Anda di halaman 1dari 19

ALIH MEDIA KABA: ALTERNATIF REVITALISASI SASTRA TRADISIONAL

Oleh Herry Nur Hidayat Wasana

Abstrak Penelitian ini mencoba menemukan kaba yang memiliki kemungkinan dialihmediakan, terutama menjadi bentuk teks skenario dan komik. Hal ini ditujukan untuk konsumsi khalayak yang lebih luas dengan mengangkat muatan tradisi Minangkabau yang terdapat dalam kaba. Penelitian diawali dengan analisis unsur intrinsik kaba sehingga memperoleh tema mayor masing-masing kaba. Adapun objek penelitian ini adalah kaba Cinduo Mato, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih, Sutan Lembak Tuah, Si Umbuik Mudo, Laksamana Hang Tuah, Siti Baheram, Siti Risani, Siti Kalasun, Malin Deman, Angku Kapalo Sitalang, Magek Manandin, Puti Nilam Cayo, dan kaba Rambun Pamenan. Tema-tema yang ditemukan dalam kaba-kaba tersebut adalah kepahlawanan, citra perempuan, harga diri, dan cinta. Sementara, muatan tradisi Minangkabau yang terdapat dalam kaba tersebut adalah kekerabatan, citra perempuan, kepahlawanan, silek, dan religiusitas. Dari analisis unsur intrinsik diperoleh simpulan bahwa terdapat empat kaba yang sangat memungkinkan untuk dialihmediakan. Kaba tersebut adalah kaba Cinduo Mato, kaba Anggun Nan Tongga, kaba Sabai Nan Aluih, dan kaba Laksamana Hang Tuah. Kata kunci: kaba, Minangkabau, alih media, muatan tradisi

Abstract This study tried to find kaba that has the possibility of media transformation, particularly to the scenario and comic. It is intended for wider audience by lifting Minangkabau tradition in kaba. Intrinsic analysis of kaba used to obtain major themes of each kaba. Objects of this study are kaba Cinduo Mato, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih, Sutan Lembak Tuah, Si Umbuik Mudo, Laksamana Hang Tuah, Siti Baheram, Siti Risani, Siti Kalasun, Malin Deman, Angku Kapalo Sitalang, Magek Manandin, Puti Nilam Cayo, and kaba Rambun Pamenan. The themes found in the kaba are heroism, women imagery, pride, and love. Meanwhile, Minangkabau traditions in kaba are kinship, women imagery, heroism, silek, and religiosity. The conclusion of this research is there are four kaba which has possibility for media transformation. The kaba are Cinduo Mato, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih, and kaba Laksamana Hang Tuah . Keyword: kaba, Minangkabau, media transformation, tradition content

Pengantar Minangkabau adalah salah satu suku di Indonesia yang kaya akan seni budaya tradisi. Sejarah mencatat Minangkabau banyak melahirkan budayawan, sastrawan, dan cendekiawan besar di Indonesia. Di samping itu, hasil seni tradisi Minangkabau telah dikenal oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh selain oleh catatan sejarah tersebut, masyarakat Minangkabau juga dikenal sebagai masyarakat perantau yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun, dewasa ini, pengetahuan akan hasil seni tradisi, khususnya Minangkabau, tampak semakin terkikis dan berkurang. Masyarakat adat Minangkabau sendiri mulai merasa gelisah akan keadaan ini. Sepanjang pengetahuan peneliti, sebagian besar anak muda Minangkabau generasi yang lahir tahun 1980-an tidak mengenal hasil seni tradisinya. Mereka tidak lagi mengenal kaba, randai, indang, dan bahkan pasambahan. Menurut pendapat peneliti, hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut. Perhatian khalayak terhadap kaba dewasa ini sangat kurang. Jika dibandingkan dengan seni tradisi Minangkabau lainnya, terutama bentuk seni pertunjukkan, perkembangan kaba sangat jauh tertinggal. Sistem pendidikan muatan lokal, dalam hal ini mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM), yang tidak efektif sehingga tidak mengenai sasaran secara tepat. Sepanjang pengamatan peneliti, mata pelajaran BAM ini pada akhirnya diberikan hanya sebatas teori tanpa menyentuh aspek praktisnya. Hal ini menyebabkan siswa dengan mudah melupakan pelajaran yang telah diperoleh setelah ujian dilaksanakan. Kurangnya dukungan dan peran unsur masyarakat Minangkabau dan pemerintah daerah dalam upaya melestarikan hasil seni budaya tradisinya. Dalam hal ini, hanya segelintir pihak yang peduli dengan pengenalan hasil seni tradisi Minangkabau di daerahnya. Sebagian besar pihak yang tidak peduli mengedepankan aspek minimnya dana. Pada akhirnya, upaya revitalisasi akar budaya Minangkabau Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah hanya berhenti pada slogan saja. Sepanjang pengamatan penulis, generasi kelahiran 1980-an ini lebih memilih bentuk-bentuk kesenian praktis yang cenderung instan tanpa mempertimbangkan isi dan muatannya. Kemudahan akses informasi melalui internet membuat mereka lebih betah berlama-lama di depan komputer. Hasil seni tradisi mereka anggap sebagai barang kuno yang patut ditinggalkan.

