan pada upaya penaggulangan gangguan pendengaran dan ketulian. Agar tercapai persepsi yang sama dan peningkatan kemampuan pengelola dan pelaksana (lintas program dan lintas sektor) diperlukan kegiatan pelatihan yang berkesinambungan. Sampai saat ini WHO belum memiliki suatu strategi khusus yang bersifat global dalam pencegahan gangguan pendengaran. Namun pada pertemuan Bangkok tanggal 4 5 oktober 2005 WHO SEARO telah membentuk suatu organisasi : SOUND HEARING 2030 untuk mengkoordinasi kegiatan pencegahan ganggun pendengaran di kawasan WHO SEARO. Pada pertemua perdana SOUND HEARING 2030 (SH 2030) pada 4 5 Oktober di Bangkok telah ditetapkan visi, misi dan tujuan SH 2030. Dr Bulantrisna Djelantik (Indonesia) pada pertemuan tersebut ditetapkan sebagai ketua. Visi Sound Hearing 2030 Meningkatkan kesehatan pendengaran yang lebih baik. Misi Sound Hearing 2030 Meniadakan gangguan pendengaran yang dapat dicegah pada tahun 2030 melalui pengembangan sistem pemeliharaan kesehatan yang berkelanjutan. Tujuan Sound Hearing 2030 Mengurangi gangguan pendengaran yang dapat dicegah sebesar 50% pada tahun 2015 dan 90% pada tahun 2030. dan kesejahteraan penduduk Asia Tenggara berkat

Melaksanakan kegiatan SH 2030 diharapkan agar setiap penduduk Indonesia mempunyai hak untuk memiliki derajat kesehatan telinga dan pendengaran yang optima pada tahun 2030. Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, pengelolaan program kesehatan indera pendengaran diarahkan pada upaya penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian. Kesulitan dan hambatan di Negara berkembang yaitu masih terbatasnya infrastruktur kesehatan telinga dan pendengaran dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, penatalaksanaan dan habilitasi / rehabilitasi. Pada tahun 2002 Pemerintah Pusat, telah menyusun Pedoman Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Renstranas PGP Ketulian). Pedoman tersebut memuat 6 strategi Penanggulangan Ketulian yang perlu dilakukan dalam mencapai penurunan angka ketulian. Strategi 4 (empat) yang ada dalam Renstranas PGP Ketulian adalah memperkuat manajemen dan infrastruktur pelayanan dan strategi 5 (lima) meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) dalam rangka penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian. Hasil pertemua WHO SEARO Intercountry Consultation Meeting (Colombo 2002) di Srilanka merekomendasikan prioritas masalah yang harus ditanggualangi (termasuk di Indonesia) adalah : Tuli akibat infeksi telinga tengah (Otitis Media Supuratif Khronikal OMSK), Tuli bawaan / Kongenital, Tuli akibat pajanan bising (Noise Induced Hearing Loss / NIHL) dan Tuli usia lanjut (Presbikusis) serta ganggauan pendengaran lainnya dalam rangka mewujudkan tujuan Sound Hearing 2030. Better Hearing for All (setiap penduduk Indonesia mempunyai hak untuk memiliki derajat kesehatan telinga dan pendengaran yang optimal pada tahun 2030). Program PDH bertujuan melaksanakan pencegahan gangguan pendengaran dan ketulian melalui langkah-langkah kegiatan : 1. Menentukan besaran masalah (magnitude) dan penyebab utama gangguan pendengaran dan ketulian pada populasi tertentu. Mencegah gangguan obat-obatan Ototoksik secara bebas. Menurunkan prevalensi gangguan pendegaran akibat pajanan bising pada kelompok resiko tinggi. Mengembangkan kesehatan telinga dasar ( basic ear care) sebagai bagian Program Pelayanan Kesehatan Dasar di PUSKESMAS. Meningkatkan kegiatan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan pendengaran. Mengembangkan teknologi tepat guna (appropriate technology) untuk pemeriksaan dan penanganan gangguan pendengaran. Mengadakan kerja sama teknis dengan pihak Pemerintah untuk mengembangakan Program Nasional di bidang kesehatan telinga dan pendengaran. Memiliki sistem manajemen dan administrasi untuk suatu program global.

2. 3.

4.

5. 6.

7.

8.

