Anda di halaman 1dari 188

1

PENDAHULUAN
URETRITIS (PRIA)

URETRITIS GO

URETRITIS NON GO

URETRITIS SPESIFIK

URETRIRIS NON SPESIFIK


2

Tanda uretritis
Subjektif:

Nyeri kencing ringan-berat Keluar cairan jernih nanah Riwayat kontak seksual

Objektif:

MUE udem, erithema Ektropion Tampak sekret sromukous-purulent


Basah lekosit > 10 400x Gram lekosit >4 1000x

Laboratorium

Wanita
Cervicitis.
Infeksi Saluran Genital Bawah. Peradangan Rongga Panggul Infeksi Genital Non Spesifik

Infeksi mula asimptomatik


Keluhan bila ada komplikasi Faktor resiko

Pasangan mempunyai IMS Berganti pasangan Pernah menderita IMS PSK Usia Seksual aktif

FLUOR ALBUS
Fluor

albus adalah cairan kental keputihan yang keluar dari vagina dan rongga uterus.

Sinonim : leukorrhea

PATOFISIOLOGI
Tidak semua fluor albus bersifat patologis.
Sekret vagina normal (fisiologis) bersifat :
encer tidak kental, tidak berwarna tidak berbau biasanya terdapat pada forniks posterior dipengaruhi kadar hormon

PATOFISIOLOGI
Lingkungan vagina normal Hubungan dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina, hasil metabolit lain Lacobacillus menghasilkan hidrogen peroksida Toksik terhadap bakteri patogen pH optimal : 3,8 4,2

PATOFISIOLOGI
Sekret vagina abnormal Terjadi perubahan warna dan jumlah, misalnya :
Keputihan disertai rasa gatal Sekret vagina yang bertambah banyak Rasa panas saat kencing Sekret vagina putih dan menngumpal Berwarna putih keabuan atau kuning dengan bau

menusuk

Fluor albus yang patologis dapat disebabkan oleh :


1.

INFEKSI

2.

IRITASI

Bakteri : Chlamydia,Bakterial Vaginosis dan Gonokokus Jamur : Candida Protozoa : Trichomonas vaginalis Virus : virus Herpes dan Human Papilloma virus Sperma, pelicin, kondom Sabun cuci, pelembut pakaian Deodoran, sabun Cairan antiseptik untuk mandi Pembersih vagina Celana ketat Tissue toilet berwawarna

3. 4.

TUMOR ATAU JARINGAN ABNORMAL LAIN RADIASI


10

Tanda Infeksi
Subjektif:

Nyeri kencing ringan-berat Keluar cairan jernih nanah Riwayat kontak seksual

Objektif:

Cerviks udem, erithema Ektropion Tampak sekret seromukous-purulent


Gram lekosit >15 1000x Kuman spesifik

Laboratorium

11

GONORE MENYERANG
PRIA URETRA KEL TYSON KEL COWPER KEL PARAURETRA PROSTAT EPIDIDIMIS TESTIS WANITA CERVIKS BARTHOLIN KEL SKEIN SALPHINX OVARIUM PID

12

CONYUNCTIVA
LARINKS PHARINKS

SENDI
SEPTIKEMIA PERICARD

RECTUM

DISSEMINATA

13

DEFINISI
Semua penyakit disebabkan Neisseria gonorrhoeae, suatu diplokokus gram negatif Umumnya mengenai :

Uretra Endoserviks Rektum Faring Konjungtiva

Penyebaran hematogen : DIG (Disseminated Gonococcal Infection)

14

EPIDEMIOLOGI
350 juta penduduk setiap tahun terinfeksi
Gonore 60 % Infeksi campuran Negara maju Chlamydia> Gonore Cofaktor HIV/ AIDS. Yang mendapat pengobatan dan sembuh sekitar 10 %

15

ETIOLOGI
GRAM NEGATIF
INTRASELULER DIPLOKOKUS

16

STRAIN RESISTENSI.
NGPP (Neisseria Gonorhoeae penghasil penisilinase)
TRNG QRNG ARNG

17

PATOGENESIS
PERLEKATAN (pili dan

protein permukaan) SEL EPITEL MENEMBUS JARINGAN. PMNL MIKRO ABSES PENYEBARAN

18

GEJALA KLINIK
INFEKSI PADA PRIA URETRA PARS ANTERIOR
Tes Thompson

KELUHAN DISURI, URETRAL

DISCHARGE LENDIR KEKERUHAN SAMPAI NANAH


PEMERIKSAAN. MUE : UDEMA, ERITEMA, ECTROPION, DISCHARGE PURULEN

19

INFEKSI PADA WANITA.


