Anda di halaman 1dari 12

1.

Osteokondroma
Definisi
Osteochondroma adalah tumor jinak tulang dengan penampakan adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis, penonjolan tulang ini ditutupi(diliputi) oleh cartilago hialin. Tumor ini berasal dari komponen tulang (osteosit) dan komponen tulang rawan (chondrosit). Osteokhondroma merupakan tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda.

Patofisiologi
Tumor terjadi karena pertumbuhan abnormal dari sel-sel tulang (osteosit) dan sel-sel tulang rawan (kondrosit) di metafisis. Pertumbuhan abnormal ini awalnya hanya akan menimbulkan gambaran pembesaran tulang dengan korteks dan spongiosa yang masih utuh. Jika tumor semakin membesar maka akan tampak sebagai benjolan menyerupai bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit sebagai batangnya dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Tumor akan tumbuh dari metafisis, tetapi adanya pertumbuhan tulang yang semakin memanjang maka makin lama tumor akan mengarah ke diafisis tulang. Lokasi osteokondroma biasanya pada metafisis tulang panjang khususnya femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal, dapat juga ditemukan pada tulang scapula dan illium.

Gambaran Radiologis
Ada 2 tipe osteokondroma yaitu bertangkai (pedunculated) / narrow base dan tidak bertangkai (sesile) / broad base. Pada tipe pedunculated, pada foto polos tampak penonjolan tulang yang menjauhi sendi dengan korteks dan spongiosa masih normal. Penonjolan ini berbentuk seperti bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit sebagai tangkai dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Densitas penonjolan tulang inhomogen (opaq pada tangkai dan lusen pada bunga). Terkadang tampak adanya kalsifikasi berupa bercak opaq akibat komponen kondral yang mengalami kalsifikasi.

Gambar

Tumor osteokondrom

Gambar 1. Tumor osteokondroma jinak pada tulang femur lakilaki usia 22 tahun

Gambar. 2 Tumor osteokondroma pada tulang fibula laki-laki usia 19 tahun

2. Osteoma
Definisi
Osteoma adalah tumor jinak yang menyerang jaringan tulang, yang terbatas dengan karesteristik dengan proliferasidari pada tulang kompak atau consellous dan umumnya pada endosteal atau periosteal.

Patofisiologi
penyebab dari osteoma ini disebabkan oleh faktor trauma iritasi kronis, kelainan congenital dimana terjadi pertumbuhan tulang pada garis tengah dari palatum, infeksi, kebiasaan-kebiasaan makan yang aneh seperti halnya orang yang mengunyah tembakau bisa menyebabkan suatu keadaan hyperostosis dan perkembangan yang tidak normal dari gigi. Tidak ada yang menunjukkan etiologi yang pasti terjadinya osteoma. Gejala dan Tanda Umumnya osteoma jarang ditemukan dirongga mulut, dan apabila ditemukan dilaporkan bahwa lebih banyak menyerang rahang bawah dari pada rahang atas. Ia mempunyai gejala klinik yang sama seperti perjalanan tumor jinak pada umumnya, Osteoma dapat dapat di identifikasi pada usia 20 sampai dengan 50 tahun, tetapi bisa juga ditemukan pada usia yang lebih muda atau bahkan pada usia yang lebih tua. .Multipel osteoma dirahang sama seperti osteoma yang terjadi di tulang-tulang panjang dan tulang tengkorak.

Gambar 3. Osteoma pada rongga mulut

3. Osteoklastoma ( tumor sel raksasa )


Definisi
Osteoklastoma merupakan tumor tulang yang mempunyai sifat dan kecenderungan untuk berubah menjadi ganas dan agresif sehingga tumor ini dikategorikan sebagai tumor ganas. Tumor giant cell (TGC) tulang merupakan sebuah lesi yang bersifat jinak tetapi secara local dapat bersifat agresif dan destruktif yang ditandai dengan adanya vaskularisasi yang banyak pada jaringan penyambung termasuk proliferasi sel-sel mononuklear pada stroma dan banyaknya sel datia yang tersebar serupa osteoklas. Tumor ini biasanya dijumpai pada usia dewasa, setelah terjadi fusi tulang. Kebanyakan dijumpai pada usia 30-40 tahun, dan sangat jarang ditemukan sebelum usia 20 tahun. Tumor ini sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan usia 20-40 tahun, karena biasanya tumor ini terjadi tulang yang sudah matur.

