Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH DIMENSI SOSIAL DAN PERMASALAHANNYA MENGENAI PERKOSAAN Disusun Untuk Tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi Dosen

Pengampu : Leni Maryati, S.SiT

Disusun Oleh : . Mur!i Rahmandani $. &rmenia 'uteres Rangel ". )nna Ra*hma+ati ,. )rum Tri -oga ".#"# $ % ".#"# $ ( ".#"# $$( ".#"# $$.

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN STIKes BINA CIPTA HUSADA PURWOKERTO TAHUN 2013

KATA PENGANTAR Pu/i syukur selalu penulis pan/atkan atas kehadirat Tuhan -ang Maha &sa yang telah mem0erikan rahmat dan karunia12ya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan /udul DIMENSI SOSIAL DAN PERMASALAHANNYA MENGENAI PERKOSAAN. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah 3iologi Reproduksi Progran Study D444 Ke0idanan ST4Kes 3ina 5ipta 6usada Pur+okerto. Dalam menyusun makalah ini, penulis 0anyak memperoleh 0antuan serta 0im0ingan dari 0er0agai pihak. Oleh karena itu, penulisa ingin menyampaikan u*apan terima kasih kepada: . Dr. 6 Rahmat 3asuki, M6.Kes selaku ketua ST4Kes 3ina 5ipta 6usada Pur+okerto. $. Leni Maryati, S.SiT selaku pem0im0ing mata kuliah Kesehatan Reproduksi ST4Kes 3ina 5ipta 6usada Pur+okerto. ". Seluruh Sta! Dosen dan Karya+an prodi Study D444 Ke0idanan ST4Kes 3ina 5ipta 6usada Pur+okerto. ,. Orang tua ter*inta yang selalu mendukung, mendoakan dan mem0erikan 0antuan 0aik moril maupun materil. %. Seluruh temen1temen yang telah 0anyak mem0antu penulis. Penulis menyadari 0ah+a dalam menyusun makalah ini masih /auh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang si!atnya mem0angaun guna sempurnaya makalah ini. Penulis 0erharap semoga makalah ini dapat 0erman!aat0agi penulis khususnya dan 0agi pem0a*a umumnya. Pur+okerto, % )pril $# ,

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN UDUL ...................................................................................... KATA PENGANTAR.................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN . Latar 3elakang.......................................................................... " " .$ Rumusan Masalah .................................................................... ." Tu/uan Penulisan....................................................................... BAB II PEMBAHASAN $. Pengertian dari perkosaan........................................................ 7 ( . . . # # # $.$ Ma*am1ma*am perkosaan ...................................................... $." Moti8asi ter/adinya perkosaan ................................................ $., 9anita yang rentan terhadap kor0an perkosaan ..................... $.% Pen*egahan dari perkosaan ..................................................... $.7 Sikap terhadap kor0an perkosaan ............................................ $.( Dampak kesehatan pada kor0an pemerkosaan ........................ $.: 5ara penanganan terhadap kor0an perkosaan ......................... ! !! !!!

BAB III PENUTUP ". Kesimpulan.............................................................................. $

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1

L"#"$ Be%"&"'( Selama 0e0erapa tahun terakhir ini 0angsa 4ndonesia 0anyak menghadapi masalah

kekerasan, 0aik yang 0ersi!at masal maupun yang dilakukan se*ara indi8idual. Masyarakat mulai merasa resah dengan adanya 0er0agai kerusuhan yang ter/adi di0e0erapa daerah di 4ndonesia. Kondisi seperti ini mem0uat perempuan dan anak1anak men/adi le0ih rentan untuk men/adi kor0an kekerasan. 3entuk kekerasan terhadap perempuan 0ukan hanya kekerasan se*ara !isik, akan tetapi dapat /uga meliputi kekerasan terhadap perasaan atau psikologis, kekerasan ekonomi, dan /uga kekerasan seksual. 6al ini sesuai dengan pendapat 6ayati ;$###< yang mengatakan 0ah+a kekerasan pada dasarnya adalah semua 0entuk perilaku, 0aik 8er0al maupun non1 8er0al, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, terhadap seseorang atau sekelompok orang lainnya, sehingga menye0a0kan e!ek negati! se*ara !isik, emosional, dan psikologis terhadap orang yang men/adi sasarannya. Kasus perkosaan yang marak ter/adi di 4ndonesia , menun/ukkan 0ah+a pelaku tidak hanya menyangkut pelanggaran hukum namun terkait pula dengan aki0at yang akan dialami oleh kor0an dan tim0ulnya rasa takut masyarakat se*ara luas. )ki0at dari ini di 4ndonesia se*ara normati! tidak mendapatkan perhatian selayaknya, hal ini dise0a0kan oleh karena hukum pidana ;KU6P< masih menempatkan kasus perkosaan ini sama dengan ke/ahatan kon8ensional lainnya, yaitu 0erakhir sampai dengan dihukumnya pelaku. Kondisi ini ter/adi oleh karena KU6P masih me+arisi nilai1nilai pem0alasan dalam KU6P. Dari sudut pandang ini maka menghukum pelaku men/adi tu/uan utama dalam proses peradilan pidana, oleh karena itu semua komponen dalam proses peradilan pidana mengarahkan perhatian dan segala kemampuannya untuk menghukum si pelaku dengan harapan 0ah+a dengan dihukumnya pelaku dapat men*egah terulangnya tindak pidana terse0ut dan men*egah pelaku lain untuk tidak melakukan per0uatan yang sama ini dan masyarakat merasa tentram karena dilindungi oleh hukum, seperti yang ada dalam KU6P pada pasal $:% yaitu =3arang siapa yang dengan kekerasan atau dengan an*aman memaksa

