Anda di halaman 1dari 8

KHUTBAH JUMAT

NAMA KELAS

: ANDRA HARUNA : XI-TITL 4

AKIBAT PENYAKIT WAHN (CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI)


Ust. Redy Syahrir Akbar, S.S

.
Hadirin sidang jumat yang berbahagia, saudaraku seiman Marilah kita sempurnakan hari kita, sempurnakan perjalanan waktu kita sebagai seorang hamba dengan bersyukur kepada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya. Betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah Taala yang tidak mungkin kita bisa menghitungnya. Masjid yang megah ini adalah salah satu nikmat yang telah mengumpulkan kita semua. Masjid ini menjadi sebuah tempat yang lebih nyaman dibandingkan dengan dahulu pada tahun 2000, ketika pertama kalinya kami berkhutbah di Kota Wisata, kami masih duduk di bawah tenda. Perjalanan waktu dan upaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan kenyamanan dalam beribadah ternyata membuahkan hasil. Dan inilah barangkali salah satu nikmat yang besar bagi warga kota wisata. Oleh sebab itu, marilah kita menjadi hambahamba-Nya yang bersyukur dengan senantiasa mengucapkan tahmid atas nikmat yang besar ini. Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. 14 abad silam, seorang lelaki yatim piatu dibesarkan oleh pamannya, dibebani oleh Allah sebuah risalah agung, dan dengan cintanya yang sangat besar, kita yang duduk disini dapat merasakan nikmat hidayah tersebut, dapat merasakan nikmat bimbingan dari Allah Taala atas perjuangan seorang lelaki yang demikian tulus mencintai kita. Bahkan hingga akhir hayatnya, masih terucap dari bibirnya ummati..ummati... Semoga kita yang merasa menjadi umatnya pada hari ini, setidaknya membalas rasa cinta beliau dengan senantiasa bershalawat mengucapkan,

Dan tentunya lebih jauh daripada itu, tugas kita sebagai pengikut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah menghidupkan dan menyebarkan sunnah-sunnahnya. Hadirin Rahimakumullahu Tanpa terasa kita telah memasuki tahun 2014 Masehi. Betapa banyak perkembangan yang terjadi dewasa ini. Namun, dari sekian banyak perkembangan tersebut hendaknya kita tidak lupa untuk terus mencermati sebuah tekad luar biasa yang telah dicanangkan oleh para ulama beberapa puluh tahun silam. Mereka menyebutkan bahwa abad ini adalah abad kebangkitan umat. Disamping menumbuhkan semangat untuk membangkitkan umat ini, tentunya baik juga bagi kita untuk merenungkan realitas umat hari ini. Sembari kita melihat petuah atau tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam agar di dalam membangun umat ini, kita terhindar dari segala marabahaya, kita dapat mengantisipasi bahaya-bahaya yang akan kita temui dalam perjalanan. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu anhu maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya. Salah seorang sahabat bertanya; Apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Nabi menjawab, Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Dan pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. Kata para sahabat, Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: Cinta dunia dan takut mati. (Shahih HR. Abu Daud, Kitab al-Malahim, Bab, Fi Tadaaal Umam Alal Islam) Hadits di atas memaparkan berita Rasulullah mengenai keadaan umat Islam di akhir zaman. Unsur-unsur kekuatan ummat Islam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panjipanji tauhid. Apakah engkau tidak perhatikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas, ketika menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang jumlah, Bahkan kalian ketika itu banyak! Perang Hunain adalah contoh nyata bagi umat islam disetiap masa. Dan hari Hunain ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tapi itu tidak berguna bagi kalian sedikitpun. (At Taubah: 26)

