Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH IBU NIFAS DENGAN HIV/AIDS BAB I PENDAHULUAN I .

LATAR BELAKANG AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia, yang mana virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun. Infeksi dapat terjadi kapan saja . Meminum air susu dari ibu yang terinfeksi dapat juga mengakibatkan infeksi pada si bayi. Ibu yang HIV-positif sebaiknya tidak memberi ASI kepada bayinya. Seseorang yang terinfeksi HIV perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menderita AIDS. Ibu hamil bisa tertular HIV melalui hubungan seksual dengan pasangan/suami pengidap HIV, dapat juga melalui transfusi darah yang terinfeksi HIV, atau penggunaan obat-obat terlarang melalui jarum suntik. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkannya pada bayi yang dikandungnya melalui plasenta pada masa kehamilan, pada saat proses persalinan, serta melalui ASI pascapersalinan. Pemberian ASI adalah mekanisme penularan utama pada periode pascapersalinan. Risiko penularan vertikal dari ibu ke janin berbanding lurus dengan konsentrasi virus dalam darah ibu (maternal viral load). II. IDENTIFIKASI MASALAH 1. Bagaimana pengkajian pada ibu nifas dengan HIV/AIDS? 2. Bagaimana interpretasi data pada ibu nifas dengan HIV/AIDS? 3. Diagnosa potensial apa yang bisa terjadi pada ibu nifas dengan HIV/AIDS? 4. Apa tindakan segera yang boleh dilakukan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS ? 5. Apa saja perencanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS ? 6. Apa saja pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS? 7. Bagaimana evaluasi pada ibu nifas dengan HIV/AIDS? III. TUJUAN UMUM dan TUJUAN KHUSUS Tujuan umum : mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS

Tujuan khusus : o Dapat melakukan pengkajian data pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat menentukan interpretasi data pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat menentukan Diagnosa potensial yang bisa terjadi pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat melakukan tindakan segera pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat membuat perencanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat melaksanakan apa saja yang telah direncanakan dalam asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS o Dapat melakukan evaluasi pada ibu nifas dengan HIV/AIDS IV. MANFAAT 1. Mahasiswa mengetahui apa itu HIV/AIDS. 2. Mahasiswa mampu melakukan Asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan HIV/AIDS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENGERTIAN AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sindrom gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dan kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. (Centre for Disease Control and Prevention) PATOFISIOLOGI Virus AIDS menyerang sel darah putih ( limfosit T4 ) yang merupakan sumber kekebalan tubuh untuk menangkal berbagai penyakit infeksi. Dengan memasuki sel T4 , virus memaksa limfosit T4 untuk memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menurun, sehingga menyebabkan tubuh mudah terserang infeksi dari luar (baik virus lain, bakteri, jamur atau parasit). Hal ini menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit HIV / AIDS. Selain menyerang limfosit T4, virus AIDS juga

memasuki sel tubuh yang lain, organ yang sering terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. AIDS diliputi oleh selaput pembungkus yang sifatnya toksik ( racun ) terhadap sel, khususnya sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat menyebabkan kematian sel otak. Masa inkubasi dan virus ini berkisar antara 6 bulan sampai dengan 5 tahun, ada yang mencapai 11 tahun, tetapi yang terbanyak kurang dari 11 tahun.

BAB III PEMBAHASAN PERIODE PASCAPARTUM Hanya sedikit diketahui tentang kondisi klinis wanita yang terinfeksi HIV selama periode pascapartum. Walaupun periode pascapartum awal tidak signifikan, follow-up yang lebih lama menunjukkan frekuensi penyakit klinis yang tinggi pada ibu yang anaknya menderita penyakit. Konseling tentang pengalihan pengasuhan anak dibutuhkan jika orang tua tidak lagi mampu merawat diri mereka. Terlepas dari apakah infeksi terdiagnosis, roses keperawatan diterapkan dengan cara yang peka terhadap latar belakang budaya individu dan dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Infeksi HIV merupakan suatu peristiwa biologi, bukan suatu komentarmoral. Sangat penting untuk diingat, ditiru, dan diajarkan bahwa reaksi (pribadi) terhadap gaya hidup, praktik, atau perilaku tidak boleh mempengaruhi kemampuan perawat dalam member perawatan kesehatan yang efektif, penuh kasih sayang, dan obyektif kepada semua individu. Bayi baru lahir dapat bersama ibunya, tetapi tidak boleh disusui. Tindakan kewaspadaan universal harus diterapkan, baaik untuk ibu maupun bayinya, sebagaimana yang dilakukan pada semua pasien. Wanita dan bayinya dirujuk ke tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam terapi AIDS dan kondisi terkait. Penularan Transmisi lain terjadi selama periode post partum melalui ASI, resiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10% Penatalaksanaan Pengalaman program yang signifikan dan bukti riset tentang HIV dan pemberian makanan untuk bayi telah dikumpulkan sejak rekomendasi WHO untuk pemberian makanan bayi dalam konteks HIV terakhir kali direvisi pada tahun 2006. Secara khusus, telah dilaporkan bahwaantiretroviral (ARV) intervensi baik ibu yang

terinfeksi HIV atau janin yang terpapar HIVsecara signifikan dapat mengurangi risiko penularan HIV pasca kelahiran melalui menyusui. Bukti ini memiliki implikasi besar untuk bagaimana perempuan yang hidup dengan HIV mungkin dapat memberi makan bayi mereka, dan bagaimana para pekerja kesehatan harus nasihati ibu-ibu ini. Bersama-sama, intervensi ASI dan ARV memiliki potensi secara signifikan untuk meningkatkan peluang bayi bertahan hidup sambil tetap tidak terinfeksi HIV. Meskipun rekomendasi 2010 umumnya konsisten dengan panduan sebelumnya, mereka mengakui dampak penting dariARV selama masa menyusui, dan merekomendasikan bahwa otoritas nasional di setiap negarauntuk memutuskan praktik pemberian makan bayi, seperti menyusui yaitu dengan intervensi ARVuntuk mengurangi transmisi atau menghindari menyusui, harus dipromosikan dan didukung oleh layanan Kesehatan Ibu dan Anak mereka. Hal ini berbeda dengan rekomendasi sebelumnya di mana petugas kesehatan diharapkan untuk memberikan nasihat secara individual kepada semua ibu yang terinfeksi HIV tentang berbagai macam pilihan pemberian makanan bayi, dan kemudian ibu-ibu dapat memilih cara untuk pemberian makanan bayinya. Dimana otoritas nasional mempromosikan pemberian ASI dan ARV, ibu yang diketahui terinfeksi HIV sekarang direkomendasikan untuk menyusui bayi mereka setidaknya sampai usia 12 bulan. Rekomendasi bahwa makanan pengganti tidak boleh digunakan kecuali jikadapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan dan aman (AFASS) . BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dan kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. (Centre for Disease Control and Prevention) Bayi baru lahir dapat bersama ibunya, tetapi tidak boleh disusui. Tindakan kewaspadaan universal harus diterapkan, baaik untuk ibu maupun bayinya, sebagaimana yang dilakukan pada semua pasien. Wanita dan bayinya dirujuk ke tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam terapi AIDS dan kondisi terkait. Transmisi lain terjadi selama periode post partum melalui ASI, resiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10%

SARAN Semoga Makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik Share this:

Twitter Facebook

seputar anak sehat Rabu, 09 November 2011 Perawatan bayi dengan ibu yang menderita HIV

HIV adalah virus RNA dari subfamili retrovirus. Infeksi HIV dapat menimbulkan defisiensi kekebalan tubuh sehingga menimbulkan gejala berat yang disebut dengan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). Pada tahun 2000, WHO memperkirakan 1,5 juta anak terinfeksi HIV, dan diantara penderita AIDS dewasa, 30% adalah ibu, termasuk ibu hamil. Di Amerika Serikat 0,17% ibu hamil sero positif HIV I dengan angka penularan pada bayi nya sekitar 14-40%. Di Eropa angka penularan dari ibu ke bayi adalah 13-14%.

Penularan dari ibu pada bayinya lebih progresif daripada pada anak. Di antar bayibayi yang mengalami penularan secara vertikal dari ibu, 80% menunjukkan gelaja pada usia 2 tahun. Sekitar 23% anak menunjukkan gambaran klinis AIDS pada usia 1 tahun dan 40%nya setelah usia 4 tahun.

Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah :

Mencegah penularan yang paling berbahaya, yaitu melalui percampuran darah ibu resiko tinggi dan bayi melalui plasenta, terutama bila ada korioamnionitis. Bila terjadi ketuban pecah dini, semakin lama resiko semakin tinggi. Mencegah penularan melalui tranfusi darah. Menghindari pemberian ASI dari ibu HIV. ASI dari ibu HIV berperan sebagai sumber penularan pascanatal terutama melalui kolostrum. Kemungkinan penularan melalui ASI sangat besar, terutama pada ibu-ibu menderita HIV beberapa bulan setelah melahirkan.

