Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Ketergantungan negara di dunia akan minyak bumi yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan transportasi dan semakin banyaknya pabrik sehingga mengakibatkan cadangan minyak bumi semakin menipis. Dalam acara rapat kerja dengan Komisi Energi DPR di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy menyampaikan bahwa kebutuhan bahan bakar minyak bersubsidi (BBM) seperti premium dan solar untuk tahun depan diperkirakan naik antara 36,77 hingga 42,56 juta kiloliter. Menurut International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak global 2010 meningkat sebesar 1,9 juta barel per hari atau 2,2 persen menjadi 86,6 juta barel per hari dibanding dengan tahun 2009. Sementara itu OPEC juga memperkirakan, permintaan minyak mentah global untuk 2010 meningkat sebesar 1,05 juta barel per hari menjadi 85,5 juta barel per hari. Ditambah lagi beredarnya informasi bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia diprediksi tersisia sekitar 3,9 miliar barel. Dengan kondisi ini, cadangan minyak hanya cukup untuk 11 tahun ke depan. Apabila penggunaan bahan bakar minyak ini tidak dibatasi maka tidak menutup kemungkinan sebelum 11 tahun ke depan minyak tersebut akan habis, Selain alasan tersebut, hal lain yang melatarbelakangi penggunaan bahan alternatif selain energy fosil dan batu bara antara lain alasan lingkungan untuk mengurangi polusi udara. Kadar CO2 tmosfer bumi bertambah 25 %. Sektor transportasi menyumbang sekitar 80 % dari emisi CO2 tersebut. Pembakaran BBM menghasilakan gas berbahaya seperti CO, NOx, dan UHC (Unburn Hydro Carbon). Gas buang ini menyebabkan gangguan kesehatan serta mempercepat pemanasan global. (Fatimah, 2012) Sesuai dengan Inpres No. 1/2006 dan Perpres No 5 tahun 2006, sehingga diharapkan Indonesia dapat melakukan pengembangan dalam berbagai hal terkait dengan bioetanol dan sebagai bahan masukan juga kepada para praktisi di bidang pengembangan bahan bakar bioetanol, praktisi pengolah etanol, hingga praktisi di bidang pengembangan budi daya yaitu petani. Terkait dengan pemanfaatan BBN, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 mengenai penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar lain. Presiden telah menginstruksikan kepada sejumlah menteri dan instansi pemerintah terkait (daerah atau pusat) untuk mengambil langkah langkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan pemanfaatan BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain. (Tim penyusun pengembangan BBN, 2007) Etanol merupakan salah satu sumber energi alternatif yang mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya sifat etanol yang dapat diperbarui dan ramah lingkungan karena emisi karbondioksidanya rendah. Etanol dapat digunakan sebagai bahan campuran bensin (gasolin) yang kemudian dinamakan gasohol, dan juga dapat digunakan secara langsung sebagai bahan bakar Di Indonesia produksi etanol semakin meningkat. Pabrik pembuat etanol pun semakin berkembang. ( Supriyanto, Tri dan Wahyudi, 2010). Dengan potensi yang sangat besar sebagai negara agraris, pengembangan etanol secara fermentasi di Indonesia sangat mungkin dilakukan. (Juwita, 2012). Molase atau tetes tebu mengandung kurang lebih 60% selulosa dan 35,5% hemiselulosa. Kedua bahan polisakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi etanol. Salah satu produk samping dari industri gula pasir dari tebu adalah molase. Molase mengandung 1

gula yang tidak mengkristal. Gula tersebut dapat dimanfaatkan untuk memproduksi etanol melalui proses fermentasi. (Juwita, 2012). Berdasarkan data BPS (Biro Pusat Statistik) Indonesia. Kebutuhan etanol sangat meningkat hingga perlu mengimpor etanol dari negara lain, hal ini dapat dilihat pada tabel : Tabel 1. 1. Data impor kebutuhan Etanol. Tahun 2005 2006 2007 Kebutuhan (Kg/Tahun) 52303 34359 2024053

