Anda di halaman 1dari 59

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN PT.

DJARUM OASIS KRETEK FACTORY

PENGARUH PENAMBAHAN ARANG AKTIF DAN ZEOLIT SEBAGAI ADSORBEN PADA OUTLET CLARIFIER DI WATER TREATMENT AND COMPOSTING PLANT DJARUM OASIS

Disusun oleh: Nama NIM Jurusan : Ari Setiani : 4311411018 : Kimia

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktik Kerja Lapangan telah disahkan oleh Water Treatment Composting Plant PT. Djarum OASIS Kretek Factory dan Jurusan Kimia Hari Tanggal : :

Dosen Pembimbing

Pembimbing Lapangan

Drs. Kasmui, M. Si NIP. 196602271991021001

Redi Joko Prasetyo

Mengetahui, Ketua Jurusan

Mengetahui, Pimpinan/Ketua Institusi Mitra

Dra. Woro Sumarni, M. Si NIP. 196507231993032001

Setyo Pamungkas

ii

Ari Setiani PENGARUH PENAMBAHAN ARANG AKTIF DAN ZEOLIT SEBAGAI ADSORBEN PADA OUTLET CLARIFIER DI WATER TREATMENT AND COMPOSTING PLANT DJARUM OASIS Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang arisetianicassie@gmail.com Abstrak Telah dilakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mengenai Pengaruh Penambahan Arang Aktif dan Zeolit sebagai Adsorben pada Outlet Clarifier di Water Treatment and Composting Plant Djarum Oasis di Water Treatment and Composting Plant Djarum Oasis, Kudus. Penentuan pengaruh penambahan arang dan zeolit pada outlet clarifier dilakukan dengan menggunakan tiga parameter, yaitu Total Suspended Solid (ml/L), pH, dan kekeruhan. Penentuan pengaruh penambahan arang dan zeolit pada outlet clarifier dilakukan dengan menggunakan metode percobaan secara langsung. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Total Suspended Solid (ml/L), pH, dan kekeruhan semakin meningkat seiring bertambahnya konsentrasi arang dan zeolit tersebut. Namun nilai ini masih berada pada standart operasional pada WTCP Djarum Oasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai Total Suspended Solid adalah 30,8 dan ratarata pH adalah 8,016. Namun arang aktif dan zeolit tidak dapat dijadikan sebagai adsorben tanin yang baik, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan dengan inovasi metode yang lebih optimal. Kata kunci : Arang aktif, zeolit, TSS, pH

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Pengaruh Penambahan Arang Aktif Dan Zeolit Sebagai Media Filter Pada Outlet Clarifier Di Water Treatment And Composting Plant Djarum Oasis. Penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. 2. Allah SWT yang selalu memberikan jalan di setiap kesulitan Kedua orang tua dan keluarga yang selalu menjadi motivasi untuk terus berusaha. 3. Pimpinan PT. DJARUM yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar mengenai proses operasional di Water Treatment Composting Plant OASIS. 4. Dra. Woro Sumarni selaku ketua jurusan Kimia dan Dra. Woro Sumarni selaku ketua program studi kimia. 5. Drs. Kasmui, M. Si selaku dosen pembimbing PKL yang telah memberikan bimbingan, saran, dukungan dan motivasi. 6. Redi Joko Prasetyo selaku pembimbing lapangan PKL yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi kepada penulis. 7. Setyo Pamungkas, ST dan Sandy Rahayu, ST yang telah memberikan arahan dan bantuan selama pelaksanaan PKL.

iv

8.

Teguh Waspada yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan PKL di Water Treatment Composting Plant PT. DJARUM OASIS KRETEK FACTORY serta memberikan informasi mengenai Company Profile PT. DJARUM.

9.

Tim Utility di Water Treatment Composting Plant PT. DJARUM OASIS KRETEK FACTORY yang telah membantu selama pelaksanaan PKL.

10. Teman-teman seperjuangan selama PKL di Water Treatment Composting Plant PT. DJARUM OASIS KRETEK FACTORY atas bantuan serta motivasi yang diberikan kepada penulis. 11. Kakak, yang telah bersedia merawat di Kudus saat pelaksanaan PKL. 12. Para pekerja di Water Treatment Composting Plant baik pekerja shift maupun harian atas keramahan dan kesabarannya dalam membantu pelaksanaan kerja praktik ini 13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu atas sumbangan baik moral maupun spiritual demi terwujudnya penulisan laporan PKL ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini tidak seluruhnya sempurna, untuk itu penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan PKL ini dapat memberi manfaat bagi kawan-kawan semua. Amin. Semarang, Penulis Januari 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii ABSTRAK ............................................................................................................ iii KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi DAFTAR TABEL ................................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. x DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xii BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1 1.2.Tujuan .........................................................................................................2 1.3.Manfaat ....................................................................................................... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Gambaran Umum Perusahaan ................................................................... 5 2.2.Lokasi PT. Djarum .................................................................................... 6 2.3.Visi dan Misi PT. Djarum .......................................................................... 7 2.4.Struktur Organisasi PT. Djarum ................................................................ 7 2.5.Proses Pembuatab Rokok ......................................................................... 12 2.5.1. Proses Pengolahan Tembakau. 13 2.5.2. Proses Pengolahan Cengkeh 13
vi

2.5.3. Proses Pembuatan Rokok 14 2.6.Pemasaran 15 2.7.Kegiatan Non Ekonomi............................................................................ 16 2.8.Tanin. 18 2.9.Arang Aktif atau Karbon Aktif.19 2.10. Zeolit .20 BAB III METODE 3.1.Waktu Pelaksanaan ......................................................................................... 23 3.2.Metode Pengumpulan Data ............................................................................ 23 3.3.Alat dan Bahan ............................................................................................... 24 3.3.1. Alat ....................................................................................................... 24 3.3.2. Bahan ....................................................................................................24 3.3.3. Cara Kerja . 24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Pengolahan Limbah Cair ................................................................................. 26 4.1.1. Proses Pengolahan Air Limbah 26 4.1.2. Proses Pengolahan Kompos . 31 4.2.Daily Operational ............................................................................................36 4.3.Hasil Percobaan ..............................................................................................39 4.4.Pembahasan .....................................................................................................41 4.4.1. Pengaruh Penambahan Arang Aktif dan Zeolit dengan Berbagai Konsentrasi Terhadap pH 41

vii

4.4.2.

Pengaruh Penambahan Arang Aktif dan Zeolit dengan Berbagai Konsentrasi Terhadap nilai TSS .. 41

BAB V PENUTUP 5.1.Simpulan ..........................................................................................................43 5.2.Saran .................................................................................................................43 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................44 LAMPIRAN ..........................................................................................................45

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.Pengaruh konsentrasi arang dan zeolit pada pH, kekeruhan, dan TSS dalam out clarifier

.39

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1.