60-80% ASIMPTOMATIS. KELUHAN :
VAGINALDISCHARGE

DISURI
INTERMENSTRUAL BLEEDING MENORRHAGIA NYERI PUNGGUNG

20

DIAGNOSIS
Anamnesis, klinis, laboratoris
LABORATORIUM Cat Gram duh tubuh Kultur : Thayer martin/modifikasi TM Tes definitif ( tes Oksidase, Fermentase) Tes NGPP (Beta laktamase, Yodometri, Penisilin discdifusion, Tes Thomson ELISA
Pria : bahan dari duh tubuh uretra/sed.urine/sekret massage prostat Wanita : bahan dari uretra, srviks, muara kel.bartholin, rektum

21

KOMPLIKASI
PRIA Tisonitis Parauretritis Cowperitis : sakit pada perineum, disuri Infeksi uretra pars post vesica urinaria : polakisuri, hematuri Prostatitis : nyeri hebat pd perineum, nyeri saat BAB, febris Vesikulitis Funikulitis Epididimitis : febris, edema, kulit skrotum tanda radang (+) Infertilitas
22

KOMPLIKASI
WANITA Bartholinitis : edema labium mayus (tu. 1/3 bagian bawah), tanda radang akut PRP jaringan parut, tuba infertilitas Salpingitis
Diseminata : Arthritis, myocarditis, endocarditis,

pericarditis, Meningitis dan dermatitis

23

Uretritis :

duh tubuh mukopurulen, nyeri, panas, disuri, polakisuri OUE merah, edema,

Cervisitis : Asimtomatik >> Serviks merah, erosi, sekret mukopurulen Proktitis : (tenesmus, Eritema, sekret/duh tubuh, pruritus perdarahan rektum)

Faringitis : Eritema, eksudat purulen, limfadenopati servikal


Konjungtivitis (gonoblenore) : Sekret / mukopurulen, eritema

Pertimbangkan, efektivitas, dosis tunggal, efek samping, tempat infeksi, resistensi, kemungkinan infeksi C. trachomatis bersamaan

25

Infeksi Anogenital, komplikasi (-)


ANJURAN Siprofloksasin* Tiamfenikol* Ofloksasin* Kanamisin Spektinomisin PILIHAN Seftriakson Sefiksin 500mg/oral dosis tunggal 3,5g /oral dosis tunggal 400mg /oral dosis tunggal 2g intramuskuler dosis tunggal 2g intra muskuler dosis tungga

250mg intramuskuler dosis tunggal 400mg /oral dosis tunggal

*) tak dianjurkan pada anak/remaja


26

Infeksi Anogenital, komplikasi (+)


Dosis tunggal, kemudian dosis berganda selama 7 hari Miningitis, endocarditis dosis sama, 4 minggu

27

Konjungtivitis GO pada Dewasa


ANJURAN Seftriakson 250mg intramuskuler dosis tunggal Spektinomisin 2g intra muskuler dosis tunggal Siprofloksasin 500mg/oral dosis tunggal Ofloksasin 400mg /oral dosis tunggal

28

Konjungtivitis GO pada Neonatus


ANJURAN Seftriakson 50-100mg/KgBB, intramuskuler s/d max. 125mg

PILIHAN Kanamisin 25mg/KgBB intramuskuler s/d max. 75mg Spektinomisin 25mg/KgBB intramuskuler s/d max. 75mg Pantau dalam 48 jam PENCEGAHAN : Sesudah lahir mata dibersihkan tetesi Nitras argensi 1% atau salep tetrasiklin 1% Ibu Go (+) bayi beri Seftriakson 50mg/KgBB, intramuskuler s/d max. 125mg Pilihan : Kanamisin Spektromisin
29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

DR. dr. HANS LUMINTANG,SpKK(K)


Bagian / SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK. Unair / RSU Dr. Soetomo Surabaya
44

URETRITIS NON GONOKOKAL NON GONOKOKAL GENITAL INFEKSI


TANDA KLINIS URETRITIS URETRAL DISCHARGE DISURI GATAL PADA UJUNG URETRA TANDA PATOGNOMONIK DITEMUKANNYA PMNL5 ATAU LEBIH PADA PRIA PMNL 15 ATAU LEBIH PADA WANITA. TIDAKJ DITEMUKAN N.GONORRHOEA
45

SPESIFIK PENYEBAB:

Chlamydia trachomatis. Ureaplasma urealyticum Trichomonas vaginalis Jamur Herpes Simplex Adenovirus Haemophilus sp Bacteriodes urealyticum NON SPESIFIK
46

47

PENDAHULUAN
Chlamydia trachomatis terdiri dari 15 serovars : A, B, Ba, C : penyebab trachoma D, E, F, G, H, I, J, K : penyebab infeksi saluran genital,conjungtivitis, pneumonia infantile L1, L2, L3, penyebab LGV (Limfogranuloma venereum)

48

EPIDEMIOLOGI
Th. 1997 : > 500.000 kasus (200/100.000 penduduk)
Amerika Serikat : 3-4 juta kasus/tahun WHO: 90 juta kasus

49

PENYEBAB
Chlamydia trachomatis serovar D,E,F,G,H,I,J Mempunyai dinding sel dan membran sel Sitoplasma mengandung DNA & RNA Multiplikasi hanya pada sel (intraseluler obligat) Membentuk inklusi dalam sitoplasma Antigen : MOMP (mayor outer membrane protein), lipopolisakarida, HSP (heat shock protein) Menyebabkan respon imun : pembentukan antibodi dan imunitas seluler

50

CHLAMYDIA TRACHOMATIS.
Proses masuk kedsalam sel :
1. 2. 3.

4. 5.

Elementari Bodi melekat dalam sel Masuk kedalam sel Berfubah menjadi retikulate bodi (bertumbuh dan berkembang biak) Berubah menjadi Elementari bodi Dilepaskan untuk menginfeksi.

51

INFEKSI CHLAMYDIA PADA PRIA


Simptomatik : 25% kasus Gejala lebih ringan dari gonore
discharge uretra Dysuria Epididymitis prostatitis.