Keempat hal tersebut hanya beberapa contoh sebab yang mengakibatkan terkikisnya minat generasi muda terhadap hasil seni tradisi di Minangkabau. Pengetahuan generasi muda dewasa ini terhadap hasil seni budaya tradisi tampak sangat kurang. Berdasarkan pengalaman, hanya sedikit siswa yang mengetahui dan mengenal hasil karya seni tradisi Minangkabau. Sangat ironis, bahwasanya mereka menuntut ilmu di Fakutas Ilmu Budaya, tetapi tidak mengenal karya seni dan budaya Minangkabau. Di lain pihak, kajian terhadap karya seni dan sastra Minangkabau, khususnya di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, hanya berhenti sebatas kajian teoretis. Slogan lama yang menyebut dunia akademis sebagai menara gading yang sulit di jangkau khalayak masih tetap ada. Hasil kajian karya seni dan sastra di lingkungan akademis berakhir sebagai koleksi dan tumpukan arsip di perpustakaan dan ruang baca jurusan. Belum ada implementasi dan upaya konkret untuk mengenalkan hasil-hasil kajian tersebut kepada masyarakat di luar lingkungan perguruan tinggi. Akhirnya, terlihat kesan dunia akademis sengaja memisahkan diri dengan lingkungan masyarakatnya. Berdasarkan uraian di atas, dirasa sangat perlu sebuah bentuk karya seni bermuatan tradisi Minangkabau yang lebih berterima di khalayak penikmat muda. Dengan demikian, tidak hanya bentuk seni tersebut yang bisa diterima khalayak penikmat, tetapi juga aspek isi dan muatan budaya tradisi yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, terdapat pertimbangan karya tradisi tersebut bisa dikenal tidak hanya oleh masyarakat Minangkabau. Di sisi lain, terdapat pula kemungkinan bentuk tersebut menjadi model atau acuan transformasi karya seni tradisi di luar Minangkabau sebagai bentuk upaya pengenalan dan pelestariannya. Tinjauan Pustaka Minangkabau adalah salah satu masyarakat budaya di Indonesia yang kaya akan seni budaya tradisi. Bukan hanya karya seni melainkan juga pandangan dan falsafah hidup yang mereka anut adalah bentuk kebudayaan yang tinggi. Salah satu bentuk karya seni sastra Minangkabau adalah kaba. Menurut Navis (1984), jika dilihat dari gaya bahasanya kaba betul-betul merupakan produk khas Minangkabau. Jika dilihat dari segi ceritanya, kaba dapat digolongkan menjadi dua, kaba klasik dan yang baru. Hal ini sejalan dengan Junus (1984) yang juga membagi dua kelompok kaba, kaba klasik dan tak-klasik. Kaba adalah cerita prosa berirama. Dari segi cerita, kaba hampir sama dengan hikayat. Pada awal perkembangannya, kaba berbentuk sastra lisan, sebuah karya sastra yang

disampaikan secara lisan dengan didendangkan atau dilagukan dan diiringi alat musik saluang atau rebab (Djamaris, 2002). Dalam perkembangannya, kaba disebarluaskan dengan tulisan. Menurut Navis (1984), kaba tulisan yang tertua ditulis dengan huruf Arab. Dilihat dari asal katanya, kaba diyakini berasal dari bahasa Arab akhbar yang dilafalkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kabar dan ke dalam bahasa Minangkabau menjadi kaba (Navis, 1984). Pada akhirnya, istilah kaba menjadi rancu ketika bertemu dengan kata cerita (curito) sehingga pemahaman saat ini kaba adalah cerita pelipur lara. Sebagai cerita, kaba terbentuk dan dibangun oleh beberapa unsur cerita. Secara umum, sebuah cerita (prosa) mengandung unsur tema, tokoh dan penokohan, alur cerita, dan latar cerita. Amanat dan pesan yang ada dalam cerita dibentuk dan dibangun melalui unsurunsur tersebut. Djamaris (2002) juga menambahkan bahwa kaba berfungsi sebagai hiburan, pelipur lara, dan sebagai nasihat. Di dalam kaba juga terkandung banyak nilai budaya. Dalam upaya mengenalkan dan melestarikan karya seni budaya tradisi kaba, perlu adanya sebuah bentuk transformasi kaba tersebut. Salah satu bentuk transformasi itu adalah perubahan menjadi bentuk skenario sehingga terdapat kemungkinan untuk difilmkan. Film diangkat dari naskah yang biasa disebut skenario. Teks skenario adalah cetak biru (blueprint) atau bahan dasar pembuatan sebuah film. Melalui penggabungan beberapa bentuk seni, skenario dapat dibentuk dan ditransformasikan menjadi sebuah film. Seperti halnya teks drama, skenario berisi dialog antartokoh yang ada di dalamnya. Abrams (1981) membedakan teks drama dan teks skenario dalam hal sketsa dan gambaran lakuan tokoh yang lebih luas. Teks skenario memuat rangkaian dan urutan peristiwa hingga cara munculnya tokoh. Teks skenario adalah sebuah karya yang mengungkapkan sebuah pikiran dan gagasan. Di antara beberapa teknik yang digunakan dalam teks skenario untuk mengungkapkan gagasan tersebut, seperti halnya dalam teks fiksi, adalah penggunaan motif, simbol, dan metafora (Gianneti, 1987). Mengutip pendapat Pudofkin, Eneste mengungkapkan bahwa penulis skenario bergulat dengan apa yang disebut plastic material, berbeda dengan novelis yang bergulat dengan kata-kata. Plastic material yang dimaksud di sini adalah unsur-unsur yang mendukung terciptanya sebuah tampilan gambar yang disesuaikan dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Lebih jelasnya plastic material berupa barang atau benda visual yang

