Anda di halaman 1dari 28

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

Pesan Direksi

Sinergi Resources PJB Raya

lhamdulillah, kinerja PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) sepanjang tahun 2012 semuanya melebihi dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Kesehatan perusahaan dinyatakan SEHAT dengan kategori AAA. Ini merupakan keberhasilan kita bersama, keberhasilan seluruh insan PJB yang secara bersungguhsungguh dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diemban. Pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilaksanakan 18 April 2013 di Jakarta. memberikan apresiasi atas pencapaian tersebut.

Apresiasi itu juga diwujudkan dalam bentuk kepercayaan yang diberikan ke PJB untuk menjalankan sejumlah pekerjaan penting dalam membangun sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Penugasan yang diberikan antara lain: pembangunan sejumlah pembangkit baru di luar Jawa dan pengelolaan jasa operasi dan pemeliharaan di beberapa wilayah Indonesia, termasuk dalam pengelolaan jasa pemeliharaan pada PLTU FTP 1. Selain itu juga ada penugasan Compressed Natural Gas (CNG) plant di Muara Tawar dan Gresik, pembangunan PLTMG di Pulau Bawean dan masih banyak lagi, yang kesemuanya membutuhkan kesungguhan dan kerja keras kita semua, mengingat target waktu yang diberikan sangat terbatas. RUPS juga memberikan izin prinsip pengalihan aset PLTGU Muara Karang Blok 2 dan PLTGU Muara Tawar Blok 5 milik PT PLN (Persero) kepada PJB. Perlu kita sadari, kunci sukses dalam menjalankan tugas tersebut tentu saja ada pada Sumberdaya Manusia (SDM). Ini merupakan sebuah tantangan tersendiri, terutama dalam hal penyediaan SDM dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai untuk menjalankan dan mensukseskan penugasan-penugasan penting tersebut. Untuk itu, kita perlu mensinergikan semua human resources PJB dan semua anak perusahaan atau yang kita kenal PJB Raya, dengan pemetaan dan pembagian peran bisnis untuk memastikan kebutuhan human resources dapat terpenuhi, baik dari sisi kapasitas maupun kapabilitas. Kita harus bertindak cepat dan tepat dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada serta mendidik ahli-ahli baru melalui Power Plant Academy dan Akademi Komunitas yang dimiliki PJB, maupun TDC (Training Development Center) yang dimiliki PJB Services. Kita tidak bisa menggantungkan diri kepada provider pelaksana training SDM bidang pembangkit. Selain jumlahnya sangat terbatas, training yang mereka lakukan membutuhkan waktu relatif lama, padahal kebutuhannya sangat mendesak. Melalui sinergi resources PJB Raya, Insya Allah kepercayaan yang diberikan kepada kita dapat dijalankan, dan perusahaan yang kita cintai ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

SusantoPurnomo,DirekturUtama

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

Daftar Isi

Laporan Utama

06

Rakor Triwulan I 2013 DirOps JBS Sukses Perang Padam Jawa Bali

10

PJB Raih Lima Bendera Emas

25

Training Development Center PJBS Penyiapan SDM O&M Pembangkit

Manajemen Aset

Kunci Sukses Kinerja Operasional Tahun 2012


Rakor Jawa Bali Triwulan 1 tahun 2013, mereview sukses Perang Padam Jawa Bali (PPJB), dimana DirOps JBS PT PLN (Persero), I Ngurah Adnyana minta supaya keberhasilan itu diteruskan di tahun 2013 serta diharapkan terus meningkatkan kinerjanya menuju service excellence. PJB memperoleh lima sertifikat dan bendera emas atas pelaksanaan SMK3, yang diserahkan langsung oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, di Jakarta, 30 April 2013. Untuk mempersiapkan SDM bidang O&M Pembangkitan dengan kompetensi memadai dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat, PJB Services mendirikan Training Development Center (TDC), sebuah pusat pelatihan untuk mencetak SDM bidang O&M Pembangkitan.

Kinerja PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) sepanjang tahun 2012 melampaui target. Kinerja operasi seperti produksi tenaga listrik, penjualan tenaga listrik, EAF, EFOR, Efisiensi Thermal Netto Pembangkit, dan SdOF, semuanya melebihi target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan. Begitu juga kinerja keuangan, melebihi target RKAP. Kesehatan perusahaan dinyatakan sehat dengan kategori AAA.

Susunan Redaksi
Penasehat : Direksi PT PJB Pemimpin Redaksi : Sekretaris Perusahaan Wakil Pemimpin Redaksi : Senior Manajer Humas & CSR Dewan Redaksi : Devi Rahmawati (Koordinator) I Nyoman Widiyatnya Dedi Budi Utomo Hartanto Wibowo Agus Wibawa Habib Muhajir Joni Arifin Yuyun Arinugraha Surya Hardhiyana Putra Rudi Djauhar Musyafa Sekretaris Redaksi : Siti Maesaroh Sekretariat Redaksi : Bidang Humas & CSR Dokumentasi : Totot Sutrisno INFO PJB Online : Cahyadi Yerosaka Sirkulasi dan Distribusi : Agus Muhardono Alamat Redaksi : Jl. Ketintang Baru No. 11 Surabaya Telp. (031) 8283180 (hunting) Psw. 133 Facsimile : (031) 8298132 Email : info@ptpjb.com

08 14 16 20

SMK3 Menuju Masyarakat Industri yang Selamat, Sehat dan Produktif


SMK3 adalah bagian dari sistemmanajemen perusahaan secara keseluruhan yang diharapkan melalui penerapannya, perusahaan dapat memiliki lingkungan kerja yang sehat, aman, efisien dan produktif

28 30

BUSINESS CONTINUITY PLAN, Lebih Dari Sekadar Tanggap Darurat Gangguan dan Bencana
Untuk meminimalisasi risiko bisnis pada saat terjadianya gangguan/bencana, sebuah perusahaan perlu memiliki Business Continuity Plan (BCP), yaitu suatu bagian yang terintegrasi dengan kebijakan manajemen risiko secara keseluruhan.

PJB Segera Bangun PLTMG di Bawean Gunakan Bahan Bakar CNG


PJB segera bangun PLTMG 1 x 3 MW di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, yang diharapkan beroperasi awal Januari 2014, dimana keberadaannya dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi BBM, dengan mengoptimalkan pemanfaatan gas UP Gresik.

Supplier Gathering PJB, Bangun Kemitraan, Wujudkan Pengadaan yang Bersih dan Berkualitas
Suplier, Manajemen dan Direksi PJB menandatangani Deklarasi Suplier 2013 di Kantor Pusat PJB, Rabu 24 April 2013, yang berisi pernyataan untuk melakukan proses pengadaan sesuai kaidah GCG, sebagai salah satu wujud tekad perbaikan berkelanjutan dalam rangka tata kelola perusahaan yang baik. .

Monitoring Peralatan Melalui Standarisasi dan Generalisasi Kondisi Peralatan


Untuk monitoring ribuan hingga puluhan ribu peralatan dalam sebuah pembangkitan, dibutuhkan metode yang mudah, efisien, dan akurat melalui sistem terkomputerisasi hingga bisa menghasilkan informasi yang cepat, akurat, dan real-time.

32

Wokrshop Global IPP Business Buka Wawasan Bisnis Pembangkitan Secara Komprehenship
PJB menggelar Workshop Global IPP Business, seiring perkembangan sektor ketenagalistrikan yang cukup pesat, serta besarnya potensi PJB untuk membangun pembangkit baru, baik yang dilakukan sendiri maupun dalam bentuk joint venture company

UBJOM Implementasikan Gatecycle Peningkatan Performance Pembangkit


Guna meningkatkan performance pembangkit FTP-1, PJB mengimplementasikan Gatecycle yang bermanfaat untuk menghasilkan data yang akurat dan match dengan kondisi riil dilapangan, sehingga sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan dalam rangka perbaikan efisiensi pembangkit.

42 46

PJB-ITS Kembangkan Biodiesel dari Mikroalga sebagai Energi Alternatif


Bekerjasama dengan program CSR PJB, ITS mengembangkan biodesel dari mikroalga, salah satu organisme yang dapat dinilai ideal dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku produksi biodisel, dimana Indonesia akan menjadi produsen biofuel terbesar di dunia.

Direktur Utama PJB menyampaikan Laporan Perhitungan Tahunan dalam RUPS LPT 2012 di Jakarta.

22
Redaksi menerima tulisan berupa berita, artikel maupun opini. Tulisan diketik dalam satu spasi font 12 sepanjang 2 halaman kuarto. Redaksi berhak melakukan editing dengan tidak mengurangi arti. Naskah dikirim ke redaksi (Humas PT PJB) atau melalui email : info@ptpjb.com atau fax (031) 8298132.

Deseminasi Manajemen Aset Unit Pembangkitan Sumbagut Sebagai Role Model


Menyusul Go Live IMAP Pembangkitan Sumbagut, Senin, 6 Mei 2013, deseminasi Manajemen Aset ke Unit-Unit Pembangkitan PLN telah memasuki babak akhir, yang diharapkan menjadi pilot project ke seluruh sektor pembangkitan yang ada di PLN.

Maturity Level Pelaksanaan CSR


Untuk mengetahui maturity level pelaksanaan CSR, PJB bekerjasama dengan pihak ke-3 melakukan penilain pelaksanaan program CSR di 8 unit dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan melibatkan multi stakeholders.

ngka-angka pencapaian kinerja disampaikan Direksi PJB dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Laporan Perhitungan Tahunan (LPT) Tahun Buku 2012, Kamis 18 April 2013, di Jakarta. RUPS menyetujui dan menerima laporan tahunan mengenai keadaan dan jalannya perseroan tersebut, serta menyetujui dan menerima paparan pelaksanaan tugas pengawasan dewan komisaris.

Juga dalam pembahasan mengenai penetapan penggunaan laba bersih, RUPS memberi kuasa pemegang saham mayoritas untuk menetapkan penggunaan laba bersih, termasuk tantiem bagi direksi dan dewan komisaris serta bonus bagi karyawan untuk tahun buku 2012. Manajemen PJB telah melaksanakan program yang tertuang dalam RKAP 2012 dan pencapaian KPI manajemen yang telah ditetapkan dalam RUPS RKAP 2012, dan seluruhnya dapat tercapai lebih baik. Menurut Direktur Utama PJB, Susanto Purnomo, pencapaian tersebut antara lain didukung oleh : Implementasi tata kelola pembangkitan dan pemeliharaan berbasis Enterprise Asset Management dan Asset Wellness yang
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 3

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Laporan Utama terintegrasi dalam PJB Integrated Management System dan conformity PAS 55. Penyerapan gas pembangkit PJB melampaui target RKAP (di Muara Karang sebesar 123,7%, di Muara Tawar 105,8% dan di Gresik 101,8% dari rencana). Peningkatan kompetensi dan maturity level SDM yang telah dilakukan melalui program sertifikasi yang bertaraf internasional. Efektivitas penerapan GCG. Pencapaian kinerja ekselen dengan kriteria Malcolm Baldrige mencapai band Emerging Industry Leader. Dalam RUPS tersebut dipaparkan PJB telah melakukan pembaharuan tata kelola manajemen aset yang lebih baik antara lain: standard document (pengadaan, operasi & pemeliharaan, pengukuran, penghapusan aset), good classification (sesuai jenis & fungsi aset), dan fact based (penyesuaian nilai & volume secara periodik). Senior Manajer ROP, Sugiyanto CMRP, ditemui secara terpisah, menyebut implementasi manajemen aset memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian kinerja operasional. Unit telah menjalankan manajemen aset secara disiplin. Ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian kinerja operasi, kata Sugiyanto. Komitmen direksi, senior leader dan karyawan menerapkan standar best practice manajemen aset yang telah dideklarasikan awal Januari 2012, dalam rangka menuju perusahaan dengan kinerja ekselen di bidang pengelolaan aset. Diulang tahun ke-17, PJB meraih sertifikat PAS 55. Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera, I Ngurah Adnyana mengakui PJB telah memasuki kinerja ekselen di bidang pengelolaan aset. PJB sukses menerapkan best practice manajemen aset. PJB ekselen dan terbukti memperoleh sertifikat PAS 55. Karena itu banyak orang-orang PJB dipercaya menjadi eksekutif di PLN, kata I Ngurah Adnyana, ditemui di sela-sela Rakor Operasi Jawa Bali di PJB Kantor Pusat, Jumat, 26 April 2013. Memang, sejumlah orang PJB
4 Info PJB
n

Laporan Utama

Direksi PLN selaku pemegang saham PJB mencermati Laporan Perhitungan Tahunan PJB.

tercatat menduduki jabatan strategis di PLN dan unit-unit bisnisnya. Organisasi dan SDM Di sisi organisasi dan SDM, sebagai tindak lanjut dari amanat RUPS RKAP 2011, PJB telah mengembangkan dan mengimplementasi organisasi baru yang lebih lean & clean. Organisasi baru telah diselaraskan dengan strategi dan rencana jangka panjang perusahaan untuk mendukung kecepatan pengambilan keputusan. Alignment organisasi yang telah dilakukan meliputi: Level operasional fokus pada proses peningkatan keandalan dan efisiensi pembangkit sehingga struktur organisasi menjadi lebih ramping melalui penggabungan beberapa fungsi supporting. Level korporat fokus pada dukungan terhadap percepatan proses bisnis di unit dan pengembangan korporat (stockiest, energi primer, business solution). PJB telah melakukan peningkatan kompentensi dan maturity level SDM melalui program sertifikasi yang bertaraf internasional, sehingga semakin mendapat pengakuan keahlian di bidang bisnis pembangkitan. Dalam tahun 2012 telah dilaksanakan program Certified Maintenance and Reliability Professional (CMRP) yang diperoleh 4 orang karyawan (di Indonesia ada 14 orang dan PJB yang terbanyak mempunyai ahli bersertifikat CMRP). Selain itu juga sertifikasi keahlian overhaul gas turbin oleh Mitsubishi yang diperoleh 3 orang karyawan. Terkait dengan sistem Jawa Bali dan PLN secara korporat, PJB memberikan kontribusi cukup signifikan. Realisasi penjualan lebih tinggi dari target yang didukung oleh faktor kesiapan pembangkit. PJB juga memaksimalkan penyerapan gas. Penyerapan gas Nusantara Regas di UP Muara Karang mencapai 123,7 persen terhadap RKAP, di UP Gresik 101,8 persen terhadap RKAP dan UP Muara Tawar 105,8 persen terhadap RKAP. Hal ini sangat membantu penghematan BBM di sistem Jawa-Bali. PJB juga membantu unit PLN di Sulselrabar, Kalselteng, Kaltim, Labuhan Angin & Belawan, Sulutenggo, dan Lahendong, untuk membangun tata kelola atau Manajemen Aset Pembangkitan (MAP) yang meliputi: Memberikan pemahaman dan meningkatkan knowledge serta kompetensi SDM Unit PLN dalam MAP.

sebagai tools untuk MAP. Komisaris Utama PJB yang juga LC Corporate University PLN, Bagiyo Riawan, memberikan apresiasi atas pencapaian kinerja PJB tahun 2012 dan kontribusi PJB terhadap sektor ketenagalistrikan. PJB dinilai telah berhasil mengimplementasikan manajemen aset dan telah menjadi acuan unit bisnis pembangkitan PLN di seluruh Indonesia. Yang perlu dilakukan PJB dalam waktu dekat ini adalah percepatan peningkatan kompetensi kepada generasi muda, supaya proses kaderisasi bisa berjalan dengan baik, pinta Bagiyo Riawan ketika ditemui disela-sela Launching Implementasi Manajemen Aset Pembangkit (IMAP) di Kantor Unit Pembangkitan

Membangun kebijakan MAP disesuaikan visi dan misi PLN. Memperbaiki proses bisnis, prosedur dan tata kelola/MAP. Implementasi aplikasi Enterprise Asset Management System (EAMS)

Sumatera Bagian Utara, 6 Mei 2013. Percepatan peningkatan kompetensi bagi para yunior sangat mendesak dilakukan, mengingat sejumlah senior PJB telah dipercaya menjadi eksekutif di lingkungan PLN. Tanpa ada percepatan peningkatan kompetensi terhadap para yunior, PJB akan mengalami kesulitan untuk mencari pengganti mereka. Langkah ini sekaligus untuk memperkecil gap kompetensi antara senior dan yunior.(*)

Journey Kinerja Excellent PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

Operasi

Operasi

Sukses melakukan Perang Padam Jawa Bali (PPJB), Direktur Operasi Jawa Bali Sumatera (DirOps JBS) PT PLN (Persero), I Ngurah Adnyana minta supaya keberhasilan itu diteruskan di tahun 2013. Permintaan disampaikan kepada para General Manager (GM) Unit Induk dan anak perusahaan PLN di Jawa bali dalam Rapat Koordinasi Jawa Bali Triwulan 1 tahun 2013 yang berlangsung di PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Kantor Pusat, 25-25 April 2013. Untuk itu, unit induk dan anak perusahaan diharapkan untuk terus meningkatkan kinerjanya menuju service excellence.
asil PPJB sangat mengesankan karenanya semangat berperang di Jawa Bali tetap membara. Melalui PPJB gangguan pembangkit (EFOR), gangguan trafo, transmisi, penyulang dan kubikel 20 kV turun dengan sangat mengesankan, dan area pertempuran telahdiperluas dengan menjadikan gangguan temporer, gangguan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dan Sambungan Rumah (SR) menjadi musuh bersama (common enemy). Dalam kesempatan itu, diingatkan kembali 5 prioritas hasil high level brainstorming di Bali tanggal 21 Maret yang antara lain: Meningkatkan capacity to sale (mengurangi hidden power/ hidden plant) yang pada Tahun 2013 diperkirakan lebih dari 2.500 MW atau lebih besar dibandingkan kapasitas PLTU Pelabuhan Ratu, Tanjung Awarawar dan Adipala yang akan masuk sistem Jawa Bali tahun 2013-2014. Joint Inventory : Meningkatkan service level material dengan menjaga inventory level rendah (optimasi inventory), gangguan trafo PLTGU Cilegon dan PLTU Paiton, trafo criticallity-nya paling tinggi, impact pada kelangsungan produksi besar, butuh precision maintenance dan spare strategis. Idealnya trafo ada spare. Force derating mendekati 12 persen (wajarnya 3 persen), apabila PO 7 persen maka
6 Info PJB
n

PLTU FTP 1 masih menjadi


primadona, yang sangat sensitif terhadap biaya produksi dan BBM. Pareto Loss paling tinggi pada kegagalan dan derating boiler. Mengantisipasi kemungkinan terlambatnya kabel laut Bali ke akhir tahun 2013 atau awal tahun 2014, antisipasi defisit di Bali. Selanjutnya DirOps JBS menjelaskan mengenai program utama di tahun 2013 yang antara lain: Teknikal Sistem : Melembagakan sukses PPJB, efisiensi pembangkit dan jaringan, dan menambah kapasitas Pembangkit 2015 - 2016. Proses Bisnis : OPI (peningkatan maturity level), EAM sesuai roadmap, revass terintegrasi dengan pelaksanaan EAM, Malcolm Baldrige, SKI tidak boleh terlambat terbit (perkuat delegating). People System : Integritas data, PLN Bersih, membangun PLN satu (menghilangkan egosentris) dan pelaksanaan leadership di semua level. Sesuai temanya, yaitu Bersama kita wujudkan PT PLN (Persero) Menjadi Perusahaan yang Bersih, Efisien, Andal dan Berkualitas Guna Mendukung Pencapaian SLA (Services Level Agreement), Rakor banyak menyinggung tentang bagaimana mewujudkan PLN yang bersih.

didapat EAF 90 persen.

Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera , I Ngurah Adnyana memimpin Rakor Operasi Jawa Bali Triwulan I 2013.

