Anda di halaman 1dari 14

Teori-Teori Utama Pembangunan

DOSEN : Prof. Dr. Mudiyono


Drs. Suparjan, M.Si

Disusun oleh

Yotam Senis
09/291216/PSP/3660

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI


KONSENTRASI KEBIJAKAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


2009
Teori Pembangunan Pertumbuhan Linear

Secara garis besar pemekiran ketiga tokoh ini hampir mempunyai


kesamaan pemikiran yang jika kita baca secara cermat. Dalam teori
pertumbuhan linear, ketiga tokoh ini menyimpulkan bahwa
pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat di mulai dari masa tradisional
hingga mencapai puncaknya di masa modern. Antara Adam Smith, Karl
Marx, Rostow menggagaskan pemikiran mereka bahwa pertumbuhan
ekonomi masyarakat berlangsung dari masa tradisional, masa lanjutan
dan masa modern.
1. Adam Smith dalam pemikirannya membagi pertumbuhan ekonomi
menjadi 5 tahap, dimulai dari masa perburuan, masa beternak, masa
bercocok tanam, masa perdagangan, dan masa perindustrian.
Menurut Adam Smith, dalam perkembangannya pertumbuhan
ekonomi satu masyarakat melalui proses pentahapan dari tahap yang
paling tradisional (primitf) hingga tahap yang lebih maju (modern).
Padangan Adam Smith dalam teori pertumbuhan ekonomi, yang
menjadi titik perhatiannya adalah pembagian kerja dan investasi.
Adam Smith berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi akan
bergerak dari masyarakat tradisonal menuju masyarakat modern,
namun pembagian kerja menjadi faktor lain yang turut mendukung
proses pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja menjadi masukan (input)
bagi proses produksi. Adam Smith berpendapat bahwa pembagian
kerja akan lebih efisien dan hasil produksi jauh lebih baik dan
berkualitas dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kerja
dan penemuan mesin-mesin. Kedua yang menjadi fokus perhatian
Adam Smith adalah kemampuan investasi dan menabungan.
Kemampuan menabung oleh masyarakat dipengaruhi oleh
kemampuan menguasai sumber daya. Artinya kelompok masyarakat
yang menguasai sumberdaya dan mengeksplorasi merupakan modal
dalam investasi dan tabungan.
Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi terjadi sebagai berikut :
• Perkembangan ekonomi berlansgsung secara pentahapan.
• Adanya pembangian kerja sebagai proses efisiensi kerja dengan
peningkatan keterampilan tenaga kerja dan penemuan mesin-
mesin.
• Kemampuan menabung menunjukkan kemampua masyarakat
dalam menguasai sumber daya yang ada (sumber ekonomi).
1. Karl Marx membagi perkembangan ekonomi masyarakat menjadi
tiga, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Masyarakat
feodalismemasih bersifat tradisional. Dengan adanya perkembangan
teknologi menyebabkan masyarakat yang semula masih bersifat
feodal (agraris) menjadi masyarakat kapitalis (indsutri). Dalam proses
menuju masyarakat sosialis masyarakat mengalami depresi ekonomi
kapitalisme yang menimbulkan berbagai masalah dalam berbagai
bidang. Marx berpendapat bahwa kemampuan para pengusaha untuk
mengakumulasi modal terletak pada kemampuan mereka dalam
memanfaatkan nilai lebih produktivitas buruh yang dipekerjakan. Nilai
lebih merupakan keuntungan pengusaha dan oleh karenanya
pengusaha akan mengeksploitasi buruh dalam jumlah besar karena
nilai lebih akan meningkat jika upah buruh diturunkan (penetapan
upah buruh tidak lebih besar dari pada kebutuhan hidupnya). Nilai
lebih inilah yang diasumsikan oleh Marx sebagai bentuk kapitalisme
dimana modal yang dimiliki para pengusaha diinvestasikan dalam
bentuk kapital, dengan cara meningkatkan produktivitas kerja.
Bagi Marx produktivitas akan jauh lebih efisien apabila penggunaan
tenaga buruh dikurangi. Mengingat bahwa persaingan pasar dan
penguasaan pangsa pasar makin sengit dan kompetitif sehingga