perempuan yang 0ukan istrinya 0ersetu0uh dengan dia, karena perkosaan, dipidana dengan pidana pen/ara selama1lamanya dua 0elas tahun> )dapun yang dimaksud dengan tindakan perkosaan adalah tindakan yang melanggar hukum. Tindakan perkosaan terse0ut telah merugikan orang lain yaitu orang yang telah diperkosa terse0ut. Seperti yang sudah ada dalam KU6P )n*aman hukuman dalam pasal $:% ini ialah pria yang memaksa +anita, dimana +anita terse0ut 0ukan istrinya dan pria terse0ut telah 0ersetu0uh dengan dia dengan an*aman atau perkosaan. Seperti yang sudah di/elaskan diatas apa yang dimaksud dengan tindak pidana perkosaan. Maka masyarakat harus 0isa 0erhati1hati dan le0ih +aspada terhadap tindak pidana perkosaan dan kasus pemerkosaan men/adi masalah yang harus segera di0enahi di 4ndonesia agar tidak merusak *itra dan moral 0angsa 4ndonesia. 1.2 " , % 7 ( : . # R)*)s"' M"s"%"+ )pa pengertian dari perkosaan ? )pa sa/a ma*am1ma*am perkosaan ? )pa moti8asi ter/adinya perkosaan ? Siapa sa/a +anita yang rentan terhadap kor0an perkosaan ? 3agaimana pen*egahan dari perkosaan ? 3agaimana sikap kita terhadap kor0an perkosaan ? )pa sa/a dampak kesehatan pada kor0an pemerkosaan ? 3agaimana *ara penanganan terhadap kor0an perkosaan ?

."

T),)"' Pe')%!s"' . Menam0ah +a+asan pengetahuan penulis dan pem0a*a mengenai dimensi sosial dan permasalahannya mengenai perkosaan. $. Memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi pada Program D 444 Ke0idanan Sekolah Tinggi 4lmu Kesehatan 3ina 5ipta 6usada Pur+okerto.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pe'(e$#!"' Pe*e$&-s""' Perkosaan ;rape< 0erasal dari 0ahasa latin rapere yang 0erarti men*uri, memaksa,

