Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI KESEHATAN CURRENT ISSUE IN SOCIOANTROPOLOGY VAKSIN HAJI DARI BABI

OLEH: BETY CICI ANGRAINI (101311123052)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2013

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga makalah Sosio Antropologi Kesehatan yang perjudul Current Issue in Socioanthropology telah berhasil diselesaikan tepat waktu. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen Sosio Antropologi yang telah membimbing selama penyusunan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan alih jenis Fakultas Kesehatan Masyarakat yang telah memotivasi agar makalah dapat diselesaikan tepat waktu, serta kepada rekanrekan yang telah berkontribusi selama penyusun makalah ini. Kami mengharapkan agar makalah ini dapat dimengerti dan digunakan sebagai media pembelajaran bagi pembaca. Mohon maaf apabila terjadi kesalahan penulisan.

Surabaya, Januari 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ KATA PENGANTAR ....................................................................................... DAFTAR ISI ..................................................................................................... BAB 1: PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 1.3 Manfaat Penulisan ........................................................................................ BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 2.1 Pengertian Kesehatan ................................................................................... 2.2 Pemahaman Sosio Antropologi Kesehatan .................................................. 2.2.1 Pengertian Sosiologi ........................................................................... 2.2.2 Pengertian Antropologi ....................................................................... 2.2.3 Sosiologi Kesehatan ............................................................................ 2.2.4 Antropologi Kesehatan ....................................................................... 2.3 Konsep Sehat dan Sakit Menurut Budaya Masyarakat ................................ 2.4 Issues ............................................................................................................ 2.4.1 Pengertian Isu ...................................................................................... 2.4.2 Current Issue ....................................................................................... 2.4.3 Perkembangan Isu ............................................................................... 2.4.4 Karakteristik Isu .................................................................................. 2.4.5 Kategori Isu ......................................................................................... 2.4.6 Memilih dan Menetapkan Isu .............................................................. 2.4.7 Media Penyebarluasan Isu ................................................................... 2.4.8 Topik Utama dalam Kajian Sosiologi Kesehatan ............................... 2.5 Hubungan Antropologi Kesehatan dan Ekologi ........................................... 2.6 Masalah Terkait Isu dalam Sosio Antropologi Kesehatan ............................ 2.6.1 Penyebaran masalah kesehatan ........................................................... 2.6.2 Masalah Kesehatan di Indonesia .........................................................

1 2 3 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 11 14 14 15 16 17 18 19 20 20 21 22 22 22

2.7 Tentang Meningitis ....................................................................................... BAB 3 : CONTOH ISU TERKINI DI BIDANG KESEHATAN VAKSIN MENINGITIS HAJI DARI BABI ..................................... BAB 4 : PEMBAHASAN ................................................................................. BAB 5 : PENUTUP ........................................................................................... 5.1Kesimpulan ................................................................................................... 5.2 Saran ............................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................

24

25 30 32 32 32 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah kesehatan masyarakat saat ini menjadi masalah penting yang harus

ditangani terutama mengenai sehat sakit. Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokterran dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan deeradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu tempat tertentu. Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Meningkatnya interaksi budaya antar kelompok masyarakat, suku maupun negara seiring dengan perkembangan media massa telah membawa banyak dampak positif bagi sebuah kelompok masyarakat, suku maupun negara seperti, mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan, mudah melakukan komunikasi, cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi), menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran, memacu untuk meningkatkan kualitas diri, dan mudah memenuhi kebutuhan. Namun,

globalisasi budaya juga telah melahirkan dampak-dampak negatif seperti, informasi yang tidak tersaring, perilaku konsumtif, pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk, dan mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu bangsa. Beberapa hal tersebut diatas diawali dari sebuah isu yang berkembang di sebuah kelompok masyarakat, suku maupun negara, menyebar luas melalui perkembangan media masa yang merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis yang terkait dengan peradaban manusia dan budayanya

1.2

Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari Current Issue in

Socioanthropology. 1.3 Manfaat Penulisan Manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah mahasiswa akan mampu memahami tentang tujuan dan proses current issues in socioanthropology serta dapat mengidentifikasi isu-isu terkini yang terjadi di masyarakat berhubungan dengan konsep kesehatan masyarakat.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Kesehatan Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri. UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral kesehatan.

2.2 2.2.1

Pemahaman Sosio Antropologi Kesehatan Pengertian Sosiologi Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman

sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan.Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yangberjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan AugustComte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentangsosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuantentang masyaraka. Beberapa para ahli mendefinisikan pengertian Sosiologi sebagai berikut : Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dua orang Indonesia ahli Sosiologi ini berpendapat bahwa Sosiologi ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan social. Green (1960) dalam Rahardjo (1999) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mepelajari kehidupan manusia dalam masyarakat, dalam pelbagai aspeknya Priyotamtomo (2001), lebih lanjut mengemukakan bahwa sosiologi

mempelajari perilaku masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. kelompok tersebut mencakup: keluarga, suku, komunitas, pemerintah, organisasi sosial, kelompok ekonomi, kelompok politik, dan lain sebagainya. sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal-susul pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya. Menurut Allan Jhonson, Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut. Emile Durkheim menjelaskan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Paul B. Horton berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