Sumber : BPS, 2007 Terlihat dari data diatas, terjadi peningkatan yang signifikan jumlah impor etanol di tahun 2006 dan 2007. Seiring dengan meningkatnya nilai impor ethanol di Indonesia maka semakin meningkat pula perkembangan pabrik etanol (Nila dan susantris, 2010). Berikut merupakan etanol yang di hasilkan produsen dalam negeri yang belum dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat. Tabel 1. 2. Produksi etanol dari molase secara nasional Tahun Kuantitas 2003 69.705 2004 81.321 2005 83.665 2006 84.551 Sumber :Tarigan, 2009 Hal tersebut yang mendorong untuk membuat perancangan pabrik etanol dengan bahan baku molase. Dan diharapkan masalah impor etanol dari negara lain dapat dikurangi mengingat kebutuhan etanol di Indonesia yang semakin meningkat tiap tahunnya serta dapat menggantikan pendapatan devisa Negara dari minyak bumi dan batubara yang semakin lama semakin berkurang cadangannya. 1.2 BAHAN BAKU Bioetanol adalah etanol dari fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. (Firdausi et al 2013). Bioetanol ini dapat dibuat dari zat pati/amilum (C6H10O5) yang dihidrolisa menjadi glukosa kemudian difermentasi dengan mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae pada temperatur 27-30 C (suhu kamar). (Nurfiana et al, 2009). Bahan yang dipergunakan dalam pembuatan etanol secara fermentasi dapat bersumber dari bahan yang mengandung sakarida seperti, gula, tebu, molase dan sari buah; bahan yang mengandung pati seperti padi dan gliserol, dan bahan yang mengandung selulosa seperti bahan dari kayu dan waste sulfite liquor. (Yusma, 1999) Pemilihan bahan baku merupakan hal yang paling penting dalam memproduksi etanol karena menyangkut produk yang dihasilkan, desain pabrik serta aspek ekonomi. Bahan baku yang digunakan pada pabrik etanol ini adalah yang berasal dari biomassa yaitu molase. (Yusma, 1999). 2

Molase adalah bahan yang mengandung sakarida, merupakan produk samping dari industri gula yang diperoleh setelah sakarosanya dikristalkan dan dipisahkan dari sari gula tebu. Molase digunakan sebagai media fermentasi untuk memproduksi etanol , karena mudah didapatkan dan harganya relatif murah dibandingkan media lainnya (bumn.go.id, 2007), serta proses pembuatan etanol dapat lebih cepat (Simanjuntak, 2009). Pemanfaatan molase selain untuk memperoleh etanol juga akan meningkatkan nilai ekonomis molase. Saat ini jumlah molase yang diproduksi di seluruh Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Namun, molase yang digunakan oleh ke-10 pabrik bioetanol hanya 1,1 juta ton per tahun sehingga Indonesia kelebihan molase sebanyak 200.000 ton per tahun. (bumn.go.id, 2007) Berikut adalah komposisi molase yang terbagi ke dalam 2 jenis yaitu beet molase dan cane molase: Tabel 1. 3. Komposisi rata-rat beet dan cane molasses

Sumber : Olbrich, 2006 Berdasarkan komposisi pada tabel di atas, diketahui bahwa kandungan gula pada cane molasses lebih tinggi dibandingkan dengan beet molasses yaitu 62 %. Cane molasses sering disebut juga black strap molase Jenis yang sering digunakan sebagai media fermentasi adalah dari jenis black strap molase, karena kandungan kadar gulanya masih cukup tinggi. (Yusma, 1999). Menurut data tabel di bawah ini produksi gula mengalami peningkatan, pabrik gula menghasilkan produk samping berupa molase. Dapat dikatakan molase dapat dipasok sebagai bahan baku pembuatan etanol di Indonesia.