Patofisiologi
Tumor sel raksasa yang konvensional merupakan lesi soliter dan ditemukan sel raksasa yang multinukleus menyerupai osteoklas serta sel-sel stroma pada daerah epifisis (98-99%) pada tulang orang dewasa, bersifat agresif dengan sel-sel atipik dan gambaran mitosis. Ditemukan jaringan yang kaya vaskularisasi tapi hanya sedikit jaringan kolagen. Sel tumor ini merupakan neoplasma yang bersifat destruktif untuk daerah sekitarnya.

Klasifikasi
Enneking mengemukakan suatu sistem klasifikasi stadium TGC berdasarkan klinisradiologishistopatologis sebagai berikut: 1. Stage 1: Stage inaktif/laten: (i) klinis, tidak memberikan keluhan, jadi ditemukan secara kebetulan, bersifat menetap/tidak ada proses pertumbuhan; (ii) radiologis, lesi berbatas tegas tanpa kelainan korteks tulang: dan (iii) histopatologi, didapat gambaran sitologi yang jinak, rasio sel terhadap matriks rendah. 2. Stage 2: stage aktif: (i) klinis: didapat keluhan, ada proses pertumbuhan; (ii) radiologis: lesi berbatas tegas dengan tepi tidak teratur, ada gambaran septa di dalam tumor. Didapati adanya bulging korteks tulang; dan (iii) histopatologis: gambaran sitologi jinak, rasio sel tehadap matriks berimbang. 3. Stage 3: stage agresif: (i) klinis: ada keluhan, dengan tumor yang tumbuh cepat; (ii) radiologis: didapatkan destruksi korteks tulang, sehingga tumor keluar dari tulang dan tumbuh ke arah jaringan lunak secara cepat; didapati reaksi periosteal segitiga Codman, kemungkinan ada fraktur patologis; dan (iii) histopatologis: gambaran sitologi jinak dengan rasio sel

terhadap matriks yang tinggi, bisa didapat nukleus yang hiperkromatik, kadang didapat proses mitosis.

Tanda dan Gejala


Gejala utama yang ditemukan berupa nyeri serta pembengkakan terutama pada lutut dan mungkin ditemukan efusi sendi serta gangguan gerakan pada sendi (karena lesi biasanya berada mengenai kartilago artikular), keparahan nyeri bergantung pada derajat pertumbuhan dari neoplasma. Mungkin juga penderita datang dengan gejala-gejala fraktur (10%). Bila lesi tumor terletak di tulang-tulang vertebra dapat timbul gejala nerologis. Nyeri tekan pada pemeriksaan palpasi juga didapatkan pada pasien. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan atrofi otot dan menurunnya pergerakan sendi. TGC pada sakrum sering menimbulkan gejala low back pain yang meluas di kedua ekstremitas bagian bawah dan dapat disertai gejala neurologis, gangguan berkemih atau buang air besar. tulang di persendian Osteoklastoma terutama ditemukan pada daerah yang sebelumnya merupakan epifisis tulang panjang (75%) setelah lempeng epifisis telah menutup, khususnya pada daerah lutut yaitu pada daerah tibia proksimal, femur distal, humerus proksimal, radius distal. Sisanya dapat ditemukan pada daerah pelvis dan sakrum. TGC dapat terjadi di tulang-tulang vertebra, sebagian besar terjadi di sakrum. Tumor ini kadang meluas sampai meliputi sendi sakroiliaka dan juga dapat mengenai diskus intervertebralis L5 S1 bahkan sampai pada posterior dari L5. Kadang-kadang tumor ini terdapat di tulang rahang, proksimal humerus, proksimal femur, proksimal fibula, distal tibia, patela, ujung tulang metakarpal, dan juga tulang jari-jari. TGC dapat juga terjadi multisentrik/lebih dari satu dan biasanya bersifat agresif secara klinis. Pada beberapa kasus TGC terjadi di metafisis skeletal tulang yang belum matur dan sering meluas ke diafisis daripada ke epifisis karena adanya lempeng epifisis yang bertindak sebagai barrier terhadap pertumbuhan tumor.