Diagnosis bayi dengan ibu menderita HIV dapat ditergakkan berdasarkan (1) dugaan infeksi berdasarkan gejala klinis dan resiko tertular pada daerah dengan prevalensi tinggi, (2) tes serologi. Pemeriksaan Penunjang yang disarankan adalah : 1. Antibodi HIV : Pada anak > 18 bulan dinyatakan positif bila Ig G anti-HIV (+) dengan pemeriksaan ELISA dan blot. Pada bayi < 18 bulan bila hasil positif (+) masih diragukan karena masih terdapat antibodi transplasenta dari ibu. 2. Uji virologi untuk neonatus dengan pemeriksaan PCR, uji HIV dan deteksi antigen P24. Uji tersebut mendeteksi HIV pada 50% neonatus atau >95% bayi umur 3-6 bulan.

Bagaimana cara perawatan bayi dengan resiko terinfeksi HIV??? Secara Umum :

Lakukan perawatan seperti bayi lain pada umumnya. Berikan perhatian untuk mencegah infeksi Bayi tetap diberi imunisasi rutin Jaga kerahasiaan ibu dan keluarga.

Terapi Antiretroviral : Tanpa pemberian antiretroviral, 25% bayi pada ibu dengan HIV positif akan tertular sebelum dilahirkan atau selama proses persalinan dan 15% nya tertular melalui ASI. Obati bayi dan ibu sesuai dengan protokol dan kebijakan yang ada. Misalnya :

Bila ibu sudah mendapat AZT (Zidovudin) 4 minggu sebelum melahirkan, maka berikan AZT 2mg/kgbb per oral setiap 6 jam selama 6 minggu. Bila ibu sudah mendapat nevirapin dosis tunggal selama persalinan. Segera berikan nevirapin dalam suspensi 2mg/kgbb per oral.

Pemberian ASI Berikan konseling pada ibu mengenai pemberian ASI, terangkan mengenai penularan melalui ASI dan jelaskan mengenai kerugian pemberian susu formula. Berikan kebebasan pada ibu untuk memilih langkah selanjutnya. Tawarkan cara lain dalam pemberian ASI, misalnya anak diberikan ASI perasan dari ibu yang tidak menderita HIV. Berikan penjelasan mengenai cara dan waktu pemberian susu formula pada anak. Sarankan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang.

Hepatitis B Dari Wikipedia Indonesia, bebas Langsung ke: ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine
?

Hepatitis B Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal

bahasa ensiklopedia navigasi, cari

B16., B18.0-B18.1 070.2-070.3 5765 000279 med/992 ped/978

Hepatitis B virus

Micrograph showing hepatitis B virions Klasifikasi virus Kelas: Kelas VII (dsDNART)

Famili: Hepadnaviridae Genus: Orthohepadnavirus Spesies: Virus Hepatitis B

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1] yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.[2] Mula-mula dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika.[3] Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia.[4] Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain.[5] Daftar isi

1 Diagnosis 2 Penularan 3 Perawatan 4 Catatan 5 Lihat pula

Diagnosis Dibandingkan virus HIV, virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.[6] Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi,

biokimiawi dan histologi. Secara serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5). Pemeriksaan virologi, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus. Pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktivitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral. [7] Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan. Gejala tersebut dapat berupa selera makan hilang, rasa tidak enak di perut, mual sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.[7] Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.[7] Penularan Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya.[2] Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur.[8] Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular. [9]

Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.

Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut (sariawan, gusi berdarah,dll), lendir (berciuman) atau luka yang mengeluarkan darah serta hubungan seksual dengan penderita.

Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV. Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk menenularan penyakit ini. Perawatan Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.[2] Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.[8] Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon Alfa ( Uniferon).[10] Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan. Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati. Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata

cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale).selain itu juga ada pengobatan alternatif lain Hepatitis B Dari Wikipedia seperti hijamah/bekam yang bisa menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.[2] Rawat Gabung (Rooming In) BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN REFARAT Januari 2008 Rawat Gabung (Rooming In) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2009 PENDAHULUAN UNICEF menyatakan, terdapat 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahunnya. UNICEF menyebutkan bukti ilmiah terbaru, yang juga dikeluarkan oleh Journal Paediatrics ini, bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya. Dan peluang itu 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia maupun di dunia sebenarnya dapat diminimalisir dengan salah satunya melakukan Rawat Gabung. (1,3,) Infeksi pada bayi baru lahir merupakan penyakit yang sangat sulit untuk diobati. Angka kematian akibat infeksi di Indonesia yang tertinggi, khususnya infeksi pada neonatus masih merupakan masalah yang gawat. Di Jakarta, khususnya di RSCM infeksi nosokomial merupakan 10-15% dari morbiditas perinatal. Ada bermacam cara yang mampu kita upayakan untuk pencegahan infeksi pada bayi baru lahir, salah satunya dengan melakukan Rawat Gabung (rooming in), walaupun fungsi rawat gabung tidak terbatas pada pencegahan infeksi semata. (2,4,13) Rawat gabung merupakan satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar

atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Istilah rawat gabung parsial yang dulu banyak dianut, yaitu rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat di kamar bayi, sekarang tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi. (2,4) Tujuan rawat gabung adalah agar Ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas, ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, Ibu memperoleh bekal keterampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit. Dalam perawatan gabung suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar, selain itu Ibu akan mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya. (13) Banyak RS yang menawarkan pilihan agar bayi dapat terus bersama ibunya selama 24 jam. Meskipun selama ini banyak RS yang masih menerapkan ruangan khusus untuk bayi, terpisah dari ibunya. Namun riset terakhir menunjukkan bahwa jika tidak ada masalah medis, tidak ada alasan untuk memisahkan ibu dari bayinya, meski hanya sesaat (Yamauchi and Yamanouchi 1990; Buranasin 1991; Oslislo and Kaminski 2000). Bahkan makin seringnya ibu melakukan kontak fisik langsung (skin-to-skin contact) dengan bayi akan membantu menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI (Hurst 1997). Karena itu pada tahun 2005, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan kebijakan agar ibu dapat terus bersama bayinya di ruangan yang sama dan mendorong ibu untuk segera menyusui bayinya kapanpun sang bayi menginginkannya (on demand). Semua kondisi tersebut akan membantu kelancaran dari produksi ASI. (12) Rooming in akan membantu memperlancar pemberian ASI. Karena dalam tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada keadaan emosi ibu. Jika Ibu tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya, maka hormon ini akan meningkat dan ASI pun cepat keluar. Sehingga bayi lebih puas mendapatkan ASI . Manfaat lain dari perawatan rooming in bagi bayi akan lebih cepat menyesuaikan dengan waktu tidur dan bangun dengan ibu. Selain itu jika bayi menangis akan langsung didekap ibu sehingga bayi akan tenang mendengarkan detak jantung ibu. Bagi Ibu, perawatan rooming in akan memperkecil resiko mengalami depresi pasca melahirkan, karena ibu merasakan daya tarik tersendiri terhadap bayinya dan membuat rasa sayang kepadanya. (14)

TUJUAN DAN MANFAAT RAWAT GABUNG Rooming in (rawat gabung) mungkin masih tidak disadari akan manfaatnya oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk saat ini. Banyak rumah sakit, puskesmas, klinik dan rumah bersalin yang belum merawat bayi baru lahir berdekatan dengan ibunya. Berbagai alasan diajukan antara lain karena rasa kasihan karena ibu masih capai setelah melahirkan, ibu memerlukan istirahat, atau ibu belum mampu merawat bayinya sendiri. Ada pula kekhawatiran bahwa pada jam kunjungan, bayi mudah tertular penyakit yang mungkin dibawa oleh para pengunjung. Alasan lain adalah rumah sakit/klinik ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya sehingga ibu bisa beristirahat selama berada di rumah sakit. Namun setelah menyadari akan keuntungannya, sistem rawat gabung sekarang menjadi kebijakan pemerintah. (13) Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan tujuannya, adalah sebagai berikut : (13) 1. Aspek Fisik Bila ibu dekat dengan bayinya, maka ibu dapat dengan mudah menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan sendiri dan menyusui setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan (nir-jadwal). Dengan perawatan sendiri dan menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi silang dari pasien lain atau petugas kesehatan. 2. Aspek Fisiologis Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan segera disusui dan frekuensinya lebih sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi alami yang paling sesuai dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui maka akan timbul refleks oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim. 3. Aspek Psikologis Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. 4. Aspek Edukatif Dengan rawat gabung, ibu (terutama yang baru mempunyai anak pertama) akan mempunyai pengalaman yang berguna, sehingga mampu menyusui serta merawat bayinya bila pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit ibu akan melihat, belajar dan mendapat bimbingan bagaimana cara menyusui secara benar, bagaimana cara merawat payudara, merawat tali pusat, dan memandikan bayi. Aspek Ekonomi 5. Aspek Medis Dengan pelaksanaan rawat gabung maka akan menurunkan terjadinya infeksi

nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal. Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat/ kriteria sebagai berikut : (13) 1. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong. 2. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dan sebagainya. 3. Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus. 4. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal). 5. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. 6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih. 7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum. 8. Bayi dan ibu sehat. Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka rawat gabung ibu dan bayi tidak perlu, atau bahkan tidak boleh dikerjakan, misalnya pada : 1. Bayi yang sangat prematur. 2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram. 3. Bayi dengan sepsis. 4. Bayi dengan gangguan napas. 5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, labio/palato/gnatoschizis, omfalokel, dsb.); 6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dan kelainan kongenital yang berat lainnya. Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat ketat. Sebaiknya keputusan apakah bayi akan dirawat gabung atau dirawat pisah ditentukan oleh dokter anak bersama dengan dokter kebidanan. (13) Perawatan rooming in sangat memungkinkan untuk bayi lahir normal, bayi premature bahkan bayi yang lahir melalui operasi Caesar sekalipun. Dengan adanya sistem perawatan kangaroo care semakin bisa mendekatkan bayi dengan

ibunya. Perawatan dengan memasukkan bayi ke baju ibu, sehingga kulit bayi menempel ke kulit ibunya. Sentuhan panas tubuh ibu akan menghangatkan bayi. (14) Bagi Ibu, perawatan rooming in akan memperkecil resiko mengalami depresi pasca melahirkan, karena ibu merasakan daya tarik tersendiri terhadap bayinya dan membuat rasa sayang kepadanya. Perawatan rooming in sangat memungkinkan sepanjang bayi tidak ada gangguan pernapasan, bisa mengisap dan menelan dengan baik, atau berat badannya di atas 2000-2500 gram. Bahkan bayi di dalam inkubator tetap bisa rawat gabung bersama ibunya. (14) Fasilitas Rooming in adalah hak seorang ibu (termasuk bayi karena, ia berhak dan wajib mendapat ASI). Keuntungannya Bayi bisa disusui sesering mungkin, kapan pun ia menginginkannya. Ibu yang tenang dan bahagia melihat bayinya, akan mengeluarkan hormon oksitosin yang melancarkan produksi ASI. Ibu akan belajar merawat bayi karena berada di sisinya selama 24 jam. Membantu kehangatan bayi, terutama untuk yang lahir prematur atau lahir dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Bayi merasa lebih tenang sehingga pernapasan dan detak jantung lebih stabil karena berada dalam dekapan ibu terus-menerus. (15) Banyak rumah sakit melakukan rawat gabung untuk merawat bayi normal. Dari berbagai penelitian terlihat bahwa tidak ada kenaikan insiden infeksi nosokomial pada bayi-bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi-bayi yang dirawat di bangsal perawatan bayi normal. Jadi program ini adalah suatu cara yang potensial untuk mengurangi risiko kepadatan dan menurunkan kontaminasi silang di bangsal perawatan bayi normal. Setiap orang yang masuk ke kamar bayi harus memakai sandal khusus dan mencuci tangan. (4) ARTI PENTING ASI EKSKLUSIF PADA RAWAT GABUNG Saat buah hati ibu tumbuh dan berkembang di dalam kandungan, tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Ini memberinya kekebalan pasif yang mampu melindungi janin ibu dari serangan penyakit selama masa kehamilan. Namun, begitu sang buah hati dilahirkan, ia tidak lagi mendapatkan suplai antibodi. Sementara itu sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum bekerja secara sempurna. Karena itu, bayi sangat rentan terkena resiko infeksi pada tahun pertama hidupnya. (7) Menurut Professor Guido Moro dari Macedonis Melloni Maternity Hospital di Milan dua pertiga dari sistem kekebalan tubuh bayi ada di bagian perutnya, sehingga sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang ia makan dan minum. Itulah sebabnya mengapa buah hati Ibu yang baru lahir sangat membutuhkan ASI terutama selama 6 bulan pertama kehidupannya. Sebagai makanan pertama si buah

hati, ternyata ASI bukan hanya nutrisi sempurna untuk buah hati dan mendekatkan hubungan emosi antara ibu dan sang bayi, namun sekaligus memberi perlindungan karena ASI bermanfaat memperkuat imunitas alami bayi yang baru lahir. (7) Begitu banyak manfaat ASI untuk sang buah hati, sepuluh keajaibannya antara lain: (7) 1. ASI memperkuat sistem kekebalan tubuh. Komponen utama pembangun sistem kekebalan tubuh pada ASI adalah prebiotik 2. ASI menurunkan terjadinya resiko alergi 3. ASI menurunkan resiko terjadinya penyakit pada saluran cerna, seperti diare dan meningkatkan kekebalan pada sistem pencernaan 4. ASI menurunkan resiko gangguan pernafasan, seperti flu dan batuk 5. ASI kaya akan AA dan DHA yang medandukung pertumbuhan kecerdasan anak 6. ASI mengandung prebiotik alami untuk mendukung pertumbuhan flora usus 7. ASI memiliki komposisi nutrisi yang tepat dan seimbang (dimana cuma ASI yang memilikinya) 8. Bayi-bayi yang diberikan ASI menjadi lebih kuat. Menyusui juga menurunkan terjadinya resiko obesitas saat ia tumbuh besar kelak 9. Bayi-bayi yang menerima ASI memiliki resiko lebih rendah dari penyakit jantung dan darah tinggi di kemudian hari 10. Menurut hasil penelitian, menyusui telah terbukti dapat menurunkan resiko kanker payudara, kanker ovarium, dan osteoporosis. Sebagai sumber gizi utama dikala buah hati belum dapat mencerna makanan padat, ASI yang diproduksi langsung oleh tubuh bunda setelah proses melahirkan dengan bantuan hormon prolactin dan oxytocin ini, ternyata mengandung nutrisi lengkap yang disesuaikan dengan kebutuhan buah hati. Adapun nutrisi yang dimaksud yaitu nutrisi makro seperti protein, lemak dan karbohidrat, serta nutrisi mikro seperti vitamin dan mineral. Nutrisi lainnya seperti DHA, AA, asam lemak Omega 3 dan Omega 6 merupakan kandungan ASI yang membantu proses pembentukan sel otak, memelihara jaringan otak, dan kemampuan penglihatan. (8) Disamping manfaat ragam nutrisi yang dimiliki, ASI diminati karena praktis dan mudah diberikan pada si kecil, bahkan proses menyusui seringkali dijadikan momen untuk meningkatkan kedekatan hubungan emosi antara ibu dan buah hati. Selain beberapa alasan yang telah disampaikan sebelumnya, berdasarkan hasil sejumlah penelitian terhadap komposisi ASI, ditemukan bahwa di dalam ASI terdapat bakteri, terutama dari kelompok Bifidobakteria dan Laktobasili yang merupakan kelompok bakteri yang menguntungkan. (8) Kandungan bakteri-bakteri menguntungkan, atau juga dikenal dengan sebutan Probiotik tersebut, bila dikonsumsi akan berkembangbiak dalam usus dan memberi dampak positif bagi kesehatan bayi. Manfaatnya yaitu membantu si kecil

membentuk flora dalam pencernaan sehingga dapat mengatasi berbagai bakteri merugikan yang dapat menimbulkan gangguan pencernaan dan merangsang serta menjaga daya tahan tubuh. Untuk dapat memberikan manfaatnya secara optimal, mikroorganisme probiotik harus mampu bertahan dalam kondisi ekstrim saluran pencernaan (pH rendah, asam empedu dan enzim-enzim pencernaan), menempel pada sel epitel sehingga dapat mengkolonisasi saluran pencernaan, dan menekan pertumbuhan bakteri patogen. (8) Penelitian membuktikan bahwa Probiotik dapat digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan diare akut yang disebabkan infeksi usus. Riset lain juga telah membuktikan probiotik bermanfaat untuk mencegah alergi kulit (dermatitis atopik) dan tidak tahan gula susu atau intoleransi laktosa. Penelitian membuktikan bahwa ASI mampu memperkuat kekebalan alami tubuh bayi. Di dalam ASI terdapat oligosakarida yang menjalankan fungsi sebagai prebiotik di dalam pencernaan si kecil. Manfaat yang diberikan oligosakarida ini adalah: 1. Memperkuat sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir 2. Memiliki efek anti infeksi dengan melapisi dinding usus dan menekan pertumbuhan bakteri pathogen. Untuk lebih mudah memahami manfaat dari oligosakarida ini, Ibu bisa melihatnya melalui feses si kecil. Kandungan oligosakarida membuat feses bayi yang diberikan ASI bertekstur lebih lembut, sehingga dapat menghindarkan buah hati tersayang dari keluhan konstipasi (susah buang air besar). Zat Pada ASI Memberikan Kekebalan Alami Air Susu Ibu bukan hanya mengandung berbagai nutrisi untuk pertumbuhan buah hati tersayang, tapi juga mengandung oligosakarida, sejenis prebiotik yang memperkuat sistem kekebalan tubuh alami pada bayi yang baru lahir, khususnya di saluran pencernaan. Zat ini terus diproduksi pada Air Susu Ibu, sehingga si kecil akan memperoleh kekebalan tubuh alami selama ibu menyusuinya. Kemampuan ASI dalam memberi perlindungan ini telah terbukti dalam penelitian selama 40 tahun terakhir ini. Ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang tidak diberikan ASI, bayi-bayi yang diberikan ASI tidak mudah terkena penyakit akibat infeksi, alergi dan penyakit lain yang berhubungan dengan kekebalan tubuh. (7,9) Pada penelitian yang diadakan di tahun 1990, terbukti bahwa bayi-bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 13 minggu pertama dalam kehidupannya memilki tingkat infeksi pernafasan dan infeksi saluran cerna yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi-bayi lain yang diberikan susu formula biasa. Menurunnya tingkat infeksi saluran cerna ini tetap bertahan bahkan sesudah selesai masa pemberian ASI dan berlanjut hingga tahun-tahun pertama dalam kehidupan anak. (7,9)