2.2.2

Pengertian Antropologi Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos

yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Para ahli mendefinisikan antropologi sebagai berikut: 1. Menurut William A. Haviland. Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. 2. Menurut David Hunter. Antropologi adalah ilmu keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia. 3. Menurut Koentjaraningrat. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari Definisi Antropologi di atas, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. yang lahir dari

2.2.3

Sosiologi Kesehatan Sosiologi Kesehatan adalah ilmu terapan sosiologi, kajian sosiologi dalam

konteks kesehatan. Sosiologi kesehatan merupakan cabang sosiologi yang relative baru. Di masa lalu dalam sosiologi telah lama dikenal cabang sosiologi, sosiologi medis, yang merupakan pendahulu sosiologi kesehatan dan terkait erat

dengannya.pertumbuhan sosiologi medis berlangsung melalui 6 tahap. Menurut Mechanic tugas medis hanya dapat dilaksanakan secara efektif manakala yang dipertimbangkan baik factor biologis maupun factor social dan psikologis. Mulai dikajinya peran factor social budaya dalam keberhasilan

pelaksanaan tugas medis menjadi dasar bagi tumbuh danberkembangnya sosiologi medis. Menurut Straus membedakan antar sosiologi mengenai bidang medis dan sosiologi dalam bidang bidang medis. Menurutnya sosiologi mengenai bidang medis terdiri atas kajian sosiologis terhadap factor di bidang medis yang dilaksanakan oleh ahli sosiologi yang menempati posisi mandiri di luar bidang medis dan bertujuan mengembangkan sosiologi serta untuk menguji prinsip dan teori sosiologi. Menurut Kendall dan Reader, sosiologi mengenai bidang medis mengulas masalah yang menjadi perhatian sosiologi profesi dan sosiologi organisasi.

2.2.4

Antropologi Kesehatan Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya

terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita Sarwono, 1993). Antropologi Kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya. 1. Pokok perhatian Kutub Biologi : a. Pertumbuhan dan perkembangan manusia b. Peranan penyakit dalam evolusi manusia c. Paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba) 2. Pokok perhatian kutub sosial-budaya : a. Sistem medis tradisional (etnomedisin) b. Masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka c. Tingkah laku sakit d. Hubungan antara dokter pasien e. Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat tradisional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan adalah disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budya dari tingkahlaku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara

10

keduanya

disepanjang

sejarah

kehidupan

manusia,

yang

mempengaruhi

kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3). Antropologi kesehatan merupakan bagian dari antropologi sosial dan kebudayaan yang mempelajari bagaimana kebudayaan dan masyarakat

mempengaruhi masalah-masalah kesehatan, pemeliharaan kesehatan dan masalah terkait lainnya. Istilah Antropologi Kesehatan" telah digunakan sejak 1963 sebagai sebutan untuk hasil penelitian empiris dan teoritis yang dilakukan oleh antropologis kedalam proses sosial dan gambaran kebudayaan dari kesehatan, kesakitan, dan perawatan yang berhubungan dengan kebudayaan Antropologi kesehatan merupakan bagian dari antropologi yang

menggambarkan pengaruh sosial, budaya, biologi, dan bahasa terhadap kesehatan (dalam arti luas) meliputi pengalaman dan distribusi kesakitan, pencegahan dan pengobatan penyakit, proses penyembuhan dan hubungan sosial manajemen pengobatan serta kepentingan dan kegunaan kebudayaan untuk sistem kesehatan yang beranekaragam. Antropologi kesehatan mempelajari bagaimana kesehatan individu, formasi sosial yang lebih luas dan lingkungan dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dan spesies lain, norma budaya dan institusi sosial, politik mikro dan makro, dan globalisasi. Selama lebih dari 20 abad konsep popular medicine atau folk medicine (pengobatan tradisional) telah familiar baik untuk dokter maupun antropologis. Istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan praktek pengobatan masyarakat setempat terutama dengan pengetahuan etnobotani mereka. Selanjutnya, mempelajari pengobatan tradisional menjadi tantangan bagi dunia barat seperti hubungan antara ilmu pengetahuan dengan agama

2.3

Konsep Sehat dan Sakit Menurut Budaya Masyarakat Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal

karena ada faktorfaktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya

11

terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Pengertian sehat memang perlu kita ketahui bersama. Karena memang kesehatan adalah mahal harganya. Begitu banyak orang bisa mengerti akan hakekat sehat ketika dirinya sedang dalam keadaan sakit. Maka mengetahui akan konsep sehat sakit akan membantu kita dalam mengerti arti penting kesehatan dalam kehidupan kita di dunia ini. Kesehatan adalah merupakan suatu pandangan akan kondisi yang fleksibel antara kesehatan badan jasmani dengan kesehatan mental rohani yang dibedakan dalam sebuah rentang yang selalu berfluktuasi atau berayun mendekati dan menjauhi puncak kebahagiaan hidup dari keadaan sehat yang sempurna. Berikut beberapa pengertian sehat menurut WHO dan beberapa ahli kesehatan lainnya. 1. Definisi sehat menurut Badan Kesehatan Dunia WHO adalah bahwa sehat merupakan suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau pun kelemahan. 2. Pengertian sehat menurut UU N0. 23/1992 tentang kesehatan yaitu merupakan suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Berikut beberapa konsep sakit maupun definisi dari sakit itu sendiri. 1. Pengertian sakit adalah merupakan suatu gangguan dari siklus hidup (Imogene King). 2. Sakit adalah merupakan ketidak seimbangan dari kondisi normal tubuh manusia diantaranya sistem biologik dan kondisi penyesuaian. 3. Kriteria sakit menurut Bauman, 1985 terdiri dari 3 bagian penting yaitu : Adanya gejala. Persepsi tentang keadaan yang dirasakan. Kemampuan dalam aktivitas sehari-hari. Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.

12

Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan. 2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan

ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan

sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif,

kuratif, dan rehabilitatif. Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas social, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien. Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, social dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek. WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya? Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan di pandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar.

13

Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja. 2.4 2.4.1 Issues Pengertian Isu Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada, masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Isu juga sering di sebut rumor, kabar burung, dan gosip. Dalam Kamus Inggris Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily, Issue artinya pokok persoalan yang dapat didiskusikan, dibicarakan, dihindari, dihadapi dan diambil keputusan. Menurut dua kamus tersebut, isu adalah masalah atau pokok persoalan yang dikedepankan, dikemukakan untuk ditanggapi pihak-pihak terkait. Menurut Heath & Nelson (1986) mendefinisikan issue sebagai suatu pertanyaan tentang fakta, nilai atau kebijakan yang dapat diperdebatkan (a contestable question of fact, value or policy). Suatu kesenjangan antara praktek korporat dengan harapan-harapan para stakeholder (A gap between corporate practice and stakeholder expectations). Dengan kata lain, sebuah issue yang timbul ke permukaan adalah suatu kondisi atau peristiwa, baik di dalam maupun di luar organisasi, yang jika dibiarkan akan mempunyai efek yang signifikan pada fungsi atau kinerja organisasi tersebut atau pada target-target organisasi tersebut di masa mendatang (Regester & Larkin (2003:42) Menurut dua pakar di AS, Hainsworth dan Meng, sebuah issue muncul sebagai suatu konsekuensi atas beberapa tindakan yang dilakukan, atau diusulkan

14

untuk dilakukan, oleh satu atau beberapa pihak yang dapat menghasilkan negosiasi dan penyesuaian sektor swasta, kasus pengadilan sipil atau kriminal, atau dapat menjadi masalah kebijakan publik melalui tindakan legislative atau perundangan. Chase & Jones menggambarkan issue sebagai sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil keputusannya (an unsettled matter which is ready for decision). Pakar lain mengatakan bahwa dalam bentuk dasarnya, sebuah issue dapat didefinisikan sebagai sebuah titik konflik antara sebuah organisasi dengan satu atau lebih publiknya (a point of conflict between an organization and one or more of its audicences). (Regester & Larkin, 2003). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, isu: 1) masalah yg

dikedepankan (untuk ditanggapi dsb); 2) kabar yg tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya; kabar angin; desas-desus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) mengartikan isu sebagai masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya). Isu yang sedang berkembang berasal dari substansi dan implikasinya berkaitan dengan tema yang sedang terjadi, sedang dalam proses, sedang hangat dibicarakan di masyarakat, atau diperkirakan muncul dalam waktu dekat. Pada Oxford Learners Pocket Dictionary, current sebagai adjective atau kata sifat berarti 1) of the present time; 2) happening now. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai: 1) saat ini; 2) aktual. Selain itu dijelaskan pada Modul Diklatpim Tingkat III , aktual dalam praktiknya memiliki beberapa makna antara lain: benar terjadi atau akan terjadi, sedang menjadi perhatian orang banyak dan merupakan berita hangat. Kriteria aktual dapat dikaitkan dengan dimensi tingkat kepastian dan kejelasan isu, durasi isu, sifat kekinian dari isu, tingkat pengenalan publik dan kemungkinan dapat diprediksinya suatu isu, serta tingkat kesegeraan suatu isu harus direspon (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan).

2.4.2

Current Issue Mengacu pada makna-makna yang telah dijelaskan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa current issue atau isu aktual berarti masalah atau pokok persoalan

15

yang benar terjadi atau akan terjadi dan sedang menjadi pembicaraan orang banyak serta perlu dikedepankan untuk ditanggapi. Current issue adalah masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar baik dalam tatanan regional maupun global. Isu publik adalah suatu masalah kebijakan yang telah menjadi pembicaraan masyarakat luas, mempunyai pengaruh dalam masyarakat, dan juga menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Masalah kebijakan itu sendiri adalah kebutuhan, nilainilai, atau kesempatan-kasempatan yang tidak terealisir tetapi yang dapat dicapai melalui tindakan publik. Isu dalam sosioantropologi kesehatan adalah rumor yang berkembang di sebuah kelompok masyarakat, suku maupun Negara, menyebar luas melalui perkembangan media masa yang merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, kesehatan, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis yang terkait dengan peradaban manusia dan budayanya yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia dan menimbulkan masalah social.

