Anda di halaman 1dari 10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Enzim merupakan biokatalisator yang dapat mengkatalisis semua reaksi metabolisme, jika tidak ada enzim atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme akan terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu. Di dalam mikroorganisme reaksi-reaksi enzimatik diperlukan agar bakteri dapat memperoleh makanan /nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel,memperoleh energi kimia yang digunakan untuk biosintesis,perkembangbiakan,pergerakan,dan lainlain(Martoharsono,1998). Selain pada reaksi metabolisme, penggunaan enzim sudah berkembang dalam bidang industry,maka kemajuan bidang teknologi industry memungkinkan dilakukannya berbagai upaya untuk memanfaatkan proses-proses enzimatis. Enzim memiliki sifat potensial untuk dimanfaatkan,antara lain daya katalitiknya yang besar dan spesifitasnya terhadap substrat yang dikatalitisnya (Lehninger,1999). Pada proses dan analisa yang melibatkan enzim umumnya menggunakan cara batch yaitu mereaksikan substrat dengan enzim yang sudah dilarutkan dalam air,sehingga enzim bercampur dengan substrat. Cara ini memiliki kelemahan karena enzim hanya digunakan sekali pakai. Secara teknis sangat sulit memisahkan enzim dan produk dan mendapatkan kembali enzim yang aktif di akhir reaksi. Umumnya setelah reaksi selesai, enzim diinaktifkan dengan pemanasan,peribahan pH,atau cara lain yang dapat menyebabkan enzim terdenaturasi. Melihat kelemahan dalam penggunaan enzim, maka salah satu alternative yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah teknik imobilisasi enzim. Teknik imobilisasi yang paling baik untuk dipilih adalah yang memenuhi kriteria utama yakni tidak terjadi perubahan konformasi enzim dan tidak mengganggu gugus fungsi di pusat aktif enzim sehingga enzim tetap dapat berfungsi. Metode penjebakan enzim lebih banyak digunakan karena enzim ada dalam keadaan bebas dan tidak terikat pada bahan pendukung sehinga secara relatif

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

1/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

fungsi katalitik dan struktur alami molekul enzim tidak mengalami gangguan goncangan (Kierstan & Coughlan 1985, Wirahadikusumah 1988). Imobilisasi enzim dapat dianggap sebagai metode yang merubah enzim dari bentuk larut dalam air bergerak menjadi keadaan tak begerak yang tidak larut. Imobilisasi mencegah difusi enzim ke dalam campuran reaksi dan mempermudah memperoleh kembali enzim tersebut dari aliran produk dengan teknik pemisahan padat/cair yang sederhana. Imobilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengikatan kimiawi molekul enzim pada bahan pendukung, pengikatan silang intermolekuler sesama enzim, atau dengan cara menjebak enzim di dalam gel atau membran polimer (Palmer, 1991).

Enzim terimobilisasi adalah suatu enzim yang dilekatkan pada suatu bahan yang inert dan tidak larut seperti sodium alginate. Dengan sistem ini, enzim dapat lebih tahan terhadap perubahan kondisi seperti pH atau temperatur. Sistem ini juga membantu enzim berada di tempat tertentu selama berlangsungnya reaksi sehingga memudahkan proses pemisahan dan memungkinkan untuk dipakai lagi di reaksi lain. Sistem ini memiliki keunggulan dalam hal efisiensi sehingga di industri banyak digunakan dalam reaksi yang dikatalisis oleh enzim.

