Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN MAJEMUK ANAK

BAB I Pendahuluan A. Latar belakang masalah Kecerdasan majemuk merupakan kecerdasan kompleks yang harus dimiliki seseorang agar seseorang itu dapat dikatakan pintar atau pandai dari segala sisi.

Kecerdasan majemuk diantaranya kecerdasan linguistic, kecerdasan spasial, kecerdasan mathematic, kecerdasan kinestetis, kecerdasan music, kecerdasan interpersonal,

kecerdasan personal dan kecerdasan naturalis (Gardner, 2007). Setiap anak memiliki semua kecerdasan itu, namun hanya ada beberapa yang dominan atau menonjol. Banyak orang beranggapan bahwa anak usia prasekolah yang bisa membaca dan berhitung dikatakan atau di cap sebagai anak yang pintar. Namun pada penerapannya anak yang dulunya nakal dan bandel di masa kecil atau saat sekolah justru pada saat bekerja bisa sukses dan menjadi pemimpin atas orang-orang yang dikenal rajin dan pandai di kelas. Mereka yang nakal dan bandel bukanlah anak yang bodoh, tetapi mereka memang tidak menonjol dalam kecerdasan mathematics dan mungkin menonjol pada kecerdasan yang lain.

Keluarga merupakan lingkungan primer bagi setiap individu sejak lahir sampai tiba masanya untuk meninggalkan rumah dan membentuk keluarga sendiri. Sebelum anak mengenal lingkungan yang lebih luas, terlebih dahulu anak mengenal lingkungan

lingkungan keluarganya melalui melalui pengenalan norma-norma dan nilai-nilai dalam keluarga untuk dijadikan bagian dari pribadinya. Oleh karena itu norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga yang diturunkan melalui pendidikan dan bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya secara turun menurun (Nurwidianingtyas, 2006). Pada masa ini, perkembangan fisik anak menjadi lebih lambat dan perkembangan psikososial maupun kecerdasan anak menjadi cepat. Pada masa ini pula seorang anak sering mengucapkan kata kenapa yang menunjukkan rasa ingin tahunya tinggi. Anak usia prasekolah belajar untuk mendapatkan pengetahuan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar mereka salah satunya dengan cara meniru (imitation). Mereka akan belajar tentang bagaimana cara bersikap, berperilaku, dan berinteraksi dengan cara meniru orang-orang di sekitarnya. Sifat, perilaku dan kecerdasan anak sangat dipengaruhi dengan pola asuh kedua orang tuanya. Terlalu memanjakan atau memandang sebelah mata keberadaan mereka, bisa berakibat buruk terhadap kepribadian mereka kelak (Surya, 2008). Pola asuh orang lain dengan

orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan

pengasuhan yang terdiri dari kegiatan mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Tarmudji, 2001). Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan (Rini, 2009). Menurut Tarmudji (2001) keberhasilan seorang anak dalam perkembangannya tergantung perlakuan orang tua dalam mengasuh anak- anaknya.

Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan kecerdasan majemuk, pola asuh orang tua terhadap anak prasekolah.

B. Identifikasi masalah Agar pembahasan penelitian ini lebih terarah, maka penelitian ini dibatasi untuk meneliti pengaruh pola asuh orang tua terhadap kecerdasan majemuk anak pra sekolah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalahan: 1. Pola asuh merupakan cara orang tua berinteraksi dengan anak yang meliputi pemberian aturan, hadiah, hukuman, pemberian perhatian serta tanggapan orang tuat erhadap setiap perilaku anak. 2. Kecerdasan majemuk adalah sebuah peniliaian secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan

menghasilkan sesuatu.

C. Ruang lingkup Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas adalah: Pengertian pola asuh orangtua & kecerdasan majemuk Apakah pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap kercadasan majemuk anak? Upaya orang tua dalam meningkatkan kecerdasan majemuk anak

Bab II Pembahasan A. Pengertian pola asuh orang tua Pola asuh adalah tata sikap atau perilaku yang digunakan orang tua untuk mendidik atau merawat anaknya. Menurut Hurlock (2005: 44), pola asuh orang tua adalah interaksi aturan, norma, tata nilai yang berlaku pada masyarakat dalam mendidik dan merawat anak-anaknya. Poerwadarminta dalam Daryati (2007: 14), menyatakan pola asuh orang tua adalah gambaran, tata cara atau perbuatan yang dilakukan orang tua (ibu/bapak atau wali), dalam menjaga, mendidik serta merawat anaknya. Disamping lingkungan sosial yang dimiliki oleh seorang anak, pola asuh orang tua akan turut menentukan terbentuknya sikap dan watak anak dalam menjalani hidupnya. Pola asuh orang tua dapat pula merupakan interaksi sosial awal yang berguna untuk mengenalkan anak pada peraturan, norma dan tata nilai yang berlaku pada masyarakat disekitar. Shochib dalam Daryati (2007: 16), pola asuh orang tua dalam membantu anak untuk mengembangkan diri adalah upaya orang tua yang diaktualisasikan dalam penataan lingkungan fisik, lingkungan sosial internal dan eksternal, pendidikan internal dan eksternal, dialog dengan anak-anaknya, suasana psikologis, sosiobudaya, perilaku yang ditampilkan saat terjadinya pertemuan dengan anak-anak, kontrol terhadap perilaku anak-anak, dan menentukan nilai-nilai moral sebagai dasar berperilaku dan yang diupayakan kepada anak-anak.