Tabel 1. 4. Produksi Gula tahun 2005-2013 Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013*) Produksi (Ton) 2.241.742 2.307.027 2.448.143 2.668.429 2.299.503 2.214.489 2.228.259 2.591.687 2.762.477 Sumber : Napitupulu, 2013 Keterangan : * angka sementara 1.3 Market Analysis Akhir-akhir ini, krisis energi di dunia semakin parah dengan melonjaknya harga minyak mentah yang mencapai 100 USD per barrel. Hal ini mendorong banyak orang untuk berpikir keras mencari pengganti bahan bakar pengganti energi fosil. bioenergi banyak dilirik sebagai peluang yang menjanjikan. Keunggulan bioenergi yang utama adalah renewable dan dampak penggunaannya terhadap lingkungan hidup jauh lebih ramah dari penggunaan energi fosil selama ini. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang menghadapi persoalan energi yang serius akibat ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil. Ethanol seperti yang kita ketahui memliki potensi yang besar dalam bidang energi,yaitu sebagai pengganti bahan bakar minyak,atau yang lebih kita kenal sebagai bioethanol. Bioethanol adalah ethanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Menurut (bioetanolindo.com) keunggulan menggunakan bioethanol sebagai bahan bakar adalah Emisi gas buang Tidak begitu berbahaya bagi lingkungan. Pencampuran ethanol kadar tinggi dapat mengurangi emisi Nox sebesar 20%. Ethanol yang mengandung oksigen mampu mengurangi tingkat gas CO lebih dari bahan bakar beroksigen lain sampai 25-30%. Secara nyata mengurangi emisi sulphur dioksida maupun particular matter lainnya. Ethanol dapat menurunkan batas emisi karbon dioksida sampai 100% dalam sekali life-cycle Nilai oktan tinggi tidak perlu bahan additive bahkan bisa juga dipakai sebagai bahan additive pengganti timbal pada gasoline Api yang dihasilkan berwarna biru,yang berarti tidak akan menghanguskan alat masak ketika dipakai Dapat diperbaharui Peluang bisnis bioethanol di dunia sangat besar. Berdasarkan laporan Clean Edge seperti dikutip dari buku The Clean tech Revolution (2007) karya Ron Pernick dan Clint Wlder, pasar biofuel di dunia pada tahun 2006 yang mencapai 20,5 milyar dolar AS (untuk biodiesel dan ethanol). Nilai pasar itu akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2016. Di Amerika Serikat, 4

ethanol sudah dicampur dengan dengan gasoline dengan kadar campuran 2-85%. campuran etanol 10% dengan premium (E-10) dipakai untuk mobil-mobil tanpa modifikasi mesin, sedangkan untuk campuran 85% ethanol dengan premium dgunakan untuk mobil yang mesinnya dimodifikasi dengan flex-fuel vehicle. Di Brazil, sudah diproduksi mesin-mesin yang bisa memakai ethanol. Tahun 2006, produksi ethanol di dunia mencapai 12 milliar galon. Jika produksi ethanol di dunia semakin besar dan kendaraan di dunia sudah beralih ke biofuel, maka emas hitam yang berasal dari kilang-kilang minyak di Timur Tengah akan bergeser ke emas hijau yang berasa l dari kebun-kebun minyak di daerah tropis seperti Asia dan Amerika Latin Sedangkan di dalam negeri sendiri, pemerintah memerlukan rata-rata 30.833.000 liter bioethanol per bulan. Dari total kebutuhan itu Cuma 137.000 liter bioetanol setiap bulan yang terpenuhi atau 0,4%. Itu berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 30.696.000 liter bioetanol untuk bahan bakar. Pangsa pasar yang sangat besar belum terpenuhi lantaran saat ini baru PT Molindo Raya Industrial yang memasok Pertamina. Dari produksi 150.000 per liter, Molindo memasok 15.000 liter per hari. Molindo menjual biopremium melalui Pertamina sebesar Rp 5.000 per liter. Berikut merupakan data competitor industri etanol di Indonesia : Tabel 1. 5. Produsen etanol di Indonesia Total Tahun Produsen Lokasi Produksi (Kl/Tahun) 1983 BPPT Lampung 2.000 2006 PT. Molindo Raya Malang 10.000 2008 PT. Molindo Raya PTPN X Kediri 40.000 PT. Indo Lampunng Distillery Lampung PT. Medco etanol Lampung PT. RNI Biochol pasuruan 2009 PT. Molindo raya Lampung PT. Etanol Indonesia Banten Sampoerna Group Ponorogo 2010 PT. Indo Acidatama (Lampung) Total produksi (kl/tahun) 52.000

Future (Kl/Tahun)