merampas, atau mem0a+a pergi ;6aryanto, ..(<. Pada /aman dahulu perkosaan sering dilakukan untuk memperoleh seorang istri. Perkosaan adalah suatu usaha untuk melampiaskan na!su seksual yang dilakukan oleh seorang laki1laki terhadap perempuan dengan *ara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum ;9ign/osoe0roto dalam Prasetyo, ..(<. Pendapat ini senada dengan de!inisi perkosaan menurut Ri!ka )nnisa 9omen@s 5risis 5enter, 0ah+a yang dise0ut dengan perkosaan adalah segala 0entuk pemaksaan hu0ungan seksual. 3entuk perkosaan tidak selalu persetu0uhan, akan tetapi segala 0entuk serangan atau pemaksaan yang meli0atkan alat kelamin. Oral seks, anal seks ;sodomi<, perusakan alat kelamin perempuan dengan 0enda adalah /uga perkosaan. Perkosaan /uga dapat ter/adi dalam se0uah pernikahan ;4drus, ...<. Menurut 9arsha+ ; ..,< de!inisi perkosaan pada se0agian 0esar negara memiliki pengertian adanya serangan seksual dari pihak laki1laki dengan menggunakan penisnya untuk melakukan penetrasi 8agina terhadap kor0an. Penetrasi oleh pelaku terse0ut dilakukan dengan mela+an keinginan kor0an. Tindakan terse0ut dilakukan dengan adanya pemaksaan ataupun menun/ukkan kekuasaan pada saat kor0an tidak dapat mem0erikan persetu/uan 0aik se*ara !isik maupun se*ara mental. 3e0erapa negara menam0ahkan adanya pemaksaan hu0ungan seksual se*ara anal dan oral ke dalam de!inisi perkosaan, 0ahkan 0e0erapa negara telah menggunakan 0ahasa yang sensiti! gender guna memperluas penerapan hukum perkosaan. Di dalam Pasal $:% KU6P dise0utkan 0ah+a: . =barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. $. 3erdasarkan unsur1unsur yang terkandung dalam de!inisi perkosaan Blacks Law Dictionary;dalam &kotama, Pud/iarto, dan 9idiartana $## <, makna perkosaan dapat diartikan ke dalam tiga 0entuk:

a. Perkosaan adalah suatu hu0ungan yang dilarang dengan seorang +anita tanpa persetu/uannya. 3erdasarkan kalimat ini ada unsur yang dominan, yaitu: hu0ungan kelamin yang dilarang dengan seorang +anita dan tanpa persetu/uan +anita terse0ut. 0. Perkosaan adalah persetu0uhan yang tidak sah oleh seorang pria terhadap seorang +anita yang dilakukan dengan paksaan dan 0ertentangan dengan kehendak +anita yang 0ersangkutan. Pada kalimat ini terdapat unsur1 unsur yang le0ih lengkap, yaitu meliputi persetu0uhan yang tidak sah, seorang pria, terhadap seorang +anita, dilakukan dengan paksaan dan 0ertentangan dengan kehendak +anita terse0ut. *. Perkosaan adalah per0uatan hu0ungan kelamin yang dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang +anita 0ukan istrinya dan tanpa persetu/uannya, dilakukan ketika +anita terse0ut ketakutan atau di 0a+ah kondisi an*aman lainnya. De!inisi hampir sama dengan yang tertera pada KU6P pasal $:%. ". Pada kasus perkosaan seringkali dise0utkan 0ah+a kor0an perkosaan adalah perempuan. Se*ara umum memang perempuan yang 0anyak men/adi kor0an perkosaan. Mereka dapat dipaksa untuk melakukan hu0ungan seksual meskipun tidak menghendaki hal terse0ut. )pa0ila menga*u pada KU6P, maka laki1 laki tidak dapat men/adi kor0an perkosaan karena pada saat laki1laki dapat melakukan hu0ungan seksual 0erarti ia dapat merasakan rangsangan yang diterima oleh tu0 uhnya dan direspon oleh alat kelaminnya ;Koesnadi, ..$<. )kan tetapi pada kenyataannya ada pula laki1 laki yang men/adi kor0an perkosaan 0aik se*ara oral maupun anal.

$.$

M"."*/*"."* 0e*e$&-s""' . Pemerkosaan saat 0erken*an Pemerkosaan saat 0erken*an adalah hu0ungan seksual se*ara paksa tanpa persetu/uan antara orang1orang yang sudah kenal satu sama lain, misalnya teman, anggota keluarga, atau pa*ar. Ke0anyakan pemerkosaan dilakukan oleh orang yang mengenal kor0an. $. Pemerkosaan dengan o0at

3anyak o0at1o0atan digunakan oleh pemerkosa untuk mem0uat kor0annya tidak sadar atau kehilangan ingatan. ". Pemerkosaan +anita 9alaupun /umlah tepat kor0an pemerkosaan +anita tidak diketahui, diperkirakan dari 7 +anita di 4ndonesia adalah kor0an serangan seksual. 3anyak +anita yang takut dipermalukan atau disalahkan, sehingga tidak melaporkan pemerkosaan. Pemerkosaan ter/adi karena si pelaku tidak 0isa menahan hasrat seksualnya melihat tu0uh +anita ,. Pemerkosaan massal Pemerkosaan massal ter/adi 0ila sekelompok orang menyerang satu kor0an. )ntara #A sampai $#A pemerkosaan meli0atkan le0ih dari oleh satu orang. %. Pemerkosaan terhadap laki1laki Diperkirakan dari "" laki1laki adalah kor0an pele*ehan seksual. Di 0anyak penyerang. Di 0e0erapa negara, pemerkosaan massal digan/ar le0ih 0erat daripada pemerkosaan