Rakor Triwulan I 2013

Tahun 2013 Melanjutkan Sukses Perang Padam Jawa Bali


Sementara itu PJB yang diwakili Direktur Pengembangan dan Niaga, Haryanto Widodo, memaparkan tentang program O&M PT PJB tahun 2013, yang antara lain: Reliability Management , Efficiency Management, Boiler Management, Life Cycle Cost Management, Life Assessment & Life Extension, Reverse Engineering, New Technology Implementation, Research & Development Centre, serta Peer Group Discussion (PGD) Operatioan, Maintenance and Engineering (OME). Tujuannya antara lain: Mempertahankan dan meningkatkan efisiensi, kehandalan & keselamatan pembangkit, Monitoring, trending, data base for reliability & efficiency, Akurasi SKI, RJPU, dan RJPP, Peningkatan kandungan lokal, serta mengurangi levering waktu dan biaya, Peningkatan inovasi, serta Peningkatan keterampilan dan pengetahun SDM di bidang OME. Tujuannya antara lain: Mempertahankan dan meningkatkan efisiensi, kehandalan & keselamatan pembangkit, Monitoring, trending, data base for reliability & efficiency, Akurasi SKI, RJPU, dan RJPP., Peningkatan kandungan lokal, serta mengurangi levering waktu dan biaya, Peningkatan inovasi, serta Peningkatan keterampilan dan pengetahun SDM di bidang OME. Juga diungkapkan tentang peningkatan kualitas pengadaan (pemeliharaan & investasi) dengan adanya Rencana Umum Pengadaan (RUP), yaitu suatu daftar rencana proses pengadaan barang & jasa yang merupakan penjabaran unsur pengadaan yang ada dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), sehingga proses eksekusinya bisa berjalan secara efektif dan efisien. Selain itu PJB juga memaparkan tentang implementasi gatecycle di Unit Binsis Jasa Operation and Maintenance (UBJOM) untuk meningkatkan performance pembangkit. DirOps JBS memberikan apreasiasi atas apa yang dilakukan PJB. Pada Rakor yang dihadiri seluruh GM Kantor Induk yang didampingi perwakilan Manager Bidang, Direksi Anak Perusahaan, Manager Senior dan Staf Ahli Direksi dari Kantor Pusat itu Adnyana mengungkapkan dan menjelaskan sedikit tentang Tingkat Kesehatan PLN pada tahun 2012. Mengacu pada Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PLN tanggal 27 Desember 2012 tentang Pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2012, penilaian Tingkat Kesehatan PLN (Persero) terhitung tahun 2012 mencakup 6 perspektif KPI berbasis Malcolm Baldridge sesuai Kontrak Manajemen yang meliputi perspektif pelanggan, produk dan layanan, proses bisnis internal, SDM, keuangan & pasar, dan kepemimpinan. Tingkat Kesehatan PLN mendapat Skor 88.6 masuk pada golongan Perusahaan BUMN yang SEHAT, kategori AA. (*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 7

Direktorat Operasi Jawa Bali

edisi 81, Mei 2013

Manajemen

Manajemen

Penerapan SMK3 Menuju Masyarakat Industri

yang Selamat, Sehat dan Produktif


Peraturan Pemerintah (PP) No. 50 Tahun 2012 mengenai penerapan Sistem Manajemen K3 dan telah ditetapkan 12 April 2012 di Jakarta, sebagai pengganti Peraturan Pemerintah (PP) No. 05/1996. Peraturan Pemerintah tersebut merupakan peraturan pelaksanaan dari UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 86 dan 87 dimana setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas kesehatan dan keselamatan kerja serta Perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Memang PP No. 50 Tahun 2012 ini belum banyak diketahui oleh pegawai, karenanya perlu disosialisasikan. Mungkin hanya diketahui oleh pegawai yang bertanggung jawab mengenai K3, Tim Set Up SMK3, Tim Audit SMK3, P2K3.

Oleh : Trio Suryono, Supervisor Senior Manajemen Mutu, Risiko dan Kepatuhan UP Muara Tawar

Gambar 1. Siklus Penerapan SMK3 ( PP 50/2012 Lamp 1 )

ujuan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif (UU No. 05/1996). Penerapan SMK3 berdasarkan PP 50/2012 sangat berbeda dengan PP 05/1996 dimana pada PP 50/2012 penjelasannya jauh lebih lengkap sesuai dengan siklus PDCA. Selain itu pada PP 50/2012 terdapat 6 BAB 22 pasal sedangkan pada PP 05/1996 terdapat 10 BAB 12 pasal sehingga pada PP 50/2012 terlihat lebih detail pada penjelasan teknisnya. Siklus PDCA SMK3 sesuai implementasinya di PJB terlihat pada gambar I. Proses Sertifikasi Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi

stuktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. SMK3 adalah standar yang diadopsi dari standar Australia AS4801 ini serupa dengan Occupational Health and Safety Assessment Series (OHSAS) 18001, standar ini dibuat oleh beberapa lembaga sertifikasi dan lembaga standarisasi kelas dunia. SMK3 merupakan alat bantu yang dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan dan persyaratan yang ada dan berlaku yang berhubungan dengan jaminan keselamatan kerja dan kesehatan kerja. SMK3 merupakan sebuah sistem yang dapat diukur dan dinilai sehingga kesesuaian terhadapnya menjadi obyektif. SMK3 digunakan sebagai patokan dalam menyusun suatu sistem manajemen yang berfokus untuk mengurangi dan menekan kerugian dalam kesehatan, keselamatan dan bahkan properti.

Diharapkan melalui penerapan sistem ini perusahaan dapat memiliki lingkungan kerja yang sehat, aman efisien dan produktif. SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. Selain itu, penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. Dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3) ada beberapa tahapan yang harus dilakukan agar SMK3 tersebut menjadi efeketif, karena SMK3 mempunyai elemen-elemen atau persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dibangun didalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem Manajemen K3 juga harus ditinjau ulang dan ditingkatkan secara terus menerus didalam pelaksanaanya untuk menjamin bahwa sistem itu dapat berperan dan berfungsi dengan baik serta berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan. Untuk lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3, berikut standar minimum dokumen yang di butuhkan

saat melakukan penerapan SMK3 adalah : Adanya Manual perusahaan, Kebijakan K3, Pembentukan P2K3, Pengesahan P2K3 oleh Disnaker, Kegiatan rapat P2K3, Pelaporan P2K3 ke Disnaker setempat, Pelatihan awareness SMK3, Penyusunan dokumen (Prosedur/Instruksi kerja/Formulir), Pengesahan dan Distribusi dokumen, Perlengkapan sarana tanggap darurat (Alat proteksi kebakaran, jalur evakuasi, tempat evakuasi), Pembentukan Tim tanggap darurat ( Kebakaran + PPGD ), Simulasi tanggap darurat (sesuai potensi identifikasi), Penyusunan tujuan dan sasaran SMK3, Adanya identifikasi bahaya potensial dan pengendalian risiko/IBPPR/Manajemen Risiko, Identifikasi dan evaluasi peraturan perundang-undangan yang relevan, Sertifikasi sarana produksi dan lisensi personil sesuai identifikasi peraturan perundang undangan yang berlaku, Pembuatan dan evaluasi program SMK3, Pembentukan Tim dan Lisensi Audit Internal, Pelatihan dan pelaksanaan Audit Internal, Pembuatan laporan kinerja SMK3. Setelah standar minimum terpenuhi maka dilakukanlah pra audit dan final audit.
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 9

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Manajemen

Penghargaan

Muljo Adji AG (tengah) DirProd PJB Saat Opening Meeting SMK3

Set-up dan Sertifikasi Proses Set-up SMK3 dilakukan dengan pemenuhan standar minimum dokumen. PJB Kantor Pusat melakukan sertifikasi SMK3 setelah unitunit pembangkitan dibawahnya bersertifikasi beberapa tahun yang lalu. Tahapan dan langkah langkah yang dilakukan Tim set-up (Management representative : Dedy Junaidy/SM Umum ) PT PJB Kantor Pusat adalah : Self Assesment. PJB Kantor Pusat dalam melakukan sertifikasi tidak melalui pra audit yang dilakukan oleh pihak eksternal dengan pertimbangan telah tersertifikasi (OHSAS) 18001 dan sistem manajemen yang telah terintegrasi. Self assessment dilaksanakan dengan melakukan audit internal oleh Tim Set-up SMK3 (belum tersertifikasi disnaker). Fokus yang dilakukan memeriksa kelengkapan dokumen dengan mengklarifikasi standar minimum yang di persyaratkan ( > 85 % : bendera emas ). Audit Internal dilaksanakan pada tanggal 13 14 Maret 2013 di bantu Satuan Pengawas Internal PJB Kantor Pusat ( Yusi Apriagung ) ditemukan 12 ketidaksesuaian sehingga skor : 92,77 % (Kategori bendera emas). Untuk implementasi tidak dilakukan asesmen mengingat tingkat risiko gedung tidak lebih besar dari pembangkitan. Ketidaksesuian di bahas pada rapat tinjauan manajemen untuk ditindaklanjuti. Final Audit. Proses final audit dilakukan oleh pihak eksternal ( PT Sucofindo ) dimana pihak PJB Kantor Pusat berkomunikasi dengan PT Sucofindo terkait 2 hal yaitu : biaya dan jadwal

audit. Terobosan dilakukan oleh Tim Set-up mengingat waktu yang dilakukan sangatlah sempit dimana pada akhir Maret 2013 seluruh laporan audit harus diserahkan pada Disnaker Pusat. Di sepakati jadwal audit eksternal pada tanggal : 20 22 Maret 2013. Dengan dihadiri oleh karyawan PJB Kantor Pusat dan di buka Direktur Produksi, Muljo Adji AG. Atas saran auditor maka audit masih menggunakan PP 05/1996 dengan pertimbangan untuk juklak PP 50/2012 masih belum jelas dan proses yang dilakukan sangat panjang untuk melakukan klarifikasi ketidaksesuaian. Selama dua hari dilakukan final audit ditemukan 10 ketidaksesuian (6 dokumentasi dan 4 implementasi) sehingga skor : 94 % (Kategori : Bendera Emas ) maka terhitung tanggal 22 Maret 2013 PT PJB Kantor Pusat bersertifikasi SMK3 PP 05/1996. Waktu yang singkat dengan tingkat kesulitan yang tinggi dapat dilalui dengan mudah bila ada keseriusan dan keikhlasan dalam bekerja. Setidaknya ada tiga hal yang perlu ditindaklanjuti : 1. Ada baiknya seluruh pejabat yang ada di struktural baik tingkat Kantor Pusat maupun unit unit pembangkit memiliki sertifikat AK3 Umum dalam menjaga aset negara sehingga pengendalian risiko akan melekat pada setiap jenjang jabatan. 2. Semua auditor internal SMK3 agar dilakukan sertifikasi oleh Disnaker dan penyelenggaraan di lakukan terpusat. 3. Perlu di lakukan standarisasi terkait dokter perusahaan ( ditinjau dari : sertifikasi, kontrak kerja, pengelolaan limbah, dokumen dan lain-lain). (*)

PJB Raih Lima Bendera Emas

T Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) memperoleh lima sertifikat dan bendera emas atas pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja (SMK3) di lingkungan PJB. Lima sertifikat dan bendera emas tersebut masing-masing diperuntukkan PJB Kantor Pusat, Unit Pembangkitan (UP) Gresik, UP Brantas, Unit Pemeliharaan Wilayah Timur (UPHT) dan Unit Pemeliharaan Wilayah Barat. Berdasarkan audit SMK3 yang dilakukan PT Sucofindo, tingkat pencapaian pelaksanaan SMK3 PJB Kantor Pusat memperoleh nilai tertinggi mencapai 94 persen. Sesuai ketentuan, dengan tingkat pencapaian 86-100 persen berhak atas sertifikat dan bendera emas. Selain sertifikat dan bendera emas, PJB juga memperoleh tiga Zero Accident Award, masing-masing untuk PJB Kantor Pusat, UP Brantas dan UPHT. Sertifikat dan Bendera Emas, serta Zero Accident Award diserahkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar, di Jakarta, 30 April 2013. Sekretaris Panitia Pembina K3 (P2K3) PJB Kantor Pusat, Suwoto, mengungkapkan, keberhasilan PJB Kantor Pusat memperoleh sertifikat dan bendera K3 sangat membanggakan. Pasalnya, PJB Kantor Pusat yang tidak mengoperasikana mesin pembangkit mampu menjalankan SMK3 dengan baik. Kuncinya adalah komitmen dan disiplin, kata pria yang biasa disapa Wowot itu, didampingi Ketua Panitia Pembina K3 (P2K3) PJB Kantor Pusat, Dedy Junaidy. Penerapan SMK3 dimaksudkan agar perusahaan dapat meminimalkan risiko dan mengurangi tingkat kecelakaan, serta sakit akibat hubungan kerja secara efektif dan efisien yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas perusahaan sesuai tuntutan dan persaingan bisnis global. SMK3 berisi pedoman pelaksanaan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Penerapan SMK3 memberikan gambaran tentang langkah-langkah dan hal-hal yang perlu dilakukan dalam membuat perencanaan pelaksanaan SMK3 mulai dari perencanaan awal, proses pelaksanaan sampai dengan kegiatan yang akan dilakukan dalam pemantauan, dan peninjauan kembali sistem yang telah dilaksanakan. Banyak manfaat atas implementasi SMK3, yang antara lain: Melindungi pekerja dari segala bentuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Patuh terhadap peraturan perudang-undangan, sehingga perusahaan lebih sehat dan eksis, mengingat peraturan perundang-undangan dibuat untuk kebaikan bersama. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan, karena SMK3 akan menjamin proses yang aman, tertib dan bersih sehingga bisa meningkatkan kualitas produk dan layanan. Membuat sistem manajemen yang lebih efektif, mengingat dalam SMK3 dipersyaratkan prosedur yang terdokumentasi. Audit atas pelaksanaan SMK3 dilakukan auditor independen, PT Sucofindo. Tujuan dilaksanakannya audit terhadap penerapan

Para peraih Bendera Emas dan Zero Acsident Award dari PJB Kantor Pusat, UP Gresik, UP Brantas, UPHT dan UPHB. SMK3 adalah menilai secara kritis dan sistematis semua potensi bahaya potensial dalam sistem kegiatan operasi perusahaan. Selain itu juga untuk memastikan bahwa pengelolaan K3 di perusahaan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pemerintah, standar teknis yang ditentukan, standar K3 yang berlaku dan kebijakan yang ditentukan oleh manajemen perusahaan. Elemen Audit SMK3 meliputi: Pembangunan Dan Pemeliharaan Komitmen Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3 Pengendalian Perancangan dan Peninjauan Kontrak Pengendalian Dokumen Pembelian dan Pengendalian Produk Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3 Standar Pemantauan Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan Pengelolaan Material dan Perpindahannya Pengumpulan Dan Penggunaan Data Pemeriksaan SMK3 Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan Indikator keberhasilan kinerja penerapan SMK3 di tempat kerja adalah: n Tingkat pencapaian penerapan 0-59 persen termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. n Tingkat pencapaian penerapan 60-84 persen termasuk tingkat penilaian penerapan baik. n Tingkat pencapaian penerapan 85-100 persen termasuk tingkat penilaian penerapan memuaskan. Audit Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja (SMK3) di PJB Kantor Pusat dilakukan PT Sucofindo selama tiga hari, 20 - 22 Maret 2013. Menurut tim audit petugas P3K harus memiliki lisensi dari Kementerian Lingkungan Hidup, paling tidak, lulus pelatihan K3. sertifikat dan bendera emas berlaku tiga tahun. Namun setiap enam bulan sebaiknya ditinjau, karena mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan mendapatkkan. Dibutuhkan komitmen dan kedisiplinan untuk dapat mempertahankannya, tandas Suwoto.(*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 11

10

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Manajemen

Manajemen lebih efisien, efektif dan ekonomis dalam memanfaatkan semua sumber perusahaan. Akuntan Manajemen saat ini tidak hanya di dapat menyediakan data yang bersifat historis tetapi juga harus mampu memberikan informasi yang bersifat prediktif mengenai kondisi bisnis di masa mendatang, dengan bekerjasama departemen lainnya akuntan manajemen memberikan informasi mengenai peluang, risiko bisnis yang dihadapi maupun yang akan timbul, dalam bentuk deretan angka-angka keuangan sehingga para pengambil keputusan mampu meningkatkan nilai perusahaan dengan mengambil peluang dan meminimalkan risiko. Peranan akuntan keuangan dalam meningkatkan nilai perusahaan dengan memberikan laporan keuangan yang valid, realiabel dan akurat sesuai dengan ketentuan/ standar pelaporan keuangan yang berlaku dalam hal ini PSAK & IFRS. Semakin besarnya peranan akuntan dalam perusahaan/ organisasi, maka para akuntanpun berusaha di tuntut untuk memiliki standar kompetensi minimal yang diatur dalam badan-badan profesi akuntan baik dalam tingkatan nasional maupun internasional. Badan-badan profesi ini yang akan mengatur standar profesi akuntan dengan mengeluarkan sertifikasi sesuai dengan tingkatan kompetensi anggotanya. Sertifikasi menyatakan suatu komitmen atas kompetensi profesional. Ada banyak sertifikasi yang tersedia bagi akuntan. Ada tiga jenis sertifikasi utama yaitu : Certificate in Management Accounting (CMA) Certificate in Public Accounting (CPA) Certificate in internal Auditing (CIA) Selain itu, ketiga sertifikasi tersebut mewajibkan pemegangnya melanjutkan pendidikan profesional untuk mempertahankan sertifikasi tersebut. (*)

Akuntansi Keuangan VS Akuntansi Manajemen


Dua subsistem informasi akuntansi yaitu: Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan, berbeda tujuannya, sifat masukannya, dan jenis proses yang dipergunakan untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output). Sistem akuntansi keuangan menggunakan kegiatan ekonomi sebagai masukan dan memprosesnya sampai memenuhi aturan dan ketentuan tertentu. Dalam akuntansi keuangan sifat masukan dan aturan, serta ketentuan yang mengatur berbagai proses, didefinisikan oleh IFRS (International Financial Reporting Standards) dan IASB (International Accounting Standards Board). Di Indonesia Bapepam dan PSAK yang dikeluarkan oleh IAI. Tujuannya adalah untuk menyusun laporan eksternal (laporan keuangan) bagi investor, lembaga pemerintah, dan pengguna eksternal lainnya.