2.4.3

Perkembangan Isu Jenis-jenis isu dan masalah yang kita hadapi sebagai masyarakat telah menjadi

semakin kompleks. Isu dan masalah seperti perawatan kesehatan, pemanasan global, terorisme, energi, pendidikan, dan inovasi ekonomi tidak dapat diatasi oleh tindakan dari satu individu, melainkan, mereka memerlukan tindakan terkoordinasi dari orang yang bekerja sama untuk menyusun rencana dan mengambil tindakan ketika bekerja melalui masalah yang kompleks. Ada pengakuan yang berkembang bahwa upaya kolaborasi yang dibutuhkan untuk mengelola jenis masalah sebagai kedalaman dan luasnya pengetahuan yang dibutuhkan untuk menangani mereka jauh melebihi kapasitas satu individu.

16

Dalam kasus isu selalu terdapat seseorang atau sekelompok orang sebagai agen penyebar isu tersebut. Karena adanya seseorang dan sekelompok orang tersebut maka isu dapat berkembang menjadi besar. Maka sebenarnya ada beberapa hal menarik dari permasalahn isu ini jika kita mau berpikir lebih jernih, diantaranya : 1. Pertama, isu dapat terjadi karena ada masalah. Tanpa ada masalah isu tidak akan pernah muncul. Maka rumus sederhananya jangan pernah membuat masalah, maka isu tidak akan pernah ada. 2. Kedua, isu berkembang karena ada media.Media adalah sesuatu yang memfasilitasi terhadap berkembangnya isu. Tanpa ada media ini isu juga tidak akan berkembang menjadi luar biasa. 3. Ketiga, isu juga akan menjadi berkembang karena adanya narasumber. Dengan adanya seseorang atau sekelompok orang yang menjadi narasumber bagi sesuatu permasalahan maka isu tentang sesuatu akan menjadi membesar. Hanya dalam kaitan narasumber isu ini dapat terjadi dua hal yaitu bahwa isu menjadi jelas karena isu di tanyakan kepada orang yang berkompeten atau sebaliknya isu menjadi semakin kabur dan melenceng dari esensi permasalahan pokok karena dia di tanyakan kepada seseorang atau sekelompok yang tidak berkompeten.

2.4.4

Karakteristik Isu Karakteristik isu antara lain :

1. Issue is a real world question or situation. Merupakan masalah yang menjadi bahan pembicaraan masyarakat atau masalah yang memang harus didiskusikan masyarakat. Mempunyai makna yang ambigu tentang masalah tersebut adalah fakta atau bukan. Apabila muncul informasi baru, masalah tersebut dapat berubah. 2. Multiple points of view. Setiap orang atau setiap masyarakat memiliki perspektif yang berbeda dalam menilai suatu isu. Stakeholders akan tetap mempertahankan untuk menang

17

atau kalah terhadap sesuatu yang berwujud nyata ataupun tidak nyata seperti keuntungan, kebebasan berbicara, dan juga pilihan 3. Researchable. Substansi untuk menggali informasi tersedia. Sumber informasi dari berbagai macam sumber. 4. Worthy topic and personal involvement. Isu membuat orang untuk mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban. Mempunyai pengaruh bagi seseorang atau terhadap masyarakat. 5. Source requirements. Minimal berasal dari tiga sumber. Dua dari tiga sumber tersebut bukan dari World Wide Web. Misalnya saja isu tersebut berasal dari televisi, radio, surat kabar, dan dari internet.

2.4.5

Kategori Isu Sedangkan Isu yang dikategorikan sebagai isu aktual adalah isu yang

memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Terjadi/akan terjadi Isu yang terjadi adalah isu yang sedang terjadi atau sedang dalam proses, sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat. Sedangkan isu yang akan terjadi adalah isu yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat. 2. Kekhalayakan Isu yang mempunyai nilai kekhalayakan adalah isu yang secara langsung menyangkut orang banyak/pelanggan dan bukan hanya untuk kepentingan seseorang tertentu saja. 3. Problematik Isu yang memiliki nilai problematik adalah isu yang menyimpang dari harapan, standar, ketentutan yang menimbulkan kegelisahan yang perlu segera dicari penyebab dan pemecahannya. 4. Kelayakan

18

Kelayakan adalah isu yang logis, pantas, realistis, dan dapat dibahas sesuai dengan tugas, hak, wewenang, dan tanggung jawab.