Tingkat infeksi saluran cerna dan pernafasan bayi pada 13 minggu pertama sesudah dilahirkan: Bayi yang diberi ASI eksklusif Bayi yang diberi susu formula biasa Infeksi saluran cerna 2,9 % 15,7% Infeksi saluran pernafasan 25,6% 37%

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan pertama bayi yang memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak karena terbukti memiliki manfaat sangat besar untuk jangka panjang. Ini dia kelebihan ASI sehingga sangat dianjurkan diberikan kepada bayi sampai usia 2 tahun, dan dianjurkan selama 6 bulan pertama usia bayi secara eksklusif: ASI mengandung zat-zat gizi lengkap yang berkualitas tinggi berguna untuk kecerdasan, pertumbuhan dan perkembangan anak Makanan yang dijamin keamanan dan kebersihannya. Praktis dan mudah dalam pemberiannya dan tidak pernah basi. ASI mengandung zat antibodi yang melindungi tubuh bayi dari alergi dan diare serta penyakit infeksi lainnya. (5) Oleh karena manfaatnya yang besar bagi keberhasilan tumbuh kembang anak, maka sampai usia 6 bulan dianjurkan bayi untuk diberikan secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan atau makanan lain, sekalipun air putih, teh atau susu formula. Anjuran ini karena bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI. Hal ini disebabkan bayi belum bisa memproduksi enzim-enzim pencernaan hingga usia 6 bulan. Alasan pemberiaan ASI saja tanpa tambahan makanan lain selama 6 bulan sangat dianjurkan sebagai makanan bayi, hal ini disebabkan ASI memiliki kandungan gizi dan vitamin yang lengkap dan baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pemberian ASI mencukupi kebutuhan bayi dan bayi dalam kondisi sehat dapat ditunjukkan dengan kenaikan berat badan bayi usia 6 bulan yang 2 kali berat badan lahir. (5) PELAKSANAAN RAWAT GABUNG DAN KEGIATAN PENUNJANGNYA Dalam rawat gabung bayi ditempatkan bersama ibunya dalam suatu ruangan sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan menjangkaunya kapan saja bayi atau ibu membutuhkannya. Bayi dapat diletakkan di tempat tidur bersama ibunya, atau dalam boks di samping tempat tidur ibu. Modifikasi lain dengan membuat sebuah boks yang ditempatkan di atas tempat tidur di sebelah ujung kaki ibu. Yang penting ibu harus bisa melihat dan mengawasi bayinya, apakah ia menangis karena lapar, kencing, digigit nyamuk dan sebagainya. Tangis bayi merupakan rangsangan sendiri bagi ibu untuk membantu produksi ASI. (13)

Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat mengenali keadaankeadaan abnormal, kemudian melaporkannya kepada dokter. Bayi kuning sering merupakan masalah bagi ibu meskipun sebenarnya keadaan ini seringkali masih dalam batas fisiologis. Dokter (terutama dokter anak dan kebidanan) mengadakan kunjungan sekurang-kurangnya sekali dalam sehari. Dokter harus memperhatikan keadaan ibu maupun bayi, terutama yang berhubungan dengan masalah menyusui. Perlu diperhatikan apakah ASI sudah keluar, adakah pembengkakan payudara, bagaimana putingnya, adakah rasa sakit yang mengganggu saat menyusui, dan sebagainya. Demikian pula dengan bayinya, apakah sudah dapat mengisap, kuat atau tidak, rewel atau tidak, apakah muntah, mencret dan keluhan yang lainnya. (13) Ibu menyusui sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi, tidak dikenal lagi penjadwalan dalam memberikan ASI kepada bayi. Perawat harus membantu ibu untuk merawat payudara, menyusui, menyendawakan dan merawat bayi secara benar. Bila bayi sakit/perlu diobservasi lebih lanjut, bayi dipindah ke ruang rawat bayi baru lahir (neonatologi). Bayi akan memperoleh perawatan lebih intensif, meskipun bukan berarti ASI tidak diberikan. ASI tetap diberikan dengan cara ibu berkunjung, atau ASI diperas dan diberikan dengan sendok. Bila ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang, diberikan penyuluhan lagi tentang cara merawat bayi, payudara dan cara meneteki yang benar sehingga ibu di rumah terampil melakukan rawat gabung serta cara mempertahankan meneteki sekalipun ibu harus berpisah dengan bayinya. Harus ditekankan bahwa bayi tidak boleh diberi dot/kempengan. Selanjutnya perawat mengumpulkan data ibu dan bayi dalam sebuah lembar catatan medik yang sudah disiapkan. (13) Praktek Rawat Gabung A. Cara memandikan bayi(13) a. Siapkan alat-alat b. Cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi c. Bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur/meja dengan alas perlak dan handuk d. Muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian dikeringkan dengan handuk e. Seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan, kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi) f. Bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam ember mandi bayi g. Bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk h. Tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol 70%. i. Dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti pangkal

paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet, dan diberi pakaian. B. Cara merawat tali pusat(13) a. Siapkan alat-alat b. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat c. Tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70% d. Setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol/povidon iodine 10% (betadine) lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering e. Setelah tali pusat terlepas/puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol/povidon iodine 10% sampai kering. Bagaimana Menyusui dengan Benar Kegagalan menyusui sering kali disebabkan karena kesalahan memposisikan dan meletakkan bayi. Puting ibu menjadi lecet dan menimbulkan luka yang terkadang membuatnya menjadi malas untuk menyusui, menyebabkan produksi ASI berkurang dan pada akhirnya bayi pun menjadi malas menyusu. Jika kondisi seperti terus berlanjut, bisa jadi proses menyusui akan terhenti dan si bayi akan kehilangan manfaat ASI yang luar biasa bagi pertumbuhannya. Oleh karena itu sebagai seorang ibu yang ingin berhasil dalam menyusui bayinya, harus melakukan langkah menyusui bayi yang benar berikut ini: (6) 1. Cucilah tangan dengan air bersih yang mengalir agar terhindar dari kuman dan bakteri. 2. Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan menjaga kelembapan puting susu. 3. Ibu duduk dengan santai dan kaki tidak boleh menggantung. 4. Posisikan bayi dengan benar: Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu. Perut bayi menempel ke tubuh ibu Mulut bayi berada di depan puting ibu Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus 5. Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi. 6. Cek apakah perlekatan sudah benar: Dagu menempel ke payudara ibu Mulut terbuka lebar Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi

Bibir bayi terlipat keluar Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap, tetapi memerah ASI) Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan. Ibu tidak kesakitan Bayi tenang Apabila posisi dan perlekatan sudah benar, maka diharapkan produksi ASI tetap banyak 7. Bayi disusui secara bergantian dari susu sebelah kiri, lalu ke sebelah kanan sampai bayi merasa kenyang. 8. Cara melepaskan puting susu dari mulut bayi, dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu. 9. Setelah selesai menyusui, mulut bayi dan kedua pipi bayi dibersihkan dengan kapas yang telah direndam dengan air hangat. 10. Sebelum ditidurkan, bayi harus disendawakan dulu supaya udara yang terhisap bisa keluar. Bila kedua payudara masih ada sisa ASI, keluarkan dengan alat pompa susu. Makanan pralakteal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. Jenis-jenis makanan minuman tersebut antara lain: air kelapa, air tajin, madu, pisang, nasi yang dikunyah oleh ibunya, pepaya, dan yang lainnya. Pemberian makanan dan minuman pralakteal berbahaya bagi bayi karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencernakan makanan atau minuman selain ASI. Makanan atau minuman lain sering mengandung kuman yang bisa membuat bayi sakit. Jadi tidak boleh memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi selain ASI sampai dengan usia 6 bulan, agar pertumbuhan dan kesehatan bayi tetap terjaga dengan baik. (6,8) Pada periode usia bayi 0-6 bulan, kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja, tanpa harus diberikan makanan ataupun minuman lainnya Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk menghisap. Daya cerna bayi hanya cocok untuk ASI. Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Asam lemak esensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak, sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. (8) Ibu harus menyusui bayinya sesegera mungkin yaitu setelah bayi lahir, karena daya hisap bayi pada saat itu paling kuat. Sentuhlah mulut dengan puting, sehingga bayi terangsang untuk menghisap, meskipun ASI belum keluar. Melalui perlekatan antara ibu dan bayi, perlakuan tersebut akan mempercepat proses pengeluaran ASI.