Oleh : Budi Purwono CMA, Assistant Officer Akuntansi UP Brantas

Diambil dari Institute of Certified Management Accountant Australia handbook for CMA Course


merencanakan, mengendalikan, dan membuat keputusan. Beberapa perbedaan akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan dapat diidentifikasikan sebagai berikut: Pengguna (target user). Akuntansi manajemen berfokus pada penyediaan informasi kepada pengguna internal, sedangkan akuntansi keuangan memiliki fokus pada penyediaan informasi bagi pengguna eksternal. Pembatasan pada masukan dan proses. Akuntansi manajemen tidak tergantung pada prinsip-prinsip akuntansi, sedangkan masukan dan proses pada akuntansi keuangan harus jelas dan terbatas, yaitu tunduk pada Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) Jenis informasi. Pembatasan dalam akuntansi keuangan cenderung menghasilkan informasi keuangan yang obyektif dan dapat diverifikasi. dalam akuntansi manajemen,

edangkan sistem akuntansi manajemen menghasilkan informasi untuk pengguna internal, seperti manajer, eksekutif, dan pekerja. Secara spesifik, akuntansi manajemen mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam
12 Info PJB
n

informasi dapat berupa informasi keuangan dan nonkeuangan serta dapat bersifat lebih subyektif. Orientasi waktu. Akuntansi keuangan memiliki orientasi historis, fungsinya adalah mencatat dan melaporkan kegiatan-kegiatan yang telah terjadi. Walaupun akuntansi manajemen juga mencatat dan melaporkan kejadian-kejadian yang telah terjadi, akuntansi manajemen lebih menekankan pada penyediaan informasi kegiatan-kegiatan di masa mendatang. Tingkat agregasi. Akuntansi manajemen menyediakan ukuran dan laporan internal yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, lini produk, departemen, dan manajer. Intinya, informasi yang sangat terinci dibutuhkan dan disediakan. Akuntansi keuangan, memfokuskan pada kinerja perusahaan secara keseluruhan, dan memberikan sudut pandang yang lebih agregat. Keluasan. Akuntansi manajemen jauh lebih luas daripada akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen meliputi aspek-

aspek ekonomi manajerial, rekayasa industri (industrial reengineering), ilmu manajemen, dan juga bidang-bidang lainnya. Perlu ditekankan bahwa baik dari sistem akuntansi manajemen maupun sistem akuntansikeuangan adalah bagian dari sistem informasi akuntansi secara keseluruhan. Isi dari sistem akuntansi manajemen dipengaruhi oleh kebutuhan akan sistemakuntansi keuangan. Laporan akuntansi manajemen dan keuangan sering diambil dari suatu kumpulan data yang sama, yang biasanya dibuat untuk mendukung kebutuhan penyusunan laporan akuntansi keuangan. Banyak perusahaan perlu merancang ulang kumpulan data ini agar lebih memenuhi kebutuhan pengguna internalnya. Fleksibilitas sangatlah dibutuhkan mengingat sistem akuntansi manajemen mampu menyediakan informasi yang berbeda untuk kepentingan yang berbeda pula. Perkembangan industri, teknologi dan konsumen menyebabkan persaingan bisnis yang semakin ketat maka, perusahaanpun semakin dituntut untuk lebih kompetitif artinya perusahaan semakin dituntut untuk

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

13

Pengembangan Usaha

Pengembangan Usaha saat beban puncak, serta dikirim ke Lombok dan Bawean menggunakan kapal untuk memenuhi pembangkit yang ada di dua daerah tersebut. Supaya pasokan CNG tidak terputus, kapal pengangkut CNG dari Gresik ke Bawean tentunya lebih dari satu. Masalah transportasi sedang dalam proses lelang. Sedangkan dermaga untuk berlabuh kapal di Pulau Bawean, untuk sementara akan memanfaatkan demaga milik Dinas Perikanan yang sampai sekarang dioperasikan. Dari dermaga tersebut CNG dialirkan melalui pipa sepanjang kurang lebih 1 km menuju PLTMG, tutur Edy Hartono. (*)

PJB Segera Bangun PLTMG 4 x 1 MW di Bawean Gunakan Bahan Bakar CNG


ke lokasi pembangunan PLTMG. Selain menyiapkan paket gas engine PLTMG dengan atau tanpa hybrid, PJB juga diwajjibkan menyiapkan moda transportasi CNG, termasuk kelengkapan instalasi dari sistem pemuatan gas di lokasi Pembangkit Gresik dan instalasi penerimaan termasuk penyimpanan gas (jika diperlukan) untuk memenuhi kebutuhan PLTMG yang akan dipasang, serta membuat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) antara PJB dengan PLN Distribusi Jatim. Pembangunan PLTMG Bawean dan transportasi gas dengan moda CNG ke Pulau Bawean diharapkan dapat diselesaikan pada awal Januari 2014 (COD). Dalam upaya mengoptimalkan gas di UP Gresik, PJB berencana membangun CNG Plant. CNG yang tersebut nantinya untuk memenuhi kebutuhan pembangkit di UP Gresik

Pembahasan rencana pembangunan PLTGM Bawean di pelataran PLTD Bawean.

DirProd PJB Muljo Adji, GM PLN Distribusi Jatim Hariyanto WS dan Project Manager Pembangunan CNG Plan PJB, Edy Hartono, membahas rencana pembangunan PLTMG Bawean.

T Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mini Gas (PLTMG) 4 x 1 MW di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang diharapkan beroperasi awal Januari 2014. Keberadaan PLTMG ini dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), dengan mengoptimalkan pemanfaatan gas Unit Pembangkitan (UP) Gresik. PLTMG Bawean rencananya menggunakan teknologi Compressed Natural Gas (CNG). Kebutuhan gas sekitar 0,5 MMSCFD, kata Senior Manajer Pengembangan Korporasi, I Nyoman Ngurah Widiyatnya. Selama ini listrik di Pulau Bawean dipasok Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) milik PLN berkapasitas 1 MW dan PLTD Swasta berkapasitas 4 MW. PLTD Swasta disewa dengan masa sewa hingga akhir 2014 mendatang. Selama ini PLN selalu mengalami kerugian, karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual ke masyarakat. PLN saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik bagi 9.661 pelanggan di Bawean, masih ada sekitar 9.300 kepala keluarga yang rumahnya belum teraliri listrik. Karakteristik kebutuhan energi listrik di Pulau Bawean adalah 4 MW pada malam hari dan 1,5 MW pada siang hari. Kondisi ini tidak memungkinkan di Bawean dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Skala Kecil, karena PLTU tidak mampu melayani permintaan dengan karakteristik seperti itu. Itu sebabnya rencana pembangunan (PLTU) Batubara di Pulau Bawean yang sempat dimunculkan beberapa waktu lalu akhirnya dibatalkan. Begitu juga rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batubara (PLTGB), karena tidak kompetitif. Dalam rencana pembangunan PLTMG di Bawean, awal Maret 2013 Direktur Produksi, Muljo Adji AG bersama General Manager (GM) PLN Distribusi Jatim, Haryanto WS, melakukan penijauan ke lokasi, didampingi Manajer Proyek Pembangunan CNG Plant PJB, Edy Hartono dan sejumlah staf. Alternatif lokasi pembangunan PLTMG menjadi satu dengan lokasi PLTD yang ada sekarang, di Pantai Desa Sungai Teluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, papar Edy Hartono, Proyek Manajer Permbangunan CNG Plant PJB, usai mengikuti kunjungan
Info PJB
n

Sekilas Tentang Pulau Bawean

awean merupakan pulau kecil dengan keliling 55 kilometer yang terletak di Laut Jawa, sekitar 80 mil (sekitar 120 kilometer) sebelah utara Gresik. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Bawean memiliki 2 kecamatan yaitu Sangkapura dan Tambak. Jumlah penduduknya sekitar 70.000 jiwa yang merupakan pembauran beberapa suku yang berasal dari pulau Jawa, Madura, Kalimantan ,Sulawesi dan Sumatera. Penduduk Bawean kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan atau petani selain juga menjadi TKI di Malaysia dan Singapura. Di Bawean terdapat spesies rusa yang hanya ditemukan (endemik) di Bawean, yaitu Axis kuhli. Selain itu di Pulau Bawean juga ditanam manggis, salak, buah merah, dan durian untuk konsumsi lokal. Puluhan spesies ikan laut juga terdapat di pantai pulau ini. Untuk mencapai pulau Bawean ini butuh waktu 3 jam menggunakan Kapal Cepat Ekspres Bahari, dan lima sampai enam jam dengan kapal tungkal. Bawean merupakan pulau indah yang dikelilingi dengan desiran pantai dan bukit-

bukit hijau nan menjulang. Di seberang Pulau Bawean, terdapat Pulau Gili Timur, yang cukup dikenal oleh sebagian pengunjung wisata air. Gili Timur menawarkan keindahan terumbu karang, serta paduan ikan-ikan yang terlihat cantik. Meski masih memiliki pantai yang menyuguhkan keindahan sunset dan sunrise. Banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bawean untuk menikmati keindahan pantai dan terumbu karangnya. Pulau Bawean hingga saat ini masih dikelilingi terumbu karang yang menakjubkan.

Berdasarkan penelitian dari perguruan tinggi ITS Surabaya beberapa tahun lalu, keindahan terumbu karang yang mengelilingi Pulau Bawean tidak kalah dengan terumbu karang yang ada di Bunaken. Tak kalah menarik adalah Pulau Noko, sebelah timur Pulau Selayar. Untuk bisa mencapai harus menggunakan perahu nelayan setempat. Pulau Noko berdaya tarik dengan hamparan pasir putih bersih tanpa tanaman apa pun. Pengunjung bisa mandi dan berenang menikmati putihnya pasir, air yang bening

sambil melihat terumbu karang. Bawean juga mempunyai air terjun di tengah pulau, seperti air terjun Laccar, Air Terjun Kuduk-Kuduk, dan Air Terjun Talomon. Air yang jernih dan pepohonan yang rimbun menjadi daya tarik kealamiannya. Lokasinya yang berada di tengah Pulau ini menjadi keunikan tersendiri. Bawean juga mempunyai obyek wisata air panas di Desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura. Wisatawan bisa menikmati sumber air panas atau sekedar mencuci muka. Bukan hanya itu, luasnya yang tidak terlalu besar membuat Bawean mempunyai 75 persen dikelilingi pantai pasir putih dan hitam dengan pemandangan indah dan terumbu karang di hampir seluruh laut Bawean. Beberapa pantai menarik yang bisa dipilih adalah Pantai Mayangkara dengan pasir putih, ombak tidak terlalu besar dan dekat dengan wisata religius Waliyah Zainab dan Pantai pasir putih dan satu-satunya pengembangan tanaman mangrove. Pulau Bawean banyak disebut orang sebagai Pulau Putri, karena kaum pria banyak yang memilih untuk bekerja di luar negeri. (*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 15

14

edisi 81, Mei 2013

Tek nologi

Tek nologi

Monitoring Peralatan Melalui Pendekatan Standarisasi dan Generalisasi Kondisi Peralatan


Dalam sebuah pembangkitan, terdapat ribuan hingga puluhan ribu peralatan yang harus dimonitor fungsi maupun kehandalannya. Untuk memonitor peralatan tersebut dibutuhkan metode yang mudah, efisien, dan mempunyai keakuratan yang tinggi dan bisa diimplementasikan dalam sistem terkomputerisasi sehingga bisa menghasilkan informasi yang cepat, akurat, dan real-time, tanpa memberikan load tambahan bagi asset operator atau engineer yang bertanggung jawab atas reliability unit pembangkitan.

Gambar 2 : Flowchart Setup Integrasi Kondisi dengan Struktur KKS


persen dan performance 10 persen. Itu artinya, secara fisik bagus, namun secara fungsi tidak bisa digunakan, karena output utama motor tersebut, yaitu performance, tidak ada. Baik health maupun performance dinyatakan dalam satuan persen. Hal ini menyebabkan komparasi keduanya lebih mudah dan nilai tersebut mudah difahami. Meski demikian apabila dilakukan analisa lebih lanjut, perlu penyederhanaan sebab masih membutuhkan perhitungan lagi untuk menghasilkan kesimpulan akhir. Dua variabel tersebut dilebur menjadi satu nilai. Variabel hasil peleburan health & performance ini selanjutnya dinamakan sebagai variabel kondisi. Proses peleburan dua variabel menjadi satu tersebut harus melihat kasus per kasus. Misalnya variabel mana yang dititikberatkan dan variabel mana yang dimarginkan sehingga nilai akhir hasil penggabungan bisa mencerminkan dengan kondisi real di lapangan. Contohnya, motor dinyatakan mempunyai kondisi 90 persen dan performance 10 persen. Nilai gabungan dari keduanya adalah 50 persen bila variabel performance dianggap setara dengan variabel health. Bisa juga nilai gabungan menjadi 37 persen apabila variabel performance dianggap lebih penting dan diberi bobot sebesar 2:1. Kesimpulannya, cara untuk mengatasi kompleksitas monitoring adalah dengan jalan kuantifikasi kondisi peralatan dengan hasil akhir berupa variabel yang bersifat sederhana dan seragam. Agar metode kuantifikasi kondisi peralatan bisa efektif dan efisien, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya adalah objektif, faktual (bukan berdasarkan asumsi ataupun perkiraan), kuantitatif (berupa angka dan bersifat calculable), mampu telusur (mampu ditelusuri hingga ke informasi yang sifatnya mendasar dan mendetail), bisa diotomasi & realtime, serta simple atau mudah. Desain Solusi Desain metode kuantifikasi dan monitoring peralatan untuk kebutuhan analisa kehandalan adalah sebagai berikut: Setup metode kuantifikasi kondisi peralatan berbasiskan gauge (parameter ukur peralatan). Gauge dijadikan dasar untuk mengkuantifikasi kondisi, terutama gauge yang berhubungan dengan health dan performance peralatan. Setup metode strukturisasi monitoring peralatan. Peralatan yang saling terhubung dikelompokkan ke dalam sebuah stuktur yang informatif dan logis. Dalam dunia pembangkitan, terdapat sistem identifikasi khusus berbentuk struktur data tree yang disebut Kraftwerk Kennzeichen System (KKS) atau Identification System for Power Station. Fungsi KKS adalah mengidentifikasi sistem, peralatan, bagian dari peralatan, hingga komponen dari sebuah

Gambar 3 : Flowchart Perhitungan Agregasi Kondisi % Gauge per Peralatan


pembangkitan secara hirarki berdasarkan fungsi, tipe, dan lokasi. Pada fungsi awal, KKS tidak dapat digunakan untuk memonitoring peralatan sebab tidak terdapat variabel yang menyatakan kondisi dalam sistem KKS. Untuk mendapatkan fungsi monitoring ini, yang harus dilakukan adalah menambahkan variabel yang belum ada tersebut ke dalam struktur KKS. Membuat hubungan logic antar variable kondisi peralatan sehingga peralatan-peralatan tersebut tidak berdiri sendiri dalam kaitannya dengan kondisi. Selain hubungan keterkaitan, setiap peralatan juga mempunyai tingkat dominanitas pengaruh terhadap parent yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini ditandai dengan variabel bobot. Langkah-langkah keseluruhan proses ini adalah digambarkan dengan flowchart sebagaimana terlihat pada gambar 2, dengan asumsi KKS telah terbentuk sebelumnya. Rumusan untuk mengkalkulasi keseluruhan (agregat) gauge dalam sebuah peralatan tertentu menjadi nilai kondisi persen peralatan tersebut adalah sebagai berikut :

arena itu, dibutuhkan analisa kehandalan disertai dengan data dan informasi yang mewakili kondisi unit pembangkitan (condition based maintenance), baik secara umum maupun secara spesifik, sebagai penunjang pengambilan keputusan tersebut. Proses pemantauan dan pengumpulan informasi tentang kondisi terkini peralatan tersebut selanjutnya diistilahkan dengan equipment monitoring (pemantauan peralatan). Salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana monitoring peralatan itu bisa dilakukan oleh level yang berbeda dalam stakeholder yang ada dalam sebuah pembangkitan, mulai dari teknisi, operator, enjinir, hingga manajemen, dengan meminimalkan unsur subjektifitas. Hasil dari metode monitoring peralatan yang ada saat ini cenderung bersifat teknis dan subjektif serta masih dibutuhkan pengolahan lebih lanjut agar bisa memenuhi kriteria di atas. Dengan demikian, metode monitoring ini harus dimodifikasi sehingga bisa digunakan langsung oleh pihak manajemen sebagai bantuan pengambilan keputusan. Permasalahan berikutnya adalah kompleksitas usaha dalam memonitor peralatan tersebut. Karena jumlah peralatan dan parameter pengukuran jumlahnya banyak dan tidak memungkinkan untuk dimonitor satu persatu secara paralel, sehingga dibutuhkan sebuah metode monitoring peralatan yang lebih mudah dan ringan untuk dilakukan daripada metode konvensional. Baik oleh bidang yang berhubungan dengan strategis seperti manajemen, maupun pihak-pihak taktis seperti enjinir, operator, maupun teknisi.
16 Info PJB
n

Dimas Kaharudin dari UP Cirata dan Satrio Wahyudi Satrio Wahyudi dari Direktorat Teknologi PJB mencoba melakukan penyederhanaan. Metode ini dia presentasikan dalam Konferensi Industri Power Supply Listrik (The Conference of the Electric Power Supply Industry/CEPSI) CEPSI ke-19 yang berlangsung di Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Denpasar Bali, Oktober 2012, dengan judul Metode Monitoring Peralatan Sebagai Basis Analisis Kehandalan Dengan Menggunakan Pendekatan Standarisasi dan Generalisasi Kondisi Peralatan Berdasarkan Parameter Pengukuran dan Hubungan Hirarki KKS. Untuk mengatasi kompleksitas dan banyaknya usaha dalam memonitor peralatan, proses monitoring harus disederhanakan dan diseragamkan. Penyederhanaan dilakukan dengan membuat variabel tertentu yang representatif menggambarkan properties sebuah peralatan secara umum maupun detail. Sedangkan penyeragaman dilakukan dengan membuat variabel yang telah sederhana tersebut menjadi mempunyai satuan yang sama untuk semua peralatan sehingga bersifat comparable. Oleh karena itu, variabel tersebut harus berupa variabel yang kuantitatif. Oleh karena itu, variabel untuk menggambarkan performance dan kondisi peralatan ini didesain sebagai angka / bilangan real positif, dengan skala 0 < x < 100 dan satuan berupa persen. Dengan menggunakan variabel tersebut, maka untuk menyatakan kesehatan maupun performance adalah cukup dengan menyebutkan nilai angka dalam persen. Contohnya, motor dinyatakan mempunyai health 90

o GCA = Gauge Condition Aggregate (%) o GW = Gauge Weight o GV = Gauge Value (%) Sedangkan flowchart lengkap proses penilaian sebuah peralatan dengan menggunakan gauge terlihat pada gambar 3: Detail Rumusan Perhitungan Kondisi Peralatan berbasiskan KKS Agar antar peralatan dalam sebuah sistem monitoring mempunyai hubungan pengaruh satu dengan lainnya, dibutuhkan mekanisme perhitungan tambahan. Karena struktur data KKS berupa tree, maka algoritma perhitungan yang digunakan adalah algoritma yang bersifat rekursif. Untuk memulai perhitungan keterkaitan dan agregasi kondisi antar peralatan, terlebih dahulu didefinisikan variabel-variabel apa saja yang ada pada setiap peralatan terhadap hubungannya dengan peralatan lain. Variabel tersebut antara lain adalah : - Equipment Weight (EW) : nilai bobot dominanitas peralatan ini dibandingkan dengan peralatan lain yang masih mempunyai hubungan sibling dalam satu parent. - Equipment Mandatory Flag (EMF) : variabel untuk menandai apakah fungsional peralatan tersebut bersifat mutlak harus berfungsi agar peralatan parent juga bisa berfungsi atau tidak. Karena nilai akhir kondisi peralatan dalam persen, tidak hanya dipengaruhi oleh perhitungan gauge saja, tapi
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 17

edisi 81, Mei 2013

Tek nologi
juga dipengaruhi oleh perhitungan child yang dimiliki oleh peralatan tersebut. Sehingga untuk menghasilkan nilai akhir, terlebih dahulu harus diketahui berapa nilai persen peralatan bila dihitung dari kondisi child. Rumusan perhitungannya adalah sebagai berikut : harus dipenuhi antara lain; objektif, faktual, kuantitatif, mampu telusur (mampu ditelusuri dari root hingga branch), bisa diotomasi & realtime simple (menggunakan rumusan aritmetika dasar dan struktur data yang relatif sederhana). IMPLEMENTASI Struktur KKS pada peralatan dalam studi kasus ini adalah sebagaimana terlihat pada gambar 8. Tahap pertama yang dilakukan adalah adalah mendefinisikan gauge beserta variabel-variabel pendukungnya terhadap peralatan-peralatan yang ada di atas (proses setup). Kemudian mendefinisikan struktur logika pengaruh peralatan antara satu dengan lain dalam kaitannya dengan struktur KKS. Berikutnya adalah tahap measuring, yaitu melakukan pengukuran terhadap gauge-gauge yang telah didefinisikan sebelumnya. Hasil measurement di atas kemudian dikonversikan dengan menggunakan rumusan spesifik. Hasil akhir konversi measurement ke persen pada level child. Kemudian dihitung ECA untuk posisi level kedua, dan dihitung ECA untuk posisi level root. Atau apabila digambarkan dalam bentuk tree, hasilnya adalah sebagaimana terlihat pada gambar 9. Gambar 9 : Hasil Akhir

Tek nologi

CCA = Child Condition Aggregate (%) CW = Child Weight CV = Child Value (%) Karena GCA dengan CCA merupakan sebuah nilai yang sama-sama diturunkan dari gauge dan mempunyai satuan yang sama pula, keduanya bisa langsung dikalkulasi untuk menghasilkan ECA.

