Anda di halaman 1dari 40

RUPTUR UTERI

Oleh : RA. Nurafrilya Fitria Sari

Pembimbing : dr. Hushat Pritalianto, SpOG

DEFINISI

Ruptur Uteri adalah robekan pada rahim sehingga rongga uterus dan rongga peritoneum dapat berhubungan. ruptur uteri komplit adalah keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dan rongga peritoneum.

ruptura uteri inkomplit hubungan kedua rongga tersebut masih dibatasi oleh peritoneum viserale.

Ruptura uteri merupakan suatu komplikasi yang sangat berbahaya dalam persalinan. Angka kejadian ruptura uteri di Indonesia masih tinggi yaitu berkisar antara 1 : 92 sampai 1 : 428 persalinan. Begitu juga angka kematian ibu akibat rupturea uteri masih tinggi yaitu berkisar antara 17,9 sampai 62,6 %. Angka kematian anak pada ruptura uteri antara 89,1 % sampai 100 %.

REKAM-MEDIK

IDENTITAS Nama Umur : Ny. S : 25 tahun

Alamat
Pekerjaan Agama No. RM Tanggal Masuk

:Lempuyang, SERANG
: Ibu rumah tangga : Islam : 01.71.78 : 25-03-2013

ANAMNESIS

Keluhan Utama : pasien merasakan nyeri pada perut yang terus menerus Keluhan Tambahan : Keluar air-air dari jalan lahir , Keluar lendir campur darah dari jalan lahir

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke RSUD serang dengan keluhan nyeri pada bagian perut yang terus menerus sejak 4 jam SMRS Pasien mengatakan sudah merasakan mulesmules ingin melahirkan sejak 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluh keluar air-air dari jalan lahir tidak tertahan, berwarna jernih sejak 1 hari SMRS.

pasien sudah dipimpin persalinannya dengan ditolong dukun sejak 12 jam SMRS dan mengaku didorong perutnya oleh dukun. Di puskemas, pasien disuruh mengedan terus menerus oleh bidan walaupun sudah lelah. Pasien mengatakan, saat dibawa ke RSUD, dirinya telah mengalami keluar darah merah segar yang banyak dari jalan lahir serta merasakan sangat sakit pada perut bagian bawah.

kehamilannya yang kedua Usia kehamilan 9 bulan

Telat haid 1 minggu, test pack positif


Merasakan gerakan janin sejak hamil 5 bulan

RIWAYAT MENSTRUASI
Menarche Siklus Lama Banyak

Dismenorrhea Flour Albus HPHT TP

: 15 tahun : teratur setiap bulan : 7 hari : 3X ganti pembalut, tidak ada gumpalan darah :+ :: 22 Agustus 2012 : 29 Mei 2013

RIWAYAT PERNIKAHAN

Menikah 1 kali, selama 3 tahun Usia saat menikah : Istri Suami : 22 tahun : 28 tahun

RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


G2P1+1A0 Anak I : 2012, lahir normal di rumah dengan ditolong dukun, Perempuan, meninggal Anak II : hamil ini

RIWAYAT ANC DAN IMUNISASI

Pasien memeriksakan dirinya tiga kali ke bidan selama hamil ini. diberi vitamin dan penambah darah Belum pernah melakukan imunisasi TT tekanan darahnya normal yaitu 110/80 mmHg.

RIWAYAT KONTRASEPSI

KB suntik 3 bulan, 1 kali suntik

RIWAYAT IMUNISASI

Belum pernah

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Asma Hipertensi DM Penyakit jantung

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Asma Hipertensi DM Penyakit jantung

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : sakit berat Kesadaran : compos mentis Tanda vital : tekanan darah Respirasi Nadi Suhu BB TB

:90/70mmHg : 34 x/menit : 114 x/menit : 37,6,o C : 54 kg : 153 cm

STATUS GENERALIS

Kepala

: normochepale, rambut hitam, tidak mudah dicabut : konjungtiva pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+) : tidak ada keluhan

Mata

THT

Leher
Thorax

: pembesaran KGB (-)


: simetris dalam keadaan statis dinamis

Pulmo Cor

: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) : S1S2 reguler, murmur sistolik (-), gallop (-)

Abdomen : bising usus (+) lemah, nyeri tekan (+), nyeri lepas (+), shifting dullness (+), defans muscular, status obstetrikus Ekstremitas : akral dingin, udem pretibial (-/-), refleks patella +/+

STATUS OBSTETRI

Inspeksi : Dinding perut tampak membesar dan terdapat cekungan pada perut, perut membesar tanda kehamilan., linea nigra (+), striae gravidarum (+)

Palpasi : L1 : TFU = 34 cm, teraba bagian bulat, besar, lunak. L 2 : Kanan : teraba tahanan memanjang Kiri : teraba bagian kecil janin L 3 : teraba bagian bulat, besar, keras L 4 : divergen

His : (-) : DJJ : (-) : 3595 gram

Auskultasi TBJ

PEMERIKSAAN DALAM (VT)


v/u/v pembukaan Efficement ketuban bagian terbawah penurunan penunjuk Bloodshow

: edema : lengkap : 100 % : (-) : kepala : Hodge III-IV : uuk kanan depan : (+)

PEMERIKSAAN LAB
Haemoglobin Leukosit Hematrokit Trombosit MCV MCH MCHC Gds

: 8,5 g/dl : 10.600 / ul :34,10% :284.000/ul : 99,5 : 33,8 : 33,9 : 86 g/dl

DIAGNOSIS KERJA

G2P1+1A0 Hamil 39 minggu inpartu kala II dengan syok hipovolemik e.c. rupture uteri Janin Tunggal Mati Presentasi Kepala