Gambar 4. Osteoklasoma

4. Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik)


Definisi
Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) atau kanker tulang adalah tumor tulang ganas primer, dimana tumor ganas ini memproduksi tulang dan sel-selnya berasal dari sel mesenkimal primitif. Berdasarkan penilaian klinis, radiologis dan histopatologis yang cermat dari masing-masing tumor tulang, maka dapat ditentukan staging tumor tersebut. Staging berlaku untuk tumor jinak dan tumor ganas tulang. Sistem staging yang dipakai untuk tumor tulang ialah Surgical Staging System dari Enneking. Untuk tumor ganas ada 3 tingkat stadium, yaitu: 1. Stadium I, bila derajat keganasannya rendah. 2. Stadium II, artinya tumor mempunyai derajat keganasan tinggi. 3. Stadium III, yang berarti tumor sudah menyebar.

Patofisiologi
Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas).Ujung tulang-tulang tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan yang terbesar. Meskipun demikian, osteosarkoma juga bisa tumbuh di tulang lainnya.

Osteosarkoma dibagi menjadi dua tipe : 1. Tipe sentral yaitu tumor yang tumbuhnya di dalam tulang. 2. Tipe perifer yaitu tumor yang tumbuhnya di permukaan tulang.

Tanda dan Gejala


Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri. Sejalan dengan pertumbuhan tumor, juga bisa terjadi pembengkakan dan pergerakan yang terbatas. Tumor di tungkai menyebabkan penderita berjalan timpang, sedangkan tumor di lengan menimbulkan nyeri ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu benda. ronsen tulang Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak memerah. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang karena tumor bisa menyebabkan tulang menjadi lemah. Patah tulang di tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin. Berdasarkan Jess H. Lonner, tanda osteosarkoma adalah : Paint and swelling, decreased range of motion, localized warmth and pathological fracture. (Jess H. Lonner, 1999: 243).

Gambar 5. Osteosarkoma

5. Osteoid osteoma
Definisi
Merupakan tumor osteoblastik jinak terdiri dari inti osteoid dengan vaskularisasi tinggidan merupakan tumor jinak tulang dengan potensi pertumbuhan yang terbatas.

Patologi
Didapat sebagai jaringan yang seluler, banyak vaskularisasinya. Jika nidus diangkat,terlihat gambaran lingkaran merah tulang trabekular biasanya kurang dari 1 cm. Kelainan terdiriatas jaringan seluler dengan tingkat vaskularisasi yang tinggi dari jaringan tulang yang belummatang serta jaringan osteoid.

Lokasi
Dapat mengenai semua tulang, tetapi biasanya pada tulang panjang seperti Femur danTibia. Caput femur merupakan salah satu tempat yang paling sering didapat.

Gejala klinis
Nyeri bersifat menetap/putus-putus yang tidak hilang oleh istirahat Nyeri biasanya di malam hari Nyeri dapat bersifat ringan sampai hebat Nyeri dapat berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah Kadang otot di sekitar tumor akan mengecil (atrofi) dan keadaan ini akan membaik setelah tumor diangkat.

Gambar 6. Gambaran patologis diman ditemukan lingkaran merah tulang trabekula

6. Enkondroma
Definisi
Enkondroma atau kondroma sentral adalah tumor jinak se-sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular, terutama pada tangan dan kaki. Merupakan tumorjinak tulang dengan frekuensi 9,8% dari seluruh tumor jinak tulang, biasanya ditemukan pada usia dewasa muda tetapi dapat pula pada setiap umur. Gejalanya biasanya berupa benjolan yang tidak nyeri.

