Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM IDENTIFIKASI BRYOPHYTA

Dosen Pengampu : Prasetiyo M.Pd Di Susun Oleh :

Elisa Yulianingsih (12320154) 2E

PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG

PRAKTIKUM IDENTIFIKASI BRYOPHYTA A. 1. 2. B. 1. 2. C. Tujuan Mengidentifikasi ciri morfologi dan anatomi spesies Bryophyta. Mengklasifikasikan spesies Bryophyta berdasarkan ciri morfologi dan anatominya. Manfaat Mengetahui ciri morfologi dan anatomi Bryophyta pada masing masing spesies Mengetahui klasifikasi Bryophyta masing-masing spesies. Tinjauan pustaka Bryophyta belum memiliki akar, daun, dan batang yang jelas. Struktur mirip akar pada Bryophyta disebut rhizoid. Rhizoid membawa air dan nutrisi ke seluruh jaringan. Akan tetapi, rhizoid tidak memiliki pembuluh untuk mendistribusikan air dan nutrisi tersebut. Oleh karena itu, lumut dimasukkan ke dalam jenis tumbuhan tak berpembuluh. Difusi air dan nutrisi pada lumut terjadi secara lambat melalui jaringan di tubuh lumut yang saling berhubungan. Oleh karena itu, ukuran tubuh mereka terbatas, hanya kurang dari 2 cm tingginya. Pada divisio Bryophyta, kita belum dapat membedakan membedakan antara daun, batang, dan akarnya. Akan tetapi, Bryophyta telah memiliki klorofil untuk proses fotosintesisnya sehingga digolongkan ke dalam Regnum Plantae. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan peralihan dari air ke daratan. Pada waktu berkembang biak, lumut masih memerlukan air, sperma memiliki flagela dan harus berenang dari anteridium ke arkegonium untuk membuahi sel telur. Pada beberapa spesies lumut, setetes air hujan atau embun sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya pembuahan. Dengan demikian, beberapa spesies lumut dapat hidup di gurun. Sebagian besar lumut tidak memiliki pembuluh (ada lumut tertentu yang memiliki sel pengangkut air yang memanjang), maka ketika air mengalir pada permukaan hamparan lumut, air akan meresap dan menyerap ke seluruh tubuh tumbuhan melalui proses difusi yang relatif lambat. Oleh karena itu, habitat yang umum untuk lumut adalah yang teduh dan lembap. Lumut dapat merentang secara horizontal sebagai hamparan di atas permukaan yang luas, tetapi tingginya hanya 1-2 cm, paling tinggi umumnya kurang dari 20 cm. Dalam siklus hidupnya lumut mengalami pergiliran keturunan (generasi) haploid dan diploid. Bryophyta mengalami dua fase dalam siklus hidupnya, yaitu fase gametofit dan sporofit. Fase gametofit adalah lumut yang biasa kita lihat sehari-hari. Dalam siklus hidupnya, fase gametofit lebih dominan dibandingkan fase sporofitnya. Hal ini bertolak belakang dengan tumbuhan berpembuluh (akan di bahas pada subbab selanjutnya) yang memiliki fase sporofit lebih dominan dibandingkan dengan fase gametofit. Gametofit merupakan lumut yang menghasilkan gamet (sel kelamin). Fase sporofit merupakan lumut yang berada dalam keadaan menghasilkan spora. Dalam siklus hidupnya, fase gametofit lebih dominan dibandingkan fase