dapat dipotret kamera, misalnya, pemilihan bentuk arsitektur dan perabot rumah yang mewah untuk menunjukkan pemilik rumah sebagai orang kaya (Eneste, 1991). Penulis memahami bahwa karya sastra akan terus hidup melalui tanggapan dan respon penikmatnya. Namun, oleh karena genre (bentuk) karya sastra tradisional yang mulai kurang diminati, maka sangat perlu genre (media) baru karya seni tradisi dengan muatan yang tetap sama. Dengan pertimbangan media audio visual adalah media yang mudah diterima penikmat, maka tujuan utama penelitian ini adalah melakukan pemilihan terhadap kaba untuk dialihmediakan menjadi film atau bentuk lain. Metodologi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini lebih menitikberatkan pada interpretasi dan penafsiran terhadap objek dan data penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua bentuk, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan pragmatik. Pendekatan objektif digunakan untuk menemukan unsur-unsur yang membangun objek sebagai sebuah bentuk struktur sebuah karya. Pendekatan pragmatik digunakan sebagai data tambahan terhadap temuan yang diperoleh dari pendekatan yang pertama. Dalam pendekatan objektif, objek penelitian dianalisis melalui proses pembacaan berulang sehingga diperoleh hasil unsur pembangun struktur objek penelitian. Analisis struktur karya kaba ini meliputi isi cerita yang tergambar secara umum dalam tema cerita. Unsur pembangun tema cerita yang dianalisis dalam masing-masing kaba akan dibatasi pada tokoh dan penokohan, alur cerita, latar cerita, dan muatan lokal seni budaya tradisi Minangkabau. Di samping itu, objek penelitian juga dianalisis dengan teori konten. Endraswara (2003) menyebutkan bahwa analisis konten adalah kajian mengenai muatan-muatan yang terdapat di dalam sebuah karya sastra. Lebih lanjut dinyatakan, konten yang dimaksud adalah muatan pendidikan, moral dan etika, muatan budaya, religius, dan sebagainya. Pendekatan pragmatik dilakukan dalam pemeringkatan dan pemilihan kaba yang dianggap layak ditransformasi menjadi media lain khususnya teks skenario. Klasifikasi dan penyusunan peringkat didasarkan atas dominasi muatan seni budaya tradisi Minangkabau dalam sebuah kaba. Meskipun objek penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria kualitatif, diharapkan tetap memiliki sejumlah alasan akademis (academic explanation) yang memadai

(Moleong, 1991; Miles, 1992; Muhadjir, 1998). Sejumlah kriteria yang ditetapkan untuk menentukan objek penelitian ini adalah studi kepustakaan dan prariset. Hasil yang ditargetkan adalah hasil analisis isi muatan tradisi Minangkabau dalam kaba-kaba yang menjadi objek penelitian. Hasil analisis ini kemudian akan dipilah dan dipilih untuk mendapatkan kaba dengan muatan lokal Minangkabau yang cukup layak untuk dialihmediakan khususnya menjadi teks skenario film. Layak dalam hal ini adalah kesesuaian dan keterjangkauan plastic material dalam kaba. Tema-Tema Kaba Tema sebuah karya sastra dapat diperoleh melalui analisis unsur intrinsik. Demikian pula terhadap kaba. Analisis tokoh, latar, alur, dan hubungan masing-masing unsur tersebut bisa menemukan tema dalam kaba. Adapun tema-tema yang ditemukan dalam kaba yang telah dianalisis adalah sebagai berikut. 1. Kepahlawanan Kepahlawanan adalah tema yang dominan dalam sebuah cerita tradisional. Hal ini disebabkan oleh fungsi cerita yang mengutamakan pendidikan dan ajaran moral selain sebagai pelipur lara. Beberapa kaba dalam penelitian ini juga mengandung muatan kepahlawanan tokoh utama. Kaba Cinduo Mato mengangkat kepahlawanan tokoh Cinduo Mato dan Dang Tuanku dalam memperjuangkan harga dirinya, saudaranya, dan negerinya. Tokoh Cinduo Mato memang digambarkan sebagai tokoh yang sakti, cerdik, dan bijaksana. Dalam cerita, tokoh ini selalu bisa mengatasi semua hambatan yang ditemuinya. Cerita kaba ini cukup panjang terbagi atas beberapa bagian episode. Kaba Anggun Nan Tongga juga mengandung muatan kepahlawanan yang cukup kental. Kaba ini mengisahkan perjuangan tokoh utama Anggun Nan Tongga mencari dan membebaskan ketiga mamaknya dari tawanan penyamun. Seperti halnya Cinduo Mato, tokoh Anggun Nan Tongga juga digambarkan sebagai tokoh yang sakti dengan banyak kelebihan dibanding manusia biasa. Cerita kaba Anggun Nan Tongga ini juga cukup panjang. Bagian-bagian episodenya bisa dipisah menjadi satu kisah tersendiri. Selain tokoh laki-laki tersebut di atas, sifat kepahlawanan dan keberanian juga muncul pada tokoh perempuan pada kaba Sabai Nan Aluih dan kaba Laksamana

