Anda di halaman 1dari 15

KABA MINANGKABAU: PROSA MENJADI KOMIK

Oleh: Wasana Herry Nur Hidayat Eka Meigalia

Abstrak Kaba adalah salah satu karya sastra khas Minangkabau. Seperti halnya karya sastra tradisional lainnya, kaba memiliki muatan lokal yang sarat dengan pembelajaran. Di sisi lain, minat terhadap karya sastra tradisional ini mulai memudar seiring berjalannya waktu. Artikel ini memaparkan salah satu bentuk revitalisasi kaba sebagai produk lokal Minangkabau. Melalui transformasi bentuk dari prosa menjadi komik, diharapkan minat terhadap kaba akan bertambah. Di samping itu, transformasi bentuk ini juga dapat dipergunakan sebagai pengayaan bahan ajar muatan lokal. Melalui tahap interpretasi, kaba Sabai Nan Aluih diolah dan ditransformasikan menjadi bentuk komik. Dalam hal ini, interpretasi dilakukan terhadap visualisasi tokoh dan alur cerita. Lebih lanjut, alur cerita diolah kembali sehingga jalan cerita menjadi lebih menarik. Kata kunci: kaba, Sabai Nan Aluih, komik, transformasi.

Abstract Kaba is one of Minangkabaus literary works. Like others traditional literary works, kaba has lots of local contents. But through times, the interests of this kind faded. This article exposes an alternative to revitalized kaba. The transformation from prose to comic, the interest of kaba may increase. Also, this transformation product could be used to enrich learning materials of local cotents. Through interpretation, kaba Sabai Nan Aluih was tricked and transformed into comic. Interpretation on characters visualization and replotting results more interesting story. Keyword: kaba, Sabai Nan Aluih, comic, transformation.

Pengantar Salah satu bentuk karya seni sastra Minangkabau adalah kaba. Menurut Navis (1984), jika dilihat dari gaya bahasanya kaba betul-betul merupakan produk khas Minangkabau. Jika dilihat dari segi ceritanya, kaba dapat digolongkan menjadi dua, kaba klasik dan yang baru. Hal ini sejalan dengan Junus (1984) yang juga membagi dua kelompok kaba, kaba klasik dan tak-klasik. Sebagai cerita, kaba terbentuk dan dibangun oleh beberapa unsur cerita. Secara umum, sebuah cerita (prosa) mengandung unsur tema, tokoh dan penokohan, alur cerita, dan latar cerita. Amanat dan pesan yang ada dalam cerita dibentuk dan dibangun melalui unsurunsur tersebut. Djamaris (2002) juga menambahkan bahwa kaba berfungsi sebagai hiburan, pelipur lara, dan sebagai nasihat. Di dalam kaba juga terkandung banyak nilai budaya. Namun, dewasa ini, pengetahuan akan hasil seni tradisi, khususnya Minangkabau, tampak semakin terkikis dan berkurang. Masyarakat adat Minangkabau sendiri mulai merasa gelisah akan keadaan ini. Sepanjang pengetahuan penuli, sebagian besar anak muda Minangkabau generasi yang lahir tahun 1980-an tidak mengenal hasil seni tradisinya. Mereka tidak lagi mengenal kaba, randai, indang, dan bahkan pasambahan. Pengetahuan generasi muda dewasa ini terhadap hasil seni budaya tradisi tampak sangat kurang. Berdasarkan pengalaman penulis mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan beberapa perguruan tinggi swasta di Padang, hanya sedikit siswa yang mengetahui dan mengenal hasil karya seni tradisi Minangkabau. Sangat ironis, bahwasanya mereka menuntut ilmu di Fakutas Ilmu Budaya, tetapi tidak mengenal karya seni dan budaya Minangkabau. Sementara itu, hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan penulis pada tahun 2008 menunjukkan masih terdapat potensi ketertarikan anak dan generasi muda terhadap karya seni tradisi Minangkabau. Dalam kegiatan tersebut, tim mengolah bentuk bahan ajar mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) dalam bentuk gambar dan multimedia (rekaman video). Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kemasan seni tradisi perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan minat siswa sehingga siswa merasa lebih dekat dengan dunianya, yaitu dunia digital. Dalam upaya mengenalkan dan melestarikan karya seni budaya tradisi kaba, perlu adanya sebuah bentuk transformasi kaba tersebut. Salah satu bentuk transfromasi itu adalah perubahan menjadi bentuk komik sehingga diharapkan akan lebih mudah diterima oleh khalayak penikmat terutama remaja dan anak-anak.