Aplikasi

arang

aktif

dan

zeolit

sebagai

adsorben

.25 Gambar 2. Grafik pengaruh konsentrasi arang aktif dan zeolit pada pH ..40 Gambar 3. Grafik pengaruh konsentrasi arang aktif dan zeolit pada TSS 40

DAFTAR LAMPIRAN

xi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil oleh mahasiswa FMIPA Program Studi Kimia S1 di Universitas Negeri Semarang. PKL merupakan upaya untuk menghasilkan lulusan lulusan yang berkualitas dan mempunyai kemampuan serta

keterampilan kerja dibidangnya. Mahasiswa kimia dengan bekal ilmu yang telah diperoleh selama kuliah dapat mengaplikasikannya di tempat tempat PKL, sehingga dapat dipelajari secara teori dan prakteknya. Oleh karena itu, dalam kerja praktek kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah:

a. Mengenali ruang lingkup perusahaan b. Mengikuti proses kerja di perusahaan secara kontinu c. Melakukan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasan, supervisor atau pembimbing lapangan d. Mengamati perilaku system e. Menyusun laporan dalam bentuk tertulis f. Melaksanakan ujian kerja praktek. PT Djarum Oasis Kudus merupakan salah satu jenis industry yang bergerak dalam bidang produksi rokok. Produk rokok yang dihasilkan dari bahan baku utama berupa cengkeh dan tembakau. Dari proses pembuatan rokok tersebut maka akan menghasilkan air kotor yang tidak sedikit setiap harinya. Oleh karena itu untuk tetap menjaga kelestarian serta meningkatkan daya dukung lingkungan PT Djarum Kudus memiliki Water Treatment and Composting Plant yang terletak di pabrik baru PT Djarum Oasis yang terletak di Desa Gondang Manis. Namun, pada proses pengolahannya keluaran hasil pengolahan air kotor di WTCP Djarum Oasis masih berwarna kuning yang diduga mengandung senyawa tanin yang merupakan senyawa polifenol. Sehingga dalam kegiatan PKL ini, penulis ingin mengetahui proses pengolahan air kotor yang ada di WTCP Djarum Oasis dan melakukan penelitian mengenai adsorbsi zat warna tanin yang masih terdapat pada keluaran hasil pengolahan air kotor.

1.2. Tujuan Hal-hal yang ingin dicapai melalui pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah: a. Melatih kedisiplinan. b. Melatih kemampuan berinteraksi dengan bawahan, rekan kerja, dan atasan dalam perusahaan. c. Melatih kerja. d. Mengamati secara langsung aktivitas proses pengolahan air kotor di WTCP (Water Treatment and Composting Plant) PT Djarum Oasis kretek factory. e. Mengetahui tentang pengaruh penambahan arang aktif dan zeolit sebagai adsorben zat warna tanin yang masih terkandung pada keluaran pengolahan air di WTCP (Water Treatment and Composting Plant) PT Djarum Oasis kretek factory. f. Melengkapi teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktek yang ada di perusahaan. g. Menambah wawasan mengenai proses pengolahan air kotor industry. kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan

1.3. Manfaat Adapun manfaat kami mengadakan PKL ini diantaranya : 1. Manfaat Umum Manfaat PKL adalah agar mahasiswa dapat belajar dari tempat PKL melalui pengalaman kerja sehingga mahasiswa memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan dibidangnya. 2. Manfaat Khusus 2.1 Bagi Fakultas MIPA khususnya Jurusan Kimia a. Sebagai bahan masukan untuk mengevaluasi sampai sejauh mana program yang diterapkan dapat menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan profesional dibidangnya. b. Sebagai sarana pengenalan perkembangan ilmu pengetahuan untuk pertimbangan dalam menyusun program atau kurikulum untuk tahun ajaran berikutnya. c. Mempererat hubungan dan kerja sama dengan instansi atau lembaga yang dijadikan obyek PKL untuk peningkatan penelitian ilmiah dan ilmu pengetahuan. 2.2 Bagi badan/lembaga yang bersangkutan a. Sebagai sarana mengetahui kualitas pendidikan suatu

universitas, khususnya Universitas Negeri Semarang. b. Sebagai sarana untuk memberikan kriteria tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan terkait.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum Perusahaan PT Djarum adalah salah satu perusahaan rokok terbesar ketiga di Indonesia. Perusahaan ini mengolah dan menghasilkan jenis rokok kretek dan cerutu. Ada tiga jenis rokok yang dihasilkan PT Djarum yaitu rokok cerutu, rokok putih, dan rokok kretek. Rokok cerutu terbuat dari daun tembakau dan dibungkus dengan daun tembakau pula. Rokok putih terbuat dari daun tembakau dan dibungkus dengan kertas sigaret. Dan rokok kretek terbuat dari tembakau ditambah daun cengkeh dan dibungkus dengan kertas sigaret (Wibowo, 2003). Rokok kretek merupakan perpaduan antara budaya dari barat dan budaya dari timur. Munculnya rokok kretek pertama kali berawal pada tahun 1880, dimana pada saat itu pendudukasli Kudus yang bernama H. Djamhari menderita penyakit asma. Beliau menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati asmanya (Budiman et al, 1987). Karena beliau juga merupakan seorang perokok akhirnya beliau membuat inovasi dengan membuat rokok kretek dengan mencampurkan cengkeh dn tembakau. Alasan disebut rokok kretek karena letupan api yang membakar campuran cengkeh tersebut menghasilkan bunyi kretek-kretek.

PT Djarum adalah salah satu perusahaan yang memproduksi rokok kretek. Pendiri PT Djarum adalah Oei Wie Gwan. Pada awalnya Oei Wie Gwan mengawali bisnisnya dibidang produksi mercon pada tahun 1929 yang diberi nama Leo. Pada saat itu produksi mercon yang didirikan Oei Wie Gwan cukup terkenal dan menguasai pasar Jawa. Namun pada tahun 1939 dan 1942 terjadi ledakan di pabrik mercon tersebut, yang menyebabkan Oei berpindah alih dalam bisnisnya di bidang industry rokok. PT Djarum didirikan pada tanggal 21 April 1951 dengan 17 pekerja yang mengawali bisnisnya. Pada awalnya PT Djarum bernama Djarum Gramophone yang akhirnya berubah menjadi Djarum. Industry rokok Djarum dalam perkembangannya mengalami pasang surut yang kemudian digantikan oleh anaknya yaitu Budi Hartono dan Bambang Hartono. Pada tahun 1980 PT Djarum berkembang pesat menjadi perusahaan rokok besar di Indonesia, bahkan saat ini PT Djarum telah merambah ke pasar luar negeri (Isroiyati, 2004).

2.2. Lokasi PT Djarum Sejak awal berdiri pada tahun 25 Agustus 1950 PT Djarum sudah menjadi perusahaan yang sangat pesat dalam perkembangannya. PT Djarum memiliki Kantor pusat yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.28 Demangan Kudus, Jawa Tengah. Perusahaan ini memiliki 76 lokasi kerja yang tersebar yaitu 70 di Kudus, 3 di Pati, 1 di Rembang, dan 2 di Jepara.

2.3. Visi dan Misi Perusahaan 2.3.1. Visi masa depan PT Djarum : a. Menjadi yang terbesar dalam nilai penjualan dan profitabilitas di industry rokok Indonesia. b. Kepemimpinan dalam pasar dengan cara menghasilkan produkproduk yang berkualitas tinggi secara konsisten dan inovatif untuk memuaskan konsumen. c. Manajemen professional yang berdedikai serta SDM yang kompeten. 2.3.2. Misi Perusahaan Kami Hadir untuk Memuaskan Kebutuhan Merokok para Perokok.