Hisapan bayi akan merangsang keluarnya ASI. Susuilah bayi sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi Menyusui dilakukan secara bergantian antara kedua payudara sampai kosong hingga bayi tenang dan puas, biasanya 10 menit. (8) Cara menghentikan bayi menyusui Menghentikan bayi menyusui dapat dilakukan dengan cara: Bila bayi selesai disusui tapi mulutnya masih melekat pada puting susu ibu, dapat dilakukan dengan menekan sudut mulut bayi dengan salah satu jari dan bayi akan melepas puting dengan perlahan. (9) Cara menyendawakan bayi setalah disusui Menyendawakan bayi dapat dilakukan dengan cara meletakkan bayi pada bahu ibu atau telungkup sampai bersendawa. (9) Cara meningkatkan produksi ASI Cara meningkatkan produksi ASI dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut: Melakukan persiapan menyusui saat ibu sedang hamil Susuilah bayi segera setalah bayi lahir Susuilah bayi sesering mungkin. Semakin sering bayi menghisap puting susu, semakin banyak ASI yang keluar Susuilah bayi dari kedua payudara yang kiri dan kanan secara bergantian pada setiap kali menyusui Jangan memberikan makanan dan minuman lain selain ASI sampai dengan usia bayi 6 bulan. Keberhasilan menyusui sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (9) Ibu harus yakin bahwa mampu menyusui. Ibu cukup minum (8-12 gelas/hari) dan makan lebih banyak makanan bergizi. Usahakan makan 2 kali lebih banyak dari pada biasanya dan makan makanan yang segar dan bervariasi setiap hari Ibu dalam keadaan pikiran yang tenang, tentram dan santai Perhatikan cara meletakkan bayi dan melekatkan puting pada mulut bayi dengan benar Makin sering payudara dihisap bayi, makin banyak produksi ASI Pengertian dan dukungan keluarga, terutama dari suami sangat penting. Cara mengatasi puting datar dan terbenam Puting datar dan terbenam dapat diatasi dengan cara setiap selesai mandi pada periode kehamilan di atas 7 bulan, puting susu ditarik-tarik sampai menonjol atau dengan bantuan pompa susu. Setelah lahir, penarikan puting susu jangan dilakukan berlebihan. (9)

Untuk mengatasi puting lecet dan nyeri dapat dilakukan dengan: Mulai menyusui pada puting yang tidak sakit. Susi sebelum bayi sangat lapar. Jangan membersihkan puting susu dengan sabun atau alkohol. Perbaiki posisi bayi pada saat menyusui. Perhatikan cara melepas mulut bayi dari puting. Keluarkan sedikit ASI untuk dioleskan pada puting selesai menyusui. Biarkan puting kering sebelum memakai BH. Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu, rujuk ke Puskesmas. Usahakan bayi menghisap sampai aerola. Untuk mengatasi payudara bengkak dan puting nyeri dapat dilakukan hal-hal sbb: Susuilah bayi setiap kali meminta Keluarkan ASI dengan pompa atau tangan Untuk mengurangi rasa sakit, kompres dengan air hangat Perbaiki cara meletakkan bayi (tubuh bayi menghadap perut ibu) dan cara meletakkan bayi (letak mulut pada areola). Cara menyapih yang baik Kurangi frekuensi menyusui secara bertahap. Tambah frekuensi makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dan makanan selingan. Jadwal menyusui terakhir, pada malam hari dihentikan Tetap berikan perhatian dan kasih sayang Menyapih sebaiknya di mulai pada masa anak berusia di atas 2 tahun. (9) INISIASI DINI DAN METODE KANGURU INFORMASI TENTANG INISIASI DINI Sekelompok scientist dari Inggris yang tergabung dalam Departement for International Development melakukan penelitian terhadap 10.946 bayi sejak 2004. Pada 30 Maret 2006, mereka menemukan bahwa bayi normal yang langsung diletakkan di dada ibunya minimal 30 menit, pada usia 20 menit dia akan merangkak sendiri ke payudara ibunya. Pada usia 50 menit, dengan susah payah merangkak, dia akan menemukan puting susu ibunya dan menyusu. (10) Sentuhan kasih sayang seorang ibu terhadap bayi mungilnya memiliki arti dan makna yang sangat mendalam. Dengan sentuhan kulit sambil menyusu, terjadilah kontak batin sehingga akan terasa aman dan nyaman dalam dekapan. Bayi sehat yang baru lahir diletakkan di atas perut ibunya sambil dikeringkan dan dipotong tali pusatnya, hanya dengan handuk segera diletakkan di atas dada ibu sehingga terjadi kontak kulit dengan kulit. Tidak sampai satu jam, bayi merah itu bisa berhasil menetek ibunya. Sentuhan kulit dengan kulit dan kontak batin perdana sambil menyusu inilah yang disebut dengan inisiasi dini, yaitu menyusui langsung

segera setelah bayi lahir. (10) Manfaat inisiasi dini dan ASI eksklusif dalam menunjang tumbuh kembang optimal bayi sudah tidak diragukan lagi. Makanya, begitu bayi lahir, setelah dibersihkan segera pertemukan dengan ibunya, kata dr Ari Yunanto SpA dari RSUD Ulin Banjarmasin.Pemberian ASI sejak dini memberi makanan yang bergizi, melindungi bayi terhadap penyakit yang mematikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. ASI eksklusif tidak dapat digantikan oleh susu formula. Ada beberapa zat gizi yang ada di ASI yang tidak terdapat dalam susu formula, seperti imunoglobin (kolostrum) untuk kekebalan tubuh, AA, DHA (untuk perkembangan otak), spingomyelin dan lainnya. (17) Seperti hasil penelitian Edmond dkk yang dilakukan di Ghana Juli 2003 sampai Juni 2004, yang menghubungkan antara waktu dilakukannya tindakan inisiasi penyusuan serta pola pemberian ASI dengan kejadian kematian bayi. Ternyata, dari 10.947 bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat dan diikuti perkembangannya selama sebulan, ternyata bayi yang tertunda sampai 24 jam lebih baru dilakukan kontak dengan ibunya mengalami kematian 2,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang dilakukan inisiasi dini. (10) Bayi yang diberi susu kaleng mempunyai risiko kematian empat kali lebih banyak daripada bayi yang hanya minum ASI. Di samping itu disimpulkan juga bahwa 16 persen kematian bayi akan dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif sejak umur 1 hari. Angka itu akan meningkat menjadi 22 persen kematian dapat dicegah apabila ASI eksklusif dimulai sejak 1 jam dilahirkan. Direktur Eksekutif Unicef Ann M Veneman mengatakan, lebih dari sepertiga kematian anak terjadi pada bulan-bulan pertama yang rawan dalam hidupnya. (10) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencanangkan pekan ASI sedunia, 1-7 Agustus 2007, kali dengan tema Menyusui 1 Jam Pertama - Inisiasi Dini dan ASI Eksklusif selama 6 bulan dapat menyelamatkan 1 juta bayi). Lebih dari 10 juta anak-anak di dunia ini meninggal sebelum menginjak usia 3 tahun yang pada umumnya disebabkan oleh penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah, di samping faktor malnutrisi. (17) Ini berlawanan dengan paradigma yang sudah kita kenal selama ini. Biasanya, di keluarga kita, pada waktu lahir, tali pusar dipotong, kemudian dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, dicap, dibersihkan, baru kemudian dikembalikan lagi kepada ibunya. Seharusnya, begitu bayi lahir, ketika sudah kering langsung diletakkan di perut ibunya. Pada usia 20 menit, tak mudah memang bagi dia untuk merangkak, tapi ternyata secara refleks itu bisa. Biarkan di dada ibu menimal setengah jam. Sampai dia minum sendiri. Kalau belum juga minum, biarkan dia mencari sendiri sampai satu jam. Nggak gampang, tapi dia berhasil akhirnya. (10)