ECA = Equipment Condition Aggregate (%) GCA = Gauge Condition Aggregate Karena bentuk struktur data dari KKS adalah tree, apabila terjadi perubahan nilai kondisi pada peralatan, maka perubahan tersebut akan memicu perubahan kondisi pada peralatan yang berada pada posisi lebih tinggi (parent) dari peralatan yang berubah nilai kondisinya tersebut. Perubahan ini akan diteruskan hingga ke tingkatan paling puncak pada struktur KKS (root). Untuk mengakomodasi logika dan mekanisme tersebut, dibutuhkan metode perambatan nilai (value propagation) yang bisa meneruskan perubahan nilai hingga level root. Algoritma untuk mempropagasi ini berbentuk algoritma rekursi. Inti dari algoritma ini adalah menghitung kondisi peralatan via perubahan GCA, pada level sembarang, dengan menggunakan data CCA eksisting, tanpa perlu dihitung lagi. Hasil perubahan ECA ini kemudian dipropagasi ke level atasnya (parent) dan seterusnya hingga sampai ke level root. Keuntungan dari algoritma ini adalah lebih hemat komputasi, dan bisa digunakan untuk aplikasi monitoring yang bersifat realtime. Hasil desain metode yang telah disusun kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan syarat-syarat yang

UBJOM Manfaatkan Teknologi Vicon

Sharing Knowledge dan Pelaporan Lebih Efektif

S
Penggunaan Apabila informasi telah tersusun dengan lengkap dan terisi data-data akurat, analisa reliability yang bisa dilakukan dengan menggunakan informasi tersebut antara lain adalah sebagai berikut : Realtime Monitoring Peralatan Prediksi failure & lifetime peralatan (RLA) dan determinasi reliability Root Cause Failure & Cronic Problem Analysis Maintenance Priorization dan Risk Assessment Dari uraian di atas terlihat bahwa metode monitoring peralatan & analisis reliability dengan menggunakan pendekatan pembobotan, mandatory, dan parameter pengukuran berbasiskan hubungan hirarki KKS bisa digunakan untuk memecahkan permasalahan yang menyangkut tentang realiability dan pengambilan keputusan dalam sebuah pembangkit. Universalisasi sistem KKS dan rumusan perhitungan serta algoritma yang relatif mudah membuat metode ini bisa diimplementasikan di berbagai pihak dengan usaha transfer knowledge yang minimal. (*)

Gambar 8 : Struktur KKS Studi Kasus

elain mengimplementasikan tata kelola pembangkitan, salah satunya implementasi gatecycle, PJB dalam mengelola pembangkit Fast Track Project tahap pertama (FTP-1) juga memanfaatkan teknologi informasi berupa Video Conference (Vicon). Melalui teknologi ini, antar Unit Bisnis Jasa Operation and Maintenance (UBJOM) dapat melakukan sharing dengan sesama UBJOM, dengan unit eksisting maupun PJB kantor Pusat dalam menangani permasalahan yang ada di unit. Selain itu, UBJOM dapat memberikan laporan atau mempresentasikan kinerja unit secara cepat dan efisien. Sebelum memanfaatkan teknologi Vicon, untuk memberikan laporan ke direksi atau subdit tertentu di PJB Kantor Pusat, mereka harus datang yang tentunya memerlukan biaya dan waktu. Padahal penyampaian laporan ataupun presentasi tentang perkembangan atau kinerja unit hanya memerlukan waktu yang singkat. Waktu mereka hanya habis untuk perjalanan ke kantor pusat, mengingat lokasi UBJOM tersebar dan berjauhan dari PJB Kantor Pusat. Seluruh UBJOM sudah kami pasang perangkat Vicon, kecuali UBJOM Paiton Baru. Meski demikian, UBJOM Paiton Baru tetap dapat melakukan Vicon melalui perangkat yang ada di UP Paiton. Rencananya dalam waktu dekat di UBJOM Paiton juga akan dipasang perangkat sendiri, sehingga tidak harus bergabung dengan UP Paiton, tutur Senior Manajer Business Solution PJB, Dodi Apriananta. Penggunaan Vicon dan juga implementasi tata kelola pembangkitan di UBJOM merupakan bentuk komitmen dan keseriusan PJB dalam menjalankan usaha jasa operation and maintenance untuk memberikan kinerja terbaik dan memberikan kepuasan kepada pelanggan. PJB berharap Unit Pembangkitan Jawa Bali (UPJB) selaku asset manager pembangkit FTP-1 juga memanfaatkan teknologi Vicon sehingga komunikasi dan koordinasi bisa berjalan lebih efektif. Secara terpisah, General Manager PLN UPJB, Iwan Agung Firstantara memberikan apresiasi atas pemanfaatan Vicon di UBJOM. Pihaknya juga siap untuk melakukan hal yang sama, mengingat sarana Vicon juga sudah ada di UPJB. Kami siap menggunakan teknologi Vicon untuk komunikasi dengan UBJOM, tandasnya. Ia mengakui PJB memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan usaha jasa operation and maintenance dan tiada henti melakukan improvement dalam upaya memberikan kinerja terbaik. Satu hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu bidang administrasi keuangan. Contohnya soal penagihan, sampai-sampai kami membuat surat supaya PJB segera melakukan penagihan ke kami, tuturnya.(*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 19

18

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Tek nologi

Tek nologi

UBJOM Implementasikan Gatecycle Peningkatan Performance Pembangkit FTP-1


Guna meningkatkan performance pembangkit Fast Track Program Tahap I (FTP-1), PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) mengimplementasikan Gatecycle, tools untuk mengetahui performance setiap peralatan utama pembangkit dan prediksi melalui suatu pemodelan. Implementasi ini telah memberikan manfaat cukup besar, karena menghasilkan data yang akurat dan match dengan kondisi riil di lapangan. Dengan demikian, Root Cause Failure Analysis (RCFA) lebih akurat dan tepat sasaran. Hal ini sangat membantu proses pengambilan keputusan juga lebih akurat, serta membantu manajemen untuk perencanaan pekerjaan maupun eksekusi-eksekusi langsung untuk perbaikan efisiensi pembangkit.
sebagai data input. Gatecycle berinteraksi secara langsung dengan excel spreadsheet untuk input maupun output gatecycle melalui cyclelink. Dalam tata kelola pembangkitan yang dibangun PJB, gatecycle berada pada posisi monitoring and trending yang berada pada efficiency management. Banyak hal yang bisa dilakukan gatecycle, diantaranya: Memodelkan tiap peralatan pembangkit dan mengintegrasikannya sesuai dengan model yang ada. Analisa secara keseluruhan untuk thermal proses. a. Memprediksi secara design & off-design dari operasi pembangkit thermal (plant monitoring). b. Memprediksi pengaruh dari perubahan variabel operasi terhadap performansi pembangkit. Untuk membangun gatecycle, langkah awal adalah sosialisasi, yaitu pengenalan terhadap perlunya heat rate management, elemen-elemen dalam heat rate management, tahapan dalam membangun heat rate management dan hal-hal yang diperlukan dalam heat rate management. Selanjutnya pengumpulan data unit pembangkit, terutama data spesifikasi teknis peralatan seperti turbin, pompa, heat exchanger, boiler dan sebagainya, data performance saat komisioning dan data performance saat ini. Langkah berikutnya adalah training, yaitu pengenalan heat rate management, pengenalan fungsi permodelan dan metode membangun permodelan dengan gatecycle dan cyclelink. Lalu membangun model (membangun model unit pembangkit per equipment, membangun model overall power plant dan cyclelink), dan validasi hasil permodelan (validasi kualitatif dan kuantitatif ). Apabila model sudah valid maka model dapat diimplementasikan. Implementasi gatecycle meliputi: n Model On Design : Membuat pemodelan pembangkit, input desain data, melakukan simulasi, dan melakukan verifikasi dan validasi. n Off Design & Cyclelink : Save on design ke off design, creat cyclelink dan menentukan input-output data n Input Data : dari DCS (pressure, temperatur, flow, dan lain-lain), dari PMS/EDS (pressure, temperatur, flow, dan lain-lain), serta analisa Laboratorium n Eksekusi. n Output Data : Netto Power Plant Heat rate (NPHR), boiler efisiensi, turbin efisiensi, air heater outlet temperature, efisiensi LHV dan sebagainya. Analisa : performansi dan efisiensi, heat rate gap analysis dan rekomendasi. Berikut salah satu rekomendasi dari implementasi gatecycle. Misalnya, RCFA berdasar analisis gatecycle-LP Turbin. Perlu dilakukan inspeksi pada saat FYI pada LP Turbin, karena dimungkinkan adanya permukaan sudut yang mengalami deposit dari sistem seal yang kurang maksimal dan sebab lain. Sebab potensial losses mencapai 80,82 kCal/kWh (setara dengan Rp 90,05 juta/hari dengan asumsi harga batubara sebesar Rp 650/kg), akibat penurunan efisiensi pada LP Turbin sebesar 6,45 persen dibandingkan saat komisioning. Karena UBJOM sebagai operator manajer, rekomendasi diberikan kepada Unit pembangkitan Jawa Bali (UPJB) selaku asset manager, untuk diteruskan dan ditindaklanjuti EPC contractor. Masih banyak lagi rekomendasi yang sangat penting yang dihasilkan dari implementasi gatecycle. Kepala Divisi Pembangkitan Jawa Bali (Kadivkit Jawa Bali), Supangkat Iwan Santoso mengapresiasi upaya yang dilakukan PJB dan UBJOM dalam meningkatkan performansi pembangkit. Ia berharap hal itu dapat di-sharing kepada yang lain.(*)
n

PJB dalam Rakor Direktorat Operasi Jawa, Bali dan Sumatera 2013 mempresentasikan implementasi gatecycle di UBJOM.

atecycle sangat memung kinkan dimplementasikan di PLTU FTP-1, karena teknologi Digital Control System (DCS) relatif baru dan dapat meng-capture data secara umum dengan sangat cepat dan akurat, kata Senior Manager ROP, Sugiyanto CMRP, dalam Rakor Triwulan I 2013 Unit Operasi Jawa-Bali yang berlangsung di PJB kantor Pusat, 25 April 2013. Sugiyanto, didampingi Sigit Kusumawan Ardianto (UP Gresik), Tovi Hardanto (PJB Kantor Pusat),
20 Info PJB
n

Maryono (UBJOM Rembang) dan Zainal Maskur (UBJOM Rembang), mempresentasikan Implementasi Gatecycle di PLTU FTP-1. Dijelaskan, gatecycle merupakan salah satu tools yang digunakan untuk mengetahui kinerja setiap peralatan pembangkit dan prediksi dengan melalui suatu pemodelan. Gatecycle bekerja berdasar prinsipprinsip thermodinamika dan di kalkulasi berdasar heat & mass balance. Implementasi gatecycle memerlukan desain data

(heatbalance) untuk desain awal maupun performansi data sebagai acuan kondisi new and clean (kondisi peralatan seakan baru seperti saat komisioning). Data new and clean ini sebagai pembanding data eksisting (current condition) sehingga gap performance dapat diketahui sesuai model yang telah di set-up berdasar new and clean tersebut. Implementasi gatecycle perlu didukung 1 set data dari DCS yang dapat di-capture ke spredsheet

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

21

Managemen Aset

Managemen Aset Yunaini. Dua sektor pembangkitan di wilayah ini yang menjadi pilot project IMAP, yaitu Sektor Pembangkitan Belawan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin. Sebelumnya, Go Live IMAP telah dilakukan di : PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar) dengan pilot project PLTA Bakaru. PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) dengan pilot ptroject PLTU Asam-asam. PLN Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Sulutenggo) dengan pilot project PLTU Amorang dan PLTP Lahendong. PLN Wilayah Kalimantan Timur dengan pilot project PLTG Sambera. I Ngurah Adnyana maupun Bagiyo Riawan menilai IMAP di PLN Pembangkitan Sumbagut lebih sempurna dibandingkan di tempat lain, karena dalam proses eksekusi perbaikan terhadap gangguan tidak melibatkan kepala atau manajer pembangkit, tetapi langsung dilakukan oleh bagian terkait, sehingga lebih efektif. Manajer sektor atau manajer pembangkitan cukup melakukan pemantauan dan memberikan supervisi. Mereka berharap implementasi IMAP Unit Pembangkitan Sumbagut dijadikan role model atau percontohan di tempat lain. Go Live IMAP di PLN Pembangkitan Sumatera bagian Utara ditandai dengan penyematan jaket go live kepada Manajer Sektor Labuhan Angin oleh I Ngurah Adnyana dan kepada Manajer Sektor Labuhan Angin oleh Bagiyo Riawan. Selain itu juga dilakukan simulasi aplikasi maximo dalam implementasi manajemen aset. I Ngurah Adnyana dan Bagiyo Riawan merasa puas melihat simulasi yang dilakukan para operator PLTU Belawan dan Labuhan Angin yang dalam eksekusi perbaikan tidak harus minta persetujuan kepala sektor atau manajer pembangkitan, cukup kepada bagian terkait. Dalam kesempatan itu, Bagiyo Riawan berkesempatan memberikan kuliah umum kepada karyawan PLN Pembagkitan Sumbagut. Selama 1,5 jam LC Corporate University PLN ini memaparkan makalah tentang Execution Awareness : Sustainable EAM/CMMSs Implementation as an Enabler. Dikatakan bahwa aada empat pilar manajemen aset, yaitu: Physically Asset, Enabler (Tools & Technology), Knowledge Asset (Business Processes & Best Practices), dan Human Asset (People & Capabilities). Keempatnya saling berhubungan, namun yang menjadi kunci utama adalah faktor manusianya. Sebaik apapun aset yang dimiliki, secanggih apapun teknologi yang dipalikasikan dan sebagus apapun proses bisnis yang dijalankan, namun tanpa diimbangi dengan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) hasilnya tidak dapat maksimal. Karena itu kemampuan SDM harus terus ditingkatkan. Eksekusi merupakan sebuah himpunan aksi, perilaku dan teknik dimana organisasi butuh menguasai cara-cara best practice, untuk mencapai keunggulan kompetitif. Tanpa manajemen eksekusi, strategi yang kita bangun akan rusak. Hasilnya adalah bahwa sesuatu akan berubah menjadi lebih buruk, karena energi terbuang percuma baik dari pegawai maupun organsasi. Dan kegagalan terus-menerus akan mengakibatkan hancurnya sebuah organisasi, papar Bagiyo Riawan. Manajemen eksekusi merupakan pekerjaan utama manajer, dan eksekusi harus menjadi elemen inti dari kultur organisasi, dimana manajer meluangkan waktu dan pikirannya. Manajemen eksekusi harus diidentifikasi sebagai keahlian inti, dipraktekkan dan embeded ke dalam value organisasi, tandasnya. Selain itu Bagiyo Riawan juga memaparkan elemen-elemen kunci dari Power Plant Maintenance Excellence, bagaimana memahami Computerized Maintenance Management Systems (CMMS), EnterpriseAsset Management System (EAMS) dan Enterprise Resource Planning (ERP), Big O (Operation, Maintenance and Engineering), yang merupakan Core Function Pembangkitan, Work Planning Control (WPC) dan frame MANAJEmEN EKSEKUSI

Deseminasi Manajemen Aset Pembangkit PJB

Unit Pembangkitan Sumbagut Sebagai Role Model

Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera PT PLN (Persero), I Ngurah Adnyana melakukan simulasi aplikasi Maximo, didampingi tim PLTU Labuhan Angin, disaksikan LC Corporate University PLN, Bagiyo Riawan, dan General Manager PLN Pembangkitan Sumbagut, Bernadus Sudarmanta.

Deseminasi Manajemen Aset Pembangkit yang dilakukan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) ke Unit-Unit Pembangkitan PLN telah memasuki babak akhir, menyusul Go Live IMAP (Implementasi Manajemen Aset Pembangkit) di PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Senin, 6 Mei 2013. Selanjutnya sektor pembangkitan yang menjadi pilot project berkewajiban menyebarluaskan ke seluruh sektor pembangkitan yang ada di PLN wilayah atau PLN Pembangkitan masing-masing.
i setiap wilayah ada satu atau dua sektor pembangkitan yang dijadikan pilot project. Selanjutnya mereka yang akan
22 Info PJB
n

menyebarluaskan ke sektor pembangkitan yang ada di wilayah kerja unit pembangkitan masingmasing, kata Direktur Pengadaan

Strategis dan Energi Primer yang juga LC Corporate University PLN, Bagiyo Riawan. Kami berharap seluruh pembangkitan di lingkungan PLN dikelola dengan cara yang sama, mengacu best practice tata kelola pembangkitan PJB, tandasnya. Go Live IMAP di Unit Pembangkitan Sumbagut berlangsung di Kantor Pusat PLN Pembangkitan Sumbagut, Medan, dihadiri Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera, I Ngurah Adnyana dan Kepala Divisi Pembangkitan Indonesia Barat, Ishvandono

Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera PT PLN (Persero), I Ngurah Adnyana dan LC Corporate University PLN, Bagiyo Riawan, menyematkan jaket Go Live sebagai pertanda dimulainya implementasi IMAP di PLN Pembangkitan Sumbagut.
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 23

edisi 81, Mei 2013

Managemen Aset work untuk continuous improvement, serta PLN Integrated Enterprise Asset Management. Dibagian akhir Bagiyo Riawan menjelaskan tentang bagaimana menjadikan realisme sebuah prioritas. Seperti diketahui, Direksi PLN meminta seluruh pembangkit di Indonesia dikelola dengan tata kelola yang sama, dan proses bisnis material management di pembangkit fokusnya adalah mendukung proses bisnis maintenance dalam rangka meningkatkan availability. Material management dan maintenance management menggunakan aplikasi yang sama, yang sudah digunakan di sebagian besar unit pembangkit, yaitu Maximo. Untuk menyeragamkan tata kelola pembangkitan, PLN menugaskan PJB sebagai konsultan untuk mengajarkan tata kelola pembangkitan yang dimiliki. Tahapan pelaksanaan implementasi asset management terbagi dalam dalam 4 tahap, yaitu: Tahap persiapan (pre-steps), yaitu yang meliputi asset management awareness, audit readiness (melihat kesiapan dan membangun komitmen seluruh karyawan), assessment dan analisis gap terhadap referensi best practice, serta menentukan gap kondisi existing terhadap kondisi best practice. Tahap penyusunan strategi (strategic). Pada tahap ini dilakukan penetapan visi misi pembangkitan, membuat road map pembangkitan dan strategy map, menyusun tata kelola pembangkitan, melakukan cascade kontrak kinerja, membuat kebijakan, strategi, dan action plan, serta alignment organisasi. Tahap pengembangan sistem, tool dan metodologi (tactical). Pada tahap ini yang dilakukan antara lain: membangun

SDM

Go Live IMAP di PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), 6 Mei 2013, dihadiri Direktur Operasi Jawa, Bali dan Sumatera PT PLN (Persero), I Ngurah Adnyana (tengah) dan LC Corporate University PLN, Bagiyo Riawan (kiri).

Yel-yel Implementasi IMAP di PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) sebagai tekad untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

manajemen aset pembangkitan, aligning konsep manajemen aset pembangkitan dengan eksisting, SERP dan rencana pencegahan kegagalan (Failure Defence Planning), deployment konsep manajemen aset pembangkitan, serta merancang Sistem Informasi Terpadu (CMMS). Tahap implementasi & pengukuran (implementation & maturity level measurement). Pada tahap ini yang dilakukan antara lain: implementasi tata kelola pembangkitan melalui metode pendampingan, coaching dan mentoring terkait pelaksanaannya (feed back report), serta membantu melakukan continous improvement baik konsep maupun implementasi manajemen aset pembangkitan. Tata kelola pembangkit yang dimaksud adalah tata kelola berbasis manajemen aset. PJB telah dinilai telah berhasil menerapkan tata kelola pembangkitan hingga beberapa pembangkit yang sudah masuk dalam Top Ten

Percent sesuai standar NERC (North America Electricity Reliabiility Council). Keberhasilan PJB dalam mengimplementasikan tata kelola pembangkitan menarik perhatian Direksi PT PLN (Persero). PJB diminta menularkan keberhasilan itu ke unitunit pembangkitan PLN di seluruh Indonesia, untuk menjaga keandalan dan efisiensi pembangkit. PJB diminta menjalankan konsultasi dan sekaligus supervisi implementasi tata kelola pembangkitan di PLN Indonesia Timur. Dengan mengimplementasikan tata kelola pembangkitan, diharapkan ada peningkatan kesadaran akan pentingnya manajemen aset pembangkitan, terjadi perbaikan proses bisnis, prosedur, dan tata kelola aset pembangkitan, peningkatan kinerja aset pembangkitan, serta peningkatan knowledge dan kompetensi SDM PLN dalam pengelolaan aset pembangkitan. Sehingga, kinerja pembangkitan lebih baik lagi. (*)

Pasar Operation and Maintenance (O&M) tumbuh pesat seiring dengan pembangunan pembangkit baru di berbagai daerah di tanah air. Selain itu, PJB juga mendapat penugasan dari PLN (Persero) untuk pengelolaan O&M di beberapa wilayah di Indonesia Timur dan Sumatera, termasuk dalam pengelolaan jasa pemeliharaan pada PLTU Fast Track Project 1 (FTP 1). Hal ini menuntut PJB dan juga PJB Services untuk mempersiapkan SDM dengan kompetensi yang memadai dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu relatif singkat.