Bisa menyebabkan infertilitas Inkubasi :7-21 hari

52

INFEKSI CHLAMYDIA PADA PRIA


Pria dg NSU (non spesific uretriris) : 30-50% karena Chlamydia Sering ko-infeksi dengan Gonorrhoe (15-35%) 80% menjadi Reiters syndrome

Uretritis Arthritis / atralgia Lesi mukokutaneus Conjungtivitis +/- gx sistemik : panas, myalgia, anoreksia, BB turun

53

54

55

BENTUK KLINIK LAIN


EPIDIDYMITIS
PROSTATITIS PROCTITIS REITER SYNDROM

56

INFEKSI CHLAMYDIA PADA SAL GENITAL WANITA


Sering asimptomatik : 60-80% Gejala :

vaginal discharge purulent servicitis mukopurulen nyeri perut bawah post coital/intermenstrual bleeding Dysuria pelvic inflammatory disease (PID)

Bisa menyebabkan kehamilan ekstra uterine (KET),

infertilitas, cervical celluler atypia

57

CERVICITIS
Menyerang epitel silindris serviks Sulit dibedakan dengan proses inflammasi lain pada serviks Gejala :

discharge mukopurulent hypertrophic ectopia postcoital bleeding spotting

Kriteria dugaan cervicitis :


hapusan serviks PMN > 15 plp eritema, edema, mudah bleeding

C. trachomatis serotype G bisa berkembang menjadi squamous

cell carcinoma (SCC)

58

INFEKSI CHLAMYDIA TRACHOMATIS GENITALIA WANITA

59

BENTUK KLINIK LAIN


BARTHOLINITIS
ENDOMETRITIS SALPINGITIS PERIHEPATITIS

60

PELVIC INFLAMMATORY DISEASE (PID)


Merupakan komplikasi yang berat dari infeksi saluran

genital bagian bawah. Klinis bervariasi :


endometritis subklinis Salpingitis peritonitis pelvis Periapendisitis perihepatitis

Diagnosis dengan :
laparoskopi (gold standart) biopsi endometrium

61

PELVIC INFLAMMATORY DISEASE (PID)


Kriteria minimum diagnosis PID : Lower abdomen tenderness Bilateral adnexal tenderness Cervical motion tenderness No evidence of competeting dx (pregnancy, acute appendicitis)

62

INFEKSI CHLAMYDIA PADA BAYI BARU LAHIR (PNEUMONIA INFANTILE)


Infeksi didapatkan dari ibu Ada 2 macam : A. Chlamydial pneumonia

Biasanya tidak panas Batuk seperti pertusis, sputum + X-ray : infiltrat interrtitial simetris Laboratorum : eosinophilia, hypergamaglobulinemia, IgM Jika mungkin dilakukan : aspirasi trakea , biopsi paru

B. Inclusion-particle conjunctivitis
Dapat diisolasi dari bayi yg menderita blennorrhea : 15-20% Konjungtivitis tampak 5-15 hari, sering unilateral Kelopak mata edema dan mengalami peradangan disetai sekret supurative

63

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI CHLAMYDIA


DETEKSI CHLAMYDIA : Kultur sel DFA (Direct Fluorescent Antibody Assays) EIA (Enzyme Immunoassays) RNA-DNA hybridzation (PCR dan LCR) SEROLOGI : Microimmunofluorescence (MIF) ELISA (Enzyme-lnked Immunosorbent assay) IgM, IgA, IgG
64

65

66

Bakterial Vaginosis (BV)


DEFINISI :
BAKTERIAL VAGINOSIS MERUPAKAN KEADAAN KLINIK DENGAN KELUHAN PENINGKATAN SEKRESI VAGINA DAN BAU YANG TIDAK ENAK.

67

PENYEBAB
4 bakteri vagina :
Gardnerella vaginalis Bacteroides sp. Mobiluncus sp. Mycoplasma hominis

68

PATOGENESA
TERJADI PERGANTIAN NORMAL FLORA (LACTO BACILUS SPP) TERGANGGUNYA EKOSISTEM. H2O MENGHILANG SUSANA ANEROB. PERUBAHAN PH MENJADI ALKALI. PRODUKSI AMINE WHIFF TEST (KOH 10 %)

69

Masa inkubasi : beberapa hari s/d 4 minggu KELUHAN DAN GEJALA


tanda-tanda peradangan sedikit sekali >50% wanita asimtomatik didapatkan duh tubuh vagina yang homogen,

tipis, cair dan berbau amis seperti bau ikan bau bertambah setelah melakukan hubungan seksual duh tubuh vagina melekat pada dinding vagina dan vestibulum

70

71

Laboratorium :
Sekret vagina berbau amis jika diteteskan KOH 10% (whiff test / tes amin positif) pH duh tubuh vagina > 4,5 (4,7-5,7) Mikroskopis :
sediaan apus dengan pewarnaan gram atau

sediaan basah clue cells clue cells 20% pada sel epitel leukosit normal < 15/lp.
72

73

Diagnosis
Didapatkan 3 dari 4 tanda-tanda berikut (Amsel, 1983) : Cairan vagina homogen,putih / keabu-abuan pH duh tubuh vagina > 4,5 Duh tubuh vagina berbau seperti ikan sebelum atau sesudah penembahan KOH 10% (Whiff test +) Clue cells

74

Komplikasi
WANITA HAMIL : Ketuban pecah dini Lahir prematur Bayi berat lahir rendah

75

Penatalaksanaan
Metronidazol 400 atau 500 mg 2 x 1 (7hari) Metronidazol 2 gram po dosis tunggal Klindamisin 300 mg po 2 x 1 (7hari) Metronidazol gel 0,75% - 1 aplikator (5 gr) intravaginal

(2 kali sehari selama 5 hari) Klindamisin krim 2% - 1 aplikator (5 gr) intravaginal (sebelum tidur selama 7 hari)
76

77

DEFINISI
INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH TRICHOMONAS VAGINALIS.
Trichomonas vaginalis Berbentuk ovoid ukuran 10-20 mmikron , mempunyai 4 flagella dengah pergerakannya Melakukan perlekatan pada selaput lendir Bersifat anaerobik.

