Anda di halaman 1dari 8

STUDI PERBANDINGAN EKSTRAKSI KAYU MANIS (Cinnamomun burmanni) SANGRAI DAN TANPA SANGRAI.

A Bagus Nur Sudrajat1, Hidayatul Fijriyah2, Mohammad Homsyin Wahyudi3


1

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember

ABSTRAK Kandungan senyawa yang terkandung didalam kayu manis mengandung minyak atsiri, eugenol, cinnamaldeyde, tannin, kalsium oksalat, yang mana kandungan cinnamaldehyde merupakan komponen terbesar yaitu sekitar 70 %. Penyangraian bisa berupa oven yang beroperasi secara batch tau kontinous. Tujuan dari prakatikum kayu manis untuk mengetahui pengaruh dari beberapa proses perlakuan tanpa disangrai, tanpa disangrai dan destilasi, dan disangrai untuk mengetahui tingkat warna dari kayu manis. Bahan kayu manis 150 g dipotong dengan ukuran dua mm dan diameter satu cm. Kayu manis dilakukan proses penyangraian, tanpa penyangraian, dan tanpa penyangraian dan ekstraksi. Kayu manis diekstraksi untuk mendapatkan ekstrak dari beberpa perlakuan. Nilai kecerahan kayu manis sangrai 29,9 sedangkan tanpa sangrai 27,4. Nilai cromo ekstrak kayu manis sangrai 19,96 sedangkan tanpa sangrai 26,84. Proses penyangrai mempengaruhi tingkat kecerahan dan tingkat cromo pada ekstrak kayu manis. Kata kunci : Kayu manis, sangrai, derjat keputihan, cromo, ekstraksi.

PENDAHULUAN Kayu manis merupakan salah satu jenis tanaman rempah yang banyak dibudidayakan di Indonesian. Kayu manis dibudidayakan untuk diambil kulit kayunya yang biasanya digunakan sebagai bumbu masakan. Tanaman kayu manis dapat tumbuh di daerah pegunungan sampai ketinggian 1.500 m dengan tinggi 1-12

m, daun lonjong atau bular telur, warna hijau, dan daun muda berwarna merah. Di Indonesia terdapat beberapa jenis kayu manis antara lain Cinnamomun burmanni. Jenis kayu manis yang berbeda dengan Cinnamomun zeylanicum dan Cinnamomun cassia dan beberapa jenis tanaman kayu manis asli Indonesia. (Rismunandar, 2001) Cinnamomum burmannii (Kayu Manis) merupakan salah satu jenis dari famili Lauraceae yang dipilih untuk penelitian ini. Tumbuhan ini banyak terdapat di daerah sub tropis dan tropis. Penelitian terhadap minyak atsiri dari Cinnamomum burmannii yang berasal dari Guangzhou, China yang dilakukan oleh Wang, dkk (2009) melaporkan bahwa komponen mayor minyak atsiri yang terkandung adalah transsinamaldehid (60,72%), eugenol (17,62%) dan kumarin (13,39%). Cinnamomum burrnanii memiliki senyawa bioaktif antibakteri tampak dari pengujian yang dilakukan terhadap bakteri-bakteri Salmonella typhosa, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Menurut Hertiani et,al (2009) kandungan aktif antibakteri pada minyak atsiri kayu manis yaitu senyawa fenol. Penyangraian bisa berupa oven yang beroperasi secara batch tau kontinous. Pemanasan dilakukan pada tekanan atmosfer dengan media udara panas atau gas pembakaran. Penyangraian biasanya dilakukan dengan alat penyangrai seperti wajan, media yang digunakan pasir dengan alat pemanas kompor atau tunggku pemanas. Udara yang diguanakan langsung dipanaskan menggunakan gas atau bahan bakar, dan pada desain baru digunakan system udara daur ulang yang dapat menurunkan polusi di atmosfer serta menekan biaya operasional (Ciptadi dan nasution) Warna dapat diamati menggunakan alat yaitu color reader. Nilai L* menyatakan tingkat gelap terang dengan kisaran 0-100 dimana nilai 0 menyatakan kecenderungan warna hitam atau sangat gelap, sedangkan nilai 100 menyatakan kecenderungan warna terang/putih (Pomeranz dan Meloans, 1994). Oleh karena itu tujuan dari prakatikum kayu manis untuk mengetahui pengaruh dari beberapa proses perlakuan mulai dari tanpa disangrai, tanpa disangrai dan destilasi, dan disangrai untuk mengetahui tingkat warna dari kayu manis.

METODE PRAKTIKUM Alat dan Bahan Pada proses paraktikum meliputi beberapa tahap yaitu penyiapan alat dan bahan, analisis warna dengan bahan utama kayu manis dan air. Peralatan yang digunakan meliputi kompor, teflon, spatula, pisau, panci, dan colour reader. Prosedur Praktikum Proses pertama yang dilakukan pada praktikum ini disiapkan timbang kayu manis sebanyak 150 gram yang kemudian dicuci hingga bersih. Kayu manis yang telah dicuci bersih tersebut diiris dengan menggunakan pisau yang ketebalannya kurang lebih dua mm dalam bentuk lingkaran diameter satu cm yang kemudian dilakukan tiga perlakuan. Untuk perlakuan pertama kayu manis disangrai dengan teflon sampai berubah warna kemudian direbus dengan air sampai warna airnya berubah menjadi warna kayu manis. Pada tahap kedua kayu manis tidak ada perlakuan kemudian direbus samapi warna airnya berubah. Tahap ketiga kayu manis tidak ada perlakuan. Semua bahan di masukan dalam plastik, baik yang cair maupun yang utuh sisa dari perebusan dan yang tanpa perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh perlakuan pada warna Light (L) ekstraksi kayu manis Berdasarkan data pengamatan warna menunjukkan bahwa tingkat kecerahan tertinggi dari kayu manis terdapat pada perlakuan sangria dengan nilai kecerahan 31. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 1.