2.4.6

Memilih dan Menetapkan Isu Dalam menetapkan isu yang aktual kita dapat memilih salah satu alat dalam

teknik analisis antara lain dengan Urgency,Seriousness, Growth (USG) atau dengan Matriks Prioritas Masalah: 1. USG adalah salah satu alat untuk menyusun urutan prioritas isu yang harus diselesaikan. Caranya dengan menentukan tingkat urgensi, keseriusan, dan perkembangan isu dengan menentukan skala nilai 1 5 atau 1 10. Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu prioritas. Untuk lebih jelasnya, pengertian urgency, seriousness, dan growth dapat diuraikan sebagai berikut: a. Urgency Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu tadi. b. Seriousness Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang

menimbulkan isu tersebut atau akibat yang menimbulkan masalahmasalah lain kalau masalah penyebab isu tidak dipecahkan. Perlu dimengerti bahwa dalam keadaan yang sama, suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang berdiri sendiri. c. Growth Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut menjadi

berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan makin memburuk kalau dibiarkan. 2. Matriks Prioritas Masalah juga merupakan salah satu alat dalam menyusun urutan prioritas dari sejumlah isu. Caranya setiap ranking manfaat atau

19

kegunaannya kalau berhasil diatasi dan ranking usaha atau upaya yang dilakukan untuk penyelesaian.

2.4.7

Media Penyebarluasan Isu Kemajuan teknologi, mengakibatkan masyarakat terus menuntut kemudahan

akan akses informasi baik dari pusat maupun daerah. Media center merupakan sarana yang paling tepat untuk penyebaran informasi atau isu kepada publik. Dengan demikian, pengelola media center harus memiliki kemampuan jurnalistik yang baik sehingga informasi yang disampaikan kepada publik mudah difahami dan bermanfaat buat mereka. 1. Media elektronik Melalui media elektonik isu dapat berkembang dan diakses secara cepat oleh masyarakat. 2. Media Massa Banyaknya media masa yang beredar di masyarakat dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi ataupun perkembangan isu.

2.4.8

Topik utama dalam kajian Isu Sosiologi kesehatan Terdapat 4 kategori topik besar dalam melakukan analisis di bidang isu

sosiologi kesehatan 1. Hubungan antara lingkungan sosial dengan kesehatan dan kondisi sakit Meliputi : Epidemiologi sosial, Social stress 2. Perilaku sehat dan sakit, Meliputi : Perilaku sehat: studi tentang perilaku yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan yang positif dan pencegahan penyakit dan perilaku peran sakit : studi soal bagaimana seseorang merasakan sakit, menginterpretasi dan bertindak dalam merespon situasi sakit atau symptom medis. 3. Praktisi perawatan kesehatan dan hubungan antara praktisi kesehatan dengan pasien

20

Meliputi : Tenaga professional di bidang kesehatan kesehatan, Pendidikan kesehatan dan sosialisasi oleh tenaga medis, Praktek tenaga kesehatan tradisional dan pengobatan alternative : studi tentang tenaga kesehatan tradisional yang menerapkan teknik dan prinsip terapi non medis modern. , Interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien : studi tentang pola-pola interaksi dokter pasien dan faktor yang mempengaruhi pola-pola tersebut. 4. Sistem Perawatan Kesehatan Meliputi : Sistem kesehatan masyarakat : studi yang menyangkut soal organisasi, regulasi, financing dan masalah kesehatan lainnya. Health care delivery : study tentang organisasi dan agency yang terlibat dalam pelayanan rujukan kesehatan. Efek sosial teknologi kesehatan.: mempelajari

konsekwensi atau resiko sosial bagi teknologi kesehatan dan kebijakan public yang dibuat. Comparative health care system : study tentang system

perawatan kesehatan dengan daerah lain dan faktor yang mempengaruhi perkembangannya.

2.5

Hubungan Antropologi Kesehatan dan Ekologi Hubungan manusia dengan lingkungan, dengan tingkahlakunya, dengan

penyakitnya dan cara-cara dimana tingkahlakunya dan penyakitnya mempengaruhi evolusi dan kebudayaannya selalu melalui proses umpan balik. Pendekatan ekologis merupakan dasar bagi studi tentang masalah-masalah epidemiologi, cara-cara dimana tingkahlaku individu dan kelompok menentukan derajat kesehatan dan timbulnya penyakit yang berbeda-beda dalam populasi yang berbeda-beda. Sebagai contoh pada penyakit malaria ditemukan pada daerah berikilim tropis dan subtropis sedangkan pada daerah beriklim dingin tidak ditemukan penyakit ini, juga pada daerah diatas 1700 meter diatas permukaan laut malaria tidak bisa berkembang. Contoh lain, semakin maju suatu bangsa, penyakit yang dideritapun berbeda dengan bangsa yang baru berkembang. Penyakit-penyakit infeksi seperti malaria, demam berdarah, TBC, dll pada umumnya terdapat pada negaranegara berkembang, sedangkan penyakit-penyakit noninfeksi seperti stress, depresi, kanker, hipertensi

21

umumnya terdapat pada negara-negara maju. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berbeda pada kedua kelompok tersebut. Kelompok manusia beradaptasi dengan lingkungannya dan manusia harus belajar mengeksploitasi sumber-sumber yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya. Interaksi ini dapat berupa sosial psikologis dan budaya yang sering memainkan peranannya dalam mencetuskan penyakit. Penyakit adalah bagian dari lingkungan hidup manusia. 2.6 2.6.1 Masalah Terkait Isu dalam Sosio Antropologi Kesehatan. Penyebaran masalah kesehatan Masalah Kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Pada penyebaran masalah kesehatan disini menunjukkan pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu yang mencakup : 1. 2. 3. Menurut ciri-ciri manusia (person/man) Menurut tempat ( place ) Menurut waktu ( time )

