Anda di halaman 1dari 7

PROFESIONALISME GURU SWASTA DAN NEGERI Guru adalah pihak yang sangat bertanggung jawab dalam keberlangsungan pendidikan

di sekolah, maka dari itu guru diharuskan memiliki keahlian sesuai dengan bidangnya, bertanggung jawab, dan jiwa rela memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik serta lebih mementingkan memberi layanan dibandingkan kepentingan pribadi. Namun ditengah banyaknya tuntutan terhadap profesi guru, banyak permasalahan yang dialami oleh guru khusunya guru swasta, yang berkaitan dengan kesejahteraan hidup. Padahal seharusnya guru swasta pun perlu diperhatikan oleh pemerintah karena mereka berkontribusi pula dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut perlu didahului oleh proses pendidikan yang memadai. Agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka semua aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa harus dapat berpengaruh positif bagi diri siswa, sehingga nantinya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Aspek yang paling mempengaruhi keberhasilan sebuah proses pendidikan adalah guru. Guru merupakan suatu jabatan yang memerlukan keahlian, tanggung jawab dan jiwa rela memberikan layanan sosial di atas kepentingan pribadi. Sesuai dengan tuntutan jabatan guru tersebut, maka jabatan guru merupakan jabatan "profesi". Oleh karena itu, tujuan program pendidikan akan dapat dicapai oleh guru yang mempunyai sikap profesional yang positip. Selama ini guru yang bekerja di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta, sering kali masyarakat mengira bahwa para guru tersebut adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal tidak semua guru yang bekerja di sekolah sekolah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) namun ada pula yang berstatus sebagai guru swasta (guru honorer, guru tidak tetap, guru kontrak). Guru swasta yang rata-rata bekerja di sekolah swasta sampai saat ini belum mendapatkan standar gaji yang menitikberatkan pada bobot jam pelajaran, tingkatan jabatan, dan tanggung jawab masa depan siswanya. Banyak diantara mereka yang bekerja melebihi dari imbalan yang mereka terima. Jadi bisa dikatakan, insentif atau gaji yang

mereka terima tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka laksanakan dan tanggung jawab yang mereka terima terhadap masa depan siswanya. Berbeda kondisi dengan para guru yang statusnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain kenaikan gaji pokok, pemerintah juga memberikan gaji bulan ke-13 bagi PNS. Dari kondisi ini, terlihat sekali perbedaan kesejahteraan yang didapat antara guru PNS dengan guru swasta yang hanya mendapatkan gaji dari yayasan sekolah tempat mereka bekerja. Profesionalisme Guru Sanusi et al. (1991), mengutarakan bahwa profesi itu adalah jabatan dengan ciriciri utama sebagai berikut : a. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial) b. Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu c. Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah d. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit, yang bukan hanya sekadar pendapat khalayak umum e. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama. f. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional itu sendiri. g. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi. h. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya. i. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari campur tngan orang luar. j. Jabatan ini mempunyai prestise tinggi dalam masyarakat, dan oleh karenanya memeproleh imbalan yang tinggi pula. Dengan melihat ciri-ciri diatas, maka dapat dikatakan jabatan sebagai guru merupakan profesi. Guru merupakan jabatan yang harus memiliki keterampilan atau keahlian khusus serta telah menempu pendidikan di perguruan tinggi yang cukup lama.

Menurut Reminsa (2008), menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Maka dari itu, untuk menjadi guru profesional seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah : a. b. c. d. e. f. Memiliki kemampuan intelektual yang memadai Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodologi pembelajaran Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan Kemampuan mengorganisir dan problem solving Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik

Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Guru yang profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, menguasai metode yang tepat, mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan. Guru yang profesional juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakekat manusia, dan masyarakat. Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Melihat peran tersebut, sudah menjadi keharusan bahwa guru harus memiliki kualitas mendidik dan berkepribadian yang baik dan benar. Hal ini

dikarenakan tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga menanamkan nilai - nilai dasar dari pembangunan karakter yang baik dan sesuai nilai-nilai dan norma yang ada di msayarakat. Beban Tanggung Jawab Guru Dunia pendidikan nasional kita sedang menghadapi masalah yang kompleks. Begitu kompleksnya masalah, terkadang guru merupakan pihak yang paling sering dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan. Guru memang merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis dan banyak mengambil peran di dalam proses pendidikan secara luas, khususnya dalam pendidikan persekolahan. Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki peran yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran (Mulyana, 2006) . Disamping itu,

kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar juga sangat strategis dan menentukan. Karena gurulah yang akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran, serta memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila guru itu sendiri tidak memiliki keprofesionalitasan dalam dirinya. Guru pada masa kini khususnya guru swasta telah mendapatkan begitu banyak beban. Pertama, tugas berat yang diembannya tidak diimbangi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Gaji guru swasta yang kecil pun terkadang masih diperas dengan potongan macam macam dengan dalih untuk keperluan dana sosial, asuransi, atau pungutan lainnya. Namun, sebagai guru pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sikap penuh nilai pengabdian, loyalitas, dan tanpa pamrih telah membuat guru tidak mau berhadapan dengan konflik. Mereka lebih suka memilih diam daripada menyuarakan kenyataan pahit yang dirasakannya. Kedua, guru sering dijadikan alat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nerima, pasrah, dan tidak banyak menuntut. Ketiga, harapan masyarat yang terlalu berlebihan. Masyarakat menuntut agar guru sebagai figur pengajar dan pendidik bersih dari cacat hukum dan moral. Gerak-gerik guru selalu menjadi sorotan. Melakukan penyimpangan moral sedikit saja, masyarakat beramai-ramai menghujatnya. Kesejahteraan Guru Swasta Gaji Ke-13 Untuk Pendidikan Swasta Hanya Ilusi Mengharapkan sesuatu yang belum pasti bisa digapai, adalah tindakan bijak bagi semua orang. Apalagi harapan yang menyangkut kesejahteraan pendidik swasta yang masih harus berjuang melawan nasibnya, ketimbang melengkapi kompetensi bahan ajarnya untuk peserta didiknya. Meski kesejahteraannya itu menjadi faktor pendukung utama sebuah sematan pendidik professional. Namun hingga saat ini korelasi antara keduanya tak kunjung terwujud. Apa yang bisa diharap lagi dari seorang pendidik swasta. Hanya sepihak saja tuntutan profesionalisasi didengungkan oleh otoritas, yang menuntut terentaskanya keterpurukan standar pendidikan kita yang entah kapan bisa terwujud, sementara itu di lain sisi sang pendidik swasta masih meregang dan menggapai kehidupan yang layak. Betapa tidak untuk penghasilan pendidik swasta se- Indonesia masih banyak yang berada jauh di bawah UMR, dan ini telah berlangsung berpuluh tahun. Sementara kita bertambah harus melewati jurang kesenjangan perbedaan mutu dengan negara

lain. Selaras dengan menganganya jurang kesenjangan kesejahteraan pendidik swasta dengan pendidik PNS, yang rencananya bakal menerima gaji ke-13, pada bulan Juni tahun ini. Berdasarkan data jumlah guru yang tersebar di seluruh Indonesia adalah sebesar 2.607.311 guru. Sedangkan menurut Direktorat Kependidikan Tenaga Kependidikan jumlah guru PNS yang tersebar di Indonesia adalah sejumlah 1.430.505 guru. Dengan demikian bisa kita tentukan bahwa jumlah guru swasta se Indonesia adalah sebesar 1.176.806 guru, dari semua guru yang ada, menurut Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Muhammad Nuh, sebanyak 66 persen mengajar di sekolah-sekolah di berbagai daerah terpencil di

Indonesia. Kita bisa membayangkan bila sejumlah guru swasta tersebut, masih harus mengejar kebutuhan untuk hidup layak. Sementara itu, mereka semua adalah sang masinis penggerak gerbong revolusi pendidikan yang dimesini pembelajaran inovatif professional. Dengan potensi sebesar itu (jumlah pendidik swasta lebih besar dari PNS), jelaslah kita semua harus mengakui kontribusi pendidik swasta terhadap pencapaian pendidikan nasional menurut standar pendidikan nasional, yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, sesuai dengan yang termaktub dalam PP No 19 Tahun 2005. Maka adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti apabila Disdikpora tidak memperhitungkan mereka dalam pengucuran gaji ke-13. Dalam era globalisasi dan modernisasi, memang sudah selayaknya sebagai anak bangsa perlu bersinergi menjemput bola, terlebih-lebih untuk anak anak kita yang harus inten untuk larut di dalamnya. Guna pencetakan mutu generasi tersebut, tidak mungkin lagi bagi guru swasta yang hanya berpenghasilan dengan sistim jumlah jam mengajar, yang besarnya masih di bawah UMR buruh pabrik. Meski sekarang telah ada tunjangan fungsional sebesar Rp. 250 ribu dan honor daerah yang besarnya bervariasi tergantung kebijakan pemkot/kab masing-masing. Namun kedua tunjangan itupun tidak dapat dipastikan kapan tepatnya waktu pengucurannya. Diharapkan sekali oleh kalangan guru swasta bahwa kedua tunjangan untuk guru tersebut, dapat dikucurkan secara teratur sebulan sekali. Dengan kondisi yang carut marut demkian maka wajar saja bila sebagian guru swasta menjadi aktif berperan sebagai parlemen jalanan dengan berbagai cara, seperti yan g dilakukan oleh Forgusta (Forum Guru Swasta Tegal, Jateng) di awal tahun 2010 ini. Bila

