Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH SISTEMATIKA HEWAN

PISCES, AMPHIBIA, REPTILIA, AVES, DAN MAMALIA

DOSEN PEMBIMBING ANNI NURLIANI, S.Si., M.Sc.

DISUSUN OLEH DALE AKBAR YOGASWARA J1C111015

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUANALAM PROGRAM STUDI S-1 BIOLOGI BANJARBARU 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktunya. Pada kesempatan yang baik ini penyusun juga tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan dan penjelasan yang telah diberikan sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah ini. Penyusun menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan semua ini tidak lain karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan yang penyusun miliki. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan Makalah ini dimasa mendatang. Akhirnya penyusun berharap semoga Makalah ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai ilmu Biologi dan penerapannya.

Banjarbaru, Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II PENDAHULUAN PEMBAHASAN PISCES AMPHIBIA REPTILIA AVES MAMALIA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuh dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas: kepala, badan, dan ekor. Kepala dengan rangka dalam (cranium), di dalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium. Vertebrata merupakan istilah yang berasal dari bagian notokorda yang diganti dengan ruas-ruas kartilago atau tulang yang disebut vertebra. Vertebrata ini biasa disebut dengan tulang punggung. Vertebrata merupakan kelompok hewan yang memiliki rahang dua pasang (kecuali Agnatha), memiliki sepasang mata dan sepasang telinga. Penutup tubuh anggota vertebrata bermacam-macam, dari penutup tubuh berupa kulit bersisik dan berlendir, bersisik keras dan kering, berbulu, sampai dengan kulit tertutup rambut. Tempat hidupnya mulai dari perairan sampai ke daratan. Kelamin terpisah, tetapi ada yang hermafrodit. Fertilisasi internal atau eksternal, ovipar, ovovivipar, dan vivipar. Vertebrata memiliki sistem saraf pusat yang berkembang baik, yaitu otak dan sumsum belakang. Semua vertebrata memiliki tulang atau rangka dalam tubuh (internal skeleton), dan memiliki dua pasang anggota tubuh. Vertebrata terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas Cyclostomata, kelas Pisces, Kelas Amphibia, kelas Reptilia, kelas Aves, dan kelas Mamalia. Pisces adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Amphibia merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Reptil merupakan Vertebrata pertama yang sepenuhnya tererstrial dan tak perlu kembali ke air untuk berkembang biak. Aves adalah hewan vertebrata dengan tubuh yang di tutupi oleh bulu, mayoritas dapat terbang karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi anggota gerak anterior (Cambell, 2003). Makalah ini akan menjelaskan masing-masing contoh spesies dari kelas Pisces, amphibia, reptilia, aves, dan mammalia.

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pisces Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup diair. Suhu tubuhnya berubah-ubah tergantung dengan suhu lingkungannya (poikiloterm). Bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paru-paru. Ikan apabila ditinjau dari morfologinya dapat dibagi menjadi tujuh bagian yaitu bentuk tubuh, bentuk mulut, linnea lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciri-ciri lainnya. Sedangkan bagian tubuh lainnya, ikan dapat dibagi tiga bagian yaitu kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (caudal) (Aninomous, 2010). Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Anonimous, 2011). Vertebrata yang pertama kalinya ditemukan sebagai fosil adalah ikan tak berahang, yakni Ostrakodermi Beberapa terdapat di dalam batu-batuan

Ordovisium meskipun pada zaman silur mereka terdapat dalam jumlah yang lebih banyak. Hewanini adalah ikan pipih yang relative berukuran kecil dengan ukuran sekitar 15 sampai 30 cm. dengan ukurannya tersebut, diperkirakan hidup dengan mengisap zat-zatorganik dari dasar sungai tempat mereka hidup. Pertukaran gas terjadi pada pasangan-pasangan insang antenna, dengan tiap insang ditunjang oleh satu lengkungtulang. Air masuk melalui mulut, melalui insang dan keluar melalui serangkaiankantung insang yang bermuara di permukaan. Tidak terdapat sirip pada ikan tersebut,dan berenang dengan gerakan undulasi. Selama akhir masa Silur dan awal masa Devon, vertebrata dengan rahang,anggota super kelas Gnathostomata

(mulut berahang) menggantikan sebagian besar hewan Agnatha Kelas ikan yang masih hidup ( Chondrichtyes danOsteichtyes) pertama kali munculpada masa ini, bersama-sama dengan suatu kelompok yang diberinama Plakoderma (Placoderm) atau berkulit lempeng yang tidak memiliki keturunanyang hidup.Vertebrata berahang juga memiliki dua pasang anggota badan yang berpasangan, sementara hewan agnatha tidak memiliki anggota badan atau hanyamemiliki sepasang (Dharma, 2009). Ikan mempunyai sirip yang penting untuk pergerakannya dan sisik yang berfungsi sebagai penutup tubuhnya. Berdasarkan bentuknya sirip ekor dibedakan atas tipe rounded, truncate, emerginate, lunate dan forked. Berdasarkan bentuk sisik dibedakan atas sisik placoid, ganoid, ctenoid dan cycloid. Tipe mulut berdasarkan letaknya yaitu tipe inferior, superior, terminal dan sub terminal. Bentuk umum tubuh ikan juga bervariasi seperti fusiform, compresiform, depressiform, anguiliform, sagititiform dan globiform (Riki, 2010). Berdasarkan habitat hidupnya, ikan dibedakan dua macam yaitu ikan air tawar dan ikan air asin (laut). Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan salinitas kurang dari 0,05%. Dalam banyak hal lingkungan ini berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh. 41% dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat yang menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali (Riki, 2010). Identifikasi adalah pekerjaan mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beraneka ragam dan memasukannya dalam suatu takson.Identifikasi penting artinya ditinjau dari segi ilmiah, sebab seluruh pekerjaan berikutnya sangat tergantung dari hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti.Dalam melakukan identifikasi ikan, buku kunci identifikasi ikan mutlak diperlukan.Agar mudah dalammenggunakan buku kunci identifikasi, terlebih dahulu harus memahami istilah-istilah yang biasa digunakan dalam identifikasi. Identifikasi

ikan didasarkan atas morfometrik dan meristik yang dilakukan sesuai dengan petunjuk identifikasi (Rohana, 2003). Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 02 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan 02. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah: ikan gabus dan ikan lele (Juwana, 2001). Untuk menyimpan cadangan 02, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang terletak di dekat punggung. Stickney menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu. Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator (Hayati, 2011). Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 02 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan 02. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah: ikan gabus dan ikan lele. Untuk menyimpan cadangan 02, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang terletak di dekat punggung (Hayati, 2011). Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan ekspirasi. Pada fase inspirasi, 02 dari air masuk ke dalam insang kemudian 02 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, C02 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluartubuh. Ikan memiliki bermacam ukuran,

mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci) (Hala, 2007). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai ikan, seperti ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan. Ikan dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam akuarium. Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton (Lahay, 2006). Overfishing adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan penangkapan ikan secara berlebihan. Fenomena ini merupakan ancaman bagi berbagai spesies ikan. Pada tanggal 15 Mei 2003, jurnal Nature melaporkan bahwa semua spesies ikan laut yang berukuran besar telah ditangkap berlebihan secara sistematis hingga jumlahnya kurang dari 10% jumlah yang ada pada tahun 1950. Penulis artikel pada jurnal tersebut menyarankan pengurangan penangkapan ikan secara drastis dan reservasi habitat laut di seluruh dunia (Eltra, 2012). Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan

dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah (Eltra, 2012). A. Epinephelus fuscoguttatus 1. Klasifikasi Ikan Kerapu Macan Menurut Myers, et.al, (2005), menjelaskan bahwa kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) diklasifikasikan sebagai berikut :