2.6.2

Masalah Kesehatan di Indonesia

1. Susu formula berbakteri Kontroversi susu formula berbakteri mencuat sejak Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian tentang bakteri E.sakazakii pada tahun 2006 dan menemukan kontaminasi pada beberapa merek susu formula. Para peneliti mengungkapkan studi ini bukan surveilance sehingga tidak etis membeberkan merek susu yang digunakan. Penelitian ulang pun dilakukan pemerintah terhadap 47 merek susu untuk bayi 0-6 bulan yang beredar di pasaran, dan hasilnya susu yang beredar aman. Kasus ini cukup membuat masyarakat resah karena bakteri E.sakazakii bisa memicu radang selaput otak atau meningitis yang mematikan. 2. Vaksin haji dari babi

22

Pemakaian vaksin meningitis masih jadi dilema bagi masyarakat yang ingin melakukan ibadah haji atau umrah, karena diduga masih mengandung babi. Walaupun sebenarnya vaksin meningitis yang digunakan di Indonesia untuk jamaah haji sama dengan vaksin yang digunakan di negara-negara lain seperti Malaysia dan juga Arab Saudi. Ketua Fatwa MUI, menuturkan vaksin meningitis bersifat darurat dan darurat ini bukan berarti halal. Meski begitu Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara (MPKS) memastikan bahan akhir polisakarida dalam vaksin meningitis tidak mengandung babi. 3. Ayat tembakau yang hilang di RPP Hilangnya ayat tentang tembakau dalam UU kesehatan cukup menimbulkan polemik di masyarakat, beberapa pihak beranggapan industri rokok turut terlibat dalam hal ini, meski belum diketahui dengan pasti siapa pelakunya. Di jelaskan pada ayat 2 pasal 13 yang berbunyi: "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya". 4. Kontroversi mengenai penggunaan alat kontrasepsi KB Alat kontrasepsi merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah penduduk dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Tapi beberapa kelompok agama militan tertentu menentang hal ini karena penggunaan KB dianggap menolak anugerah atau berkah dari Tuhan. Padahal kontrasepsi ini bisa digunakan untuk memberikan jarak antar kehamilan agar anak bisa diurus dengan baik dan proses pemulihan lebih optimal, serta menghindari aborsi ilegal akibat kehamilan yang tidak diinginkan. 5. Kondom remaja Awal mula kontroversi ini adalah ketika Menkes mengatakan perlunya kampanye kondom yang difokuskan untuk seks yang berisiko serta meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja, namun bukan berarti ada pelegalan untuk kondom remaja. Sayangnya isu yang beredar di masyarakat adalah Menkes membagi-bagikan kondom gratis untuk remaja. Padahal

23

kampanye kondom ini hanya difokuskan untuk seks yang berisiko yang bisa berakibat penularan penyakit kelamin termasuk HIV AIDS, gonore, sipilis, serta kehamilan yang tidak dikehendaki. 2.7 Tentang Meningitis Demam, sakit kepala, kaku kuduk, sakit tenggorokan dan muntah (yang seringkali terjadi setelah kelainan sistem pernafasan) merupakan gejala awal yang utama dan meningitis. Kaku kuduk bukan hanya terasa sakit, tetapi penderita tidak dapat atau merasakan nyeri ketika dagunya di tundukkan atau di sentuhkan ke dadanya. Penderita dewasa menjadi sangat sakit dalam waktu 24 jam, sedangkan anakanak lebih cepat. Anak yang lebih tua dan dewasa dapat menjadi mudah tersinggung linglung dan sangat mengantuk. Bisa berkembang menjadi stupro, koma dan akhirnya meninggal. Infeksi menyebabkan pembengkakan jaringan otak dan menghalangi aliran darah, sehingga timbul gejala-geiala stroke (termasuk kelumpuhan). Beberapa penderita mengalami kejang. Sindroma Waterhouse-Friderichsen merupakan infeksi oleh Neisseria meningitidis yang berkembang dengan cepat, dengan gejala berupa diare hebat, muntah, kejang, perdarahan internal, tekanan darah rendah, syok, yang seringkali berakhir dengan kematian. Pada anak-anak yang berusia sampai 2 tahun, meningitis biasanya menyebabkan demam, gangguan makan, muntah, rewel, kejang dan menangis dengan nada tinggi (high pitch cry). Kulit diatas ubun-ubun menjadi tegang dan ubun-ubun bisa menonjol. Aliran cairan di sekeliling otak bisa mengalami penyumbatan menyebabkan pelebaran tengkorak (keadaan yang disebut hidrosefalus). Bayi yang berusia dibawah 1 tahun tidak mengalami kaku kuduk. 2.8