2.4. Struktur Organisasi PT Djarum Untuk mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien maka dilakukan pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari semua unsuryang bersangkutan. Struktur organisasi yang digunakan oleh PT Djarum adalah struktur organisasi garis dimana garis wewenang mengalir dari atasan ke bawah yang setingkat dibawahnya, sebaliknya bawahan bertanggung jawab kepada atasan yang berada setingkat diatasnya. Tiap-tiap atasan memiliki sejumlah bawahan tertentu dan tiap bawahan hanya

memiliki serta bertanggung jawab kepada seorang atasan. Berikut adalah pokok garis besar tugas dan tanggung jawab dari setiap fungsi struktur organisasi.
2.3 Struktur Organisasi C. E. O 6

C. O. O

Corporate Affair

Strategic Affair

Biz Development

Management Representative

Corporate communication

Internal Audit

Direktur Biztech

Direktur Marketing

Direktur Pembelian

Direktur R&D

Direktur Produk

Direktur HRD

Direktur Keuangan

Sumber: Sumarno 2003

1. Chief executive officer Jabatan ini merupakan jabatan tertinggi dalam struktur organisasi peusahaan. Bertugas mengawasi jalannya perusahaan daam segala bidang, mengontrol perkembangan perusahan juga merupakan tanggung jawabnya.

2. Chief operating officer Chief operating Officer merupakan seseorang yng bertaangung jawab as operrasional harian dalam perusahaan. 3. Strategic affair Bagian ini memiliki tugas dan wewenang sebgi perencanaan strategis di dalam menghadapi berbagai macam tantangan baik eksternal maupun internal mundurnya 4. Public affairs Bagian ini bertugas untuk mengurusi hubungan perusahaan dengan pemerintah, menangani apakah perusahaan sudah sesuai dengan kebijakan pemerintah 5. SCM Bagian ini memiliki uga dan wewenang untuk merencanakan produksi serta persediaan untuk melakukan distribusi ke cabangcabang PT. Djarum. 6. QMS Bagian ini tugas dan wewenangnya adalah untuk memeriksa qualitas barang yang diterima dari supplier apakah sesuai dengan spesifikasi untuk kemudian dimasukkan unrestricted stock ataupun blocked stock. 7. Coporate communication sebagai kategori : yang dappat menntukan maju

10

Bagiaan

ini

memiliki

tugas

dan

wewenang berkaitan

di

dala dengan

mengkoordinasikan

aktivitas-aktivitas

komunikasi baik yang berhubungan dengan media atau dengan publik. 8. Busines development Bagian ini memiliki wewenagn di dalam merencanakan

perkembangan PT Djarum di dalam menghadappi bebagai tntangan yang berasal dari dalam maupuun daari luar PT. Djarum. 9. Business technology Bagian ini berwenang didalam menyiapkan arsitektur,

customizing, serta hal yang berkaitan dengan perencanaan kesiapan di dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat serta kebutuhan kebutuhan customizing di dalam menghasilkan aplikasi yang efekif, efisien dan user friendly. 10. Production Bagian ini memililki wewenang di dalam merencanakan produksi baik poduk setengah jadi maupun produk berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi pemintaan baik dari pihak eksternal konsumen / end user ) maupun dari pemintaan internal (cabangcabang). 11. Finance Bagian ini memiliki wewenang terhadap penerimaan dan pengeluaran kas sehingga dengan adanya divisi ini keuangan di

11

PT. Djarum dapat terkelola secara optimal serta pencatatan daat tersimpan dengan baik. 12. Marketing Bagian ini memiliki wewenang untuk mengidentifikasi kebutuhan pangsa psaar sehingga PT. Djarum dapat memberikankepuasan terhadap pelanggan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan PT. Djarum 13. Purchasing Bagian ini memiliki wewenang untuk melakukan pembelian semua material dan barang yang dibutuhkan oleh persaahaan.. di dalam bagian purchasing dibagi lagi menjadi : a. Warehousing Bagian ini memiliki tugas dan wewenang terhadap dikirimkan oleh pihak

penerimaan barang yang telah

supplier di dalam proses penyimpannya serta menentukan apakah barang tersebut dikategorikan sebagai barang unrestricted used atau block stocked b. Purchaser Bagian ini memiliki tugas daan wewenang di dalam memenuhi kebutuhan bahan baku yang berkualitas tinggi . selain itu juga mengatur , merencanakan , serta menentukan pembelian yang memang sesuai dengan kebutuhan / keperluan PT. Djarum.

12

c.

Admnistration Bagian yang membuat laporan data pembelian dan menganalisis data pembelian. 1. Posisi analis sistem : Posisi analis sistem berada pada jabatan business development.

2.5.Proses Pembuatan Rokok Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan rokok ada 4 jenis yakni tembakau (tembakau krosok dan tembakau rajang petani), cengkeh, saus rokok (casing dan flavour), dan bahan pembungkus serta bahan filter sigaret kretek mesin (SKM). Proses pembuatan rokok terdiri menjadi dua yaitu primary proses dan secondary proses. Kemudian untuk tahap pelintingan serta pengemasan terbagi menjadi dua yaitu sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM). Proses produksi yang berjalan di sigaret kretek mesin (SKM) Oasis memang belum berjalan seluruhnya, masih sekitar 60% dari keseluruhan proses produksi.

13

Bahan baku yang digunakan dalam produksi rokok di PT. Djarum Kudus antara lain cengkeh, tembakau, saus rokok, dan bahan bungkus serta bahan filter sigaret kretek mesin (SKM).

2.5.1.

Proses Pengolahan Tembakau

2.5.2. Proses Pengolahan Cengkeh

2.5.3. Proses Pembuatan Rokok a) Primary Proses Proses primer pembuatan rokok dibedakan menjadi dua tahapan lagi yakni :

14

a.1) Pre processing Dalam tahapan ini dilakukan pemisahan helai daun dengan tangkai pada tembakau krosok.

a.2) Proses Utama Dalam proses utama ini dilakukan pengolahan tembakau dan cengkeh yang telah diolah sebelumnya, dicampurkan menjadi satu, ditambahkan saus serta berbagai komponen lain sampai menjadi bahan baku yang siap dilinting. a.2) Proses utama

15

b) Secondary Proses Pada tahapan ini terjadi proses finishing pada tahap pembuatan rokok. 2.6. Pemasaran Pemasaran produk PT Djarum saat ini tidak hanya di dalam negeri namun juga hingga ke luar negeri. Untuk pemasaran di dalam negeri, PT Djarum memiliki distributor yang tersebar di wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian tengah. Sedangkan untuk pemasaran ke luar negeri, PT Djarum telah merambah ke India, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. PT Djarum juga telah memiliki perusahaan di Brazil. Sebagian para pekerjanya tetap orang Indonesia yang ditugaskan di Brazil. Untuk meningkatkan pelayanan, PT Djarum telah memiliki cabang di seluruh Indonesia. Sebagian besar cabang kantor pemasarannya berada di Pulau Jawa.