Komik di Indonesia pertama kali muncul pada tahun 1930-an dalam bentuk strip. Komik ini terdapat dalam sebuah media massa milik pemerintah Belanda De Java Bode dan Dorient. Hingga tahun 1960-an, komik di Indonesia berkembang masih dalam bentuk strip. Masyarakat Indonesia pada umumnya menganggap komik adalah salah satu bentuk karya seni (sastra) yang kurang bermanfaat. Komik hanya dianggap sebagai cerita bergambar yang tidak memancing imajinasi pembacanya. Hal ini tentunya jika dibandingkan dengan genre karya sastra lainnya. Maya Mannes (dalam Heer, 2004) bahkan menyebutkan Every hour spent in reading comics is an hour in which all inner growth has stopped. Dalam hal ini, Mannes mempertimbangkan kentalnya unsur kekerasan dalam komik. Sementara itu, di Indonesia, komik dianggap sebagai penyebab menurunnya moral. Mustaqim (2007) menyebutkan anggapan ini muncul dan berkembang setelah revolusi tahun 1965 dan pergantian politik dan kekuasaan di Indonesia. Namun demikian, di sisi lain komik juga bisa dianggap sebagai salah satu bentuk bahan ajar yang paling mudah diterima oleh anak didik. Anak didik akan lebih mudah menerima dan memahami materi dan muatan-muatan yang terdapat dalam komik. Tidak sedikit komik yang mengandung muatan positif yang pada akhirnya tertanam pada anak didik. Tidak mengherankan apabila anak didik akan lebih memilih membaca komik daripada buku teks. Bahkan, beberapa buku teks pengantar bidang ilmu telah ditransformasi menjadi bentuk komik. Pada tahun 1993, Fakultas Sastra Universitas Indonesia membentuk sebuah lembaga Kajian Komik Indonesia (KKI). Bahkan, sejak tahun 1998, Kementerian Departemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan bekerja sama dengan Balai Pustaka menyelenggarakan secara rutin sebuah kompetisi komik dan Comic and Animation Exhibition. Sejak tahun 1990an, perkembangan komik Indonesia yang sempat mengalami kemunduran kembali memperlihatkan kemajuan. Hasilnya, hingga saat ini telah banyak komik-komik yang dibuat oleh anak-anak bangsa ini untuk berbagai kepentingan termasuk pendidikan. Pada tahun 2012, penulis telah melakukan penelitian terhadap kemungkinan

transformasi bentuk kaba Minangkabau. Dasar penelitian tersebut adalah menggali dan merevitalisasi muatan keminangkabauan yang terdapat dalam karya tradisional minangkabau. Selanjutnya, penelitian tersebut memperoleh kesimpulan bahwa paling tidak terdapat empat buah kaba yang memiliki potensi besar untuk ditransformasikan menjadi bentuk lain, termasuk komik. Berdasarkan uraian di atas, dirasa sangat perlu sebuah bentuk karya seni bermuatan tradisi Minangkabau yang lebih berterima di khalayak penikmat muda. Dengan demikian,
3