Feedstock Cassava Molasses Molasses Molasses Cassava Molasses Cassava Cassava -

20.000 22.000 40.000 40.000 35.000 73.486 50.000 280.486 Sumber : BPPT

Total produksi pabrik ethanol existing saat ini mencapai 52,000 KL per tahun dan terdapat beberapa pengembangan baru dengan kapasitas 280,486 KL per tahun hingga tahun 2010. Sehingga diperkirakan pada akhir tahun 2010 produksi ethanol di Indonesia bisa mencapai 332,486 KL per tahun. Namun tidak semua produk ethanol yang dihasilkan memenuhi kriteria mixture terhadap bahan bakar minyak premium. Seperti misalnya produk ethanol produksi BPPT tidak termasuk spesifikasi unhydrous 99.5%, sehingga tidak layak untuk digunakan sebagai campuran bioethanol dalam bahan bakar. (Fatony, 2010)

Gambar 1. 1 Ketersediaan Permnintaan Etanol untuk pengganti Gasolin 2007-2028 Sumber : Fatony, 2010 Dari data grafik diatas yang dikutip dari (Fatony, 2010) dapat dilihat secara rata-rata masih terdapat potensi untuk mengisi pasar Bioethanol kadar 99.5% unhydrous sebagai substitusi bahan bakar premium di Indonesia. Pada tahun 2010 dan 2011 dengan kapasitas yang ada terjadi kelebihan pasokan Bioethanol masing-masing sebesar 17,873 KL dan 8,153 KL, selebihnya gap antara pasokan dan potensi permintaan kerap terjadi. Tahun 2008 terjadi kekurangan pasokan bioethanol sebanyak 22,822 KL, sedangkan pada tahun 2009 selisih kekurangan pasokan bioethanol sebagai mixture 10% dari premium adalah sebesar 22,466 KL. Pada tahun 2012 dan 2013 terjadi selisih kekurangan pasokan bioethanol masing-masing sebesar1,858 KL dan 12,170 KL. Kekurangan pasokan bioethanol sebagai substitusi bahan bakar premium terus berlanjut dengan asumsi tidak ada penambahan kapasitas produksi baru hingga pada tahun 2015 gapnya mencapai 33,731 KL. Gap ini terjadi seiring dengan asumsi pertumbuhan konsumsi BBM premium di Indonesia yang rata-rata mencapai 3% per tahunnya. (Fatony, 2010) Kompetitor dari ASEAN penghasil bioetanol salah satunya adalah Thailand, Thailand saat ini merupakan satu-satunya negara di Asia yang menerapkan bioenergi ke pasar konsumen utama dimana campuran bietanol dan biodiesel tersedia di seluruh daerah di negara tersebut. Data yang di peroleh dari Asian Biomass Handbook Thailand telah memproduksi bensin campuran bioetanol (E10) memperoleh pangsa pasar 23 % dari semua penggunaan bensin pada akhir tahun 2007 (Asian Biomass Handbook). Thailand memiliki kapasitas produksi 150Ml/yr untuk produksi etanol segala aspek. Bahan baku yang digunakan adalah 10% berasal dari tanaman yaitu, molasses, cassava dan gula tebu. Bahan baku yang paling banyak digunakan adalah cassava. (Calle & Walter, 2006) 6

Tabel 1. 6. Daftar Pabrik Etanol di Thailand hingga Tahun 2008

Sumber: (Kudan, 2010)

Perusahaan yang disasar adalah PT. Pertamina, Chevron, serta Petrochina sebagai perusahaan penyedia energi terbesar di Indonesia. Dengan adanya kerjasama antara pabrik ini dengan PT. Pertamina, yang juga sudah melakukan kerjasama dengan PTPN X, diharapkan permintaan dalam negeri akan etanol dapat terpenuhi dan dapat dilakukan eskpor ke berbagai negara, khususnya di kawasan ASEAN. 1.4 Site Location Ketepatan pemilihan lokasi sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan pabrik. Ada beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi pabrik agar pabrik yang dirancang bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Kirteria tersebut antara lain: ketersediaan bahan baku, fasilitas transportasi, listrik, utilitas dan infrastruktur, pemasaran produk, dan tenaga kerja. Berikut ini adalah peta persebaran pabrik gula (PG) di Pulau Jawa Indonesia.