78

PATOGENESIS
INFEKSI YANG PALING BANYAK PADA SALURAN GENITO

URINARI. WANITA TERBANYAK PADA VAGINA. BISA PADA URETRA DAN KEL SKENE. ISOLASI PADA KANDUNG KENCING PRIA BANYAK DI-URETRA. GEJALA BISA ASIMPTOMATIS, GEJALA RINGAN, SAMPAI AKUT DAN PERADANGAN HEBAT. SEKRESI BANYAK MENGANDUNG PMNL BAU KHAS SEPERTI IKAN AMIS.

79

Wanita > Pria (asimptomatis)


Penularan Sexual dan Non Seksual Transmisi non venereal pada bayi Bertahan selama 45 menit di Toilet, bak air.

80

Pada WANITA

Masa inkubasi : 5 28 hari Keluhan dan Gejala Simptom (20%-50%). keluhan dan gejala :
sekret vagina

sedikit sampai banyak encer kuning / kehijauan berbusa (10% - 30%) klasik berbau. Vulvitis dan vaginitis. bila jumlah kuman banyak sekali strawberry cervix (2%) rasa tidak enak di perut bagian bawah.
81

Pada PRIA
Keluhan dan Gejala : sering asimtomatik. sebagai pasangan seksual wanita yang terinfeksi keluhan dan gejala :
+ duh tubuh uretra (50% - 60%) :

jarang purulen jumlah sedikit atau sedang Uretritis (disuria, iritasi uretra, sering miksi) Prostatitis Epididimitis Tidak ada gejala sama sekali / gambaran klinis ringan

82

83

84

Strawberry Cervix
85

Laboratorium

Pada wanita : pH sekret vagina > 5 Tes amin / whiff test dapat positif Mikroskopis (sediaan basah) : tampak Trichomonas vaginalis dengan pergerakan flagela yang khas Dapat ditemukan clue cells karena biasa didapatkan bersamaan dengan BV

Pada pria : Sedimen urin : Trichomonas vaginalis Scraping dinding uretra


86

87

88

Penatalaksanaan :
Metronidazol 2 x 500 mg po (7 hari)
atau

2 gram po dosis tunggal Pasangan seksual harus diobati Pada kehamilan :


Seluruh masa kehamilan :

Metronidazol 2g po dosis tunggal

89

Komplikasi
Wanita hamil : Partus prematur Bayi Berat Lahir Rendah

90

91

Kandidiasis vulvovaginalis (Kandidosis vulvovaginitis) - KVV


PENYEBAB :

Candida albicans (terutama) C. glabrata (kadang-kadang) Lain - lain :


C. tropicalis C. stellatoidea

C. pseudotropicalis
C. krusei

92

KVV :
Infeksi oportunistik

>>> penderita immunocompromise


>>> mulut, kolon, kuku, vagina, anorektal

Faktor predisposisi / faktor risiko : Hormonal kadar karbohidrat (DM) Pemakaian antibiotika jangka panjang suhu dan kelembaban Imunosupresi Iritasi / trauma
93

Keluhan dan Gejala :


Gatal / panas / iritasi pada vulva (vulva lecet) Eritema Edema Maserasi Pseudomembran Dapat timbul fisura Terdapat lesi satelit papulopustuler Tidak berbau Sekret vagina : seperti kepala susu / krim (banyak) seperti susu pecah (bila sedikit dan cair) pada dinding vagina biasa dijumpai gumpalan seperti keju (cottage cheese). tidak berbau / berbau asam
94

95

Balanitis
96

97

98

99

Laboratorium
PH duh tubuh vagina 4,5 Tes amin / Whiff test : negatif Mikroskopis (pengecatan gram dan KOH 10%) :

bentuk ragi : blastospora bentuk lonjong pseudohifa seperti sosis panjang bersambung hifa asli bersepta (kadang-kadang)

100

101

102

Penatalaksanaan
Medikamentosa : Mikonazol atau Klotrimazol 200 mg intravaginal, setiap hari selama 3 hari Atau Klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal Atau Flukonazol 150 mg po dosis tunggal Atau Itrakonazol 200 mg po 2 kali sehari selama 1 hari Atau Nistatin 100.000 IU intravaginal setiap hari selama 14 hari
103

Penatalaksanaan

Non medikamentosa : Hindari bahan iritan lokal

(misal : produk berparfum) Hindari pakaian ketat atau dari bahan sintetis Hilangkan faktor predisposisi

104

105

Ulkus mole : penyakit infeksi genital akut, setempat , auto-inoculable , disebabkan Haemophilus ducreyi, dengan gejala klinis khas ulkus pada tempat masuk, seringkali disertai supurasi KGB regional.
106

ETIOLOGI
H. ducreyi
merupakan bakteri gram negatif, anaerobik fakultatif, bentuk batang pendek , ujung bulat, tidak bergerak,

tidak membentuk spora memerlukan hemin untuk pertumbuhannya.