tidak hanya bentuk seni tersebut yang bisa diterima khalayak penikmat, tetapi juga aspek isi dan muatan budaya tradisi yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, terdapat pertimbangan karya tradisi tersebut bisa dikenal tidak hanya oleh masyarakat Minangkabau. Di sisi lain, terdapat pula kemungkinan bentuk tersebut menjadi model atau acuan transformasi karya seni tradisi di luar Minangkabau sebagai bentuk upaya pengenalan dan pelestariannya. Artikel ini memerikan proses transformasi kaba Sabai Nan Aluih menjadi komik. Transformasi kaba ini diharapkan dapat memberikan manfaat di antaranya: 1) contoh bentuk aplikasi alih media karya sastra; 2) menambah ragam penelitian; 3) menumbuhkan dan meningkatkan gairah penelitian. Tinjauan Kepustakaan Kaba adalah cerita prosa berirama. Dari segi cerita, kaba hampir sama dengan hikayat. Pada awal perkembangannya, kaba berbentuk sastra lisan, sebuah karya sastra yang disampaikan secara lisan dengan didendangkan atau dilagukan dan diiringi alat musik saluang atau rebab (Djamaris, 2002). Dalam perkembangannya, kaba disebarluaskan dengan tulisan. Menurut Navis (1984), kaba tulisan yang tertua ditulis dengan huruf Arab. Dilihat dari asal katanya, kaba diyakini berasal dari bahasa Arab akhbar yang dilafalkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kabar dan ke dalam bahasa Minangkabau menjadi kaba (Navis, 1984). Pada akhirnya, istilah kaba menjadi rancu ketika bertemu dengan kata cerita (curito) sehingga pemahaman saat ini kaba adalah cerita pelipur lara. Dalam upaya mengenalkan dan melestarikan karya seni budaya tradisi kaba, perlu adanya sebuah bentuk transformasi kaba tersebut. Salah satu bentuk transformasi itu adalah perubahan menjadi bentuk komik sehingga lebih menarik bagi pembaca. Will Eisner (dalam McCloud, 1993) menyebut komik sebagai sequential art. Lebih lanjut, McCloud (1993) sendiri menyimpulkan komik adalah gambar yang terpisah tetapi berkelanjutan yang memiliki tujuan sekadar memberi informasi atau untuk menimbulkan respon estetik terhadap penikmatnya. Dibandingkan dengan film kartun animasi, komik memiliki satu perbedaan pokok. Sekuen dalam film animasi menempati ruang (space) yang sama, sedangkan sekuen dalam komik menempati ruang yang berbeda. Bisa dikatakan, apabila film animasi dibentuk sebagai komik maka akan memerlukan ruang yang sangat banyak. Komik adalah salah satu bentuk karya seni tertua di dunia. McCloud (1993) menyebutkan, manuskrip komik tertua yang ditemukan diperkirakan dibuat pada tahun 1049

SM. Komik tersebut ditemukan di Kolombia oleh Cortez pada tahun 1519 dan isinya bercerita tentang kehebatan seorang tokoh politik masa itu. Hal yang lebih menarik adalah komik tersebut berbentuk lukiran berwarna. Selain memiliki bentuk tulisan hieroglyph, kebudayaan Mesir kuno diketahui juga telah membuat komik. Komik tersebut ditemukan di dinding Kuil Menna, salah satu kuil kuno Mesir. Gambar pada dinding tersebut diyakini sebagai bentuk komik oleh karena memiliki urutan cerita, berbeda dengan hieroglyph yang menyimbolkan bunyi dengan gambar (McCloud, 1993). Berbicara tentang komik, secara tidak langsung juga bicara tentang ikon. McCloud (1993) menyebutkan ikon adalah to mean any image to represent a person, place, thing, or idea. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan ikon dalam lingkup ilmu semiotika yang menganggap ikon adalah tanda yang memiliki hubungan kemiripan dengan petandanya. Dalam hal ini, ikon digunakan sebagai representasi muatan keminangkabauan yang terdapat dalam kaba. Lebih lanjut, McCloud (1993) menyebutkan terdapat enam hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat komik. Enam hal tersebut adalah moment to moment, action to action, subject to subject, scene to scene, aspect to aspect, non sequiture. Berdasarkan hal tersebut, pemilihan peristiwa, lakuan dan dialog, adegan, dan aspek yang terdapat dalam kaba sangat penting dilakukan dalam pembuatan komik ini.