Gambar 1. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Kingdom Phylum

: Animalia : Chordata

Sub phylum : Vertebrata Class Sub class Ordo Family Genus Spesies : Osteichtyes, : Actinopterigi : Percomorphi : Serranidae : Epinephelus : E. fuscoguttatus

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) atau sering juga disebut Groouper dipasarkan dalam keadaan hidup. Golongan ikan kerapu yang paling banyak adalah golongan Epinepelus sp, namun yang paling banyak di kenal di budidayakan adalah jenis kerapu Lumpur (Epinephelus suillus) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Golongan Epinephelus memiliki tubuh yang lebih tinggi dari kerapu Lumpur (Epinephelus suillus), dengan bintik-bintik yang rapat dan

berwarna gelap, sirip ikan kerapu macan berwarna kemerahan, sedangkan bagian sirip yang lain berwarna coklat kemerahan Sunyoto Dan Mustahal (2000). 2. Morfologi Ikan Kerapu Macan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bentuk badan yang pipih memanjang dan agak membulat (Direktorat Jendral Sudirman Perikanan Deperteman Pertanian, 1979). Mulut lebar dan di dalamnya terdapat gigi kecil yang runcing (Kordi, 2001). Direktorat Jendral Perikanan Depertemen Pertanian (1979), menjelaskan bahwa rahan bawah dan atas dilengkapi dengan gigi yang berderet 2 baris lancip dan kuat. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai jari-jari sirip yang keras pada sirip punggung 11 buah, sirip dubur 3 buah, sirip dada 1 buah dan sirip perut 1 buah. Jari-jari sirip yang lemah pada sirip puggung terdapat 15-16 buah, sirip dubur 8 buah, sirip dada 17 buah dan sirip perut 5 buah. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) memiliki warna seperti sawo matang dengan tubuh bagian verikal agak putih. Pada permukaan tubuh terdapat 4-6 pita vertical berwarna gelap serta terdapat noda berwarna merah seperti warna sawo (Kordi 2001). 3. Habitat dan Penyebaran Menurut Heamstra dan ramdall (1993, cit. Anonim 2001), ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan kelompok yang hidup di dasar perairan berbatu dengan kedalaman 60 meter dan daerah dangkal yang mengandung koral. Selama siklus hidupnya memiliki habitat yang berbeda-beda pada setiap fasenya, ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mampu hidup di daerah dengan kedalaman 0.5-3 meter pada area padang lamun, selanjutnya menginjak dewasa akan berpinda ke tempat yang lebih dalam lagi, dan perpindahan ikan berlansung pada pagi hari atau menjalan senja (Anonim, 2001). Menurut Tampu Bolon dan Mulyadi (1989) cit. Anonim (2001) menjelaskanbahwa telur dan larva ikan kerapu macan bersifat pelagis sedangkan ikan kerapu muda hingga dewasa bersifat domersal. ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat nokturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi pada liang-liang karang dan akan beraktifitas pada malam hari unuk mencari makanan.

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) tersebar merata dari laut pasifik hingga ke laut merah tetapi lebih dikenal berasal dari teluk persi, Hawai, atau Pholynesia. Ikan kerapu macan terdapat hampir semua perairan pulau tropis Hindia dan samudra pasifik barat dari pantai timur Afrika sampai dengan Mozambika, selain itu juga ditemukan di Madagakar Dll 4. Cara Makan dan Jenis Makanan Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan hewan karnifora yang memansa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larva merupakan memansa larva moluska. ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam kolam air (Nybakken, 1988 Cit. Anonim, 2001), ikan kerapu macan juga bersifat kanibal. Biasanya mulai terjadi saat larfa kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di suatu tempat dengan kepadatan tinggi. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mencari makan hingga menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya (Anonim, 1991 cit.

Anonim,2001). dengan cara makannya dengan memakang satu per satu makanan yang diberikan sebelum makan tersebut sampai ke dasar (Anonim, 1996). 5. Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat Hermaprodit Protogini, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan (Sunyoto dan Mustahal 2000). ikan kerapu mulai suklus reproduksinya sebagai ikan betina, kemudian akan berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi masa interseks dan masa terakhir masa jantan (Afenddy, 1997). Ketika ikan kerapu masih muda (juvenile), gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis. Jaringan ovari kemudian mengisih sebagian gonad dan setelah jaringan ovari berfungsi mampu menhasilkan telur, Kemudian akan terjadi transisi di mana testisnya akan membesar dan ovarinya mengurut. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang sudah tua umumnya ovarium sudah teroduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad terisi oleh jaringan lain. Fase produksi pada induk betina di capai pada panjang tubuh antara 45-50 cm dengan berat 3-10 kg dan umur kurang

lebih 5 tahun, selanjutnya menjadi jantan yang matang gonad pada ukuran minimal 74 cm dengan berat kurang lebih 11 kg. 2.2 Amphibia Amfibi merupakan salah satu komponen penting dalam habitat perairan dan terestrial. Seperti yang kitaketahui banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari amfibi ini. Amfibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amfibi berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup. Karena itu amfibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amfibi mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan ( Bardack, 2001). Pada fase berudu amfibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amfibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat (Duellman, 1996). Amfibia mempunyai ciri-ciri: 1. tubuh diselubungi kulit yang berlendir 2. merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm) 3. mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik 4. mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang 5. matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membrana niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam 6. pernapasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernapasannya berupa paru-paru dan kulit dan hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk ke dalam rongga mulut ketika menyelam

7. berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di luar tubuh induknya (pembuahan eksternal) (Fudge, 2001). A. Phyllobates terribilis 1. Deskripsi Phyllobates terribilis adalah katak kecil dengan ukuran betina dewasa

memiliki panjang maksimum 47 mm, dan jantan dewasa mencapai 45 mm.. Tympanum berada pada posterior dorsal. Tangan memiliki tubercule yang besar dan membulat pada telapak tangan. Sebuah metacarpal tubercule bagian dalam berada pada jari pertama dengan subarticular tubercle pada masing-masing jari 1 dan dua subarticular tubercle pada jari 3 dan 4. Pada kaki, panjang relatif dari jari-jari kaki sekitar 3 mm. Bagian dorsal tarsus ketiga beralur, alur berlanjut dari metatarsal tubercle dalam hingga tarsal tubercle. Jari kaki pertama dan kedua masing-masing memiliki satu subarticular tuberkulum, jari kaki ketiga dan kelima memiliki dua tuberkel subarticular, dan jari keempa tmemiliki tiga tuberkel subarticular. Kulit Phyllobates terribilis halus dan agak berkerut (Myers et al. 1978). 2.3 Reptilia Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyesuaikan diri di tempat yang kering di tanah. Penandukan atau cornificatio kulit dan squama atau carpace untuk menjaga banyak hilangnya cairan dari tubuh pada tempat yang kasar. Nama kelas ini diambil dari model cara hewan ini berjalan (latyn : reptum = melata atau merayap) dan study tentang Reptilia disebut Herpetology (Yunani : creptes = reptile). Ciri-ciri khusus dari kelas ini antara lain adalah: 1. Tubuh di bungkus oleh kulit kuring yang menanduk (tidak licin) biasanya dengan sisik: beberapa ada yang memiliki kelenjar permukaan kulit. 2. Mempunyai dua pasang anggota yang masing-masing 5 jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk lari, mencengkram dan naik pohon 3. Skeletonnya mengalami penulangan secara sempurna; tempurung kepala mempunyai satu occipital condyl. 4. Jantung tidak sempurna, terdiri atas 4 ruangan 5. Pernafasan selalu dengan paru-paru; pada penyu bernafas dengan kloaka