32 Tingkat Kecerahan (L) 31 30 29 28 27 26 25 24 EKMS EKMR KMR KMS KMSR

Gambar 1. Tingkat kecerahan dengan perlakuan sangrai dan tanpa sangria: ekstrak kayu manis sangrai (EKMSR), ekstrak kayu manis rebus (EKMR), kayu manis rebus (KMR), kayu manis segar (KMS), kayu manis sangrai (KMSR). Ekstraksi kayu manis dengan perlakuan tanpa disangrai nilai tingkat kecerahannya yaitu 28 lebih rendah dari ekstrak kayu manis yang disangrai. Nilai L* menyatakan tingkat gelap terang dengan kisaran 0-100 dimana nilai 0 menyatakan kecenderungan warna hitam atau sangat gelap, sedangkan nilai 100 menyatakan kecenderungan warna terang/putih (Pomeranz dan Meloans, 1994). Hal tersebut karena pada saat proses penyangraian pigmen warna cinnamaldehyde pada kayu manis hilang. Hilangnya pigmen warna kayu manis, karena pecahnya kandungan sel yang terdapat didalam kayu manis yang disebabkan proses pemansan dengan suhu tinggi. Thomas and Duithe (2001) menerangkan bahwa kayu manis mengandung minyak atsiri, eugenol, cinnamaldeyde, tannin, kalsium oksalat, yang mana kandungancinnamaldehyde merupakan komponen terbesar yaitu sekitar 70 %. Pengaruh perlakuan terhadap nilai Cromo pada ekstrak kayu manis. Berdasarkan data pengamatan nilai cromo menunjukan bahwa untuk kayu manis dengan tanpa penyangraian memiliki nilai cromo terbesar. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 2.

35 Nilai Cromo Kayu Manis 30 25 20 15 10 5 0 EKMSR EKMR KMR KMS KMSR

Gambar 2. Nilai Cromo dengan perlakuan sangrai dan tanpa sangria : ekstrak kayu manis sangrai (EKMSR), ekstrak kayu manis rebus (EKMR), kayu manis rebus (KMR), kayu manis segar (KMS), kayu manis sangrai (KMSR).

Pada perlakuan sangrai ekstrak kayu manis nilai cromonya 19,96 lebih rendah dari perlakuan tanpa sangrai yang nilainya 26,84. Hal tersebut dikarenakan didalam kayu manis terdapat karbohidrat, yang mana didalam karbohidrat terdapat komponen gula. Pada saat proses penyangraian komponen gula didalam kayu manis mengalami proses karamelisasi, sehingga warnanya menjadi merah kecoklatan. Menurut Thomas and Deuthi komposisi kimia Cinnamomum burmanni untuk kadar air 7,90 %, minyak atsiri 2,40 %, Alkohol ekstrak 10-12 %, abu 3,55 %, serat kasar 20,30 %, Karbohidrat 59,55 %, Lemak 2,20 %.

Gambar 3. Kayu manis segar dan ekstrak kayu manis segar

Gambar 4. Kayu manis sangrai dan ekstrak kayu manis sangrai

KESIMPULAN Ekstrak kayu manis dengan perlakuan sangrai memilki derajat kecerahan lebih tinggi dari ekstak kayu manis tanpa perlakuan. Ekstrak kayu manis dengan sangrai memiliki nilai cromo 19,96 lebih rendah dari ekstrak kayu manis tanpa perlakuan yang nilai cromonya 26,84. Proses pengnyangraian mempengaruhi tingkat kecerahan dan nilai cromo pada ekstrak kayu manis.

DAFTAR PUSTAKA Ciptadi, W. dan Nasution, M.Z. 1985. Pengolahan Kopi. Fakultas Teknologi Institut Pertanian Bogor. Hertiani, T., Pratiwi, S. U. T., and Kuswahyuning, R., 2009, Eksplorasi Minyak Atsiri sebagai Alternatif Bahan Aktif Pasta Gigi Anti Plak Berdasarkan Aktivitas Antibakteri dan Inhibitor Biofilm pada Streptococcus mutans secara In Vitro, Laporan Penelitian Program Hibah Penelitian Berkualitas Prima, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta. Pomeranz Y, Meloan CE. 1994. Food Analysis Theory and Practice 3rd ed. New York: Chapman and Hall. Rismunandar. 2001. Kayu kulit manis, Budi Daya dan Pengolahan. Penebar Swadaya. Depok.

Thomas, J. and Duethi, P.P., (2001), Cinnamon Handbook of Herbs and Spices. CRC Press, New York, pp.143-153 Wang, R., Wang, R., Yang, B., 2009. Extraction of essential oils from five cinnamon leaves and identification of their volatile compound compositions. Innovative Food Science and Emerging Technologies, 10, 289292 LAMPIRAN Perhitungan Cromo 1. Ekstrak kayu manis sangrai C= = = 19,96 2. Ekstrak kayu manis rebus C= = = 26,84 3. Kayu manis rebus C= = = 19,59 4. Kayu manis segar C= = = 22,41 5. Kayu manis sangrai C= = = 17,21