Hang Tuah. Tokoh utama pada kaba Sabai Nan Aluih menunjukkan keberanian untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, Rajo Babandiang. Keterampilannya menggunakan senapan akhirnya membuahkan hasil. Sabai berhasil membunuh Rajo Nan Panjang. Tokoh perempuan lain yang memiliki keberanian dan sifat kepahlawanan adalah Sari Bainai dalam kaba Laksamana Hang Tuah. Tokoh ini digambarkan memiliki keterampilan bertarung dan kesaktian. Sendirian tokoh ini memasuki benteng Inggris untuk membebaskan Hang Tuah dan tawanan lainnya. Sifat kepahlawanan dalam sastra tradisional adalah satu tema yang banyak diangkat. Namun, dari beberapa kaba dalam penelitian ini, yang patut diperhatikan adalah kelima kaba tersebut di atas, kaba Cinduo Mato, kaba Anggun Nan Tongga, kaba Rambun Pamenan, kaba Laksamana Hang Tuah, dan kaba Sabai Nan Aluih. 2. Citra Perempuan Citra perempuan dalam hal ini tidak hanya terbatas pada gambaran visual dan fisik perempuan. Akan tetapi juga pada sifat dan perilaku dalam konteks budaya tradisi Minangkabau. Citra ini banyak muncul pada kaba dengan tokoh utama perempuan. Lorong kapado Sabai Nan Aluih, jikok dipandang-pandang bana, jaranglah gadih ka tandiangannyo, badannyo rampiang lamah sumampai, mukonyo bunda daun bodi, rambuik karitiang galuang tigo, kaniangnyo kiliran taji, mato ketek jo lindoknyo, pancaliak-an sirauik jatuah, bulu mato samuik bairiang, talingo jarek tatahan, pipinyo pauah dilayang, hiduangnyo bak dasun tungga, muluiknyo dalimo rangkah, bibianyo asam sauleh, gigi rapek putiah manggewang, lidahnyo mampalam masak, daguaknyo labah bagantuang, kulik nan kuniang kamerahan, bak udang kapalang panggang, jarinyo aluih bak duri landak, karek kuku bulan ka habih, batihnyo bak paruik padi, tumik nan bagai talua buruang. Kok dipandang Sabai bajalan, langkahnyo siganjua luluah, malenggang indak tapampeh, bak undan turun ka talago. Dek garak gariknyo sagalo aluih, sampai kapado tagua sapo, sarato budi dangan baso, Sabai baruliah namo julukan, iyolah Sabai Nan Aluih (Sabai Nan Aluih: 14-15)

Kutipan di atas adalah deskripsi tokoh Sabai Nan Aluih. Dari beberapa kaba yang bertokoh utama perempuan, Sabai Nan Aluih yang paling lengkap menggambarkan fisik perempuan (Minangkabau) yang ideal. Berbicara tentang citra perempuan Minangkabau tentu tidak bisa melepaskan diri dari konsep kekerabatan matrilineal Minangkabau. Seperti telah dikenal banyak orang, Minangkabau menganut konsep kekerabatan dari garis keturunan ibu. Perempuan menjadi pihak yang sangat penting dalam tradisi Minangkabau. Hal ini muncul dalam cerita-cerita kaba. ... limpapeh rumah nan gadang, ambun puruak aluang bunian, urang kayo suko dimakan, ganti suri tauladan kain, tampek batanyo dek urang kampuang, tampek miskin salang tenggang. (Sabai Nan Aluih: 11)

Kutipan

di

atas

adalah

gambaran

perempuan

Minangkabau

dengan

kedudukannya di rumah gadang dan komunitas masyarakatnya. Seorang perempuan Minangkabau adalah wanita yang bisa diandalkan baik dalam rumah maupun masyarakat. 3. Cinta Banyak karya sastra tradisional yang mengangkat tema cinta terutama cinta muda mudi. Kaba juga banyak mengangkat tema tersebut. Bisa disimpulkan bahwa semua kaba objek penelitian ini mengandung tema cinta. Cinta dalam hal ini bukan hanya terbatas cinta muda mudi, tetapi cinta dengan pengertian lebih luas. Cinta dan kasih sayang kepada keluarga adalah tema yang paling dominan dalam kaba. Kecintaan Sabailah yang membuat dia berani membela kematian ayahnya kepada Rajo Nan Panjang. Cinta dan hormat Rambun Pamenan kepada ibunya membuatnya menempuh bahaya mencari dan membebaskan ibunya dari tawanan Rajo Angek Garang. Cinduo Mato berani menentang ibu dan mamaknya demi citanya pada saudaranya Dang Tuanku dan kehormatan negerinya. Cinta dan hormat Siti Kalasun pada suami membuat dia bertahan untuk setia menunggu suami pulang dari rantau.

Demikian pula Hang Tuah, cintanya pada negeri membuatnya tak gentar membela negeri dari usaha penjajahan bangsa asing. Muatan Keminangkabauan Seperti yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, penelitian ini berusaha menemukan muatan tradisi keminangkabauan yang terdapat dalam kaba. Muatan keminangkabauan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Kekerabatan Minangkabau dikenal sebagai suku dengan sistem kekerabatan matrilineal atau dari garis keturunan ibu. Dalam tradisi Minangkabau, mamak (paman) lebih berperan kepada kemenakan dibanding ayahnya dalam satu keluarga. Ayah adalah urang sumando yang tetap dianggap sebagai orang luar di lingkungan rumah gadang. Namun, seorang ayah sekaligus berperan sebagai mamak dalam lingkungan rumah gadang dari garis ibunya. Navis (1984) menyebutkan bahwa suami tetap dipandang sebagai orang lain yang tetap dipandang sebagai wakil kaum kerabatnya. Pada umumnya kaba menyebut mamak dan kemenakan demikian pula kabakaba yang menjadi objek penelitian ini. Hubungan mamak dan kemenakan muncul dalam kaba Cinduo Mato, Anggun Nan Tongga, Magek Manandin, dan kaba Si Gadih Ranti. Dalam kaba Cinduo Mato, mamak tidak menjalankan peran sebagaimana mestinya. Dalam cerita, mamak bahkan mendukung pihak lain saat menjodohkan anaknya. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan Junus (1984) bahwa dalam kaba Cindue Mato disebutkan ada mamak, tapi ia tidak menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya. Kaba Anggun Nan Tongga mengungkap hubungan mamak dan kemenakan. Akan tetapi, bukan peran mamak yang ditonjolkan melainkan peran kemenakan. Anggun Nan Tongga sebagai kemenakan merasa wajib membantu dan membebaskan ketiga mamaknya yang ditawan penyamun. Salah satu tugas dan tanggung jawab mamak terhadap kemenakan perempuan adalah persiapan perkawinan. Kaba Si Gadih Ranti menunjukkan hal tersebut. Mamak

