Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia adalah Negara hukum, sebagaimana yang diterangkan dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, dengan demikian maka segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintahan harus berlandaskan dan berdasarkan atas hukum. Negara hukum ialah negara yang seluruh kegiatannya didasarkan dan diatur oleh Undang-Undang yang telah ditetapkan semula dengan bantuan dari badan pemberi suara rakyat.1 Anak merupakan amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Esa, bahkan anak dianggap sebagai harta kekayaan yang paling berharga disbandingkan kekayaan harta benda lainnya. Karenanya, anak sebagai amanah tuhan yang harus senantiasa dijaga dan dilindung hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Dengan demikian telah diatur dalan peraturan Negara Indonesia mengenai batas usia anak yang didalamnya juga diatur hak dan kewajiban seseorang sebagai pelaku kegiatan hukum yang berkaitan dengan batasan usia soerang anak. Hal penting yang harus digaris bawahi bahwa batas usia anak merupakan sebagai patokan atau ukuran seseorang sebagai subyek hukum cakap dalam melakukan kegiatan hukum khususnya dalam melakukan kegiatan hukumnya di Indonesia. Karena hal tersebut maka dalam perundang-undangan Indonesia diatur mengenai batas usia anak dalam berbagai peraturan perundang-undangan agar dalam melaksakan kegiatan hukum bisa berjalan dengan baik, teratur, tertib dan sesuai dengan tujuan hukum itu sendiri. Di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia telah diatur dengan sedemikian rupa mengenai usia anak dalam peraturan yang berbeda dengan fungsinya masing-masing. Dalam peraturan-peraturan tersebut terdapat beberapa perbedaan mengenai usia anak. Dan masalah ketidakseragaman batasan usia dewasa atau batasan usia anak pada berbagai

peraturan perundang-undangan di Indonesia memang kerap menimbulkan pertanyaan mengenai batasan yang mana yang seharusnya digunakan.

Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, 1973, Bandung, hlm. 13.

Dalam proposal skripsi ini, penulis akan mensinkronisasikan hukum secara horizontal yakni mensinkronkan hukum dengan hukum yang sederajat mengenai usia anak yang terdapat dalam UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Peradilan Anak, KHI serta Hukum Perdata. Dengan mensinkronkan hukum-hukum tersebut perbedaan batas usia anak di setiap peraturan hukum lainnya. perundang-undangan diharapkan dapat selaras hukum satu dengan

B. IDENTIFIKASI MASALAH 1. Apa pengertian sinkronisasi hkum 2. Penjelasan mengenai mengapa sinkronisasi hukum usia anak dalam perundangundangan yang dikemukakan dipandang menarik dan perlu diteliti 3. Beberapa perbedaan batasan usia anak dalam undang-undang yang tidak seragam yang kerap menimbulkan pertanyaan

C. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH Pembahasan mengenai batasan usia anak dalam peraturan hukum di indonesia yang di sinkronisasikan secara horizontal yakni dengan perundang-undangan yang tingkatnya sederajat bukan dengan hukum yang ada di atasnya, agar bias tampak keselarasan antara hukum satu dengan hukum lain. Dalam hal ini penulis akan mensinkronkan batasan usia anak yang ada dalam UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Peradilan Anak, KHI dan Hukum Perdata. Dalam proposal skripsi ini penulis merumuskan dalam beberapa poin, yakni : 1. Apa pengertian sinkronisasi hukum 2. Bagaimana batasan usia anak dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia 3. Menganalisa sinkronisasikan undang-undang mengenai batasan usia anak

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Untuk mengetahui peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang usia anak yang diatur oleh perundang-undangan di Indonesia.
2

2. Mensinkronisasikan secara horizontal atau dengan perundang-undangan yang sederajat yakni peraturan perundang-undangan mengenai usia anak yang ada di dalam UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Peradilan Anak, KHI dan Hukum Perdata. 3. Manfaat secara teoritis, penulis berharap kiranya penulisan skripsi ini bermanfaat untuk dapat memberikan masukan sekaligus menambah khasanah ilmu pengetahuan dan literatur dalam dunia akademis, khususnya salah usia anak dalam hukum di Indonesia.