Metodologi Metode yang digunakan dalam proses transformasi ini adalah metode kualitatif. Metode ini lebih menitikberatkan pada interpretasi dan penafsiran terhadap objek dan data penelitian. Tahap pertama adalah melakukan interpretasi terhadap bentuk visual tokoh-tokoh kaba. Objek penelitian, dalam hal ini Kaba Sabai Nan Aluih, dibaca berulang untuk memperoleh gambaran yang tepat mengenai tokoh-tokoh di dalamnya. Di samping itu, juga menambah data melalui wawancara dengan pihak-pihak yang berkompeten. Tahap selanjutnya adalah penyusunan alur penceritaan. Kaba Sabai Nan Aluih adalah salah satu kaba yang banyak dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Namun demikian, penulis mencoba menyusun ulang alur penceritaan komik kaba ini. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk memasukkan unsur-unsur keminangkabauan yang tidak muncul dalam cerita kaba.

Tahap ketiga, pembuatan gambar. Alur penceritaan yang telah disusun kemudian dituangkan dalam bentuk gambar komik. Dalam tahap ini, dipilih dan disusun bentuk-bentuk dialog yang muncul dalam cerita. Tahap terakhir adalah tahap penyelesaian. Draft komik yang telah selesai kemudian dievaluasi dan dibandingkan dengan cerita kaba aslinya. Dilakukan pula wawancara dengan beberapa narasumber untuk turut serta melakukan evaluasi.

Transformasi Kaba Menjadi Komik Meskipun boleh dikatakan tertinggal dari negara-negara tetangga, transformasi media bukanlah hal baru dalam dunia sastra di Indonesia. Dalam satu dasa warsa terakhir telah banyak novel yang ditransformasikan menjadi film dan sinetron televisi. Semenjak meledaknya bentuk transformasi novel Ayat-Ayat Cinta menjadi film, telah banyak novel yang menyusul difilmkan. Publik seolah dikejutkan dengan bentuk baru tersebut. Padahal, pada era tahun 1970-an hingga 1980-an, Indonesia telah pula banyak melahirkan bentukbentuk ekranisasi (pelayarputihan) ini. Sebut saja Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka, Kado Istimewa karya Jujur Prananto, Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, dan beberapa novel populer saat itupun telah ditransformasikan menjadi film. Salah satu menfaat yang dapat diambil melalui hasil transformasi tersebut, khalayak dapat lebih mengapresiasi karya sastra meskipun dalam bentuk yang berbeda. Publik seakanakan dibuat penasaran dengan karya asli film yang diangkat dari karya sastra. Dari pengamatan sekilas, penonton film Di Bawah Lindungan Kabah sebagian besar telah mencoba menjangkau novel karya Hamka tersebut. Hal tersebut terjadi pula dengan bentuk ekranisasi lain, terutama dari novel-novel yang cukup terkenal. Hal tersebut pula yang menjadi salah satu alasan usaha transformasi kaba Minangkabau menjadi bentuk lain yang diharapkan akan lebih berterima dan pada akhirnya publik akan berusaha menjangkau bentuk aslinya. Seperti telah dikemukakan di atas, sebagai salah satu bentuk prosa tradisi kaba mengandung pula unsur-unsur pembangun prosa. Unsur-unsur tersebut bisa disebutkan antara lain tokoh, alur, latar, dan tentu saja tema cerita. Oleh karenanya, sebagai tahap awal proses transformasi kaba menjadi komik ini, interpretasi terhadap unsur-unsur pembangun cerita menjadi sangat penting. Di samping untuk meminimalkan perbedaan, penerimaan dan keterbacaan hasil akhir menjadi pertimbangan yang penting. Satu hal yang juga perlu disampaikan di sini adalah style (gaya) komik yang dibuat. Dari berbagai genre komik, kaba Sabai Nan Aluih ini ditransformasikan menjadi bentuk
6

komik yang cenderung ke arah manga (komik Jepang). Pertimbangan ini diambil oleh karena beberapa tahun terakhir ini perkembangan manga di Indonesia, Sumatera Barat khususnya, sangat pesat. Hal tersebut menunjukkan minat terhadap komik lebih besar kepada bentuk manga.