Ranti, Datuak Kuaso, memenuhi tugasnya memilihkan suami untuk kemenakannya. Tidak sekadar itu, Datuak Kuaso juga melindungi kemenakannnya dari niat jahat orang lain, Angku Kapalo. Bisa disimpulkan dalam kaba ini muncul peran mamak yang ideal terhadap kemenakannya. Navis (1984) menyebutkan tugas pokok mamak terhadap kemenakan perempuan adalah bimbingan dan persiapan meneruskan keturunan. Terhadap kemenakan laki-laki, mamak bertugas membimbing dalam hal tugas laki-laki sebagai penunjang dan pengembang sumber-sumber kehidupan. 2. Merantau Minangkabau dikenal sebagai suku perantau. Dalam karya sastranya jelas terlihat tradisi merantau tersebut, khususnya dalam kaba. Hampir semua kaba objek penelitian ini mengandung muatan tradisi merantau. Kecenderungan lelaki Minangkabau pergi merantau dengan pengertian yang luas, yaitu mencari kekayaan, ilmu, dan nama (Kato, 1989). Singkatnya, merantau bisa dikatakan sebagai meninggalkan kampung halaman untuk mencapai ketiga tujuan tersebut. Dalam beberapa kaba objek penelitian ini, ketiga pengertian tersebut juga muncul. Kini baitu malah di mandeh, apo gunonyo diam di kampuang, apo gunonyo diam di anjuang, sadang mamak nan batigo indak tantu kaba baritonyo. Bari izin malah di madeh, denai nak pai marantau, iyo ka lawik baharullah, mukasuik mancari mamak hilang, antah lai hiduik antah lah mati, izin jo rilah mandeh. (Anggun Nan Tongga: 34)

Anggun Nan Tongga meninggalkan kampung untuk menegakkan harga dirinya dan mamaknya. Magek Manandin berusaha membuktikan dirinya tidak seburuk sangkaan mamaknya. Mano kalian nan barampek, jikok saukua kito balimo, sudah ambo pikia ambo manuangkan. Elok marantau kito basamo, di kampuang apo gunonyo, mahabihan nasi rang gaek sajo. (Laksamana Hang Tuah: 19)

10

Mano mandeh kanduang ambo, ado nan takilang pado hati, ado takana dikiro-kiro, mukasuik hati nak bajalan, dicubo bajalan ka rantau urang, tatabusi gadaian lamo, tabangkik tareh tabanam, tolong di mandeh dengan doa, salamaik sajo pajalanan. (Siti Kalasun: 39)

Hang Tuah merantau untuk kehidupan yang lebih baik, ilmu, dan kejayaan. Suami Siti Kalasun merantau juga demi kehidupan yang lebih baik. Umbuik Mudo merantau meninggalkan kampungnya untuk menuntut ilmu. 3. Status Sosial dan Kedudukan Masyarakat Minangkabau hidup dalam golongan atau suku. Golongan yang terpenting adalah kekerabatan sedarah dari turunan ibu. Dalam nagari, golongan tersebut berbaur dengan golongan lain. Dalam hal ini, satu kelompok memiliki peringkat pekerjaan, keahlian, dan status sosial (Navis, 1989). Gambaran status sosial masyarakat Minangkabau muncul dalam beberapa kaba. Kaba Cinduo Mato lebih menekankan pada status kebangsawanan. Sipaik rajo ado sapuluah. Partamo cadiak candokio, ka duo arif budiman, tau di ujuang kato sampai, ka tigo himaik bicaro, apo bicaro kadikatokan, guman dahulu dirangkuangan, kena elok dangan buruak, ka ampek barani karano bana, ka limo saba lapang dado, ka anam ingek jo bicaro, usah anak palupo, ka tujuah tau martabaik urang, ka salapan adia lagi pamurah, ka sambilan dalam ilmunyo, ka sapuluah barasiah pakaiannyo. (Cinduo Mato: 18)

Sipaik orang jadi panghulu, martabaik panghulu dipapakan. Partami baraka jo bailimu, urang cadiak cundokio, pandai mancacah maagakan, tahu di adat jo limbago, pandai batutua manyalasai, alamnyo laweh padangnyo lapang, tahu di kieh dangan bandiang, tahu di ujuang kato sampai, pacik taraju nan piawai, mamagang kungka nan bana, kalau mangati samo barek, kalau mauji samo merah, tibo di mato tdak dipiciangkan, tibo di paruik tidak dikampihan, budi baiak baso katuju. (Cinduo Mato: 18)

Sipaik Dubalang mandeh papakan, simakkan bana elok-elok. Barani karano bana, takuik karano salah, lagi cadiak elok roman, kalau batutua basimanih, barundiang luna-lunak. Musuah nan indak dicari, jikok basuo pantang dielakkan, capek kaki ringan tangan, bajago malam tidua surang,

11

baitu adat rang mudo, parik paga dalam nagari, elok tapian di rang mudo, elok nagari di panghulu. (Cinduo Mato: 18)

Kaba Si Umbuik Mudo juga secara singkat menggambarkan syarat dan tugas beberapa status sosial di Minangkabau. Bukan murah rang manggaleh, rang manggaleh tahu di labo dengan rugi, tahu di etongan aso jo duo. (Si Umbuik Mudo: 11)

Bukan murah urang panghulu, urang panghulu cadiak pandai, tahu di adat jo pusako, tahu di ereang dengan gendeang, tahu maagak maagiahkan, katonyo balipek, nan kalah dimanangkannyo. (Si Umbuik Mudo: 12)