keadaan sudah seperti ini maka esensi pendidik sebagai pahlawan tanpa tanda jasa telah meredup citranya. Namun bagaimanapun alasanya mereka , pendidik adalah manusia biasa yang harus menafkahi keluarganya dengan kondisi yang memprihatinkan. Perjuangan yang mereka lakukan sekedar mencairkan sebuah kontroversi antara fungsi dan peran pendidik yang berlabel professional di tengah harga kebutuhan pokok yang cenderung naik terus, namun mereka juga memiliki sisi lain yaitu minimnya kesejahteraan yang mereka terima. Inilah sebuah ilustrasi dari figur pendidik di Indonesia dari dekade ke dekade. Sehingga tidak ada salahnya bila gaji ke-13 juga bisa dinikmati oleh guru swasta, entah dengan cara kebijakan yang bagaimana pun bukan hanya ilusi yang tergambar di tiap hati guru swasta. Sehingga tidak terdapat lagi demo guru yang sebenarnya tabu dilakukan, karena profesi guru erat kaitanya dengan martabat bangsa. Menurut Sayidiman Suryohadiprojo Purnawirawan Pejabat Tinggi TNI Angkatan Darat, peningkatan harga diri dan martabat bangsa memerlukan niat amat kuat untuk mengadakan banyak perubahan dalam sikap seharihari. Menurut Sanusi et al (1991) dapat dikatakan profesi jika jabatan tersebut memiliki keterampilan atau keahlian khusus yang didapat melalui pendidikan perguruan cukup tinggi, dan mempunyai prestise tinggi dalam masyarakat, yang oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula. Dari pernyataan tersebut maka guru merupakan profesi. Profesi guru identik sekali dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Maka dari itu, seorang guru dituntut selalu meningkatkan kualitasnya sebagai pendidik. Dampak kualitas kemampuan profesional kinerja guru bukan hanya akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan yang akan dihasilkan, tetapi juga akan berpengaruh pada kualitas kinerja dan jasa para lulusan tersebut dalam pembangunan, yang kemudian akan berpengaruh pula terhadap kualitas peradaban dan martabat hidup masyarakat, bangsa, serta umat manusia pada umumnya. Namun, pandangan mengenai guru yang berkembang di masyarakat dan oleh sebagian guru itu sendiri , bahwa dalam meningkatkan kualitasnya sebagai pendidik yang lebih dahulu harus ditinggkatkan adalah gaji guru. Jika gaji guru tinggi maka secara otomatis mutu, komitmen dan tanggung jawab guru juga akan tinggi. Pada kenyataannya, ada perbedaan gaji yang di dapat antara guru berstatus PNS denagn guru swasta. Guru PNS mendapatkan gaji dan tunjangan yang besar dari pemerintah dan ditambah lagi gaji ke-13, sedangkan guru swasta digaji hanya berdasarkan jam mengajar yang telah mereka lakukan

yang terkadang belum layak untuk mensejahterakan mereka. Seharusnya, guru swasta diperlakukan sama dengan guru PNS karena mereka sama sama berkontribusi dalam pencapaian pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, sesuai dengan yang tercantum dalam PP No 19 Tahun 2005. Jika guru swasta terus saja tidak diperhatikan, akan timbul keengganan untuk meningkatkan kualitasnya sebagai guru dan pudarnya rasa tangggung jawab mereka terhadap pendidikan. Yang nantinya, penyelenggaraan pendidikan tersebut sulit untu mencapai tujuan pendidikan nasional. Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Melihat peran tersebut, sudah menjadi keharusan bahwa guru harus memiliki kualitas mendidik dan berkepribadian yang baik dan benar. Hal ini

dikarenakan tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga menanamkan nilai - nilai dasar dari pembangunan karakter yang baik dan sesuai nilai-nilai dan norma yang ada di msayarakat. Guru profesional yang berkualitas akan memberikan keberhasilan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Namun, untuk menjadi guru profesional berkualitas perlu ditunjang oleh gaji guru yang tinggi. Gaji yang diterima oleh semua guru (guru PNS dan guru swasta) seharusnya tidak menciptakan jurang perbedaan kesejahteraan yang tinggi antara guru PNS maupun guru swasta. Perlu adanya keadilan dalam persolan mensejahterakan guru. Pemerintah sudah seharusnya menggagas peraturan perundang-undangan yang melindungi profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri atau swasta, dengan memberi jaminan minimal yang diperlukan agar kesejahteraan dan martabat guru terjaga. Namun disamping itu, sebagai guru memang sudah seharusnya meningkatkan kualitasnya demi keberhasilan pendidikan. Guru yang berkualitaslah yang akan selalu meningkatkan profesionalismenya, dan harus tetap membuktikan kinerjanya layak dihargai meskipun berstatus guru swasta