24

BAB 3 CONTOH ISU TERKINI DI BIDANG KESEHATAN VAKSIN MENINGITIS HAJI DARI BABI

Pemakaian vaksin meningitis masih jadi dilema bagi masyarakat yang ingin melakukan ibadah haji atau umrah, karena diduga masih mengandung babi. Walaupun sebenarnya vaksin meningitis yang digunakan di Indonesia untuk jamaah haji sama dengan vaksin yang digunakan di negara-negara lain seperti Malaysia dan juga Arab Saudi. Ketua Fatwa MUI, menuturkan vaksin meningitis bersifat darurat dan darurat ini bukan berarti halal. Meski begitu Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara (MPKS) memastikan bahan akhir polisakarida dalam vaksin meningitis tidak mengandung babi. Kontroversi Vaksin Meningitis dengan Enzim Babi bagi Calon Haji Juni 24, 2010 Ajaran Bermula dari temuan Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) bahwa Vaksin Meningitis mengandung babi yang diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk disuntikkan kepada para calon haji. Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyepakati jamaah haji diperbolehkan menggunakan vaksin meningitis dengan alasan kedaruratan sampai ada penemuan vaksin yang bebas enzim babi. Ketua MUI KH Maruf Amin menegaskan, vaksin itu hanya boleh digunakan orang yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji.Untuk wajib haji, MUI membolehkan, tuturnya. Hukum kedaruratan itu tidak berlaku bagi orang yang naik haji untuk kedua kali atau lebih.Adapun untuk jamaah umrah, penggunaan vaksin itu juga dibatasi. MUI hanya membolehkan vaksin itu bagi orang yang telah bernazar. Jum'at, 29 Safar 1435 H / 13 Desember 2013 05:17 wib

25

MUI: Segera Cari Obat Pengganti Yang Mengandung Enzim Babi JAKARTA (voa-islam.com) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak ahli obat (farmakolog) untuk segera menemukan zat lain sebagai pengganti beberapa enzim seperti enzim babi yang digunakan dalam pembuatan beberapa jenis vaksin seperti pada vaksin polio dan meningitis agar tidak meresahkan kaum muslim. "Segera temukan obat pengganti dari obat yang mengandung enzim tersebut (enzim babi), agar kita dan konsumen tidak terpaku pada keharaman obat," ujar Ketua MUI, Amidhan, kepada Antara di Jakarta, Kamis. Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan penggunaan enzim babi pada obat tertentu ini dilakukan karena belum ada penggantinya. "Hanya segelintir obat yang bermasalah (mengandung enzim babi) seperti beberapa obat pengencer darah dan beberapa jenis vaksin hal ini karena hingga saat ini belum ditemukan pengganti enzim tersebut," ujar Ketua Bidang Kajian Obat dan Farmakoterapi IDI, Masfar Salim, di Kantor IDI, Jakarta Pusat, Kamis. IDI juga mengatakan para dokter berusaha memberikan informasi pada pasien terkait adanya kandungan enzim yang tidak halal dalam obat sehingga pasien dapat mengambil keputusannya sendiri, meski begitu tidak semua dokter mengetahui secara pasti semua kandungan pada obat. Kontroversi Vaksin Babi Untuk Jamaah Haji Belum juga selesai kontroversi hingga kini pada produk farmasi yang disinyalir mengandung babi, padahal sempat mencuat 2010 silam

pada temuan Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) bahwa Vaksin Meningitis mengandung babi yang diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk disuntikkan kepada para calon haji. Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyepakati jamaah haji diperbolehkan menggunakan vaksin meningitis dengan alasan kedaruratan

26

sampai ada penemuan vaksin yang bebas enzim babi. Jika memang demikian farmakolog segera menemukan obat penggantinya. MUI juga telah bersidang pada 6 Juni 2009 yang akhirnya mengeluarkan fatwa haram terhadap vaksin meningitis karena setelah diteliti, diketahui bahwa vaksin itu terbukti mengandung enzim babi. MUI sendiri telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Abdurrahman Muhammad Amin Al Ayat juga langsung bertemu mufti dan pemerintah Arab Saudi untuk mempertanyakan kewajiban penggunaan vaksin meningitis bagi calon jamaah haji dan umrah. "Ada unsur babi (porcine) yang dipergunakan untuk pembiakan bibit vaksin Meningtis tersebut" ungkap Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama 2010 silam Anna Priangani dari LPPOM MUI menyatakan, bahan babi yang digunakan sebagai media dalam pembuatan vaksin meningitis adalah lemak babi (gliserol). Kandungan zat haram itu ditemukan dalam penelitian LPPOM MUI Sumsel bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat, Husniah Rubiana Thamrin, juga membenarkan, dalam proses pembuatan vaksin meningitis bersentuhan dengan unsur babikendati sudah melalui proses ekstraksi. Wacana vaksin meningitis haram pun mencuat. Tidak ada yang bebas enzim babinya untuk semua media yang digunakan untuk membiakan vaksin meningitis, kata Ketua Dewan Eksekutif Yayasan YARSI Jurnalis Uddin dalam diskusi tentang vaksin meningitis di Universitas Yarsi, (4/8/2010). Rencana membahas status vaksin meningitis gagal digelar. Sebuah sumber menyatakan ada upaya memepetkan persoalan itu dengan pelaksanaan ibadah haji, agar keharaman vaksin itu bisa dima'fukan (dibolehkan) karena faktor kedaruratan.