... bukan murah rang dubalang, rang dubalang kuaik kaba, tagaknyo di pintu mati, nan kareh ditakiaknyo, nan lunak disudunyo, nan jauah ka ditampuhnyo, nan tinggi ka dijuluaknyo, nan bengkok ka dipaluruihnyo. (Si Umbuik Mudo: 12)

Bukan murah jadi pagawai, nan capek kaki ringan tangan, labiah jago pado lalok, malam basalimuik ambun, siang batuduang awan, bajalan tidak bakaki panek, kok alam basuluah, kok hujan batuduang, tabaliak disampaikan juo. (Si Umbuik Mudo: 12)

... bukan murah jadi juaro, urang tahu di tuah ayam, tahu mambulang jo mangacak. (Si Umbuik Mudo: 12)

Kaba Sabai Nan Aluih juga menyebut tugas dan kewajiban laki-laki dewasa. ... jikok gadang lai baraka, inyo manjadi mamak rumah, ka mamacik kukua jo pahek, ka mamagang pangkua jo sabik, mangumpuakan rimah nan taserak, kok singkek uleh mauleh, uleh jo aka dangan budi, kok kurang tukuak manukuak, tukuak bicaro jo usaho, kusuik bulu paruh manyalasaian, kusuik rambuik minyak manyalasaian, kusuik banang patamukan ujuang jo pangka. (Sabai Nan Aluih: 31)

4. Silek

12

Silek adalah seni bela diri khas Minangkabau. Di Indonesia umumnya dikenal dengan pencak silat. Namun, perbedaan silat dengan silek bukan hanya terbatas pada nama saja. Dalam cerita kaba banyak diungkapkan, meskipun tidak lengkap, hal-hal yang berhubungan dengan silek. Muatan silek ini dapat ditemukan hampir pada semua kaba yang bertema kepahlawanan dan keberanian. Mulo-mulo diaja langkah tigo, sampai manyambuik patangkokan, tigo hari lamo baraja, tasalin silek pandeka Datuk Hitam, heran tacangan pandeka nantun, ikolah urang nan batuah, tangan sarupo basi baja, tulang sarupo kawek, kakinyo kuaik maruntun manau, ciek diaja duo dapek, diaja silek caro Lintau, patangkokan caro Baruah. (Hang Tuah: 17)

Malangkah Rajo Nan Panjang, direnjeng kaki nan suok, dikiraikan tangan nan kida, digelekkan pinggang ka dalam, ikua mato maintai lawan. Diganjua kaki suok, ditanam kaki di balakang, dinaiakan tangan nan suok, dilantiakan jari nan ampek, ampu jari maintai taruah. Kununlah Rajo Babandiang, dibuek pulo langkah sanan, langkah duo inyo antah, langkah tigo inyo bukan, disangko kalua inyo masuak, tampaknyo langkah manikam bayang. (Sabai Nan Aluih: 43-44).

Samaso mangaji di Limbukan, inyo manjadi guru silek, kakinyo capek tanganyo sigap, sarik urang ka lawannyo, barampek urang sakali datang, sinaruih juo kasudahannyo, ... (Si Gadinh Ranti: 30.

Kutipan-kutipan di atas adalah sebagian bentuk silek yang ada dalam kaba. Meskipun tidak digambarkan secara jelas, tetapi gerakan-gerakan silek tersebut bisa diimajikan oleh penikmat kaba. 5. Religiusitas Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai salah satu masyarakat yang religius selain memegang teguh adatnya. Hal ini terlihat dalam pedoman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dalam segi-segi kehidupannya, masyarakat Minangkabau selalu menampakkan sifat religius tersebut. Tidak terkecuali dalam karya sastra tradisinya, terutama dalam kaba. Amai isikan baka ambo, denai ka pai mangaji, kini juo denai bajalan. (Si Umbuik Mudo: 13)

13

Lah sarantang duo rantang, cukuik katigo rantang panjang, dakok basarang hampia, hampia dakok ka tibo, lah tibo di surau Tuanku Imam Mudo, bak itu inyo mualimnyo, kok tafris jo fiqih, iyolah mantik jo makna, Quran nan tigo puluah juih, dapek manyimak-nyimak sajo. (Si Umbuik Mudo: 14)

Kaba yang secara jelas menyebut unsur religius keislaman adalah kaba Si Umbuik Mudo. Tokoh utama diceritakan pergi merantau untuk menuntut ilmu agama Islam.Dalam cerita kaba tersebut, hal ini diungkap dengan istilah mangaji. ... mangaik-ngaik galah ka kaki, antaro kami laki bini, hadist mano nan mak Labai pakai, kitab mano nan mak Labai turuik, antah kok hadist buatan muncuang. (Siti Kalasun: 73)

Kaba lain yang mengandung muatan religius keislaman adalah kaba Siti Kalasun. Pada bagian sebelumnya telah diuraikan tentang salah satu bentuk karakter tokoh Kalasun ini. Saat dia menolak menceraikan suaminya dan berdialog dengan Mak Labai, tampak bahwa sebenarnya Kalasun menguasai syariat Islam terutama dalam hal hubungan keluarga antara suami dan istri. Secara umum, kaba-kaba objek penelitian ini mengandung muatan religius keislaman. Hal ini dapat dilihat pada penyebutan nama Allah sebagai penentu kehidupan. Dek lamo kalamoan, Allah Taala menggarakkan, ... ... Allah Taala kayo sungguah, janji sampai ajal bapulang, ... (Rambun Pamenan: 10)

.. untuang di tangan garak Allah... (Hang Tuah: 20

Di sanan Hang Tuah baguru, diaja mangaji halal jo haram, tahu di sunat jo paradu, pandai bahadist baquran, tahu nahu jo syaraf, hafal tafsir kitab Allah...(Hang Tuah: 59)