Gambar 1. Mangkutak dan layang-layangnya

Kaba Sabai Nan Aluih adalah salah satu kaba yang cukup dikenal masyarakat Minangkabau, terutama yang tinggal di wilayah geografis Sumatera Barat. Kaba ini telah diapresiasi dan diresepsi menjadi berbagai macam bentuk bahkan pernah difilmkan (TVRI). Melakukan transformasi dan adaptasi terhadap karya yang telah dikenal publik memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Penerimaan hasil menjadi faktor yang sangat penting. Tokoh Sabai, selain unik, bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh ikonik Minangkabau. Sabai adalah gadis yang hampir memenuhi kriteria perempuan Minangkabau yang ideal. Dikatakan hampir sebab terdapat beberapa hal keminangkabauan yang juga tidak muncul dalam cerita ini melalui tokoh Sabai.

KUNUNLAH di maso dahulu, di Agam sabaleh lareh, dalam nagari Padang Tarok, tanah data buminyo subur, sawah laweh ladang manjadi, bukik mamaga bakuliliang. Niniak mamak di Padang Tarok, kayu rindang di tangah koto, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, daunnyo perak jo suaso, bungonyo ambiak ka suntiang, buahnyo buliah dimakan, tampek bataduah kutiko hujan, tampek balinduang di haripaneh.
7

Adok kapado Alim mama, Suluah Bendang Dalam Nagari, tampek batanyo saruweh tagah, tampek mangaji halal jo haram, nan mahukum sah jo batal. Adat taguah syarak pun kokoh, sanda manyanda kaduonyo, anak kamanakan ba kakambangan, nagari tacelak tampak jauah, nan tabarombong tampak hampia, tapatan nagari Bungo Satangkai. (Manggis, 2011:9-10) Konon di masa dahulu, di Agam sebelas lareh, dalam Nagari Padang Tarok, tanahnya subur, sawah luas ladang menjadi, bukit memagar sekeliling. Ninik mamak di Padang Tarok, kayu rindang di tengah koto, akarnya tempat istirahat, batangnya tempat bersandar, bunganya untuk sunting, buahnya bisa dimakan, tempat berteduh saat hujan, tempat berlindung saat panas. Adalah alim ulama, Suluah Bendang dalam nagari, tempat bertanya segala sesuatu, halal atau haram, yang sah atau batal. Adat teguh syarak pun kokoh, saling menguatkan, anak kemenakan berkembang, seperti halnya bunga setangkai.

Gambar 2. Lukisan latar cerita

Secara fisik, Sabai digambarkan sebagai perempuan yang nyaris sempurna. Paras yang elok didukung oleh perilaku yang lembut dan santun. Dalam kaba, Sabai digambarkan sebagai perempuan yang mampu membawa diri baik di dalam maupun di luar rumah.

Lorong kapado Sabai Nan Aluih, jikok dipandang-pandang bana, jaranglah gadih ka tandiangnyo, badannyo rampiang lamah sumampai, mukonyo bunda daun bodi, rambuik karitiang galuang tigo, kaniangnyo kiliran taji, mato ketek jo lindoknyo, pancaliakan sirauik jatuah, bulu mato samuik bairiang, talingo jarek tatahan, pipinyo pauah dilayang, hiduangnyo bak dasun tungga, muluiknyo dalimo rangkah, bibianyo asam sauleh, gigi rapek putiah manggewang, lidahnyo mampalam masak, daguaknyo labah bagantuang, kulik nan kuniang kamerahan, bak udang kapalang panggang, jarinyo aluih bak duri landak, karek kuku bulan ka habih, batihnyo bak paruik padi, tumik nan bagai talua buruang. Kok dipandang Sabai bajalan, langkahnyo siganjua luluah, malenggang indak tapampeh, bak undan turun ka talago. Dek garak gariknyo sagalo aluih, sampai kapado tagua sapo, sarato budi dangan baso, Sabai baruliah namo julukan, iyolah Sabai 'Nan Aluih'.(Manggis, 2011: 14-15) Adalah Sabai Nan Aluih, jika dipandang jarang gadis menandinginya, badanya ramping semampai, muka bak daun bodi, rambut ikal, kening kiliran taji, pandangannya menunduk, bulu mata bak semut beriring, pipinya irisan pauh, hidung bak dasun tunggal, mulut bak delima merekah, gigi rapat dan putih, dagu lebah bergantung, kulit kuning kemerahan, jari bagai duri landak, betis bak padi, tumitnya bak telur burung. Saat Sabai berjalan, langkahnya lambat melenggang. Oleh gerak yang halus, sampai pada tegur sapa, budi dan bahasa, Sabai mendapat julukan Sabai Nan Aluih Sabai Yang Halus