Patofisiologi
Gambaran radiologis memperlihatkan adanya daerah radiolusen yang bersifat sentral (enkondroma) antara metafisis dan diafisis. Mungkin dapat ditemukan sedikit ekspansi dari tulang. Pada tulang yang matur dapat ditemukan adanya bintik bintik kalsifikasi pada daerah lusen. Terdapat pembentukan tulang rawan yang matur tanpa tanda tanda pleimof, mitosis, atau gejalagejala keganasan lainnya. Sering ditemukan adanya perubahan miksoid pada jaringan lunak, maka kelainan ini disebut sindroma Maffuci. Perubahan kearah keganasan pada enkondromatosis (enkondroma multiple) lebih sering dari pada enkondroma soliter. Tanda tanda keganasan biasanya terjadi setelah umur 30 tahun dengan gejala gejala berupa nyeri, pembesaran tumor yang tiba tiba dan erosi korteks tulang.

Tanda dan Gejala


Adanya erosi akan menimbulkan menimbulkan rasa nyeri, pembengkaka n, atau fraktur patologis dari tulang yang terkena. Sebaliknya, lesi itu dapat tetap tenang. Seperti pada eksostosis, juga dilaporkan adanya perubahan keganasan pada enkondroma, terutama adalah bentuk multiple. Tumor ini paling sering mengenai tulang-tulang tubuler kecil (acral skeleton) pada tangan dan kaki, kadang-kadang juga pada tulang yang lebih besar, seperti femur, hemerus, tibia, fibula, radius dan ulna. Pada tulang panjang ditemukan pada metafisis dan distal atau proksimal dari diafisis

Gambar 7. gambaran radiologis dengan lesi yang radiolusen pada zona intramedular, gambaran patologis terdapat low celluarity, vague lobularity, dan focal calcified

7. Kondosarkoma
Definisi
Kondrosarkoma ialah tumor ganas dengan ciri khas pembentukan jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas tulang primer terbanyak kedua setelah osteosarkoma. Kondrosarkoma merupakan tumor tulang yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang rawan) anaplastik yang berkembang menjadi ganas. Kondrosarkoma biasanya ditemukan pada daerah tulang femur, humerus, kosta dan bagian permukaan pelvis. Tumor ini memiliki banyak ciri dan bentuk perkembangan. Dari pertumbuhan yang lambat hingga pertumbuhan metastasis yang agresif. Kondrosarkoma dapat dibagi menjadi kondrosarkoma primer dan sekunder. Untuk keganasan yang berasal dari kartilago itu sendiri disebut kondrosarkoma primer. Sedangkan apabila merupakan bentuk degenerasi keganasan dari penyakit lain seperti enkondroma, osteokondroma dan kondroblastoma disebut kondrosarkoma sekunder. Kondrosarkoma sekunder kurang ganas dibandingkan kondrosarkoma primer. Kondrosarkoma dapat diklasifikasi menjadi tumor sentral atau perifer berdasarkan lokasinya di tulang.

Patofisiologi
Patofisiologi kondrosarkoma primer maupun sekunder adalah terbentuknya kartilago oleh selsel tumor tanpa disertai osteogenesis. Sel tumor hanya memproduksi kartilago hialin yang mengakibatkan abnormalitas pertumbuhan tulang dan kartilago. Secara fisiologis, kondrosit yang mati dibersihkan oleh osteoklas kemudian dareah yang kosong itu, diinvasi oleh osteoblas-osteoblas yang melakukan proses osifikasi. Proses osifikasi ini menyebabkan diafisis bertambah panjang dan lempeng epifisis kembali ke ketebalan semula. Seharusnya kartilago yang diganti oleh tulang di ujung diafisis lempeng memiliki ketebalan yang setara dengan pertumbuhan kartilago baru di ujung epifisis lempeng. Namun pada kondrosarkoma proses osteogenesis tidak terjadi, sel-sel kartilago menjadi ganas dan menyebabkan abnormalitas penonjolan tulang, dengan berbagai variasi ukuran dan lokasi. Proses keganasan kondrosit dapat berasal dari perifer atau sentral. Apabila lesi awal dari kanalis intramedular, di dalam tulang itu sendiri dinamakan kondrosarkoma sentral sedangkan kondrosarkoma perifer apabila lesi dari permukaan tulang seperti kortikal dan periosteal. Tumor kemudian tumbuh membesar dan mengikis korteks sehingga menimbulkan reaksi periosteal pada formasi tulang baru dan soft tissue.