Pernyataan lai dari WHO (Geneva, 2000) juga menyatakan bahwa 50% gangguan pendengaran dapat dicegah (Preventable Deafness) melalui kegiatan Primary Health Center (PUSKESMAS). Pada pertemuan tersebut WHO juga merekomendasikan agar tiap Negara menurunkan Preventable Deafness sampai 50% pada 2010 (Better Hearng 2010). Untuk maksud tersebut Departemen Kesehatan RI telah menyusun Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian untuk mencapai tujuan Sound Hearing 2030, yang akan menjadi pedoman kegiatan pencegahan gangguan pendengaran dan ketulian baik di tingkat Pusat maupun Daerah Berbagai upaya kesehatan telinga / pencegahan gangguan pendengaran (UKT / PGP) sudah dirintis sejak tahun 1989 dengan pembentukan Hearing dan Speech Center di sentrasentra Indonesia sebagai langkah awal untuk program nasional kesehatan telinga di Indonesia. Sejak tahun 2002 di Surabaya juga telah memulai mengikuti program tersebut dengan membuka Pusat Pendengaran dan Komunikasi (Hearing and Communication Center) yang bertempat di poli Audiologi RSU Dr. Soetomo. Dengan demikian diharapkan dapat ikut menunjang upaya dalam menerapkan program deteksi dan intervensi dini dan untuk mencapai tujuanSound Hearing 2030.

Kunjungan penderita profound SNHL di RSU Dr. SOETOMO

DAFTAR PUSTAKA Abiratno SFe. Auditory Brainstem Response (ABR). Dalam makalah Grand Opening Hearing and Communication Center RSUD Dr. Soetomo Surabaya 2002: 1-20. Abiratno SF. Penanganan gangguan fungsi pendengaran dan gangguan perkembangan berbicara pada anak. Seminar Penanganan Gangguan Pendengaran pada Anak. RS Dr Soetomo Surabaya 26-29 maret 2003. Available from http :http:// www.who.int/ pbd/deafness/activities/en/capetown final report.pdf www.who.int/ pbd/deafness/activities/strategies/en/index.html Djelantiek B. Deafness and Hearing Impairmentin SEA Region. Temu konsultasi perumusan trategi nasional penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian (PGPKT). Bogor Juni 2003 Future programme developments for preventionof deafness and hearing impairment. Report of the 4 informal consultation WHO, Geneva, 17 18 Feb 2000. Joint Commite on infant Hearing. Years 2000 Position Statement: Priciple and Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Programs. Pediatrics 2000; 106 (4): 798 814. Kurikulum dan Modul Pelatihan Pengelolaan Program Kesehatan Indera Pendengaran Kabupaten/Kota. Direktorat Bina kesehatan Komunitas. Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat.DEPKES RI, Jakarta. 2006. Mason JA, Herman KR. Universal Infant Hearing Screening by Automated Brainstem Response Measurement. Pediatrics 1999; 101 (2): 221 8. Meyer C, Witte J, Hilman A, Hennceke K, Schunk K, Maul K et al. Neonatal Screening for Hearing Disorder in Infant at risk: Incidence, Risk Factors, and Follow-up. Pediatrics 1999; 104 (4): 900 904. Moeler MP. Early intervention and language devwlopment in children who are deaf and hard of hearing. Pediatrics 2000; 106 (3): 45 52. Morton CC, Nance WE. Newborn Hearing Screening A Silent Revolution. The new England Journal of Medicine 2006; 354: 2151 64. Meyerhoff WL, CArer JB, Scope of the Problem and Fundamental. In; Meyershoff WL, Liston S, Anderson RG Eds. Diagnosis and management of Hearing Loss. Philadephia: WB saunders, 1984; 1 24. Northern JL, Downs M. Behavior Hearing Testing of children. In : hearing in Childern 4 Ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1991: 139 184. Roush J. Screening for Hearing Loss and Otitis Media in Childern. Canada: Singular. Thomson Learning, Inc, 2001. Sirland F, Suwento R (eds). Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993 1996. Depkes RI, 1997. Suwento R, Kadir A, Djelantik B, Zizlavsky S, Hendarmin H: Final Report: WHO-SEA Study ON Infrastructure And Helath Sevices For The Prevention and Control Of Deafness: Indonesian Chapter. Colombo, Dec 17 20, 2002. Suwento, R. hearing Health infrastructure in Indonesia. In Suzuki J, Kobayashi T, Koga K, Eds. Hearing Impairment: An invisibility. Tokyo : Springer; 2004: 45 8.

State of Hearing & Ear Care in South East Asia Region. WHO Regional Office for South East Asia. Smith Aw. Global Perpective On Deafness and Hearing impairment. Presentation at Consultation for Preventation and Control of Deafness and Hearing Impairment in SEA. Colombo, Dec.2002. Yoshinaga-Itano C, Sedey Al, Coulter DK, Mehi Al. Language of Early-and Later-identified Childern With Hearing Loss. Pediatrics 1998; 102 (5): 1161 71. Yoshinaga-Itano C, Gravel JS, The Evidence for Universal Newborn Hearing Screening. Am J Audiol 2001; 10 (2): 62 4.