PENATALAKSANAAN
Rencanakan persalinan intra abdominal (SC sito) Perbaiki keadaan umum : Penatalaksanaan syok Histerektomi subtotal Observasi Tanda tanda vital pasien Transfusi darah Pro ICU

PROGNOSIS
Kehamilan Persalinan

: ad malam : ad malam

Dilakukan cyto sectio cesarea dan histerektomi subtotal Diagnosis pra bedah : G2P1+1A0 Hamil 39 minggu inpartu kala II dengan syok hipovolemik e.c. rupture uteri Janin Tunggal Mati Presentasi Kepala Diagnosis pasca bedah : P2+2A0 post section cesarea atas indikasi kala II memanjang dan post histerektomi subtotal atas indikasi rupture uteri

HASIL PERSALINAN

Tanggal 01-06-2013 bayi dilahirkan jenis kelamin dengan BB= gram dan PB = cm meninggal

DISKUSI KASUS
Permsalahan : Apakah diagnosis sudah tepat? Apakah penatalaksanaan sudah tepat? Apakah penyebab terjadinya rupture uteri pada kasus ini? Bagaimana solusi agar pasien ini bisa mempunyai anak? Mengapa bisa terjadi keterlambatan dalam rujukan dari dukun ke bidan?

APAKAH DIAGNOSIS SUDAH TEPAT?

Diagnosis rupture uteri ditegakkan berdasarkan pemeriksaan inspeksi, palpasi, dan perkusi pada pasien. Kemudian dapat dilihat dengan adanya tanda-tanda syok hipovolemik karena terjadi perdarahan yang massif, gejalanya berupa takikardi dan hipotensi.

Penulis sependapat dengan syok hipovolemik dan rupture uteri karena pada anamnesis, pasien mengatakan nyeri yang hebat pada perutnya, inspeksi abdomen pasien terlihat adanya cekungan yaitu gambaran ring van bandl, terlihat ada perdarahan pervaginam, kemudian pada pemeriksaan palpasi teraba perut tegang dan nyeri tekan (+), lalu pada pemeriksaan perkusi : shifting dullness (+), his (-). Pada pasien ini juga ditemukan adanya gejalagejala syok hipovolemik yang biasanya menyertai rupture uteri yaitu berupa hipotensi (TD : 90/70 mmHg) dan takikardia (nadi : 114x/menit).

Gambar 2. Ring van Bandl (www.healthyorigin.org)

APAKAH PENATALAKSANAAN SUDAH TEPAT?

Penulis setuju dengan dilakukannya histerektomi karena pada kasus ini, ketika dilakukan pembedahan, terlihat daerah luka robekan tidak rapi dan terdapat daerah nekrosis yang luas sehingga tidak memungkinkan lagi dilakukannya histerorafi.

Penulis sependapat dengan dilakukannya penatalaksanaan syok hipovolemik untuk memperbaiki keadaan umum, yaitu resusitasi cairan dengan memasang infus RL serta pemberian transfusi darah PRC.

APAKAH PENYEBAB TERJADINYA RUPTURE UTERI PADA KASUS INI?

Pada kasus ini penyebab terjadinya ruptur uteri adalah mungkin akibat dari dorongan-dorongan yang dilakukan oleh dukun berkali-kali pada saat persalinan. Sehingga menyebabkan terjadinya ruptur uteri pada bagian posterior.

BAGAIMANA SOLUSI AGAR PASIEN INI BISA MEMPUNYAI ANAK?

Pasien dapat memiliki anak dengan cara menggunakan program surrogate mother (ibu pengganti). Di mana program ini tersedia di negara : Amerika Serikat, Inggris, Austria, Jerman, Iran, Malaysia, dll. Atau pasien bisa mempunyai anak dengan cara mengadopsi.

MENGAPA BISA TERJADI KETERLAMBATAN DALAM RUJUKAN DARI DUKUN KE BIDAN?

Dalam hal ini kemungkinan terjadinya keterlambatan rujukan adalah karena kurangnya kemitraan dukun-dukun daerah dengan bidan-bidan terdekat atau di puskesmas.

Selain itu, kemungkinan karena kurangnya konseling terhadap ibu hamil untuk melahirkan di tenaga-tenaga medis, dan lebih percaya dan lebih memilih lahir di dukun dikarenakan pengaruh tradisi, ekonomi dan sosial-budaya

KESIMPULAN

Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi yang berasal dari faktor ibu adalah penyulit kehamilan seperti ruptur uteri dan diabetes melitus. Perdarahan masih merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi, di samping preeklampsi/eklampsi dan infeksi

Ruptura uteri spontan dalam persalinan pada rahim yang tadinya masih utuh mengakibatkan robekan yang luas dengan pinggir luka yang tidak rata dan bisa meluas ke lateral atau meluas ke atas disertai perdarahan yang banyak dengan mortalitas maternal yang tinggi dan kematian yang jauh lebih tinggi.

SARAN

Pasien-pasien yang beresiko ruptur uteri (riwayat SC, histerorafi, dan kelainan dinding uterus lain, serta pasien yang di akselerasi persalinannya dengan oxytosin) dipantau ketat oleh tenaga ahli pada saat sebelum dan saat persalinan Jika melakukan dorongan-dorongan pada saat persalinan harus dengan hati-hati dan dilakukan oleh orang yang ahli dan di sarana RS untuk mencegah resiko ruptur uteri posterior