dibutuhkan produksi yang lebih cepat diimbangi dengan mutu yang
baik pula. Bagi para pengusaha atau pemilik modal, pengurangan
tenaga kerja merupakan salah satu cara guna efisiensi dan
produktivitas. Penggunaan mesin merupakan cara lain dalam efisiensi
dan produktivitas. Pengurangan tenaga kerja berdampak pada daya
beli masyarakat menurun, pengangguran meningkat dan konflik antar
kelas di masyarakat. Berbagai masalah ini yang oleh Marx kemudian
menyimpulkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan munculnya
revolusi sosial yang dilakukan kaum buruh. Dalam masyarakat
sosialis bahwa akumulasi modal sistem kapitalis diganti oleh sistem
sosialis dimana pemerataan dalam kesempatan kepemilikan sumber
daya, individualis dalam sistem masyarakat kapitalis akan berubah
menjadi sistem masyarakat sosialis.
2. Rosow membabgi proses perkembangan ekonomi suatu negara
menjadi lima tahap; (a). perekonomian tradisional, (b). prakondisi
tinggal landas, (c). tinggal landas, (d). menuju kedewasaan, (e).
konsumsi massa tinggi.
Perekonomian pada masyarakat tradisional masih terbatas dan sektor
pertanian menjadi fokus utama masyarakat; teknologi yang
digunakan masih sangat sederhana. Struktur sosial dalam sistem
masyarakat tradisional bersifat berjenjang sehingga mempengaruhi
penguasaan sumberdaya pada hubungan darah dan keluarga. Pada
tahap kedua proses pertumbuhan oleh Rostow bahwa sektor industri
mulai berkembang namun sektor pertanian masih sangat dominan
dalam masyarakat. Tahap ini sekaligus menjadi tahap dimana
masyarakat memasuki tahap persiapan untuk maju ke tahap
selanjutnya. Perekonomian bergerak dinamis, industri-industri
bermunculan, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga
keuangan sebagai penggerak dana mulai bermunculan. Industrialisasi
dapat dipertahankan jika dipenuhi syarat sebagai berikut; pertama,
peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama
transportasi. kedua, revolusi bidang pertanian untuk memenuhi
peningkatan permintaan penduduk. ketiga, perluasan impor, termauk
impor modal oleh biaya produksi yang efisien dan pemasaran sumber
alam untuk ekspor.
Tahap tinggal landas sebagai suatu revolusi industri yang
berhubungan dengan revolusi metode produksi dan didefinisikan
sebagai tiga kondisi yang saling berkaitan, sebagai berikut :
• Kenaikan laju investasi produktif antara 5 - 10% dari pendapatan
nasional
• Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur
penting dengan laju pertumbuhan tinggu.
• Hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial dan isntitusional
yang menimbulkan hasrat ekspansi sektor modern, dan dampak
eksternalnya akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan
ekonomi.
Prasyarat pertama dan kedua saling berkaitan dimana kenaikan lanju
investasi produktif antara 5 – 10% dari GNP dapat menyebabkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sekto-sektor ekonomi
khususnya sektor manufaktur. Karena sektor manufaktur dipandang
sebagai indikator perkembangan industrialisasi dan memiliki
keterkaitan dengan sektor-sektor lain. Maka dengan mendorong
pertumbuhan tinggi sektor manufaktur akan mempengaruhi
pertumbuhan tinggi pada sektor lain yang berakibat pada
perkembangan GNP yang lebih tinggi.
Tahap menuju kedewasaan ditandai dengan penerapan teknologi
modern secara efektif terhadap sumber daya yang dimiliki. Pada
tahap ini terdapat tiga perubahan yang penting :
• Tenaga kerja berubah dan tidak terdidik menjadi baik
• Perubahan watak pengusaha dari pekerja dari keras dan kasar
berubah menjadi manajer efisien yang halus dan sopan
• Masyarakat jenuh terhadap indutrialisasi dan menginginkan
perubahan lebih jauh
Tahap konsumsi tinggi merupakan tahap akhir teori pertumbuhan
Rostow. Pada tahap ini ditandai dengan migrasi besar-besaran
masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat dari pusat kota
dijadikan sebagai tempat kerja. Juga perubahan orientasi dari
pendekatan penwaran (supply side) yang dianut menuju ke
pendekatan permintaan (demand side). Lebih lanjut terjadi
pergeseran perilaku ekonomi yang awalnya menitikberatkan pada
produksi, namun beralih ke konsumsi.
Menurut Rostow tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan
kesejahteraan adalah (Jhingan 1988:188) :
• Pengaruh kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan
pengaruh melampaui batas-batas nasional
• Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (walfare state) dengan
pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak
progresif, peningkatam jaminan sosial dan fasilitas hiburan bagi
para pekerja
• Keputusan untuk membangun pusat perdangan dan sektor penting
seperti mobil, jaringan rel kereta api, rumah murah, dan berbagai
peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dsnya.
Persamaan ketiga teori ini bahwa transformasi ekonomi terjadi
mengikuti perkembangan masyarakat dari masyarakat primitive hingga
masyarakat modern. Antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
masyarakat akan saling berkaitan sebagai suatu “proses”. Isu-
isu/fenomena (kondisi/masalah) sosial masyarakat yang terjadi akan
membentuk satu sistem sosial masyarakat yang baru sehingga
pertumbuhan ekonomi akan masuk dalam satu pola atau model yang
baru sesuai dengan sistem sosial yang terbentuk. Dalam teori ini
dikatakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi terjadi secara
pentahapan, artinya bahwa pertumbuhan ekonomi berlangsung dari
satu tahap ke tahap selanjutnya yang lebih maju dari tahap
sebelumnya. Dalam teori pertumbuhan ekonomi yang memiliki
kesamaan lebih adalah teori pembangunan dan teori Karl Marx dan
teori pertumbuhan Rostow. Pertama, kedua teori tersebut
menginterpretasikan evolusi sosial khususnya sektor ekonomi. Kedua,
Marx dan Rostow telah mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi
dari pembangunan sosial yang dilakukan. Ketiga, keduanya menyadari
bahwa perubahan sistem ekonomi merupakan konsekuensi logis dari
perubahan yang terjadi di bidang politik, kebudayaan dan sosial. Disisi
lain sistem ekonomi akan berpengaruh terhadap kehidupan politik,
kondisi budaya dan sosial masyarakat.
Namun selain persamaan ketiga teori ini tidak terlepas pula dari
perbedaan yang tedapat dalam ketiga teori ini. Marx memandang
bahwa manusia sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi
kebutuhan dari ekonomi sampai budaya. Rostow sendiri lebih kepada
mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo
economicus (humman beings as economic actor). Selanjutnya Marx juga
lebih mendasarkan teorinya pada konflik antar kelas, eksploitasi satu
kelompok manusia terhadap kelompok manusia lain dan tekanan-
tekanan semacam itu dalam sistem kapitalis. Sebaliknya Rostow lebih
memandang interaksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis
mengingat Rostow menganut sistem kapitalis.
Dalam pandangan lainnya Marx mengasumsikan bahwa keputusan yang
diambil masyarakat semata-mata merupakan fungsi dari siapa pemilik
sumber daya artinya perubahan ekonomi merupakan fenomena yang
dipengaruhi oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomi kelas
masyarakat penguasa sumber daya. Rostow memandang perubahan
ekonomi lebih mengarah kepada konsekuensi logi dari perubahan motif
dan inspirasi nonekonomi yang terjadi dalam seluruh lapisan
masyarakat. Kedua teori ini pula sangat berbeda dengan Adam Smith
yang lebih melihat pada perkembangan masyarakat yang diikuti oleh
pertumbuhan ekonomi yang tercipta melalui sistem sosial masyarakat
yang lebih disederhanakan pada sistem pembagian kerja.