Gambar 1. 2. Persebaran Pabrik Gula di Pulau Jawa Lokasi yang dipilih untuk mendirikan pabrik etanol berbahan baku biomassa adalah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Hal ini didasarkan pada : 1. Ketersediaan Bahan Baku Provinsi Jawa Timur dipilih sebagai lokasi pendirian pabrik etanol karena berdasarkan gambar 1.1. banyak pabrik gula di Jawa Timur yang beroperasi, hal tersebut dapat memberikan ketersediaan molase hasil limbah pabrik gula yang dijadikan sebagai bahan baku pembuatan etanol. Salah satu wilayah yang dapat memberikan ketersediaan molase dari limbah pabrik gula adalah kabupaten Situbondo, di Kabupaten Situbondo Probolinggo Bondowoso terdapat 9 pabrik gula yang dapat memberikan molase. Berikut nama pabrik gula yang berada di Jawa Timur daerah probolinggo Situbodo Bondowoso PG. Pe Maas, PG. Wringinanom, PG. Olean, PG. Panji, PG. Asembagus, PG. Wonolangan, PG. Gending, PG. Pajarakan, dan PG. Prajekan. 2. Lokasi yang strategis dan fasilitas transportasi Pemilihan lokasi pabrik etanol berada di dekat bahan baku karena pabrik etanol bersifat weight loss, yaitu produk yang dihasilkan lebih ringan dari pada bahan bakunya, sehingga mengurangi biaya transportasinya. Lokasi yang dipilih adalah kabupaten Situbondo, daerah dekat dengan 9 pabrik gula yang menghasilkan molase dari limbah produksinya, molase inilah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan etanol. Kabupaten Situbondo yang terletak di pesisir utara pulau Jawa ini merupakan kabupaten yang hijau dengan cuaca yang nyaman untuk dikunjungi, karena dikelilingi oleh perkebunan teh, tembakau dan hutan lindung yang terkenal Baluran. Kabupaten Situbondo berbatasan langsung dengan Selat Madura di utara, Selat Bali di timur, Kabupaten Probolinggo di barat dan Kabupaten Bondowoso di selatan. Kabupaten dengan luas wilayah 1.638,50 Km2 ini terletak di tengah jalur darat Jawa Bali, dan membuat perekonomian daerah menjadi lebih berpotensi untuk semakin maju. 8

3.

4.

5.

6.

Disamping itu, adanya pelabuhan Panarukan hasil dari pembangunan Jalan raya Anyer Panarukan oleh Daendels di era kolonial Belanda, membuat Situbondo menjadi pusat lalu lintas perdagangan di pulau Jawa. (Rafikasari, 2013). Listrik Ketersediaan listrik di Kabupaten Situbondo disuplai dari 3 Gardu Induk (GI). Serta menyediakan ganset untuk menyediakan listrik secara mandiri. Utilitas dan Infrastruktur Posisi Sungai Sampean yang berdekatan dengan Jalan Arteri Primer Probolinggo Situbondo Banyuwangi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan utilitas pabrik etanol. Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan yang besar bagi industri. Adanya Pembangunan Waduk Bajulmati fasilitas Telekomunikasi, Potensi ABT, rencana pembangunan jalan bebas hambatan / jalan tol Pasuruan Probolinggo Situbondo Banyuwangi merupakan salah satu infrastruktur pendukung dalam pembangunan pabrik etanol. Serta adanya menara air di kota situbondo yang bisa mensuplai kebutuhan air. (situbondokab.com) Pemasaran Pemasaran terhadap produk yang dihasilkan dapat dengan mudah didistribusikan melalui jalur transportasi darat. Kabupaten Situbondo ada pelabuhan Panarukan serta terdapat akses ke pelabuhan yang terdapat di Pasuruan dan Probolinggo, dan Banyuwangi untuk pemasaran di luar jawa. Sehingga produk bioethanol akan mudah dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di pulau Jawa dan Luar Jawa. Target pemasaran produk adalah domestic (Indonesia), China, Eropa. Pertamina mencanangkan untuk mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan ini dengan membeli produk bioethanol dari industri yang memproduksinya, PTPN X yang sebelumnya telah bekerjasama dengan NEDO (The Energy and Industrial Technology Development Organization). Bahan baku bioethanol yang dihasilkan oleh PTPN X akan menjadi bahan baku biopertamax dan biopremium. Penggunaan energy terbarukan ini bias menghemat 2,5-5% dari jumlah bahan bakar fosil. (PTPN, 2012) Tenaga kerja Jumlah penduduk di daerah kabupaten Situbondo sebesar 753.300 Jiwa. Berikut data jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang termasuk pada angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Tabel 1. 7. Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Situbondo Angkatan kerja Bukan angkatan kerja Jumlah 352.531 jiwa 155.604 jiwa 506.171 jiwa

