Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II SEL ELEKTROLISIS : PENGARUH SUHU TERHADAP S, G, DAN H 5 April 2014

Disusun Oleh : Annisa Etika Arum 1112016200009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

I. Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu larutan elektrolit terhadap S, G, dan H. Kespontanan suatu reaksi kimia (redoks) dapat terjadi jika ada energi yang bekerja dalam sistem. Dalam termodinamika sel elektrokimia, Williard Gibbs mengatakan bahwa panas yang dihasilkan merupakan perubahan bentuk dari kerja yang dilakukan sel. Selain itu, ada yang disebut dengan energi bebas Gibbs, yaitu kerja yang dapat dilakukan oleh sistem dalam proses yang reversible pada suhu dan tekanan tetap. II. Landasan Teori Termodinamika termasuk termokimia merupakan salah satu segi penting yang menghubungkan energi kalor dengan bentuk enrgi lain yang dikenal sebagai kerja. Bagaimana alam semesta yang dipilih untuk penelitian termodinamika disebut sistem dan bagian dari alam semesta yang berinteraksi dengan sistem tersebut disebut keadaan sekeliling lingkungan dari sistem. (Ralph, H. Petrucci, 1985 :172) Arus listrik dapat bersumber dari sel volta, misalnya dengan menggunakan bateraai atau aki. Namun, arus listrik dapat menyebabkan berlangsungnya suatu reaksi kimia. Ilmuwan Inggris, Michael Faraday, mengalirkan arus listrik kedalam larutan elektrolit dan ternyata dalam larutan tersebut tejadi reaksi kimia. Rangkaian alat yang menunjukkan terjadinya reaksi kimia akibat dialirkannya arus listrik ersebut disebut sebagai sel elektrolisis. Elektroda pada sel elektrolisis berbeda dengan elektroda sel galvani. Pada sel elektrolisis katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan kutub positif. Penentuan kutub positif dan negatif ini didasarkan pada potensial yang diberikan dari luar. (Nana Sutresna, 2007 : 61) Sel elektrolisis adalah sebuah sel elektrokimia yang menggunakan sumber energi listrik dari luar untuk menjalankan suatu reaksi yang non spontan. (Ralph, H. Petrucci, 1985 : 40) Sel elektrolisis mempunyai sepaang elektroda ke baterai, yang berfungsi sebagai pompa elektron yang menggerakkan elektron ke katoda dan menarik elektron dai anoda. (Raymond Chang,2004 :219) Suatu sel terdiri dari satu atau lebih larutan dalam wadah yang sesuai. Jika sel itu dapat memberi energi listrik kepada suatu sistem luar (eksternal) disebut sel galvani.

Energi kimia diubah sedikit banyak dengan lengkap menjadi energi listrik, tetapi sebagian dari energi itu terbuang menjadi kalor. Jika energi listrik itu diberikan dari suatu sumber luar, sel melalui mana yang disebut sel elektrolisis. (Vogel, 1994 : 606) III. Alat bahan dan Langkah Kerja A. Alat & bahan 1. Power Supply 2. Gelas kimia 3. Termometer 4. Statif dan klem 5. Kaki tiga dan kassa 6. Pembakar spirtus 7. Multimeter 8. Kabel, stopwatch 9. Larutan CuSO4 0,1 M 10. Elektroda C dan Cu B. Langkah kerja 1. Bersihkan elektroda Cu dan C dengan mengamplas dan cuci menggunakan akuades keringkan dan timbang. 2. Masukkan larutan CuSO4 0,1 M kedalam gelas kimia 3. Rangkai alat percobaan dengan metode sel elektrolisis menggunakan power supply dengan 3 volt dan multimeter 4. Pasang elektroda Cu pada katoda dan elektroda C pada anoda dan masukkan kedalam larutan CuSO4 0,1 M tersebut. 5. Atur suhu sampai dengan 300C setelah itu lakukan elektrolisis serta amati perubahannya. Catat arus dan tegangan listrik pada elektrolisis pada suhu 300C 6. Matikan power supply, cuci elektroda Cu dengan air lalu keringkan dan timbang. 7. Ulangi langkah ke-6 dengan mengganti suhu larutan CuSO4

IV. Hasil dan Pembahasan 1. Hasil No Suhu (T) Kuat arus (I) Tegangan (V) Waktu (t) Massa Cu di katoda Sebelum elektrolisis 1. 2 150C 300C 0,7 x 10-6 0,4 x 10-6 3 volt 3 volt 120 s 120 s 0,4149 gr 0,48 gr Sesudah elektrolisis 0,4122 gr 0,42 gr

