Anda di halaman 1dari 3

Seberapa Penting Berakhlak Itu ?

Nurul Hidayati / 13417144002

Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari proses menerapkan akidah dan syariah. Ibarat bangunan, akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan tersebut setelah fondasi dan bangunannya kuat. Jadi, tidak mungkin akhlak ini akan terwujud pada diri seseorang jika dia tidak memiliki akidah dan syariah yang baik. Akhirakhir ini istilah akhlak lebih didominasi istilah karakter yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, yakni sikap dan perilaku seseorang. Nabi Muhammad SAW dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk meyempurnakan akhlak mulia di tengahtengah masyarakat. Misi Nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi yang agung yang ternyata untuk merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari 22 tahun. Nabi melakukannya mulai dengan pembenahan akidah masyarakat Arab, kurang lebih 13 tahun, lalu Nabi mengajak untuk menerapkan syariah setelah akidahnya mantab. Dengan kedua sarana inilah (akidah dan syariah), Nabi dapat merealisasikan akhlak yang mulia di kalangan umat islam pada waktu itu. Di dalam Alquran ditemukan banyak sekali pokokpokok keutamaan akhlak yang dapat digunakan untuk membedakan perilaku seorang Muslim, seperti perintah berbuat kebajikan, menepati janji, sabar, jujur, takut kepada Allah, bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, dan pemaaf (Azyumardi Azra, 2002 : 205). Keharusan menjunjung tinggi akhlak karimah dipertegas lagi oleh Nabi Muhammad SAW dengan pernyataan yang menghubungkan akhlak dengan kualitas kemauan, bobot amal, dan jaminan masuk surga. Sabda Nabi saw. Sebaikbaik kamu adalah yang paling baik akhlaknya .(HR. al-Tirmidzi ) Dalam Hadis yang lain Nabi saw. menegaskan : Sesungguhnya orang yang paling cinta kepadaku di antara kamu sekalian dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah terbaik akhlaknya diantara kamu sekalian.( HR. al-Tirmidzi). Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa akhlak Islam bukan hanya hasil pemikiran dan tidak berarti lepas dari realitas hidup, melainkan merupakan persoalan yang terkait dengan akal, roh, hati, jiwa, realitas, dan tujuan yang digariskan oleh akhlak Quraniah. Dengan demikian, akhlak mulia merupakan sistem perilaku yang diwajibkan dalam agama Islam melalui nas Alquran dan Hadis. Namun demikian kewajiban yang dibebankan pada manusia bukanlah kewajiban yang tanpa makna dan keluar dari dasar fungsi penciptaan manusia. Alquran telah menjelaskan masalah kehidupan dengan penjelasan yang realistis, luas, dan juga telah menetapkan pandangan