negara, hal ini tidak diakui se0agai suatu kemungkinan. Misalnya, di Thailand hanya laki1laki yang dapat dituduh memperkosa. 7. Pemerkosaan anak1anak Benis pemerkosaan ini adalah dianggap hu0ungan sum0ang 0ila dilakukan oleh kera0at dekat, misalnya orangtua, paman, 0i0i, kakek, atau nenek. Diperkirakan ,# /uta orang de+asa di 4ndonesia, di antaranya pele*ehan seksual saat masih anak1anak. (. Pemerkosaan dalam perang Dalam perang, pemerkosaan sering digunakan untuk mempermalukan musuh dan menurunkan semangat /uang mereka. Pemerkosaan dalam perang 0iasanya dilakukan se*ara sistematis, dan pemimpin militer 0iasanya menyuruh tentaranya untuk memperkosa orang sipil. :. Pemerkosaan oleh suamiCistri Pemerkosaan ini dilakukan dalam pasangan yang menikah. Di 0anyak negara hal ini dianggap tidak mungkin ter/adi karena dua orang yang menikah dapat % /uta laki1laki, adalah kor0an

0erhu0ungan seks kapan sa/a. Dalam kenyataannya 0anyak suami yang memaksa istrinya untuk 0erhu0ungan seks. Dalam hukum islam, seorang istri dilarang menolak a/akan suami untuk 0erhu0ungan seksual, karena hal ini telah diterangkan di hadits na0i shalallahu Dalaihi +asallam. )kan tetapi suami dilarang 0erhu0ungan seksual dengan istri le+at du0ur dan ketika istri sedang haids.

2.3

M-#!1"s! Pe$&-s""' . Pria ingin menun/ukkan kekuasaan yang 0ertu/uan untuk menguasai kor0an dengan *ara mengan*am ; dengan sen/ata se*ara !isik menyakiti perempuan, 8er0al dengan menggertak < dan dengan penetrasi se0agai sim0ol kemenangan. $. Se0agai *ara meluapkan rasa marah, pengkhianatan, 0alas dendam,

menghan*urkan la+an 0aik masalah indi8idu maupun masalah kelompok tertentu, sedangkan unsur rasa *inta atau kepuasan seksual tidak penting. ". Luapan perilaku sadis, pelaku merasa puas setelah 0er0uat penderitaan 0agi orang lain.

2.2

Pe$e*0)"' Y"'( Re'#"' Te$+"3"0 K-$4"' Pe$&-s""' . Kekurangan !isik dan mental, adanya suatu penyakit atau permasalahan yang 0erkaitan dengan !isik seperti perempuan duduk diatas kursi roda, 0isu, tuli, 0uta atau keter0elakangan mental. Mereka tidak mampu mengadakan perla+anan. $. Pengungsi, imigran, tidak mempunyai rumah, anak /alanan atau gelandangan, didaerah peperangan. ". Kor0an tindak kekerasan suami atau pa*ar.

2.5

Pe'.e("+"' Pe*e$&-s""' . 3erpakaian santun, 0erperilaku, 0ersolek tidak mengundang perhatian pria.

$. Melakukan akti8itas 0ersamaan dalam kelompok dengan 0anyak teman, tidak 0erduaan. ". Ditempat kedai 0ersama teman atau kelompok, tidak 0erduaan dengan sesama pega+ai atau atasan. ,. Tidak menerima tamu laki1laki kerumah, 0ila dirumah seorang diri. %. 3er/alan1/alan 0ersama 0anyak teman, terle0ih di+aktu malam hari. 7. 3erteriak seken*ang mungkin 0ila diserang. (. Ketika 0erpergian, hindari sendirian. :. 9aspada terhadap 0er0agai *ara pemerkosaan seperti hipnotis, o0at1o0atan dan minum1minuman terlarang, permen, sna*k atau hidangan makanan. .. Saat ditempat 0aru /angan terlihat 0ingung, 0ertanya pada polisi, hansip atau instansi.

2.6

S!&"0 Te$+"3"0 K-$4"' Pe*e$&-s""' . Menum0uhkan keper*ayaan diri 0ah+a hal itu ter/adi 0ukan kesalahannya. $. Menum0uhkan gairah hidup. ". Menghargai kemauannya untuk men/aga pri8asi dan keamanannya. ,. Mendampingi untuk periksa atau lapor pada polisi.