Insting dan dibimbing oleh smell. Bukankah pada umumnya bayi yang baru lahir tidak butuh menyusu dan pada jam-jam awal ASI memang belum keluar?Keluar atau tidaknya air susu ibunya pada waktu itu bukan masalah. Tapi berikan kesempatan bagi dia untuk mulai menyusu sendiri. Ini temuan yang benar-benar baru?Tidak juga. Sebenarnya pada tahun 1990 sudah ada penelitian tentang ini, tapi tidak terdengar gaungnya. Sampai ada ahli yang meneliti dan sudah dicba di negara-negara Skandinavia. Lalu saya diberi kesempatan membuat model dengan bayi Indonesia. Kami menggunakan bayi di Bantul, Yogyakarta, ang dibantu kelahirannya oleh bidan yang sederhana. Dan ternyata telah kami buktikan itu. (10) Dada ibu yang melahirkan 1 derajat lebih panas daripada dada ibu-ibu yang tidak melahirkan. Kalau bayi kedinginan, dia akan otomatis naik 2 derajat Celsius. Tapi kalau si bayi kepanasan, turun 1 derajat Celsius. Jadi, jauh lebih bagus daripada tabung yang biasa dipergunakan untuk meyimpan bayi pada saat lahir. (10) Dalam istilah yang lain, Inisiasi Menyusui Dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl. Dalam sebuah publikasi oleh breastcrawl.org, yang berjudul Breast Crawl: A Scientific Overview, ada beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri puting Ibunya, dan mulai menyusui, yaitu: (12) (1) Sensory Inputs atau indera yang terdiri dari penciuman terhadap bau khas Ibunya setelah melahirkan, penglihatan karena bayi baru dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap bayi mampu merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari-jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran sejak dari dalam kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa dengan sentuhan sentuhan kulit-ke-kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang memberi kehangatan, dan rangsangan lainnya. (2) Central Component dimana otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan, karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis daripada bayi yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya. (3) Motor Outputs dimana bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga memberi banyak manfaat untuk sang Ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan mengurangi pendarahan pada rahim Ibu.

KANGAROO CARE Bayi yang lahir prematur, biasanya memiliki berat badan di bawah rata-rata bayi yang lahir normal. Untuk merawat bayi prematur, ada beberapa metode yang dapat dilakukan, diantaranya adalah metode kanguru. Metode kanguru atau perawatan bayi lekat yang ditemukan sejak tahun 1983, memang sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah. (11,19,20) Pada metode ini, si bayi digendong lekat ke dada layaknya induk kanguru memasukkan anaknya ke dalam kantung. Metode kanguru mampu memenuhi kebutuhan bayi prematur dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu. Dengan begini maka si bayi mendapatkan peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar. (11,19,20) Metode kanguru ini tidak hanya dapat membuat bayi prematur jadi mudah beradaptasi dengan dunia luar, tetapi juga bermanfaat bagi si ibu yang sedang memproduksi ASI. Beberapa manfaat lainnya antara lain adalah meningkatkan hubungan emosi ibu dan anak, menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung, serta pernafasan bayi. Belum lagi juga metode ala binatang khas Australia ini juga dapat memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, termasuk mengurangi lama menangis si bayi. Selain itu juga karena dapat mempersingkat masa rawat di rumah sakit, maka resiko terinfeksi selama rawat inap di rumah sakit pun berkurang. (11,19,20) Untuk metode kanguru, seorang bayi juga harus memiliki kriteria tertentu, karena tidak semua bayi premature dengan berat badan kurang . Metode ini biasanya dilakukan pada bayi yang memiliki berat bada kurang dari 2000 gram. Selain itu juga si bayi tidak mempunyai kelainan ataupun penyakit bawaan. Perkembangan bayi selama dalam inkubator pun harus memiliki catatan yang baik, dengan refleks dan koordinasi isap yang tidak bermasalah. (11) A Bungkus buah hati Anda dengan pakaian, topi , popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu. B Taruh ia di dada Anda dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk , kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak. C Bisa juga bila Anda mengenakan baju yang longgar, lalu posisikan si bayi di antara belahan payudara. Tangkupkan baju dan ikatkan selendang agar bayi tidak jatuh dan nyaman posisinya (tidak melorot). D Dapat juga digunakan handuk ataupun kain gendongan yang lebar untuk menyokong tubuh bayi agar menempel erat di dada Anda. Ini akan membuat Anda juga dapat beraktivitas dengan bebas. E Pada waktu tidur, Anda dapat memposisikan diri setengah duduk, bisa juga

dengan meletakkan bantal di belakang punggung. F Jika Anda lelah, metode kanguru ini juga bisa digantikan oleh orang lain, asal terlebih dulu diajari posisinya untuk menghindari bayi salah posisi.

RINGKASAN Tingginya angka kematian bayi di Indonesia dapat diminimalisir salah satunya dengan melaksanakan Rawat Gabung (rooming in), bahkan infeksi nosokomial pada penatalaksanaan Rawat Gabung dapat kita tekan. Rawat gabung (rooming in) adalah satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Tujuan rawat gabung adalah agar Ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas, ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, Ibu memperoleh bekal keterampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit. Pada Rawat Gabung inisiasi dini dan pemberian ASI eksklusif adalah hal yang perlu dimengerti setiap Ibu. Disamping manfaat ragam nutrisi yang dimiliki, ASI diminati karena praktis dan mudah diberikan pada si kecil, bahkan proses menyusui seringkali dijadikan momen untuk meningkatkan kedekatan hubungan emosi antara ibu dan buah hati. Selain beberapa alasan yang telah disampaikan sebelumnya, berdasarkan hasil sejumlah penelitian terhadap komposisi ASI, ditemukan bahwa di dalam ASI terdapat bakteri, terutama dari kelompok Bifidobakteria dan Laktobasili yang mer0upakan kelompok bakteri yang menguntungkan. Hal baru yang mungkin masih kurang dipahami oleh Ibu-ibu di Indonesia adalah Kangaroo Care, dimana Bayi sehat yang baru lahir diletakkan di atas perut ibunya sambil dikeringkan dan dipotong tali pusatnya, hanya dengan handuk segera diletakkan di atas dada ibu sehingga terjadi kontak kulit dengan kulit. Tidak sampai satu jam, bayi merah itu bisa berhasil menetek ibunya. Sentuhan kulit dengan kulit dan kontak batin perdana sambil menyusu inilah yang disebut dengan inisiasi dini, yaitu menyusui langsung segera setelah bayi lahir. Pemberian makanan pralakteal pada bayi seharusnya dihindari, tapi hal yang menjadi titik pengetahuan Ibu adalah bagaimana inisiasi dini dan kangaroo care dilakukan, bagaimana teknik menyusui serta cara meningkatkan produksi ASI dan yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kesadaran untuk mau memberikan ASI kepada bayinya. Dengan demikian kita bisa ikut andil dalam

pencanangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pekan ASI sedunia, untuk menyelamatkan 1 juta bayi. Lebih dari 10 juta anak-anak di dunia ini meninggal sebelum menginjak usia 3 tahun yang pada umumnya disebabkan oleh penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah. Rawat Gabung

Dalam bab-bab yang lain telah dijabarkan mengenai manfaat ASI, bagaimana ASI diproduksi dan hal-hal apa yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Rawat gabung merupakan salah satu hal yang telah diketahui dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Dalam bab ini akan dibicarakan antara lain mengenai pengertian rawat gabung, manfaat rawat gabung, hal-hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan rawat gabung, masalahmasalah yang timbul dalam pelaksanaan rawat gabung dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Pengertian Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus menerus. Pada rawat gabung / rooming-in bayi diletakkan di box bayi yang berada di dekat ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain, bedding-in, yaitu bayi dan ibu berada bersama-sama di ranjang ibu. Manfaat rawat gabung 1. Mempercepat mantapnya dan terus terlaksananya proses menyusui. Dengan rawat gabung ibu dapat memberi ASI sedini mungkin, juga lebih mudah memberikan ASI. Adanya kontak terus menerus antara ibu dan bayinya memungkinkan ibu segera mengenali tanda-tanda bayinya ingin minum sehingga ibu/bayi dapat menyusui/menyusu on demand. Ibu yang melakukan rawat gabung menghasilkan ASI yang lebih banyak, lebih dini, menyusui lebih lama, dan lebih besar kemungkinannya menyusui eksklusif dibandingkan ibu yang tidak melakukan rawat gabung. 2. Memungkinkan proses bonding Rawat gabung akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya. Makin banyak waktu ibu bersama bayinya, makin cepat mereka saling mengenal. Ibu siap memberikan respon setiap saat. Rawat gabung juga menurunkan hormon stres pada ibu dan bayi.

