Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ILMU PEGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DALAM PANDANGAN ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam

Oleh : Abdul Aziz Gustrian Priatmojo Ninda Nuralimah Sarah Hafitriani [1105380] [1101703] [1101815] [1105437]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2014

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat dan hidayat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tugas Seminar Pendidikan Agama Islam ini. Tidak lupa juga shalawat serta salam kami panjatkan untuk baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang dengan perjuangannya telah membawa umat islam dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh ilmu pengetahuan seperti saat ini. Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah yang menjelaskan hubungan antara islam dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Adapun judul makalah ini yaitu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pandangan Islam. Melalui makalah ini, pembaca dapat mempelajari IPTEK menurut pandangan islam mulai dari sejarah hingga dampaknya sampai saat ini. Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapat bantuan dari beberapa pihak. Sehingga ini merupakan saat yang tepat untuk mengucapkan terima kasih kepada : Drs. H. Wahyu Wibisana, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam. Orang tua yang telah banyak mendukung penulis dalam bentuk doa, dukungan moral, materi dsb. Teman-teman Pendidikan Ilmu Komputer kelas B-2011 yang telah memberikan dukungan serta masukan agar penulis terus memperbaiki diri. Tentunya untuk semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena keterbatasan penulis. Sebagai manusia, penulis tidak luput dari kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Penulis mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Karena sesungguhnya kebenaran itu hanya milik Allah SWT. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi amal jariyah untuk penulis dan semua pihak yang terlibat. Bandung, Februari 2014 Tim Penulis
i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i DAFTAR ISI ..................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1 1.2 Tujuan................................................................................................................... 2 1.3 Rumusan Masalah ................................................................................................ 2 BAB I PEMBAHASAN ................................................................................................ 3 2.1 Sejarah Peradaban IPTEK dalam Islam ............................................................... 3 2.1.1 Kejayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyah ...................................................... 5 2.1.2 Kegemilangan IPTEK di Masa Khilafah Abassiyah ..................................... 6 2.2 Ilmuwan-Ilmuwan Muslim dan Perannya ............................................................ 8 2.3 Keutamaan Mukmin yang Berilmu ...................................................................... 8 2.4 Pandangan Islam terhadap IPTEK ..................................................................... 18 2.5 Dampak Kemajuan Islam di Bidang IPTEK ...................................................... 20 2.5.1 Dampak di Timur Tengah............................................................................ 20 2.5.2 Dampak di Eropa ......................................................................................... 21 2.5.3 Dampak di Indonesia ................................................................................... 22 BAB II PENUTUP ....................................................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 25

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Islam adalah agama yang sempurna, ia tak hanya berkutat tentang masalah keimanan, ibadah dan muamalah. Lebih jauh dari itu Islam sebagai landasan pijak ber-muamalah telah berkembang jauh sesuai dengan perkembangan zaman dan tentu saja akal dan kebutuhan manusia. Dari sinilah Islam kemudian menyumbangkan peradaban tinggi di bidang keilmuan, yang entah bagaimana amat jarang ditulis orang, padahal hasil fikir Islam-lah yang mengantar dunia barat memasuki era pencerahannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat mempermudah manusia untuk melakukan berbagai hal. Seseorang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena manusia memiliki akal dan pikiran dan menggunakannya untuk menyelesaikan setiap masalah. Untuk membantu perkembangan suatu negara, Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan untuk menciptakan produk teknologi. Peradaban islam yang pada zamannya pernah mengalami masa kejayaan mengantarkan dunia membuka jendala ilmu pengetahuan untuk mempelajari alam Berpedoman AL-Quran dan Hadits Islam memberikan kontribusi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga, saat ini aspek-aspek kehidupan mampu berkembang dengan pesat beriringan dengan pergerakan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyebab utama yang melakukan perubahan tersebut. Perubahan yang disebabkan oleh teknologi berpengaruh kepada perubahan segala peradaban dan kebudayaan di negara tersebut. Perubahan ini memberikan dampak yang amat besar terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat, khususnya kebudayaan yang dianut oleh mayarakat timur maupun barat. Dengan perubahan-perubahan yang terjadi tentu saja menyebabkan
1