107

PATOGENESIS
Trauma / abrasi
Kuman menginfeksi

Penetrasi pd epidermis Limfa Limfadenitis Inflamasi Supurasi


108

GAMBARAN KLINIS

Masa inkubasi 1- 5 hari. Awal : makula atau papul pustula pecah ulkus yang khas. Sifat ulkus : multipel, lunak, nyeri tekan, dasarnya kotor dan mudah berdarah, tepi ulkus menggaung, kulit sekitar ulkus berwarna merah

109

PREDILEKSI
pria : di daerah preputium, glans penis, batang penis,

frenulum dan anus wanita : vulva, klitoris, serviks dan anus. Pembesaran kelenjar limfe inguinal tidak multipel, terjadi pada 30% kasus yang disertai radang akut. Kelenjar melunak pecah sinus (sangat nyeri disertai febris).

110

Variasi bentuk klinis


Giant Chancroid : ulkus hanya satu , cepat meluas, bersifat destruktif. Transient chancroid : ulkus kecil, sembuh sendiri setelah 4-6 hari, disusul perlunakan kelenjar limfe inguinal 10-20 hari kemudian. Ulkus mole serpiginosum : terjadi inokulasi dan penyebaran dari lesi yang konfluen pada preputium, skrotum dan paha. Ulkus bertahan bertahun-tahun.

111

Ulkus mole gangrenosum : varian yang disebabkan super infeksi dengan bakteri fusosprikhetosis, menimbulkan ulkus fagedenik. Dapat menyebabkan destruksi jaringan yang cepat dan dalam. Ulkus mole folikularis (follicularis chancroid) : pada folikel rambut, terdiri atas ulkus kecil multipel. Dapat terjadi di vulva atau pada daerah genitalia yang berambut. Lesi ini sangat superfisial. Ulkus mole papular (ulcus molle elevatum) : papul berulserasi dan granulomatosa. DD/ : donovanosis atau kondiloma lata sifilis stadium II.
112

LABORATORIUM

Pemeriksaan langsung bahan ulkus pewarnaan gram. Positif jika ditemukan kelompok basil yang tersusun seperti barisan ikan.
Kultur pada media agar coklat, agar Muller Hinton atau media yang mengandung serum dengan vancomysin. Positif bila kuman tumbuh dalam waktu 2-4 hari (dapat sampai 7 hari).

113

Tes serologi Ito-Reenstierna ( 0,1 ml antigen disuntikan intradermal pd kulit lengan bawah ) Positif bila setelah 24 jam atau lebih timbul indurasi yang berdiameter 5 mm.

Tes ELISA dengan menggunakan whole lysed H. ducreyi. Tes lain yang dapat digunkan adalah tes fiksasi komplemen, presipitin dan aglutinin.

114

DIAGNOSA
Anamnesa
Gejala klinik yang khas Pemeriksaan langsung bahan ulkus

yang diberi pewarnaan gram.

115

DIAGNOSA BANDING

Sifilis I Ulkus mikstum

Pedikulosis pubis Tuberkulosis kutis

Herpes genitalis
Aphthae Skabies Piodermi

Amobeasis kutis
Dermatitis EEM Epidermoid Ca
116

PENYULIT
Adenitis inguinal
Fimosis atau Parafimosis

Fistel uretra
Fistel rektovagina

117

PENATALAKSANAAN

Pengobatan sistemik
Azithromycin 1 gr, oral, single dose Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi intra muscular Siprofloksasin 2 x 500 mg selama 3 hari Eritromisin 4 x 500 mg selama 7 hari Amoksisilin + asam klavunat 3 x 125 mg selama 7 hari Streptomisin 1gr sehari selama 10 hari Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 7 hari
118

PENATALAKSANAAN
Pengobatan lokal

Kompres dengan larutan normal salin ,

2 kali sehari selama 15 menit


Aspirasi abses transkutaneus untuk bubo

berukuran 5 cm dengan fluktuasi ditengahnya

119

120

Difinisi
Kelaina kulit berupa vegetasi bertangkai dengan

permukaan berjonjot yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus) Bersifat jinak ,superfisial terutama didaerah genital.

121

Etiologi
HPV gol Papova Virus virus DNA
Telah dikenal 80 tipe. Tipe yang menyebabkan kondiloma: 6,11,16,18,30,31,33,35,39,41,42,44,51,52 dan 56 Tipe 16 dan 18 erat hubungannya dengan Ca servik Penularan: secara langsunghub. Seks

tidak langsung: kolam renang

122

Epidemiologi
Penyebaran bersifat kosmopolit higiene memegang peranan Lingkungan lembab dan basah mempermudah timbulnya penyakit ini. Biasanya diikuti infeksi penyakit lain: trikomoniasis, kandidiasis, dan infeksi genetal non spesifik. Laki-laki= Wanita (insiden tinggi pada seksual aktif, usia 17-33 th)

123

Patogenesis
HPV replikasinya tergantung pada adanya diferensiasi epitel skuamosa virus pada lapisan terbawah, protein kapsid dan virus infeksius pada lapisan superfisial sel yangberdiferensiasi.
Lap. Basalis tempat yang diinvasi mikroabrasi mukosa Fase laten: tanpa gejala sebulan setahun Inkubasi: 3 minggu- 8 bulan

124

Predileksi
Terutama didaerah lipatan
Laki-laki: perineum dan sekitar anus, sulcul

coronarius, glan penis, muara urethra eksterna,korpus dan pangkal penis. Wanita : vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang porsio uteri.