Tanda dan Gejala


1. Nyeri Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan. Sekitar 75% pasien kondrosarkoma merasakan nyeri. Gejala nyeri yang ditimbulkan tergantung pada predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul akibat pembesaran

tumor yang perlahan-lahan. Nyeri berlangsung lama dan memburuk pada malam hari. Saat istirahat nyeri tidak menghilang. Nyeri diperberat oleh adanya fraktur patologis. 2. Pembengkakan Pembengkakan lokal biasa ditemukan. 3. Massa yang teraba Teraba massa yang diakibatkan penonjolan tulang. 4. Frekuensi miksi meningkat Manifestasi klinis ini ditemukan pada kondrosarkoma di pelvis. Namun semua manifestasi klinis ini tidak selalu ada di setiap kondrosarkoma. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari gradenya. Pada grade tinggi, selain pertumbuhan tumor cepat juga disertai nyeri yang hebat. Sedangkan pada grade rendah, pertumbuhan tumor lambat dan biasanya disertai keluhan orang tua seperti nyeri pinggul dan pembengkakan.

Gambar 8. Kondorsarkoma

8.

Osteoklastoma

Definisi
Osteoklastoma merupakan tumor tulang yang mempunyai sifat dan kecenderungan untuk berubah menjadi ganas dan agresif sehingga tumor ini dikategorikan sebagai tumor ganas.1 Tumor giant cell (TGC) tulang merupakan sebuah lesi yang bersifat jinak tetapi secara local dapat bersifat agresif dan destruktif yang ditandai dengan adanya vaskularisasi yang banyak pada jaringan penyambung termasuk proliferasi sel-sel mononuklear pada stroma dan banyaknya sel datia yang tersebar serupa osteoklas. Tumor ini biasanya dijumpai pada usia dewasa, setelah terjadi fusi tulang. Kebanyakan dijumpai pada usia 30-40 tahun, dan sangat jarang ditemukan sebelum usia 20 tahun.3, 4, 5 Tumor ini sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan usia 20-40 tahun, karena biasanya tumor ini terjadi tulang yang sudah matur. Asal dari osteoklas ini tidak diketahui; bahkan tidak ada kesepahaman yang jelas mengenai asal sel prinsipal dari osteoklastoma merupakan sel osteoklas (giant cell). 9

Patofisiologi
Tumor sel raksasa yang konvensional merupakan lesi soliter dan ditemukan sel raksasa yang multinukleus menyerupai osteoklas serta sel-sel stroma pada daerah epifisis (98-99%) pada tulang orang dewasa, bersifat agresif dengan sel-sel atipik dan gambaran mitosis. Ditemukan jaringan yang kaya vaskularisasi tapi hanya sedikit jaringan kolagen.1 Sel tumor ini merupakan neoplasma yang bersifat destruktif untuk daerah sekitarnya.

Tanda dan Gejala


Gejala utama yang ditemukan berupa nyeri serta pembengkakan terutama pada lutut dan mungkin ditemukan efusi sendi serta gangguan gerakan pada sendi (karena lesi biasanya berada mengenai kartilago artikular), keparahan nyeri bergantung pada derajat pertumbuhan dari neoplasma. Mungkin juga penderita datang dengan gejala-gejala fraktur (10%).1,2 Bila lesi tumor terletak di tulang-tulang vertebra dapat timbul gejala nerologis. Nyeri tekan pada pemeriksaan palpasi juga didapatkan pada pasien. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan atrofi otot dan menurunnya pergerakan sendi. TGC pada sakrum sering menimbulkan gejala low back pain yang meluas di kedua ekstremitas bagian bawah dan dapat disertai gejala neurologis, gangguan berkemih atau buang air besar.