14

Iyo bana waang Mangkutak, sarupo indak batunjuki, kok ka lua urang di musajik... (Sabai Nan Aluih: 17)

Kutipan tersebut di atas menunjukkan muatan keislaman dalam cerita kaba. Secara tidak langsung, hal ini juga menunjukkan perkembangan kaba yang dipengaruhi oleh agama Islam. Dengan kata lain, kaba-kaba tersebut dibentuk atau divariasikan menurut ajaran agama Islam. Kemungkinan Alih Media Alih media adalah salah satu cara untuk merevitalisasi karya tradisional terutama karya sastra, baik lisan maupun tulis. Dalam proses penelitian ini, tim peneliti menyimpulkan bahwa sebuah karya sastra tradisional (kaba) memiliki beberapa kemungkinan untuk direvitalisasi. Selain alih media menjadi sebuah film (teks skenario), kaba juga memiliki kemungkinan untuk dialihbentukkan. Salah satu tokoh yang telah melakukan alih bentuk terhadap kaba adalah Wisran Hadi. Beliau telah melahirkan beberapa naskah teater dan randai yang diangkat dari kaba Minangkabau ini. Di samping itu, dunia seni tradisional Minangkabau juga mengenal Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto yang telah mengangkat beberapa kaba menjadi naskah randai. Kaba Cinduo Mato juga telah ditransformasikan oleh M. Yusuf (seorang penggiat film di Sumatera Barat) menjadi teks skenario film. Hingga penyusunan laporan penelitian ini, naskah tersebut masih dalam proses produksi. Di samping itu, tidak sedikit seniman dari ISI Padang Panjang yang telah mengangkat kaba menjadi naskah teater. Oleh karena itu, tim peneliti memandang kaba bisa direvitalisasi menjadi bentuk seni apapun. Namun demikian, hasil penelitian ini lebih menekankan pada kemungkinan alih media dan bentuk menjadi teks skenario dan komik. Pemilihan dan penentuan kaba yang memenuhi kriteria tersebut adalah pertimbangan khalayak penikmat untuk semua usia, yaitu anak, remaja, dan dewasa. Kaba Cinduo Mato adalah salah satu kaba yang paling dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Dalam kaba ini terungkap banyak materi keminangkabauan. Seperti telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, kaba ini mengangkat tokoh yang berhubungan dengan sejarah dan mitos di Minangkabau. Bundo Kanduang adalah salah satunya.

15

Hingga saat ini, masih menjadi kontroversi tentang tokoh Bundo Kanduang yang terdapat dalam kaba ini. Pertanyaan tentang kebenaran adanya tokoh ini masih menjadi polemik yang cukup hangat. Sebagai hasil karya sastra, tokoh-tokoh dalam kaba ini oleh sebagian khalayak dianggap sebagai rekaan belaka. Namun, menurut sudut pandang yang lain, tokoh dalam kaba ini (terutama Bundo Kanduang) adalah bagian dari fakta sejarah. Terlepas dari kedua hal bertentangan tersebut, citra perempuan dalam kaba ini terungkap melalui tokoh Bundo Kanduang. Di samping itu, sisi kepahlawanan tokoh diangkat dengan sangat baik dalam kaba ini. Cinduo Mato dan Dang Tuanku adalah dua tokoh dengan sikap dan sifat tersebut. Kepahlawanan kedua tokoh ini dalam lingkup pengertian yang sangat luas. Keberanian keduanya lebih banyak untuk kepentingan bangsa dan negerinya. Peran mamak dalam konteks budaya Minangkabau juga muncul dalam kaba ini. Dalam cerita disampaikan peran mamak yang tidak ideal, yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Secara tidak langsung, kaba ini mengunkapkan bagainama seharusnya mamak berperan terhadap kemenakannya. Alur cerita yang panjang pada kaba ini memungkinkan untuk dibentuk menjadi beberapa episode atau bagian. Bisa dilihat bahwa tiap episode kaba ini memiliki tema-tema minor yang dapat dipisah-pisahkan. Selain sisi kepahlawanan, kaba Anggun Nan Tongga memiliki muatan kekerabatan dalam konteks budaya tradisi Minangkabau. Penghormatan kemenakan terhadap mamak ditunjukkan oleh tokoh Anggun Nan Tongga. Sebagai kemenakan, tokoh ini merasa bertanggung jawab untuk menolong mamaknya dari kesulitan. Di samping itu, peran mamak juga ditunjukkan dalam kaba ini. Mamak membimbing kemenakan meskipun tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Harga diri dalam kaba ini disampaikan melalui tokoh utama juga. Oleh karena penghinaan yang diterima, Anggun Nan Tongga berani menempuh bahaya untuk membuktikan baktinya kepada mamak. Kaba Sabai Nan Aluih adalah salah satu kaba dengan tokoh perempuan yang banyak mendapat apresiasi. Telah banyak bentuk baru dari kaba ini terutama naskah drama. Satu hal yang paling menarik adalah tokoh utama yaitu Sabai Nan Aluih yang digambarkan lebih detil dibanding kaba dengan tokoh perempuan lainnya.