sporofitnya. Hal ini bertolak belakang dengan tumbuhan berpembuluh (akan di bahas pada subbab selanjutnya) yang memiliki fase sporofit lebih dominan dibandingkan dengan fase gametofit. Bryophyta bereproduksi secara aseksual dan secara seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembentukan spora. Spora ini dihasilkan dari sporangium (kotak spora) melalui pembelahan secara meiosis. Spora yang dihasilkan adalah spora haploid (n). Spora ini kemudian akan tumbuh menjadi protonema. Adapun reproduksi secara seksual Bryophyta, yaitu dengan cara penyatuan gamet betina yang dihasilkan arkegonia berupa sel telur dan gamet jantan yang dihasilkan oleh antheridia berupa sperma. Sperma bergerak menuju sel telur di arkegonia dengan perantara air. Pertemuan sel telur dan sperma menyebabkan terjadinya fertiliasi yang menghasilkan zigot. Zigot membelah secara mitosis menjadi protonema. Protonema terus berkembang menjadi sporofit yang diploid (2n). Berikut bagan daur hidup lumut: Semua lumut merupakan tumbuhan autotrop fotosintetik, tak berpembuluh, tetapi sudah memiliki batang dan daun yang jelas dapat diamati meskipun akarnya masih berupa rizoid. Maka lumut dianggap sebagai peralihan antara tumbuhan thallus ke tumbuhan berkormus, karena memiliki ciri thallus berupa rizoid dan kormus yang telah menampakkan adanya bagian batang dan daun. Bryophyta tidak memiliki jaringan yang diperkuat oleh lignin, oleh karenanya memiliki profil yang rendah, tingginya hanya 12 cm dan yang paling besar tingginya tidak lebih dari 20 cm. Kondisi dasar hutan yang basah dan lembap di hutan hujan tropis merupakan habitat yang sangat cocok untuk habitat Bryophyta. Indonesia memiliki iklim tropis dan memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas, sehingga dapat menampung cukup banyak spesies anggota Bryophyta. Kurang lebih 1.500 spesies Bryophyta terdapat di Indonesia. Bryophyta (tumbuhan lumut) dibagi menjadi 3 kelas, yaitu: A. Lumut Hati (Hepaticeae) Gambar lumut hati(hepaticeae) Ciri-ciri lumut hati antara lain sebagai berikut: Ciri-ciri morfologi gametofit Hepaticee: Bentuk tubuh berupa lembaran dan banyak lekukan atau tepi bercuping (membelah dua). Memiliki struktur serupa akar (rizoid), batang dan daun (filoid). Mempunyai urat daun. Ciri-ciri anatomi gametofit Hepaticeae: Memiliki struktur higromorf, yaitu: dalam tubuhnya mempunyai rongga-rongga udara. Memiliki struktur xeromorf, yaitu: dalam tubuh terdapat alat penyimpan air

Mempunyai sel-sel minyak, berupa tetes minyak atsiri yang berfungsi mencegah terakumulasinya air berlebihan yang dapat merusak lumut. Daun hepaticeae mempunyai lobul-lobul untuk menyerap air. Dnding sel mengalami penebalan anguler( penebalan pada bagian sudut). Informasi tambahan gametofit Hepaticeae: Hidup di tempat dengan kelembaban tinggi dan tidak menerima sinar matahari langsung, misalnya : hutan, tepi sungai,di rawa. Berwarna hijau. Ciri- ciri morfologi sporofit Hepaticeae: Sporofit terdiri dari bagian kaki, tangkai (seta), dan kapsul. Cirri cirri anatomi sporofit Hepaticeae: Sel sel pada sporofit tidak berkloroplas. Masa hidup sporofit sangat singkat karena bersifat fragile ( rapuh). Spora yang berkecambah hanya berkembang menjadi suatu buluh yang pendek atau boleh dikatakan lumut hati tidak membentuk protonema. Reproduksi pada lumut hati terjadi secara: a. Aseksual : Fragmentasi : cabang-cabang yang bebas dapat tumbuh menjadi individu baru. Pembentukan kuncup eram, yang disebut dengan gemma, contoh: pada Marchanthia, , Lunularia dan Blasia Pembentukan tunas-tunas cabang, contoh Riccia fluitan, Targionia dan Reboulia Pembentukan umbi ( tuber), contohnya Petalophyllum, Anthoceros. Penebalan ujung talus, contohnya Anthalamia, b. Seksual : peleburan dua gamet yang berbeda. Lumut hati mengalami metagenesis ( pergiliran keturunan) Berikut bagan metagenesis lumut hati: Hepaticeae dibagi menjadi: 1. Ordo Marchantiales Ciri ciri : Gametofit berupa talus sederhana Struktur anatomi talus memperlihatkan difrensiasi jaringan, ada ruang udara dan poros. Gametangium letaknya tenggelam didalam talus, arkegonium mempunyai 6 sel saluran leher. Sporofit terdiri dari kapsul saja atau terdiri dari kaki, seta dan kapsul Ordo Marchantiales terdiri 6 famili yaitu Famili Ricciaceae contohnya Riccia fluitan Famili Corsiania contohnya Corsinia