adanya dampak positif dan dampak negatif bagi negara itu sendiri maupun bagi masyarakat yang ada di dalamnya. Perubahan mendasar yang tertanam adalah perlahan-lahan teknologi mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat dengan segala image yang menjadi ciri khas masyarakat tersebut. 1.2 Tujuan Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca bahwa pada zaman dahulu kala islam pernah berjaya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, yang kemudian melahirkan ilmuwanilmuwan besar yang hasil karyanya diadopsi oleh kaum barat. Selain itu, dalam makalah ini juga disematkan beberapa ayat-ayat al-Quran serta hadist mengenai keutamaan ilmu, supaya pembaca dapat mengetahui bahwa islam sangat mendukung ilmu pengetahuan dan sangat memuliakan orang-orang yang berjuang menuntut ilmu. 1.3 Rumusan Masalah Beberapa rumusan masalah yang dapat penulis tuangkan dalam makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana sejarah peradaban IPTEK dalam Islam? 2. Siapa saja ilmuwan-ilmuwan muslim beserta peranan atau karyanya yang mendunia? 3. Bagaimana keutamaan ilmu yang tertuang dalam Al-Quran dan Hadits? 4. Bagaimana pandangan islam terhadap IPTEK? 5. Apa dampak dari kemajuan IPTEK terhadap Islam?

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Peradaban IPTEK dalam Islam Masa kejayaan islam bermula saat Rasulullah mendirikan

pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Tongkat kepemimpinan bergantian dipegang oleh Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan seterusnya. Di masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Perluasan wilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Penaklukan wilayah-wilayah, adalah sebagai bagian dari upaya untuk menyebarkan Islam, bukan menjajahnya. Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian tertarik kepada Islam. Satu contoh menarik adalah tentang Futuh Makkah (penaklukan Makkah), Rasulullah dan sekitar 10 ribu pasukannya memasuki kota Makkah. Kaum Quraisy menyerah dan berdiri di bawah kedua kakinya di pintu Kabah. Mereka menunggu hukuman Rasul setelah mereka menentangnya selama 21 tahun. Namun, ternyata Rasulullah justru memaafkan mereka. Fakta ini cukup membuktikan betapa Islam mampu memberikan perlindungan kepada penduduk yang wilayahnya ditaklukan. Karena perang dalam Islam memang bukan untuk menghancurkan, tapi memberi kehidupan. Dengan begitu, Islam tersebar ke hampir sepertiga wilayah di dunia ini. Pencerahan pun terjadi di segala bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.
3

Orientalis Sedillot seperti yang dikutip Mustafa as-Sibai dalam Peradaban Islam, Dulu, Kini, dan Esok, mengatakan bahwa, Hanya bangsa Arab pemikul panji-panji peradaban abad pertengahan. Mereka melenyapkan barbarisme Eropa yang digoncangkan oleh serangan-serangan dari Utara. Bangsa Arab melanglang mendatangi sumber-sumber filsafat Yunani yang abadi. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi pengkajian alam. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin. Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella. Peradaban Islam memang peradaban emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam. Umat Islam menghidupkan ilmu, mengadakan penyelidikan-

penyelidikan. Fakta sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah datang ke Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain lagi.

2.1.1 Kejayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyah Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah. Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia. The House of Wisdom/Bay al-Hikmah adalah lembaga yang dibangun khusus untuk penerjemahan buku peninggalan Yunani dan Persia. Dr. Mx Meyerhof yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut: Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di malam gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan renaissance. Karena itulah Islam menjadi biang gerak besar, yang dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita menyatakan, Islam harus tetap bersama kita. (Oemar Amin Hoesin).

Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui

sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya. Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam. 2.1.2 Kegemilangan IPTEK di Masa Khilafah Abassiyah Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (9801037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.

Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1. Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalanpeninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada. Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Saat itu, kata Lutfi, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna. Sebelum Islam datang, kata Luthfi, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahyul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan, jelas Luthfi.

Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama manzanik, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab. Kemudian karena beberapa hal islam jatuh ke tangan barat dan khilafah islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Meski begitu, banyak upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan islam. Seperti yang dikatakan Kholil Ridwan ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan islam di masa lampau. Pertama, merapatkan barisan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 :


Artinya: Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. Kedua, kembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya. Terakhir, dengan mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam. 2.2 Ilmuwan-Ilmuwan Muslim dan Perannya Berbicara mengenai IPTEK tentunya kita juga harus berbicara tentang penemunya. Konstribusi ilmuwan muslim dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu alam (natural science;ilmu kauniyah) amatlah besar, sehingga usaha menutupinya, memperkecil perannya, mengaburkan sejarahnya tidak sepenuhnya berhasil. CIPSI (Center for Islamic Philosophical Studies an Information) sebuah lembaga penelitian yang dipimpin Mulyadhi Kartanegara
8

telah menginvertaris setidaknya ditemukan tidak kurang 756 ilmuwan Muslim termuka yang memiliki konstribusi dalam perkembangan sains dan pemikiran filsafat. Daftar ini baru tahap awal dan tidak termasuk di dalamnya ribuan ulama dalam disiplin ilmu-ilmu shariyyah. Saat ini, sangat banyak rujukan berupa buku, jurnal ilmiah atau situs internet, yang bisa kita gunakan untuk mengetahui informasi ini. Bahkan ada beberapa lembaga yang khusus didirikan untuk melakukan inventarisasi kontribusi ilmuwan muslim dalam peradaban dunia. Namun sayangnya sejarah kegemilangan ilmuwan muslim ini amatlah langka kita temui dalam buku-buku sains di lingkungan sekolah dan akademik. Sejarah sains biasanya disebutkan dimulai sejak zaman Yunani Kuno kira-kira 550 SM pada masa Phytagoras, kemudian meredup pada zaman Hellenistik sekitar 300 SM yang dipenuhi mitos dan tahayul, kemudian bangkit kembali pada masa Renaissance sekitar abad 14-17 M hingga saat ini. Dengan demikian sejarah sains hilang selama lebih dari 1500 tahun lamanya dari buku-buku pelajaran dan buku teks sains. Ada diantara kaum Muslim sendiri memandang usaha untuk mengungkap sejarah sains dan penemuan ilmuwan Muslim sebagai usaha yang bersifat nostalgia semata. Namun pandangan sinis seperti ini tidaklah benar, sebab menemukan akar sejarah adalah penting bagi peradaban manapun di dunia ini, terlebih bagi peradaban yang ingin bangkit dari keterpurukan. Kamera merupakan salah satu teknologi yang lahir dari ilmu pengetahuan. Namun, banyak pelajar, mahasiswa atau bahkan guru dan dosen Muslim yang mungkin tak kenal sama sekali, bahwa perkembangan teknologi kamera tak bisa dilepaskan dari jasa seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, yaitu Ibn al-Haytham (965-1040M). Ia adalah seorang pakar optik dan pencetus metode eksperimen. Bukunya tentang teori optik, alManadir (book of optics), khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snellius dalam bentuk yang lebih matematis. Tak tertutup kemungkinan, teori Newton juga dipengaruhi oleh al-Haytham, sebab pada Abad Pertengahan Eropa, teori optiknya sudah sangat dikenal. Karyanya banyak dikutip ilmuwan Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Isaac Newton dan Galileo Galilei,
9

menggabungkan teori al-Haytham dengan temuan mereka. Juga teori konvergensi cahaya tentang cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya yang ditemukan oleh Newton, juga telah diungkap oleh al-Haytham abad ke11 dan muridnya Kamal ad-Din abad ke-14. Al-Haytham dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau pinhole camera. Kata kamera sendiri, konon berasal dari kata qamara, yang bermaksud yang diterangi. Kamera al-Haytham memang berbentuk bilik gelap yang diterangi berkas cahaya dari lubang di salah satu sisinya. Dalam alat optik, ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1292) menyederhanakan bentuk hasil kerja al-Haytham, tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan, dan pada waktu bersamaan kacamata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwarizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad. Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi. Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata algorisme dan algoritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit. Ilmuwan Muslim lain, Abd ar-Rahman Al-Khazini (abad ke-11 sampai abad ke-12), saintis kelahiran Bizantium atau Yunani adalah seorang
10

