Anda di halaman 1dari 2

HALUSINASI VISUAL/ PENGLIHATAN

Halusinasi penglihatan adalah halusinasi dimana seseorang melihat gambaran mungkin dalam bentuk lintasan cahaya, gambaran geometris, gambaran kartun, atau pandangan yang terperinci atau kompleks.

ETIOLOGI
Halusinasi mungkin disebabkan oleh banyak faktor, tetapi penyebab terjadinya halusinasi pada klien dengan masalah psikiatri adanya stress psikologi atau kurangnya stimulus dari lingkungan. Pada klien dengan masalah psikiatri, stres psikologi bisa menyebabkan klien berhalusinasi. Stres ini mungkin berasal dari dirinya sendiri, berpikir negatif, dan menyalahkan diri sendiri. Kurangnya stimulus lingkungan juga dapat menyebabkan halusinasi

TINGKAT HALUSINASI
1. Level 1 Menyenangkan-kecemasan rendah. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan. Karakteristik:

Kecemasan, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba utnuk memusatkan pada penanganan pikiran untuk mengurangi ansietasnya. Individu memahami bahwa pikiran dan sensorinya itu dapat dikendalikan jika kecemasan dapat diatasi. Perilaku yang teramati: a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. b. Menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara. c. Gerakan mata yang cepat. d. Respon verbal yang lamban. e. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan. 2. Level 2 Menyenangkan-kecemasan rendah. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan. Karakteristik: Kecemasan, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba utnuk memusatkan pada penanganan pikiran untuk mengurangi ansietasnya. Individu memahami bahwa pikiran dan sensorinya itu dapat dikendalikan jika kecemasan dapat diatasi. Perilaku yang teramati: a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.

b. Menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara. c. Gerakan mata yang cepat. d. Respon verbal yang lamban. e. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan. 3. Level 3 Mengendalikan-kecemasan tingkat berat. Pengalaman sensori menjadi penguasa/ menguasai. Karakteristik: Menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan halusinasi, dapat berupa permohonan:individu mungkin merasa kesepian jika pengalaman halusinasi itu hilang. Perilaku yang teramati: a. Mengikuti petunjuk dari halusinasi daripada menolaknya. b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain. c. Rentang perhatian hanya dalam beberapa menit bahkan detik. d. Gejala fisik kecemasan berat seperti keringat banyak, tremor, ketidakmampuan mengiktui petunjuk. 4. Level 4 Menaklukkan-kecemasan tingkat panik. Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi.

Karakteristik: Pengalaman sensori mungkin menakutkan, jika individu tidak mengikuti perintah. Dapat terjadi beberapa jam atau hari jika tidak ditangani dengan baik. Perilaku teramati: a. Perilaku menyerang, teror, panik. b. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau melukai orang lain. c. Kegiatan fisik yang merefleksikan halusik\nasi seperti amuk, agresi, menarik diri. d. Tidak mampu merespon petunjuk yang kompleks. e. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari 1 orang.

STRATEGI MERAWAT PASIEN DENGAN HALUSINASI


1. Bina hubungan interpersonal dan saling percaya 2. Kaji gejala halusinasi (termasuklama, intensitas, dan frekuensi) 3. Fokuskan pada gejala dan minta pasien untuk menguraikan apa yang sedang terjadi

4. Identifikasi penggunaan obat dan alkohol 5. Jika ditanya katakan secara singkat bahwa perawat tidak sedang mengalami stimulus yang sama 6. Sarankan dan kuatkan penggunaan hubungan interpersonal sebagai suatu teknik penatalaksanaan gejala 7. Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan halusinasi yang sekarang dan yang terakhir dialami 8. Dorong individu untuk mengamati dan menguraikan pikiran perasaan tindakannya sekarang atau yang lalu berkaitan dengan halusinasi yang dialaminya 9. Bantu individu menguraikan kebutuhan yang mungkin tercermin pada isi halusinasinya 10. Bantu individu mengidentifikasi apakah ada hubungan antara halusinasi dengan kebutuhan yang mungkin tercermin 11. Sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam pemenuhan kebutuhan 12. Identifikasi bagaimana gejala psikosis lain telah mempengaruhi kemampuan individu untuk melaksanakan aktivitas hidupsehari-hari

Oleh : YAYAT HERMAWAN TINGKAT 2B

AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN SUBANG 2014