Gambar 3. Sabai Nan Aluih Di sisi lain, tokoh Sabai adalah tokoh yang cerdas dan terampil. Cerdas dalam mengambil sikap dan keputusan dalam waktu singkat. Terampil karena tokoh Sabai ini digambarkan menguasai berbagai macam keterampilan yang boleh dikatakan maskulin, seperti silek (silat), menembak (bedil), dan berkuda. Hal inilah yang hendak diangkat untuk pengetahuan unsur keminangkabauan yang jarang diketahui bahkan oleh orang Minangkabau sendiri. Bahwa perempuan Minangkabau tidak hanya menguasai urusan domestik rumah tangga, tetapi juga menguasai unsur luar rumah (gadang) adalah hal yang penting dalam kehidupan keluarga di Minangkabau.

Lah tagak Sabai Nan Aluih, taruihnyo masuak ka biliak dalam, diambiak badia salareh , sarato masiu dalam tompang, dikanakkan pakaian sagalo hitam, bakodek sarawa dalam, kain kapalo kipeh takambang, eawek salendang tanah liyek, tajumbai hinggo lutuik kida, di pasisik karih sabilah, badukuah baantiang antiang, bagalang ciek sabalah, sambilan einein di jari, cincin banamo ka sadonyo. Bari izin denai di Mandeh, denai manjapuik bapak kanduang, jikok japuik indak tabaok, pantang ka pulang-pulang sajo, dadak mananti di tampuruang. Kok lah pulang inyo Si Mangkutak, suruah sugiro inyo manuruik, cari ka padang pahaunan, indak buliahnyo batangguahtangguah, jan pabia bapayuang rumah." Sadanglah Sabai Nan Aluih, dek pintu lah tabukak, janjang takanak salamonyo, turunlah inyo ka laman, tadayuak pinggang nan lamah, tadodong bahu nan kambang, marantak subang di talingo, gumiro cincin di jari. (Manggis, 2011: 51-52) Berdiri Sabai Nan Aluih, lalu masuk ke bilik, diambilnya bedil dan mesiu, dikenakannya pakaian serba hitam, dengan ikat kepala dan selendang terjuntai hingga lutut, diselipkan sebilah keris. Beri aku izin, Ibu. Aku akan menjemput ayah, jika tak terbawapulang, pantang aku kembali. Jika Mangkutak pulang, suruh dia menyusul, cari ke padang pahaunan, jangan ditunda-tunda. Sabai Nan Aluih turun ke halaman.

10

Gambar 4. Sabai setelah mendengar Rajo Babandiang terbunuh

Tokoh yang juga mendapat perhatian lebih adalah tokoh Rajo Babandiang (ayah Sabai) dan Mangkutak Alam (adik Sabai). Melalui tokoh Rajo Babandiang, diungkapkan kriteria seorang gadih (gadis) ideal Minangkabau. Episode nasihat Rajo Babandiang kepada Sabai secara jelas menguraikan empat jenis gadis menurut konsep keminangkabauan. Di samping itu, melalui nasihat Rajo Babandiang kepada Mangkutak Alam diuraikan empat jenis bujang (pemuda) menurut konsep keminangkabauan. Sebuah komik yang menitikberatkan pada unsur visual akan lebih mudah menjelaskan sebuah kondisi, keadaan, dan peristiwa. Hal tersebut menjadi bahan pertimbangan deskripsi unsur-unsur keminangkabauan yang belum atau kurang jelas di dalam kaba. Daya imajinasi masing-masing pembaca tentu berbeda. Deskripsi rumah gadang dalam kaba yang berbentuk prosa liris misalnya, akan diterima dan dipahami berbeda oleh pembaca. Oleh karenanya, visualisasi hasil interpretasi terhadap kaba diharapkan dapat menyatukan persepsi tentang rumah gadang. Deskripsi terbatas tentang senapan (bedil) akan lebih jelas oleh hasil visualisasi yang telah disesuaikan dengan latar waktu cerita melalui tahap interpretasi. Demikian pula unsur-unsur keminangkabauan lainnya.