2.7. Kegiatan Non Ekonomi PT. Djarum tidak hanya melakukan kegiatan ekonomi namun juga kegiatan non ekonomi. Kegiatan non ekonomi ini dikenal sebagai Djarum Foundation. Djarum Foundation merupakan bentuk bakti Djarum kepada negeri yang mengusung misi memajukan Indonesia menjadi negara digdaya

16

yang seutuhnya di bidang sosial, olahraga, lingkungan, pendidikan dan budaya. 1. Djarum Sumbangsih Sosial Berperan serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bakti sosial sudah dilakukan Djarum semenjak berdirinya PT. Djarum tahun 1951. Kegiatan bakti sosial Djarum diwujudkan dalam bentuk donor darah, pembangunan 100 unit PAH (Penampungan Air Hujan) di Klaten dan Megelang. Bantuan sandang-pangan untuk korban bencana alam dan pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu Djarum juga memberikan pengobatan gratis pada penderita katarak. 2. Djarum Beasiswa Bulutangkis Membantu persatuan Indonesia dan meningkatkan martabat bangsa melalui kejayaan Bulutangkis.Dan sejak tahun 1969, Djarum memberikan beasiswa bulutangkis untuk para atlet yang berprestasi dan Djarum juga telah membangun GOR Jati-Kudus. 3. Djarum Trees For Life Djarum bakti lingkungan terbentuk sejak tahun 1979. Djarum

memulai usaha pelestarian lingkungan dengan menanam pohon. Program ini diwujudkan dengan penanaman pohon trembesi sebanyak 478 km disepanjang jalur pantura, Jawa Tengah. Program ini dilaksanakan sejak tahun 2010 hingga tahun 2014. Pohon trembesi yang ditanam di sepanjang jalan Losari Jawa Tengah Bulu Jawa Timur, akan mampu menyerap 685 juta kg gas CO2 setiap tahunnya.

17

Polusi gas CO2 akan berkurang. Sepanjang jalur Kudus Semarang ditanam pohon sebanyak 2.767 pohon trembesi. Djarum

memperluas daerah penanaman pohon termbesi dari wilayah Semarang hingga ke Losari pada tahun 2011. 4. Djarum Beasiswa Plus Bentuk bakti Djarum terhadap pendidikan adalah dengan pemberian beasiswa Djarum. Djarum juga mengadakan pelatihan soft skill guna meningkatkan dan membangun karakter bangsa kaum muda-mudi. Lebih dari 7.000 mahasiswa di 74 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta telah mendapatkan bantuan beasiswa Djarum. 5. Djarum Apresiasi Budaya Djarum mewujudkan bakti budaya dengan menggandeng perkumpulan rumah Pesona Kain Batik Kudus. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk kegiatan terhadap apresiasi kerajinan asli Indonesia. Program Indonesia Exploride yang diadakan Djarum bertujuan untuk lebih mengenal dan mencintai sejarah, budaya dan kekayaan panorama Indonesia. Djarum juga turut serta dalam memajukan musikal drama dan seni sastra Indonesia.

2.8. Tanin Tanin merupakan salah satu senyawa polifenol dengan berat molekul lbeih dari 1000 yang dapat diperoleh dari semua jenis tumbuhan. Tanin memiliki sifat yang khas baik fisik maupun kimianya. Tanin biasanya dalam

18

tumbuhan bervungsi sebagai sistem pertahanan dari predaptor, contohnya pada buah yang belum matang, buaha akan terasa asam dan sepat, hal ini sama dengan sifat tanin yang asam dan sepat. Selain itu tanin juga dapat mengendapkan protein, alkaloid, dan glatin. Tanin juga dapat membentuk khelat dengan logam secara stabil, sehingga jika manusia kebanyakan mengkonsumsi makan yang memiliki tanin maka Fe pada darah akan berkurang sehingga menyebabkan anemia. Tanin diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Masing-masing jenis memiliki struktur dan sifat yang berbeda. Untuk tanin yang tehidrolisis memiliki ikatan glikosida yang dapat dihidrolisis oleh asam. Kalau tanin terkondensasi biasanya bebrbentuk polimer, jenis ini didominasi dengan flavonoid sebagai monomernya.

Beberapa cara mengujinya bergantung pada tujuannya apakah kualitatif atau kuantitatif, masing-masing dapat dilakukan dilab dengan reagen dan metode tertentu. Tanin jenis terhidrolisis lebih mudah untuk di murnikan daripada jenis terkondensasi (Sulistiono, 2008).

2.9.Arang Aktif atau Karbon Aktif Karbon aktif adalah senyawa karbon yang telah diproses dengan cara diaktivasi sehingga senyawa karbon tersebut berpori dan memiliki luas permukaan yang sangat besar dengan tujuan untuk meningkatkan daya adsorpsinya (Arfan, 2006). Karbon aktif merupakan material unik

19

karena material ini memiliki celah/pori/rongga dengan ukuran skala molekul (nanometer). Pori tersebut mempunyai gaya Van Der Walls yang kuat. Karbon aktif digunakan sebagai adsorben dengan segala kegunaan. Karbon aktif merupakan jenis adsorben yang paling banyak digunakan, baik itu dari segi aplikasi maupun volume penggunaannya dan ditambah lagi dengan penggunaan karbon aktif yang telah digunakan sejak 1600 SM oleh bangsa Mesir untuk tujuan pengobatan. Pada abad ke-13, bangsa Jepang telah menggunakan karbon aktif untuk pemurnian sumur mereka (Suzuki, 1990). Karbon aktif bersifat hidrofobik, yaitu molekul pada karbon aktif cenderung tidak bias berinteraksi dengan molekul air. Luas permukaan adalah salah satu sifat fisik dari karbon aktif. Karbon aktif memiliki luas permukaan yang sangat besar 1,95 m2/kg dengan total volume poriporinya 10,28 x 10-4 m3/kg dan diameter pori rata-rata 21,6 , sehingga sangat memungkinkan untuk dapat menyerap adsorbat dalam jumlah yang banyak (Martin, 2008).

2.10.

Zeolit Telah bertahun-tahun zeolit digunakan sebagai penukar kation

(cation exchangers), pelunak air (water softening), penyaring molekul (molecular sieves) serta sebagai bahan pengering (drying agents). Selain

20

itu zeolit juga telah digunakan sebagai katalis atau pengemban katalis pada berbagai reaksi kimia. Zeolit merupakan mineral alumina silikat terhidrat yang tersusun atas tetrahedral-tetrahedral alumina (AlO45-) dan silika (SiO44-) yang membentuk struktur bermuatan negatif dan berongga terbuka/berpori. Muatan negatif pada kerangka zeolit dinetralkan oleh kation yang terikat lemah. Selain kation, rongga zeolit juga terisi oleh molekul air yang berkoordinasi dengan kation. Zeolit yang terdehidrasi akan mempunyai struktur pori terbuka dengan internal surface area besar sehingga kemampuan mengadsorb molekul selain air semakin tinggi. Ukuran cincin dari jendela yang menuju rongga menentukan ukuran molekul yang dapat teradsorb. Sifat ini yang menjadikan zeolit mempunyai kemampuan penyaringan yang sangat spesifik yang dapat digunakan untuk pemurnian dan pemisahan. Chabazite (CHA) merupakan zeolit pertama yang diketahui dapat mengadsorb dan menahan molekul kecil seperti asam formiat dan metanol tetapi tidak dapat menyerap benzena dan molekul yang lebih besar. Chabazite telah digunakan secara komersial untuk mengadsorb gas polutan SO2 yang merupakan emisi dari cerobong asap. Hal yang sama terdapat pada zeolitA dimana diameter jendela berukuran 410 pm yang sangat kecil dibandingkan diameter rongga dalam yang mencapai 1140 pm sehingga molekul metana dapat masuk rongga dan molekul benzena yang lebih besar tertahan diluar.