3. Menurunkan biaya Pihak rumah sakit dapat menekan biaya karena tidak perlu membangun dan memelihara ruang bayi sehat, tidak perlu mengeluarkan gaji untuk petugas ruang bayi sehat, juga biaya yang harus dikeluarkan bila bayi menjadi sakit dapat dikurangi. Turn over lebih cepat. 4. Peralatan minimal Bila dilakukan bedding-in maka akan mengurangi pembelian boks bayi. Tidak memerlukan botol susu. 5. Tidak ada tambahan tenaga Tidak perlu menambah tenaga untuk ruang bayi sehat, karena untuk rawat gabung dapat memanfaatkan tenaga yang sudah ada di ruang nifas. 6. Menurunkan infeksi Adanya kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ibunya memungkinkan bayi terpapar pada bakteri-bakteri normal pada kulit ibu, yang dapat melindungi bayi terhadap kumankuman berbahaya. Kolostrum yang mengandung banyak antibodi, yang segera didapat bayi, juga melindungi bayi terhadap penyakit infeksi. 7. Keuntungan untuk bayi Bayi yang dirawat gabung akan lebih jarang menangis, lebih mudah ditenangkan, lebih banyak tidur. Mereka minum lebih banyak dan berat badannya lebih cepat naik. Ikterus lebih jarang terjadi. Bayi juga lebih hangat karena berada dalam kontak terus menerus dengan kulit ibunya. 8. Melatih ketrampilan ibu merawat bayinya sendiri Tindakan perawatan bayi yang dilakukan di dekat ibunya akan membantu ibu untuk melatih ketrampilan merawat bayinya sendiri, sehingga pada saat pulang ibu sudah tidak canggung lagi merawat bayinya. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu. Persiapan 1. Mempersiapkan alat dan sarana 1. Kebutuhan bayi Bayi dapat tidur di ranjang ibunya atau di dalam boksnya sendiri. Boks bayi sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau ibunya, jadi dianjurkan diletakkan di samping tempat tidur ibu, bukan di dekat kaki ibu. Siapkan juga alat-alat perawatan bayi dan pakaian bayi di dekat ibu, agar ibu juga dapat merawat bayinya dengan mudah. 2. Kebutuhan ibu Sediakan tempat tidur yang rendah untuk ibu supaya ibu tidak kesulitan naik

turun tempat tidur bila ingin menyusui atau merawat bayinya. Bila tempat tidur yang tersedia tinggi, sediakan anak tangga untuk membantu ibu naik turun tempat tidur. Sediakan juga meja pasien agar ibu dapat menaruh keperluannya dan keperluan bayinya di tempat yang terjangkau. 3. Sarana lain Siapkan lemari pakaian untuk keperluan pakaian ibu dan pakaian bayinya. Untuk di ruangan perlu disiapkan tempat mandi bayi yang portabel serta perlengkapannya agar kegiatan memandikan bayi dapat dilakukan di dekat ibu. Sediakan juga tempat cuci tangan ibu, kamar mandi dan wc tersendiri. Bel untuk memanggil petugas harus disediakan di tempat yang mudah dijangkau ibu. Bahan bacaan, leaflet mengenai petunjuk perawatan ibu menyusui dan perawatan nifas dapat disediakan untuk dibaca oleh ibu. 2. Membuat kriteria/syarat rawat gabung Tidak semua bayi baru lahir dapat menjalani rawat gabung. Perlu dibuat suatu kriteria/syarat untuk menentukan bayi mana saja yang dapat menjalani rawat gabung. Kriteria yang dapat dipakai adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bayi normal, tidak mempunyai cacat bawaan berat Nilai APGAR menit ke 5 lebih dari 7 Keadaan stabil Berat badan lahir >2500-4000 gram Umur kehamilan 37-42 minggu Tak ada faktor risiko Ibu sehat

Masalah atau kekhawatiran yang timbul Dalam melaksanakan rawat gabung, dapat muncul masalah atau kekhawatiran baik di pihak petugas maupun di pihak ibu dan keluarganya. Masalah dan kekhawatiran yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan pertentangan antara ibu atau keluarganya dengan petugas, atau antar petugas sendiri dan pada akhirnya akan menimbulkan resistensi dari petugas untuk melanjutkan pelaksanaan rawat gabung. Karenanya hal-hal ini harus segera dikenali dan diatasi. Masalah atau kekhawatiran yang sering timbul adalah: 1. Masalah: Sulit memantau kondisi bayi yang menjalani rawat gabung. Cukup satu petugas untuk memantau semua bayi bila dirawat di ruang bayi sehat.

Cara mengatasi: Yakinkan petugas bahwa bayi akan lebih baik dekat dengan ibunya, dengan adanya keuntungan tambahan berupa kenyamanan, kehangatan dan dapat menyusu on demand. Bedding-in (bayi seranjang dengan ibu), bila sesuai dengan budaya setempat, memberikan situasi terbaik untuk memperoleh semua keuntungan tadi dan menghilangkan kebutuhan untuk membeli ranjang bayi. Bila ada masalah pada bayi yang menjalani rawat gabung atau seranjang dengan ibu, maka ibu dapat segera memberitahu petugas. Tekankan bahwa tidak diperlukan pengawasan 24 jam. Yang diperlukan hanya pemeriksaan berkala dan kesiapan petugas menanggapi kebutuhan ibu pada saat dibutuhkan. 2. Masalah: Ibu perlu istirahat setelah melahirkan, terutama di malam hari, dan bayi harus minum. Terutama setelah operasi sesar, ibu perlu waktu untuk pemulihan. Pada saat tersebut bayi harus diberi pengganti ASI. Cara mengatasi: Ajak para petugas untuk meyakinkan ibu bahwa dengan rawat gabung ibu memberikan yang terbaik untuk bayinya, tidak perlu banyak kerja tambahan, dan bahwa para petugas siap membantu bila dibutuhkan. Ajak para petugas untuk membahas dengan ibu bahwa semakin lama bayi bersama ibu semakin baik mereka akan mengenal mana yang normal dan mana yang abnormal, dan bagaimana memberikan perawatan yang baik. Lebih baik berlatih mengurus bayinya saat masih di rumah sakit, karena banyak petugas yang dapat menolong. Beri pengertian pada petugas bahwa setelah menyusui dengan baik, ibu dapat tidur lebih nyenyak bila bayinya bersamanya. Pastikan bahwa petugas tahu bagaimana menolong ibu yang menjalani bedah sesar untuk memilih tehnik dan posisi menyusui yang nyaman dan efektif. Bila operasi Caesar memakai anestesi regional atau lokal, menyusui dini kurang menjadi masalah. Walaupun begitu, ibu yang mendapat anestesi umum pun dapat segera menyusui begitu ibu sadar, bila petugas mendukung ibu. 3. Masalah: Tingkat kejadian infeksi lebih tinggi bila ibu dan bayi bersama-sama, daripada bila bayi di ruang bayi sehat. Cara mengatasi: Tekankan bahwa bahaya infeksi lebih sedikit bila bayi bersama ibu daripada bila di ruang rawat bayi sehat dan terpapar pada lebih banyak petugas.

4.

5.

6.

7.

8.

Sediakan data untuk petugas yang memperlihatkan bahwa dengan rawat gabung dan menyusui tingkat infeksi lebih rendah, misalnya diare, sepsis neonatus, otitis media dan meningitis. Masalah: Bila pengunjung diperbolehkan memasuki ruang rawat gabung, bahaya infeksi dan kontaminasi akan meningkat. Sebagian ibu merasa perlu menerima tamu, dan dapat mengurusi bayinya nanti setelah pulang dari rumah sakit. Cara mengatasi: Tekankan bahwa bayi mendapat kekebalan dari kolostrum terhadap infeksi, dan penelitian-penelitian memperlihatkan bahwa infeksi lebih sedikit terjadi di bangsal rawat gabung daripada di ruang bayi sehat. Untuk membantu ibu merawat bayinya sebaik mungkin, batas jam berkunjung, jumlah pengunjung, dan larang merokok. Masalah : Ruang rawat terlalu kecil Cara mengatasi: Tidak perlu mengadakan ranjang bayi. Bedding-in tidak memerlukan ruang tambahan. Masalah : Bayi bisa jatuh dari tempat tidur ibu Cara mengatasi: Tekankan bahwa bayi baru lahir tidak bergerak. Bila ibu masih khawatir, atur tempat tidur agar berada dekat dinding, atau bila budaya setempat memungkinkan, rapatkan dua tempat tidur agar dua ibu dapat menaruh bayibayi mereka di tengah. Masalah : Rawat gabung penuh sulit dilakukan karena ada prosedurprosedur yang harus dilakukan pada bayi di luar ruang rawat ibu. Cara mengatasi: Pelajari betul-betul prosedur-prosedur ini. Beberapa prosedur mungkin tidak perlu (misalnya menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusu). Prosedur lain dapat dilakukan di kamar ibu.Ulas keuntungan bagi ibu dan waktu yang dapat dihemat dokter bila dokter memeriksa bayi di hadapan ibu. Masalah : Pasien-pasien di ruangan privat merasa punya hak untuk menaruh bayinya di ruang bayi sehat dan memberi bayinya pengganti ASI, dan mengharapkan bantuan dari petugas perawat bayi. Cara mengatasi: Apa pun yang terbaik untuk pasien umum tentu juga baik untuk pasien