125

Gambaran Klinis
Awal : papul jarum pentul papilomatosa seperti bunga kol Jika mendapat tekanal bilateral pipih seperti jengger ayam. Disertai Fluor albus Hamil estrogen tinggi kelembaban tinggi dan vaskularisasi meningkat pertumbuhan cepat Kadang disertai: panas, gatal, nyeri dan mudah berdarah
126

Pemeriksaan Penunjang
Tes Asam Asetat (acetowhite)sensitifitasnya

tinggi terutama untuk C.acuminata dan infeksi HPV subklinis. Cara: As. Asetat 3-5% dioleskan pada lesi dengan lidi kapas tunggu 5-10 menit perubahan warna putih. Pemeriksaan Histopatologi

127

Diagnosis Banding
Veruka vulgaris: vegetasi tidak bertangkai, kering

berwarna abu-abu atau sama dengan kulit. Kondiloma lata: sifilis std II plakat erosif, banyak spirochaeta pallidum permukaan lebih halus, bentuk lebih bulat. Karsinoma sel skuamosa: vegetasi seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau.

128

Penatalaksanaan
Penatalaksaan Umum: Jaga kebersihan , berhubungan seks dengan memakai kondom Penatalaksanaan khusus Kemoterapi: podofilin 25%, TCA 50%, %Fluorourasil 1-5% Imunoterapi: Interferon, Imiquimod krim 5%. Pembedahan: bedah scalpel, bedah beku, Bedah laser.
129

Komplikasi
Perubahan displasia terhadap daerah sekitarnya
Transformasi kearah malignansi genitourinaria Penularan ke janin atau pasangan seksual

130

Prognosis
Sering residif tapi prognosisnya baik
Pada wanita dengan sistem imun yang kurang

persisten kondiloma, dapat juga menjadi displasia vulva, vagina, atau serviks.

131

Sinonim
LGV dikenal juga sebagai: 1. Limfogranuloma inguinale 2. Limfogranuloma tropikum 3. Limfopatia venereum 4. Tropical bubo 5. Climatic bubo 6. Strumous bubo 7. Paradenitis inguinalis 8. Durand Nicolas Favre disease
132

EPIDEMIOLOGI
Bersifat sporadis tropik dan sub-tropik Sering dijumpai didaerah rural sosial ekonomi

rendah Dijumpai di usia 20-40 th Laki-laki : Wanita = 5:1 Lesi primer laki-laki penis kel. Limfe inguinal Wanita : intravaginal/servikal intrapelvik, anus atau rektal.

133

GEJALA KLINIS

GEJALA KLINIS

Ada 2 stadium yaitu : 1. Stadium dini


lesi primer di genital sindrom inguinal

2. Stadium lanjut
Sindroma anorektal Esthiomen (elefantiasis genetal)

134

Lesi primer Setelah masa inkubasi 3-12 hari, tidak khas (erosi, papul, ulkus dangkal tdk sakit sembuh sendiri, tanpa jaringan parut) Lokasi (pria): sulcus coronarius frenulumpreputiumbatang penis uretrascrotum, dapat disertai limfangitis dan abses-abses kecil bag dorsal penis bubonuli Lokasi (wanita): dindind post vaginaporsio post servik vulva Lesi ekstragenital terjadi pada mulut, jari, anus dan rektum.

135

Sindrom inguinale Timbul beberapa hari sampai beberapa minggu

setelah lesi primer menghilang. Kelenjar limfe inguinal membesar, padat dan nyeri berlekatan dengan sekitarnya(bentukan paket memanjang). Pembesaran kelenjar diatas dan dibawah lig inguinal pauparti celahsign of groove. Pembesaran kelenjar femoral, inguinal superfisial dan profundus menyebabkan bentuk seperti tangga ettage bubo. Laki-laki > sering, pada wanita lesi primer umumnya terletak lebih dalam drainase kearah kelenjar limfe di daerah pelvis. Menyebabkan terjadinya fistel di inguinal sembuh parut
136

Pemeriksaan penunjang
Pengecatan Giemsa badan inklusi Chlamydia
Tes Serologi : CFT (Complement Fixation Test) RIP (Radio Isotop Presipitation) Kultur jaringan yolk sac embrio ayam

137

138

139

140

141

142

Definisi
Infeksi pada genital dan sekitarnya
Herpes simplex virus (HSV) Vesikel / erosi / ulkus dangkal berkelompok diatas

dasar eritematosa Sering kambuh

143

Penyakit menular seksual , perlu perhatian:


Sukar sembuh Sering rekuren Transmisi virus dapat terjadi dari penderita asimtomatik Pengaruh terhadap kehamilan dan bayi/janin dalam

kandungan Pengaruh pada penderita imunokompromais Dampak kejiwaan

144

Etiologi
Herpes simplex virus (HSV) Unna (1883) , penyakit menular melalui hubungan

seksual Sharlitt (1940), membedakan HSV1 dan HSV 2 Sebagian besar penyebab adalah HSV 2, bisa juga HSV 1 (16,1%) karena hubungan seksual orogenital, penularan melalui tangan