Direktur Utama PJB, Susanto Purnomo, menggunting pita tanda dibukanya Training Development Center PJB Services.

Training Development Center PJB Services

Penyiapan SDM O&M Pembangkit Secara Cepat


omisaris PT PJB Services yang juga Direktur SDM dan Administrasi PJB, Trilaksito Sunu mengungkapkan, salah satu langkah yang telah dilakukan PJB services untuk mempersiapkan SDM berkompeten

dalam menjalankan tugas O&M Pembangkit adalah bekerjasama dengan HAKIT (Himpunan Ahli Pembangkit). Sejumlah karyawan PJB Services telah diberikan pelatihan dan mengikuti sertifikasi yang dilakukan

HAKIT. Sertifikasi ini sangat penting, karena tenaga kerja yang ditugaskan untuk menjalankan O&M pembangkit harus memiliki kompetensi yang memadai, yang dibuktikan dengan sertifikat, papar Trilaksito Sunu, ditemui
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 25

24 Info PJB n edisi 81, Mei 2013 24 Info PJB n edisi 81, Mei 2013

SDM dan siap bekerja untuk memenuhi gap kompetensi kebutuhan pasar. Peresmian TDC dilakukan bersamaan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-12 PJB Services yang berlangsung 1 April 2013, yang dihadiri Direktur Utama PJB, Susanto Purnomo beserta para direksi PJB dan PJB Services. Keberadaan TDC mempunyai sasaran strategis, yaitu untuk mendukung pencapaian Human Capital Readiness (HCR) dan Organization Capital Readiness (OCR) yang diterjemahkan dalam strategic Sumber Daya Manusia yang siap kerja dengan kemampuan yang terampil dan profesional di bidang O&M pembangkit, Menjadi lembaga pendidikan terbaik dengan kualitas berstandar internasional, dan Menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya dan bermanfaat bagi masyarakat. Materi training di TDC bersifat aplikatif, dimana 40 persen teori dan 60 praktek lapangan. Materi disusun oleh bekerjasama dengan expert PJB dan dan tim Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya. Metode training menggunakan sistem penekanan didalam praktek hal ini agar lebih dapat memudahkan personil cepat memahami materi dan aplikasi yang sebenarnya. Namun konsep tetap sesuai metode diklat yaitu; training class, presentasi, tanya jawab , uji tulis, praktek dan site visit. Training yang diberikan meliputi: Keahlian Dasar 1, Keahlian Dasar 2, Keahlian Dasar 3, Pengolahan Limbah, Desalination Plant / RO, Clorinenation Plant, Water Treatment Plant, Hidrogen Plant, Prinsip kerja dan Instrument, serta SOP dan Sistem proteksi. TDC rencananya menempati gedung tiga lantai. Lantai 1 untuk meeting room, lantai 2 sebagai ruang simulator, dan lantai 3 untuk ruang kelas dengan kapasitas 30 orang. Sebagian simulator memanfaatkan peralatan unit existing PJB yang sudah tidak terpakai, seperti; Speedtronic Mark IV (ex PLTG Muara Karang,), Vibrasi monitor BN 3300 (ex PLTGU UP Gresik), Control Valve (ex UP Muara Karang), Thermocouple (ex PLTGU Gresik dan Muara Karang).(*)

SDM

Transformasi Organisasi dalam PJB Group PJB


Penguatan Kompetensi Strategi

Funding Marketing Corp. Strategy Business Dev Planning

Competency Acceleration
REKRUTMEN
Profesional CMC Development Fresh Graduate Pendidikan Khusus/ beasiswa

PJBS / RE

Penguatan Kompetensi OME

Engineering O&M Project

PJB University
- Power Plant Academy - Community Academy - Expertise Development Program - Consultation Service

usai mengikuti serah terima jabatan Direktur Operasi PJB Services dari Agus Bagio Hartadi kepada Ompang Reski Hasibuan, April 2013 di PJB Kantor Pusat. Dalam kesempatan yang sama, Direktur SDM PJB Services, Adi Setiawan menambahkan, Diklat Berbasis Kompetensi (DBK) yang dilakukan bekerjasama dengan HAKIT merupakan program percepatan, sehingga dalam waktu tiga bulan peserta yang lulus sertifikasi sudah memperoleh sertifikat. Sebanyak operator yang kini tersebar di bebeberapa Unit Bisnis Jasa Operation and Maintenance

(UBJOM) PJB. Mereka telah memperoleh sertifikat level 1, 2 dan 3. Seluruh operator baru, nantinya juga mengikuti sertifikasi. Ini merupakan komitmen PJB Services untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa. ma salah sertifikasi ini sekaligus sebagai tantangan, mengingat provider pelaksana training SDM di bidang pembangkitan sangat terbatas, dan daftar tunggu pelaksanaan training yang sangat lama dan berbulan-bulan. Padahal kebutuhan sangat mendesak, seiring dengan beroperasinya

pembangkit-pembangkit baru proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 WW tahap pertama, serta penugasan PLN kepada PJB dan PJB Services membangun pembangkit baru di luar Jawa. Karena itu diperlukan terobosan sebagai upaya percepatan sertifikasi karyawan, kata Adi Setiawan. Salah satu terobosan yang dilakukan PJB Services adalah dengan mendirikan Training Development Center (TDC), sebuah pusat pelatihan bidang pembangkitan untuk mencetak SDM yang terampil, profesional

Speedtronic Mark IV

action yang secara bertahap disusun sistem yang mewadahi peningkatan kompetensi secara berkesinambungan. Visi TDC adalah menjadi pusat pelatihan yang mampu mencetak SDM yang terampil dan berkualitas yang mendukung tercapainya visi PJB Services yaitu menjadi pengelola aset pembangkit berstandar internasional. Adapun misi yang diemban antara lain; Menghasilkan
Control Valve 26 Info PJB
n

Pressure Gauge Menuju Perusahaan Kelas Dunia 27

edisi 81, Mei 2013

Risk Management

Risk Management Tata Kelola Perusahaan dan Corporate Social Responsibility (CSR), Kebutuhan perusahaan asuransi, perubahan ketahanan bisnis, prasyarat pinjaman bank, persyaratan investor, persyaratan program lain misalnya PAS 55 dan sebagainya. Banyak manfaat penerapan BCP, diantaranya adalah sebagai keunggulan kompetitif, identifikasi proses yang lemah, mengurangi dampak ganggguan atau bencana, keterlibatan karyawan meningkatkan moral, dan perlindungan reputasi. Manfaat lain adalah: mengurangi kemungkinan kerugian & eksposur, memastikan keselamatan personil dan pelanggan, persiapan sumber daya manusia untuk peristiwa bencana, meminimalkan kemungkinan terjadinya bencana, memastikan stabilitas organisasi, menyediakan pemulihan, meminimalkan tanggung jawab hukum dan melindungi aset organisasi. Implementasi BCP di PJB mengacu pada ISO 22301, yaitu standar internasional untuk manajemen kontinuitas bisnis. ISO 22301 mengidentifikasi dasardasar sistem manajemen kelangsungan bisnis, membangun proses, prinsip dan terminologi manajemen kontinuitas bisnis. Ini antara lain memberikan dasar untuk memahami, mengembangkan dan menerapkan kelangsungan bisnis dalam organisasi dan memberi keyakinan dalam hubungan relasional bisnis. Aplikasi sistem ini dapat juga digunakan untuk meyakinkan para pemangku kepentingan utama bahwa bisnis sepenuhnya siap dan dapat memenuhi peraturan dan persyaratan pelanggan. Standar ini menyediakan kerangka kerja untuk memastikan bahwa organisasi dapat terus beroperasi selama situasi yang paling sulit dan tak terduga, melindungi para pekerja, menjaga reputasi dan menyediakan kemampuan untuk terus beroperasi dan berbisnis. Efektifitas dari BCP akan sangat bergantung pada komitmen manajemen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan dalam rangka mengidenfikasi, menyusun dan melakukan pengujian terhadap BCP. Dalam hal ini, manajemen berperan menetapkan kebijakan, strategi dan prosedur BCP, menetapkan BCP yang dikinikan secara berkala, memastikan adanya suatu organisasi atau tim kerja yang bertanggungjawab atas BCP, meyakini bahwa BCP disosialisasikan kepada seluruh fungsi bisnis dan personil, dan mengevaluasi

Bukan Sekadar Tanggap Darurat Terhadap Gangguan dan Bencana


terjadi, dan meminimalkan dampak dari bencana terhadap perusahaan, orang-orangnya dan aset. Dengan kata lain, BCP merupakan kemampuan untuk melanjutkan fungsi bisnis yang kritikal (dalam periode waktu yang dapat diterima) setelah terjadinya suatu bencana. BCP mengembangkan dan mendokumentasikan suatu set lengkap tentang proses dan prosedur kontinuitas bisnis yang pada saatnya untuk dapat diterapkan, sehingga organisasi mampu untuk memulihkan dan menyiapkan fungsi-fungsi bisnis kritikalnya di suatu lokasi alternatif pada saat terjadinya bencana. BCP dituangkan dalam suatu dokumen tertulis yang memuat rangkaian kegiatan yang terencana dan terkoordinir mengenai langkah-langkah pengurangan risiko, penanganan dampak gangguan/bencana dan proses pemulihan agar kegiatan operasional tetap dapat berjalan. BCP sangat penting karena terkait dengan persyaratan peraturan perundang-undangan (UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana),

B U S I N E S S CO N T I N U I T Y P L A N

Workshop Business Continuity Plan di PJB Kantor Pusat.

Kegiatan perusahaan tidak dapat terhindar dari adanya gangguan/kerusakan yang disebabkan oleh alam maupun manusia seperti terjadinya gempa bumi, bom, kebakaran, banjir, power failure, kesalahan teknis, kelalaian manusia, huru-hara dan sebagainya. Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada kemampuan teknologi suatu usaha, tetapi juga berdampak pada kegiatan operasional perusahaan dan kehilangan pendapatan. Bila tidak ditangani secara khusus, bukan hanya akan menghadapi risiko operasional, juga akan mempengaruhi risiko reputasi dan berdampak pada menurunnya tingkat kepercayaan pelanggan.
ntuk meminimalisasi risiko tersebut, diperlukan memiliki Business Continuity Plan (BCP). BCP merupakan bagian yang terintegrasi dengan kebijakan manajemen risiko secara keseluruhan, kata Kepala Satuan Manajemen Risiko, Mutu dan Kinerja PJB, Ari Basuki. Ia menjelaskan, BCP merupakan proses manajemen strategik untuk mengidentifikasi insiden potensial yang dapat mengakibatkan bencana bagi organisasi, dan mengembangkan rencana tanggapan yang efektif untuk menanggulanginya dengan tujuan meningkatkan resiliensi dalam proses organisasi terhadap gangguan bisnis yang
28 Info PJB
n

Kepala Satuan Manajemen Risiko, Mutu dan Kinerja PJB, Ari Basuki (kanan) dalam Workshop Business Continuity Plan.

edisi 81, Mei 2013

hasil pemeriksaan audit internal atas kecukupan BCP. Penyusunan BCP hendaknya melibatkan seluruh satuan kerja dan fungsi bisnis. Itu sebabnya, dalam workshop BCP yang berlangsung di PJB Kantor Pusat, melibatkan orang-orang kunci terkait kelangsungan perusahaan. BCP disusun berdasarkan business impact analysis dan risk assessment yang memadai, bersifat fleksibel untuk dapat merespon berbagai skenario ancaman dan gangguan serta bencana yang sifatnya tidak terduga baik bersumber dari kondisi internal maupun eksternal. BCP bersifat spesifik, terdapat kondisi-kondisi tertentu dan tindakan yang dibutuhkan segera dilakukan untuk kondisi tersebut. BCP terdiri dari kebijakan, strategi, skenario dan prosedur yang diperlukan untuk dapat memastikan kelangsungan proses bisnis pada saat terjadinya gangguan atau bencana. BCP harus memuat beberapa alternatif strategi yang dapat diambil untuk mengatasi masing-masing jenis dan ukuran gangguan atau bencana. Strategi pemulihan tersebut disesuaikan dengan analisis risiko, sumber daya yang dimiliki serta kapasitas dan tingkat teknologi. Setiap strategi yang dipilih disertai analisis/alasan yang melatarberlakangi dan harus Kelas Dunia didukung dengan Menuju sistemPerusahaan dan prosedur yang sesuai.(*)

29

Procurement

Procurement
dan etika yang berlaku di PJB, Perilaku kriminal dan pelangaran terhadap bahaya narkoba, Perilaku terhadap praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), baik antara pemasok dengan pemasok maupun pemasok dengan pembeli (pelaksana pengadaan), dan sebagainya. Aspek Kerja Sama (Relationship). Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat kualitas kerja sama, hubungan dan komunikasi dari pemasok. Kriteria-kriteria yang mempengaruhi antara lain keaktifan dalam memberikan informasi harga, mengikuti Anwijzing, memasukan penawaran, melaporkan perubahan data perusahaan, dan menghadiri atau mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh PJB. Selain itu juga keterlibatan langsung pemilik dalam bertransaksi, fleksibilitas dalam komunikasi (kemudahan dihubungi), dan layanan purna jual. Aspek Mutu. Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat kualitas produk dari pemasok, baik kualitas barang yang kirim atau kualitas hasil pekerjaan serta kelengkapan dokumen yang disyaratkan. Kriteriakriteria yang mempengaruhi antara lain : kualitas barang atau pekerjaan secara fisik, kualitas barang atau pekerjaan secara fungsi, serta pemenuhan dan keaslian terhadap dokumen yang disaratkan. Aspek Waktu. Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat ketepatan waktu dari pemasok dalam pemenuhan pengiriman barang atau penyelesaian pekerjaan serta ketepatan waktu dalam penuhan dokumen yang disaratkan, berdasarkan batas waktu dan kriteria yang tertera dalam Surat Perjanjian/Surat Pesanan/Surat Perintah Kerja. Barang dinyatakan datang atau pekerjaan dinyatakan selesai apabila jumlah barang atau volume pekerjaan dan semua dokumen yang disaratkan dalam PO atau Kontrak terpenuhi 100 persen. Kriteria-kriteria yang mempengaruhi antara lain: ketepatan waktu kedatangan barang atau penyelesaian pekerjaan, kelengkapan jumlah barang yang dikirim atau volume pekerjaan yang diselesaikan, dan kelengkapan dokumen saat pengiriman barang atau penyelesaian pekerjaan. Aspek Harga. Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat kualitas harga suatu produk dari seorang pemasok, baik itu berupa barang atau jasa dalam suatu proses pengadaan. Kriteria-kriteria yang

Supplier Gathering PJB

Bangun Kemitraan, Wujudkan Pengadaan yang Bersih dan Berkualitas


Suplier, Manajemen dan Direksi PJB menandatangani Pakta Integritas di Kantor Pusat PJB, Rabu 24 April 2013. Ini merupakan bentuk deklarasi untuk melakukan proses pengadaan yang sesuai kaidah Good Corporate Governance (GCG), serta salah satu wujud dari tekad perbaikan berkelanjutan yang dilakukan PJB menuju World Class Services (WCS).
nomor 20/2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, dalam setiap proses pengadaan barang dan jasa pelayanan publik yang dilaksanakan PJB. Tindakan tersebut meliputi korupsi, nepotisme, gratifikasi, mark up, pemberian hadiah, konflik kepentingan, dan pemerasan. Menjalankan proses pengadaan barang dan jasa dengan berpegangan pada prinsip transparansi dan efisiensi dalam penggunaan aset negara. Menjalankan proses pengadaan barang dan jasa dengan mengikuti proses legal formal juga menekankan pada prinsip efisiensi. Guna mengantisipasi kemungkinan adanya pelanggaran, PJB telah menetapkan sistem pelaporan pelanggaran (whistle blowing system). Pemasok maupun karyawan dapat melaporkan pelanggaran yang terjadi. Dalam rangka GCG PJB terus melakukan perbaikan proses bisnis. Pedoman pengadaan barang dan jasa telah diperbaiki bekerjasama dengan BPKP. PJB juga menetapkan kebijakan whistle blowing system sebagai wadah untuk melaporkan bila terjadi pelanggaran, ungkap Direktur Utama PJB, Susanto Purnomo. Sementara dalam upaya mewujudkan pengadaan barang dan jasa yang berkualitas, PJB juga melakukan penilaian kinerja pemasok, yaitu melakukan pengukuran dan penilaian terhadap kinerja pemasok selama dalam proses transaksi pengadaan suatu produk baik itu berupa barang maupun jasa. PJB menyadari bahwa pemasok merupakan salah satu komponen utama dalam proses pengelolalan material (manajemen material). Seiring dengan ketatnya kompetisi global, peran suplier begitu esensial bagi kesuksesan dalam proses pengelolaan material. Karena itu, manajemen dituntut mampu mendapatkan suplier yang baik dan benar, sehingga dalam proses pengadaan diperoleh pasokan barang dan jasa dengan kualitas, waktu dan harga yang tepat, sehingga proses produksi tidak terganggu. Kepala Satuan Pengadaan dan Logistik PJB, Sutomo mengungkapkan, penilaian kinerja ini diharapkan juga untuk meningkatkan kinerja pemasok menjadi lebih baik. Aspek dan kriteria penilaian meliputi: n Aspek Integritas. Adalah suatu indikator yang mengukur tentang sikap dan prilaku pemasok/ suplier dalam proses transaksi jual beli. Kriteria-kriteria yang mempengaruhi antara lain prilaku kejujuran (yang terkait data perusahaan, informasi produk, keaslian dokumen), kepatuhan dan ketaatan terhadap semua peraturan