Teori Perubahan Struktural


1. Teori pembangunan Arthur Lewis
Pembahasannya lebih pada proses pembangunan antara daerah kota
dan desa, diikuti proses urbanisasi antara kedua tempat tersebut.
Selain itu teori ini juga mengulas model investasi dan sistem
penetapan upah pada sistem modern yang juga berpengaruh pada
arus urbanisasi yang ada.
Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada
dasarnya terbagi menjadi dua :
• Perekonomian tradisional
Lewis berasumsi bahwa daerah pedesaan dengan perekonomian
tradisional mengalami surplus tenaga kerja. Surplus tersebut erat
kaitannya dengan basis utama perekonomian tradisional. Kondisi
masyarakat berada pada kondisi subsiten akibat perekonomian
yang subsisten pula yang ditandai nilai produk marginal dari
tenaga kerja yang bernilai nol. Kondisi ini menunjukkan bahwa
penambahan tenaga kerja justru akan mengurangi total produksi
yang ada, sebaliknya dengan mengurangi tenaga kerja justru tidak
mengurangi total produksi yang ada. Dengan demikian, nilai upah
riil ditentukan oleh nilai rata-rata produk marginal, dan bukan
produk marginal dari tenaga kerja itu sendiri.
• Perekonomian industri
Sektor industri berperan penting dalam sektor ini dan letaknya
pula di perkotaan. Pada sektor ini menunjukkan bahwa tingkat
produktivitas sangat tinggi termasuk input dan tenaga kerja yang
digunakan. Nilai marginal terutama tenaga kerja, bernilai positif
dengan demikian daerah perkotaan merupakan tempat tujuan bagi
para pencari kerja dari daerah pedesaan. Jika ini terjadi maka
penambahan tenaga kerja pada sektor-sektor industri akan diikuti
pula oleh peningkatan output yang diproduksi. Dengan demikian,
industri perkotaan masih menyediakan lapangan pekerjaan bagi
penduduk desa. Selain lapangan kerja yang tersedia tidak kalah
menarik tingkat upah di kota yang mencapai 30%, dan ini
kemudian menjadi ketertarikan bagi penduduk desa dalam
melakukan urbanisasi.
1. Teori pola pembangunan Chenery
Dalam penelitiannya, Chanery tentang transformasi struktur produksi
menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan perkapita akan
mendorong perekonomian suatu negara dari sektor pertanian menuju
sektor industri. Chenery kemudia mengelompokkan negara sesuai
dengan proses perubahan struktural sesuai dengan tingkat
pendapatan perkapita;
• Negara dengan tingkat pendapatan perkapita $600 dikelompokkan
kedalam negara yang baru melakukan pembangunan atau negara
sedang berkembang.
• Negara dengan tingkat pendapatan perkapita $600 - $3000
dikelompokkan dalam negara dalam fase transisi pembangunan.
Kesamaan kedua teori ini terletakan pada surplus tenaga kerja antara
daerah pedesaan dan perkotaan, dimana daerah perkotaan dengan
industrialisasi membuka banyak lapangan kerja namun kuranya
tenaga kerja yang terserap. Sebaliknya daerah pedeaan dengan
surplusnya tenaga kerja namun tidak diimbangi dengan lapangan
kerja yang tersedia.
Dibagian lain kritik atas kedua teori ini masing-masing berbeda,
bahwa kritik terhadap Lewis karena asumsi-asumsinya yang tidak
relevan dengan negara sedang berkembang sedangkan kritik atas
Chenery jurang pemisah antara desa dan kota.
Dalam pandangannya Lewis mengungkapkan bahwa tingkat
perpindahan tenaga kerja dan pembukaan lapangan kerja di sektor
modern proporsional dengan tingkat akumulasi modal. Dengan
harapan akumulasi kapital sektor modern akan mendorong
pertumbuhan sektor tersebut dan meningkatkan lapangan kerja baru.
Namun keuntungan tersebut diinvestasikan pada peralatan
penunjang produksi guna menghemat tenaga kerja (labour saving)
yang lebih canggih dari peralatan yang digunakan sebelumnya.
Reinvestasi ini menyebabkan penyediaan lapangan kerja baru dengan
penggunaan tenaga kerja tetap sementara keuntungan yang
diperoleh meningkat. Pandangan lain lewis yang dikritik bahwa
daerah perkotaan mengalami kekurangan tenaga kerja sedangkan
daerah pedesaan mengalami surplus tenaga kerja pada kenyataan
bahwa urbanisasi lebih kepada peningkatan jumlah penduduk. Sektor
modern, pasar tenaga kerja menjamin tingkat upah berada pada
tingkatan yang sama sampai penawaran tenaga kerja mengalami
penurunan. Namun hal itu tidak ditemukan di negara sedang
berkembang yang mana kecenderungan peningkatan nilai upah
secara terus menerus naik antara daerah pedesaan maupun daerah
perkotaan. Sedangkan kritik atas Cenery bahwa proses transformasi
struktural tidak berarti berjalan mulus, bahwa didalam proses
transformasin tersebut muncul ketertinggalan (lag). Dimana daerah
pedesaan akan mengalami ketertinggalan dibanding daerah
perkotaan. Dalam kritik lainnya transformasi struktural akan berjalan
dengan baik jika diikuti dengan pemerataan kesempatan belajar,
penurunan laju pertumbuhan penduduk, dan penurunan derajat
dualisme ekonomi antara perkotaan dan desa.