Posisi ummat Islam tidak dipertimbangkan sedikitpun diantara ummat-ummat dimuka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Akan tetapi kalian bagai buih, seperti buih banjir. Kalimat ini memberikan beberapa faedah; 1. Buih yang mengalir membawa banyak kotoran bersamanya. Begitu juga ummat Islam, berjalan bersama kotoran ummat Kafir 2. Banjir membawa buih yang tidak bermanfaat bagi manusia. Begitu juga ummat Islam, tidak melaksanakan perannya dihadapan ummat-ummat lain, yaitu Amar Maruf dan Nahyi Mungkar. 3. Buih akan segera sirna. Dan karena itu Allah akan mengganti siapa yang berpaling dan mengokohkan kelompok yang bermanfaat bagi manusia di muka bumi. 4. Buih yang dibawa banjir tercampur dengan kotoran tanah. Begitu juga pemikiran mayoritas ummat Islam telah terkontaminasi dengan sampah filsafat dan budaya yang rusak. 5. Buih yang dibawa oleh banjir tidak tahu akan berakhir dimana karena dia berjalan bukan atas keinginannya. Dia seperti orang yang menggali kuburnya dengan kukunya. Begitu juga ummat Islam, tidak tahu apa yang sedang direncanakan musuh-musuhnya atas diri mereka. Ironisnya, mereka masih saja membebek dan mengikuti mana yang lebih keras gaungnya. Mari sesekali kita jalan-jalan di tepian lautan, tengoklah disana banyak buih tersebar di tepi pantai. Namun ketika ombak menyeretnya ke tengah lautan, maka buih tadi ikut ke tengah, dan ketika ombak menyeretnya ke tepian, buih yang banyak tersebut ikut juga ke tepian. Mari kita renungkan hadits ini, jangan-jangan apa yang disampaikan oleh Rasulullah adalah kondisi kita pada hari ini. Sedikitkah umat islam hari ini? Tidak, jika kita bandingkan dengan bayangan para sahabat pada hari itu. Sebuah penelitian di Amerika menyatakan, andaikata pertumbuhan umat islam Amerika grafiknya meningkat seperti hari ini, maka di tahun 2050 agama islam akan menjadi agama mayoritas di sana. Sekali lagi, kita tidak bicara masalah jumlah, tapi tentang problem kualitas keyakinan umat islam. Problem apa itu? Dan apa sebabnya? Sebagaimana penjelasan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam di akhir hadits, problemnya adalah sikap umat Islam sendiri yang tidak lagi berpegang teguh kepada jati diri Islam yang sejati, sebaliknya lebih cenderung kepada sifat terlalu cinta dunia dan takut mati (al-Wahn). Hadirin Rahimakumullahu Ternyata, penyebab utama dari lemahnya kondisi masyarakat mayoritas yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong dirinya adalah karena di dalam tubuh masyarakat islam adalah tumbuhnya penyakit wahn (kecintaan berlebihan terhadap dunia dan ketakutan terhadap kematian). Kenapa seorang mukmin bisa takut dengan kematian?

Yang dimaksud dengan takut mati adalah bagi mereka yang hidup dengan label muslim, akan tetapi hidupnya dipenuhi dengan dosa dan kedurhakaan kepada Allah Taala. Sehingga ketika kematian menghampiri, mereka merasa takut untuk kembali kepada Allah. Dan apabila sifat ini ada pada diri kita, maka jangan-jangan penyakit wahn telah menimpa kita. Disaat Allah memberikan pilihan antara dunia dan akherat, lalu kita memilih dunia, kita merasa belum siap, maka waspadalah barangkali penyakit wahn sudah mulai menjalar di tengah kita. Hadirin Rahimakumullahu.. Lalu apa akibat jika penyakit wahn menimpa kita? Diantara akibat paling berbahaya yang ditimbulkan oleh penyakit wahn; 1. Hilangnya Komitmen Muslim Dengan Allah Dan Rasul-Nya

Seseorang mengatakan dirinya muslim, tetapi ia berfikir sekuler, memisahkan kehidupan dunia dan kehidupan di akherat. Seorang bisa menangis tersedu-sedu di dalam masjid karena mendengarkan ceramah, tapi ketika bekerja di pasar, kantor, pabrik, birokrasi atau dimanapun, ia berubah menjadi serigala, melupakan apa yang ditangisi. Kenapa? Karena tidak merasa bahwa apa yang dilakukannya erat terkait dengan kehidupannya sehari-hari. Masih ingatkah dengan ayat,

)54 : (
Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Al Ankabut: 45) Namun, pada masa ini kita tidak heran orang rajin shalat tapi kemungkaran pun jalan. Seorang mulai berhitung dengan hitungan matematika, kalau saya beramal maka saya akan diganjar sepuluh, kalau saya berdosa dibalas satu. Kalau saya shalat 1 kali, cukup untuk menghapus dosa-dosa saya di kantor. Adakah diantara kita yang berpikir seperti ini?? Inilah bahayanya jika penyakit wahn telah menimpa kita. Ketika lebih mencintai dunia dan menakuti kematian, maka akibatnya adalah hati menjadi keras. enapa? Hukum-hukum Allah ditabrak saben hari, makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak kita saring, pikiran dan ucapan yang dikeluarkan tidak kita saring. Oleh sebab itu, lama kelamaan hati akan menjadi keras. Dan pada saat itulah hidayah Allah yang diberikan sulit mencapai hati kita. Hilangnya komitmen muslim kepada Allah dan Rasul-Nya juga akan menjauhkan dari petunjuk. Hari jumat, masjid ramai dengan jamaah, namun bagaimana dengan hari-hari lainnya? Akhir pekan kajian penuh di mana-mana, namun bagaimana dengan hari-hari lainnya?