Direktur Utama PJB, Susanto Purnomo, menyerahkan penghargaan kepada supplier terbaik. mempengaruhi adalah kewajaran Harga Penawaran dan atau Harga PO terhadap : Harga Perkiraan Sendiri (HPS), harga pengadaan sebelumnya dan harga di pasaran. n Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat kepatuhan pemasok terhadap peraturan perundangan yang berlaku dalam manajemen K3, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja atau kecelakaan kerja. Kriteria-kriteria yang mempengaruhi antara lain : kepatuhan terhadap pemakaian Alat Pelindung Diri (APD), kepatuhan terhadap rambu-rambu K3, pemakaian safety tools, dan safety permit. n Aspek Lingkungan. Adalah suatu indikator yang mengukur tingkat kepatuhan pemasok terhadap peraturan perundangan yang berlaku dalam manajemen lingkungan. Kriteria-kriteria yang mempengaruhi antara lain: pemenuhan terhadap pengaman atau kemasan yang disaratkan dari suatu barang, pemenuhan terhadap petunjuk penanganan yang disaratkan dari suatu barang, pemenuhan terhadap kelengkapan dokumen yang disyaratkan (MSDS dll), serta pemenuhan terhadap penanganan limbah. Penilaian dilakukan untuk semua pemasok yang sudah melakukan transaksi pengadaan dengan PJB. Penilaian pada setiap aspek menggunakan metode leveling dan metode pembobotan. Rentang leveling dari 1 sampai 5. Level 1 nilai paling rendah, level 5 nilai paling tinggi. Sedangkan bobot penilaian; aspek integritas (20 persen), aspek kerja sama (10 persen), aspek mutu (20 persen), aspek waktu (20 persen), aspek harga (10 persen), aspek K3 (10 persen), dan aspek lingkungan (10 persen). Nilai kinerja dari masing-masing aspek merupakan perkalian antara nilai level dengan bobotnya. Nilai kinerja pada setiap PO atau kontrak adalah merupakan kumulatif dari nilai masing-masing aspek atau indikator. Penilaian kinerja pemasok dilaksanakan 6 bulan (Juli dan Januari) dan hasilnya akan diinformasikan kepada masing-masing pemasok yang dinilai dalam Raport Kinerja Pemasok. Nilai A (ekselen), B (baik), C (cukup) dan D (kurang). Tahun 2012 kemarin, sebanyak 20 persen suplier memperoleh nilai ekselen, 62 persen bagus, 14 persen cukup dan 4 persen kurang. Sedangkan pemasok yang terkena sanksi black list sebanyak 15 perusahaan, papar Sutomo. Dari penilaian kinerja pemasok sepanjang tahun 2012, PJB telah menetapkan 10 suplier terbaik berdasarkan kategorinya, yaitu: p PT Adaro Indonesia, kategori Penyedia Batubara Terbaik p PT Kangean Energi Indonesia, kategori Penyedia Gas Terbaik p PT Baroka Pratama, kategori Penyedia Barang / Jasa Terbaik I p PT Sumber Dipta Asia, kategori Penyedia Barang / Jasa Terbaik II p PT Kencana Alam Putra, kategori Penyedia Barang /Jasa Terbaik III p PT Mangatur Dharma, kategori Penyedia Barang / Jasa Jangka Panjang (LTSA) Terbaik p PT SGS Indonesia, kategori Jasa Konsultansi Terbaik p PT Caraka Tirta Pratama, kategori Penyedia Jasa Transportir BBM Terbaik p PT MATS EXPRESS, kategori Penyedia Jasa Forwarder Terbaik p PT Surveyor Indonesia, kategori Penyedia Jasa Surveyor Terbaik.(*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 31

Direksi PJB menandatangani deklarasi yang yang berisi pernyataan untuk melakukan proses pengadaan yang sesuai kaidah GCG

Suplier menandatangani deklarasi.

enandatanganan Pakta Integritas dilakukan mengawali acara Suplier Gatahering PJB 2013 yang mengambil tema. Membangun sebuah ekosistem yang sehat dengan mitra kerja, agar terjalin kemitraan yang lebih baik sesuai prinsip GCG menuju World Class Services (WCS). Pakta Integritas tersebut berisi tiga butir, antara lain: Tidak akan melakukan segala tindakan yang dapat dikategorikan sebagai korupsi menurut UU

30

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

K nowledge Management

K nowledge Management

Wokrshop Global IPP Business

Buka Wawasan Bisnis Pembangkitan Secara Komprehenship


Guna meningkatkan wawasan karyawan tentang bisnis ketenagalistrikan, khususnya bagi generasi muda PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), PJB menggelar Workshop IPP Business, menghadirkan pembicara Parno Isworo dan Djoko Paryoto dari Castle Rock Asia Consulting. Hal ini seiring dengan perkembangan sektor ketenagalistrikan yang cukup pesat, serta besarnya potensi PJB untuk membangun pembangkit baru, baik yang dilakukan sendiri maupun dalam bentuk joint venture company. Workshop dibuka Direktur Produksi PJB, Muljo Adji AG, diikuti para general manager unit, para senior leader dan sejumlah karyawan PJB Kantor Pusat, 13 Maret 2013.

Djoko Paryoto di depan peserta Wokrshop Global IPP Business di PJB Kantor Pusat.

ipaparkan Parno Isworo, investasi ketenagalistrikan kurang dimengerti dan diapresiasi oleh investor dalam negeri. Kebutuhan dana sangat besar, off taker dipersepsi tidak bankable sebab sejarah kerugian, perjanjian jual beli tenaga listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dipandang rumit, dan risiko kegagalan dipersepsi sedang sampai tinggi. Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) terbatas, baik dalam hal rancang bangun, maupun operation and maintenance. Belum lagi masalah karakteristik beban. Itu sebabnnya, tidak

banyak pengusaha dalam negeri yang bermain di bidang pembangkitan sebagai IPP. Hal ini tentu saja merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi PJB yang sudah lama menjalankan bisnis ketenagalistrikan di bidang pembangkitan. Banyak hal yang disampaikan mantan Direktur Keuangan PT PLN (Persero) tersebut, mulai dari masalah keekenomian pembangkit, sistem pendanaan, sistem jual

beli listrik, pasar dan sebagainya secara detail, yang diharapkan dapat membuka wawasan bisnis pembangkitan secara menyeluruh. Ditegaskan bahwa pada prinsipnya usaha dimulai dari tersedianya dana tunai untuk merealisasikan pembangunan proyek dan memulai usaha. Setelah proyek / usaha beroperasi, menghasilkan produk yang dijual untuk memperoleh penghasilan / pendapatan berupa dana tunai. Dana tunai digunakan untuk operasi, pemeliharaan dan membayar kembali dana yang digunakan untuk membangun

proyek tersebut. Untuk proyek atau usaha baru (dalam arti usaha yang dapat dipisahkan dari usaha perusahaan induk-nya) seperti power plant baru, lapangan gas alam baru, dan sebagainya, sebaiknya dijamin dengan pendapatan usaha proyek atau usaha itu sendiri. Leverage dapat diatur setinggi mungkin yang dapat diterima oleh penyandang dana. Pinjaman (Lender), misalnya : 25 persen Equity dan 75 persen loan. Dalam hal ini diperlukan Debt Financing Arrangement. Ada tiga cara pengaturan debt financing

berkaitan dengan pengaruhnya terhadap sponsor proyek (yang menanam modal, menyetor equity dalam proyek), yaitu: Full Recourse Financing. Dalam arrangement ini, sponsor bertanggung-jawab penuh atas pengembalian loan untuk pembangunan proyek ini, tanpa batas, dan berlaku sampai loan dilunasi. Mudah untuk mendapat dana, namun kurang efisien. Limited Recourse Financing. Tanggung jawab sponsor dibatasi pada equity yang disetorkan dalam proyek ini. Di luar itu ada dukungan

yang limited dan tersedia dalam pengaturan guarantee, surety bonds, contractual liquidated damages untuk lindung nilai (hedging) atas risiko konstruksi dan operasi. Jenis ini paling banyak dilakukan. Non Recourse Financing. Tanggungjawab Sponsor dibatasi pada equity yang disetorkan dalam proyek. Jenis ini dalam praktek jarang terjadi. Project Financing semacam itu diperlukan untuk meminimalkan dan menyelaraskan jumlah setoran

Parno Isworo saat memberikan paparan dalam Workshop Global IPP Business di PJB Kantor Pusat.

32

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

33

K nowledge Management placement dan bond markets). Adapun motivasi ekonomi stakeholders adalah: Pemerintah, masyarakat atau Off taker: Mendapatkan layanan jasa yang dilakukan oleh Project Vehicle Sponsor : Mendapatkan keuntungan dari modal (equity) yang disetor dan dirisikokan. Lender : Memperoleh penghasilan berupa bunga dari dana yang dipinjamkan Project Vehicle : Memperoleh penghasilan dari penyediaan layanan jasa untuk pemerintah, masyarakat atau off-taker. EPC Contractor : Memperoleh penghasilan dari membangun proyek untuk Project Vehicle Insurance : Memperoleh penghasilan dari premi asuransi risiko proyek baik dari Lender, Project Vehicle, maupun EPC Contractor.

Resensi Buku

modal untuk suatu proyek, mengatur risk sharing antara para pihak, secara komersial dan akunting memisahkan kewajiban proyek dari neraca korporat, serta mengurangi beban pajak. Selain itu juga untuk menghindari covenants yang mengikat dari pendanaan proyek-proyek korporat sebelumnya dan proyek yang akan datang, sebagai diversifikasi exposure dan revenue dari proyek-proyek, serta matching kewajiban komersial secara spesifik terhadap aset dan kewajiban dari proyeknya sendiri. Stakeholders dalam project finance antara lain; sponsor (perusahaan besar yang mengambil inisiatif proyek), project vehicle (proyeknya sendiri yang secara akunting dan legal terpisah dari sponsor), kontraktor konstruksi (EPC Contractor), Lenders (multilateral dan bilateral, commercial banks, export credit agencies, private

Mengenai pasar energi listrik, menurut Parno isworo yang adalah vertically integrated, single buyer market model. Skema kontrak adalah committed capacityvariable energy. Untuk competitive market, mechant power plant perlu suatu back stop arrangement dengan beberapa buyers. Sedangkan untuk menjamin pasokan energi primer sebaiknya melakukan kontrak jangka panjang dengan pemasok. Sementara primary equipment hendaknya dari pabrikan yang memiliki history dan trackrecord panjang, serta berkepentingan untuk membangun global operational excellence, dan pelaksanaan konstruksi dipercayakan kepada kontraktor yang memiliki history dan track record untuk pekerjaan sejenis (EPC), familiar dengan sistem dan equipment yang dipasang.(*)

Saatnya Hati Bicara Pengalaman Anti Korupsi PLN


PT PLN (Persero) telah meluncurkan buku berjudul Saatnya Hati Bicara, Rabu, 27 Maret 2013. Peluncuran yang berlangsung di PLN Kantor Pusat ini menandai perjalanan satu tahun kerja sama PLN dengan Transparansi International Indonesia (TII). Acara ini dihadiri Direktur Utama PLN, Nur Pamudji, Sekretaris Jenderal (Sekjen) TII, Dadang Trisasongko serta Koordinator Indonesia Corruption Watch, Danang Widoyoko, perwakilan KPK, YLKI, serta sejumlah karyawan PLN dan Anak Perusahaan. Menurut Dirut PLN, Nur Pamudji, buku yang merupakan pengalaman dan percikan pemikiran karyawan PLN tersebut menunjukan niat baik bahwa PLN itu perusahaan yang baik. Buku ini sudah cukup lama disiapkan sebagai bagian dari gerakan PLN Bersih, no suap, no corruption, no gratification. PLN akan tumbuh berkembang dengan pesat memenuhi kebutuhan kelistrikan di Indonesia. Ini bisa berjalan kalau diselenggarakan dengan cara-cara yang baik. Tidak satupun perusahaan besar di dunia dikelola dengan buruk bisa menjadi besar. Mari kita letakkan PLN di atas dasar-dasar kebenaran dan dengan keyakinan itulah PLN akan besar dan juga membesarkan orangorang yang ada di dalamnya, kata Nur Pamudji dalam sambutannya pada peluncuran buku Saatnya Hati Bicara. Hal senada dilontarkan Sekjen TII, Dadang Trisasongko. Dadang mengatakan peluncuran buku ini menandai satu langkah baru deklarasi suara hati para pegawai PLN yang berkomitmen melawan korupsi. Para penulis sudah diberi kemewahan mendengarkan suara hatinya, tutur Dadang. Saatnya hati bicara berisi kisah dan pengalaman para pegawai PLN dalam menegakkan integritas, melawan korupsi dan suap serta meningkatkan pelayanan. Sebanyak 51 pejabat dan karyawan PLN menuangkan pengalaman, pemikiran dalam praktek melawan korupsi dalam buku ini. Mulai dari proses pengadaan barang dan jasa, mempertahankan integritas, karir, anti gratifikasi, hingga menolak suap menyuap dalam melayani pelanggan. Buku ini dikelompokkan menjadi 5 bagian yaitu : l Pengadaan yang bersih : 10 tulisan l Integritas : 5 tulisan l Karier : 7 tulisan l Anti gratifikasi : 11 tulisan l Pelayanan pelanggan : 18 tulisan Melalui buku ini terlihat betapa pengalaman karyawan PLN dalam menolak suap dan korupsi sangat beragam. Ada supervisor dilabrak pelanggan yang tersinggung karena suguhan minumnya bagi petugas gangguan ditolak. Ada pula pegawai yang terpaksa harus mengancam untuk mengakhiri hubungan pertemanan dan hubungan profesional supaya rekanan mambatalkan pemberiannya kepada si pegawai. Seorang general manager sempat tercenung dan memikirkan sistem pengadaaan yang sudah sesuai aturan agar diperoleh efisiensi lebih besar. Akhirnya general manager ini mengubah cara pengadaan trafo dengan membeli langsung ke pabriknya dan diantar langsung ke gardu induk. Dengan cara ini ditambah sedikit perubahan cara pembayaran, ternyata harga trafo bisa turun drastis menjadi tinggal sepertiganya. General Manager itu kini menjadi Direktur Utama PLN. Seorang manajer area sempat dilarang masuk ke suatu desa untuk sosialisasi karena khawatir kongkalikong antara aparat desa dengan suatu CV untuk menipu masyarakat dalam hal biaya penyambungan terungkap. Pesan singkat dan telepon bernada ancamanpun diterima. Nur Pamudji berharap buku Saatnya Hati Bicara dapat mewujudkan PLN bersih. Selain terbit dalam edisi cetak, buku ini juga terbit dalam edisi elektronik (e-book) yang bisa diunduh diblog www.plnbersih.com.(*)

34

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

35

Green Energy

Green Energy Pada dasarnya, counter adalah melakukan asimilasi diri sendiri terhadap threat sehingga sifat kontra dan ancaman dari threat tersebut hilang karena telah dilakukan penyamaan pihak. Dengan kata lain, mengikuti arus dan melakukan internalisasi sehingga threat tersebut berubah menjadi bagian dalam diri PJB. Tindakan aktual dari strategi counter yang perlu dilakukan adalah dengan menjadi bagian dari perubahan menuju Green Technology Company. Sebagai perusahaan yang dinamis, merupakan kewajiban dari PJB agar bisa mengikuti perkembangan zaman dan tetap survive. Menjadi bagian dari Green Technology ini adalah salah satu langkahnya. Langkah utama yang harus ditempuh antara lain adalah: l Berkomitmen untuk melakukan ekspansi ke dunia Green Technology. l Melakukan pengayaan, pendalaman knowledge, penambahan pengalaman, riset, dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan tema Green Technology. l Menjalankan aspek marketing untuk tema Green Technology. Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan menancapkan branding bahwa PJB adalah termasuk pioneer di bidang Green Technology. Marketing ini penting, karena posisi pioneer akan lebih mudah dikenal daripada sekadar follower. Cirata Green Energy Untuk mengimplementasikan strategi di atas, UP Cirata telah membentuk Tim C-Gen dengan tugas utama menyiapkan konsepkonsep bisnis PJB di bidang Green Technology. Awalnya dibentuk dengan nama Cirata Green Energy Campus (C-GEn), kini telah berkembang sehingga disusun konsep tambahan yang bersifat holistik. Salah satu konsep tersebut adalah C-GEn Centre, dengan kepanjangan C dapat diusulkan menjadi Corporate, atau nama C-GEn cukup menjadi nama generic. Dengan tagline Enabling Greener Future, C-GEn Centre secara garis besar adalah sebuah embrio unit bisnis yang meliputi mayoritas aspek dalam topik Green Technology. C-GEn Centre terdiri dari empat buah stream utama, yaitu: n C-GEn Plant. Stream ini berfungsi untuk menganalisa, mendesain, membangun, mempelajari karakteristik pola operasi, Business Management System dan prosedur Operation & Maintenance, menganalisa pemodelan cost & revenue, hingga menyusun tata kelola khusus pembangkit Green Technology secara terintegrasi dan best practice. n C-GEn Research. Stream yang khusus bergerak di bidang Green Technology Research, baik yang bersifat aplikatif, maupun teoritikal. n C-GEn Solution. Stream yang didesain untuk menangkap opportunity. C-GEn Solution akan memberikan solusi/ jasa konsultansi desain hingga EPC (Engineering, Procurement & Construction) untuk memenuhi permintaan di atas dengan menggunakan Knowledge dan Experience yang dimiliki PT PJB di bidang Green Domain. n C-GEn Campus. Stream yang berfungsi untuk men-sharingkan knowledge-knowledge yang didapatkan pada tiga stream sebelumnya. Keempat stream di atas direncanakan akan berpusat di sebuah area yang dinamakan sebagai C-GEn Park, yaitu area terpadu yang didesain sebagai area untuk mengimplementasikan Green Holistic Concept. Area ini didesain berada di sekitar switchyard/ kantor utama UP Cirata. Sebagaimana fungsinya sebagai tempat implementasi Green Holistic Concept, C-GEn Park akan memuat hal-hal sebagai berikut: l Green Technology Power Plants. Di area C-GEn Park akan dibangun berbagai jenis pembangkit listrik berteknologi Green dengan skala sesungguhnya.
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 37

Mengubah Ancaman Menjadi Kekuatan Perusahaan

l Green Building. Bangunanbangunan yang dibangun dengan mengimplementasikan konsep-konsep Green Structure. l Integrated Smart Grid. Mengintegrasikan baik bangunan maupun pembangkitpembangkit berteknologi green di area C-GEn Park. l Green Vehicle. Bangunan berupa Solar Charging Station beserta Test Drive Track. Dua sarana ini digunakan untuk mendukung serta mengimplementasikan konsep Green Vehicle. l Research Centre. Digunakan untuk menampung aktivitas dari C-GEn Research Stream. l Auditorium & Green Exhibition Centre. Sarana untuk ruang visual maupun aktivitas dari C-GEn Campus. Bangun PLTS 1 MW Untuk memenuhi kebutuhan energi di area C-GEn Park, PJB membangun Solar Photovoltaic Farm dengan kapasitas 1 MW, yang disebut C-GEn Solar Farm. Selain memasok kebutuhan energi di C-GEn Park, C-GEn Solar Farm ini juga sebagai sarana riset dan pengayaan knowledge di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Photovoltaic. Proyek ini juga diharapkan menjadi kick-off bagi PJB untuk mulai aktif

Gambar desain master Plan C-GEn Park disusun melalui kerjasama dengan ITB.

Oleh: Dimas Kaharudin, dari UP Cirata

Fakta yang menunjukkan bahwa semakin menipisnya bahan bakar primer, perubahan iklim akibat pembakaran, perubahan paradigma pasar yang semakin meninggalkan bahan bakar fosil dan sebagainya semuanya merupakan threat (ancaman) eksternal yang telah nyata bagi keberlangsungan bisnis PJB. Sebab mayoritas pembangkit PJB masih menggunakan bahan bakar fosil. Apabila pasokan bahan bakar berhenti, dikhawatirkan akan berdampak vital bagi keberlangsungan bisnis PJB secara keseluruhan. Ditambah dengan harga yang semakin mahal, membuat daya saing PJB semakin menurun. Hal ini diperparah dengan kemungkinan permintaan pasar yang semakin cerdas. Yaitu lebih memilih untuk membeli energi yang ramah lingkungan daripada yang menghasilkan polusi.

Untuk menghadapi permasalahan dan kondisi ini, dibutuhkan taktik dan strategi yang sesuai sehingga mampu mengatasi threat tersebut. Secara teoritis, ada tiga strategi untuk mengatasi ancaman tersebut, yaitu menghindari (evade), melawan dengan kekuatan, atau meng-counter (menjadikan ancaman sebagai kekuatan). Seiring dengan menipis dan mahalnya bahan bakar fosil, perubahan iklim global, perkembangan teknologi Green Energy, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya energi ramah lingkungan telah mengalami progres peningkatan yang sangat signifikan pada sepuluh tahun terakhir ini, maka satu-satunya cara yang feasible dilakukan oleh PJB dalam menghadapi problem ini adalah cara nomer tiga, yaitu counter, mengubah problem & ancaman menjadi kekuatan balik.

