Anda di halaman 1dari 3

perlunya mengenal sifat fisik secara tidak langsung juga menerangkan tentang hubungannya dengan sifat kimia dan

sifat bakarnya. Sebagai contoh, ukuran pori batubara, yang mana merupakan sifat fisik batubara, merupakan faktor utama dalam penentuan reaktivitas kimiawi batubara (Walker, 1981). Dan efek kimiawi dari swelling indeks dan pengkokasan batubara memiliki efek substansial pada penanganan batubara atau selama operasi konversi batubara. Karenanya, adalah alasan yang baik untuk mempelajari ciri khas daripada batubara tersebut. Ada 2 analisis batubara 1. Analisis Proksimat : nilai kandungan air, abu, zat-zat terbang(volatile), kalor dantemperatur lebur abu (ash fusion temperature)

2. Analisis Ultimate : nilai kandungan oksigen, nitrogen, karbon, hidrogen dan Sulfur

SIFAT FISIK Sifat fisik batubara tergantung kepada unsur kimia yang membentuk batubaratersebut, semua fisik yang dikemukakan dibawah ini mempunyai hubungan erat satusama lain. Ultrafine structure Densitas Goresan,Goresan batubara warnanya berkisar antara terang sampai coklat tua. Pada lignit,mempunyai goresan hitam keabu-abuan, batubara berbitumin mempunyai warnagoresan hitam, batubara cannel mempunyai warna goresan dari coklat sampai hitamlegam.
Tingkat ketergerusan (Hardgrove Grindability Index atau HGI) Kinerja pulverizer atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk HGI lebih rendah, mesin harus beroperasi lebih rendah dari nilai standarnya untuk menghasilkan tingkat kehalusan yang sama.

Kekerasan, Kekerasan batubara berkaitan dengan struktur batubara yang ada. Keras ataulemahnya batubara juga terkandung pada komposisi dan jenis batubaranya. Ujikekerasan batubara dapat dilakukan dengan mesin Hardgrove Grindibility Index (HGI). Nilai HGI menunjukan niali kekersan batubara. Nilai HGI berbanding terbalik dengankekerasan batubara. Semakin tinggi nilai HGI , maka batubara tersebut semakin lunak.Dan sebaliknya, jika nilai HGI batubara tersebut semakin rendah maka batubara tersebut semakin keras Sifat optik batubara menggunakan mikroskop, Komposisi, model keberadaan, dan kondisi sebaran mineral dalam batubara merupakankarakteristik mendasar yang pokok untuk menjelaskan sifat serta mekanisme pembentukan abu batubara pada pembakaran suhu tinggi dan pada proses gasifikasi batubara. Penyusunnya seperti : mineral lempung (kaolinite), karbonat (calcite), sulfida(pyrite), oksida (quartz), logam berikatan organik (COO-Na+)
Reflektan Adalah mengherankan untuk kebanyakan peneliti batubara, sering batubara digolongkan sebagai padatan hitam yang tak dapat ditembus oleh cahaya, sehingga harus ditetapkan sebagai salah satu propertis secara optik. Tentu saja, adalah benar bahwa beberapa preparasi atau pengkondisian dari batubara adalah penting untuk dikenali melalui berbagai propertis.

Batubara dapat diuji dalam bentuk seperti tembus cahaya dengan cara transmisi atau reflektan (Tschamler dan de Ruiter, 1963). Transmisi adalah suatu pengukuran absorbansi cahaya pada berbagai gelombang dan dapat ditentukan untuk sayatan tipis batubara. Reflektansi batubara adalah penting dalam menopang penentuan dari komposisi maseral batubara, yang mana pada gilirannya adalah sangat membantu dalam memprediksi perilaku selama mengproses batubara (Davis et. Al., 1991).

Porositas Kompaksi Kapasitas adsorpsi Moisture holding capacity Nilai kalori Kekuatan Keliatan

SIFAT KIMIA Sifat kimia dari batubara sangat berhubungan langsung dengan senyawa penyusun dari batu bara tersebut, baik senyawa organik ataupun senyawa anorganik.Sifat kimia dari batubara dapat digambarkan dari unsur yang terkandung di dalam batubara,antara lain sebagai berikut : Kadar kelembaban (Moisture, satuan persen) Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan inherent moisture (IM). Jumlah dari keduanya disebut dengan Total Moisture (TM). Kadar kelembaban ini mempengaruhui jumlah pemakaian udara primer untuk mengeringkan batubara tersebut. Kadar abu (Ash content, satuan persen) Semakin tinggi kadar abu, secara umum akan mempengaruhi tingkat pengotoran, keausan, dan korosi peralatan yang dilalui. Zat terbang (Volatile Matter atau VM, satuan persen) Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas api. Hal ini didasarkan pada rasio atau perbandingan antara kandungan karbon (fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan rasio bahan bakar (fuel ratio). Semakin tinggi nilai fuel ratio, maka jumlah karbon di dalam batubara yang tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan tersebut nilainya lebih dari 1,2 maka pengapian akan kurang bagus sehingga mengakibatkan kecepatan pembakaran menurun. Kadar karbon (Fixed carbon atau FC, satuan persen) Nilai kadar karbon ini semakin bertambah seiring dengan meningkatnya kualitas batubara. Kadar

karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio. Kadar sulfur (Sulfur content, satuan persen) Kandungan sulfur dalam batubara biasanya dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur ini berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang terdapat pada pemanas udara, terutama apabila suhu kerja lebih rendah daripada titik embun sulfur. Selain itu, berpengaruh juga terhadap efektivitas penangkapan abu pada electrostatic presipitator.

sulfur nitrogen pelarutan aromatik SIFAT TEKNIS Volatile mater Kokabilitas Nilai panas Kalori (Calorivic Value atau CV, satuan cal/gr atau kcal/gr) CV merupakan indikasi kandungan nilai energi yang terdapat pada batubara, dan merepresentasikan kombinasi pembakaran dari karbon, hidrogen, nitrogen, dan sulfur. Ukuran (Coal size) Ukuran batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar. Butir paling halus untuk ukuran maksimum 3 mm, sedangkan butir paling kasar sampai dengan ukuran 50 mm.