6. Suhu tubuh tergantung pada lingkungan. 7. Fertilisasi terjadi dalam tubuh, biasanya memiliki alat kopulasi, telur besar dengan banyak yolk, berselaput kulit lunak ataui bercangkok tipis. Telur biasanya diletakkan di suatu tempat dibiarkan menetas sendiri, tapi pada beberapa hewan misalnya kadal dan ular dierami oleh betina. Bentuk luar tubuh reptilia bermacam-macam yakni ada yang pipih (penyu), bulat panjang (ular) berbentuk gelendong berekor (kadal, buaya). Umumnya tubuh dapat dibagi atas bagian cephal, cevix, truncus dan cauda. (Cambell, 2003). Reptil merupakan satwa bertulang belakang yang bersisik. Reptil dibagi ke dalam 4 bangsa yaitu Testudinata (kura-kura), Squamata (kadal, ular, dan amphisbaenia), Rhynchocephalia (tuatara) dan Crocodylia (buaya). Reptil merupakan salah satu kelas yang mempunyai banyak jenis. Informasi terbaru menyebutkan bahwa ada 9300 jenis reptil di dunia (Kimball, 1999). A. Iguana Antilles Kecil 1. Klasifikasi Iguana merupakan salah satu jenis kadal (lizard), iguana banyak ditemukan di kawasan tropis Amerika selatan, Amerika tengah dan Karibia. Iguana mempunyai keunikan sendiri dibandingkan jenis kadal lainya yaitu salah satu jenis kadal herbifora atau dikenal dengan memakan tumbuh-tumbuhan. Klasifikasi Ilmiah Kerajaan Filum Kelas Order Sub ordo Keluarga Genus Spesies : Animalia : Chordata : Sauropsida : Squamata : Iguania : Iguanidae : Iguana : Iguana Antilles Kecil

2. Deskripsi

Iguana memiliki postur tubuh yang menarik diantaranya warna dan bentuk badan unik, lipatan kulit di bawah rahang, sekumpulan kulit yang mengeras yang berderet di punggungnya hingga ekor. Mereka sering kali sulit untuk diketahui keberadaannya karena kemampuan mereka untuk menyatu dengan lingkungan. Kulit salah satu jenis ini tidak dapat berubah warna seperti yang dilakukan bunglon dalam upayanya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hanya ada bagian kulit tertentu saja yang bila terkena sinar matahari langsung akan berubah warna menjadi lebih gelap. Kaki depannya didekapkan sepanjang badan, sedangkan ekornya yang panjang dan kuat digerakkan kiri kanan seperti pendayung. Kakinya pendek, tetapi kokoh. Kukunya kuat dan tajam sebagai alat penggali dan pemanjat. Di lehernya terdapat gelambir kulit yang lebar. Gelambir ini berfungsi sebagai alat pengatur suhu tubuh. Iguana juga memiliki jengger yang sangat nyata dan kuat berbentuk seperti duri dari garis tengah leher bagian belakang memanjang ke punggung. Iguana merupakan kadal yang pandai berenang dan memanjat, kebiasaannya tersebut digunakan untuk melindungi diri dari predator yang akan memangsa mereka. Memiliki "mata ketiga" di kepalanya. Mata ini disebut sebagai mata parietal, yang mirip seperti tonggak di atas kepalanya. Di belakang lehernya ada sisik kecil yang menyerupai paku panjang, dan disebut tuberculate scale. Iguana juga memiliki sisik besar bundar di pipinya yang disebut sebagai selubung subtimpani. Iguana jantan maupun betina mempunyai sederetan lubang sangat nyata yang sejajar di sebelah bawah kedua sisi pinggulnya. Deretan lubang ini sebenarnya merupakan kelenjar yang mengeluarkan semacam bahan lilin lembek (wax). Kelenjar ini dipergunakan untuk menandakan wilayah sebagai pengenal dan tanda komunikasi antara iguana. Deretan lubang pada iguana jantan dewasa berkembang lebih menonjol ke luar dibanding betina. Perkembangan tonjolan ini dipergunakan untuk mempererat pelukan jantan pada betina saat kopulasi. 3. Sistem Integumen Integumen adalah jaringan penutup permukaan, seperti kulit dan mukosa yang tidak mengandung kelenjar keringat. Lapisan terluar dari integumen yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini

akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Perubahan warna ini dikarenakan adanya granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar karena pengaruh yang bermacam-macam. Sisik iguana dikelompokkan kedalam sisik granual, sikloid, quadrangular atau mucromate dan sisiknya halus dan kasar. 4. Sistem Respirasi Mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya disokong oleh sejumlah cincin cartilago. Larinx terletak di ujung anterior trachea. Dinding larinx ini disokong oleh cartilago cricoida dan cartilago anytenoidea. Kearah posterior trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri, yang masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Pulmo lacertilia dan ophidia ialah relatif sederhana. Pada beberapa bentuk, bagian internal pulma terbagi tidak sempurna menjadi 2 bagian, ialah bagian anterior berdinding saccuter sedang bagian posterior berdinding licin, tidak vasculer dan berfungsi terutama untuk reservoir. 5. Sistem Indra Indra penglihatan Iguana memiliki penglihatan yang baik dan bisa melihat bentuk, bayangan, warna, dan gerakan dengan jarak yang jauh. Iguana menggunakan matanya untuk mengenali lingkungan dan makanannya. Mereka juga menggunakan matanya untuk berkomunikasi dengan anggota spesies yang sama. Mereka merespon rangsangan visual berupa warna seperti jingga, kuning, merah muda, dan biru yang terdapat pada substansi makanan mereka. Untuk mengenali makannya iguana juga menggunakan lidahnya sebelum mereka memakannya. Iguana termasuk hewan territorial dan cara mereka berkomunikasi dengan yang lain adalah menggunaka mata dan gerakan kepalanya. Indra pendengaran iguana disebut timpanum, yang merupakan gendang telinga iguana dan terdapat di kanan atas selubung subtimpani dan di belakang mata. Ini adalah bagian tubuh iguana yang amat tipis dan lembut, dan amat penting untuk pendengarannya. 6. Sistem Pencernaan (Digestorium) Sistem pencernaannya antara lain :