privat. Pertimbangkan untuk melakukan pilot-project untuk menguji rawat gabung di kamar privat sebagaimana di bangsal umum. 9. Masalah: Beberapa rumah sakit swasta mendapat pemasukan dari pemakaian ruang rawat bayi sehat dan karenanya enggan menutup unit ini. Cara mengatasi: Perhitungkan biaya yang dapat dihemat dari rawat gabung karena berkurangnya pemakaian pengganti ASI, berkurangnya jumlah petugas yang dibutuhkan untuk menyiapkan botol dan mengurus ruang bayi sehat, berkurangnya bayi yang menjadi sakit, dsb. Pertimbangkan untuk tetap menarik biaya dari perawatan bayi di ruang rawat gabung. 10.Masalah: Bayi lebih mudah diculik bila dirawat gabung daripada bila dirawat di ruang rawat bayi sehat. Cara mengatasi: Wajibkan petugas untuk memberitahu ibu agar meminta tolong orang lain (ibu lain, anggota keluarga, petugas) untuk mengawasi bayinya bila ibu keluar ruangan. Ibu perlu tahu bahwa tidak ada alasan untuk memindahkan bayi tanpa sepengetahuan ibu. Pada umumnya, rumah sakit yang belum mengadakan rawat gabung akan merasa khawatir bila akan memulai program rawat gabung di sarananya. Berbagai penolakan biasanya akan muncul baik dari para petugas rumah sakit, baik medis maupun non medis, maupun dari para ibu dan anggota keluarganya. Semua masalah yang timbul sebaiknya segera diidentifikasi dan dicari pemecahannya agar tidak berlarut-larut yang pada akhirnya akan makin membuat para petugas enggan melanjutkan program ini. Umumnya masalah dapat diatasi bila ada komitmen yang kuat di pihak pengelola rumah sakit dan para petugas pelaksana di ruangan. Perlu diadakan pelatihan tenaga kesehatan, pendampingan dan evaluasi berkala terhadap program yang berjalan. Kesimpulan Rawat gabung merupakan pilihan terbaik untuk merawat bayi dan ibu yang sehat karena dapat meningkatkan pemberian ASI, mengurangi risiko infeksi, meningkatkan ikatan antara ibu dan bayi, dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan rumah sakit. Mengadakan program rawat gabung di rumah

sakit membutuhkan komitmen yang kuat dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan, pengetahuan yang cukup bagi para petugas kesehatan dan pendampingan bagi para ibu dan keluarganya. Tidak ada kata sulit untuk memulai, yang dibutuhkan hanya tekad yang kuat. Saat ini Kementerian Kesehatan telah menentukan bahwa Rawat Gabung menjadi item untuk akreditasi rumah sakit. 2.1.3 Rawat gabung
A. PENGERTIAN RAWAT GABUNG Rawat gabung adalah suatu system perawatan ibu dan anak bersama-sama pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu, setiap saat ibu dapat menyusui anaknya. Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh seharinya, hal ini merupakan waktu yang baik bagi ibu dan bayi saling berhubungan dan dapat memberikan kesempatan bagi keduanya untuk pemberian ASI. Ada dua jenis rawat gabung : a. RG continue : bayi tetap berada disamping ibu selama 24 jam. b. RG parsial : ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam seharinya. Misalnya pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar bayi. B. TUJUAN RAWAT GABUNG a. Memberikan bantuan emosional 1) Ibu dapat memberikan kasi sayang sepenuhnya kepada bayi. 2) Memberikan kesempatan kepada ibu dan keluarga untuk mendapatkan pengalaman dalam merawat bayi . b. Penggunaan ASI 1) Agar bayi dapat sesegera mungkin mendapatkan kolostrum/ASI. 2) Produksi ASI akan makin cepat dan banyak jika diberikan sesering mungkin. c. Pencegahan infeksi 1) Mencegah terjadinya infeksi silang. d. Pendidikan kesehatan 1) Dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan pada ibu. e. Memberikan stimulasi mental dini tumbuh kembang pada bayi C. MANFAAT RAWAT GABUNG a. Bagi ibu 1) Aspek psikologi Antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) dan lebih akrab akibat sentuhan badan antara ibu dan bayi. Dapat memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat bayinya. Memberikan rasa percaya kepada ibu untuk merawat bayinya. Ibu dapat memberikan ASI kapan saja bayi membutuhkan, sehingga akan memberikan rasa kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi dengan baik sebagaimana seorang ibu memenuhi kebituhan nutrisi bagi bayinya. Ibu juga akan merasa sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Hal ini akan memperlancar produksi ASI. 2) Aspek fisik

Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan terjadi kontraksi rahim yang baik. Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat mobilisasi. b. Bagi bayi 1) Aspek psikologi Sentuhan badan antara ibu dan bayi akan berpengaruh terhadap perkembangan psikologi bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, dan ini merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak 2) Aspek fisik Bayi segera mendapatkan colostrum atau ASI jolong yang dapat memberikan kekebalan/antibodi. Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya. Kemungkinan terjadi infeksi nosokomial kecil. Bahaya aspirasi akibat susu botol dapat berkurang. Penyakit sariawan pada bayi dapat dihindari/dikurangi. Alergi terhadap susu buatan berkurang. c. Bagi keluarga 1) Aspek psikologi Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan support pada ibu untuk memberikan ASI pada bayi. 2) Aspek ekonomi Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan bayi tidak menjadi sakit sehingga biaya perawatan sedikit. d. Bagi petugas 1) Aspek psikologi Bayi jarang menangis sehingga petugas di ruang perawatan tenang dan dapat melakukan pekerjaan lainnya. 2) Aspek fisik Pekerjaan petugas akan berkurang karena sebagian besar tugasnya diambil oleh ibu dan tidak perlu repot menyediakan dan memberikan susu buatan. D. PELAKSANAAN a. Di poliklinik kebidanan Penyuluhan tentang ASI. Memutar film. Melayani konsultasi masalah ibu dan anak. b. Kamar persiapan Jika rumah sakit telah berfungsi sebagai RS sayang ibu, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik. Kamar ini dipersiapkan bagi ibu yang tidak pernah melakukan ANC di RS dimana ia akan bersalin. Di dalam ruangan persiapan diperlukan gambar, poster, brosur dsb untuk membantu memberikan konseling ASI. Di ruangan ini tidak boleh terdapat botol susu, dot atau kempengan apalagi iklan susu formula yang semuanya akan mengganggu keberhasilan ibu menyusui.

c. Kamar Persalinan Di ruangan ini dapat dipasang gambar, poster tentang menyusui yang baik dan benar. Serta menyusui segera setelah lahir. Dalam waktu 30 menit setelah lahir bayi segera disusukan. Rangsangan pada puting susu akan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin untuk segera memproduksi ASI. d. Kamar perawatan Bayi diletakkan dekat dengan ibunya. Awasi KU dan kenali keadaan-keadaan yang tidak normal. Ibu dibantu untuk dapat menyusui dengan baik dan cara merawat payudara. Mencatat keadaan bayi sehari-hari. KIE tentang perawatan tali pusat, perawatan bayi, perawatan payudara, cara memandikan bayi, immunisasi dan penanggulangan diare. Jika bayi sakit pindahkan ke ruang khusus. E. SASARAN DAN SYARAT a. Bayi lahir dengan spontan , baik presentasi kepala atau bokong. b. Jika bayi lahir dengan tindakan maka rawat gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup sehat, reflek hisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dsb. c. Bayi yang lahir dengan Sectio Cesarea dengan anestesi umum, RG dilakukan segera stelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk)misalnya 4-6 jam setelah operasi. d. Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7). e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih. g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum. h. Bayi dan ibu sehat. F. KONTRA INDIKASI Rawat gabung tidak dianjurkan pada keadaan : a. Ibu Penyakit jantung derajat III. Pasca eklamsi. Penyakit infeksi akut, TBC. Hepatitis, terinfeksi HIV, sitimegalovirus, herpes simplek. Karsinoma payudara. b. Bayi Bayi kejang. Sakit berat pada jantung. Bayi yang memerlukan pengawasan intensif. Catat bawaan sehingga tidak mampu menyusu. G. PERSYRARATAN RAWAT GABUNG YANG IDEAL a. Bayi Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu. Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi. Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm. b. Ibu

Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm. Tinggi 90 cm. c. Ruang Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m. Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan perawatan). d. Sarana Lemari pakaian. Tempat mandi bayi dan perlengkapannya. Tempat cuci tangan ibu. Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri. Ada sarana penghubung. Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan pada bayi dengan bahasa yang sederhana. Perlengkapan perawatan bayi. e. Petugas Rasio petugas dengan pasien 1 : 6. Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan RG. H. MODEL PENGATURAN RUANGAN RAWAT GABUNG a. satu kamar dengan satu ibu dan anaknya. b. empat sampai lima orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang lain bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan tempat tidurnya. c. beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca yang kedap udara. d. model dimana ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama. e. bayi di tempat tidur yang letaknya disamping ibu. I. KEUNTUNGAN & KERUGIAN a. Keuntungan Menggalakkan penggunaan ASI. Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat. Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaanbayi yang aneh. Ibu dapat belajar merawat bayi. Mengurangi ketergantungan ibu pada bidan.0 Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi. Berkurangnya infeksi silang. Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan. b. Kerugian Ibu kurang istirahat. Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena oengaruh orang lain. Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung. Pada pelaksanaan ada hambatan tekhnis/fasi