21

Selain itu zeolit juga dapat digunakan sebagai adsorben zat warna brom dan untuk pemucatan minyak sawit mentah. Zeolit yang digunakan sebagai penyaring molekular tidak menunjukkan perubahan cukup besar pada struktur kerangka dasar pada dehidrasi walaupun kation berpindah menuju posisi dengan koordinasi lebih rendah. Setelah dehidrasi, zeolit-A dan zeolit lainnya sangat stabil terhadap pemanasan dan tidak terdekomposisi dibawah 7000C. Volume rongga pada zeolit-A terdehidrasi adalah sekitar 50% dari volume zeolit.

22

BAB III METODE 3.1. Waktu Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan di WTCP OASIS PT. Djarum

Kudus, yang berlokasi di Djarum OASIS Kretek Factory - Gondangmanis Kudus. Pelaksanaan kegiatan PKL pada tanggal 3 Februari 1 Maret 2014

3.2. Metode Pengumpulan Data Penyusunan laporan PKL ini menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data yaitu : 1. Metode Wawancara Melakukan Tanya jawab dengan pembimbing lapangan dan para pekerja menegenai proses pengolahan air kotor di IPAL Djarum Oasis. 2. Metode Observasi Metode observasi merupakan suatu metode melalui pengamatan langsung pada proses analisis terhadap parameter kimia guna mengontrol kualitas air dan system operasi pengolahan air kotor. Dan pengamatan lagsung pada penambahan arang aktif dan zeolit pada outlet clarifier. 3. Metode Pustaka Metode pustaka yaitu menggunakan sumber sumber pustaka seperti buku, jurnal, dan sumber bacaan lain untuk menunjang pembuatan laporan.

23

3.3. Alat dan Bahan 3.3.1. Alat : - pH meter - Kertas saring - Oven - Corong - Botol bekas - Gelas ukur - Gelas beker - Spektrofotometer - Erlenmeyer 3.3.2. Bahan : - Arang aktif - Zeolit - Sampel (out clarifier) 3.3.3. Cara Kerja 1. Arang aktif dan zeolit dicuci dengan air demineralisasi, berulang-ulang sampai air cuciannya jernih, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 150 C selama sehari. 2. Arang aktif dan zeolit digunakan sebagai adsorben dengan berbagai perbandingan konsentrasi.

24

Gambar 1. Aplikasi arang aktif dan zeolit sebagai adsorben

25

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Pengolahan Limbah Cair 4.1.1. Proses Pengolahan Air Limbah Sumber dan Jenis Waste Water yang Dihasilkan dari Proses Produksi Kegiatan industri di PT. Djarum Kudus menghasilkan waste water dari 3 sumber antara lain : a) Waste Water dari clove Waste water dari clove merupakan air sisa proses steam cengkeh. b) Waste Water dari casing Waste water dari casing merupakan air pencucian conditioning drum, dimana conditioning drum merupakan tempat blending atau tempat pencampuran antara tembakau, cengkeh, dan bahan lain guna meratakan rasa. c) Waste Water dari domestic Waste water dari domestik berasal dari air kamar mandi, air cuci tangan, air dapur, dan segala jenis sisa air yang digunakan oleh karyawan diluar proses produksi. Berdasarkan sumbernya ada 2 : Aktivitas Produksi

1. Clove Air sisa steam cengkeh 2. Casing Air cucian conditioning drum Aktivitas karyawan (Domestik)

26

Pengolahan air di PT. Djarum dilakukan dengan system Biologi Aerob yaitu dengan memanfaatkan peran mikroorganisme untuk mendegradasi bahan organic yang ada didalam air, disamping itu juga dilakukan lumpur balik dari bak sedimentasi ke Oxidation ditch Lumpur balik ini juga masih termasuk pengolahan biologi. Air sisa produksi yang masuk ke WTCP berasal dari proses steam cengkeh, pencucian proses produksi dan sanitasi. Air yang berasal dari proses steam cengkeh disebut dengan air casing dan air yang berasal dari sanitasi disebut dengan air domestic. Tahapan proses pengolahan tersebut memiliki suatu unit yang terdiri dari : 1. Bak control Merupakan bak yang berfungsi sebagai bak penampung sementara sebelum masuk ke bak equalisasi. Ada 3 jenis bak limbah yang dibedakan berdasarkan limbah tersebut, antara lain : a. Bak Collecting Clove Berfungsi sebagai penampung limbah clove. Pada bak ini terdapat screeningysng berfungsi untuk menyaring material-material kasar yang ikut terbawa air limbah clove. Setelah cengkeh tersaring di bak colleting clove, air limbah dialirkan menuju buffer tank secara grafitasi. b. Bak Colleting Casing Berfungsi sebagai penampung limbah casing. Limbah casing merupakan limbah pencucian dari peralatan-peralatan yang digunakan pada proses produksi rokok. Pada bak ini terdapat bak yang berfungsi sebagai penapung limbah casing jika terjadi over flow. Limbah casing selanjutnya dialirkan secara grafitasi ke buffer tank untuk diekualisasi

27

dengan limbah clove, karena limbah casing memiliki pH asam dan COD tinggi. Yang kamu tulis ini adalah kondisi di krapyak. Tidak ada bak collecting clove n casing di OASIS. Keduanya tertampung di buffer. Yang ada hanyalah bak control screen untuk penyaringan awal. c. Bak Colleting Domestic Berfungsi untuk menampung limbah domestic dari seluruh pabrik, kemudian dialirkan ke Oxidation ditch dengan menggunakan pompa yang diatur secara otomatis dan dilengkapi dengan perhitungan debit, karena limbah domestic memiliki karakteristik pH netral dan COD rendah, sehingga apabila langsung dialirkan ke oxidation ditch tidak akan mengganggu aktifitas lumpur aktif. 2. Buffer tank Berfungsi menampung limbah clove dan limbah casing untuk kemudian dialirkan ke bak turbo coagulator dengan menggukanan pompa yang diatur secara otomatis. 3. Bak Turbo Coagulator Air yang berasal dari tank bersifat asam sehingga dilakukan netralisasi pH sebelum limbah masuk ke bak turbo coagulator limbah akan dilakukan penambahan kapur. Penambahan kapur dilakukan dengan dossing pump yang telah ditentukan debitnya. Di bak turbo coagulator limbah yang sudah ditambahkan kapur akan mengalami pembentukan flok. Di bak turbo coagulator juga dilengkapi dengan screper yang berfungsi untuk memusatkan lumpur yang mengendap agar lebih gampang disedot oleh pompa untuk dialirkan ke thickener dan peadel yang berfungsi untuk meratakan kapur.

28

Sementara over flow yang terjadi di turbo coagulator akan dialirkan ke oxidation ditch untuk dilakukan proses selanjutnya. Setelah mengalir di bak oxidation ditch dilakukan penberian nutrisi berupa urea dan phospat, pemberian nutrisi ini dialirkan melalui dosing pump yang sudah diatur debitnya. Fungsi utama turbo koagulator bukan netralisir pH tapi meminimalisir TSS (material asing) untuk menghindari terbentuknya MLSS palsu.