Gambar 9.. Giant cell tumor pada tulang (osteoklastoma) pada bagian ujung bawah dari radius seorang pria usia 32 tahun. Perhatikan bahwa neoplasma destruktif (osteolitik) melibatkan daerah dari bekas epifisis sebelumnya meluas ke arah tulang subkondral. Pada kondisi stadium awal ini, lesi radius hanya mulai meluas hingga ke bagian medial ulnar (Salter, 2008).

9. Sarcoma Ewing
Definisi
Sarcoma Ewing adalah suatu tumor ganas yang jarang terjadi dimana sel kanker dapat ditemukan pada tulang maupun jaringan lunak. Ewings sarcoma dijelaskan pertama kali pada tahun 1921 oleh Dr. James Ewing (1866 1943), dimana penyakit ini berbeda dengan limfoma dan jenis penyakit kanker lainnya pada masa itu. Biasanya penyakit ini menyerang tulang panjang seperti

10

pelvis, femur, humerus dan tulang rusuk. Ewings sarcoma juga dapat bermetastasis ke tempat lain seperti sumsum tulang, paru-paru, ginjal, hati, kelenjar adrenal, dan jaringan lunak lainnya. Walaupun Ewings sarcoma termasuk salah satu kanker tulang, namun dapat juga terjadi pada jaringan lunak yang lebih dikenal dengan nama ekstraosseus Ewings sarcoma.

Patofisiologi
Menurut Ackermans : tipe dari system gradasi yang biasa dipergunakan tampaknya kurang begitu penting dari pada protocol peta regional dan evaluasi histologis. Dengan mikroskop cahaya, sarcoma Ewing tampak sebagai massa difuse dari sel tumor yang homogen. Seringkali terdapat populasi bifasik dengan sel yang besar, terang dan kecil, gelap. Tanda vaskularisasi dan nekrosis koagulasi yang luas merupakan gambaran yang khas. Tumor akan menginfiltrasi tulang dan membuat destruksi kecil. Tepi tumor biasanya infiltratif dengan pola fili dan prosesus seperti jari yang kompak disertai adanya sel basofil yang biasanya berhubungan erat dengan survival penderita yang buruk.

Tanda dan Gejala


Gejala dari Ewings sarcoma yang terjadi dapat ditemukan adanya pembengkakan, rasa sakit, kehilangan gigi, paresthesia, exophthalmos, ptosis, epistaxis, ulceration, gigi yang bergeser, trismus, dan sinusitis. Pada Ewings sarcoma yang biasanya terjadi di rahang bawah itu merupakan tumor yang sangat cepat tumbuh secara invasive dengan metastasis dini. Awalnya ada rasa sakit sebentar-sebentar di absesnya yang dapat diraba, kemudian menjadi rasa sakit terus-menerus, terkait dengan pertumbuhan cepat pada tumor dan pembesaran tulang.

(i)

(ii)

(iii)

Gambar 10. (i) Gambaran lesi permeatif (a) dan onion skin (b) pada pasien-pasien dengan sarkoma Ewing. (ii) Gambaran massa tumor sarkoma Ewing intra operasi pada pasien di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. (iii) Gambaran histopatologis pasien dengan sarkoma Ewing di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

11

Daftar Pustaka
Robbins dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi II. Jakarta: EGC ________________.2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 1. Jakarta: EGC ________________.2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 2. Jakarta: EGC Kiranti Nurendah.(2001). Diagnosis dan Treatment Sarcoma Ewing. [Online] Tersedia: http://cuk-ing.blogspot.com/2013/06/sarcoma-ewing.html [April 2014] Muhammad Naufal N (2007). Kondorsarkoma. [Online] Tersedia :

http://dokmud.wordpress.com/2010/02/16/kondrosarkoma [April 2014] Intan Gita Mustika (2010). Neoplasma Tulang [Online] Tersedia :

http://tentangkedokteran.wordpress.com/2009/03/11/neoplasma-tulang-2 [April 2014]

12