penemu jam air sebagai alat pengukur waktu. Para sejarawan sains telah menempatkan al-Khazini dalam posisi yang sangat terhormat. Ia merupakan saintis Muslim serba bisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika dan filsafat. Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman. Al-Khazani juga seorang ilmuwan yang telah mencetuskan beragam teori penting dalam sains. Ia hidup di masa Dinasti Seljuk Turki. Melalui karyanya, Kitab Mizan al-Hikmah, yang ditulis pada tahun 11211122M, ia menjelaskan tentang teori hidrostatik, bobot, teori gravitasi, pandangan Archimedes dan Menelaus tentang hidrostatik, berat jenis material yang berbeda, dan astronomi, serta ia menunjukkan bahwa berat udara berkurang menurut ketinggian. Salah satu ilmuwan Barat yang banyak terpengaruh adalah Gregory Choniades, astronomYunani yang meninggal pada abad ke-13. Nama lain yang sangat terkenal adalah Abu Rayhan al-Biruni (9731048M) dalam Tahdad Hikayah Al-Makan. Ia adalah penemu persamaan sinus dan menyusun sebuah ensiklopedi Astronomi Al-Qanan Al-Maadiy, di dalamnya ia memperkenalkan istilah-istilah ilmu Astronomi (falak) seperti zenith, ufuk, nadir, memperbaiki temuan Ptolemeus, dia juga mendiskusikan tentang hipotesis gerak bumi. Ia menuliskan bahwa bumi itu bulat dan mencatat daya tarik segala sesuatu menuju pusat bumi, dan mengatakan bahwa data astronomis dapat dijelaskan juga dengan menganggap bahwa bumi berubah setiap hari pada porosnya dan setiap tahun sekitar matahari. Ilmuwan lain lagi bernama Al-Battani atau Abu Abdullah atau Albategnius (850-929M). Ia mengoreksi dan memperbaiki sistem astronomi Ptolomeus, orbit matahari dan planet tertentu. Ia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan, mendisain catalog bintang, merancang jam matahari dan alat ukur mural quadrant. Karyanya De scientia stellarum, dipakai sebagai rujukan oleh Kepler, Copernicus, Regiomantanus, dan Peubach. Copernicus mengungkapkan hutang budinya terhadap al-Battani.

11

Kemudian Nasir ad-Din Tusi (1201-1274M), pada abad ke 12 masehi mendirikan sebuah observatorium di Maragha, sebuah tempat yang terletak di Asia kecil. Dari observatorium ini ia dapat memperbarui ilmu bintang. Dibuatnya jadwal perjalanan bintang baru yang dinamai Elkhaniah, sebagai penghormatan kepada raja Mongol yang telah memberikan sokongan untuk mendirikan observatorium itu. Yang sangat menakjubkan adalah sebuah peralatan yang merupakan sebuah bola berputar yang disusun atas berbagai cincin. Bola ini digunakan untuk menentukan tiap-tiap bintang dicakrawala. Hal ini merupakan impian orang-orang pandai semenjak dahulu kala. Plotemy dan orang-orang pandai Alexandria telah pernah mencobanya namun belum pernah berhasil. Selain itu, ada pula cincin-cincin dan gelang-gelang untuk mengukur gerhana bulan, ada pula untuk gerhana matahari dan ada pula untuk mengukur khatulistiwa. Ketika itu sudah terbit Katalog dan tabel-tabel bintang berjudul Zijd-I Djadid Sultani yang memuat 992 posisi dan orbit bintang. Tabel ini masih dianggap akurat sampai sekarang, terutama tabel gerakan tahunan dari 5 bintang terang yaitu Zuhal (Saturnus), Mustary (Jupiter), Mirikh (Mars), Juhal (Venus), dan Attorid (Merkurius). Kitab ini sudah mengkoreksi pendapat Ptolomeus atas magnitude bintang-bintang. Banyak kesalahan perhitungan Ptolomeus. Hasil koreksi perhitungan terhadap waktu bahwa satu tahun adalah 365 hari, 5 jam, 49 menit dan 15detik, suatu nilai yang cukup akurat. Dalam bidang pengobatan dan kedokteran, peradaban Islam