11

Kununlah maso leh nantun, rumah nan gadang sambilan ruang, sajauah kubin malayang, sapakiak budak mahimbau, atok ijuak batatah timah, gonjongnyo rabuang mambacuik antiang-antiang disemba buruang, parannyo ilia manyulampai, tuturan alang babega dindiangnyo hari dilanja paneh, bandua baukia tampuak manggih , Tiang tapi panaguah alek, tiang tangah puti bakuruang, tiang panjang si majolelo, disapu jo tanah kewi, ukia tunggak jadi ukuran, dama tirih bintang gumarau, mangirab mato dek mamandang. Pudiang ameh paga di lua, pudiang perak paga di dalam, halaman kasah tadang bantang, kasiak lumek bak ditintiang, cibuak mariau jolong sudah, lasuangnyo batu balariak, alu timpato dibulekkan, kamuniang pautan kudo. Rangkiang tigo sajajaran, di tangah Si Tinjau Lawik, panjapuik dagang nan jauah, paninjau pincalang masuak, di suok Sibayau-bayau, panaguah anak dagang lalu, lumbuang rumah nan makanan patang pagi. Di kida Sitangka Lapa, tampek nan miskin salang tenggang, panolongurang dalam kampuang, di maso lapa gantuang tungku, langkok jo tabek parikanan, sananlah ikan jinak-jinak, sananlah puyu baradai ameh. (Manggis, 2011: 10-11
I

Konon saat itu, rumah gadang sembilan ruang, atap ijuk bertatah timah, gonjong menjulang, berukir buah manggis. Tiang tepi panaguah alek, tiang tengah puti bakuruang, tiang panjang si majolelo, ukiran jadi ukuran, indah dipandang. Pudiang emas pagar di luar, pudiang perak pagar di dalam, halaman berpasir, lesungnya batu, kemuning untuk tambatan kuda. Rangkiang tiga, di tengah si tinjau lawik, di kanan Sibayau-bayau, di kiri Sitangka Lapa.