4. Bak Oxidation Ditch Limbah yang berada di bak oxidation ditch berasal dari bak turbo coagulator dan bak collecting domestic. Di WTCP terdapat 2 bak Oxidation ditch, yaitu oxidation ditch 1 dan oxidation ditch 2, meiliki proses kerja yang sama. Pada proses ini air limbah yang mengandung bahan-bahan organic akan didegradasi oleh bakteri aerobic. Pemberian oksigen yang cukup sangat menentukan keberhasilan reaksi oksidasi bahan-bahan organic oleh bakteri yang selanjutnya akan diubah menjadi lumpur sedangkan oksigen yang terlarut dalam reactor oxidation ditch minimum 2 ppm. Penambahan urea dan phospat juga dilakukan untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroba. Waktu yang dibutuhkan untuk proses ini berkisar antara 24-28 jam dan kandungan lumpur harus dipertahankan antara 3000-4000 ppm. Untuk menghasilkan oksigen kedalam air diperlukan proses aerasi yang menggunakan mammout rotor dengan daya 22 KW. Terdapat 4 mammout rotor yang ada di bak oxidation ditch, jadi masing-masing bak terdapat 2 mammout rotor. 5. Bak Sedimentasi

29

Adalah bak digunakan untuk mengendapkan lumpur yang dihasilkan selama proses. Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan dan air.

Sedimentasi digunakan untuk menghilangkan padatan tersuspensi pada air limbah dengan menggunakan gaya grafitasi. Ada scrapper juga ya 6. Clarifer (Bak Penjernihan) Pada proses ini hampir sama dengan sedimentasi, pada tahap ini terjadi proses pengendapan lanjutan untuk lumpur yang memiliki ukuran partikel. Pada bak ini terdapat scraper untuk mencegah agar lumpur tidak menempel pad dinding bak sedimentasi. Lumpur yang mengendap pada bak ini kemudian dipompa menuju thickener. Air dari penjernihan dialirkan kedalam kolam indicator yanag berfungsi sebagai control terhadap kandungan air hasil pengolahan limbah. Fungsi scrapper adalah untuk memusatkan lumpur ke tengah yang nantinya akan dihisap oleh pompa

7. Indicatorpond (kolam ikan) Untuk memastikan air yang diolah bersih aman terhadap lingkungan , di fishpond terdapat ikan nila merah. 8. Outlet Dari kolam ikan air akan disalurkan ke fishpond 2 lalu akan di alirkan kesungai. 9. Thickener Merupakan tempat yang berfungsi untuk mengumpulkan lumpur dari bak turbo coagulator, sedimentasi dan penjernihan. Lumpur yang telah kental dipompa menuju filter press untuk dijadikan pupuk (lumpur yang terdapat di

30

WTCP saat ini masih belum dijadikan pupuk , Karen alumpur belum maksimal untuk pembuatan kompos, lumpur yang dibuat adalah kiriman dari kerapyak pabrik PT. Djarum yang lain). 10. Emergency tank Berfungsi untuk menampung air limbah apabila terjadi perbaikan atau terdapat pompa yang tidak berfungsi (mati). 4.1.2. Proses Pengolahan Kompos Kompos merupakan dekomposisi parsial yang dipercepat secara artifisial dari campuran bahan organik dan mikroba dalam kondisi lingkungan tertentu. Kompos memiliki keunggulan atau keuntungan dari aspek ekonomi dan lingkungan. Berdasarkan aspek ekonomi kompos menghemat biaya untuk transpor dan penimbunan limbah. Kompos juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari bahan asalnya. Berdasarkan aspek lingkungan, pengomposan limbah mampu mengurangi volume sampah, mengurangi polusi akibat pembakaran sampah dan mengurangi penggunaan lahan untuk tempat penimbunan sampah. Kendala dalam

pengomposan adalah waktu yang lama, untuk itu pengembangan dekomposer mulai dilaksanakan. Dekomposer dapat menggunakan bakteri atau jamur yang dapat

mendegradasi lignin dan selulosa secara cepat (Goenadi et al. 2006). Proses pengomposan berjalan pada suhu optimum yaitu 35 oC 55oC. Bakteri yang hidup pada suhu 35 oC 55oC adalah jenis bakteri mesofilik. Bakteri ini tidak dapat mengubah bahan organik menjadi kompos pada suhu lebih tinggi maupun lebih rendah. Temperatur kematangan kompos berkisar antara 26 oC

31

27oC. Proses pengomposan berlangsung antara 1 2 bulan, dapat lebih cepat atau lama bergantung pada dekomposer dan bahan yang dikomposkan. Kondisi pH netral pada saat pengomposan adalah 6 7 (Widhiastuti et al. 2006). Djarum menghasilkan limbah berupa lumpur padat (sludge), tikar dari daun siwalan. Limbah tersebut merupakan limbah pembungkus tembakau. Limbah yang diolah menjadi kompos adalah tikar dan sludge. Komponen utama lumpur adalah bahan padat organik yang dapat berfungsi sebagai penyubur tanah. Djarum meghasilkan menghasilkan limbah lumpur dll? Berarti WTCP bukan bagian dari Djarum donk? Diperbaiki lebih spesifik. Lumpur dihasilkan dari aktivitas mikroba aerob, tikar dihasilkan dari pembungkus tembakau dari petani. Namun aplikasi kompos untuk tanah secara luas masih memiliki kendala perijinan. Hal ini karena dampak jangka panjang dari penggunaan kompos masih kurang diketahui, sehingga keamanan penggunaannya belum dapat dijamin baik bagi manusia. Proses pengolahan limbah menjadi kompos melalui 7 tahapan, yaitu: 1. Crushing (pengecilan ukuran sampah) 2. Perendaman 3. Fermentasi 4. Mixing dan penumpukan 5. Pembalikan dan penyiraman 6. Penyaringan 7. Pengemasan

32

1. Crushing (Pengecilan atau Pemotongan Ukuran Sampah) Proses pengomposan merupakan proses biodegradasi bahan organik menjadi suatu produk yang stabil. Limbah tikar siwalan yang masih berukuran panjang dan berbentuk tikar akan dimasukan ke dalam mesin crusher. Mesin crusher ini berfungsi agar ukuran tikar menjadi lebih kecil. Jika luas permukaan lebih kecil maka akan mudah terbiodegradasi. Mempercepat jangka waktu

proses fermentasi dan proses pematangan kompos (Soetopo et al. 2009). 2. Perendaman Tikar yang sudah di cacah akan direndam selama 3 jam. Tujuan dari perendaman adalah untuk melunakan struktur tikar agar mudah hancur. Tikar akan banyak menyerap air sehingga struktur berubah menjadi lunak. Tikar yang lunak akan mudah hancur dan remah pada saat fermentasi. Tikar akan

menyimpan air yang berguna dalam proses pengomposan. Proses pengomposan membutuhkan kadar air tinggi, yaitu 40% 60% . Tikar yang sudah direndam kemudian ditiriskan dan akan dicampur dengan sludge. Suhu pengomposan pada minggu ke empat akan berkisar 550C 650C. Air pada sludge dan tikar siwalan akan menguap (Budihardjo 2006).