mencatatkan sejarah yang gemilang, hal ini disebabkan karena pengobatan sangat erat kaitannya dengan agama (Nasr, 1976) . Berbagai bidang dalam ilmu pengobatan dan kedokteran dipelajari, seperti ilmu obat-obatan, ilmu bedah, ophtamology, internal medicine, hygiene dan kesehatan masyarakat, anatomi dan fisiology, bahkan dalam Islam terdapat disiplin ilmu yang khas yang disebut dengan Tib an-Nabawy atau pengobatan cara Nabi. Sebagai contoh, misalnya karya monumental Ibn Sina (980-1037M) al-Qanun fi atTib yang merupakan buku teks bagi bagi pendidikan kedokteran di Eropa selama beratus-ratus tahun sebelum mereka mengalami kebangkitan sains.
12

Dalam bidang ilmu bedah ada tokoh ilmu bedah Abul Qasim alZahrawi dengan karya ilmu bedahnya Kitab al-tarif (The book of concession), ia juga menciptakan berbagai alat bedah yang masih digunakan para dokter bedah hingga saat ini. Dua ahli kedokteran ar-Razi (865-925M) atau Rhazes dan Ibn Sina (980-1037M) adalah pelopor dalam bidang penyakit menular. Ar-Razi telah mempelopori penemuan ciri penyakit menular dan memberikan penanganan klinis pertama terhadap penyakit cacar, dan Ibn Sina adalah salah satu pelopor yang menemukan penyebaran penyakit melalui air. Ilmuwan muslim berikutnya adalah Ibnu al-Nafis (1213-1288M) yang diberikan gelar oleh penggemarnya sebagai The Second Advisenna atau Ibnu Sina Kedua karena reputasinya sebagai dokter yang terkemuka dan merupakan seorang penulis serba bisa pada abad VII H/ XII M. Nama lengkapnya adalah Alauddin Abu al-Ala Ali ibn Al-Haram al-Kurasyi alDimasyki ibn Nafis. Lahir di Damaskus, wafat di kairo tahun 687 H/ 1288 M. Karya-karya besar yang dihasilkan beliau diantaranya adalah: 1. Kitab As-Syamil fi-Athibb, sebuah ensiklopedi kedokteran lengkap yang terdiri dari 27.000 folio yang tersebar dalam 8 jilid tebal 2. Kitab Al-Muhadzdzab fi Al-Kuhl, sebuah buku yang mencakup hampir seluruh cabang ilmu kedokteran Arab pada saat itu. 3. Mujiz Al-Qanun, sebuah intisari lengkap buku Qanun Ibnu Sina, kecuali masalah anatomi (ilmu urai tubuh) dan fisiologi (ilmu faal tubuh) yang ta termasuk kedalamnya. Dari sekian banyak karyanya itu, teori the lesser or pulmonary circulation of the blood tercatat sebagai prestasi paling gemilang dalam kedokteran. Teori ini secara tajam bertolak belakang dengan gagasan Galenus yang waktu itu telah diterima luas oleh umum. Teorinya juga mendahului penemuan fundamental William Harvey sehingga tidak berlebihan apabila George Santon menyebutnya sebagai ahli fisiologi terbesar pada abad pertengahan.