1. Tractus Digesntivum terdiri dari cavum oris, pharynx, esophagus, vetriculus, intestinum tenve, cecum, intestinum crassum dan cloaca. Didalam cavum oris terdapat dentes yang berbentuk canus. Dentes ini berbentuk pleurodont, artinya menempel pada sisi samping gingiva, sedikit melengkung ke arah medial cavum oris. Pada mabouya tidak kita jumpai dentes palatini. Selain itu dalam cavum oris terdapat lingua yang berpangkal pada Os hyldeum di sebelah caudal cavum oris, ujungnya bersifat befida. 2) Ventriculus pada mabouya ini berdinding musular yang tebal dari bentuk cylindris. Intestinum crassum berfungsi sebagai rectum. Cecum merupakan batas antara instestinum tenve dan intestinum crassum. 3) Glandula digestaria, terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar ditampung kantong yang disebut vesica fellea. Hepar terdiri atas 2 lobi, yaitu sinister dan dekter dan berwarna coklat kemerahan. Vesica fellea terletak pada tapi coudal lobus dexter hepatis. Pancreas terletak dalam suatu lengkung antara ventriculus dan duodenum. Ductus cysticus dari vesica fellea menuju jaringan pancreas bergabung dengan ductulli pancreatici, kemudian keluar menjadi satu ductus yang besar disebut hepato-pancreaticus atau ductus choledochus yang bermuara pada duodenum. Ventriculus terikat pada dinding tubuh dengan perantaraan suatu alat penggantung yang disebut mesogastrium. Kemudian alat penggantung instestinum tenue disebut mesenterium, alat penggantung intestinum crassum (rectum) disebut mesorectum. Antara

permukaan dorsal hepar dan ventriculus terdapat suatu lipatan tipis yaitu omentum gastrohepaticum. Omentum ini melanjutkan diri ke caudal disebut omentum duodeno-hepaticum yang menghabungkan hepar dengan duodenum. 7. Reproduksi Jantan a) Memiliki alat kelamin khusus : Hemipenis b) Sepasang testis c) Memiliki epididimis d) Memiliki vas deferen.

Betina a) Memiliki sepasang ovarium b) Memiliki saluran telur (oviduk) c) Berakhir pada saluran kloaka Merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Perkembangbiakan bersifat ovovivipar, telur kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur. iguana betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. iguana jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan iguana mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina. Ovum iguana betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah. 2.4 Aves Aves adalah hewan vertebrata dengan tubuh yang di tutupi oleh bulu, sedangkan hewan lainnya tidak berbulu. Aves adalah vertebrata yang dapat terbang, karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi anggota gerak anterior. Sayap pada aves berasal dari elemen-elemen tubuh tengah dan distal. Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger atau berenang (dengan selaput inter digital). Karakter tengkorak meliputi tulang-tulang tengkorak yang berdifusi kuat, paruh berzat tanduk. Aves tidak bergigi, mata besar, kondil oksipetal tunggal. Jantung terbagi atas dua aurikel dan ventrikel. Fosil tertua burung ditemukan di Jerman dan

dikenal sebagai Archaeopteryx. Jenis-jenis burung begitu bervariasi, mulai dari burung kolibri yang kecil mungil hingga burung unta, yang lebih tinggi dari orang. Diperkirakan terdapat sekitar 8.800 10.200 spesies burung di seluruh dunia; sekitar 1.500 jenis di antaranya ditemukan di Indonesia. Berbagai jenis burung ini secara ilmiah digolongkan ke dalam kelas Aves. Nama kelas aves berasal dari bahasa latin, dan nama ilmu yang mempelajari burung ortinology berasal dari bahasa yunani, yaitu ornis Meskipun burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah (Christidis, 2008). Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulubulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk. Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya. Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam

legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya. Namun ada juga yang berpendapat burung merupakan adaptasi dari kelas reptilia yaitu ordo Crocodilia. Diperkirakan burung berkembang dari jenis reptil di masa lalu yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu khusus di depannya dan bagian badannya. Pada awalnya, sayap primitf yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat membantunya untuk melayang dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah (Kurniati, 2009). Kelas aves berevolusi selama radiasi reptlia yang sangat hebat pada zaman mezozoikum. Telur amniotik dan sisik pada kaki hanyalah dua diantara semua ciri khas reptilia yang ditemukan pada burung. Akan tetapi burung moderen sangat berbeda dengan reptilia moderen karena memiliki bulu dan alat untuk terbang lainnya yang khas. Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk penenerbangan yang efisien. Hal paling utama dari semua ini tentu saja adalah sayap. Meskipun sekarang sayap itu memungkinkan burung terbang jarak jauh untuk mencari makanan yang cocok dan berlimpah. Mungkin saja sayap itu dahulu timbul sebagai adaptsi yang membantu mereka meloloskan diri dari pemangsa. Adapun burung-burung tidak bersayap yang terdapat diantartika, selandia baru dan didaerah lain banyak bertahan hidup karena predator atau pemangasa jarang terdapat. Adapun burung-burung tak bersayap diantartika ini membuktikan hal tersebut (Mutia, 2011). Dengan kemapuan terbang aves mendiami semua habitat. Sayap aves merupakan modifikasi anggota gerak anterior, sayap pada aves berasal dari element tubuh tengah dan distal. Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger aatu berenang dengan selaput interdigital. Aves memilki suara yang merdu, dan tingkah lakunya yang menarik. Hai inilah yang menyebabkam munculnya minat untuk memelihara burung secara ekstensif di rumah mereka masing-masing. Disamping itu

ada pula sebagian penduduk yang secara mistik menganggap jenis burung tertentu sebagai pembawa keberuntungan atau sebaliknya dianggap pembawa malapetaka. Kegemaran memelihara burung merupakan sikap budaya bangsa sejak dahulu kala, akan tetapi kebiasaan untuk mengenal, meneliti jenis-jenis burung yang hidup di alam bebas belum banyak dilakukan orang. Burung atau aves adalah salah satu kelompok yang paling banyak dan paling terkenal di dunia. Mereka berdarah panas seperti mamalia tetapi lebih dekat kekerabatannya dengan reptil, mereka berkembang sejak 135 juta tahun yang lalu. Semua burung lebih dulu bernenek moyang dari fosil burung pertama, yaitu Archaeoptery. Negara Indonesia terkenal akan kekayaan alamnya, baik jenis-jenis tumbuhan atau hewan, termasuk keanekaragaman jenis burung. Burung adalah binatang yang dikenal masyarakat luas, karena memiliki bulu yang indah, suaranya yang merdu, dan tingkah laku yang menarik. Hal itu telah menyebabkan menusia ingin memilikinya untuk dipelihara dalam sangkar. Disamping itu ada pula sebagian penduduk yang secara mistik menganggap jenis burung tertentu sebagai pembawa keberuntungan atau malapetaka. Kegemaran memelihara burung merupakan sikap budaya sejak dahulu kal. Akan tetapi kebiasaan untuk mengenal, mencintai atau meneliti jenis-jenis burung yang hidup di alam bebas belum banyak dilakukan orang (Rasmussen, 2005). Selain itu Indonesia merupakan negara keempat yang kaya akan jenis burung di dunia dan menduduki tempat pertama dalam jumlah burung yang endemik. Di Indonesia di temukan 1539 jenis burung, 381 jenis di antaranya merupakan jenis yang endemik di Indonesia. Sedangkan di pulau Sumatera terdapat 541 jenis burung, 22 jenis di antaranya adalah jenis yang endemik (Sudjadi, 2006). Di dunia penyebarannya mencapai 9000 jenis dan ada pula yang mengatakan 8900 jenis. Habitat burung tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke pegunungan. Aves aktif disiang hari ada juga pada malam hari dan memiliki bulu sebagai penutup tubuh. Keunikan lain dari pundi-pundi udara yang dimiliki oleh burung yang berguna membantu pernafasan di saat terbang. Banyak di antara aves yang memiliki nilai ekonomi karena bentuk dan suara yang indah dan juga dijadikan peternakan untuk kemudian dikonsumsi sebagai sumber konsumsi protein. Anggota kelas aves

memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya, sehingga hewan ini mampu bertahan dan berkembang biak pada suatu tempat. Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk penerbangan yang efisien.. Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk penerbangan efisien. Yang paling utama dari semua ini tentu saja adalah sayap. Meskipun sekarang sayap itu bisa memungkinkan burung untuk terbang jarak jauh untuk mencari makanan yang cocok dan berlimpah. Mungkin saja sayap itu dahulu timbul sebagai adaptasi yang membantu mereka meloloskan diri dari pemangsanya (Bibby, 2000). Adanya bulu pada burung merupakan karakter spesifik yang menunjukkan jenis burung. Sayap merupakan adaptasi dari burung yang jelas untuk terbang. Merupakan airfoil yang menggambarkan prinsip aerodinamika. Sisik pada kaki burung merupakan sisa evolusi dari reptil. Bulu adalah salah satu adaptasi vertebrata yang paling luar biasa karena sangat ringan dan kuat. Bulu terbuat dari keratin, protein yang juga menyusun rambut dan kuku pada mammalia dan sisik pada reptilia. Pertama kali, burung merupakan hewan yang memiliki sayap sebagai penyekat selama evolusi hewan endoterm, setelah itu baru dimanfaatkan sebagai peralatan terbang. Selain itu bulu juga dapat dimanipulasi untuk mengntrol pengerukan udara di sekitar sayap (Christidis, 2008). Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Bibby, 2000). Umumnya burung mengalami pergantian bulu sekali dalam satu tahun, tetapi burung kolibri betina mengalami pergantian bulu sekali dalam dua tahun.Pergantian

bulu biasanya terjadi sebelum atau sesudah perkembangbiakan. Namun ada juga yang mengalami pergantian bulu parsial oleh sebab tertentu. Pergantian bulu burung dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor fisiologis yaitu adanya hormon tiroksin. Sempurnanya bulu setiap spesies burung sejak menetas sampai dewasa berbeda-beda. Ada beberapa spesies burung yang pada saat menetas telanjang /tidak memiliki bulu. Bulu pada saat menetas disebut dengan natal plumage. Sebagian besar spesies burung memiliki jumlah bulu bervariasi pada saat menetas, hanya beberapa deret bulu pada spesies altrical misalnya merpati atau seluruh tubuh tertutup bulu pada burung precocial muda misalnya ayam. Selain bulu, burung memiliki nilai seni yang tinggi dan meliki keistimewaan dalam segi suara. Suara sebagian besar burung adalah seistimewa penampilannya. Apalagi pada beberapa spesies, seperti burung yang suka mengoceh, suara mungkin menjadi satu-satunya karakter diagnosa lapangan. Seorang pengamat burung, berjalan melintasi hutan biasanya akan mendengar jauh lebih banyak suara burung atau dari pada melihatnya. Ornithologiist yang hebat mengabaikan informasi yang benar-benar penting jika tidak mendengar untuk mengenal suara burung-burung yang berbeda. Bila dibandingkan dengan kelas-kelas hewan yang mendahuluinya, aves menunjukkan kemajuan seperti tubuhnya yang memiliki penutup yang bersifat isolasi, darah vena dan darah arteri terpisah secara sempurna dalam sirkulasi pada jantung, adanya pengaturan suhu tubuh, rata-rata memiliki metabolisme yang tinggi, memiliki kemampuan untuk terbang, suara yang berkembang dengan baik serta dapat menjaga anaknya dengan baik (Mutia, 2011). Burung pada umumnya mempunyai kulit yang tipis, mengandung keratin sedikit sekali. Hubungan dengan jaringan yang ada disebelahnya tidak erat. Struktur tambahan dari kulit ialah bulu mengalami penandukan kuat sekali. Bagian bawah kaki dan jari, ditutupi oleh sisik tanduk yang terdapat pada Archosauria dan ini mengelupas. Paruh juga mengalami penandukan. Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Beberapa jenis burung seperti burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di

dekat sumber air panas. Alih-alih mengerami, burung-burung ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk, panas matahari, atau panas bumi menetaskan telurtelur itu. persis seperti yang dilakukan kebanyakan reptil. Akan tetapi kebanyakan burung membuat sarang, dan menetaskan telurnya dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari tumpukan rumput, ranting, atau batu atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. (Christidis, 2008). Walaupun kebanyakan burung mampu terbang, terdapat beberapa spesies yang tidak mapu terbang seperti burung penguin, unta, rea, emu, kiwi, dan lain-lain. Burung adalah oviparous atau bertelur, kadang kala kedua pasangan akan bergilir (penguin) dan dalam setengah spesies burung hanya burung jantan yang akan mengerami telur. Terdapat juga spesies burung yang bertelur dalam sarang burung burung lain untuk dieramkan oleh burung lain. Burung ada pula yang memiliki cakar tajam untuk mencengkram mangsanya, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan sarasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek mangsa. Tipe-tipe cakar ini merupakan adaptasi dari pengaruh habitat dan fungsinya. Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya saja cangkangnya lebih keras karena mengandung zat kapur. Burung kebanyakan mengerami telurnya, tapi ada beberapa jenis burung yang menimbunnya dalam pasir atau sarasah seperti burung Maleo dan burung Gasong. Sebagai ganti mengerami telur burung-burung ini mengandalkan panas bumi dan fermentasi dari sarasah atau sampah yang membusuk persis seperti yang dilakukan kebanykan reptil (Sudjadi, 2006). A. Archaeopteryx lithographica Archaeopteryx lithographica adalah dinosaurus theropoda yang diyakini sebagai burung pertama di Bumi, hidup pada zaman Jurassic sekitar 150 juta tahun yang lalu. Fosil Archaeopteryx paling banyak ditemukan di Solnhofen

limestone in Bavaria, southern Germany. Pertama kali fosil Archaeopteryx ditemukan pada tahun 1861, tepat dua tahun setelah Charles Darwin menerbitkan bukunya yang berjudul On the Origin of Species.

Kingdom Phylum

: Animalia : Chordata

Sub Phylum : Vertebrata Classis Familia Genus Species : Aves : Archaeopterygidae : Archaeopteryx (Extinct) : Archaeopteryx lithographica (Extinct)

1. Diskripsi dan Proses Evolusi Archaeopteryx lithographica hidup pada zaman Jurassic sekitar 150 juta tahun yang lalu. Ukuran tubuhnya diperkirakan sebesar burung merpati, dengan sayap yang lebar dan ekor yang panjang. Panjang tubuhnya diperkirakan dapat mencapai 500 milimeter (20 inch) dan berat tubuh 0.8 - 1 kilogram. Bulu Archaeopteryx mempunyai struktur yang sama dengan bulu pada burung modern. Walaupun diyakini sebagai burung pertama di Bumi tetapi burung ini masih memiliki beberapa ciri reptil, Archaeopteryx sebenarnya merupakan dinosaurus theropoda (theropod dinosaurs). Tidak seperti burung modern, Archaeopteryx memiliki gigi pada paruhnya dan cakar pada sayapnya memiliki ukuran seperti burung merpati. Salah satu ciri reptil yang masih dimilikinya adalah ekor yang masih berbentuk seperti ekor kadal namun telah termodifikasi dan tertutupi bulu-bulu plumae. Perbedaan yang nyata juga terlihat pada kepalanya yang masih bersisik dengan

rahang bergigi tajam. Selain itu, burung ini juga memiliki tungkai depan yang telah termodifikasi sebagai sayap dan telah dilengkapi bulu-bulu plumae seperti burung pada umumnya, namun Archaeopteryx masih memiliki kukupada ujung sayapnya.