1. Fermentasi Fermentasi berfungsi untuk mengubah struktur tikar menjadi remah dan mudah dihancurkan. Dalam fermentasi tikar ini digunakan jamur Trichoderma sp. dalam bentuk promi. Perbandingannya antara tikar dan promi adalah 500 kg : kg. Tikar difermentasi selama 2 minggu, setiap 6 hari dilakukan pembalikan untuk meratakan proses fermentasi. Fermentasi bertujuan untuk mempercepat

33

proses pengomposan. Trichoderma sp berfungsi sebagai inokulan atau activator (Budiharjdo 2006).

2. Mixing dan penumpukan Tikar yang telah remah oleh jmaur kemudian akan dicampur dengan sludge. Pencampuran ini dilakukan menggunakan mesin mix, perbandingan

antara tikar dengan sludge adalah 270 kg : 2400 kg. Tikar yang sudah di campur dengan sludge kemudian dibawa dengan gerobak ke lapangan untuk ditumpuk. Setelah ditumpuk menjadi beberapa gundukan kemudian ditutup menggunakan terpal. Penumpukan dapat dilakukan dengan panjang 2 4 m dan lebar 1,75 2 m. Tumpukan kompos diberikan lubang aerasi agar suhu kompos tidak terlalu tinggi sehingga menyebabkan kegagalan. 3. Pembalikan dan Penyiraman Proses pengomposan berlangsung selama 4 5 minggu. Pembalikan

dilakukan tiap 1 minggu sekali untuk mencegah kenaikan suhu yang terlalu tinggi. Suhu optimal untuk terjadi pengomposan adalah 30oC 50oC dengan kelembaban 60% 70%. Untuk menjaga kelembaban, setiap harinya dilakukan pengecekan apakah perlu dilakukan penyiraman atau tidak. Jika kadar kelembaban dibawah 60% 70% akan dilakukan penyiraman. Suhu pengomposan pada umumnya meningkat pada minggu pertama. Fluktuasi suhu meningkat hingga minggu ke empat. Suhu kompos bergantung pada volume kompos. Makin sedikit volume, panas yang terakumulasi makin rendah. Kelembaban harus berada pada 40% atau diatas 40%. Jika kadar air

34

kurang dari 40% maka aktivitas mikroba akan menurun. Proses pengomposan akan berlangsung lebih lama atau gagal (Widhiastuti, 2009). 4. Penyaringan Kompos Matang Kompos matang akan memiliki bau, warna danstruktur yang berbeda dari sebelumnya. Setelah 4 atau 5 minggu, limbah yang telah menjadi kompos akan berubah strukturnya menjadi lebih lembut dan remah (seperti tanah). Untuk

mendapatkan hasil yang baik maka perlu dilakukan penyaringan. Bahan yang gagal menjadi kompos akan menggumpal sehingga tidak lolos penyaringan. Kompos yang remah dan lembut akan lolos penyaringan. Warna kompos lebih gelap, tidak berbau karena bahan organik telah didekomposisi oleh mikroba. Suhu kompos pada saat matang akan berada pada 270C 300C dan kelembaban 40% 60%. Dekomposisi pada bahan organik kompos menyebabkan menurunnya material organik di dalam kompos. Kompos matang memiliki pH berkisar antara 6 7. Kenaikan pH disebabkan adanya penguraian nitrogen dan hidrogen atau volatilisasi ion H+ (Goenadi et al. 2006). 5. Pengemasan Kompos yang sudah melalui analisis pH, kelembaban dan C/N rasio, unsur hara makro dan kandungan logam berat akan dikemas dan dibagikan kepada petani tembakau dan untuk bakti lingkungan. Pengomposan limbah padat bergantung pada beberapa hal, seperti kandungan air dan udara, ukuran partikel limbah, mikroba atau dekomposer pengurai, temperatur, pH dan aerasi. Semakin mencukupi jumlah air, udara dan mikroba maka proses pengolahan limbah makin cepat. Partikel limbah dan luas permukaan mempengaruhi cepat atau lambatnya suatu proses pengomposan.

35

Partikel yang lebih halus dengan luas permukaan lebih sempit akan mempercepat proses penguraian. Proses pengomposan limbah padat dapat

ditambah pupuk atau tidak. Penambahan pupuk dapat menambah kandungan nutrisi kompos dan memperbaiki kualitas kompos (Soetopo et al. 2009). Terdapat dua jenis mikroba yang terdapat dalam proses pengomposan, yaitu mikroba mesofilik dan termofilik. Mikroba mesofilik adalah mikroba yang hidup pada suhu hangat, sekitar 400C 450C. Mikroba termofilik adalah mikroba yang tahan hidup pada suhu tinggi, yakni sekitar 600C 700C. Kedua bakteri ini sama-sama berperan dalam menguraikan limbah padat. Zat sisa seperti CO2 dan H2O dapat mempengaruhi kuailtas kompos yang dihaslkan, sehingga perubahan temperatur, kelembaban dan pH, perlu diperhatikan. PT. Djarum melakukan analisis kompos unsure hara makro, hara mikro, kandungan bakteri dan C/N rasio kompos. Standar kompos Djarum sudah

memenuhi standar baku mutu kompos SNI. Kompos yang tidak memenuhi baku mutu maka tidak diizinkan dalam penggunaanya. Indonesia belum memiliki standard batas maksimum untuk logam berat pada kompos. Panduan batas logam pada kompos saat ini menggunakan peraturan SNI-19-7030-2004 (Budihardjo 2006).

4.2. Daily operational Pengawasan yang dilakukan oleh Djarum Oasis dilakukan dengan pengawasan visual yaitu dengan membandingkan keadaan fisik air limbah saat pengamatan dengan keadaan normal sebelumnya. Jika secara visual terdapat

36

perubahan maka langsung dilakukan pengambilan cuplikan sampel untuk pemeriksaan laboratorium. Monitoring dilakukan setiap hari yaitu dengan pengukuran pengukuran sampel lalu dianalisa di laboratorium. Jika dari hasil analisa terjadi perubahan melebihi standart yang ada dalam baku mutu, maka petugas monitoring langsung memberikan himbauan pada industri yang bersangkutan dan dilakukan pelacakan di lapangan untuk mengetahui penyebabnya. Selain monitoring setiap hari dilakukan oleh operator air kotor WTCP. Monitoring di air limbah ini juga dilakukan oleh sucofindo yaitu suatu lembaga negara yang bertugas ikut memonitoring air kotor yang dihasilkan oleh produksi dari suatu perusahaan. Sicofindo rutin sebulan sekali memonitoring air kotor yang ada. Sucofindo adalah suatu badan laboratorium yang ditunjuk oleh poemerintah untuk mengawasi air kotor yang berada di - industri tertentu. Untuk kegiatan daily operasional sampel yang digunakan diambil dari beberapa lokasi, yaitu: a. Outlet bak collecting domestik Merupakan titik pengambilan sampel air limbah domestik yang terdapat pada aliran overflow domestik menuju ke oxidation ditch yang merupakan tempat masuknya air kotor domestik yang berasal dari tiap-tiap unit. b. In turbo dan out turbo Pengambilan sampel in turbo merupakan titik tempat pengambilan sampel air kotor yang berasal dari inlet bak turbo yang berasal dari air kotor proses produksi. c. Overflow oxidation ditch