16

Kepahlawanan diungkapkan melalui tokoh Sabai ini. Hal inilah yang sulit ditemukan dalam kaba Minangkabau. Tokoh Sabai, melalui analisis unsur intrinsik, digambarkan sebagai tokoh perempuan yang menguasai sektor domestik sekaligus publik dalam konteks kekerabatan Minangkabau. Hal inilah yang menarik dan memiliki potensi untuk dikaji lebih dalam untuk kepentingan ravitalisasinya. Kepahlawanan dalam kisah Hang Tuah telah banyak dikenal khalayak. Kisah tokoh ini telah banyak diapresiasi dalam berbagai bentuk dari cerita anak hingga sinetron di televisi. Namun demikian, terdapat kekhasan dalam cerita kaba Laksamana Hang Tuah ini. Tentu saja khas dalam konteks keminangkabauan yang tidak ditemui dalam versi dari daerah lain (Melayu). Harga diri, solidaritas, dan loyalitas menjadi tema yang cukup menarik diangkat kembali dalam bentuk atau media lain. Sifat dan sikap kepahlawanan Hang Tuah dan keempat kawannya membela negara juga sangat penting guna menjadi sarana pendidikan karakter bangsa. Silek adalah salah satu muatan keminangkabauan yang muncul dalam cerita kaba ini. Keterampilan dan kepiawaian tokoh menggambarkan begitu hebatnya silek dan tidak kalah dengan seni bela diri lain di belahan dunia ini. Di samping itu, budaya merantau juga muncul dalam cerita ini. Dalam kaba ini, merantau tidak hanya bertujuan memperbaiki nasib, tetapi juga mencapai kejayaan diri dan bangsa.

Penutup Penelitian terhadap empat belas kaba ini menunjukkan bahwa terdapat banyak kemungkinan kaba-kaba tersebut dialihmediakan untuk tujuan-tujuan tertentu, terutama dalam rangka revitalisasi sastra tradisional. Alih media dalam penelitian ini adalah kaba menjadi teks skenario atau komik. Hasil analisis menunjukkan bahwa tema-tema keempat belas kaba tersebut tidak jauh berbeda. Tema-tema yang diperoleh adalah kepahlawanan, citra perempuan, harga diri, dan cinta. Semuanya adalah tema yang universal dan sangat umum dalam karya sastra tradisional. Oleh karenanya, pemilihan atas kaba yang layak dialihmediakan dilihat dari muatan keminangkabauan kaba tersebut. Dari keempat belas kaba tersebut, muatan keminangkabauan yang ditemukan adalah kekerabatan, kepahlawanan, citra perempuan, merantau, silek, status sosial, dan religiusitas.

17

Melalui pemilihan dan pengategorian tersebut kaba yang layak dialihmediakan menjadi teks skenario film dan komik adalah kaba Cinduo Mato, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih, dan kaba Laksamana Hang Tuah. Penelitian ini adalah langkah awal untuk langkah selanjutnya. Langkah lanjutan penelitian ini adalah produk berupa teks skenario atau komik keempat kaba tersebut. Oleh karenanya, tim peneliti berharap akan ada tindak lanjut terhadap hasil penelitian ini.

Daftar Pustaka Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York, Chicago, San Francisco, Dallas, Montreal, Toronto, London, Sidney: Holt, Rinehart and Winston. Alam, Dt. Paduko. 2008. Kaba Rancak di Labuah (cetakan ke-2). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Djamaris, Edwar. 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 1985. Kaba Puti Nilam Cayo. Bukittinggi: CV Balai Buku Indonesia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 1987. Cindua Mato. Bukittinggi: CV Pustaka Indonesia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 1987. Kaba Si Gadih Ranti. Bukittinggi: CV Pustaka Indonesia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2005. Kaba Siti Kalasun (cetakan ke-2). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2006. Kaba Tuanku Lareh Simawang (cetakan ke-2). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2006. Kaba Sutan Lembak Tuah (cetakan ke-2). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2011. Kaba Puti Nilam Cayo (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2011. Kaba Si Buyuang Karuik (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2012. Kaba Laksamana Hang Tuah (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2012. Kaba Si Gadih Ranti (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endah, Syamsuddin St. Rajo. 2012. Kaba Siti Baheram (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: FBS UNY. Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Ende Flores: Nusa Indah. Esten, Mursal. 1999. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa. Gianetti, Louis D. 1987. Understanding Movie. New Jersey: Englewood Cliffs. Gayatri, Satya dan Herry Nur Hidayat. 2009. Menumbuhkembangkan Minat dan Pemahaman Siswa Terhadap Kebudayaan Minangkabau dengan Media Audio Visual di SMP N 1 Padang. Jurnal Warta Pengabdian Andalas Vol. XV, Nomor 22, Juni 2009.

18

Junus, Umar. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: Balai Pustaka. Kato, Tsuyoshi. 1989. Nasab Ibu dan Merantau: Tradisi Minangkabau yang Berterusan di Indonesia (terjemahan Dr. Azizah Kassim). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Kelsall, Malcolm. 1987. Studying Drama: An Introduction. London: Edward and Arnold. Kolker, Robert Phillip. 2002. Film, Form, and Culture. New York: McGraw-Hill Education. Mahkota, Ambas. 2005. Anggun Nan Tongga. Bukittinggi: Kristal Multimedia. Mahkota, Ambas. 2011. Anggun Nan Tongga (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Mangkudun, Sutan dan Ilyas Sutan Pangaduan. 2011. Kaba Rambun Pamenan (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Miles, M.B. dan Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohedi. Jakarta: UI-Press. Moleong, L.J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muhadjir, N. 1998. Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Nababan, M. Rudolf. 2003. Teori Menerjemah Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nasarudin, Sutan. 2011. Kaba Siti Risani (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Navis, A.A. 1984. Alam Takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers. Pangaduan, Sutan. 2008. Kaba Magek Manandin (cetakan ke-2). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Payakumbuh, Ilyas. 2012. Kaba Si Umbuik Mudo (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt R. 2011. Kaba Sabai Nan Aluih (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Penghulu, M. Rasyid Manggis Dt R. 2012. Kaba Malin Deman (cetakan ke-3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Sumarno, Marselli. 1996. Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo.

19