2.

Hilangnya Cita-Cita Luhur Di Dalam Jiwa

Cita-cita Rasulullah adalah agar islam ini lebih tinggi daripada agama lainnya sudah kita acuhkan. Kita menggantinya dengan target material, pragmatis yang membuat lalai dengan pemahaman dan arti sukses yang sesungguhnya. Apa arti sukses yang sebenarnya? Sederhana, jika diantara kita bisa menjamin dirinya, bahwa segala kesalahannya dihapuskan, dihindarkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dialah orang sukses. Persoalan terbesar adalah tidak ada seorangpun yang sanggup menjamin hal ini. Oleh sebab itu, prioritas dalam kehidupan ini juga harus kita kaji ulang, jangan sampai salah menempatkan prioritas. Manusia sibuk dengan syahwat mulut, perut dan apa yang ada di atas lutut. Umat islam juga menerima islam secara parsial. Mereka tidak sanggup menerima islam secara utuh. Mereka hanya menerima islam sejauh islam memberikan manfaat kepadanya. Menerima islam sejauh itu nikmat, tidak menimbulkan rasa takut dan kecewa bagi mereka. Padahal islam adalah agama kasih sayang dan agama yang sempurna, tetapi jangan lupa, islam juga adalah pedang. Rasulullah adalah orang yang sangat penyayang, tapi Beliau juga berperang. Dan kalau sudah berperang tidak ada kata lain selain dibunuh atau membunuh. Siapkah kita dengan itu? Masihkah kita mengatakan bahwa kita akan masuk surga? Bahkan Allah Taala mengingatkan kita,

)415 : (
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214) Hadirin jamaah jumat Rahimakumullahu Inilah sebuah penyakit umat yang ditengarai oleh Rasulullah akan muncul di akhir zaman kelak. Dan yang kita khawatirkan kemunculannya adalah pada masa ini. Sebab itu, mari kita mewaspadai terhadap munculnya penyakit wahn ini. Dan jika penyakit tersebut menjangkiti kita, saya khawatir kita termasuk umat yang akan digantikan Allah Taala dengan yang lainnya.

Khutbah Kedua . . .
Menyikapi bahaya yang ada di depan mata ini, marilah kita selalu tingkatkan iman dan takwa kita, mari lindungi anak, istri, keluarga dan siapa saja yang dekat dengan kita dari bahaya penyakit ini. Karena bila penyakit ini sudah menimpa, berat rasanya bagi kita untuk menyelamatkannya. Sebab itu, kita yang hadir dalam masjid ini, mari pelajari kembali tentang hakekat penyakit ini. Mari kita hadiri kajian-kajian yang membahas penyakit ini agar kita bisa mewaspadainya dan mendeteksi sedini mungkin. Sehingga dengan demikian, kita bisa bekerja membangun umat ini ke arah peradaban yang lebih baik. Karena sesungguhnya pada hari ini kita berada dalam kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan, kondisi yang sangat terjajah baik secara kepribadian maupun pemikiran. Betapa banyak anak-anak yang kita didik dengan agama, akan tetapi diluar sana begitu banyak budaya yang menjajah otak dan dengan kepribadian anak-anak kita. Sehingga kepribadian, perilaku dan pemikiran mereka berubah menjauh dari islam. Dan ujung-ujungnya kita terjajah baik secara lahir maupun batin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwasanya umatnya akan mengikuti jejak-jejak umat sebelum mereka.


Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang kadal, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya. Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashrani? Sabda beliau: Siapa lagi kalau bukan mereka?! (HR. Bukhari dan Muslim) Sulit bagi kita di tempat umum atau terbuka mengucapkan salam, karena kita merasa sulit membedakan siapakah yang muslim dan non muslim. Inilah kondisi umat hari ini. Kita semua harus bangkit untuk mencegah agar kebangkitan umat ini yang sedang maju tidak turun kembali. Bandul kebangkitan umat ini harus kita tegakkan kembali, kita panggul bersama. Tidak mungkin hanya para ustadz dan daI saja yang memanggulnya. Karena tanpa itu, kita semua tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan kelak, kita semua berdiri dihadapan Allah untuk bertanggung jawab terhadap amalan masing-masing. Rasulullah telah mewariskan agama ini dan ini merupakan tanggung jawab terbesar bagi kita. Dan kitalah yang harus menjaga dan menegakkannya. Kita akhiri khutbah ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Taala,

. . . . . . .