BAB II TEKNIK IMOBILISASI ENZIM

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

2/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Dalam bekerja enzim sangat spesifik dan efisien (katalisis yang jauh melebihi katalis biasa dan mampu meningkatkan kecepatan reaksi sampai 108-1012 kali reaksi biasa). Aktivitas enzim dipengaruhi factor-faktor antara lain suhu,tekanan,pH,konsentrasi substrat dan enzim,serta inhibitor. Adanya perkembangan rekayasa enzim dapat mengatasi kekurangan enzim yang biasa dikontrol berdasar beberapa factor tersebut. Cara ini dikenal sebagai imobilisasi enzim. Imobilisasi enzim adalah suatu metode untuk menjaga molekul enzim terlokalisasi pada suatu padatan pendukung (carrier) yang tidak larut tanpa kehilangan aktivitas katalitiknya (Zubriene et all,2003). Proses ini dapat dilakukan dengan cara mengikat molekul enzim tersebut pada suatu bahan pendukung (matriks) tertentu melalui pengikatan kimia atau menahan secara fisik dalam suatu rongga bahan pendukung. Hal ini dimungkinkan karena molekul enzim yang struktur globular mempunyai gugus hidrofilik yang mengarah ke luar dari permukaan molekul enzim. Gugus inilah yang berikatan dengan gugus fungsi bahan pendukung untuk membentuk ikatan kovalen atau non kovalen (Sebayan,2005). Istilah enzim imobil ini pertama kali diajukan pada Konferensi I Rekayasa Enzim pada tahun 1971. Sebelum itu digunakan istilah seperti enzim tidak larut air (water insoluble enzyme),enzim terjerat (trapped enzyme),enzim tetap (fixed enzyme),dan enzim yang didukung oleh matriks (matrix-supported enzyme). Enzim imobil memiliki beberapa kelebihan dibandingkan enzim bebasnya, antara lain enzim dapat digunakan berulang kali serta merupakan cara efektif untuk meningkatkan kestabilan enzim (Varavinit et all,2002). Imobilisasi menghasilkan suatu system heterogen yang memungkinkan pemisahan enzim dari media reaksi menjadi lebih mudah. Metode imobilisasi enzim harus dilakukan dengan baik agar tidak menyebabkan inaktivasi enzim dan mampu meningkatkan sebanyak mungkin enzim pada carrier. Morfologi carrier berperan penting dalam bioproses berkelanjutan menggunakan biokatalis terimobilisasi. Tingkat penurunan aktivitas dan pembatasan diffusional yang diakibatkan oleh imobilisasi terutama bergantung pada sifat-sifat carrier dan kondisi imobilisasi (Milosavic et all,2005). Keuntungan Imobilisasi: 1. Dapat digunakan berulang 2. Penghentian proses cepat (diambil dengan filtrasi, laju alir <<)

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

3/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

3. Kestabilan lebih baik dengan adanya ikatan pada imobilisasi. 4. Hasil tidak terkontaminasi enzim dapat digunakan untuk pangan dan farmasi 5. Dapat digunakan untuk tujuan analisis, misalnya menentukan umur tengah enzim dan perkiraan penurunan aktivitas 6. Dapat digunakan untuk proses kontinyu 7. Pengontrolan lebih baik

Secara garis besar metode imobilisasi enzim dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: 1. Metode carrier binding (ikatan pembawa) yaitu pengikatan enzim pada zat pembawa yang tidak larut air,dengan jalan penjerapan fisik,ikatan ionic,atau ikatan kovalen. 2. Metode cross linking (ikatan silang) yaitu ikatan silang antara molekul enzim dan perekasi dua fungsi atau multi fungsi 3. Metode entrapping (penjeratan) yaitu menempatkan enzim ke dalam kisi-kisi suatu gel/manik semipermeable atau melingkupi enzim dengan sutu membrane polimer semipermeable.

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

4/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai metode imobilisasi enzim: 1. Carrier Binding Pada metode carrier binding,enzim diikatkan pada suatu matriks yang bersifat tidak larut dalam air. Sebagai matriks dapat digunakan bahan organik maupun anorganik. Hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan matriks dan pengikatan enzim pada matriks tersebut. Teknik pengikatan enzim dapat dilakukan berdasarkan adsorpsi fisik,gaya elektrostatik,dan ikatan kovalen. Berikut ilustrasinya:

Jenis jenis carrier binding: a . Adsorbsi fisik Mudah dilakukan dan ekonomis

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

5/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Enzim diadsorbsi pada permukaan carrier Kelebihan: Kondisi lunak aktivitas enzim tetap tinggi Dapat diregenerasi Kelemahan: Kekuatan ikatan lemah yaitu jika pH atau kekuatan dari ion berubah maka akn menyebabkan kebocoran Enzim dirusak oleh enzim proteolitik b. Ikatan ion Terjadi ikatan ionik antara enzim (E) dengan carrier yang tidak larut air dan mengandung residu penukar ion (R). Kelebihan dan kekurangan dari cara ikatan ion ini sama seperti cara adsorbsi. Kelebihan: Kondisi yang lebih ringan daripada yang diperlukan pada metode ikatan kovalen Sedikit perubahan dalam konformasi dan sisi aktif enzim Aktivitas yang cukup tinggi Kekurangan: Kebocoran enzim dari carrier mungkin saja terjadi pada substrat yang memiliki kekuatan ion tinggi atau pada variasi pH

c. Ikatan Kovalen

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

6/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Terjadi ikatan kovalen antara enzim dengan carrier yang tidak larut dalam air. Ikatan yang terbentuk kuat dan tidak bocor. Namun,teknik ini dapat menyebabkan denaturasi enzim akibat adanya modifikasi kimia pada struktur enzim. Gugus fungsional enzim yang berperan yaitu dan -amino, ,,atau -karboksil, sulfohidril, hidroksil, imidazole, dan fenolik. Carrier yang digunakan mengandung gugus reaktif diazonium,asam azida,isosianat,dan halida.