Teori Dependensia
Pencetus teori dependensia adalah Paul Baran, dengan asumsi dasar
pada teori ini adalah bahwa pembagian perekonomian dunia menjadi
dua golongan yaitu perekonomian negara-negara maju dan
perekonomian negara-negara berkembang. Andre Gunder Frank
mengelompokkan negara maju (development metropolitan countries)
dan negara sedang berkembang (satellite underdevelopment
countries). Samir Amin membagi perekonomian menjadi dua yaitu
negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok negara
miskin pinggiran (periphery).
Manurut Samir Amin bahwa pusat perekonomian dunia sangat
dipengaruhi oleh negara-negara pusat, sementara negara-negara
periphery berada disekitar negara-negara tersebut. Dalam
perekonomian negera sedang berekembang, belum berlaku
sepenuhnya mekanisme pasar namun hubungan paternalistik dan
kerja sama sosial lebih mendominisi sistem perekonomian. Bagi
negara-negara pusat sistem perekonomian lebih moderen, disini
individualis dan penyelesaikan segala permasalahan melalui kontrak
transaksi lebih di mendominasi dari pada hubungan paternalistik.
Hubungan yang terjadi antara negara-negara core dan negara-
negara periphery bersifat eksploitasi, dominasi perekonomian dunia
oleh negara-negara core dan rekayasa eksploitasi yang dilakukan
mereka, pada akhirnya menjadikan negara-negara periphery semakin
bergantung pada negara-negara pusat.
Paul Baran berpendapat bahwa investasi perusahan multi nasional
negara maju di negara miskin akan meningkatkan pendapatan
nasionanl negara miskin. Namun hai ini tidak dinikmati sebagian
besar warga masyarakat karena penditribusian pendapatan tidak
merata. Keuntungan itu dinikmati oleh pengusaha asing dan segelintir
anggota masyarakat tertentu dalam negeri, dengan demikian
kesejahteraan di negara miskin tidak pernah dialami. Sistem ini juga
merubah pola tatanan masyarakat negara miskin yang semula masih
mengutamakan hubungan paternalistik dengan kontrak transaksi
berdasarkan fokus pasar. Akibat dari perubahan sistem ini bahwa
masyarakat negara miskin yang semula berorientasi pada
berkecukupan dan pemenuhan kebutuhan dasar dalam negeri ke
produksi untuk memenuhi kebutuhan luar negeri.
Andre Gunder Frank, hubungan negara metropolis dan negara satelit
menyentuh seluruh sektor negara-negara miskin karena sistem
kapitalis dunia yang mengekploitasi negara miskin. Keterbelakangan
di negara miskin justru merupakan dampak dari adanya
kontak/hubungan negara maju dengan sistem kapitalis yang masuk
ke negara miskin. Andre Gunder Frank menampilkan tiga hipotesa
utama yang berkaitan dengan pola hubungan antara negara maju
dan negara miskin;
• Pihak metropolis akan terus berkembang pesat sedangkan pihak
satelit akan menuju kepada keterbelakangan yang terus menerus.
• Negara-negara miskin yang sekarang menjadi satelit dapat
mengalami perkembangan ekonomi yang sehat dan mampu
menumbuhkan perkembangan industri otonom, apabila kaitannya
dengan negara metropolis dan dunia kapitalis tidak ada atau
sangat lemah.
• Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada
dalam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah
kawasan yang pada masa lalu memiliki kaitan kuat dengan
metropolois dari sistem kapitalis internasional. Kawasan-kawasan
ini adalah penghasil komoditas ekspor bahan mentah primer yang
terlantar sebagai akibat adanya gelombang konjungtur dalam
perdagangan internasional komoditas tersebut.
Kesamaan teori ini dengan teori-teori sebelumnya bahwa dalam teori
ini masih menganut sistem kapitalisme dimana masih adanya
eksploitas sumber-sumber ekonomi. Permasalahan yang terjadipun
masih mengarah kepada tingkat kesejahteraan negara-negara miskin
yang terjadi akibta tereksploitasi oleh negara-negara maju. Akibatnya
timbul kesejangan yang mengarah kepada konflik antar kelas namun
dalam teori ini lebih kepada konteks internasional, yaitu antara
negara maju dan negara miskin.
Kritik terhadap teori ini bahwa ketergantungan menitikberatkan pada
keterbelakangan akibat interaksi negara maju dan negara miskin,
namun kurang proporsional dalam menempatkan interaksi yang
terjadi sebagai satu faktor yang berpengaruh dalam menciptakan
keterbelakangan dan ketergantungan negara miskin. Kritik lain bahwa
teori ini tidak menjelaskan sebab-sebab terjadinya keterbelakangan
dan ketergantungan dalam mencari solusinya.