27

Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), pimpinan Baluki Ahmad, mendesak MUI dan pemerintah segera membuat keputusan tentang status hukum enzim ini. Menurut dia, MUI harus membuat keputusan yang tepat. Jika penyakit Ini tidak endemik dan tidak menular di Indonesia walaupun hanya bentuk pencegahan, vaksin ini tidak terlalu penting atau tidak darurat. Kalau pada akhirnya darurat, saya tidak setuju, harus dicarikan jalan keluar dengan tetap mencari vaksin yang halal. Baluki bertekad akan menyarankan jamaah umrah dan haji agar tidak perlu disuntik vaksin, jika MUI dan pemerintah menetapkan status darurat. Saya lebih baik menyarankan tidak usah disuntik jika statusnya darurat. Ini harus ada legitimasi hukum yang jelas. Umat jangan dikorbankan karena persoalan-persoalan tertentu, katanya menegaskan Akhirnya MUI menyatakan bahwa vaksin meningitis tetap haram, tapi membolehkannya dengan alasan darurat. Yang boleh menggunakan vaksin atas nama kedaruratan adalah yang baru pertama kali naik haji dan orang yang telah bernazar untuk umrah.

28

BAB 4 PEMBAHASAN

Hal semacam isu tersebut wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah. Vaksin mengandung lemak babi? Hal itu tidak dapat sepenuhnya dibenarkan karena hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama memastikan, vaksin meningitis yang akan digunakan bagi peserta umrah dan haji adalah jenis vaksin yang sama dengan jenis vaksin yang digunakan pada tahun lalu. Kendati vaksin itu oleh MUI sebelumnya dianggap haram, namun Tjandra menegaskan vaksin jenis ini juga digunakan oleh negara-negara berpenduduk Muslim yang lain termasuk Malaysia yang sebelumnya dianggap oleh MUI telah menggunakan jenis vaksin halal. Sampai saat ini, belum ada perusahaan atau negara yang bisa membuat vaksin meningitis tanpa melibatkan unsur porcine, tandasnya. Unsur babi (porcine) dipergunakan untuk pembiakan bibit vaksin Meningtis tersebut. Anna Priangani dari LPPOM MUI menyatakan, bahan babi yang digunakan sebagai media dalam pembuatan vaksin meningitis adalah lemak babi (gliserol). Kandungan zat haram itu ditemukan dalam penelitian LPPOM MUI Sumsel bekerja

30

sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat, Husniah Rubiana Thamrin, juga membenarkan, dalam proses pembuatan vaksin meningitis bersentuhan dengan unsur babikendati sudah melalui proses ekstraksi. Wacana vaksin meningitis haram pun mencuat. Rencana membahas status vaksin meningitis gagal digelar. Sebuah sumber menyatakan ada upaya memepetkan persoalan itu dengan pelaksanaan ibadah haji, agar keharaman vaksin itu bisa dimafukan (dibolehkan) karena faktor kedaruratan. Akhirnya MUI menyatakan bahwa vaksin meningitis tetap haram, tapi membolehkannya dengan alasan darurat. Yang boleh menggunakan vaksin atas nama kedaruratan adalah yang baru pertama kali naik haji dan orang yang telah bernazar untuk umrah. Vaksin berbahaya, tidak efektif, tidak dilakukan di negara maju ? Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

31

BAB 5 PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada, masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk

penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit. Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan dalah faktor predisposisi, pemungkin, dan penguat

5.2

Saran Penulis berharap kepada para pembaca, setelah membaca makalah ini. Para pembaca apalagi para mahasiswa kesehatan masyarakat dapat mengetahui dan mengidetifikasi bagaiman isu kesehatan terkait dengan sosio antropologi kesehatan.

32

DAFTAR PUSTAKA

http://dinkes.jatimprov.go.id/contentdetail/11/2/149/tanya_jawab_kehalalan_dan_kea manan_vaksin.html http://health.detik.com/read/2012/06/25/135629/1950053/763/3/5-masalahkesehatan-yang-paling-bikin-geger-di-indonesia http://health.kompas.com/read/2012/05/17/14501446/20.Mitos.Kampanye.Hitam.Ant i.Imunisasi http://patimahlina.blogspot.com/2013/08/makalah-anfis-pernafasan-share.html http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=SNR.13120005 http://www.nahimunkar.com/keputusan-mui-tentang-vaksin-meningitis-untukjamaah-haji/ http://www.suaranews.com/2012/06/membongkar-anti-imunisasi-benarkah.html http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/12/13/28109/mui-segera-cari-obatpengganti-yang-mengandung-enzim-babi/#sthash.bqGon6cp.dpbs Kurniawan,W.2012.Pengertian Sosiologi, (Online), (http://wawan junaidi.blogspot.com/2012/03/pengertian-sosiologi.html) Kurniawan,W.2011. Definisi Antropologi. (Online), (http://wawan satu.blogspot.com/2011/11/definisi-antropologi.html),

33

Anda mungkin juga menyukai