Teori umum yang banyak digunakan para ahli bahwa Archaeopteryx merupakan hasil evolusi aridinosaurus, Theropoda yaitu dinosaurus yang bersifat karnivora (Woodmorappe, 2003). Theropoda pertama ditemukan di Cina pada tahun 1996 dan dideskripsikan pertama kali oleh Qiang Ji dan Shuan Ji. Theropoda pertama ini kemudian diberi nama Sinosauropteryx prima yang berarti reptil bersayap pertama di Cina. Reptil purba ini memiliki panjang tubuh 65 cm, memiliki tengkorak dan rahang yang besar, memiliki gigi yang tajam, ekor yang relatif panjang (60% dari panjang tubuh total), dan tungkai depan yang sangat pendek dengan humerus yang juga kecil dan pendek. Selain itu, dinosaurus ini juga diperkirakan memiliki bulu-bulu yang pendek, kecil dan seragam. Bulu-bulu ini menjadi ornamen pada bagian atas kepala, cervical, dorsal sampai ke daerah caudal (Ji dan Ji, 1996).

Tubuh yang tertutupi bulu-bulu sederhana serta bentuk tungkai depan dan belakang ini yang membuat sinosauropteryx memiliki kesamaan umum dengan burung walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Tungkai depan yang memiliki ukuran sternum yang kecil hampir sama dengan apa yang terdapat pada sternum burung walaupun dengan fungsi yang berbeda. Tungkai belakang yang menjadi penopang tubuh memiliki bentuk yang analog dengan tungkai burung unta dan keduanya memang digunakan untuk berlari cepat (Ji dan Ji, 1996). Pada perkembangan selanjutnya, muncul reptil-reptil dengan ukuran tubuh yang lebih besar namun memiliki ciri evolusi yang lebih spesifik. Velociraptor dan Unenlagia merupakan salah satu bentuk peralihan antara Sinosauropteryx dan Archaeopteryx.

Kedua jenis reptil ini memiliki bulu-bulu plumae pada tungkai depan mereka walaupun dalam jumlah yang sedikit dan dalam kehidupannya diperkirakan kedua jenis dinosaurus ini tidak memiliki kemampuan terbang namun dapat berlari dengan cepat.Velociraptor merupakan jenis dinosaurus yang hidup di akhir zaman Cretaceous , mongolia tengah pada saat eksplorasi oleh timdari American Museum of Natural History pada tahun 1923 (Osborn, 1924). Karakteristik umum yang digunakan dalam mengidentifikasi dinosaurus ini adalah bentuk tulang tengkorak yang memanjang compres lateral dengan gigi-gigi tajam di sepanjang rahang atas maupun bawah. Velociraptor memiliki panjang tubuh 2,07 m dan tinggi 0,5 m, memiliki 3 jari berkuku tajam yang merupakan bentuk peralihan antara burung dan reptil. Perkembangan bulu-bulu sayap pada Velociraptor merupakan salah satu bentuk peralihan menuju bentuk yang lebih kompleks. Menurut Alan H. Turner (2007) bulubulu yang dimiliki velocireptor adalah jenis Filamentous protofeathers, bulu-bulu ini tidak difungsikan sebagai alat terbang melainkan sebagai pengatur suhu tubuh terutama saat mengerami telur mereka (Turner et al, 2007). 2.5 Mamalia A. Struktur Tubuh Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutup rambut. Tiap betina mempunyai kelenjar mamae (air susu) yang tumbuh baik. Anggota gerak depan pada mamalia dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang, berenang, dan terbang. Pada jari-jarinya terdapat kuku, cakar, atau tracak. Pada kulit terdapat banyak kelenjar minyak dan kelenjar keringat. Gigi umumnya terbagi mnjadi empat tipe: gigi seri, gigi taring, gigi premolar, dan gigi molar. Dibandingkan dengan kondisi vertebrata lainnya, jumlah tulang tengkorak mamalia banyak yang tereduksi. Ada dua kondil oksipital. Vertebrae servikal biasanya ada tujuh buah. Dalam sabuk tektoral tidak terdapat tulang korakoid, dan klavikula vestigial atau tidak ada sama sekali. Ekor, jika ada, panjang dan dapat digerakkan. Ada tiga buah osikel auditori yaitu malleus, inkuls, dan stapes. Akhir organ pendengaran (koklea) berstruktur sangat

kompleks dan sedikit banyak bergelung. Pada telinga terdapat suatu auditori eksternal dan pinna (telinga luar) pada tiap sisi lateral kepala. Kranium dengan dua condylus occipitalis. Leher terdiri dari tujuh ruas vertebrae. Hidung memanjang, lidah biasanya dapat digerakkan, mata berkelopak, mempunyai empat kaki (pada cetacean dan sirenia tidak mempunyai kaki belakang). Tiap kaki dengan lima jari (atau kurang) dan bermacam-macam bentuknya beradaptasi untuk berjalan, lari, memanjat, menggali, berenang atau terbang. Jari-jari dilengkapi cakar atau kuku atau teracak dari zat tanduk dan sering dengan telapak yang berdaging. Struktur tubuh pada mamalia contohnya pada kucing. Kucing termasuk dalam ordo carnivora (hewan pemakan daging) biasanya memakan mamalia yang kecil-kecil dan burung. Memiliki mata yang mengarah kedepan, mempunyai indra yang tajam, dan berjalan dengan menggunakan telapak kakinya tidak bersuara sehingga efektif dalam memburu mangsanya. Tubuhnya lentur dan cakarnya tajam sehingga memungkinkan untuk menerkam dan menggenggam mangsanya dengan mudah dan gigi penggunting yang tajam untuk memotong-motong daging. B. Sistem Saraf Sistem saraf pada mamalia, secara general memiliki tingkat perkembangan yang lebih tinggi dari kelas lain. Serebrum berukuran lebih besar jika dibandingkan keseluruhan bagian otak. Serebellum juga berukuran lebih besar dan berlobus lateral 2 buah. Lobus optikus ada 4 buah, setiap bagian lateralnya dibagi oleh alur transversal menjadi lobus anterior dan posterior. Otak (Encephalon) terdiri dari beberapa bagian yang hampir sama dengan vertebrata yang lain, seperti prosencephalon, lobus opticus, cerebellum dan medulla oblongata. C. Sistem Respirasi Alur-alur hidung mengandung tulang-tulang turbinal yang berkelok-kelok yang memperluas permukaan olfaktori. Laring beratap sebuah epiglottis yang mengandung pita-pita suara. Dua paru-paru masing-masing dalam ruang pleura yang terpisah. Fase aktif dalam pernapasan adalah inspirasi yang diikuti oleh depresi (perataan) dari diafragma dan elevasi dari tulang-tulang iga (dengan gerakan melengkung keluar).