13

Ibnu Ismail Al-Jazari (1136-1206M), ilmuwan muslim asal Al-Jazira, sebuah kawasan di sebelah utra Mesopotamia (sebelah utara Irak dan timur Laut Syiria). Ia merupakkan ahli mekanik (ahli mesin), selama ia hidup ia telah membuat mesin penggilingan, jam air, pompa hidrolik dan mesin-mesin otomatis yang menggunakan air sebagai penggeraknya, Al-Jazari sebenarnya telah mengenalkan ilmu automatisasi. Pada tahun 1206, Al-Jazari telah mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram, jauh sebelum Leonardo da Vinci dari Italia sanggup merancang robotnya pada tahun 1478, yang selama ini diklaim sebagai perintis robot pertama. Prinsip automasi humanoid inilah yang telah mengilhami pengembangan robot saat ini. Mesin robot yang diciptakan oleh Al-Jazari kala itu berbentuk perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi oleh empat robot pemain musik, dua penabuh drum, seorang pemetik harpa dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam suatu acara jamuan minum. Untuk menggerakkan robot manusia tersebut, Al-Jazari menggunakan tenaga air (hidrolik) dengan cerdik. Lantaran kecerdikannya itulah, dunia mengakui penemuannya, hingga ia dikenal sebagai Bapak Robot. Mengungkap seluruh kontribusi ilmuwan Muslim dalam ruang yang begitu terbatas dalam makalah ini merupakan hal yang tidak mungkin, namun sekurang-kurangnya adalah gambaran yang diberikan di atas dan referensi yang bisa ditelusuri lebih lanjut bisa menambah pengetahuan kita tentang sejarah ilmu pengetahuan di dunia Islam. Prestasi dan kontribusi para ilmuwan Muslim ini perlu dikenalkan di sekolah-sekolah. Bukan untuk mengecilkan peran ilmuwan lain dari agama dan keyakinan lain. Tapi untuk mengungkap kebenaran sejarah sains, bahwa perkembangan sejarah sains tidak meloncat begitu saja dari zaman Yunani ke Barat modern. Ada peran luar biasa dari peradaban Islam di situ yang tidak mungkin dan terlalu besar untuk diabaikan.

14

2.3 Keutamaan Mukmin yang Berilmu Jika kita mulai membahas mengenai ilmuwan-ilmuan islam maka tentunya akan ada sangkut pautnya dengan ilmu pengetahuan yang membawa mereka menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Didalam Al-Quran yang merupakan pedoman hidup umat islam terdapat banyak ayat yang memaparkan betapa pentingnya ilmu untuk kita pelajari. Tentu bukan hanya untuk kepentingan dunia saja namun juga untuk kepentingan akhirat. Berikut ini merupakan ayat-ayat Allah yang mengungkapkan keutamaan ilmu dan juga iman :

...
Artinya : Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar [39] : 9).


Artinya : Allah berikan al-Hikmah (Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat dan kearifan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, benar-benar ia telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (berdzikir) dari firman-firman Allah. (Q.S. Al-Baqoroh [2] : 269).

15

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Mujaadilah [58] :11) Didalam beberapa hadis juga dikemukakan mengenai keutamaan ilmu, beberapa hadis diantaranya adalah sebagai berikut: Rasulullah saw. pernah bersabda:

Artinya: Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu. (HR. Turmudzi)

Dari Abud Darda` radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan

16

(menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak. (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683, dan isnadnya hasan, lihat Jaamiul Ushuul 8/6) Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang dia dengar, maka kadang-kadang orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya. (HR. At-Tirmidziy no.2659 dan isnadnya shahih, lihat Jaamiul Ushuul 8/18) Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Artinya : Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang

17

bermanfaat, atau seorang anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim no.1631). Dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadis di atas dapat tergambarkan betapa dimuliakannya orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang sedang berjuang untuk menuntut ilmu. Apalagi jika kita dapat menuangkan ilmu tersebut menjadi sebuah karya dan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Dan teknologi merupakan sebuah perwujudan dari ilmu yang bila dugunakan secara bijak akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup atau bahkan dapat memajukkan kesejahteraan suatu bangsa. Terdapat tiga alasan pokok yang membuat kita harus menguasai IPTEK, yakni: 1. Ilmu pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negaranegara barat. Sehingga pada akhirnya kita sebagai umat muslim harus berkiblat ke Barat dalam hal teknologi. 2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan IPTEK di negara-negara Islam. Karena Negara-negara barat merasa apabila Islam kembali berjaya dalam pengembangan teknologi, maka akan memberikan dampak negative bagi peradaban mereka. 3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan kemajuan IPTEK-nya, misalnya umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri.