145

Herpes simplex virus


HSV 1:
Kontak non seksual 50-100% populasi dewasa 80% infeksi orolabial, 20% genital

Awal kehidupan

HSV 2:
Kontak seksual 5-95% populasi dewasa 80% genital, 20% orolabial Periode seksual aktif
146

Epidemiologi
Peningkatan insiden herpes genitalis

147

Patogenesis
Terpajan HSV dapat terjadi infeksi: Episode I infeksi primer (inisial) Episode I non infeksi primer Infeksi rekuren Asimtomatik Tidak terjadi infeksi

148

Primary infection Clinically overt infection Recurrent infection

Asymptomatic infection

LATENCY

LATENCY

Reactivation
ERIK LYCKE Scand J Infect Suppl. 78: 7-14, 1991

149

Episode I infeksi primer


Virus ->tubuh hospes
Terjadi penggabungan dengan DNA hospes Mengadakan multiplikasi/replikasi -> kelainan di

kulit Antibodi spesifik belum ada Lesi luas, gejala konstitusi berat Virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion sakralis, berdiam serta bersifat laten
150

Episode I non infeksi primer


Infeksi sudah lama berlangsung, gejala klinis
Antibodi spesifik + Kelainan tidak seberat episode I dengan infeksi primer

151

Infeksi rekuren
Faktor pencetus +
Virus mengalami reaktivasi dan multiplikasi kembali -

> infeksi rekuren Antibodi spesifik + Kelainan tidak berat

152

Faktor pencetus
Trauma Koitus berlebihan Demam Gangguan pencernaan Stres emosi Kelelahan Makanan yang merangsang Alkohol Obat-obatan ( imunosupresif, kortikosteroid)
153

Infeksi rekuren
Pendapat terjadinya : Faktor pencetus -> reaktivasi virus dalam ganglion. Virus turun melalui akson saraf perifer ke sel epitel kulit yang disarafinya, mengalami replikasi, multiplikasi-> lesi Virus terus menerus dilepaskan ke sel-sel epitel. Pencetus + ->kelemahan setempat -> lesi rekuren

154

Gejala klinis
Masa inkubasi berkisar 3-7 hari , lebih lama.
Manifestasi klinis dipengaruhi :
Faktor hospes Pajanan terdahulu dengan HSV Episode terdahulu Tipe virus

Gejala dapat berat dapat asimtomatik, penelitian retrospektif 70% infeksi HSV 2 asimtomatik

155

Gejala klinis Rasa terbakar, gatal daerah lesi (beberapa jam sebelum
lesi +) Setelah lesi timbul, gejala konstitusi (malaise, demam, nyeri otot) Vesikel berkelompok, mudah pecah -> erosi multipel, dasar eritem Infeksi sekunder - -> sembuh 5-7 hari, jaringan parut -

156

Gejala klinis
Infeksi inisial Lebih berat, lebih lama Kelenjar limfe regional membesar,nyeri Penyembuhan lama -> 2-4 minggu, serangan berikut lebih cepat Dapat terjadi disuria ( lesi di daerah uretra, periuretra), dapat retensi urin Infeksi di servix -> perubahan difus, ulkus multipel, ulkus besar dan nekrotik. Dapat tanpa gejala.

157

Gejala klinis
Infeksi rekuren Dapat terjadi cepat atau lambat Gejala lebih ringan Nyeri, gatal +, gejala prodromal + Lesi bersifat lokal Penyembuhan lebih cepat 2minggu Antibodi spesifik +

158

Gejala klinis
Tempat predileksi: Pria :

Preputium, glans penis,batang penis, uretra, daerah anal. Daerah skrotum jarang Labia mayor/minor, klitoris, introitus vagina, servix Perianal, bokong, mons pubis jarang

Wanita:

159

Gejala klinis
Herpes genitalis atipikal Wanita:

Manifestasi yang tidak khas, bentuk fisura, furunkel, ekskoriasi, eritema vulva nonspesifik Rasa gatal, nyeri +

Pria: Fisura liniar pada preputium, bercak merah di glans penis Lesi ektragenital : paha, bokong, sela paha sering pada

wanita daripada pria.

160

Herpes genitalis pada kehamilan


Hamil , timbul herpes genitalis -> perlu perhatian Virus -> plasenta sampai sirkulasi fetal -> kerusakan, kematian janin Infeksi neonatal , angka mortalitas 60%. Separo yang hidup cacat neurologis, atau kelainan mata Ensefalitis, mikrosefali, hidrosefali, koroidoretinitis, keratokonjunctivitis, hepatitis, lesi kulit Transmisi trimester I -> abortus, trimester 2 -> prematur, transmisi intrapartum
161

Herpes genitalis pada imunodefisiensi


Kelainan cukup progresif -> ulkus dalam didaerah

anogenital Lesi lebih luas Imunodefisiensi tidak berat -> rekurensi lebih sering, kesembuhan lama

162

Komplikasi
Paling ditakuti -> pada bayi baru lahir
Awal kehamilan -> abortus / malformasi kongenital

(mikrosefali) Bayi lahir, ibu herpes genitalis -> hepatitis, infeksi berat, ensefalitis, keratokonjuntivitis, erupsi kulit, lahir mati