36

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Green Energy Bed performa PLTS PV apabila dibangun di Indonesia dengan titik less than ideal. n Sebagai Real World Plant untuk menyusun standar Operation & Maintenance secara Best Practice untuk PLTS PV dengan mengedepankan aspek bisnis & keekonomian. n Sebagai sarana Laboratorium studi maupun Alat Peraga yang sesungguhnya bagi berbagai pihak yang berkecimpung di bidang energi terbarukan. n Menjadi Pilot Project pembangunan & pengoperasian PLTS PV thin film skala utilitas dengan mengedepankan aspek bisnis, keekonomian, bankabilitas, dan profit dengan skenario kondisi nyata di lapangan. n Sebagai Kick-off sekaligus Corporate Image (Marketing) dan tambahan portofolio eksklusif bagi PJB untuk terjun di bidang Green Energy. n Sebagai tindak lanjut arahan dari program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbahan bakar fosil n Sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan area C-GEn Park dan area kantor UP Cirata. 1 MW C-GEn Solar Farm merupakan PLTS dengan mode pembangunan field mounted, yaitu diinstal di area terbuka di atas tanah. Adapun pertimbangan dan kelebihan mengapa mode pembangunan ini dipilih adalah sebagai berikut: l UP Cirata memiliki lahan tidur dengan luas sekitar 4 hektar di area kantor UP Cirata. Lahan ini potensial untuk digunakan sebagai site PLTS PV dengan pertimbanganpertimbangan sebagaimana yang telah dibahas di atas. l PLTS dengan mode field mounted lebih sederhana dan ekonomis untuk dilakukan bila dibandingkan dengan metode lainnya seperti roof mounted maupun building integrated PV system. l PLTS dengan mode pemasangan field mounted memiliki kelebihan dalam hal suhu udara yang lebih bagus bila dibandingkan dengan mode pemasangan lainnya. Hal ini dikarenakan mode pembangunan Field Mounted memungkinkan angin/ aliran udara untuk mengalir di sekitar PLTS PV sehingga mampu menurunkan suhu dengan lebih bagus bila dibandingkan dengan mode pemasangan lainnya. l Selain itu, di area UP Cirata tidak memungkinkan untuk dilakukan mode pembangunan lain dengan kapasitas 1MW selain mode Field Mounted. Contohnya adalah: luasan lahan atap bangunan gedung utama hanya cukup untuk memuat hingga kapasitas 100KW saja. Desain 1MW C-GEn Solar Farm adalah memiliki desain umum sebagai berikut : l On-Grid. Didesain dengan pola operasi On-Grid atau Grid-Tie. Artinya 1MW C-GEn Solar Farm beroperasi dengan menginjeksi energi listrik ke Grid yang sudah ada. Dalam hal ini adalah grid 20KV maupun 380V. Pertimbangan dari desain ini adalah karena 1MW C-GEn Solar Farm dibangun di area yang sudah terdapat grid (PLN maupun Grid Internal UP Cirata) yang relatif stabil untuk bisa disinkronisasikan dengan output 1MW C-GEn Solar Farm. l Three Phase. Output dari 1MW C-GEn Solar Farm adalah tiga fasa dengan dua mode voltase. Yaitu 380V dan 20.000V. Konfigurasi ini adalah untuk mengakomodasi perbedaan load dari output 1MW C-GEn Solar Farm. Yaitu load internal C-GEn Park & pemakaian sendiri kantor UP Cirata (380V), serta output yang disalurkan ke grid distribusi (20.000V). l Inverter configuration. 1MW C-GEn Solar Farm didesain dengan menggunakan dua konfigurasi inverter. Yaitu 500KW menggunakan string inverter, berjumlah 25 buah dengan masing-masing 20KW per unit. Serta sebuah central inverter dengan kapasitas 500KW. Pemilihan dua konfigurasi ini adalah selain untuk mengakomodasi perbedaan tegangan output, juga sebagai salah satu variabel untuk riset C-GEn, yaitu riset untuk membandingkan karakteristik string inverter dengan central inverter. Output Energy dari 1MW C-GEn Solar Farm adalah digunakan untuk tiga macam. Yaitu: l Pemakaian Sendiri area kantor UP Cirata. Berdasarkan estimasi, pada saat siang hari area kantor UP Cirata mengkonsumsi energi sebesar 100 300KW. Sebagian output dari 1MW C-GEn Solar Farm akan dikoneksikan ke grid pemakaian sendiri (380V) sehingga mampu memenuhi konsumsi energi di siang hari UP Cirata. Kegunaan lainnya adalah untuk mendukung/ menambah daya untuk emergency genset melakukan black start unit PLTA Cirata untuk line charging apabila terjadi blackout sistem Jawa Bali di siang hari. l Pemakaian area C-GEn Park. Berdasarkan master plan yang telah disusun, area C-GEn Park ke depan direncanakan akan memiliki berbagai fasilitas untuk riset dan pengayaan pengalaman di bidang green technology. Fasilitas ini berupa gedung dan beberapa fasilitas lainnya. Pemenuhan konsumsi energi di area ini akan disuplai oleh 1MW C-GEn Solar Farm (380V). Perkiraan konsumsi untuk area ini adalah sekitar 100KW pada kondisi puncak load (siang hari). l Grid. Output terbesar dari 1MW C-GEn Solar Farm, yaitu sekitar 500 800KW akan disalurkan ke grid distribusi 20KV. Pihak UP Cirata telah melakukan penjajakan dengan PLN Distribusi APJ Purwakarta dan Divisi EBT tentang hal ini dan mendapatkan tanggapan yang positif. Mengenai detail tarif dan transaksi energi akan dibahas lebih lanjut dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Teknologi solar photovoltaic patut diperhitungan karena mempunyai banyak kelebihan, diantaranya dalam hal scalability, development process, location flexibility dan environment impact. Scalability artinya teknologi photovoltaic bisa dibangun dengan skala menyesuaikan kebutuhan, mulai dari skala rumahan (<5KW) hingga multi megawatt. Kelebihan ini tidak dipunyai teknologi lain, misalnya geothermal, yang membutuhkan kapasitas minimal tertentu untuk bisa efektif. Kelebihan berikutnya adalah dalam hal development process. Pembangkit photovoltaic bisa diimplementasikan mulai dari proses analisa hingga beroperasi, dalam waktu yang relatif sangat singkat (hitungan hari untuk

Green Energy skala KW, minggu untuk skala MW, dan bulan untuk skala Multi MW). Berbeda dengan teknologi lain yang membutuhkan proses development, mulai dari analisa hingga beroperasi, yang relatif panjang. Bahkan hingga bertahun-tahun. Kelebihan lain adalah dalam hal location flexibility dan environment impact. Pembangkit tenaga matahari tidak sensitif terhadap lokasi. Artinya, tidak dibutuhkan lokasi khusus sebagaimana pembangkit teknologi lain, misalnya hydro, yang membutuhkan lokasi spesifik yaitu sumber yang terdapat aliran air. Sehingga pembangkit tenaga photovoltaic bisa dibangun langsung di dekat pusat beban. Hal ini akan menghemat biaya khususnya transmisi dan distribusi. Kemudian pembangkit tenaga matahari juga bisa dibangun tanpa memberikan dampak perubahan lingkungan sebaimana yang terjadi pada beberapa teknologi pembangkit lainnya. Salah satu kekurangan dari pembangkit tenaga photovoltaic adalah untuk saat ini, harga relatif lebih mahal daripada teknologi renewable energy lainnya. Namun telah terjadi tren penurunan harga yang sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir dan masih berlangsung hingga sekarang. Menurut perkiraan, harga listrik per KWh dari energi matahari akan sama & lebih murah daripada teknologi lainnya dalam kurun waktu 2-5 tahun dari sekarang. (*)

dalam bidang energi terbarukan, khususnya energi matahari, dan sejalan dengan strategi counter threat sebagaimana yang telah disebutkan di bagian sebelumnya. Melalui proyek ini, PJB ataupun anak perusahaan mampu menggandeng partner strategis dalam bidang tersebut. Sehingga PJB mampu berkiprah di bidang PLTS Photovoltaic tanpa harus memulai dari nol. Dengan masuknya PJB atau anak perusahaan ke dalam bidang ini, maka akan membuka peluang besar baru bagi bisnis ke depan PJB. Sebagaimana diamanahkan oleh PLN holding, tujuan utama dari pembangunan proyek ini adalah sebagai ajang pengayaan knowledge dan riset di bidang PLTS Photovoltaic. Tim C-GEn menjabarkan amanah tersebut menjadi beberapa detail antara lain: n Menjadi tempat Riset Test
38 Info PJB
n

Gambar Contoh On-Field Photovoltaic Farm


Menuju Perusahaan Kelas Dunia 39

edisi 81, Mei 2013

Berita Foto

Anak Perusahaan

Sertijab PJBS & Manajemen PJB Jabatan Direktur Operasi PT PJB Services diserahterimakan dari Agus Bagio Hartadi kepada Ompang Reski Hasibuan pada Selasa (23/4) lalu di Surabaya. Selanjutnya Agus Bagio Hartadi menempati posisi sebagai Direktur Operasi PT Rekadaya Elektrika (RE). Pergantian Jabatan tersebut didasarkan pada Keputusan Pemegang Saham Secara Sirkuler PT PJBS tanggal 17 April 2013. Sedangkan Direktur Utama PJB Services, Bernadus Sudarmanta diangkat sebagai General Manager Pembangkitan Sumatera Bagian Utara. Pergantian jabatan juga terjadi pada tubuh RE. Direktur Utama RE, Didi Hasan Putra digantikan Hengky Heru Basudewo dari PLN Pusat. Sementara Didi Hasan Putra dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Komipo-PJB (KPJB). Sementara itu pada Jumat (1/5) jabatan General Manajer UPHT dan UBJOM PT PJB juga diserahterimakan di hadapan Direksi PJB. Thommi Haposan yang sebelumnya menjabat General Manajer UBJOM, dimutasi menjadi General Manajer UPHT menggantikan Ompang Reski Hasibuan yang ditunjuk sebagai Direktur Operasi PT PJBS, adapaun jabatan General Manajer UBJOM Rembang dipercayakan kepada Nurhadi.(*)

Rekadaya Elektrika Optimalkan Kandungan Lokal

T Rekadaya Elektrika (RE) berkomitmen untuk mengoptimalkan penggunaan komponen dalam negeri dalam pembangunan pembangkit listrik. Hal ini telah dibuktikan disejumlah proyek yang dikerjakan, diantaranya dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Balai Karimun di Kepulauan Riau (Kepri) dengan kapasitas 2 x 27 MW. PLTU Tanjung Balai Karimun atau juga biasa disebut PLTU Kepri, penggunaan komponen dalam negerinya mencapai 70 persen. Komponan dari luar negeri hanyalah komponen yang memang belum diproduksi di Indonesia, yaitu turbin dan generator, kata mantan Direktur Utama RE, Didi Hasan Putra. Boiler yang merupakan salah satu peralatan utama pembangkit ini telah dibuat di Indonesia. RE mempercayakan pembuatan boiler kepada PT Dinamika Energitama Nusantara di Surabaya. PLTU Tanjung Balai Karimun telah berhasil melalui proses uji akhir, yaitu keandalan beroperasi selama 30 hari non-stop pada awal 2013. Selama masa uji kehandalan tersebut aliran daya dari PLTU telah secara terus menerus masuk ke jaringan eksisting dan telah dimanfaatkan untuk beban dan masyarakat sekitarnya. Keberhasilan uji keandalan ini membuktikan bahwa peralatan dari industri dalam negeri pun mampu disejajarkan dengan peralatan asing yang telah mendominasi komponen pembangkit selama ini. PLTU ini merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pertama yang menerapkan tingkat komponen dalam negeri tertinggi. Yang tidak kalah membanggakan, PLTU Tanjung Balai Karimun mulai rancang bangun, proses pengadaan, konstruksi dan performance guarantee dilakukan para Engineer RE. Padahal kesulitan membangun pembangkit skala kecil dibandingkan dengan skala besar relatif sama, hanya uruannya saja yang berbeda. Sebelumnya, bila ada proyek dalam proses sinkronisasi mayoritas yang menangani adalah tenaga asing dari Amerika, Eropa atau Jepang. Di PLTU Kepri hanya ada satu orang asing, yaitu dari China, dan itupun bukan tenaga inti. Keberadaannya dibutuhkan sematamata hanya karena RE membeli turbin dari China. Sebagai pemasok mereka wajib mengirimkan engineer-nya saat pemasangan dan uji coba. PLTU Kepri masuk dalam program PPDE (Proyek Percepatan Diversifikasi Energi) 10.000 MW tahap I. Walau hanya kapasitas 14 MW (2 x 7 MW), sudah mendekati 100 persen total beban puncak di pulau tersebut, yaitu Pulau Tanjung Balai Karimun. (*)

GCG PJB Kategori Baik: Meski dengan waktu persiapan yang sempit sudah maksimal dari tahun-tahun sebelumnya, asesmen GCG PT PJB menghasilkan skor 84,79 dan masuk dalam kategori baik. Poin tersebut hanya kurang 0,21 poin untuk masuk dalam kategori sangat baik. Hasil tersebut diserahkan dalam exit meeting assessment penerapan GCG PJB 6 Mei lalu di Surabaya. Acara tersebut sekaligus menandai berakhirnya asesmen GCG yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Asesmen GCG PT PJB dimulai pada awal Februari dengan menggunakan 153 parameter SK-16/S. MBU/2012. Sementara itu workshop terkait penerapan parameter baru dalam asesmen GCG tersebut baru dilaksanakan akhir Januari 2013. (*)

40

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

41

CSR

CSR pertumbuhan yang sangat cepat. Karena itu, Tim Peneliti Biodiesel MikroalgaITS yang diketuai Prof. Ir. Joni Hermana, MScES, Ph.D, bekerjasama dengan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) kini sedang mengembangkan biodesel dari mikroalga. Pengembangan saat ini masih dalam skala laboratorium. Hasilnya belum maksimal karena masih ada beberapa kendala yang kami hadapi, yaitu curah hujan yang masih tinggi dan tabung tempat pengembangbiakan alga, sehingga mengganggu proses pengeringan alga sebelum diekstrak. Dari 20 tabung yang kami rencanakan, baru ada sebelas. Tabung ini harus didatangkan dari Jerman karena di Indonesia belum ada. Kami sudah memesannya, mudahmudahan segera datang, kata Agus Slamet, tim peneliti biodiesel mikroalga dari Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Selain di tabung khusus, lanjutnya, alga juga dikembangbiakkan dalam bak-bak percobaan dengan konsentrat yang bebeda untuk setiap pengembangbiakannya. Ini dilakukan untuk mengetahui media pengembangan terbaik bagi mikro alga. Beberapa diantaranya sudah pernah dipanen, lalu diekstrak dan diproses menjadi biodiesel. penelitian ini tuntas, tandas Agus Slamet. Mikroalga merupakan tanaman sederhana, banyak hidup di air, dapat berfotosintesis serta mampu mengubah bahan inorganik (CO2) menjadi organik serta mengandung minyak dan lipid. Alga sebenarnya telah lama diketahui sebagai sumber bahan baku yang potensial bagi produksi bahan bakar nabati. Mikroalga berpotensi untuk menghasilkan biomasa dan minyak dalam jumlah signifikan dan dapat dikonversi menjadi biodiesel. Ini karena mikroalga memiliki kandungan lipid dalam tubuhnya. Kandungan lipid dalam alga inilah yang kemudian diolah menjadi biodiesel, menggunakan cara ekstraksi. Ada beberapa cara ekstraksi minyak nabati yang berasal dari mikroalga, diantaranya : Pengepresan (Expeller/ Press). Mikrogangang dikeringkan, lalu dipres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung di dalamnya. Hexane Solvent Metode.

PJB-ITS Kembangkan Biodiesel dari Mikroalga

Mitigasi Perubahan Iklim dan Pengembangan Energi Alternatif


Mikroalga dapat menghasilkan biofuel, yang bisa menggantikan bahan bakar fosil. Jika ini berhasil dikembangkan, Indonesia akan menjadi produsen biofuel terbesar di dunia.
jenis BBN yang dikenal di masyarakat umum yaitu biodiesel, bioetanol dan biooil (minyak nabati murni). BBN yang masuk dalam program energi mix Blue Print Pengelolaan Energi Nasional (BP-PEN) adalah Biodiesel dan Bioetanol. Biodiesel adalah bahan bakar substitusi solar/diesel yang berasal dari pengolahan (esterifikasi dan transesterifikasi) minyak nabati. Bioetanol adalah bahan bakar substitusi bensin (gasolin) yang berasal dari pengolahan (fermentasi dan hidrolisis) glukosa atau karbohidrat. Sebagai Negara agraris di kawasan tropis, ada banyak jenis sumber bahan baku nabati yang dapat diolah menjadi BBN (biofuel) yang beberapa diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai sumber lipid atau minyak untuk keperluan komersial, seperti minyak sawit, minyak kelapa dan tebu. Sementara sebagian lainnya belum termanfaatkan secara optimal seperti mikroalga (ganggang mikro). Padahal tanaman ini, menurut Ir Agus Slamet dari Teknik Lingkungan ITS, memiliki potensi yang cukup besar dibandingkan tanaman lain. Selain itu juga memiliki potensi lain seperti menjadi pakan ternak dan sebagainya. Mikroalga merupakan salah satu organisme yang dapat dinilai ideal dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku produksi biodisel. Kandungan lipid dalam biomassa mikroalga spesies tertentu sangat tinggi dan ditunjang dengan

Prof. Ir. Joni Hermana, MScES, Ph.D.

Biodiesel mikroalga
Namun tampaknya tim belum puas dengan hasil yang dicapai, sehingga penelitian terus dilakukan dengan melibatkan 2 mahasiswa strata dua (S2) dan 4 mahasiswa strata satu (S1). Insya Allah Agustus mendatang

Ir Agus Slamet memperlihatkan algae yang dikembangbiakkan dalam tabung khusus.

ebagai upaya menjamin pasokan energi dalam negeri, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional sebagai pedoman dalam pengelolaan energi nasional. Salah satunya adalah dengan melakukan diversifikasi

energi dengan memanfaatkan sumber bahan hayati Indonesia melalui pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai sumber energi alternatif. Pengembangan BBN diharapkan dapat menurunkan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Terdapat beberapa

Ekstraksi
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 43

42

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

CSR Menggunakan larutan kimia hexana, atau metanol. Heksana atau metanol untuk memisahkan lipid (kandungan minyak) yang ada dalam mikroalga. Supercritical Fluid Extraction. Penggunaan CO2, CO2 dicairkan dibawah tekanan normal kemudian dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas. Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi minyak dari mikroalga. Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100 persen minyak yang terkandung dalam mikroalga. Hanya saja, metode ini memerlukan peralatan khusus untuk penahanan tekanan. Salah satu kelebihan dari mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar nabati adalah bahwa mikroalga dapat ditumbuhkan secara efektif dengan input air bersih yang sedikit dan tidak memerlukan banyak lahan seperti tanaman penghasil bahan bakar nabati
Tabel I : Potensi Energi Alternatif

U PZ

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Jenis Tumbuhan Jagung Kedelai Bunga matahari Minyak sawit Mikroalga 15 48 102

Produksi (Gallons minyak/acre/tahun)

UPZ PJB Kantor Pusat Bantu Operasi Balita Enam Jari


Ketika kehidupan memberi seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum. Nikmati setiap detik waktu dan akhiri kelelahan hari ini dengan keikhlasan. Indahnya hidup bukan karena banyak orang mengenal kita, namun seberapa banyak orang bahagia lantaran bantuan yang bisa kita berikan. Pengurus UPZ PJB Kantor Pusat

635 1850 (produksi lapangan) l 5000 15000 (produksi laboratorium)


l

yang lain. Kemampuan mikroalga untuk tumbuh dan menyerap CO2 serta mengakumulasi kandungan nutrisi dan logam yang tinggi pada lingkungan secara efektif, menjadikan mikroalga mampu menghambat pemanasan global. Alga mampu menyerap karbon dioksida (CO2), Nitrat (NO3), Pospat (PO4), Iron dan Silika, dan menghasilkan karbohidrat, protein, hidrokarbon (biosolar) dan oksigen, kata Agus Slamet. Secara teoritis, produksi biodiesel dari alga dapat menjadi solusi yang realistik untuk mengganti solar. Tumbuhan seperti kelapa sawit dan kacang-kacangan membutuhkan lahan yang

sangat luas untuk dapat menghasilkan minyak supaya dapat mengganti kebutuhan solar dalam suatu negara. Potensi energi alternatif (biodiesel dari mikroalga) sangat besar, jauh lebih besar dibandingkan tanaman lain (lihat tabel I). Pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku biofuel mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan tanaman pangan, diantaranya yaitu pertumbuhan yang cepat, produktivitas tinggi, dapat menggunakan air tawar maupun air laut, tidak berkompetisi dengan bahan pangan, konsumsi air dalam jumlah sedikit serta menggunakan biaya produksi yang relatif rendah. Proses panen alga ini tidak semudah mengeruk alga dari mediumnya (yang berupa cairan). Karena ukurannya yang sangat kecil, proses filtrasi (penyaringan) seringkali tidak efektif, dan jika efektif, risiko tertutupnya pori-pori filter dan menyebabkan kenaikan tekanan cukup besar. Cara yang efektif adalah memasukkan udara atau nitrogen dalam tangki alga dari bawah tangki, lalu tambahkan collectoratausurfactant untuk membuat alga mengambang, dan kemudian dipisahkan melalui saluran di bagian atas tangki.Cara lain, menggunakancoagulantseperti chitosan untuk membuat alga mengendap dan dengan demikian lebih mudah dipisahkan dari mediumnya. (*)
45