yang luas pada kebaikan manusia dan zatnya. Makna penjelasan itu adalah agar manusia terpelihara kemanusiaannya dengan senantiasa dididik akhlaknya, diperlakukan dengan pembinaan yang baik bagi hidupnya, dikembangkan perasaan kemanusiaan dan sumber kehalusan budinya (Marzuki, 2012: 177). Dalam kenyataan hidup memang kita temui ada orang yang berakhlak karimah dan juga sebaliknya. Ini sesuai dengan fitrah dan hakikat sifat manusia yang bisa baik dan bisa buruk. Inilah yang ditegakkan Alquran dalam firman-Nya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS.al-Syams [91]:8). Manusia telah diberi potensi untuk bertauhid, maka tabiat asalnya berarti baik, hanya saja manusia dapat jatuh pada keburukan karena memang diberi kebebasan memilih. Dan katakanlah : Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir (QS. alKahfi [18] :29 ) Baik atau buruk bukan sesuatu yang mutlak diciptakan, melainkan manusia dapat memilih beberapa kemungkinan baik atau buruk. Namun walaupun manusia sudah terjatuh dalam keburukan bisa bangkit pada kebaikan kembali dan bisa bertaubat, dengan menghitung apa yang telah dipetik dari perbuatannya (Marzuki, 2012: 178). Akhlak merupakan manifestasi iman yang mampu menjadi cerminan kepribadian Islam yang patuh dan taat. Akhlak juga mampu menyelaraskan hubungan antara Allah, manusia, dan alam ekologis (Khairunnas Rajab, 2011: 25). Akhlak diperlukan oleh semua umat Islam dalam rangka hidup bermasyarakat dengan landasan syariat agama dengan contoh teladan Nabi Muhammad Saw, dia bukan diperlukan oleh para ulama dan orang terkemuka saja tapi siapapun, jabatan apapun disandangnya, baik sebagai pemegang dan pengendali roda pemerintahan. Bila mereka berakhlak mulia tentu rakyat tentram, tidak akan terjadi penyelewengan kekuasaan yang merugikan bangsa. Akhlak merupakan perhiasan diri bagi seseorang karena orang yang berakhlak jika dibandingkan dengan orang yang tidak berakhlak tentu sangat jauh perbedaannya.Akhlak tidak dapat dibeli atau dinilai dengan suatu mata uang apapun, akhlak merupakan wujud di dalam diri seseorang yang merupakan hasil didikan dari kedua orang tua serta pengaruh dari masyarakat sekeliling mereka. Jika sejak kecil kita kenalkan, didik serta diarahkan pada akhlak yang mulia, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari hingga seterusnya. Akhlak tidak sulit untuk diperbincangkan, tetapi sangatlah sulit untuk diterapkan. Ini hendaknya menjadi pemicu terbentuknya manusia yang berakhlak mulia atau yang sekarang disebut manusia yang berkarakter. Untuk bisa berakhlak mulia, seseorang tidak harus mulai dari memahami apa itu akhlak dan apa saja nilai-nilai mulia dalam akhlak, tetapi yang terpenting adalah ia dapat merealisasikan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, pemahaman yang benar tentang akhlak juga menjadi dasar awal bagi seseorang sehingga memiliki motivasi yang kuat untuk bisa berakhlak atau berkarakter mulia.

Untuk bisa terealisasikannya nilai-nilai akhlak dalam kehidupan nyata dibutuhkan banyak hal, mulai dari pemahaman yang benar tentang akhlak beserta nilai-nilai di dalamnya, fasilitas yang cukup, aturan-aturan yang tegas, dan keteladanan. Semua komponen pendukung ini perlu diperhatikan dan diupayakan demi terealisasikannya nilai-nilai akhlak di tengah masyarakat. Dibutuhkan fasilitas yang cukup dalam arti sarana untuk ibadah, aturan-aturan yang tegas supaya tidak ada yang melanggar hal-hal yang dilarang, dan berbicara tentang masalah keteladanan, Rasulullah memang sangat pantas menjadi sosok idola yang bisa diteladani oleh setiap manusia dimanapun berada, apa pun profesinya. Tidak seperti kebanyakan pemimpin zaman sekarang, walaupun telah menjadi pemimpin yang tiba-tiba menguasai hampir seluruh dunia. Rasulullah tidak silau dengan harta juga wanita. Rasulullah memiliki sikap zuhud, qanaah, dan dermawan. Bayangkan saja, Rasulullah ketika wafat tidak meninggalkan apapun kecuali hanya senjata, bagal dan sebidang tanah yang setelah itu disedekahkan. Aisyah juga mengatakan bahwa di saat wafatnya, Rasulullah hanya meninggalkan sedikit gandum di rak untuk dimakan. Rasulullah tidak pernah berlebih-lebihan dalam hidup. Bahkan ketika Umar mengganti alas tidur Rasulullah dengan yang lebih empuk saja, Nabi tidak mau. Allah swt berfirman : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab[33]:21).

DAFTAR PUSTAKA Azra Azyumardi dkk, Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum, Jakarta, 2002 Rajab Khairunnas, Psikologi Ibadah, Jakarta : Amzah, 2011 Marzuki, Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum, Yogyakarta : Ombak, 2012