Kaum Neo-Klasik Penentang Revolusi


Teori ini disebut sebagai teori penawarana (supply theory), yang
merekomendasikan swastanisasi BUMN, meningkatkan peran
perencanaan dan penetapan regulasi ekonomi kearah teriptanya iklim
kondusif dalam mendorong peran swasta dalam pembangunan. Teori
ini merupakan satu teori yang menentang teori dependensia bahwa
keterbelakangan bukan disebabkan oleh pengaruh eksternal melaikan
pengaruh internal negara terbelakang. Hal ini karena campur tangan
pemerintah dalam aktivitas ekonomi, korupsi, dan kurangnya intensif
ekonomi, serta kesalahan dalam pengalokasian sumber daya yang
salah merupakan sumber utama keterbelakangan. Menurut ekonom
teori ini (Jadgis Baghwaty, Anne O Kruger, Bela Ballsa, Deepak Lal),
bahwa semakin besar campur tangan pemerintah dalam
perekonomian semakin lambat laju pertumbuhan ekonomi suatu
negara sehingga mereka menyarankan kepada negara berkembang
untuk menuju sistem perekonomian didasarkan pada pasar bebas.
Kritik terhadap toeri ini bahwa jika diterapkan maka hanya akan lebih
baik dinegara maju dari pada negara sedang berkembang. Konsep
pandangan bebas laissez faire dan pasar persaingan sempurna hal
yang dapat dipenuhi dinegara-negara maju sedangkan bagi negara
sedang berkembang pasar yang ada merupakan monopoli atau
oligopoli. Perbedaan struktur masyarakat negara maju dan negara
berkembang juga turut menjadikan teori pembangunan ini gagal
dinegara berkembang. Kondisi sosial masyarakat negara sedang
berkembang masih bersifat feodal atau semi feodal, serta masih
menjunjung paternalistik jika dipaksakan pada orientasi pasar bebas
justru akan meningkatkan eksploitasi antara satu golongan terhadap
golongan lain seperti yang diungkapkan dalam teori dependensia.

Teori-Teori Baru
Dikenal dengan teori pertumbuhan baru (new growth theory) NGT dan
geografi ekonomi baru (new economic geography) NEG.
1. Teori Pertumbuhan Baru (NGT)
Teori ini dikenal dengan teori pertumbuhan endogen yang
menganalisa pertumbuhan endogen karena menganggap
pertumbuhan GNP lebih ditentukan oleh sistem proses produksi
dan bukan berasal dari luar sistem, dan menjelaskan faktor-faktor
yang menentukan ukuran tingkat pertumbuhan GDP yang belum
dijelaskan dan dianggap ditentukan secara eksogen persamaan
pertumbuhan neo-klasik.
Implikasi terhadap pentingnya tabungan dan investasi modal
manusia pada teori NGT bahwa tingkat pertumbuhan nasional
yang konstan antar negara tergantung pada besarnya tabungan
nasional dan tingkat teknologi. Konsekuensinya, bagi negara
miskin modal manusia dan fisik sulit untuk menyamai tingkat
pendapatan per kapita negara kaya, walaupun memiliki tingkat
tanbungan yang sama.