D. Sistem Sirkulasi Jantung berbilik empat pada mammalia mempunyai dua atria dan dua ventrikel yang terpisah secara sempurna. Terdapat sirkulasi ganda (sirkuit sistemik dan pulmoner). Pengiriman oksigen ke seluruh tubuh akan semakin meningkat karena tidak ada pencampuran darah yang kaya akan oksigen dengan yang miskin oksigen, jadi lebih sempurna dari reptile. Sebgai hewan endotermik, mammalia memerlukan lebih banyak oksigen per gram bobot tubuhnya dibandingkan dengan vertebratalain dengan ukuran tubuh yang sama. E. Sistem Pencernaan Sistem pencernaan terdiri dari kelenjar pencernaan dan organ pencernaan. Kelenjar pencernaannya terdiri dari 4 pasang kelenjar ludah: paratiroid, infaorbital, submaksilari, dan sublingual. Terdapat kantung empedu dengan saluran empedu dan saluran getah pancreas yang bermuara dalam duodenum. Sekum (caecum) berdinding tipis, panjangnya kira-kira 50 cm, mempunyai appendiks vermiformis (umbai cacing) yang bentuknya seperti jari. Sedangkan organ pencernaannnya terdiri dari mulut, kerongkongan, ventriculus, duodenum, ileum, rectum, dan anus. F. Sistem Ekskresi Ginjal berbentuk seperti biji kacang, ruang median ginjal yang disebut pelvis renalis berhubungan dengan kandung kemih melalui ureter. Dari kandung kemih mengeluarkan uretra yang akan mngeluarkan urin melalui saluran urin. Mammalia dominan sudah memiliki saluran yang terpisah, tidak seperti hewan vertebrata lain yang menggunakan kloaka. Mammalia memiliki saluran pembuangan sisa pencernaan melalui anus, urin melalui uretra, dan saluran reproduksi melalui vagina dan penis. 6. Sistem Reproduksi Hewan mammalia melakukan fertilisasi internal, perkembangan embrio terjadi di dalam uterus, dengan lama masa kandungan yang bervariasi tergantung pada jenis hewannya, seperti pada kelinci masa kehamilannya sekitar 30 hari. Berdasarkan cara reproduksi dan perkembangan fetusnya, beberapa mammalian memiliki tingkatan-tingkatan dari yang rendah sampai yang tinggi. Pada mammalian rendah, seperti Ordo Monotremata (platypus) dan Ordo Marsupialia (opossum dan

kangguru), platypus masih bertelur dan mengerami telurnya. Sedangkan pada kangguru yang telurnya sangat kecil itu berkembang dalam uterus selama beberapa hari, larva yang kemudian menetas segera keluar dari uterus dan masuk dalam kantong perut (marsupium) dan menghisap air susu dari putting-putting induknya. Pada mamalia yang lebih tinggi tingkatannya, zygot yang berkembang menjadi embrio dan kemudian tumbuh menjadi fetus tinggal dalam uterus untuk waktu yang lebih lama. Sistem sirkulasi dan nutrisinya dihubungkan melalui plasenta yang mengangkut nutrisi dari tubuh induknya. G. Ursus arctos 1. Klasifikasi U. arctos tersebar luas di daerah Palearktik (Eropa dan Asia) dan Nearctik (Amerika Utara), biasa juga disebut dengan beruang coklat.

Gambar 1. Beruang coklat (Ursus arctos)

Beruang coklat merupakan salah satu dari 8 jenis beruang yang tersebar luas di dunia dan salah satu anggota dari 6 genus Ursus. Klasifikasi awal berdasarkan dari paleontology dan data morfologi, Merriam (1918) mengusulkan 90 subspesies beruang coklak berdasarkan dari perbedaan geografisnya (Waitset al. 1998). Berdasarkan dari literature Craighead and Mitchell (1982) danWaits et ill. (1998), Rausch (1963) mengidentifikasi dua extant subspesies beruang coklat di Amerika Utara berdasarkan ukuran tengkoraknya. Dia mengklasifikasikan beruang coklat di habitat aslinya Ursus arctos horribilis Ord, dari kepulauan Kodiak dengan nama

Ursus arctos middendorffi Merriam. Hall (1984) mengklasifikasikan berdasarkan tengkorak dan susunan gigi dan mengusulkan 7 subspesies beruang coklat Amerika Utara, 5 diantaranya tersebar di daerah Alaska: Ursus arctos middendorffi (Kodiak islands), Ursus arctos gyas (Kenai Peninsula), Ursus arctos dalli (northwest

panhandle),

Ursus arctos sitkensis Merriam (southeast Alaska including ABC

islands), Ursus arctos alascensis Merriam, Ursus arctos stikeenensis Merriam (hanya tersebar di British Columbia, Washington, and Oregon) dan Ursus arctos horribilis yang tersebar di daerah Kanada.

Gambar 2. U. a. middendorffi

Gambar 3. U. a. gyas

Gambar 4. U. a. dalli

Gambar 5. U. a. sitkensis

Gambar 6. U. a. alascensis

Gambar 7. U. a. horribilis

Rausch (1963) juga mengidentifikasikan beberapa nama berdasarkan analisis DNA nya. Dengan DNA analisis dan kemajuan ilmu teknologi, bisa didapatkan klasifikasi dari subspesies beruang coklat yang lebih spesifik (Waits et al. 1999). Berdasarkan penelitian mitokondria dari DNA (mtDNA) beruang coklat dari berbagai daerah habitatnya didapat 5 group mtDNA beruang coklat yang berbeda (Cronin et al. 1991; Taberlet and Bouvet 1994; Kohn et al. 1995; Randi et al. 1995; Taberlet et al. 1995; Talbot and Shields 1996; Waits et al. 1998) tetapi mtDNA phylogeny tidak mendukung taksonomi klasifikasi dari Ursus arctos middendorffi, Ursus arctos horribilis, dan Ursus arctos gyas (Waits et al. 1998). Klasifikasi dari beruang coklat: Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species (Ord, 1815). 2. Evolusi Semua jenis beruang yang hidup saat ini maupun fossil dari genus Ursus merupakan keturunan dari Ursus minimus. : : : : : : : Animalia Chordata Mammalia Carnivora Ursidae Ursus U. arctos

Gambar 8. Fosil Ursus minimus

Tubuh kecil dan penghuni hutan pada zaman

Pliosene. Beruang coklat

berdeferensiasi dari Ursus etruscus (Beruang Etruscan) di Asia selama masa pertengahan Pleistosene (2-3 juta tahun yang lalu). Kemunculan pertama Ursus arctos sekitar 500,000 tahun yang lalu di Choukoutien, China. Kemudian memasuki daerah eropa sekitar 250,000 tahun yang lalu ketika lautan di dunia membeku, sehingga mereka bisa menyebrang ke eropa (Pasitschniak-Arts 1993). Spesiasi terjadi ketika periode glacial di benua bagian utara, hutan hilang dan digantikan dengan tundra (kondisi dimana pertumbuhan pohon terhambat akibat penurunan suhu yang ekstrim, biasa disebut lingkungan tanpa pohon), adaptasi dari habitat ini berhasil merubah merubah genetik beruang coklat dari nenek moyangnya yang menghuni hutan (Herrero 1972). Steppe (daerah tanpa pohon dan hanya di dominasi oleh rumput dsb) dan tundra yang mendominasi menyebabkan beruang coklat gagal berkoloni di daerah Alaska ketika zaman Wisconsin glacial (Herrero 1972). Resesi pada benua yang tertutupi es memudahkan ekspansi ke hamper seluruh Amerika Utara pada zaman Holocene (Martinka 1974). 3. Persebaran Karena resesi pada zaman es, Ursus arctos menyebar secara luas melewati Amerika Utara menuju daerah barat, menuju Ontario (Peterson 1965), Ohio, Kentucky (Guilday 1968), dan ke selatan menuju Mexico (Storer dan Tevis 1955). Speiss and Cox 1977). Penyebaran nyata terlihat menuju ke timur karena merespon kondisi lingkungan yang tidak mereka sukai (Guilday 1968).