PEMBAHASAN E. KERANGKA TEORI DAN KONSEPTUAL Pengertian Sinkronisasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sinkron berarti pada waktu yang sama, serentak, sejalan, sejajar, sesuai, selaras. Sinkronisasi yaitu perihal menyinkronkan, penyerentakan. Dan sama juga dengan kata harmonisasi yaitu upaya mencari keselarasan. Sedangkan sinkronisasi perundang-undangan adalah penyelarasan dan

penyelerasian berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan perundang-undangan yang telah ada dan yang sedang disusun yang mengatur suatu bidang tertentu. Maksud dan Tujuan Sinkronisasi Maksud dari kegiatan sinkronisasi adalah agar substansi yang diatur dalam produk perundang-undangan tidak tumpang tindih, saling melengkapi (suplementer), saling terkait, dan semakin rendah jenis pengaturannya maka semakin detail dan operasional materi muatannya. Adapun tujuan dari kegiatan sinkronisasi adalah untuk mewujudkan landasan pengaturan suatu bidang tertentu yang dapat memberikan kepastian hukum yang memadai bagi penyelenggaraan bidang tersebut secara efisien dan efektif. Ruang Lingkup Sinkronisasi
3

Sinkronisasi peraturan perundang-undangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Sinkronisasi Vertikal Dilakukan dengan melihat apakah suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu bidang tertentu tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Pasal 7 ayat (1) menetapkan bahwa jenis dan hirarkhi peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. Di samping harus memperhatikan hirarkhi peraturan perundang-undangan tersebut di atas, dalam sinkronisasi vertikal, harus juga diperhatikan kronologis tahun dan nomor penetapan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. 2. Sinkronisasi Horisontal. Jenis penelitian ini sebagaimana dikutip dari Prof. Soerjono Soekanto2 bertujuan untuk menggungkap kenyataan sampai sejauh mana perundang-undangan tertentu serasi secara horizontal, yaitu mempunyai keserasian antara perundangundangan yang sederajat mengenai bidang yang sama. Dilakukan dengan melihat pada berbagai peraturan perundang-undangan yang sederajat dan mengatur bidang yang sama atau terkait. Sinkronisasi horisontal juga harus dilakukan secara kronologis, yaitu sesuai dengan urutan waktu ditetapkannya peraturan perundangan-undangan yang bersangkutan. Didalam penelitian mengenai taraf sinkronisasi secara horizontal ini, mulamula harus terlebih dahulu dipilih bidang yang akan diteliti3. Setelah bidang tersebut ditentukan, lalu
2

dicarilah peraturan perundang-undangan yang sederajat yang

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Rajawali Press, 2003), cet 7, hal 74 3 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI-PRESS,1986), cet 3, hal 257

mengatur segala aspek tentang bidang tersebut. Sesuai dengan judul proposal skripsi ini maka bidang yang dipilih untuk diteliti adalah mengenai batas usia anak dalam perundang-undangan. Dan peraturan yang mengatur batas usia anak terdapat dalam UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Peradilan Anak, KHI serta Hukum Perdata. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu kerangka untuk menyusun

klasifikasi peraturan perundang-undangan yang telah diseleksi, untuk kemudian dianalisa.. Dari hasil analisa akan dapat terungkap, sampai sejauh mana taraf sinkronisasi secara horizontal dari pelbagai macam peraturan perundang-undamgan yang mengatur bidang pemerintahan daerah ini. Selain mendapatkan data tentang peraturan perundangan-undangan untuk bidang-bidang tertentu secara menyeluruh dan lengkap, maka penelitian dengan pendekatan ini juga dapat menemukan kelemahan-kelemahan yang ada pada peraturan perundangan-undangan yang mengatur bidang-bidang tertentu. Dengan demikian peneliti dapat membuat rekomendasi untuk melengkapi kekurangankekurangan, menghapus kelebihan-kelebihan yang saling tumpang tindih,

memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang ada, dan seterusnya. Hasil-hasil penelitian ini tidak hanya berguna bagi penegak hukum, akan tetapi juga bagi ilmuwan dan pendidikkan hukum.4 Peraturan perundanga-undangan yang mengatur tentang batasan usia anak dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yang akan di sinkronisasikan dalam skripsi, yakni : Usia anak dalam UU Perlindungan Anak yakni dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 yang dibahas dalam pasal 1 ayat (1) yang berbunyi anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan Lalu dalam UU Perkawinan dalam UU Nomor 1 Tahun 1974, dalam pasal 6 mengenai syarat-syarat perkawinan berbunyi untuk malangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

ibid

Dan dalam pasal 7 perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun Dan pada pasal 47 ayat (1)anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaan mereka Pasal 48 orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggandakan barangbarang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya Pasal 50 mengenai perwakilan anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasaan wali. Adapun dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) dalam pasal 15 ayat (1) untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan dalam pasal 7 Undangundang No. 1 Tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun. Dan pada ayat (2) bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan (5) UU No. 1 Tahun 1974. Pasal 98 ayat (1) batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan. Pasal 105 ayat a pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Ayat bpemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah dan ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya. Pada pasal 107 tentang perwalian perwalian hanya terhadap anak yang belum mencapai 21 tahun dan atau belum pernah melakukan pernikahan. UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Pasal 1 Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.
6

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Pasal 4 Ayat (1) Batas umur 8 (delapan) tahun bagi Anak Nakal untuk dapat diajukan ke Sidang Anak didasarkan pada pertimbangan sosiologis, psikologis, dan pedagogis, bahwa anak yang belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dianggap belum dapat

mempertanggungjawabkan perbuatannya. Artinya batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.

Pasal 5 Ayat (1) Dalam proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Penyidik terhadap anak yang melakukan tindak pidana sebelum mencapai umur 8 (delapan) tahun tetap diterapkan asas praduga tak bersalah. Penyidikan terhadap anak dilakukan untuk apakah anak melakukan tindak pidana seorang diri atau ada unsur pengikutsertaan (deelneming) dengan anak yang berumur di atas 8 (delapan) tahun atau dengan orang dewasa. Berarti dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, maka terhadap anak tersebut dapat dilakukan pemeriksaan oleh Penyidik.

Pasal 61 Ayat (2) Penempatan Anak Pidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan dengan menyediakan blok tertentu bagi mereka yang telah mencapai umur 18 (delapan belas) tahun sampai 21 (dua puluh satu) tahun. Dalam ayat 2 dijelaskan Anak Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang telah mencapai umur 18 (delapan belas) tahun, tetapi belum mencapai umur 21 (dua puluh
7

satu) tahun ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan secara terpisah dari yang telah mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Pasal 330 Yang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin sebelumnya. (s.d.u.,dg. S. 1901-194 jo. S. 1905-552.). yang belum dewasa adalah adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin sebelunya. (Lihat ketentuan lama dalam S. 1819-60, 1839-22; pada 1 Desember 1905 batas usia belum dewasa diubah dari 23 tahun menjadi 21tahun.) Menurut saya dalam hipotesis atau perkiraan awal saya, perbedaan-perbedaan batas usia dewasa ini bukanlah merupakan hal yang salah, asalkan dalam implementasinya pada kepentingan-kepentingan yang dialami warga negara Indonesia mengacu pada asas Lex specialist derogat legi generalis (hukum yang khusus menyampingkan hukum yang umum) dan dapat terwujud secara tepat sasaran.

F. METODE PENELITIAN Sudah merupakan ketentuan dalam hal penyusunan suatu penulisan karya ilmiah atau skripsi diperlukan metode penelitian dalam pengerjaannya. Metode diartikan sebagai suatu jalan atau cara untuk mencapai suatu tujuan. Dalam penulisan proposal skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif yaitu dengan melakukan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian yang dilakukan dengan meneliti bahan-bahan kepustakaan hukum yang berkaitan dengan usia anak dalam perundang-undangn di Indonesia. Dalam tulisan ini, penelitian terhadap perundang-undangan dilakukan dengan menganalisis peraturan-peraturan mengenai usia anak yang ada dalam perundangundangan Indonesia yang terdapat dalam UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Peradilan Anak, KHI dan Hukum Perdata. Dalam setiap kegiatan ilmiah agar lebih terarah dan rasional diperlukan suatu metode yang sesuai dengan obyek yang dibicarakan, karena metode itu sendiri berfungsi sebagai cara mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Disamping
8