Famili Targoniaceae contohnya Targonia Famili Marchantiaceae contohnya Marchantia Famili Monocleaceae contohnya Monoclea Famili Monocarpaceae contohnya Monocarpa 2. Ordo Spaerocarpales Ciri-ciri : Gametofit berupa talus sederhana Struktur anatomi talus tidak memperlihatkan difrensiasi jaringan, tidak ada ruang udara dan poros. Gametangium diselubungi involukrum, arkegonium mempunyai 6 sel saluran leher. Sporofit terdiri dari kaki, seta dan kapsul Contohnya Spaerocarpa 3.Ordo Jungermanniales Ciri-ciri : Gametofit berupa talus sederhana, Arkegonium diselubungi involukrum dan mempunyai 5 sel saluran leher Sporofit terdiri dari kapsul saja atau terdiri dari kaki, seta dan kapsul. Subordo Metzgerineae atau Anacrogynae Memuat golongan yang masih berupa talus sederhana, bentuknya seperti pita dan dorsiventral. Sporofit terletak disisi dorsal dan diliputi involukrum. Terdiri 7 famili yaitu : Famili Riccardiaceae contohnya Riccardia Famili Pelliaceae contohnya Pellia Famili Treubiaceae contohnya Treubia Famili Fossombroniaceae contohnya Fossombronia Famili Pallaviciniaceae contohnya Pallavicinia Famili Blasiaceae contohnya Blasias Famili Metzgeriaceae contohnya Metzgeria Subordo Jungermannineae atau Accrogynae Memuat golongan yang talusnya menyerupai batang dengan daun-daun menyerupai batang dengan daun tersusun dalam 3 deretan yaitu 2 deretan daun samping (daun lateral) dan satu deretan daun ventral (amfigastrum). Daun samping tersebut terbagi atas lobus dorsal dan lobus ventral. Daun yang melindungi aarkegonium disebut periketium atau periantium, sedang daun yang melindungi anteridium disebut Perigonium. Contoh. Jungermannia, Madontheca Ordo Calobryales Ciri-ciri Gametangium tidak mempunyai batang dengan daun-daun yang tersusun dalam 3 baris Gametangium terbenuk diujung batan, arkegonium mempunyai 4 sel saluran leher

Sporofit terdiri dari kapsul saja Contohnya Calobryum, Haplomitrium

B. Lumut Tanduk ( Anthocerotae)

Gambar lumut tanduk ( Anthocerotae) Ciri-ciri lumut tanduk antara lain sebagai berikut: Cirri cirri morfologi gametofit Anthocerotae: Gametofit berbentuk lembaran yang bertoreh. Gametofit dan sporofit menyatu. Gametangia( antheridium dan archegonium) terdapat dalam lekukan pada sisi dorsal. Ciri ciri anatomi gametofit Anthocerotae: Ada yang homotalik ( berumah dua) dan ada yang heterotalik (berumah satu). Tiap sel mengandung satu kloroplas dengan satu pirenoid yang besar. Pada bagian bawah talus( ventral ) terdapat stoma dengan dua sel penutup yang berbntuk seperti ginjal. Memiliki minyak yang berfungsi mencegah terakumulasinya air secara berlebihan yang akan merusak lumut. Ada yang homotalik ( berumah dua) dan ada yang heterotalik (berumah satu). Stoma berisi lendir. Ciri-ciri tambahan gametofit Anthocerotae: Hidup di tempat lembab, seperti di tepi sungai dan danau. Gametofit dan sporofit berwarna hijau. Ciri- ciri sporofit Anthocerotae: Sporofit berbentuk pipa memanjang ke atas, seperti tanduk. Di dalam tanduk dihasilkan spora. sporogonium terdiri atas kaki dan kapsul saja, tanpa seta. Kapsul berbentuk tanduk yang jika masak akan membelah secara membujur, sporofit membuka dari atas. Bagian pangkal sporofit membesar. Spora berkecambah tidak membentuk protonema.