Gambar 9. Postglacial, historical, and current distribution of the brown/grizzly bear.

4. Tengkorak dan Susunan Gigi Tengkorak beruang coklat sangat beragam di daerah Amerika Utara, tengkorak kuat dan berat (Gambar 3) dan berbeda sesuai dengan kelaminnya (Merriam 1918; Rausch 1953, 1963; Kurten 1973; Craighead and Mitchell 1982; Pasitschniak-Arts 1993). Tengkorak terpanjang dan lebar yang pernah ditemukan untuk beruang coklat Alaska adalah 45.56 and 32.54 crn.

Gambar 10. Tengkorak beruang coklat. Dari atas ke bawah: lateral cranium, dorsal cranium

Dimensi tengkorak tumbuh dan berubah selama hidupnya. Beruang muda memiliki bentuk tengkorak yang oval, dimana akan memanjang selama fase tumbuhdan mencapai ukuran standar ketika dewasa (Zavatsky, 1976). Panjang Condylobasal (dari anterior sampai posterior tengkorak) dan lebar zygomatic memiliki karakteristik yang beragam, sedangkan susunan giginya I 3/3, C III, P 4/4, M 2/3 (LeFranc et al. 1987; Pasitschniak-Arts 1993). 5. Pengelolaan dan Konservasi

Seperti diketahui, beruang cokelat di Kanada Selatan mengalami penurunan jumlah kelimpahan dan distribusinya sekitar 1000 individu di area pegunungan sebelah utara Pegunungan Rocky dekat Kanada dan di Ekosistem Yellowstone (Seryheen, 1999). Selain itu, terdapat pula migrasi populasi kecil di Utara Cascades dekat perbatasan British Columbia (Sery 1998, 1999). Beruang cokelat menempati hanya 1-2% dari cakupan sejarah di Kanada Selatan. Di Amerika Serikat, populasi beruang cokelat hanya tersisa di Alaska, sekitar 31.700 individu yang hidup. (Miller, 1993; Miller dan dan Schoen, 1999). Bahkan di Alaska terdapat area seperti Kenai Peninsula dengan faktor penyebab kematian dan kerusakan habitat seperti penurunan populasi di Kanada Selatan yang di tempati oleh beruang cokelat.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2011. Laporan praktikum zoology http:// www.scribd.com/ Diakses tanggal 01 November 2012 Dharma. 2009. Laporan praktikum fisiologi hewan air. http://dhamadharma.wordpress.com Diakses tanggal 01 November 2012 Hala,Yusminah. 2007. Daras Biologi Umum II. Alauddin Press: Makassar. Jutje S Lahay. 2006. Zoologi Vertebrata. Universitas Negeri Makassar: Makassar. Riki. 2010. Laporan pisces. http://rykibio046.blogspot.com Diakses tanggal 01 November 2012 Rohana, S. 2003. Biologi Umum. Yushis Tira: Jakarta. Romimoharto, Kasijan dan Juwana, Sri. 2001. Biologi Laut. Djambatan: Jakarta. Winda, Hayati. 2011. Kelas pisces. http://windahayati14.blogspot Diakses tanggal 01 November 2012 Merriam, C. H. 1918. Review of the grizzly and big brown bears of North America (genus Ursus) with the description of a new genus, Vetularctos. North American Fauna41:1-136. Herrero, S. 1972. Aspects of evolution and adaptation in American black bears (Ursus americanus Pallas) and brown and grizzly bears (Ursus arctos Linne) of North America. International Conference on Bear Research and Management 2:22131. Hall, E. R. 1984. Geographic variation among brown and grizzly bears (Ursus arctos) in North America (Special Publication 13). Museum of Natural History, University ofKansas,Lawrence. Taberlet, P., and 1. Bouvet. 1994. Mitrochondrial DNA polymorphism

phylogeography, and conservation genetics of the brown bear Ursus aretos in Europe. Proceedings of the Royal Society London, Series B 255:195-200.

Campbell, Reece Mitchell. 2003. Biologi edisi kelima jilid 2. Erlangga: Jakarta. Hikmah, Nafilatul. 2011. Makalah Kelas Reptilia http://ilmunafianafilah.blogspot.com/2011/11/makalah-kelas-reptilia.html diakses pada tanggal 4 Desember 2012 Kimball, John W. 1999. Biologi Jilid 2 dan 3. Erlangga: Jakarta. Ji, Q., Shuan Ji, On the Discovery of the earliest fossil bird in China (Sinosauropteryx gen. nov.) and theorigin of birds, Chinese Geology Volume 233, Chinese Geological Museum, Beijing, 1-2, 1996 Osborn, H. F., Three New Theropoda, Protoceratops Zone,Central Mongolia, American Museum Novitates, 1-2, 1924. Perrins, C. M., Middelton, A. L. A., What Is A Bird?, Encyclopedia of Birds, Andromeda Oxford Limited,New York, 2-3, 1993. Turner, A. H., Peter J. M., Mark A. N., Feather Quill Knobs in the Dinosaur Velociraptor, Science, Vol 317,1, 2007. Woodmorape, J., Bird evolution: Discontinuities and reversals,TJ 17 , 1, 2003. Bardack, D. 2001. Pertama fosil Ranidae. http://tolweb.org/hyperotreti Diakses pada 25 Nopember 2012. Duellman, W. E. and L. Trueb. 1996. Biology of Amphibians. McGraw Hill Book Company. New York. Subyakto, S. dan S. Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. PT Agromedia Pustaka, Depok. Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian, 1996, Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), Jakarta. Ir. Sudjiharno dkk, 2004, Proyek Pengembangan Perekayasaan Teknologi Balai Budidaya Laut Lampung. Anonim 1991. Operasional Pembesaran Ikan Kerapu dalam Keramba Jaring Apung . Departemen Direktorat Perikanan Balai Bididaya Laut.Lampung. Suyoto, P.; Mustahal.2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu,Kakap, Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta. Saanin,H.1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Banatjipta. Bandung.

Nybakken, W. 1988. Biologi laut, suatu pendekatan ekologi. Dalam: Anonim Pembesaran Ikan Kerapu Macan dan Kerapu Tikus di Keramba Jaring Apung. Departemen Pertanian, Direktorat Perikanan, Balai Laut . Lampung