Persamaan reaksi Katoda : Cu2+ + 2e- Cu Anoda : 2H2O O2 + 4H+ + 4e-

Perhitungan G = G0 + RTlnK => G = -nF E Esel = Ered + Eoks = 0,337 v - (-1,23v) = 1,567 v G = -2 mol e- /mol x 96500 C/mol e- x 1,576 v = -3,04 x 105 J/mol
E S 150C = nF T

= 2 mol e/mol x 96500 C x (1,576v/ 150C) = 2,027 x 104 J/mol


E S 300C = nF T

= 2 mol e/mol x 96500 C x (1,576v/ 300C) = 1,031 x 104 J/mol H 150C = G + T.S = -3,04 x 105 + 15. 2,027 x 104 = 50 J H 300C = G + T. S = -3,04 x 105 + 30. 2,027 x 104 = 30410 J

2. Pembahasan Pada percobaan sel elektrolisis ini pengaruh suhu sangat menentukan terhadap harga G, S, dan H. Entalpi merupakan fungsi keadaan maka perubahannya merupakan diferensial eksak. Variabel - variabel yang dipilih untuk entalpi adalah suhu dan tekanan. Untuk menentukan nilai perubahan entalpi totalnya harus diketahui nilai-nilai kuosien sukku pertama dan kedua. Nilai kuosien tersebut besarnya dapat diukur secara eksperimen dengan cara mengatur variabel-variabelnya. Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi, karena reaksi kimia umumnya dilangsungkan pada tekanan tetap, maka perubahan energi (kalor) yang menyertainya disebut entalpi. Entalpi reaksi dipengaruhi oleh suhu. Jika suhu berubah maka entalpi reaksinya juga berubah. Harga entalpi reaksi pada berbagai suhu dapat ditentukan dari data entalpi yang sudah ada. (Kimia Fisika I Textbook, 72) Entropi merupakan suatu fungsi keadaan, nilainya bergantung pada variabelvariabel keadaan seperti suhu, volume, dan tekanan. Perubahan entropi jika suhu dan tekanan berubah, masing-masing sebesar dT dan dP. Evaluasi terhadap kedua kuoisen pada persamaan tersebut sangat diperlukan untuk menghitung nilai perubahan entropi secara keseluruhan, sebagai akibat dari perubahan kedua variabel tersebut. (Kimia Fisika I Textbook, 90-91) Didalam sebuah sel elektrokimia, satu setengah reaksi berlangsung disatu kompartemen elektroda dan setengah reaksi yang lain berlangsung dikompartemen yang lain. Dengan cara ini, proses reduksi dan oksidasi yang bertanggung jawab atas keseluruhan reaksi spontan dipisahkan. Ketika reaksi berlangsung, elektron yang dibebaskan pada setengah reaksi didalam satu kompartemen berjalan melalui sirkuit luar dan memasuki sel melalui elektroda lain. Disana elektron itu digunakan untuk mereduksi anggota pasangan yang teroksidasi didalam kompartemen itu. (P.W. Atkins, 1990 : 272) Setelah dilakukan perhitungan didapatkan harga masing-masing dari G, S, dan H yaitu (-3,04 x 105 J/mol), (150C 2,027 x 104 J/mol, 300C 1,031 x 104 J/mol ), (150C 50 J, 300C 30410 J )

V. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Harga masing-masing dari G, S, dan H yaitu (-3,04 x 105 J/mol), (150C 2,027x104 J/mol, 300C 1,031 x 104 J/mol ), (150C 50 J, 300C 30410 J ) 2. Diketahui bahwa semakin naik suhu maka makin besar harga dari perubahan entropi dan semakin rendah harga perubahan entalpi. 3. Didalam sebuah sel elektrokimia, satu setengah reaksi berlangsung disatu kompartemen elektroda dan setengah reaksi yang lain berlangsung dikompartemen yang lain. VI. Daftar Pustaka Atkins. P. W . 1990. Phisycal Chemistry Jilid 1 Edisi keempat. Jakarta : Erlangga Petrucci. H. Ralph. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3. Jakarta : Erlangga Petrucci. H. Ralph. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta : Erlangga Rohman Ijang dan Mulyani Sri. Kimia Fisika 1 Common Textbook Edisi Revisi. Jakarta : Universitas Pendidikan Indonesia Chang, Raymond. 2004 http://books.google.co.id/books?id=HSNbmkSWbXMC&pg=PA219&dq=sel +elektrolisis&hl=en&sa=X&ei=JBlMU5faLsKCrgeAqoB4&redir_esc=y#v=onep age&q=sel%20elektrolisis&f=false Sutresna, nana. 2007. http://books.google.co.id/books?id=EJ_SPdadVogel. 1994. http://books.google.co.id/books?id=AqKpEdArvAC&pg=PA606&dq=sel+elektro lisis&hl=en&sa=X&ei=WRNMU64OciLrQfr4IC4Bw&redir_esc=y#v=onepage&q=sel% 20elektrolisis&f=false