Dari data BPS tahun 2012 kabupaten Situbondo menunjukkan bahwa 69 % penduduk angkatan kerja adalah mereka yang bekerja dan mencari kerja (BPS kabupaten Situbondo 2013), dengan banyaknya pencari kerja maka pendirian pabrik etanol di kabupaten Situbondo dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran di Kabupaten Situbondo. 9

DAFTAR PUSTAKA BPS Kabupaten Situbondo. 20013. Statistik Daerah Kabupaten Situbondo 2013, buku online. http://situbondokab.bps.go.id/index.php?hal=publikasi_detil&id=3 . Diakses pada tanggal 09 Maret 2014. BUMN, 2014Bumn.go.id. Fatony, Muhamad Gadhavai.2010. Analisa Kelayakan Investasi Proyek Bioethanol di Jawa Timur. Universitas Indonesia. Jakarta Fatimah, Nur. 2011. Bioetanol Molase Tebu Hasil Samping Industri Tebu yang Menguntungkan. PBT Pertama BBP2TP Surabaya. Gamayanti, Nila & Mardianti Susantris. 2010, Simulation Proses Produksi Etanol Dari Molasses Melalui Beberapa Konfigurasi Alternatif Proses. Skripsi Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Indonesia. Kudan, Sanya. 2010. Ethanol Production From Rain Tree Pods in Thailand. http://www.biomass-asiaworkshop.jp. Diakses terakhir tanggal 10 Maret 2014 OLBRICH, H. 2006. The Molasses , Berlin, Biotechnologie-Kempe gmbH. PTPN. 2012. Pertamina Akan Borong Etanol. www.ptpn-11.com. Diakses terakhir tanggal 09 Maret 2014 Perpres RI Nomor 25 tahun 2013. 2013. Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Diakses terakhir tanggal 2 Maret 2014 Rafikasari, 2013. Tentang Situbondo. http://shellodkv.blogspot.com/2013/05/tentang-situbondo.html#. Diakses pada tanggal 09 Maret 2014. Yusma. 1999. Pemanfaatan Limbah Molase Dalam Pembuatan Etanol Secara Fermentasi, Media Litbang Kesehatan Volume IX Nomor 3. Puslitbang Farmasi, Badan litbangkes, Depkes RI, Jakarta Supriyanto, Tri dan Wahyudi (2010), Proses Produksi Etanol oleh Saccharomyces Cerevisiae Dengan Operasi Kontinyu Pada Kondisi Vakum. Teknik Kimia, Universit as Diponegoro. Tim Nasional Pengembangan BBN. 2007. BBN Bahan Bakar Alternatif dari Tumbuhan Sebagai Pengganti Minyak Bumi & Gas. Jakarta : Penerbit Swadaya. Tarigan, Nursinta. 2009. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Bioetanol dari Molase Kapasitas Produksi 98.000 Ton/Tahun. Medan : Universits Sumatera Utara. JUWITA, RATNA. Studi Produksi Alkohol dari Tetes Tebu (Saccharum Officinarum L) Selama Proses Fermentasi. 2012. PhD Thesis. Nurfiana, Fifi., Umi M., Vicki Citra J., Sugili P. 2009. Pembuatan Bioetanol dari Biji Durian Sebagai Sumber Alternatif, Seminar Nasional V. Yogyakarta : STTN-BATAN. Napitupulu, D. A. (2013). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DALAM NEGERI DAN PROYEKSI PRODUKSI DAN KONSUMSI GULA DI INDONESIA (Doctoral dissertation, UAJY). Yokoyama, Shinya. 2002. The Asian Handbook A guide for Biomass Production and Utilization. Japan : The Japan Institute of Energy.

10