Pemeriksaan Oleh Seorang Dokter

Workshop penunjang penelitian


44 Info PJB
n

amanya M. Jundi Al Furqon usianya masih 1 (satu) tahun, Jundi begitu dia dipanggil, sepintas tidak ada yang beda seperti anak lainnya, putra dari pasangan Hadi Yulianto dan Hafidhoh yang tinggal di Banjar Sugihan Wetan II/10, Tandes-Surabaya ini ternyata salah satu jari tangannya berjumlah enam tepatnya di ibu jari sebelah kiri tumbuh tulang jari lagi. Pengurus UPZ PJB Kantor Pusat sepakat untuk membantu operasi (amputasi) terhadap tulang yang tumbuh di ibu jari balita tersebut melalui program Merangkai Senyum Indonesia (MSI) yang dilakukan bekerjasama dengan Rumah Zakat Surabaya. Namun sebelum memberikan santunan, Pengurus UPZ PJB meminta bantuan salah satu anggota keluarganya yang tinggal di daerah Tandes, Surabaya, untuk melakukan survey terhadap keluarga M. Jundi al Furqon. Ternyata benar bahwa keluarga tersebut berprofesi sebagai buruh pabrik yang layak dan berhak menerima bantuan dan santunan. Selanjutnya, UPZ PJB Kantor Pusat

melakukan koordinasi dengan Ust Yoki Hidayat dari Yayasan Rumah Zakat Surabaya untuk ikut berpartisipasi dalam proses operasi M Jundi al Furqon. Alhamdulillah, tepatnya pada tanggal 19 Maret 2012 di RS PHC Perak pukul 09.00 WIB sd 11.00 WIB, telah dilakukan Operasi amputasi terhadap ibu jari ananda M Jundi al Furqon dengan selamat dan lancar. Dalam program ini UPZ PJB Kantor Pusat berpartisipasi menyampaikan santunan berupa uang tunai sebesar Rp. 1.500.000. Ini adalah bagian dari amal keluarga besar karyawan PJB yang selama ini mengamanahkan zakatnya kepada Pengurus UPZ PJB Kantor Pusat. Semoga hati kita selalu terketuk untuk selalu ingat kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, memberikan sedikit rizki yang kita terima dengan penuh keikhlasan, sehingga hidup kita penuh makna dan memberikan manfaat bagi sesama, sebagaimana Sabda Nabi : Khoirunnas anfauhum linnas, yang artinya; sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Menuju Menuju Perusahaan Perusahaan Kelas Kelas Dunia Dunia 45

edisi 81, Mei 2013

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

CSR

CSR

Mengukur Maturity Level Pelaksanaan CSR

Anggota tim evaluasi dari Expertindo (baju coklat) sedang melakukan wawancara dengan penerima bantuan CSR PJB untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan program CSR PJB.

Guna mengetahui maturity level Corporate Sosial Responsibility (CSR), PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) bekerjasama dengan PT Expertindo melakukan penilaian terhadap pelaksanaan CSR Tahun 2012. Penilain dilakukan di 8 unit PJB dengan menggunakan pendekatan partisipatif, melibatkan multi stakeholders. Selanjutnya dilakukan rekapitulasi untuk mendapatkan peringkat terbaik di masing masing bidang.

enilaian dilakukan terhadap 19 kegiatan (program) yang terbagi dalam 4 bidang (pendidikan, kesehatan, ekonomi & sosial keagamaan, serta kamtibmas & lingkungan). Evaluasi meliputi dua jenis, yaitu: Evaluasi terhadap proses, yaitu berkaitan dengan usaha-usaha untuk mengetahui apakah program CSR teah dikelola dengan baik, berkesimbungan, dan efektif dalam suatu kurun waktu. Evaluasi terhadap efektivitas program, yaitu evaluasi output (keluaran) dan outcome (manfaat)
46 Info PJB
n

yang berkaitan dengan usahausaha untuk mengetahui apakah keluaran dan dampak yang ditimbulkan oleh program CSR, dan apakah tujuan yang ditetapkan dalam rencana telah tercapai. Kedua jenis evaluasi tersebut dirangkum dalam satu metode evaluasi yang disebut evaluasi kinerja program CSR. Dengan evalusi ini akan diukur kegiatan CSR mulai dari Perencanaan, Pelaksanaan dan Monitoring Evaluasi (Monev). Dalam setiap proses monitoring dan evaluasi kegiatan mencakup 5 atribut dasar

yaitu efektifitas, efisiensi, relevansi, dampak, dan keberlanjutan. Kelima dasar ini, diuraikan kembali menjadi dalam 8 (delapan) indikator yaitu : Kesesuaian program. Mengukur tingkat kesesuaian program dibandingkan dengan rencana. Tingkat pencapaian program. Mengukur tingkat capaian implementasi dibandingkan dengan rencana. Manfaat (outcome). Mengukur seberapa jauh program CSR memberikan manfaat, baik bagi masyarakat maupun perusahaan. Kontinuitas program. Mengukur keberlangsungan program dalam jangka panjang, yang meliputi keberlanjutan program, dan kelanjutan fungsi output. Transparansi dan publikasi. Mengukur tingkat kesediaan perusahaan untuk menyampaikan atau melaporkan

aktivitas-aktivitas program CSR dan laporan atas hasilhasil yang dicapai kepada stakeholders secara terbuka. Accesbility. Mengukur tingkat kemudahan akses bagi stakeholders untuk memperoleh informasi program CSR, mulai kebijakan, program, implementasi dan laporan atas hasil-hasil. Manajemen dan administrasi. Menilai administrasi dalam pengelolaan program CSR yang meliputi perencaan, implementasi, monitoring dan evaluasi secara berkala dan terprogram, serta terdokumentasi. Keterlibatan stakeholders. Mengukur tingkat keterlibatan stakeholders dalam pelaksanaan CSR. Stakeholders dalam hal ini antara lain; masyarakat, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha dan tokoh masyarakat sekitar. Metode evaluasi CSR menggunakan metode yang didesain berdasarkan prinsipprinsip umum dalam evaluasi dan pengukuran kinerja program, ISO 26000, dan model ICA Award 2011. Metode ini mengukur CSR berdasarkan lima aspek, yaitu: kebijakan/komitmen perusahaan, perencanaan program, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasinya, serta keberlanjutan, dan manajemen, administrasi & dokumen pelengkap. Dalam pelaksanannya, penilaian dan evaluasi program disertai coaching terhadap pelaksana CSR. Maturity level pelaksanaan Corporate Sosial Responsibility (CSR) PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) tahun 2012 secara korporat berada pada kategori CUKUP (nilai di atas 70). Dari 19 program yang dievaluasi, terdapat 4 program yang memiliki nilai diatas 75 (tingkat Maturity Level BAGUS) dan terdapat 15 program memiliki nilai

direntang antara 50 hingga 75 (tingkat Maturity Level CUKUP). Secara umum program CSR PJB mengalami peningkatan dengan mengarah pada kemandirian dan keberlanjutan (sustainability) program dengan mengurangi programprogram yang bersifat charity dan bantuan langsung. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk perbaikan program CSR. Diantaranya, belum semua unit memiliki data pemetaan, sehingga banyak program CSR yang dilaksanakan belum mendasarkan pada data pemetaan dan kebutuhan stakeholder, perlunya peningkatan kemampuan staf CSR terutama dalam kegiatan monitoring program, program belum mengarah pada program yang diharapkan dalam Guidence ISO 26000 dalam hal belum terintegrasi dalam bisnis perusahaan dan kurang dalam melibatkan stakeholder terutama dalam kegiatan monitoring evaluasi, kata Elisa Kusrini, Tim Expertindo. Dari hasil penilaian dan evaluasi di masing masing unit, dilakukan rekapitulasi untuk Tabel 3. Maturity Level Maturity Level 1 Interpretasi Sangat kurang

mendapatkan peringkat terbaik di masing masing bidang dalam pelaksanaan kegiatan CSR. Pemeringkatan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi bagi unit-unit lain dalam menjalankan program CSR di tahun-tahun mendatang. Expertindo menyarankan program didasarkan pada hasil pemetaan yang sudah dilakukan, sehingga program siap mengikuti berbagai award yang diselenggarakan, baik tingkat provinsi maupun tingkat Nasional. Selain itu program atau kegiatan hendaknya memiliki tema yang mendukung pada pembangunan berkelanjutan (alam dan manusia), serta berkontribusi pada targettarget pembangunan secara nasional. Sementara itu untuk mengarahkan program sesuai dengan Guidence ISO 26000, maka program CSR hendaknya dikaitkan dengan operasional perusahaan, peningkatan indeks pembangunan manusia (kesehatan, pendidikan, ekonomi) dan pembangunan & pelestarian alam, serta melibatkan sebanyak mungkin stakeholders. (*) Performance Level Tingkat ketercapaian program kurang dari 25% dari semua indikator penilaian Tingkat ketercapaian program sebesar 25 % sampai kurang dari 50% dari semua indikator penilaian Tingkat ketercapaian program sebesar 50% sampai kurang dari 75% dari semua indikator penilaian Tingkat ketercapaian program sebesar 75% sampai kurang dari 100% dari semua indikator penilaian Tingkat ketercapaian program sebesar 100% atau lebih dari semua indikator penilaian
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 47

Kurang

Cukup

Bagus

Sangat bagus

edisi 81, Mei 2013

Rehabilitasi

Rehabilitasi

Nox expected to remain Old EOH Concept Operational flexibility non


unchanged

now

GT 13E2 Overview

given Disampaikan bahwa kondisi saat ini populasi di dunia untuk Hot Gas Path Parts (HGPP) Gas Turbine Versi XL sudah mulai menurun seiring semakin majunya teknologi. Oleh karena itu Alstom menawarkan untuk melakukan upgrade ke versi MXL. Adapun scope pekerjaan upgrading ke versi MXL antara lain: modifikasi turbin, replacement of cooling air nozzle, improve stage 2 to 5 dengan optimasi cooling dan pemasangan vanes, blades & head-shields baru. MXL memiliki keunggulan dan antara lain: Lifetime optimized Extended inspection intervals (36000 EOH) for base load or low fuel cost applications Higher performance than

standard GT13E2 on Power and Heat rate Increase Plant Availability and Reduce Operation and Maintenance Cost Hari Kedua, 19 Maret 2013, tim melakukan kunjungan ke Workshop Recondition Alstom di Kota Birr, kota yang tenang dengan tata kota yang indah. Hasil dari kunjungan, diperoleh informasi khususnya proses repair (rekondisi) di Workshop Recondition Alstom. Adapun proses rekondisi yang dilakukan oleh Alstom meliputi langkah - langkah sebagai berikut : Assessment and Components Inspection: Metallurgical investigation, Visual assessment, Dimension check, Eddy current, Ultrasonic probe dan FPI. Strip / Clean : Grit blast, Chem stripping, Salt bath clean, Fluor Ion clean., Grind,US cleaning, Honeycomb removal.

Repair : TIG welding, MAG welding, Laser welding, Auto welding, Diffusion brazing, Solution HT, HC & insert replacement. Coating : APS, LPPS, HVOF, M-CrAlY, TBC, CrC Quality : Flow test, Final Inspection, Documents, Protocols, Customer Reports, ISO 9001, ISO 14001, Processes, Audits Hampir semua proses repair (rekondisi) dilakukan dengan menggunakan peralatan berteknologi modern serta dibantu robot untuk proses welding-nya. Dari kerjasama antara PJB dengan Alstom antara tahun 2010 - 2012 dapat diambil kesimpulan bahwa sebanyak 2028 parts telah dikirim ke Alstom untuk direkondisi, dengan 1842 parts berhasil direkondisi atau sekitar 91 persen. Adapun kondisi terakhir actual scenario antara PJB dan Alstom adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 1.(*)

Alstom Rekomendasikan Upgrade

Gas Turbine UP Muara Tawar

Gambar 1

Sebagai bagian dari Kontrak payung jangka panjang (LTSA ) antara PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) dengan PT Alstom Power ESI (Alstom), PJB pertengahan Maret 2013 melakukan inspeksi ke pabrikan suku cadang, yaitu di PT Alstom Power, Swiss. Selain ke kantor pusat Alstom yang berada di Kota Baden, Tim yanng dipimpin Direktur Keuangan PJB, Hudiono, ini berada di Swiss juga mengunjungi Workshop Recondition Alstom di Kota Birr, kota yang tenang yang dikenal dengan keindahan tata kotanya. Berikut laporan Untung Darmanto (UPHB), M.Arifin (Kantor Pusat), Arief Wicaksono (UPMTW).
ari pertama kami tiba di kota Zurich, 18 Maret 2013 tepat pukul 13.00 istirahat sejenak di hotel ST. Gotthard, tepat pukul 14.00 langsung menuju kantor PT Alstom Power di Baden dengan agenda acara Presentasi
48 Info PJB
n

Salah satu keuntungan 13E2 MXL bisa menyimpan satu dari 3 x Inspeksi tipe C dalam interval waktu 9 tahun

Alstom perihal kondisi Hot Parts Gas Turbine Blok I dan II UP Muara Tawar dan proyeksi skenario kedepan yang ditawarkan Alstom untuk UP Muara Tawar. Saat ini PLTGU Muara Tawar menggunakan GT 13E2

V.XL untuk Blok I ( GT 1.1, 1.2, 1.3) dan Blok 2 (GT 2.1), adapun secara umum kondisi V.XL adalah sebagai berikut: Parts comonality Lower scrap rate on blade 1 32 kEOH C-inspection interval Same firing temperatures as

Skenario kerjasama antara PJB dan Alstom Menuju Perusahaan Kelas Dunia 49

edisi 81, Mei 2013

K ese h at a n

K e s e h ata n

Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas


(dysmotility-like dyspesia), dengan gejala: mudah kenyang, perut cepat terasa penuh saat makan, mual, muntah dan bengkak perut bagian atas, dan rasa tak nyaman bertambah saat makan Dispepsia nonspesifik, tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas. Beberapa kebiasaan yang bisa menyebabkan dispepsia adalah menelan terlalu banyak udara. Misalnya, mereka yang mempunyai kebiasaan mengunyah secara salah (dengan mulut terbuka atau sambil berbicara). Atau mereka yang senang menelan makanan tanpa dikunyah (biasanya konsistensi makanannya cair). Keadaan itu bisa membuat lambung merasa penuh atau bersendawa terus. Kebiasaan lain yang bisa menyebabkan dispesia adalah merokok, konsumsi kafein (kopi), alkohol, atau minuman yang sudah dikarbonasi. Mereka yang sensitif atau alergi terhadap bahan makanan tertentu, bila mengonsumsi makanan jenis tersebut, bisa menyebabkan gangguan pada saluran cerna. Begitu juga dengan jenis obat-obatan tertentu, seperti Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS), Antibiotik makrolides, metronidazole, dan kortikosteroid. Obat-obatan itu sering dihubungkan dengan keadaan dispepsia. Namun yang paling sering dilupakan orang adalah faktor stres atau tekanan psikologis yang berlebihan. Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya. Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan laboratorium. Pencegahan Gaya hidup sangat berperan dalam mencegah terjadinya dispepsia bahkan memperbaiki kondisi lambung secara tidak langsung. Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia : Atur pola makan seteratur mungkin.

Hindari makanan berlemak tinggi yang


menghambat pengosongan isi lambung (coklat, keju, dan lain-lain). Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain). Hindari makanan yang terlalu pedas. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan

DISPEPSIA
J
angan anggap remeh. Meski jarang, kumpulan gejala semacam itu adalah dispepsia, yaitu kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Gejala lain yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) hingga kentutkentut. Setiap orang dari berbagai usia dapat terkena dispepsia, baik pria maupun wanita. Penyakit ini tidak memilih usia dan jenis kelamin. Semua bisa terkena. Boleh dibilang satu dari empat orang pernah mengalami dispepsia suatu saat dalam hidupnya.
n

Penyebab, Gejala dan Pengobatannya


Anda pernah merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman di perut atas (umumnya di bawah tulang rusuk di atas pusar) yang disertai kembung, sendawa berlebihan, rasa panas di dada, mual, dan muntah? Masalah seperti itu kerap kali disepelekan, dan biasanya hanya minum obat bebas seperti antasida (penawar asam lambung) yang banyak diiklankan.

Kata dispepsia berasal dari bahasa Yunani yang berarti pencernaan yang jelek. Dispepsia terbagi dua, yaitu Dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dispepsia organik disebabkan oleh adanya kelainan organik, misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain. Sedangkan dispepsia fungsional adalah dispepsia yang terjadi tanpa diketahui adanya kelainan struktur organ lambung. Sementara berdasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, dispepsia terbagi menjadi tiga tipe : Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkuslike dyspepsia), dengan gejala: nyeri di perut bagian atas. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antacid, nyeri saat lapar dan Nyeri episodic.

ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung. Kelola stres psikologi se-efisien mungkin. Jika anda perokok, berhentilah merokok. Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stres dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia.(*)
Menuju Perusahaan Kelas Dunia 51

50

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

I n fo

KARYAWAN PURNA TUGAS

NO.

NAMA Bulan Pebruari 2013

NID

UNIT KERJA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

TUWINTO SUPRAPTO SUPARDI M YANI TAUFIK MEMED DASUKI SARTONO HUDIONO SULISTIONO ABDUL SYUKUR

5780113JA 5782055JA 5777122K3 5782697K3 5780043K3 5781004F 5777077J 5782165JA

Kantor Pusat Unit Pembangkitan Gresik Unit Pembangkitan Muara Karang Unit Pembangkitan Muara Tawar Unit Pembangkitan Muara Tawar Kantor Pusat Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Timur Unit Pembangkitan Gresik

Bulan Maret 2013 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. B SUHARTONO T NOOR RACHMAN EDDI SUDIJANTO SUHARIONO DJUWARNO ROCHMAD ZAINURI MOCH. SHOLEH BOIMAN ARMEN RABAIN 5780037K3 5777151K3 5777037J 5782107JA 5782201JA 5782064JA 5783279JA 5777137K3 Unit Pembangkitan Muara Karang Unit Pembangkitan Muara Karang Kantor Pusat Unit Pembangkitan Gresik Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Timur Unit Pembangkitan Gresik Unit Pembangkitan Brantas Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Barat

Bulan April 2013 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. HADI PURWANTO RUBINSON FIRMANSYAH SUMIRAT SUPONO ARIJADI BUDI UTOMO BRAHMANTYO HARIJANTO MOCH SJAFIUN 5777124K3 5780011J 5781410K3 5791166JA 5793256JA 5780031J 5791165JA 5780104JA 5782077JA Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Barat Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Timur Unit Pembangkitan Cirata Unit Pembangkitan Brantas Unit Pembangkitan Brantas Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Timur Unit Pembangkitan Brantas Unit Pembangkitan Brantas Unit Pembangkitan Gresik

Mengundurkan Diri 1. 2. 3. KARTIKA ADITIARANI (25 April 2013) HERMAWAN (1 Maret 2013) PRASETYANTO SISWOJO (1 April 2013) 8408122JA 7907015JA 6484373K3 Unit Pembangkitan Brantas Unit Pembangkitan Muara Tawar Unit Pembangkitan Muara Tawar

52

Info PJB

edisi 81, Mei 2013

Menuju Perusahaan Kelas Dunia

53