37

Merupakan titik trmpat pemprosesan secara biologi, pengambilan sampel pada overflow yang keluar dari oxidation ditch ke sedimentasi d. Overflow sedimentation Merupakan titik tempat pengambilan sampel pada overflow dari bak sedimentasi yang akan masuk ke bak penjernihan. e. Overflow penjernihan Merupakan titik tempat pengambilan sampel yang telah mengalami pengolahan dengan sistem fisika dan biologi yang dialirkan ke indikator kolam ikan. f. Outlet kolam ikan Merupakan titik tempat pengambilan sampel yang telah mengalami semua proses tahapan. g. Outlet Merupakan titik tempat pengambilan sampel yang akan mengalir ke sungai Untuk pemeriksaan di laboratorium ada 3 jenis pemeriksaan, yaitu: 1. Harian 2. Mingguan (menggunakan sampel air kotor komposit) 3. Bulanan

38

Pengukuran parameter Pengukuran parameter dilakukan dengan alat yang canggih. Dengan demikian pengukuran parameter harian dan lainnya operator dapat lebih mudah untuk mengukurnya. 1. Pengukuran pH 2. Pengukuran DO 3. Pengukuran SS 4. Pengukuran SV 5. Pengukuran COD 6. Pengukuran MLSS

4.3.Hasil Percobaan Tabel 1. Pengaruh konsentrasi arang dan zeolit pada pH, kekeruhan, dan TSS dalam out clarifier

Komposisi arang/zeolit Awal 60/40 80/50 100/60 120/70

pH

Kekeruhan

SS

7,53 7,64 8,26 8,29 8,36

0 0 + + +

11 13 15 48 67

39

Pengaruh komposisi arang aktif dan zeolit pada pH


8.6 8.4 8.2 8 8.26 8.29 8.36

pH

7.8 7.6 7.4 7.2 7 awal 60/40 80/50 100/60 120/70 7.53 7.64

komposisi arang dan zeolit (gram/gram)

Gambar 2. Grafik pengaruh konsentrasi arang aktif dan zeolit pada pH

Pengaruh komposisi arang aktif dan zeolit pada TSS


80 70 60 50 40 30 20 10 0 awal 67 48

TSS (mg/L)

11

13 60/40

15 80/50 100/60 120/70

komposisi arang dan zeolit (gram/gram)

Gambar 3. Grafik pengaruh konsentrasi arang aktif dan zeolit pada TSS

40

4.4.Pembahasan Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan arang aktif dan zeolit sebagai adsorben pada outlet clarifier PT Djarum Oasis secara deskriptif untuk mengetahui pengaruh arang dan zeolit terhadap nilai pH, kekeruhan, dan TSS dengan berbagai konsentrasi arang aktif dan zeolit yang berbeda-beda.

4.4.1. Pengaruh Penambahan Arang Aktif dan Zeolit dengan Berbagai Konsentrasi Terhadap pH Pada grafik 1 hasil yang diperoleh adalah semakin tinggi konsentrasi arang aktif dan zeolit yang ditambahkan maka semakin bertambah pula pHnya. Hal ini disebabkan sifat adsorbennya yang diduga masih basa karena hanya dilakukan perlakuan pencucian dan pengeringan dengan oven selama sehari. Namun penambahan pH yang terjadi juga tidak terlalu signifikan dan masih dalam ambang batas operasional harian di WTCP Djarum Oasis yaitu pH 6,0-9,0. Hal ini dikarenakan penggunaan zeolit yang bersifat asam sehingga dapat mencegah pH terlalu naik signifikan. Karena konsentrasi arang yang digunakan lebih besar daripada zeolit jadi hal ini yang mungkin menyebabkan kenaikan pH tak dapat dihindarkan.

4.4.2. Pengaruh Penambahan Arang Aktif dan Zeolit dengan Berbagai Konsentrasi Terhadap nilai TSS Hasil yang diperoleh pada grafik 2 juga menunjukkan semakin tinggi konsentrasi arng aktif dan zeolit yang ditambahkan maka angka TSS juga semakin bertambah. Hal ini juga berlaku pada kekeruhan. Hasil ini karena aplikasi penggunaan arang aktif dan zeolit yang digunakan masih sederhana dan kurang optimal sehingga

41

partikel-partikel arang masih banyak yang ikut larut pada filtrate. Sehingga menambah kekeruhan begitupun angka TSSnya. Dari hasil yang terlihat pada kedua grafik, jelas bahwa penggunaan arang aktif dan zeolit sebagai adsorben untuk tanin pada penelitian ini kurang efektif. Hal ini karena tanin adalah senyawa turunan fenol yang memiliki gugus siklik yang sangat stabil dan sulit dirusak. Selain itu bahan yang digunakan juga masih minimal sehingga hasil yang didapat juga kurang optimal. Karbon aktif tidak menyerap secara optimal pada bahan-bahan tertentu seperti alcohol, glikol, ammonia, logam dan bahan-bahan non-organik seperti lithium, sodium, besi, timah, arsenic, florin dan boric acid. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh penambahan arang aktif pada tanin.

42

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan 1. Pengolahan air kotor yang di WTCP menggunakan pengolahan sistem biologi aerob yakni dengan memanfaatkan peran mikroorganisme untuk

mendegradasi bahan organik yang ada di dalam air. 2. Massa arang aktif mempengaruhi kekeruhan dan nilai TSSnya, semakin besar massa arang aktif, kekeruhan dan TSSnya semakin bertambah. 3. Arang aktif dan zeolit yang digunakan tidak dapat menjadi adsorben yang baik untuk tanin.

5.2. Saran 1. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai arang aktif dan zeolit atau senyawa adsorben lain sebagai adsorben untuk tanin.

43

DAFTAR PUSTAKA Arfan, Yopi. 2006. Pembuatan Karbon Aktif Berbahan Dasar Batubara Dengan Perlakuan Aktivasi Terkontrol Dengan Uji Kinerjanya. Depok : Departemen Teknik Kimia FT-UI. Budihardjo, M. A. 2006. Studi Potensi Pengomposan Sampah Kota sebagai Salah Satu Alternatif Pengelolaan Sampah di TPA dengan menggunakan Aktivator EM4 (Effective Microorganism). Jurnal Presipitasi 1 (1): 25-31. Budiman, Amen dan Onghokham. 1987. Rokok Kretek, Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara. Kudus: PT. Djarum . Goenadi DH . 2006. Pupuk dan Teknologi Pemupukan Berbasis Hayati : dari Cawan Petri ke Lahan Petani. Jakarta : Yayasan John Hi-Tech Idetama. 220 hal. Isroiyati, Yuni. 2004. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Budaya Organisasi Dengan Kepuasan Kerja di PT. Djarum Kudus (Skripsi). Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta (Tidak Diterbitkan). Martin, Awaludin. 2008. Kaji Karakteristik Karbon Aktif Sebagai Adsorben Terhadap Adsorbat Pasangannya. Depok : Departemen Teknik Mesin FT-UI. Sulistiono, Dwi Arif. 2008. Tanin. Mataram : FMIPA Universitas Mataram Suzuki, Motoyuki. 1990. Adsorption Engineering. Tokyo : Kodansa. Wibowo, Tri. 2003.Potret Industri Rokok di Indonesia. Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7, No. 2.

44

Widhiastuti Retno et. al. 2006. Pengaruh Pemanfaatan Limbah Cair Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit Sebagai Pupuk Terhadap Biodiversitas Tanah, Jurnal Ilmiah Pertanian KULTURA Vol. 41 No. 1.

45

46

47

48

4 8