2.4 Pandangan Islam terhadap IPTEK Adakalanya setiap orang memandang suatu hal dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Begitu juga dengan IPTEK. IPTEK dilihat dari pandangan islam, terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 31 :

18


Artinya : Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian diperintahkan kepada malaikat-malaikat, seraya berfirman Sebutkan kepadaku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar. Dari ayat di atas yang dimaksud nama-nama adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam semesta. Adanya potensi tersebut, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam untuk membangkang pada perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu menghantarkan pada manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam itu merupakan buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Quran memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah. Dengan begitu manusia dapat terus mengembangkan teknologi dan islam dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi dari manapun sumbernya. Ahmad Y. Samantho dalam makalah di ICAS Jakarta (2004) mengatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material yang dihasilkan oleh perkembangan IPTEK modern membuat banyak orang mengagumi dan meniru gaya hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya. Kemajuan teknologi yang di dominasi oleh budaya barat tidak sepenuhnya baik untuk kita. Kemajuan tersebut malah membuat krisis multidimensional yang lepas dari kendali nilai moral Ketuhanan dan Agama.
19

Negara Indonesia ini termasuk negara berkembang yang lemah dalam menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan negara Indonesia ini mayoritas penduduknya adalah umat Muslim. Namun sayangnya Muslim di negara Indonesia ini masih lemah akan pengetahuan dan teknologi yang membuat beberapa diantara mereka menjadi hamba budaya dan pengikut kepentingan negara-negara barat. Negara-negara barat menyerap nilai-nilai ideologi, budaya materialis dan sekular melalui kemajuan teknologi dan media komunikasi barat. Umat islam yang mewarisi ajaran Ilahiah peradaban dan IPTEK islam di masa lalu kini terpuruk di negaranya sendiri. Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam minyak dan gas bumi, tapi ironisnya justru kita sendiri mengalami krisis dan kelangkaan ditengah keberlimpahan hasil-hasil yang ada di Indonesia. Islam sangat mendorong umatnya untuk memperlajari, mengamati dan memahami segala kejadian di alam semesta, itu artinya islam sangat mementingkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun dalam pandangan dunia barat, mereka hanya mementingkan kepentingan duniawi. Dalam islam, agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat terlepas satu sama lain. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif. Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah SAW yang dipelajari melalui agama adalah sama-sama ayat-ayat Allah SWT yang tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta. 2.5 Dampak Kemajuan Islam di Bidang IPTEK 2.5.1 Dampak di Timur Tengah Ilmu pengetahuan tidak lepas dari pengaruh ilmuwan muslim pada abad pertengahan. Orang-orang islam di timur tengah mendapatkan kejayaan dimana banyak orang-orang luar Arab yang belajar dan datang ke kota Baghdad untuk memperoleh pengetahuan.
20

Faktor

yang menyebabkan Islam dapta berkembang peasat di Arab

Saudi di samping karena dukungan pemeritah juga karena faktor kesejarahan basis umat Islam sejak masa Nabi SAW, juga karena Arab saudi menjadi terminal berbagai informasi pembaruan dan perekmbangan Islam di negara-negara lain, termasuk corak pembaruan dan perekembangan Islam di Indonesia. Ada kaitannya dengan Arab saudi sebagai tempat belajar para ulama Indonesia di masa lalu, masa sekarang. Kehadiran Islam di Eropa Spanyol membawa dampak positif dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, terutama dalam aspek peradaban dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal ini telah menimbulkan semangat orang barat dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang dibawa oleh Islam. Al hasil. maka banyaklah orang barat yang menguasai ilrnu pengetahuan dari Islam. seperti ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (minerologi, meteorology (karya Al Khazini), dan sebagainya.Sedangkan dibidang teknologi adalah orang barat bisa membuat berbagai macam alat industri yang dihasilkan dari observasi atau penelitian.

2.5.2 Dampak di Eropa Dampak kemajuan islam dibidang IPTEK salah satunya di negara Eropa. Disana terdapat satu lembaga yang mengikuti fenomena kencenderungan perpindahan agama. Negara Eropa yang cenderung beragama katolik mengadakan sebuah pertemuan di Gereja yang membahas mengenai pertumbuhan pesat agama islam di Eropa. Ada beberapa yang menyatakan bahwa untuk mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap islam dan umatnya, namun ada kalangan lain yang lebih objektif dan rasional mengatakan bahwa karena kedua agama tersebut mempercayai satu Tuhan dan sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan diantara keduanya.

21

Terdapat kesadaran di negara Eropa dengan dibuktikannya oleh para peneliti bahwa terdapat peningkatan jumlah Muslim di Eropa. Yang lebih menonjol adalah kesadaran dari kalangan mahasiswa universitas. 2.5.3 Dampak di Indonesia Bagi Indonesia sendiri, Islam memberikan peranan penting. Banyak pengetahuan yang berasal dari islam diadopsi oleh Indonesia sebagai negara yang juga mayoritas penduduknya menganut islam. Islam berpengaruh besar di negara Indonesia baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi maupun di bidang kebudayaan. 1. Pengaruh Bahasa dan Nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Bahasa Arab sudah banyak menyatu dalam kosa kata bahasa Indonesia, contohnya kata wajib, fardu, lahir, bathin, musyawarah, surat, kabar, koran, jual, kursi dan masker. Dalam hal nama juga banyak dipakai nama-nama yang berciri Islam (Arab) seperti Muhammad, Abdullah, Anwar, Ahmad, Abdul, Muthalib, Muhaimin, Junaidi, Aminah, Khadijah, Maimunah, Rahmillah, Rohani dan Rahma. 2. Pengaruh Budaya, Adat Istiadat dan Seni Kebiasaan yang banyak berkembang dari budaya Islam dapat berupa ucapan salam, acara tahlilan, syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam hal kesenian, banyak dijumpai seni musik seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan shalawat. Kita juga melihat pengaruh di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia yang banayak dipengaruhi oleh arsitektur masjid yang ada di wilayah Timur Tengah. 3. Pengaruh dalam Bidang Politik Pengaruh ini dapat dilihat dalam sistem pemerintahan kerajaankerajaan Islam di Indonesia seperti konsep khilafah atau kesultanan yang
22

sering kita jumpai pada kerajaan- kerajaan seperti Aceh, Mataram. Demak, Banten dan Tidore. 4. Pengaruh dalam Bidang Ekonomi Daerah-daerah pesisir sering dikunjungi para pedagang Islam dari Arab, Parsi,dan Gujarat yang menerapkan konsep jual beli secara Islam. Juga adanya kewajiban membayar zakat atau amal jariyah yang lainnya, seperti sedekah, infak, waqaf, menyantuni yatim, piatu, fakir dan miskin. Hal itu membuat perekonomian umat Islam semakin berkembang

23

BAB III PENUTUP


Kesimpulan Peranan umat islam sangat besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mulai sejak pemerintahan Nabi Muhammad SAW berbagai macam penemuan dan karya telah dibuat. Bukan hanya itu, umat islam juga pandai dalam mengadopsi ilmu dari bangsa-bangsa lain. Karya-Karya tersebut diakui oleh bangsa Eropa bahkan banyak dijadikan sumber untuk melakukan penemuan-penemuan baru. Tokoh-tokoh IPTEK islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan perananannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak dari nama-nama mereka diabadikan hingga saat ini di berbagai bidang keilmuan. Mulai dari tokoh ilmuwan di bidang filsafat hingga kedokteran. Kejayaan umat islam dalam bidang ilmu pengetahuan memberikan pencerahan bagi bangsa Eropa yang dulu lebih percaya pada tahyul dan berhasil mengantarkan mereka ke zaman renaissance. Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Al-Quran memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Dengan begitu manusia dapat terus mengembangkan teknologi dan islam dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi dari manapun sumbernya. Kemajuan Islam di bidang IPTEK memberikan kontribusi yang besar bagi peradaban dunia. Pengaruhnya turut dirasakan mulai dari bangsa-bangsa yang kecil hingga yang besar. Khususnya di Timur Tengah dan Eropa di berbagai bidang kehidupan.

24

DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad. (2011). Peradaban Sains dalam Islam. Palembang : IAIN Raden Fatah [Jurnal Digital] Daftary, Farhad. (2001). Tradisi-tradisi Intelektual Islam. Jakarta : Erlangga Sunanto, Musyrifah. (2011). Sejarah Islam Klasik : Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta : Kencana Sardar, Ziauddin. (1989). Sains, Teknologi dan Pembangunan di Dunia Islam. Bandung : Pustaka

25