2. Teori Geografi Ekonomi (NEG)


Yang paling penting dari teori ini adalah keuntungan-keuntungan
aglomerasi yang muncul dari perilaku pelaku-pelaku ekonomi yang
mencari penghematan aglomerasi baik penghematan lokasi
maupun urbanisasi. Penghematan lokalisasi terjadi apabila biaya
produksi perusahan pada suatu industri tersebut meningkat
(dengan berlokasi dekat perusahan lain dalam industri yang sama,
satu perusahan dapat menikmati beberapa manfaat). Sedangkan
urbanization economics terjadi bila biaya produksi satu
perusahaan menurun ketika produksi seluruh perusahaan dalam
wilayah perkotaan yang sama meningkat. Penghematan ini akibat
skala perekonomian kota yang besar, buka satu skala satu jenis
industri. Penghematan urbanisasi memberi manfaat bagi semua
perusahaan diseluruh kota tidak hanya perusahaan dalam satu
industri tertentu.
Teori-teori klasik yang tradisional berpendapat bahwa kluster
industri muncul terutama karena biaya transportasi dan produksi
dan produksi (Isard, 1956; Weber, 1990) sehingga adanya
penghematan dengan asumsi bahwa basis geografis bahan
mentah, ukuran lokasi konsumsi dan tenaga kerja tidak mudah
berpindah dan jumlahnya yang tidak terbatas.
3. Teori Perdagangan Baru
David Ricardo; Teori keunggulan komparatif mengajukan dalil
bahwa :
• Negara berdagang untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan
sumber daya alam yang mereka miliki.
• Daerah akan berspesialisasi berdasarkan keunggulan komparatif
yang mereka miliki.
Heckscher; Teori H-Q dalam bukunya “Foreing Trade and the
Distribution of Income “ (1991) keunggulan komparatif ditentukan
oleh distribusi sumber daya absolut antar negara, khususnya oleh
rasio endowment relatif antar negara. (Johns, 1985 : 178-81).
Ketiga teori ini menunjukkan kesemaan yang tidak terlalu spesifk
bahwa ketiganya melihat pertumbuhan ekonomi didorong oleh faktor
produksi dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sebagai
satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu
negara. Namun satu kelemahan dari teori ini bahwa masyarakat
tidak banyak mendapat kesempatan sebagai pelaku ekonomi pasar.
Kegiatan perekonomian akan lebih didominasi oleh pemerintah
ataupun pengusaha yang bermitra dengan pemerintah. Disisi lain
penguasaan sumber-sumber ekonomi akan lebih mengara kepada
sistem kapital.
Tabel Komparasi Teori Utama Pembangunan

Teori Pertumbuhan Teori Perubahan Teori Dependensia Kaum Neo-Klasik Teori-Teori Baru
Linear Struktural Penentang Revolusi

Secara umum teori-teori ini berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat berbeda dimana antara
negara maju dan negara berkembang tidak sama. Perkembangan ekonomi suatu negara tergantung pada struktur
masyarakat dan sistem perekonomiannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem ekonomi kapitalislah masih tetap
dibicarakan walaupun tiap teori tersebut muncul dengan asumsi yang berbeda-beda.

– Teorinya saling – Teori ini – Interaksi antara – Merekomendasikan – Teori ini


berkaitan membahasa negara maju dan BUMN dan swasta melihat
dimana pergeseran negara miskin meningkatkan pertumbuhan
perkembangan sistem bersifat peran perencanaan ekonomi
ekonomi suatu perekonomia eksploitasi. dan penetapan didorong oleh
negara dilalui dengan – Kesejahteraan regulasi ekonomi. faktor
secara mengandalkan negara-negara – Teori ini menolak produksi
pentahapan. sektor pertanian miskin pada peran pemerintah dengan
– Setiap tahap ke sektor dasarnya tidak dalam kegiatan memanfaatka
terjadi karena industri melalui pernah dialami perekonomian n sumber
adanya tahap peningkatan akibat masuknya karena akan daya yang
sebelumnya pendapatan investasi menghambat dimiliki
yang telah perkapita. negara-negara pertumbuhan sebagai satu
dilalui. – Daerah kota maju. ekonomi. faktor yang
– Penguasaan mengalami – Pergantian – Kegiatan dapat
sumber daya kekurangan sistem perekonomian mendorong
ekonomi tenaga kerja hubungan lebih didasarkan pertumbuhan
merupakan sedangkan paternalistik pada pasar bebas ekonomi
modal dan daerah masyarakat dari dimana lebih suatu negara.
kemampuan pedesaan feodal dengan diperankan oleh – Kegiatan
menabung. mengalami sistem kapitalis BUMN dan swasta perekonomian
– Adanya surplus tenaga yang didasarkan akan lebih
eksploitasi kerja pada rasionalitas didominasi
tenaga kerja – Juga terori ini pasar. oleh
yang melihat dari pemerintah
dipandang perkembangan ataupun
sebagai input perekonomian pengusaha
dalam proses pertanian yang bermitra
produksi. menunuju dengan
– Konflik antar industri pemerintah.
kelas. mengakibatkan Disisi lain
– Penetapan urbanisasi. penguasaan
upah buruh sumber-
tidak sesuai sumber
dengan nilai ekonomi akan
proktivitasnya. lebih
– Buruh hanya mengarah
dibayar untuk kepada sistem
dapat kapital.
memenuhi
kebutuhannya
agar tetap
berproduksi.