TermasUk tumbuhan uniseksual, jadi berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Terdiri 1 ordo yaitu Ordo Anthocerotales. Contohnya : Anthoceros, Phaeoceros, Megaceros dan Denroceros .

C. Lumut Daun ( Musci )

Ciri- ciri Lumut Daun ( Musci ) sebagai berikut: Cirri-ciri morfologi Musci: Memiliki daun semu ( filoid ) dan batang semu ( kauloid ) yang tumbuh tegak. Pada bagian ujung batang terdapat pembentuk sl kelamin ( antheridium dan archegonium ). Mempunyai akar semu ( rizoid ) untuk menempl pada tempat hidupnya. Musci yang hidup di tempat yang berair banyak tidak memiliki kutikula yang tebal , agar tidak terjadi penguapan secara berlebihan. Sporofit dan gametofit menyatu. Lumut daun bersifat homotalik dan heterotalik. Pada lumut daun yg homotalik dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu : 1. Paroisis (paroicous), anteridia dan arkegonia terletak pada cabang yg sama tapi dalam kelompok yang berbeda 2. Autoisis (autoicous), bila anteridia dan arkegonia terletak pada cabang yang berbeda 3. Sinosis (sinoicous), apabila anteridia dan arkegonia terletak pada kelompok dan cabang yang sama. Ciri- ciri sporofit Musci: Spora lumut daun di tempat yang cocok berkecambah membentuk protonema, yang terdiri dari benang-benang berwarna hijau, banyak bercabang- cabang. Sporogonium terdiri atas kaki, seta dan kapsul. Kapsul lumut daun dibedakan menjadi bagian-bagian yang disebut : 1. Apofise, yang merupakan penggelembungan ujung seta.

2. 3.

Kotak atau teka, di dalamnya dibentuk spora. Tutup atau operkulum, ini tidak selalu ada pada lumut daun, antara tutup dan dinding kotak terdapat annulus. Informasi tambahan: Lumut daun dapat ditemukan ditempat lembab, tetapi ada juga ditempat yang kering seperti diatas pasir dan batu cadas. Ada juga yang terdapat di batang dan cabang pohon. Gametofit berwarna hijau. Sporofit berwarna coklat. Musci dibagi dalam 3 ordo yaitu : Sphagnales, Andreales dan Bryales.