Kelebihan: Ikatan kovalen biasanya dianggap metode yang stabil antara enzim dan carrier, di mana mencegah elusi protein Berbagai pilhan yang mungkin, dengan memilih bahan carrier dan cara pengikatan. Hal ini memungkinkan banyak fleksibilitas dalam merancang enzim imobil dengan sifat fisik dan kimia yang spesifik Kekurangan: Metode kovalen relatif mahal dan rumit dalam prosedurnya. Selain itu, hasil kegiatan mungkin rendah karena paparan dari enzim untuk lingkungan yang keras atau reagen beracun. Situs aktif dapat diubah melalui reaksi kimia yang digunakan untuk membuat iktan kovalen. Aktivitas mungkin saja hilang karena perubahan konformasi. 2. Cross Linking Metode ini didasarkan pada pembentukan ikatan intermolekuler antara molekul-molekul enzim. Gugus fungsional dalam molekul enzim yang biasa digunakan untuk pembentukan ikatan intermolekuler adalah gugus -amino pada asam amino terminal,gugus -amino dari lisin,gugus fenolik dari tirosin,gugus sulhidril dari sistein dan gugus imidazole dari histidin. Contoh pereaksi yang berikatan dengan molekul enzim antara khloroformat,dan N-N-hexamethilene bisiodiasetat. lain glutaraldehid,diazobenzidine,etil

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

7/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Kelebihan: Desorpsi sangat sedikit (enzim terikat kuat) Cara ini paling baik digunakan bersama dengan metode lain yaitu adsorpsi, untuk meningkatkan stabilitas dan mencegah kebocoran. Kekurangan: Dapat menyebabkan perubahan signifikan di situs aktif enzim dan juga pembatasan difusi berat dapat mengakibatkan hilangnya aktivitas Hilangnya aktivitas enzim selama persiapan

3. Entrapping Metode ini didasarkan pada penempatan enzim di dalam kisi pada suatu polimer atau di dalam membran yang bersifat semipermeabel. Chibata (1978) menyatakan bahwa metode penjeratan merupakan metode yang dapat dipakai untuk mengimobilisasi banyak enzim karena tata caranya mudah dan dapat dilakukan pada kondisi lunak. Metode ini lebih banyak digunakan karena enzim ada dalam keadaan bebas dan tidak terikat pada bahan pendukung sehingga secara relatif fungsi katalitik dan struktur alami molekul enzim tidak mengalami gangguan/goncangan (Wirahadikusumah,1988). Karakteristik yang harus dimiliki oleh penjerat/pembawa imobilisasi sel, antara lain: 1. Mudah digunakan serta ukuran dan porositas media penjerat dapat dikontrol,terutama pada skala industri

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

8/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

2. Media penjerat berbentuk matriks stabil pada kondisi fermentasi (suhu dan pH optimum) 3. Harga murah dan mudah didapat 4. Mempunyai sifat mekanik yang stabil,sehingga dapat tahan lama dalam waktu yang lama pada reactor yang digunakan 5. Penjerat harus inert terhadap mikroorganisme yang akan dijerat 6. Substrat,produk,dan metabolisme lain harus dapat berdifusi secara bebas dengan media penjerat

PERUBAHAN SIFAT ENZIM TERIMOBILISASI Enzim terimobilisasi mempunyai aktivitas yang lebih rendah dibandingkan enzim bebas. Aktivitas yang lebih rendah tersebut disebabkan adanya efek tahanan difusi sehingga bertemunya substrat dengan enzim menjadi terhambat. Tahanan difusi terbagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Difusi eksternal disebabkan adanya transport substrat dari larutan besar ke permukaan biokatalis melalui lapisan batas air. Difusi internal disebabkan substrat harus berdifusi masuk ke bagian dalam manik enzim terimobilisasi (Klibanov,1983).

1. Aktivitas V1 (aktivitas relatif) : perbandingan aktivitas enzim imobil vs enzim larut dalam jumlah sama V2 (aktivitas spesifik absolut) : kecepatan reaksi per unit berat atau unit volume seluruh katalis Penyebab penurunan aktivitas: Konfigurasi : menghalangi substrat Grup reaktif pada sisi aktif ikut terikat pada matriks

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

9/10

16/4/2014

dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

Terbentuk konfigurasi tidak aktif Kondisi reaksi : denaturasi 2. pH optimum enzim imobil Perubahan pH disebabkan oleh distribusi yang tidak seragam oleh ion H+ ,ion OH- dan substrat bermuatan 3. Stabilitas

http://dc349.4shared.com/doc/Bex5Byb9/preview.html

10/10