itu, metode merupakan cara bertindak dalam upaya agar penelitian dapat terlaksana secara rasional dan terarah supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Jenis Penelitian Jenis metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif5 dengan menggunakan adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan tentang sebab ata hal yang mempengaruhi serta metode perbandingan hukum dalam hal ini penulis mengkonfirmasikan antara hukum islam dan hukum positif yang berlaku, bagaimana kedua-duanya menyikapi masalah yang sedang diteliti. 2. Sumber data Berbagai dokumen yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian yang didapat dari bahan-bahan pustaka berupa buku, artikel ilmiah, berita-berita media masa, dan lainnya. 3. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian kepustakaan, yaitu meneliti atau pengkajian kepustakaan yang ada relefansinya dengan pembahasan skripsi ini sebagai referensi dan panduan yang penulis susun menjadi satu skripsi dengan merujuk pada hukum islam dan hukum positif. 4. Analisis Data Analisis data, diterapkan teknis analisis secara kualitatif. Jadi dalam penelitian ini hanya ditargetkan untuk memperoleh deskripsi objek secara general, tanpa harus merinci ke dalam detail atau unsur-unsurnya. 5. Teknik penulisan Adapun teknik penulisan proposal ini, penulisan mengacu pada buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tahun 2007

Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum,(Jakarta, Sinar Grafika,2010).hlm.105

G. RANCANGAN WAKTU PENELITIAN Dalam penelitian ini peneliti mencoba merencanakan langkah-langkah yang diharapkan dapat menunjang kelancaran penelitian dengan diperkirakan penelitian selesai dalam waktu 1 (satu) semester atau 6 bulan masa, langkah-langkah tersebut sebagai berikut: a. Tahap Persiapan 1. Dimulai dengan perumusan masalah dan pembatasan masalah 2. Menentukan variabel-variabel yang akan diteliti 3. Melakukan studi kepustakaan untuk mendapat gambaran dan landasan teoritis yang tepat. 4. Menentukan lokasi penelitian b. Tahap Pengambilan Data 1. Menentukan sampel penelitian 2. Melaksanakan pengambilan data dengan observasi yakni penulis mengambil data dengan terjun langsung ke lapangan. 3. Melakukan wawancara, penggunaan bahan dokumen serta pustaka (library research). c. Tahap Pengolahan Data 1. Menganalisa dan menyimpulkan hasil dari pengambilan data dengan observasi dilapangan, agar penulis mengetahui fakta-fakta dilapangan. 2. Menganalisa dan menyimpulkan hasil dari pengambilan data hasil wawancara. Agar mendapat gambaran yang memuaskan dari sebuah hasil wawancara, karena penelitian ini merupakan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang pokok. d. Tahap pembahasan 1. Menginterpretasikan dan membahas hasil observasi, wawancara, penggunaan bahan dokumen serta pustaka (library research) yang dilakukan oleh penulis. 2. Merumuskan kesimpulan hasil penelitian yang diperoleh dan dibahas berdasarkan data dan teori yang ada

10

PENUTUP

Akhir dari penelitian ini adalah membuat kesimpulan dari apa yang didapat pada hasil penelitian serta membuat saran bagaimana layaknya penelitian ini untuk dijadikan rujukan penelitian lanjutan.

11

DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2003Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Rajawali Press Soerjono Soekanto, 1986 Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-PRESS Zainudin Ali, 2010Metode Penelitian Hukum, Jakarta:Sinar Grafika UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 UU Peradilan Anak Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Abdurrahman, 2007, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia,cet-5, Jakarta: Akademi Pressindo Suherman, Ade Maman, Satrio,J. 2010, Penjelasan Hukum Tentang Batasan Umur (Kecakapan dan Kewenangan Bertindak Berdasar Batasan Umur), Jakarta: NLRP

12