a. Ordo Andriales Ordo Andreales hanya memuat satu suku, yaitu suku Andreaeceae, dengan satu marga Andreaea. Ciri-ciri: Daun ( filoid ) lebat tersusun spiral. Protonema berbentuk pita yang bercabang-cabang. Gametangium ( antheridium dan archegonium ) terdapat pada ujung cabang. Spora mempunyai tangkai ( seta/ sporangiofor), dan kapsul yang memiliki kolumela. Kapsul spora diselubungi dengan kaliptra yang jika sudah masak pecah menjadi 4 katup-katup. b. Ordo Sphagnales Ordo Sphagnales terdiri atas satu suku yaitu: Sphagnaceae, dan satu marga Sphagnum. Hidup di tempat berawa- rawa membentuk rumpun atau bantalan. Bagian atas tiap tahun bertambah luas, bagian bawah yang ada pada air mati membentuk gambut. Protonema tidak berbentuk benang, melainkan suatu badan berbentuk daun kecil, dengan tepi bertoreh, hanya terdiri dari satu sel saja. Batangnya banyak bercabang-cabang, cabang muda tumbuh tegak dan membentuk roset pada ujungnya. Daun yang tua terkulai menjadi pembalut bagian bawah batang. Kulit batang terdiri dari selapis sel-sel yang mati dan kosong. Bersifat spons dapat menyerap air. Sporogonium hanya membentuk tangkai pendek dengan kaki yang membesar. Kapsul spora berbentuk bulat, di dalamnya terdapat kolumela berbentuk setengah bola diselubungi oleh jaringan sporogen. c. Ordo Bryales Ciri-ciri: Kapsul spora telah mengalami diferensiasi yang maju. Sporangium bertangkai yang dinamakan seta di mana pangkalnya tertanam dalam jaringan tumbuhan gametofitnya. Bagian atas seta dinamakan apofisis.

Di dalam kapsul spora terdapat ruang-ruang spora yang dipisahkan oleh jaringan kolumela. Bagian atas dinding kapsul spora terdapat tutup (operculum), yang tepinya terdapat lingkaran sempit disebut cincin. Sel-sel cincin ini mengandung lendir sehingga dapat mengembang dan menyebabkan terbukanya operculum. Di bawah operculum terdapat gigi-gigi peristom. D. Alat dan Bahan Alat : 1. Lup 2. Alat tulis 3. Gambar pembanding 4. Mikroskop 5. Cutter 6. Pipet tetes Bahan : 1. Lumut hati 2. Lumut tanduk 3. Lumut daun. 4. Air E. Langkah kerja: Pengamatan morfologi: 1. Datang ke lokasi yang sudah ditentukan untuk melakukan pengamatan. 2. Cari sample lumut di lokasi pengamatan. 3. Bandingkan sample lumut yang ditemukan dengan gambar pembanding untuk mengetahui termasuk pada kelas apa sample lumut yang ditemukan. 4. Identifikasi ciri-ciri morfologi lumut yang ditemukan. Pengamatan anatomi: 1. Ambil sample lumut dari lapangan untuk diamati di laboratorium. a) Pengamatan gametofit Hepaticeae: Ambil sample lumut Hepaticeae. Potong bagian gametofit yang akan diamati dengan cutter. Taruh potongan gametofit lumut Hepaticeae pada kaca preparat. Ambil air dengan pipet tetes, lalu teteskan satu tetes air pada kaca preparat yang terdapat gametofit Hepaticeae yang akan diamati. Tutup obyek pengamatan yang ada pada kaca preparat dengan cover glass. Amati sample gametofit lumut Hepaticeae dengan mikroskop. Catat dan ambil foto hasil pengamatan.

b) Pengamatan gametofit Anthocerotae: Ambil sample lumut Anthocerotae. Potong bagian gametofit Anthocerotae yang akan diamati dengan cutter. Taruh potongan gametofit lumut Anthocerotae pada kaca preparat. Ambil air dengan pipet tetes, lalu teteskan satu tetes air pada kaca preparat yang terdapat gametofit Anthocerotae yang akan diamati. Tutup obyek pengamatan yang ada pada kaca preparat dengan cover glass. Amati sample gametofit lumut Anthocerotae dengan mikroskop. Catat dan ambil foto hasil pengamatan. c) Pengamatan sporofit Anthocerotae: Ambil sample lumut Anthocerotae. Potong bagian sporofit Anthocerotae yang akan diamati dengan cutter. Taruh potongan sporofit lumut Anthocerotae pada kaca preparat. Ambil air dengan pipet tetes, lalu teteskan satu tetes air pada kaca preparat yang terdapat sporofit Anthocerotae yang akan diamati. Tutup obyek pengamatan yang ada pada kaca preparat dengan cover glass. Amati sample sporofit lumut Anthocerotae dengan mikroskop. Catat dan ambil foto hasil pengamatan. d) Pengamatan gametofit Musci: Ambil sample lumut Musci. Potong bagian gametofit musci, yaitu bagian batangnya secara melintang dengan cutter. Taruh potongan gametofit musci pada kaca preparat. Ambil air dengan pipet tetes, lalu teteskan satu tetes air pada kaca preparat yang terdapat gametofit musci yang akan diamati. Tutup obyek pengamatan yang ada pada kaca preparat dengan cover glass. Amati sample gametofit lumut Musci dengan mikroskop. Catat dan ambil foto hasil pengamatan. e) Pengamatan sporofit Musci: Ambil sample lumut Anthocerotae. Potong bagian sporofit Musci, yaitu bagian kapsul spora yang akan diamati dengan cutter. Taruh potongan sporofit Musci pada kaca preparat. Ambil air dengan pipet tetes, lalu teteskan satu tetes air pada kaca preparat yang terdapat sporofit lumut Musci yang akan diamati. Tutup obyek pengamatan yang ada pada kaca preparat dengan cover glass. Amati sample sporofit lumut Musci dengan mikroskop. Catat dan ambil foto hasil pengamatan.