Gambar 5. Rumah gadang

12

Di sisi lain, proses transformasi ini juga telah mencoba memasukkan unsur-unsur keminangkabauan yang tidak terdapat dalam kaba. Akan tetapi, hal tersebut dipilih agar tidak mengganggu pakem cerita inti. Unsur-unsur tersebut sebagian telah disebutkan di atas. Selain itu, filosofi layang-layang dan bermain layang-layang secara jelas diungkapkan di sini melalui tokoh Mangkutak Alam. Basilek, berlatih menembak dan berkuda bagi perempuan Minangkabau juga diberi porsi lebih besar dibanding dengan kaba. Unsur-unsur tersebut diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan pakar dan praktisi budaya Minangkabau. Sungguahpun kawek nan dibantuak, ikan di lawik nan dihadang, Rajo Babandiang urang nan arif, mandanga tutua Sadun Saribai,manjawab inyo sadang makan, ''Usahlah itu dirusuahkan, namonyo anak laki-laki, manga dipakso bapayuang rumah,bia bamain sarno gadang, nak tahu di baso-basi, elok babaua jo nan tuo, nak tahu di ereng jogendeng. Urang bamain alang-alang, bukan toh pamenan mato sajo, banyak manfaat di dalamnyo, kok malapeh di padang lapang, jago tunggua ka manaruang, jago rantiang ka manyangkuik, nantikan kutiko nan elok. Kok malapeh di angin kancang, amuah putuih alang-alang, hilang lanyok pamenan mato, kok angin tidak basiru, alang-alang dima ka naiak. Sabagai pulo denai katokan, alah moh rancak alang-alang, bia bajumbai badanguangdanguang, banang palapeh mangapalang, usahkan inyo tagak tali, mambubuang indak ka namuah, indak jadi pamenan mato, indak tasabuik urang nan punyo. Limbak nan dari pado itu, Si Kutak marauik alang-alang, baraja maukia sarno panjang, baraja mangati sarno barek, kok taraju nan bapaliang. Kok tumbuah basiru ribuik kancang, alang-alang sadang di udaro, di sinan mangko hati-hati, raso ka tagang dikanduai, supayo tagang jan mamutuih, di sinan mangko baruno, banang taeso di kumpalan. Kok mati angin di ateh, raso ka kandua ditagangi, elok-elok maenjo tali, banang jan kusuik di kumpalan. Biakan Mangkutak pai bamain, baraja raso jo pareso, kok mujua baranak laki-laki, jadi kinantan gombak bauak, putiah cotok putiah ranggah, pahuni lasuang di laman." (Manggis, 2011: 19-21) Walaupun kawat dibentuk, ikan di laut di hadang, Rajo Babandiang orang arif, mendengar tutur Sadun Saribai, menjawab dia, Usah dirisaukan, namanya anak laki-laki, mengapa dipaksa di rumah, biar bermain, biar tahu basa basi, bisa berbaur, tahu tata krama. Orang bermain layang-layang, bukan sekadar permainan, banyak manfaat di dalamnya. Saat di tanah lapang, berjaga dia terhadap sesuatu. Saat angin kencang, jangan sampai putus. Saat angin tak berhembus, dicari tempat di mana akan menaikkannya. Lagipula, baguslah layang-layang, berjumbai berdengung, bila tak melayang, tak ada yang memandang, tak disebut orang yang punya. Si Kutak meraut layang-layang, belajar mengukir, belajar menimbang.

13

Saat layang-layang tinggi dan angin kencang berhembus, saat itu dia berhati-hati, tegang dikendurkan agar benang tak putus. Jika angin mati di atas, terasa kendur ditegangkan, memperhitungkan agar benang tak kusut di gumpalan. Biar Mangkutak pergi bermain, beruntung beranak laki-laki.

Gambar 6. Rajo Babandiang tentang Mangkutak dan layang-layang

Hasil transformasi kaba menjadi komik ini diharapkan dapat pula dijadikan bahan ajar bagi mata ajar Budaya Alam Minangkabau. Melalui komik Sabai Nan Aluih ini, siswa didik bisa memperoleh informasi mengenai beberapa hal keminangkabauan. Rumah gadang, bermain layang-layang, gadih Minangkabau, dan bujang Minangkabau adalah beberapa di antaranya.

Penutup Transformasi dan adaptasi tidaklah bermaksud untuk merusak atau menurunkan nilai adi luhung sebuah karya tradisional. Sebaliknya, proses tersebut memiliki muatan usaha melestarikan bahkan memperkuat pemahaman khalayak terhadap nilai-nilai tersebut. Melalui hasil transformasi dan adaptasi, generasi muda akan lebih mudah mencerna dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam karya tradisional yang sebelumnya mereka anggap kuno dan ketinggalan zaman. Singkatnya, hasil transformasi dan adaptasi terhadap karya sastra

14

tradisional akan lebih mendekatkan karya kepada khalayak dan mempermudah pemahaman terhadapnya.

DAFTAR PUSTAKA Navis, A.A. 1984. Alam Takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers. Junus, Umar. Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: Balai Pustaka. Djamaris, Edwar. 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Heer, Jeet dan Kent Worcester (ed). 2004. Arguing Comics: Literary Masters on Popular Medium. Mississippi: University Press of Mississippi. Manggis, M. Rasyid Dt. R. Penghulu. 2011. Kaba Sabai Nan Aluih (cet 3). Bukittinggi: Kristal Multimedia. Mustaqim, Karna. 2007. Mumbling Our Comics: An Overview of Indonesian Comic Books Condition. dalam International Journal Comic Arts 9 No 1 Spring 2007 halaman 311331. McCloud, Scott. 1993. Understanding Comics: The Invisible Art. New York: Kitchen Sink Press.

15