Meningitis herpetika -> HSV 2 Ensefalitis -> HSV1

Perluasan lokal, penyebaran virus ektragenital

163

Diagnosis
Klinis : Kelompok vesikel multipel, riwayat lesi yang sama sebelumnya Nyeri Diagnosis banding: Ulkus karena Treponema pallidum, Ulkus karena Haemophylus ducrey Penyebab non infeksi

164

Lab. diagnostiK HSV


Kultur: Gold standard Tidak dapat membedakan HSV1- HSV2

Deteksi antigen:
Deteksi partikel virus:

Tes imunofluoresensi langsung


Tes imunoperoksidase ELISA PCR Mikroskop elektron Tes serologi HP/cytology Dapat membedakan HSV1- HSV2 Tidak dapat membedakan Tidak dapat membedakan
165

Deteksi antibodi: Cito dan patologi:

Diagnosis
Paling sederhana, tes tzank, cat giemsa -> sel raksasa inti banyak Mikroskop elektron -> kelompok virus herpes tak dapat dibedakan Kultur jaringan -> cara paling baik. Titer virus tinggi, hasil positif dalam 24-48 jam. Lama dan mahal Tes mendeteksi antigen HSV -> lebih cepat
Secara imunologik: imunofluoresen,

imunoperoksidase, ELISA
166

Diagnosis
Pemeriksaan ELISA, menentukan adanya antigen HSV. Sensitivitas 95%, sangat spesifik. Waktu 4,5 jam. Dapat untuk deteksi antibodi terhadap HSV dalam serum Imunoperoksidase tak langsung, imunofluoresensi langsung memakai antibodi poliklonal ->hasil positif dan negatif palsu. Antibodi monoklonal pada imunofluoresensi -> menentukan tipe virus Imunoflouresensi tak langsung kerokan lesi, sensitivitas 78-88%
167

Penatalaksanaan
Tujuan:
Mencegah infeksi ( terapi profilaksis) Memperpendek masa sakit dan kekerapan komplikasi

infeksi primer Mencegah terjadi latensi dan rekurensi klinis setelah episode pertama Mencegah rekurensi pada yang asimtomatik Mengurangi transmisi penyakit Eradikasi infeksi laten

Saat ini beberapa tujuan saja yang bisa dipenuhi


168

Pengobatan profilaksis
Penerangan sifat penyakit, dapat menular bila sedang

serangan -> abstinensia Proteksi individual, digunakan alat perintang dengan busa spermisidal dan kondom . Menghindari faktor pencetus Konsultasi psikiatrik , stres -> serangan

169

Pengobatan non spesifik


Nyeri dan gejala lain dengan analgetika, antipiretik

dan antipruritus Zat pengering antiseptik, yodium povidon mengeringkan lesi, mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder

170

Pengobatan spesifik
Infeksi inisial / episode pertama: Asiklovir 200 mg per oral, 5 kali sehari, selama 7 hari Atau Valasiklovir, 500 mg per oral, 2 kali sehari selama 7 hari Mengurangi pembentukan lesi baru, mengurangi lama nyeri, mengurangi waktu penututupan luka, perkembang biakan virus. Tidak mempengaruhi perjalanan penyakit

171

Pengobatan
Infeksi rekuren Asiklovir, 200 mg per oral, 5 kali sehari, selama 5 hari Atau Valasiklovir, 500 mg per oral, 2 kali sehari, selama 5 hari Atau keadaan ringan, krim asiklovir. Pengobatan dilakukan sejak masa prodromal atau dalam 1 hari setelah timbul lesi. Pengobatan memperpendek waktu lesi genital

172

Pengobatan
Supresif: Asiklovir, 400 mg per oral, 2 kali sehari, secara terus menerus. Atau valasiklovir, 500 mg per oral, sekali dalam sehari Pengobatan akan menurunkan frekuensi kambuhan. Pengobatan ini mengurangi tetapi tidak menghentikan perkembang biakan virus yang asimtomatik

173

Pengobatan
Penyakit dengan gejala berat: Asiklovir, 5-10 mg per kg BB, intravenus berikan setiap 8 jam, selama 5-7 hari atau sampai tercapai perbaikan klinis

174

Pengobatan
Masa kehamilan:
Episode pertama infeksi primer, asiklovir oral Persalinan pervaginam, ibu herpes genital -> resiko

tertular herpes neonatal (saat akan dilahirkan) Ibu dengan infeksi rekuren -> bayi resiko tertular rendah Anamnesa, pemeriksaan fisik baik -> indikasi cs Bayi dari ibu dengan ulkus genital aktif/ kultur virus + > isolasi, observasi cermat. Spesimen dari lesi ibu, lakukan kultur virus 24-48 jam stl lahir Asiklovir, tidak kontraindikasi mutlak untuk wanita hamil
175

Pengobatan
Neonatus: Asiklovir, 10 mg per kg BB, intravenus 3 kali sehari, selama 10-21 hari

176

Pengobatan
Ko- infeksi HIV: Dapat terjadi ulserasi kulit dan mukosa persisten dan atau berat -> area luas Lesi sangat nyeri, atipis Respon dengan asiklovir +, dosis dinaikkan periode lebih lama Asiklovir 400 mg per oral 3-5 kali perhari sampai resolusi +

177

178

179

180

181

182

183

184

185

186

187

188