2. Susun klasifikasi lumut yang diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi dan anatomi masingmasing spesies.

F. Hasil Pengamatan Pengamatan morfologi : 1. Hepaticeae: Keterangan : Berwarna hijau Belum jelas bagian daun dan batangnya Berbentuk lembaran dengan tepi bercuping (dikotom) Anthocerotae: Keterangan : Gametofit dan sporofit berwarna hijau Belum jelas bagian daun dan batangnya Gametofit berbentuk lembaran dengan tepi bertoreh Sporofit melekat pada gametofit Sporogonium terdiri dari kaki dan seta tanpa kapsul Musci Keterangan : Gametofit berwarna hijau Memiliki daun dan batang yang tumbuh tegak Sporofit berwarna coklat. Sporofit melekat pada gametofit. Sporogonium terdiri dari bagian kaki, seta, dan kapsul.

2. 3.

Pengamatan anatomi: 1. Gametofit Hepaticeae: Foto hasil pengamatan Sel berbentuk segi 5/ 6 tak beraturan Keterangan : Sel-sel penyusunnya berwarna hijau Sel berbentuk segi 5 / 6 tak beraturan Dinding sel mengalami penebalan Gametofit Anthocerotae: Sel berbentuk segi 5

2.

3.

4.

Keterangan: Sel sel penyusunnya berwarna hijau. Sel berbentuk segi lima Sporofit Anthocerotae: Spora berbentuk oval Keterangan : Spora berbentuk oval atau bulat telur. Sel spora berwarna hijau transparan.
Sel berbentuk bulat sempurna Gametofit Musci: Ruang kosong pembuluh angkut Keterangan : Bentuk sel bulat. Sel berwarna hijau transparan. Terdapat ruang kosong pembuluh angkut. Sporofit Musci:

5.

Spora musci
Bentuk spora bulat sempurna

Sel sporangium berbentuk memanjang

G.

Keterangan : Bentuk sel sporangium memanjang. Sel sporangium berwarna hijau. Sel spora berbentuk bulat sempurna. Sel spora berwarna hijau kekuningan. Pembahasan Pengamatan morfologi dan anatomi gametofit Hepaticeae: Percabangan dikotom Ciri-ciri morfologi Hepaticeae: Berwarna hijau Belum jelas bagian daun dan batangnya Berbentuk lembaran dengan tepi bercuping (dikotom) Sel berbentuk segi 5/6 tidak baeraturan Ciri-ciri anatomi gametofit Hepaticeae: Sel-sel penyusunnya berwarna hijau Sel berbentuk segi 5 / 6 tak beraturan Dinding sel mengalami penebalan Klasifikasi Hepaticeae: Kingdom: Plantae Divisio : Pterdophyta Kelas : Hepaticosida Ordo : Hepaticoceales Family : Hepaticoceae Genus : Hepaticopsida Spesies : Hepaticopsida sp