2.7

D"*0"& Kese+"#"' P"3" K-$4"' Pe*e$&-s""' . Kehamilan, dapat di*egah dengan minum kontrasepsi darurat pada $, /am pertama. $. Ter/angkit in!eksi menular seksual ; 4MS <. ". 5edera ro0ek dan sayatan, *ekikan, memar 0ahkan sampai an*aman /i+a. ,. 6u0ungan seksual dengan suami yang mengalami gangguan, memerlukan +aktu ter0e0as dari trauma. %. 'e/ala psikologis ringan hingga gangguan psikologis 0erat. Pada +aktu singkat perempuan kor0an perkosaan menyalahkan diri sendiri, se0a0 merasa dirinya yang menye0a0kan perkosaan ter/adi, terle0ih pandangan 0udaya 0iasanya selalu menyalahkan perempuan. Selain itu /uga ter/adi insomnia gangguan tidur, inoreksia atau tidak na!su makan, ke*emasan mendalam, perasaan malas untuk 0ersosialisasi.

2.8

Pe'"'("'"' Te+"3"0 K-$4"' Pe$&-s""' . Tugas Tenaga Kesehatan dalam kasus tindakan pemerkosaan a. 3ersikap dengan 0aik, penuh perhatian dan empati. 0. Mem0erikan asuhan untuk menangani gangguan kesehatannya, misalnya mengo0ati *edera, pem0erian kontrasepsi darurat. *. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan apa yang se0enarnya ter/adi. d. Mem0erikan asuhan pemenuhan ke0utuhan psikologis. e. Mem0erikan konseling dalam mem0uat keputusan. !. Mem0antu mem0eritahukan pada keluarga. $. Upaya promoti! a. Meningkatkan keterampilan 0agi tenaga kesehatan pada pertolongan tindak perkosaan untuk mengatasi masalah kesehatan dan dalam mem0eri dukungan 0ila ingin melapor ke polisi. 0. Penyelenggaraan pendidikan seksual untuk rema/a. *. Sosialisasi hukum yang terkait dalam Undang1undang yang 0erkaitan dengan tindak pemerkosaan. d. Melakukan raEia dan mem0erikan penyuluhan kepada masyarakat serta mem0rantas peredaran F5D ,ma/alah, poster, internet yang mengandung pornogra!i dan pornoaksi. e. Melakukan pem0inaan mental spritual yang mengarah pada pem0entukan moral 0aik 0agi pelaku, kor0an maupun masyarakat, se*ara langsung dan melalui mass media.

BAB III PENUTUP

3.1

Kes!*0)%"' Perkosaan se0agai salah satu 0entuk kekerasan /elas dilakukan dengan adanya

paksaan 0aik se*ara halus maupun kasar. Pemerkosaan ter/adi tidak semata1mata karena ada kesempatan, namun pemerkosaan dapat ter/adi karena pakaian yang dikenakan kor0an menim0ulkan hasrat pada sipelaku untuk melakukan tindakan pemerkosaan, serta pemerkosaan 0isa /uga dise0a0kan karena rendahnya rasa nilai, moral, asusila dan nilai

kesadaran 0eragama yang rendah yang dimiliki pelaku pemerkosaan. 6al ini akan menim0ulkan dampak sosial dan dampak psikologis 0agi perempuan yang men/adi kor0an perkosaan terse0ut. Dampak yang ditim0ulkan pada kor0an perkosaan yaitu pada +aktu singkat perempuan kor0an perkosaan menyalahkan diri sendiri, se0a0 merasa dirinya yang menye0a0kan perkosaan ter/adi, terle0ih pandangan 0udaya 0iasanya selalu menyalahkan perempuan. Selain itu /uga ter/adi insomnia gangguan tidur, inoreksia atau tidak na!su makan, ke*emasan mendalam, perasaan malas untuk 0ersosialisasi. Penanganan terhadap kor0an perkosaan meliputi tugas dari tenaga kesehatan maupun upaya promoti!nya.

DAFTAR PUSTAKA

Abar, A. Z & Tulus Subardjono. 1998. Perkosaan dalam Wacana Pers National , kerjasama PPK & Ford Foundation. Yog akarta.

http://li e.!i!a.co.id/news/read/"#$"%&'tiga'dampak'psikologis'bagi'korban'pemerkosaan diunduh tanggal () *pril pukul (&.+&.

,intikays.wordpress.com/permasalahan'dalam'dimensi'sosial'wanita/perkosaan diunduh tanggal , )pril $# , pukul %.##.