Macam macam pola asuh orang tua 1. Pola asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiranpemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. 2. Pola asuh Otoriter Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. 3. Pola asuh Permisif

Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak. 4. Pola asuh Penelantar Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

Faktor-faktor pendorong pola asuh orang tua

1. Faktor pendidikan Pendidikan yang baik merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia ( human resource ), dan sumber daya manusia itu terbukti menjadi faktor determinan bagi keberhasilan bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. 1. Faktor keagamaan Dalam rangka mencapai keselamatan anak usia dini, agama memegang peranan penting. Maka orang tua yang mempunyai dasar agama kuat, akan kaya berbagai cara untuk melaksanakan upaya terbaik baik psikis maupun fisik terhadap anak. 1. Faktor lingkungan Lingkungan juga faktor yang sangat kuat mempengaruhi upaya orang tua secara psikis dan fisik terhadap anak usia dini. Pengaruh lingkungan ada yang baik dan ada yang buruk. Ketiga faktor tersebut seperti pendidikan keagamaan dan lingkungan merupakan faktor yang melatarbelakangi adanya upaya spiritual ( psikis ) dan fisik yang dilaksanakan oleh orang tua dalam rangka memperoleh generasi yang unggul. Jadi tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap upaya secara psikis dan fisik baik yang menafaskan agama maupun tradisi.

B. Kecerdasan majemuk Multiple Intelligence adalah teori kecerdasan majemuk yang dipaparkan Prof. Howard Gardner. Multiple intelligence atau kecerdasan majemuk pada dasarnya adalah sebuah konsep yang menunjukkan kepada kita bahwa potensi anak-anak kita, khususnya jika dikaitkan dengan kecerdasan,ternyata banyak sekali. Memahami multiple intelligence bukanlah untuk membuat anak-anak kita menjadi hebat. Namun,konsep tersebut, paling tidak dapat membantu kita untuk memahami bahwa anak-anak kita itu menyimpan potensi yang luar biasa.

Pengertian dari kecerdasan menurut Howard Gardner adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya atau suatu kumpulan kemampuan atau ketrampilan yang dapat ditumbuhkembangkan.

Sedangkan multiple intelegence (kecerdasan majemuk) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tiap individu lebih dari satu macam. Menurut Howard Gardner setiap individu delapan jenis kecerdasan di dalam dirinya,yang disebut kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang). Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Kemampuan untuk berpikir abstrak 2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar 3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru Macam-Macam Multiple Intelegensi Kecerdasan majemuk yang merupakan keanekaragaman kemampuan adalah modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Menurut Gardner kecerdasan atau intelegensi ada 10 macam yaitu: 1. Kecerdasan linguistic ( Linguistik intelligence ) Adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara. 2. Intelegensi logis-matematis ( Logical matematich) Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika, 3. Intelegensi Musik ( Musical intelegence ) Intelegensi musik adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system symbol yang unik. 4. Intelegensi kinestetik.

Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada actor,atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik. 5. Intelegensi Visual-Spasial Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan

memvisualisasikan infoomasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual. 6. Intelegensi Interpersonal Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan

berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan. 7. Intelegensi Intrapersonal Adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan system emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya. 8. Intelegensi Naturalis. Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna melakukan pemilahanpemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif misalnya untuk berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi. 9. Intelagensi Emosional. Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa. 10. Intelegensi Spiritual. Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi Intelegensi tiap individu cenderung berbeda-beda. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut: 1. Faktor Bawaan atau Keturunan. Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, cukup pintar dan sangat pintar, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

2.

Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas. Faktor minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan

bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Intelegensi bekerja dalam situasi yang berlain-lainan tingkat kesukarannya. Sulit tidaknya mengatasi persoalan ditentukan pula oleh pembawaan.

3.

Faktor Pembentukan atau Lingkungan. Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi

perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya. Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

4.

Faktor Kematangan. Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap

organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di kelas empat sekolah dasar, Karena soal soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur. Kecerdasan tidak tetap statis, tetapi cepat tumbuh dan berkembang. Tumbuh dan berkembangnya intelegensi sedikit banyak sejalan dengan perkembangan jasmani, umur dan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai (kematangannya).

5.

Faktor Kebebasan. Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah

yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya. Kelima faktor di atas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja.

C. Pengaruh pola asuh terhadap kecerdasan majemuk anak