Pengamatan morfologi dan anatomi Anthocerotae: Ciri ciri morfologi Anthocerotae: Gametofit dan sporofit berwarna hijau Belum jelas bagian daun dan batangnya Gametofit berbentuk lembaran dengan tepi bertoreh Sporofit melekat pada gametofit Sporogonium terdiri dari kaki dan seta tanpa kapsul Sel berbentuk segi 5 Ciri ciri anatomi gametofit Anthocerotae: Sel sel penyusunnya berwarna hijau. Sel berbentuk segi lima

Spora berbentuk oval Ciri- ciri anatomi spora Anthocerotae: Spora berbentuk oval atau bulat telur. Sel spora berwarna hijau transparan. Klasifikasi Anthocerotae: Kingdom: Plantae Divisio : Pterdophyta Kelas : Antheceroptopsida Ordo : Antheceroptoceales Family : Antheceroptoceae Genus : Antheceroptopsida Spesies: Antheceroptopsida sp

Pengamatan morfologi dan anatomi Musci Ciri ciri morfologi musci: Gametofit berwarna hijau Memiliki daun dan batang yang tumbuh tegak Sporofit berwarna coklat. Sporofit melekat pada gametofit.
Ruang kosong pembuluh angkut Sporogonium terdiri dari bagian kaki, seta, dan kapsul. Sel berbentuk bulat Ciri ciri anatomi musci: Bentuk sel bulat. Sel berwarna hijau transparan. Terdapat ruang kosong pembuluh angkut. Spora berbentuk Sel sporangium berbentuk memanjang Ciri ciri anatomi sporofit Musci: Bentuk sel sporangium memanjang. Sel sporangium berwarna hijau. Sel spora berbentuk bulat sempurna. Sel spora berwarna hijau kekuningan.

Klasifikasi Musci : Kingdom : Plantae Division : Bryophyta

H. 1.

2. 3. 4. 5.

6. 7.

Kelas : Bryopsida Ordo : Bryopceales Family : Bryopceae Genus : Bryopsida Spesies : Bryopsida sp Kesimpulan Sel gametofit Hepaticeae dan Anthocerotae berbentuk segi enam, keduanya mempunyai bentuk yang sama karena struktur morfologi gametofit Hepaticeae dan Anthocerotae mempunyai bentuk yang hampir sama yaitu berbentuk lembaran. Sehingga pada bentuk sel penyusun Hepaticeae dan Anthocerotae mempunyai kesamaan. Sel gametofit Hepaticeae dan Anthocerotae berwarna hijau menunjukkan pada gametofit Hepaticeae dan Anthocerotae mengandung kloroplas. Sel gametofit Hepaticeae terlihat mengalami penebalan pada dinding selnya, pada sel gametofit Anthocerotae belum mengalami penebalan pada dinding selnya. Spora pada Anthocerotae berbentuk oval atau bulat telur dan berwarna hijau. Bentuk sel pada gametofit Musci berbeda dengan bentuk sel gametofit Hepaticeae dan Anthocerotae, yaitu bentuk sel gametofit Musci bulat. Karena secara stuktur morfologi sangat berbeda dari Hepaticeae dan Anthocerotae, maka sel penyusunnya juga mempunyai bentuk yang berbeda. Gametofit musci yang diamati adalah bagian batang Musci maka pada pengamatan terlihat terdapat ruang kosong yang menunjukkan adanya jaringan pembuluh angkut. Gametofit Musci berwarna hijau menunjukkan adanya kloroplas pada gametofit Musci, sehingga dapat melakukan fotosintesis atau bersifat autotrof.

DAFTAR PUSTAKA Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB. Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Kimball, J. W. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga. Notji, A. 1981.Biologi Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan. Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga. Soeratman. 1999. Penggelompokan Tumbuhan Bryophyta. Jakarta: Erlangga. Ariyanto. 2000. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga